Because You're Mine
Pair : NaruHina
Genre : Romance/Drama
Rated : T+
**SELAMAT MEMBACA**
Chapter 7
"Aku kira pantainya terlalu berangin!"
Orang itu tertawa ria mendengar ucapan Hinata, "tentu saja nona, semua pantai memang seperti itu. Dengar, kalau kau mau menaiki jet ski ini kau harus bisa, bagaimana mungkin kau tidak bisa, yang ada saat kau menumpanginya, mesin ini akan terbalik dan menindih mu nona!" Hinata terkesiap dan ngeri mendengarnya, "aku kira aku akan mengajak suami ku. Tapi, kau tahu pulau disebrang sana?" Hinata menunjuk ke sebrang, "aah itu, itu pulau kosong, tapi masih ada turis yang datang ke sana hanya untuk berfoto-foto, kalau nona mau kesana tentu saja ski ku ini yang terbaik untuk ditumpangi!"
"Baiklah tuan, aku akan memanggil suami ku dulu!" Hinata berlari ke villa dan menemukan Naruto tengah tertidur di batang pohon yang rendah hingga Hinata bisa meraihnya untuk membangunkan Naruto. "sayang, bangunlah, aku ingin naik jet ski, sayang!" Hinata menepuk pipi Naruto dengan lembut, lalu dia pun terbangun dan membuka matanya. Hinata tersenyum manis, "ada apa?" tanya Naruto sambil memandang istrinya dengan gairah menggebu-gebu. Teringat semalam saat dia dan Hinata bergelung ditempat tidur.
"Aku ingin naik jet ski, dan ke pulau yang ada disebrang. Pemilik jet ski itu bilang kita bisa kesana walau pulau nya kosong kita bisa berfoto-foto disana!"
"Hanya untuk berfoto?" tanya Naruto
"Entahlah, dia bilang kalau para turis hanya berfoto-foto disana!"
"Sayang, apakah tadi kau mengatakan kalau pulaunya kosong?" tanya Naruto. Hinata mengangguk cepat, tidak tahu apa yang dipikirkan Naruto. "baiklah, ayo kita kesana dan berfoto!" atau mungkin sedikit menikmati percintaan yang semalam belum kita selesaikan, batin Naruto.
Mereka menyewa jet ski itu dan Naruto membawanya mengelilingi laut dengan Hinata yang duduk dibelakangnya sambil berpegangan erat pada pinggang Naruto. Hinata tertawa ria saat Naruto melajukan jet ski itu dengan kencang, entah dia ingin segera sampai ke pulau untuk melakukan sesuatu atau entah dia hanya ingin membuat Hinata tertawa, dua-duanya bisa saja mungkin.
Naruto mendaratkan jet ski di tepi pantai. Sementara itu Hinata berlarian menyusuri tepi, Naruto mengikutinya. Dia sangat bahagia melihat Hinata tersenyum, "Naruto, ayo kejar aku!" teriak Hinata yang tidak jauh dari Naruto, "apa yang aku dapatkan saat aku menangkap mu?" balas Naruto berteriak. "kau akan mendapatkan ku!" kata Hinata. Dan Hinata tidak mengerti apa yang sebenarnya dia ucapkan, tapi Naruto menanggapinya berbeda, dia mulai berlari mengejar Hinata. Hinata berteriak dan menjerit, pulau itu hanya menggemakan suara teriakan Hinata, tidak ada siapa-siapa disana, hanya mereka berdua.
Naruto hampir berhasil menangkap Hinata, tapi Hinata mengelak. Namun beberapa detik kemudian ia menangkan Hinata, "kena kau!" kata Naruto dan menangkap Hinata yang mencoba kabur, "kau tidak bisa kabur dariku!" kata Naruto berbisik ditelinga istrinya. Napas Hinata memburu, semakin memburu ketika Naruto menciumi lehernya yang berkeringat akibat air laut dan keringatnya sendiri. Hinata menarik kepalanya ke belakang dan merasakan sentuhan bibir Naruto yang panas dilehernya. Dia terengah-engah dan tubuhnya bertopang pada lengan Naruto, "sayang, ini lautan bukan ranjang, kalau kau mau tiduran kita harus mencari daratan." Kata Naruto.
Naruto membalikan tubuh Hinata hingga menghadap ke arahnya, Hinata melihat gairah Naruto memuncak, "aku akan membawa mu ke daratan, dan aku akan melakukan sesuatu!" kata Naruto berbisik didekat bibir Hinata hingga napas mereka saling beradu. Naruto mengangkat Hinata dan dia melingkarkan tangannya di leher Naruto. Naruto melihat Hinata menggigit bibirnya, "hentikan itu!" kata Naruto. Hinata menatapnya penuh arti, "jangan menantangku!" kata Naruto lalu mencium bibir Hinata dengan lembut sambil melangkahkan kaki menuju daratan.
Naruto menurunkan Hinata. Mereka berada didalam hutan dan hanya ada pohon-pohon disekeliling mereka, Naruto masih mencium bibir Hinata dan menggigit lembut bibir bawahnya. Hinata mengeluarkan suara indah, suara yang Naruto sukai, dia juga menggeram tapi tidak mau melepaskan pagutan bibir mereka. Meresapi setiap manisnya mereguk madu dari Hinata, Naruto menikmati hal itu. Dia teringat kembali saat Hinata menciumnya untuk pertama kali di bar, ciuman pertama itu membuatnya menginginkan Hinata, "Naruto!" panggil Hinata lirih karena Naruto masih terus menciumnya. Hinata mendorong pelan Naruto dan bibir mereka terlepas tapi tak terlalu jauh, "seharusnya kita berfoto disini!" kata Hinata dengan napas nya yang masih tak beraturan.
"Berfoto tidak menyenangkan. Kita akan membuat perjalanan ini menyenangkan!" kata Naruto lalu tangannya menelusuri setiap inci tubuh Hinata, "aku ingin menyentuh mu, aku ingin melakukannya, disini, sekarang juga!" kata Naruto dan itu membuat Hinata bergetar, "tapi ini kan di hutan!"
"Tidak ada yang melihat, hanya ada kita berdua disini!"
Hinata menggelengkan kepala lembut, tapi Naruto tidak menghiraukannya. Dia mengangkat Hinata dan menidurkannya diatas rumput yang empuk, lalu dia membuka kancingnya satu persatu. Hinata tidak pernah sekali pun membantu Naruto, karena dia terlalu malu. Sambil membuka kancing-kancingnya Naruto terus memagut bibir Hinata dan Hinata menahan wajah Naruto dengan tangannya. Kini Naruto membuka ristleting nya. Mereka saling mengeluarkan suara-suara yang tidak akan pernah didengar oleh siapapun di pulau itu, siapa pun!
###############
Waktu menunjukan pukul 15:00 dan Hinata meminta pulang. Setelah berkeliling dan melakukan kegiatan yang tak lazim, mengingat tempat yang kurang nyaman itu, tapi tetap Hinata menikmatinya. Bersama dengan suaminya, kekasih hidupnya dan belahan jiwanya, mereka akan menyatu menjadi sebuah cinta yang sejati.
Setelah kembali ke villa dan Hinata bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri dari lengketnya keringat dan air laut yang mencipratnya, sungguh menyegarkan mandi dengan air dingin, "sayang!" teriak Naruto, "ada telfon dari ibu, apa kau sudah selesai mandi?" Hinata bergegas keluar dan melihat Naruto tengah duduk di sofa panjang nan besar. Naruto menariknya untuk duduk dipangkuan, Hinata menggelengkan kepala dan kemudian menerima telfon, "halo ibu... aku baik-baik saja... tentu saja, disini menyenangkan, aku menikmatinya..."
"Menikmati semuanya!" kata Naruto sambil mencium lembut leher Hinata, "tidak ada kendala ibu. . ." Naruto menggigit lembut telinga Hinata, Hinata memekik, "ada apa Hinata?" teriak Kushina disebrang sana. Hinata kalang kabut, "tidak apa-apa ibu, sepertinya ada nyamuk yang menggigit ku!" katanya. Naruto tersenyum jahil, "kau membohongi ibu mu!" kata Naruto
"Ini semua salah mu!" bisik Hinata, "maaf ibu, disini banyak nyamuk yang mengganggu... aku akan baik-baik saja, jangan khawatir... entahlah, aku akan bertanya pada Naruto!" Naruto tidak mendengarkan, dia hanya menikmati santapannya, menciumi Hinata, dan tiba-tiba tangannya beralih pada ikatan baju mandi Hinata dan membukanya pelan-pelan, "hentikan itu!" Hinata menahan tangan Naruto, "ibu bertanya kapan kita pulang?"
"Entahlah, mungkin minggu depan!"
"Kau yakin?"
"Terserah dirimu sayang, kapan pun kau mau pulang kita pulang!"
"Kalau begitu minggu ini, aku rindu dengan semuanya yang ada disana!"
"Baiklah kalau begitu!"
Hinata berbicara lagi dengan Kushina sementara Naruto menyingkirkan tangan Hinata dan membuka ikatan itu pelan-pelan. Ketika Hinata menutup telefonnya dia menghentikan tindakan Naruto, "apa yang kau lakukan, hentikan itu!" kata Hinata sambil menahan tangan Naruto. "sayang tidakkah kau mengerti aku sangat lapar!" kata Naruto. Hinata menoleh ke samping dan pipinya mengenai bibir Naruto, Naruto menciumnya sementara itu Hinata tersenyum. "aku sudah mandi!" kata Hinata.
"Kau bisa mandi lagi. Atau kita bisa mandi bersama!"
Hinata terkikik geli ketika Naruto menggelitik pinggangnya yang ternyata ikatan itu terbuka, dan menampakan perut Hinata yang ramping. Hinata berusaha menutupinya kembali, tapi sia-sia, dia hanya tertawa karena geli. Naruto menikmati moment ini saat Hinata tersenyum dan tertawa bahagia, Hinata berteriak menjerit dan meminta Naruto menghentikannya. "hentikan itu, aku sangat geli!" lalu Naruto berhenti dan Hinata menutup perutnya, tapi Naruto tetap membukanya kembali, "kenapa kau tidak pernah puas?"
Naruto tersenyum, "karena aku tidak pernah puas akan dirimu sejak pertama melihat mu!" kata-kata itu membuat Hinata bahagia. Hinata merubah posisi duduknya dengan menghadap ke arah Naruto, masih bertumpu dipangkuannya. Naruto memeluk tubuh Hinata dan memandangi wajah cantiknya, "aku bahagia saat kau mengatakannya!" kata Hinata.
"Aku akan mengatakannya sesering mungkin jika itu mau mu!"
Hinata mengangguk bahagia, "apa kau mencintai ku?" pertanyaan bodoh itu membuat Naruto tertawa. Hinata memukul dada Naruto dengan sangat lembut dan terlihat kesal, "sayang, aku menginginkan mu sejak aku melihat mu. Tentu saja sejak saat itu aku mencintai mu, kau kira hanya pertemuan paling lama saja yang lambat laun mendatangkan cinta? Tidak! Pertemuan pertama pun aku sudah jatuh cinta pada mu, ingat itu!"
"Kau tidak mengatakan cinta, kau hanya mengatakan kau menginginkan mu!"
"Apa bedanya. Karena sekarang kau adalah milikku!"
Hinata tersenyum manis, tiba-tiba ia mengingat sesuatu, dan dia menatap Naruto, "apa kau tidak ingin. . . punya bayi?" kata Hinata. Naruto mengernyitkan dahinya. Hinata membawa tangan Naruto untuk menyentuh perut rampingnya, "mungkin dua anak cukup?" tanya Naruto. Hinata tersenyum, dia juga menginginkan hal itu, "aku suka. Satu laki-laki satu perempuan, anak-anak kita pasti akan tampan dan cantik!" kata Hinata mulai membayangkan.
"Kalau begitu. Jika kau ingin segera punya anak sayang, ayo kita buat!" kata Naruto.
Lalu tiba-tiba dia mengangkat Hinata dan membawanya ke tempat tidur.
Hari ini Naruto dan Hinata sudah siap untuk pulang ke rumah, mereka sangat merindukan kedua orang tua dan teman-teman mereka. Setelah perjalanan yang cukup panjang dan menghabiskan waktu di pesawat membuat mereka sangat lelah dan tidak sanggup mengobrol ketika mereka sudah sampai di rumah, hanya peluk cium lah yang mengakhiri kepulangan mereka ke rumah.
Dua hari setelah kepulangan mereka ke rumah. Kini saatnya untuk Sakura dan Sasuke bertemu pengantin baru yang sedang kasmaran. Mereka bertemu di sebuah caffe, membahas bulan madu dan hal-hal lain selama mereka liburan. Tetapi liburan itu dipakai untuk hal-hal pribadi yang tidak mungkin diceritakan mereka berdua pada Sakura dan Sasuke, "kalian sudah menikah dan sekarang giliran aku!" kata Sakura.
Hinata menatapnya senang, "benarkah, oh ya Tuhan, aku senang sekali mendengarnya Sakura. Kapan kalian akan menikah?"
"Bulan depan!" kata Sakura.
"Waaah, sudah sedekat itu rupanya!" kata Naruto menatap Sasuke dengan tatapan menuduh, "aku tidak akan kalah dari mu!" ujar Sasuke.
Setelah pertemuan yang menyenangkan itu Naruto dan Hinata pulang ke rumah mereka sendiri. Rumah yang menjadi kado pernikahan mereka dari kedua orang tua, "sayang, aku mau mandi dulu, bisa buatkan aku spagheti!" kata Hinata lalu bergegas ke kamar mandi. Naruto terlihat bingung, tiba-tiba saja Hinata meminta spagheti, "kenapa tadi di caffe tidak memesan spagheti?" tanya Naruto dengan tatapan bingungnya. Beberapa menit kemudian Hinata keluar dari kamar dan spagheti pun sudah siap, Hinata mencium baunya, "sepertinya enak!" kata Hinata lalu memakannya.
Hinata makan dengan lahap sementara itu Naruto terus memperhatikan dengan seksama sambil tersenyum-senyum, "kau tidak mau membaginya dengan ku?" tanya Naruto. Hinata menatapnya sambil mengunyah spagheti itu, "sepertinya aku juga kurang, buat lagi saja!" katanya.
Naruto menampa dagunya dan memandangi Hinata. Setelah selesai Hinata meminum air dan bernapas lega, kekenyangan, dan dia menggerakan badan tanpa melihat ke arah Naruto. Naruto berdiri dihadapannya, "kenapa kau pelit sekali hari ini huh?" tanya Naruto kemudian mencium bibir Hinata dan menikmati aroma spagheti dari mulut Hinata. Hinata melepaskan diri dan menahan dada Naruto agar menjauh, dan mengelap bekas ciuman itu. Naruto menghembuskan napas kesal, "aku sedang tidak mood, jangan dekat-dekat dengan ku!"
"Apa?"
Lalu Hinata berlalu dari hadapan Naruto, "sayang, kenapa tiba-tiba kau berubah seperti itu. Hinata!" Hinata tidak mendengarkan, dia terus berjalan dan menjauh dari Naruto. Naruto mengikutinya dan menarik Hinata ke pelukannya, "ada apa sayang, kau menghindariku, tidak biasanya. Dan tiba-tiba kau makan. . ."
"Aku tidak apa-apa aku hanya kurang mood saja."
"Kau sakit?"
"Tidak!"
Suasana hari itu sangat berbeda, menjelang malam Hinata pun tetap tidak berubah. Naruto bingung, apa yang terjadi dengan istrinya. Saat pagi datang Hinata terbangun karena merasa mual, ia berlari ke kamar mandi. Naruto terbangun karena mendengar Hinata muntah-muntah, ia bergegas ke kamar mandi, "sayang, apa yang terjadi dengan mu?"
"Entahlah, aku hanya mual saja, tidak perlu khawatir!"
"Baiklah, aku tidak ke kantor hari ini, aku akan menemani mu di rumah!"
"Tidak, ayah pasti mencari mu, pergilah . . ."
"Tidak, tidak, aku akan ada disini, sekarang mandilah, akan ku buatkan sarapan!"
"Sayang, aku ingin mie goreng, bisa kau buatkan?"
"Baiklah!" Naruto merasa bahwa istrinya banyak meminta, itu hal yang jarang terjadi. Beberapa menit kemudian saat Hinata masuk ke dapur, aroma wangi tercium begitu dia duduk didepan sarapan lezat itu dia tak kuasa untuk langsung memakannya, "whoa. . . ini lezat, sangat enak!"mendengar pujian itu Naruto seakan terbang tinggi, tapi tetap saja dia merasa ada yang aneh dengan tingkah laku Hinata saat ini, "sayang hari ini kau bekerja saja, aku akan bertemu Sakura, kami akan berbelanja!"
"Apa? Kenapa mendadak?"
"Aku akan baik-baik saja, jangan kahwatir!"
Naruto menghela napas panjang, dia hanya ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Hinata, setelah bulan madu dia mengira akan ada waktu berdua, tapi sayangnya tidak, "telfon aku jika terjadi sesuatu!" kata Naruto yang baru saja mengantar Hinata, dia melajukan mobilnya ke kantor, dan mereka menjalani kegiatan masing-masing.
Menjelang siang Hinata dan Sakura tengah makan siang, tapi Hinata tidak berselera, perutnya terasa mual, dan dia muntah lagi, "ya ampun, ayo kita ke dokter Hinata!" Sakura membawanya ke rumah sakit. Saat Hinata diperiksa Naruto datang dan menanyakan keadaan Hinata. Dia terlihat panik, khawatir dan meremas-remas rambutnya, seakan frustasi. Naruto masuk ketika suster memanggilnya, "ada apa dok, apa terjadi sesuatu dengan istri saya?"
Naruto memegang tangan Hinata erat, "sayangnya, ada sesuatu yang terjadi pada istri anda tuan, dia . . ." baik Naruto, Hinata maupun Sakura semuanya sangat cemas.
^^Bersambung . . .^^
