Cursed Princess

.

Naruko disclaimer by Masashi Kishimoto

Based on Otome Game by Dicesuki

Warnings:

AU, OOC, dan mungkin Typo sedikit bertebaran.

-Probably, Sakura Centric-

.

Enjoy it~

.

"Aku tidak percaya! Aku tidak dapat mempercayai semua ini!" tegas Sakura yang kukuh pada pendiriannya.

Pikirannya berputar. Perkataan Sasuke tadi menari-nari dalam pikirannya.

'Sasuke adalah penyihir. Mereka teman. Ada seseorang yang menghapus ingatannya.'

Entah berapa kali kalimat itu terus berputar hingga membuat kepalanya kembali berdenyut sakit.

"Aku memang tidak memintamu untuk percaya padaku, Hime." Sasuke berucap dengan senyuman tipis di wajahnya.

Tangan Sakura mengepal erat.

Kenapa?

Kenapa Sasuke menatapnya dengan pandangan seperti itu?

Pemuda itu tersenyum kepadanya. Tetapi, Sakura dapat melihat jelas sirat kesedihan di balik sepasang Netra kelam itu.

Dia terlihat ... Sangat terluka.

Tetapi, Sakura tetap tidak dapat mempercayai semua ucapan Sasuke padanya tadi.

Gadis itu segera berbalik. "Aku akan kembali ke kamarku." Ucapnya dan berjalan meninggalkan Sasuke dengan langkah cepat, hampir berlari.

.

.

Sakura terduduk di salah satu sofa ruang resepsionis. Pandangannya tertunduk dengan deru napas yang bergerak cepat. Diliriknya pintu yang tertutup rapat itu.

Sasuke nampaknya tidak mengejarnya.

Gadis itu berusaha mengatur deru napas dan pikirannya agar kembali normal. Tetapi, perkataan dan ekspresi terluka Sasuke terus saja terngiang di benaknya.

'Tidak mungkin! Sasuke tidak mungkin menjadi temanku!' pikirnya berulang-ulang.

"Oh, Lihat siapa ini? Aku berpikir, apa yang membuatku bisa bertemu Sang Tuan Putri semalam ini. Kenapa kau belum tidur, darling?

Sakura melompat kaget dari duduknya, ketika mendengar suara Naruko yang berbisik tepat di telingnya. Gadis itu segera menoleh ke arah pemuda cantik yang kini tengah memandangnya dengan dahi berkerut.

"Kau terlihat seperti habis melihat hantu." Komentarnya.

Sakura membalas ucapannya dengan delikan tajam.

"Oh my, apakah kecantikanku akhirnya dapat memikatmu?" lanjutnya seraya mengedipkan sebelah matanya.

Sakura menatapnya datar. "Tidak! Aku hanya sedang berpikir!" tukas gadis itu.

"Tentang betapa cantiknya diriku?" Sambung Naruko. Kepercayaan dirinya memang tidak memiliki batas.

Sakura memutar bola matanya bosan. "Apa yang kau lakukan di sini?" gadis itu balik bertanya.

"hmm ... jalan-jalan malam." Jawabnya seraya tersenyum mengoda.

"hah ... aku akan kembali ke kamarku." Balas gadis itu malas.

Naruko tersenyum. "Selamat bermimpi indah. Besok akan menjadi hari yang melelahkan." Ingatnya.

Langkah Sakura terhenti tepat di depan pintu dan melirik singkat ke arah Naruko.

"Kau tidak perlu mengingatkanku." Tegasnya.

"Nampaknya kau masih akan menempuh jalan yang panjang, sebelum terbiasa dengan kehidupan rakyat biasa." Telisiknya. "Ya, walaupun, Aku juga mengalami kesulitan." Lanjutnya masam.

"Aku juga?"

"... tunggu! Naruko, kau seorang bangsawan?" tanya Sakura memastikan.

Naruko kembali memasang senyumannya. "Mungkin." Jawabnya ambigu.

"Mungkin?"

"Ya, Mungkin." Ulangnya seraya mengerlingkan mata.

Sakura menatapnya bosan. Tapi satu hal yang gadis itu garis bawahi, Kedai Minuman ini memiliki orang-orang yang tidak biasa.

"Well ... Aku memang tidak berencana hidup sebagai rakyat biasa. Aku pasti akan mematahkan kutukanku secepatnya." Tegasnya seraya melanjutkan langkahnya.

Naruko terdiam memandang punggung gadis itu. Begitu bayangan Sakura menghilang dibalik pintu, dia berbisik, "Sepertinya, jalan kita berdua masih terlalu panjang sebelum hal itu dapat terwujud, Putri."

.

.

.

Gadis musim semi itu segera merebahkan diri dan memejamkan kembali matanya. Hari ini, baik Sasuke maupun Naruko benar-benar membuat pikirannya kacau.

"Apa saja yang mereka sembunyikan dariku."

Pikirnya, sebelum kembali diselimuti bayangan hitam.

.

.

.

"Kami tidak ingin bermain denganmu lagi!" bentak seorang gadis kecil di halaman Istana.

"Tapi, Kenapa?" Sakura kecil menatap mereka dengan sedih. "Kita teman, Kan?" tanyanya.

"Teman? Siapa yang mengatakannya?"

"Kau yang bilang ..."

"Kita adalah teman sampai kau berhenti meminjamkan mainanmu." Tegas gadis kecil itu.

Sakura kecil menatap mereka dengan tatapan terkejut.

"Tapi ... Tapi kau belum ...,"

"Apa?" tukas gadis itu kasar.

"Kau belum mengembalikan mainanku yang kemarin."

"Mengembalikan? Kau yang memberikannya kepada kami!" tegasnya.

"Aku tidak memberikannya!" bantah Sakura kecil.

"Sudahlah! Ayo kita bermain dnegan teman kita yang sesungguhnya." Sambung gadis lainnya.

"Kau benar! Teman kita tidak egois!"

.

"Ibu sudah bilang, Kan Sayang?" wanita dewasa itu mengelus pelan surai Sakura kecil. "Orang-orang hanya akan menyakitimu. Itulah kenapa Ibu melarangmu untuk bermain bersama mereka." Jelasnya.

"Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu, Sayang." Lanjutnya seraya menghapus air mata Sakura.

"Maafkan Saku, Ibu. Maafkan, Saku." Isak Sakura.

"Hush ... tenanglah, Kesayangan." Ujarnya seraya memeluk putrinya. "Ibu tidak akan membiarkan mereka melukaimu lagi!"

.

.

Rutinitas Sakura kembali seperti biasa. Tidak ada yang berubah, kecuali laju sapunya yang sedikit melambat.

"Aku belum melihat Sasuke." Pikirnya.

Netranya menyapu tiap sudut ruangan tersebut. Ini aneh! Biasanya, Sasuke akan duduk dipojokan sambil mengecek ulang perlengkapan pertunjukannya.

"Apa dia marah padaku?" pikirnya lagi.

Gadis itu segera menggelengkan kepalanya. Dia menepis segala pemikiran tentang Sasuke ketika lagi-lagi dia mengingat cerita bocah cilik itu semalam.

"Tapi dia saja tidak mengejarku."

Sakura menghembuskan napasnya kasar.

"Menghela napas di pagi hari bisa membuat keberuntunganmu berkurang, Hime." Sapa Ino yang kini tengah tersenyum ke arahnya.

Sakura tersentak kaget. Suara Ino berhasil menariknya kembali dari pikirannya.

"Sejak kapan kau berdiri di sana?" tanya Sakura seraya menatap Ino yang berdiri dihadapannya.

Gadis itu terkikik pelan, "Aku sudah memanggilmu sebanyak lima kali, Hime." Jelasnya. "Kau sedang ada masalah?" raut wajahnya berubah khawatir.

"Tidak!" sergah cepat Sakura. Gadis itu kembali berjalan melewati Ino ketika pekerjaan menyapunya selesai.

.

Hampir menjelang siang dan Sakura tetap tidak melihat sosok Sasuke hari ini. Gadis itu sudah sering bolak-balik melewati kamar Sasuke tetapi, tetap saja dia tidak dapat menemukannya. Peralatan pertunjukan yang digunakan bocah itu juga masih ada pada tempatnya.

"Kemana perginya Sasuke?" batinnya.

Gadis itu kembali berjalan keluar ruang resepsionis dan melangkah menuju dapur, tempat Ino berada saat ini.

.

"Sakure-hime? Kau butuh sesuatu?" Ino terkejut ketika melihat Sakura masuk ke dapur.

Gadis itu menghela napasnya sejenak. "... Kau tahu dimana Sasuke sekarang, Ino?" tanyanya.

Senyuman di wajah Ino nampak meluntur. 'Ah ... Sasuke-Sam ... Aku belum melihat Sasuke-san hari ini, Hime." Gadis itu berucap cepat seraya terkekeh aneh.

Netra Sakura memicing penuh selidik. Tanpa perlu diberitahu oleh orang lain, Sakura tahu kalau sosok di depanya berbohong.

"Aku tahu kau-."

"Ara ... apa yang sedang kalian berdua bicarakan?" Naruko berdiri tepat di belakang Sakura.

"Ah, aku tahu. Kau sedang mencari Partner-mu, bukan? Hime-sama." Terka Naruko.

Sakura mengangguk, "Kau tahu dimana dia?" tanyanya.

"Hmm ...," wajah Naruko nampak berpikir sejenak. "Bagaimana jika kita jalan-jalan sejenak?" tawarnya.

"Aku tidak mood untuk membuang waktuku secara sia-sia! Jika kau tahu dimana Sasuke sekarang, sebaiknya kau memberitahuku!" tukasnya.

"Hee ... sangat jarang melihat Putri es kita membutuhkan seseorang." Goda Naruko.

Sakura terhenyak. Dengan cepat gadis itu mengalihkan pandangannya.

"Kerena, Dia Partner-ku." Jawab gadis itu datar. Ya, dia masih berpasangan dengan Sasuke sekarang. Dia akan berhenti mencari Sasuke jika, pemuda bertubuh bocah itu memutuskan untuk berhenti membantunya.

Naruko menghela napas. Pemuda itu bergerak cepat menangkup kedua wajah Sakura dan berujar tepat di depan wajah gadis itu.

"Kau pandai berbohong." Ucapnya seraya tersenyum. "Jadilah gadis manis, dan aku akan memberitahu dimana Sasuke berada." Lanjutnya seraya kembali menjauhkan diri.

"Bagaimana?" tawar Naruko seraya tersenyum lebar.

Sakura terdiam. Dia hanya mengangguk singkat karena masih syok akibat ulah Naruko tadi.

Bukan, bukan karena wajah Naruko yang terlalu dekat dengannya melainkan, suara mengintimidasi dari Si sosok pirang.

"Good girl!" Naruko tersenyum dan menarik tangan Putri musim semi itu.

.

.

.

Sakura dan Naruko berjalan beriringan menusuri hutan belakang. Emeraldnya memandangi sebuket rangkaian bunga Lily dan krisan putih di tangannya.

Dia tidak tahu kenapa Naruko menyuruhnya membawa bunga tersebut. Pemuda itu juga tidak menjawab semua pertanyaan yang diajukannya sedari tadi.

Merasa lelah dan seperti berbicara dengan tanah, Sakura akhirnya memilih untuk diam.

"Kita sampai."

Suara Naruko membuyarkan lamunannya. Emerald yang sedari tadi tertunduk itu menatap kaget pemandangan di depannya.

"Apa ini!" gumamnya.

"Ah, Sepertinya Sasuke memang baru datang kemari." Tutur Naruko tanpa mengindahkan gumaman Sakura.

Pemuda itu memilih untuk duduk di depan Altar dan menangkupkan kedua tangannya. "Kau tidak ingin bergabung, Hime?" tanyanya.

Sakura menoleh ke arah Naruko dan berjalan pelan mendekatinya. Begitu langkahnya tiba di samping Naruko, emerald itu membaca tulisan yang tercetak di batu tersebut.

Rest In peace:

Beloved Father. Fugaku Uchiha.

Beloved Mother, Mikoto Uchiha

And for Last, Beloved Brother, Itachi Uchiha.

Emerald itu menatap tidak percaya.

'Uchiha? Uchiha? Uchiha ... Sasuke?'

"Apa maksudnya ini, Naruko?" lirih Sakura.

Naruko yang baru selesai berdo'a Segera mengambil buket di tangan Sakura dan meletakannya di depan Altar.

"Seperti yang kau lihat, Hime-sama." Naruko tersenyum pedih. "Hari ini ... adalah hari peringatan kematian keluarga Sasuke." Tuturnya.

"Maksudmu, Sasuke sekarang sendirian? Dia masih memiliki kerabat yang lain, kan?" tanya gadis itu. Entah mengapa, Sakura merasa ada satu perasaan aneh yang melingkupinya saat ini. Perasaan yang enggan dia rasakan kembali ... Trauma.

"Sayangnya ... dia sebatang kara sejak kecil, Hime-sama. Dia satu-satunya Uchiha yang tersisa." Naruko tersenyum masam.

Emerald itu melebar sempurna. Gadis musim semi itu kehabisan kata-katanya.

Ternyata selama ini, Sasuke sama seperti dirinya ... Sendirian.

"Kita adalah teman."

Lagi-lagi ucapan Sasuke kembali terngiang di kepalanya. Pemuda itu sudah sendiri sejak lama. Dan jika memang mereka adalah teman, bukankah Sakura termasuk orang yang jahat karena telah melupakannya. Sasuke adalah orang yang pertama kali menolongnya dihari pertama dia terkena kutukan tetapi ... Sakura malah mengusirnya menjauh, padahal Sasuke selalu datang menolongnya.

Sapphire Naruko melirik singkat ke arah Sakura. Pemuda itu tersenyum tipis sebelum akhirnya mengacak surai itu pelan dan berjalan di depannya.

"Ayo, pulang. Sasuke juga sudah pulang duluan." Ajaknya.

Keduanya kemudian berjalan pulang dalam keheningan.

.

.

Tiga minggu berlalu setelahnya. Sakura kembali ikut dengan Sasuke ketika dia tengah mengadakan pertujukan. Walaupun, Sasuke sering merasa was-was ketika mereka keluar dari Kedai. Perkataan Tsunade tentang penyihir yang mengetahui keberadaan Sakura membuat dirinya lebih waspada.

"Kau terlihat murung belakangan ini, Hime?" Sasuke memecahkan kesunyian di antara mereka.

Netra kelam itu menelisik wajah Sakura. Dia tahu, ada sesuatu yang dialami oleh gadis itu tetapi, dia enggan menceritakannya padanya.

Sakura yang merasa diperhatikan segera menggelengkan kepalanya.

"Aku baik-baik saja." Jawabnya seraya kembali menunduk.

Ini sudah memasuki minggu ketiga pasca Naruko membawanya ke makam keluarga Sasuke. Entah mengapa, Gadis itu merasa berat setiap kali menatap wajah Sasuke.

Sasuke kembali menghela napasnya. Dia tahu, Sakura masih enggan membagi masalahnya.

"Apa hari ini aku turut bermain juga?" Sakura mencoba mengalihkan pikiran mereka.

Sasuke tersenyum tipis, "Jika kau mau, Aku akan kembali memberikanmu peran." Jawabnya.

Sakura mengangguk semangat. Sudah dua minggu belakangan ini Sakura dilatih Sasuke menjadi asistennya. Menemani Sasuke mengadakan pertunjukan sudah menjadi kebiasaanya setiap hari. Terkadang, Sakura juga membatu Sasuke mendirikan stan walaupun, Sasuke masih melarangnya untuk membawa benda yang berat.

Gadis itu mendapatkan banyak hal baru selama satu bulan ini. Sesuatu yang selama ini ingin dia lakukan, tetapi tidak pernah dia katakan kepada siapapun.

Tapi terkadang, Sasuke dapat mengetahuinya.

Sasuke memang mengatakan bahwa mereka berteman cukup lama, dan Sakura juga mengetahui tentang keluarga Sasuke-tentunya Sasuke tidak tahu kalau dia dan Naruko datang ke makam orang tua Sasuke.

Tapi sekarang, gadis itu mulai mempercayainya sedikit.

"Kau ingat? Kau selalu ingin keluar dari Istana untuk melihat Emyrlis. Dan sekarang ... kita di sini. Kau tidakkan tahu seberapa senangnya aku karena bisa memenuhi janji itu." Ungkap Sasuke riang. Tetapi, Sakura tetap meragukan cerita Sasuke.

"Aku masih harus mempertimbangkan untuk mempercayai ceritamu tapi ...," Sakura menatap nanar Sasuke.

"Sasuke, walaupun kita sudah mengenal sejak lama, aku tidaklah sama," gadis itu menyerahkan tirai kecil untuk stan mereka, kepalanya tertutup oleh tirai itu sehingga dia tidak perlu bertatapan langsung dengan manik kelam itu.

"Aku ... bukanlah gadis kecil yang kau kenal dulu." Lirihnya.

Sasuke terdiam sejenak seraya mengambil napasnya. "Aku tahu itu." Jawabnya singkat.

"Tetapi, aku juga tetap percaya, bahwa gadis kecil yang kukenal dulu, yang selalu tersenyum bahagia hanya karena hal-hal sederhana ...," Sasuke menunduk menatap wajah Sakura.

Senyuman tipis terukir di wajahnya. "Gadis yang kebaikannya tulus ... dia tetap dirimu."

Sakura menunduk menghindari manik kelam tersebut. Hatinya gelisah dan pikirannya tak tenang. Gadis itu menggigit bibir bawahnya.

'Bagaimana aku bisa seperti itu, ketika aku sendiri, tidak mengerti arti kebahagiaan itu sendiri?' pikirnya lirih.

Setelah Sasuke memasang tirai tadi, stan mereka telah berdiri sempurna. Sakura berpikir Sasuke akan beranjak untuk mengecek boneka-bonekanya tetapi, dia malah meletakan tangannya di atas meja, dan menatap lurus ke arah Sakura.

"Ketika aku melihatmu lagi hari itu, aku sangat senang. Aku merasa benang takdir telah membawamu kembali padaku." Ucap Sasuke lembut.

"Tetapi kemudian, Kau tetap tidak mengenaliku." bisiknya.

Sasuke kemudian terdiam dan Sakura mengkerutkan keningnya.

'Masih banyak hal yang Sasuke sembunyikan dariku.'

Lalu, Sasuke kembali mengambil perlengkapannya dan tersenyum cerah.

"Ah, Untuk hari ini, kau menonton saja dan jangan pergi kemana-mana." Perintahnya.

Sakura mengangguk paham. gadis itu menyadari senyuman Sasuke tidak sampai pada matanya ketika dia berjalan.

Sakura kemudian mengalihkan pandangannya ke arah kerumunan orang yang mulai berkumpul. Netra hijaunya menangkap banyak sekali keluarga yang datang hari ini.

pandangannya kembali tertunduk. Selama ini, dia sama sekali tidak iri kepada orang-orang mengenai makanan dan pakaian. Dia tidak harus bekerja keras karena semuanya telah terpenuhi. Harusnya, dia adalah manusia paling bahagia di kota ini. Tetapi sekarang, dia mulai menyadarinya bahwa semua benda yang dia dapatkan di Istana, tidak dapat membeli sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya.

"Hallo, Semua!"

Suara Sapaan Sasuke yang terdengar membuat lamunan Sakura terhenti. Gadis itu kembali mengamati setiap gerak-gerik Sasuke yang tengah membawakan cerita dongengnya. Dan seperti biasa, para penonton akan terhanyut dalam alur yang dibawakan olehnya.

Ketika dia sedang memperhatikan pertujukan Sasuke, netranya terfokus pada sebuah keluarga di depannya. Seorang Ayah, Ibu dan Putrinya yang tengah tertawa bersama ketika melihat pertujukan itu.

Gadis itu kembali tertunduk seraya mencengkram ujung roknya.

"Kehidupan seperti apa yang aku inginkan?" gumamnya.

.

Pertujukan Sasuke sekali lagi berakhir dengan sempurna. Senyumannya di wajahnya terlihat cerah ketika dia selesai menghitung upah yang dia dapatkan.

"Kau terlihat lebih bahagia dari biasanya." Ungkap Sakura.

"Tentu! Aku baru saja berhasil mengumpulkan uang untuk membeli mainan baru, akhirnya aku bisa membelinya!" ucapnya senang.

Sakura mendengus pelan. Sasuke itu, dia selalu saja protes dan benci jika diperlakukan seperti anak kecil tetapi, dia sangat antusias ketika mengatakan tentang mainan baru.

.

Langkah Sakura terhenti ketika mendengar suara tawa, dia menatap lurus kesekumpulan anak-anak yang saling bercengkrama antusias, ketika mereka menyadari kehadiran dirinya dan Sasuke.

"Ah ... ini mungkin kesempatan." Ujar Sasuke semangat.

"Kesempatan?" Sakura berujar bingung.

"Membuat anak-anak itu senang mungkin dapat mematahkan salah satu kutukanmu." Jelasnya.

"Apa!" Sakura berseru panik.

Sasuke mengabaikannya ketika para anak-anak tersebut menarik tubuhnya.

"Sasuke!"

Kumpulan anak-anak tersebut segera mendekatinya, seraya berseru senang dan berusaha melekat padanya dengan berbagai cara.

"Aku terus menunggumu untuk datang kemari!" seru seorang anak perempuan dengan surai sebahu.

"Aku baru saja datang kemari beberapa hari yang lalu." Jawab Sasuke.

"Tapi kau tidak memiliki waktu untuk bermain." Timpal anak lelaki lainnya.

"Bisakah kita bermain sekarang? Ayolah Sasuke, Ayo, Ayo ..." Ajak anak perempuan tadi.

"Kami sudah menjadi anak baik seperti yang kau suruh." beritahu bocah lelaki lainnya.

Sasuke menatap mereka satu persatu.

"Baiklah, jika kalian memang telah menjadi anak baik, bagaimana caraku untuk menolaknya?"

Anak-anak itu bersorak senang.

"Aku akan mulai menghitung sekarang?"

"Ayo!" seru seorang anak.

"Dia tidak akan menemukan kita kali ini!" timpal yang lain.

Kumpulan anak-anak tersebut kemudian berlari ke segala arah. Sakura melihat mereka berusaha menyembunyikan diri masing-masing.

"Ini giliranmu untuk bersembunyi, Sakura-hime." Jelas Sasuke.

"Apa! Kenapa aku juga harus ikut?" tanyanya.

"Kau tidak ingin bermain?" wajah Sasuke berubah murung. "Padahal dulu, kit asering bermain petak umpet bersama." Lanjutnya.

Netra Sakura sedikit melebar. Gadis itu sangat yakin, dia tidak pernah bermain permainan ini sepanjang hidupnya dnegan siapapun.

"... Apakah ini ingatan lainnya yang dihapus?" lirihnya.

"Kakak, Ayo bermain bersama." Ajak seorang anak kecil bersurai panjang.

Gadis cilik itu segera meraih tangan Sakura dan menariknya agar turut berlari bersama.

"Hey ... tung-."

Terlambat, gadis kecil itu sudah terlebih dulu menariknya. Sakura menoleh ke arah Sasuke tetapi, dia hanya tersenyum kepadanya.

Sakura mendesah, dia tidak punya pilihan lain sekarang.

Sasuke segara membalikan wajahnya menatap tembok, menutup matanya, dan mulai berhitung. Sebelum Sakura dapat mengerti, tangannya sudah dilepas oleh gadis kecil itu yang kini berlari mencari tempat persembunyian.

Sakura menatap mereka tidak mengerti. Dia berbalik dan melihat seorang anak kecil yang bersembunyi di balik gentong.

"Kakak harus segera sembunyi." Jelas anak tersebut.

Sakura berputar panik mencari tempat untuk bersembunyi. Mereka tidak menjelaskan peraturan game tersebut sama sekali.

Netranya bergerak gelisah dan tepat ketika Sasuke mengatakan, "Siap atau tidak, aku datang!"

Sakura segera bersembunyi dibalik manusia kayu.

'Aku tidak percaya ini!' pikirnya setelah melihat kondisinya sekarang. Bajunya menjadi kotor hanya karena permainan anak kecil.

"Ketemu!"

Sakura tersentak kaget. Jantung berdetak cepat dan segera menoleh ke arah suara. Dan setelah dia sadar, Sasuke baru saja menemukan salah satu dari mereka.

'Untunglah ... bukan aku!' batinnya lega.

Tunggu, kenapa dia jadi ikutan panik dan takut jika ditemukan?

"Ketemu!"

Suara Sasuke kembali terdengar. Setiap beberapa langkah, Sasuke selalu menemukan persembunyian anak-anak tersebut tetapi ... dia masih belum bisa menemukan Sakura.

"Kau masih belum bisa menemukan kakak?" samar-samar suara gadis itu terdengar.

"Kau benar. Dimana dia bersembunyi?"

Netra kelam Sasuke menyapu setiap sudut tempat tersebut.

Sakura mendengus bosan.

"Ketemu!"

"Hiii!"

Sakura melompat kaget ketika mendnegar suara Sasuke di belakangnya. Sasuke menunduk menatap wajahnya dengan seringai kemenangan.

"kau menang, Hime-sama." Ucapnya.

"aku menang?" ungkap Sakura tak percaya.

"Lihat, kau nampaknya ahli dalam permainan ini." Pujinya.

Sakura membuang mukanya. "aku tidak ahli. Kau saja yang tidak berusaha keras untuk menemukanku." Komentarnya.

"Itu tidak mengubah kenyataan kalau kau telah memenangkan game ini. Kau harusnya senang." Balas Sasuke.

"Kerja bagus, Sakura-hime."

Sasuke memujinya lagi dengan menepuk-nepuk pelan pucuk kepala gadis itu seraya tersenyum. Kemudian, perhatiannya kembali anak-anak tadi.

'Dia benar. Pujiannya membuatku senang. Kenapa?' pikirnya bingung.

"Baiklah semuanya. Permainan selesai."

Anak-anak itu mulai bersorak kecewa.

"Kita baru bermain satu putaran." Protes mereka.

"Jangan begitu. Aku janji kita akan bermain lagi secepatnya." Janji Sasuke.

Anak-anak tersebut langsung mengangguk paham.

"Sekarang kembalilah pulang. Orang tua kalian sedang menanti kalian." Titahnya.

Seorang gadis kecil berlari menubruk Sakura dan memeluk lengannya erat.

"Terima kasih telah bermain bersama kami, Kak. Nanti datang lagi, ya!" serunya sebelum melepaskan lengan sakura dan berlari menyusul teman-temannya.

"Mereka menyukaimu." Ungkap Sasuke.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Kau tidak lihat wajah senang mereka ketika kau memutuskan untuk ikut bermain?"

Sakura mengalihkan pandangannya ke arah anak-anak tadi.

"Anak-anak sangat mudah untuk didekati." Ucapnya pelan.

Sasuke mengangguk setuju. "Karena itulah aku menganggumi mereka." Tutur Sasuke. "Orang dewasa tidak seperti anak-anak. Mereka terlalu banyak khawatir dan tidak menghargai kebahagian sederhana dalam hidup."

"Seiring kita tumbuh dewasa, kita lupa bagaimana caranya bahagia." Tandasnya.

'Lupa bagaimana caranya bahagia?'

Sasuke mungkin benar. Ketika Sakura masih kecil, bonekanya memberikan banyak kebahagiaan, namun sekarang ...

"Oh ya, Karena kau menang, aku akan memberikanmu hadiah."ujar Sasuke.

"Hadiah?" Sakura menatap Sasuke bingung.

"Kau akan menyukainya. Aku jamin."

.

.

Sakura duduk di bangku tepi air mancur seraya menunggu Sasuke kembali. Dia bilang, akan lebih mudah jika dia pergi sendiri mencari hadiahnya, agar dapat menjadi kejutan untuk Sakura.

Sakura mengamati sekelilingnya yang selalu penuh dengan orang-orang, dipinggir jalan pusat Kota Emyrlis memang banyak toko populer yang berdiri.

Pandangan Sakura jatuh pada patung Sang Raja. Dia memang terlihat seperti bangsawan sejati.

Helaan napas keluar dari mulut gadis. Bertepatan dengan hembusan napasnya, seorang anak kecil jatuh tepat di depannya dan mulai menangis.

Sakura yang panik berusaha menolongnya. Sayangnya, orang tua anak tersebut mendahuluinya.

"Huush ... tenanglah, Jagoan. Itu tidak sakit." Ucap Sang Ayah menenangkan.

"Ibu juga ada di sini, sayang." Sambung Sang Ibu seraya memeluk putranya.

Sakura tetap menatap mereka sampai mereka mulai berjalan. Sang Ibu masih memeluk putranya dalam gendongannya.

Hati sakura kembali bergemuruh. Gadis itu mulai berpikir, bagaimana rasanya disayang seperti anak tadi oleh kedua orang tuanya.

Dan bertepatan dengan itu, Sasuke kembali.

"Maaf lama menunggu." Ujarnya.

Sakura diam tak menanggapi.

"... Kau baik-baik saja?" Sasuke bertanya khawatir.

Sakura masih terdiam hingga bayangan keluarga tadi sudah tidak dapat dijangkau oleh matanya. "Aku baik-baik saja." Jawabnya kemudian.

Sasuke nampak menelisik wajah gadis itu seraya menghembuskan napasnya.

"Ini." Ucapnya seraya menyerahkan benda di tangannya.

"Apa ini?" tanya Sakura bingung.

"Permen apel. Dulu aku pernah berjanji akan membawakanmu satu, tetapi aku tidak dapat memenuhinya. Karena itulah, aku melakukannya sekarang." Jelas Sasuke.

"Aku tidak ingat dengan janji itu." Lirihnya.

Sakura memutar-mutar permen tersebut. Gadis itu nampak berpikir bagaimana cara membuat apel yang berkilau seperti itu. Gadis itu kemudian mendengus baunya.

'manis?'

"Cobalah. Aku berjanji tidak ada racun di dalamnya. Yang ada hanya rasa manis."

Sakura mengikuti kata Sasuke. Gadis itu menggigit kecil permen tersebut.

"Enak?"

Sakura menikmati rasa permen tersebut sampai tidak mendengar ucapan Sasuke. Gadis itu belum pernah merasakan rasa yang sama dengan permen tersebut.

Gadis itu kemudian menggigitnya lagi, lagi, dan lagi.

Sasuke tersenyum ketika melihat sakura menghabiskan permennya.

"Kau baru saja tersenyum, Hime."

"Apa?" Sakura berujar tak percaya. 'Benarkah aku tadi tersenyum?'

"Ketika aku mendapatkan uang lebih lagi, aku akan kembali membelikanmu cemilan lainnya di sini. Ada banyak makanan manis yang mungkin kau sukai." ujarnya.

"Apakah ada banyak makanan seperti ini?" tanya sakura antusias.

"tentu saja. Aku berjanji akan membuatmu mencicipi semua." Lanjutnya.

Sasuke berdiri dari duduknya.

"Ini semakin larut. Ayo, kita kembali sekarang."

Ajaknya seraya mengulurkan tangannya.

Sakura mengangguk singkat dan meraih tangan kecil itu.

-t.b.c-

Ampun ... Ini panjang banget T.T #abaikan.

Karena ada pertanyaan dari V-san dan Nempang lewat-san yang tidak bisa Yuki balas Via PM, Yuki akan membalasnya sekarang ^^

V-san: Terima Kasih atas dukungannya XD mengenai Sasuke penyihir? Yap ... emang Sasuke adalah penyihir di sini. dan buat alasan Ibu Saku nggak ngizinin Saku keluar udah di flashback-in di Chapter ini XD. Oh Ya, mengenai kirim cerita, Maksudnya cerita sepenuhnya, kah? Kalau itu, Yuki juga belum nulis sampei ending. Fics ini publish tiap hari karena emang Yuki nulisnya tiap hari #bilangajalulagiinsom, dan sebelum kena delay minggu depan #Skripsmuwoy T.T maaf ya V-san ...

Numpang lewat-san : Do'akan saja supaya chapternya tidak terlalu banyak XP karena Jujurnya, Yuki jadi bimbang mau Happy atau sad ending. #Yukilagimodegalau #ditampolmeja

.

Yup ... Itulah cuap-suap singkatnya.

Terima Kssih karena telah membaca fics ini Minna ... XD

.

.

Salam manis, Yuki Yahiko