Saat Squall berlutut, tingginya sama dengan tinggi Fenrir. Anjing besar itu sedang menjulurkan lidahnya yang merah muda sambil tersenyum lebar karena Squall sedang menggaruk-garuk belakang telinganya. Anjing itu menjilat-jilat wajah Squall beberapa kali sampai berlumur air liur. Squall berdiri meninggalkan anjing itu sambil mengeringkan wajahnya dengan sapu tangan.

"Bukankah itu husky biasa?" tanya petugas berkepala botak. Dia sudah mengambil cangkir kopi ketiganya.

"Sebenarnya itu GF, Guardian Force. Dia sejenis Moomba dan Chocobo, tapi karena Seifer sudah memilikinya, anjing itu melekat terus pada Seifer," Quistis menjelaskan.

"Lalu bagaimana dia bisa membantu anda untuk menentukan apakah Seifer membawa kokain ini atau tidak?" petugas botak itu membuka kedua telapak tangannya lebar. Maklum, dia hanya memahami GF sebatas monster saja.

"Kau pernah pelihara anjing, opsir?" tanya Squall, sekarang dia membersihkan kacamata hitamnya.

"Tidak, aku tidak suka anjing."

"Aku pernah pelihara anak singa," kata Squall. "Peliharaan apapun, apalagi anjing, bila sudah akrab dengan pemiliknya maka akan menjalin ikatan batin. Percaya tidak percaya, dengan ikatan batin itulah peliharaan berkomunikasi dengan majikannya."

"Mengkhayal," opsir itu tertawa.

"Aku serius. Singa yang sudah dua tahun kupelihara sekarang kulepas di padang rumput di sekitar Eshtar, habitat aslinya. Suatu hari jantungku berdebar-debar dan aku ingat Simba terus. Lalu kuputuskan untuk mendatangi padang rumput itu dan mencari Simba. Benar saja, seorang pemburu sedang mengejar-ngejar singaku, mereka berhasil mendapatkannya," kata Squall.

"Menyentuh, seperti film-film Galbadia," ejek opsir itu.

"Sesekali peliharalah sesuatu. Pungut kucing di jalanan atau ikan saja, dua tahun kemudian kau akan mengerti maksudku. Itu kalau kau mencintai mereka dengan benar, ya," kata Squall dengan enteng.

"Aku tetap merasa bahwa anjing tidak akan mampu membuktikan apapun. Apa yang bisa mereka lakukan? Mengendus?" opsir itu tertawa.

Fenrir bukan anjing biasa, walau kelakuannya memang seperti anak anjing yang berusia satu tahun. Layaknya GF pada umumnya, dia memahami kecerdasan manusia. Itu sebabnya dia menggeram kecil sambil menatap opsir tersebut.

"Sebaiknya seseorang memasangkan tali di lehernya, anjing itu buas, mereka bisa makan orang," kata opsir yang mendengar geraman Fenrir.

"Fenrir beda dengan anjing biasa, ingatlah bahwa dia seekor Guardian Force. Apapun yang anda katakan, dia memahaminya. Oh ya, dia pasti tahu betul situasi sekarang ini," Squall menggunakan kacamata hitamnya lagi.

Opsir itu menyeruput kopinya sedikit, kemudian meletakkannya di atas meja. Dia mendekati anjing itu dan berkata, "hey, dungu, kalau kamu bisa membawakan aku koran hari ini yang terletak di meja resepsionis, aku akan menggunakan tali anjing selama satu bulan dan tak kulepas sama sekali."

Fenrir tertawa. Pernah lihat anjing tertawa? Mereka tertawa seperti manusia, lengkap dengan "ha ha ha". Setelah tertawa, dia berjalan ringan menuju meja resepsionis dan kembali membawa koran hari ini. Tidak seperti anjing biasa yang menggoyangkan ekor sambil menunggu pujian, Fenrir tersenyum culas sambil menatap opsir botak itu dengan sengit.

"Quistis, kau dampingi mereka ya, aku mau ke sebelah dulu, beli tali anjing yang imut untuk opsir .. uhh ..." Squall membaca nama yang tertera di dada kanan opsir tersebut. "Dion."

Opsir berkepala botak itu membukakan pintu ruang interogasi, dimana Seifer sedang terborgol, duduk di sana.

Ketika Fenrir melangkah masuk dengan ekor berkibas, Seifer menatap tajam pada opsir itu, "aku tahu. Kokain itu tidak pernah ada di dalam tasku."

"Maksudmu kami yang mengada-ada, begitu?" Opsir Dion yang botak itu tersinggung.

"Kita lihat saja," Seifer mengusap kepala Fenrir yang duduk sigap dan gagah di hadapannya. Setelah itu, Seifer meletakkan telapak tangannya pada kepala Fenrir, dan kedua mata Fenrir pun menyorotkan sepasang sinar yang memproyeksikan ingatan tas tersebut sejak dibeli Seifer di Delling sampai ke Ballamb. Hanya ada sikat gigi dan odol, kemudian botol air minum di dalamnya. Seseorang selain Seifer mengambilnya dan menunggunya muncul.

"Itu orangnya. Ayo kita tangkap dia!"

Opsir yang memegang tas selempang itu menghampiri Seifer sambil membawa bubuk kokain, dan mereka menangkap Seifer.

"Aku tidak membawanya, Quistis!"

Opsir itu sudah banjir keringat dan lupa berkedip. Dia melangkah mundur saat mata Seifer dan Quistis mengarah padanya. Namun dia menabrak Squall yang sedang berdiri di ambang pintu ruangan sambil memegang ikat tali leher anjing di tangannya. "Kenapa pucat sekali? Tidak sesuai harapanmu? Maaf ya, hanya tersisa untuk mini pom."

"Squall, kau melihat tadi?" seru Seifer.

"A-aku ..." opsir Dion mencoba membela diri.

"Seif, memangnya kau yakin memori Fenrir ini akurat? Bukankah dia tidak melihat langsung? Bisa saja dia hanya mengarang, kau kan majikannya, pasti dia ingin kamu bebas," kata Squall.

"I-Iya benar! Betul sekali! Pasti anjing itu ingin menjebakku agar kamu bebas! Kalian pasti dendam padaku, kan?!" Opsir Dion lalu menarik dasinya agar lehernya yang panas terasa sedikit lega. "Ayolah, jangan pakai sesuatu yang aneh-aneh. Gunakan sesuatu yang konkrit, yang bisa dibuktikan."

"Fenrir, coba kau mundur kembali dan lacak darimana kantung kokain itu berasal," bisik Seifer.

Seperti seseorang menekan tombol rewind, kini tayangan yang tampil pada proyeksi Fenrir itu terulang kembali mengikuti memori si kokain. Kokain itu tidak lain diletakkan di loker bawah tanah di departemen kepolisian Ballamb. Tapi Fenrir tidak berhenti, dia terus mundur sampai akhirnya diketahuilah bahwa kokain tersebut adalah konsumsi Opsir Dion dan tiga orang anak buahnya sendiri.

"Aku yakin kau sangat pandai, bisa mengeja 'munafik' dengan baik dan benar," ejek Seifer.

Sementara Opsir Dion banjir keringat, Squall memerintahkan Quistis untuk memeriksa ruang bawah tanah Departemen Kepolisian Ballamb, apakah benar ada tumpukan kokain di sana. Kemudian dia memerintahkan opsir lain untuk mengadakan tes urine. Baik Seifer dan Opsir Dion sama-sama dites apakah mereka pernah menggunakan kokain atau tidak. Hasilnya tentu saja, Opsir Dion terbukti pernah mengkonsumsi Kokain setidaknya dua hari lalu.

Ketika Opsir Dion ditahan di dalam penjara atas penggunaan narkotika dan upaya kriminalisasi atas Seifer Almasy, gantian dia diseret menuju ruang interogasi. Mereka memukulinya dengan buku sampai dia menceritakan kenapa dia menjebak Seifer.

"Yang berkuasa di Galbadia itu bilang, kalau aku bisa mengembalikan Almasy ke penjara Galbadia, maka dia akan membayarku dengan baik!" kata Opsir Dion dengan suara gemetar.

"Yang berkuasa, maksudmu Jendral C?"

"Uhh ..."

Squall menjentikkan jarinya pada salah seorang pemukul dan opsir Dion kembali dipukuli. Dia menjerit-jerit dan melambaikan tangannya, "baik, aku bicara! Aku bicara! Kau tahu Jendral yang istrinya penyanyi terkenal itu? Yang tewas dalam kecelakaan mobil? Anaknya akan segera menikah dalam waktu dekat, tapi ada banyak desas-desus yang bilang kalau anaknya seorang penyihir. Yang menyebarkan desas-desus itu adalah Almasy! Itu sebabnya dia ingin Almasy mati!"

"Begitu, ya? Aku jelas perlu memastikan soal ini, tapi kalau sampai kamu salah, hukumanmu takkan ringan," kata Squall dengan dingin.

"Aku tidak berbohong, sungguh! Almasy itu penjahat! Selain menyebarkan gosip itu, dia juga sedang membangun kekuatan rahasia di FH, itu sebabnya dia datang ke Timber mencari GF! Dia tidak terima atas kekalahannya lima tahun lalu dan dia ingin balas dendam!"

"Sekarang semakin aneh saja ... kamu tahu dari mana?" tanya Squall.

"Lihat saja gerak-geriknya, dia sibuk pencitraan di FH. Mana ada penjahat psikopat seperti itu bertobat dan malah jadi pahlawan? Tidak mungkin! Pasti ada maksud terselubung dibalik kebaikannya itu! Kau harus percaya padaku, dunia ini dalam bahaya bila Almasy tidak dihentikan!" kata Opsir Dion.

Squall membawa pembaca mikro ekspresi bersamanya, dia lebih percaya sains psikologi daripada mesin pendeteksi kebohongan. Psikolog itu berkata, "dia bicara jujur."