-MUNO-
Genre : Romance & Hurt/Comfort
Rate : T
Disclaimer : NARUTO cuma milik MK-Sama.
Pairing : Naruto U & Hinata H
WARNING : OOC, TYPO BERTEBARAN, GAJE NGGAK KARUAN DAN PENULISAN HANCUR, DLL, DSB.
DON'T LIKE, DON'T READ PLEASE!
.
..
"Ini sudah lewat dari waktu yang ditentukan!"
"Sabar Matsuri.."
"Aku tidak bisa sabar kalau begini, Hinata!"
"Sebentar lagi Sakura pasti datang.."
"Kenapa kau tenang sekali, Hinata? Padahal dia yang meminta kita berkumpul di Café Gránz! Tapi kenapa dia juga yang datang terlambat?!"
"Mungkin sedang macet.."
"Yaampun, Hinata! Itu tidak mu-"
"MAAF TERLAMBAT!"
Seruan nyaring dari seorang wanita bersurai pink membuat Hinata dan Matsuri menoleh bersamaan ke sang pemilik suara tersebut. Berbeda dengan Matsuri yang memasang wajah masam, Hinata justru menyunggingkan seulas senyum maklum menatap sang sahabat yang tampak berantakan.
"Kenapa kau terlambat? Kau tahu kan, setengah jam lagi aku ada interview!" ketus Matsuri yang membuat sudut siku-siku tercetak indah di dahi lebar Sakura. "Ya ya, aku minta maaf.." sesal Sakura asal, langsung saja menduduki kursi disamping Hinata yang sedaritadi hanya diam mendengarkan percakapannya dengan Matsuri.
"Senang sekali bisa berkumpul lagi seperti ini, hihi.." kikik Hinata teringat masa-masa sewaktu masih mengenyam pendidikan bersama kedua sahabatnya ini, ketiganya selalu saja berkumpul bersama di Café Gránz tempat favorit mereka menghabiskan waktu luang bersama. "Benar juga, sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini.. Kira-kira berapa tahun ya.." sahut Matsuri berpose layaknya Detective Kindaichi idolanya.
"Sekitar 6 tahun?" Sakura berujar dengan nada bertanya.
"Ah! Ya kau benar! 6 tahun waktu yang lama iya kan.. Ini karena Hinata yang pindah ke Belanda begitu saja tanpa pamit!" Matsuri mendengus menatap Hinata yang salah tingkah. Kepala indigonya tertunduk dengan jari telunjuk yang saling terkait satu sama lain. "Ano.." belum Hinata menyelesaikan ucapannya, Sakura keburu memotongnya dengan cepat. "Jangan egois! Lagipula kita tahu alasan Hinata kembali ke Belanda kan?" berujar tegas seraya menatap Matsuri yang kini terlihat menyesal. Sakura menggulirkan iris zamrudnya menatap Hinata yang menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Maaf, Hinata.." sesal Matsuri menatap Hinata.
"Umn, daijoubu Matsuri.." balas Hinata dengan senyum kecil yang tercetak di wajah cantiknya. "Jadi.." lanjut Hinata menggantung kalimatnya. Sakura yang mengerti langsung saja membenahi posisi duduknya pun, Matsuri turut memusatkan perhatiannya pada Sakura.
"Ini!"
"Huh?/Eh?"
"Uh! Itu undangan pernikahan untuk kalian!"
"Bukankah kau sudah menikah, Sakura?"
"Bukan aku, baka!"
Matsuri meringis saat kata -Baka- disematkan padanya. Sedang Hinata yang penasaran lantas mengangkat tangannya untuk meraih undangan berwarna coklat lembut dengan sebuah pita putih tersebut dan segera melihat nama yang tertera disana. "Kiba Inuzuka dan Sara Ishiyama?" ucap Hinata pelan.
"EEEHHH!"
"Pelankan suaramu Matsuri! Kau mau menjadikan kita tontonan pengunjung Café huh?" Sakura berujar ketus. Hinata tersenyum maklum. Tentu saja Hinata tahu kenapa Matsuri tampak kaget dan tidak percaya karena memang pada dasarnya. Kiba menyukai Sara sejak mereka duduk dibangku Junior High dan butuh perjuangan bagi Kiba agar Sara bisa melirik kearahnya. Bersahabat sejak mengenyam pendidikan di taman kanak-kanak karena mereka sama-sama menghabiskan masa kecil di Belanda membuat mereka layaknya saudara yang saling melindungi. Namun saat masuk tahun ajaran kedua Junior High, Sakura dan Kiba kembali Jepang. Setahun kemudian Matsuri, Shino dan Hinata menyusul. Dan sekarang disaat Kiba sudah bisa menahlukkan hati Sara, siapa yang tidak terkejut? Hinata sendiri bahkan terkejut meski tidak semencolok Matsuri.
"A-aku tidak percaya ini.." ungkap Matsuri serta merta membuat sepasang amethyst dan zamrud menatapnya penuh tanya. "Aku pikir Kiba akan gagal mendapatkan hati Sara.." lanjutnya yang membuat Sakura menautkan alis kesal.
"Hihihi, bukankah ini sesuatu yang perlu dirayakan? Kiba mendapatkan cintanya sejak Junior High.. Aku turut senang mendengar mereka akan menikah.." Iris coklat Matsuri menatap Hinata intens sebelum memaparkan apa yang dipikirkannya. "Tapi aku tetap belum percaya kalau Kiba akhirnya mendapatkan Sara.. Jika ingat dulu waktu Kiba ditolak Sara.." menggantung kalimatnya.
"Bahkan yang kuingat, Kiba ditolak Sara lebih dari sekali.." sambung Matsuri, semakin menambah urat kekesalan tercetak di dahi lebar Sakura. "Kau pikir sepupuku seburuk itu huh?!"
"Aku hanya bicara apa adanya, Sakura.."
"Apa yang tidak dimiliki sepupuku? Kiba tampan, dia juga baik dan tentu saja mapan.. Apa ada alasan untuk dirinya di tolak lagi?" sungut Sakura ditanggapi kalem oleh Matsuri. "Aku hanya menyampaikan apa yang kupikirkan.."
"Sudah teman-teman.. Seharusnya kita turut senang atas kabar gembira ini bukan? Jadi jangan seperti ini.." lerai Hinata mencoba menengahi perselisihan kedua sahabatnya. "haaah, lebih dari itu, seperti halnya Hinata.. Aku juga sangat senang mendengar Kiba berhasil.. Dan maniak anjing itu berhutang cerita padaku!" Ujar Matsuri yang lantas mengundang kekehan terdengar dari celah bibir Hinata.
"Ah, apa Shino juga akan datang?" tanya Hinata penasaran, tidak dipungkiri bahwa dirinya amat merindukan pria nyentrik penyuka serangga tersebut. "Dia bilang akan datang, kau pasti merindukannya ya Hinata.." sahut Matsuri dengan senyum simpul yang tercetak di bibirnya. Sakura sendiri hanya mengangguk sambil menyeruput Ice lychee tea milik Hinata karena dirinya yang belum sempat memesan minuman, Matsuri ataupun Sakura tahu betul bahwa Hinata pasti merindukan pecinta serangga itu karena memang Shino layaknya kakak bagi Hinata. Merasa tenggorokannya mengering, Matsuri memilih untuk meminum Cappucino float miliknya karena haus yang tiba-tiba menyerang kerongkongannya. "Shino pasti datang.. Dia dan Kiba layaknya saudara kandung yang beda Ayah dan Ibu, bukan? Hahaha" gelak tawa Matsuri mengundang kekehan ringan dari Sakura, begitu pun Hinata yang ikut terkikik geli.
"Ah ya! Hinata, bagaimana dengan si kembar?" Matsuri bertanya sembari menaruh gelas miliknya yang berisi cappucino float setengah isi karena setengahnya lagi sudah tandas diminum. Manik coklatnya menatap seksama pada Hinata yang balas menatapnya dengun senyum simpul. "Umn, mereka baik-baik saja.." jawab Hinata tetap tersenyum.
"Mereka itu sangat menggemaskan.. Lihat pipi mereka yang chubby mirip pipi Hinata.. Ugh, aku ingin punya anak yang lucu seperti Bolt dan Sota.." rengek Sakura yang ditanggapi Matsuri dengan memutar mata bosan. "Kau pasti akan memiliki anak yang lucu, Sakura.." sahut Hinata ringan dan kembali terkikik.
"Yosh! Dan kuharap anakku kelak mirip dengan Ayahnya!"
"Kau ingin anakmu memiliki wajah sedatar triplek?"
"Apa maksudmu Matsuri? Kau tahu pasti kalau Sasuke itu tampan!"
"Yeah, sangking tampannya sampai membuatku ingin melemparkan popok bayi pada wajah minim ekspresinya.."
"Setidaknya Sasuke tidak seperti Shino yang merasa bahwa serangga adalah segalanya.."
Matsuri berjengit dengan mata yang melebar sempurna. "Kau menyebalkan!" merasa tak terima, Sakura balas mendengus. "Kau yang menyebalkan, Matsuri!"
Tanpa mengindahkan pertengkaran dua sahabatnya yang memang sering terjadi. Hinata memilih menyibukkan diri menatap Cinnamons rolls yang kini tersaji di depannya. Membiarkan perseteruan antara Sakura dan Matsuri berakhir dengan sendirinya.
.
.
**Asyah**
.
.
Naruto menatap dalam kedua bocah yang duduk berhadapan dengannya. Iris safirnya bergulir menatap secara bergantian bocah kembar di depannya, sesekali bibir tipisnya akan menyunggingkan seulas senyum saat melihat keduanya memakan eskrim begitu lahapnya sampai belepotan. Dan disaat itu pula perannya sebagai orang tua ia curahkan. "Hei, pelan-pelan saja makannya.." ujar Naruto seraya mengambil tisu dan menghapus noda eskrim di mulut mungil Bolt. Ia terkekeh menatap ekspresi wajah Bolt yang begitu menggemaskan. Lihat? Keduanya begitu mirip dengannya dari segi manapun. "Sota ingin tambah?" tanya Naruto sambil menatap Sota yang kini balas menatapnya.
"Umn, perutku sudah penuh dengan eskrim!"
"Hahaha, jadi sudah tidak kuat makan lagi?"
"Kalau kebanyakan makan eskrim, Ibu bisa curiga dan memarahi kami.."
Naruto menggulirkan irisnya menatap Bolt penuh tanya. "Apa kalian dilarang makan eskrim?" ungkap Naruto yang mendapat anggukan kecil dari Bolt dan Sota. "Ah, kalau begitu Paman sudah salah membelikan kalian eskrim.." sesal Naruto. Ia tentu tau jika Hinata sudah melarang suatu hal, itu pasti ada alasannya. Dan Naruto ingat betapa Hinata tidak suka jika larangannya dilanggar. Seperti dulu saat dirinya ketahuan merokok, padahal Hinata sudah melarangnya dengan keras untuk berhenti merokok. Wanita itu langsung merampas rokok yang sedang diapit bibirnya dan mematikan rokok tersebut diatas kulit telapak tangannya. Membuat Naruto melebarkan kedua safirnya lantas menarik kasar pergelangan tangan Hinata dan membawa wanita tersebut kearah wastafel untuk membasuh luka bakar ditelapaknya. Dan sejak kejadian itu, Naruto bersumpah tidak akan pernah menyentuh rokok kembali.
Mengingat itu semua membuat Naruto menyesal, wajah berserinya kini berubah sedih dan itu tidak luput dari penglihatan Bolt dan Sota yang kini menatapnya khawatir.
"Paman kenapa?" tanya Sota khawatir. "Tidak, tidak apa.. Lanjutkan makan kalian.." Naruto menyahut dengan memasang seulas senyum di bibir tipisnya. "Ah ya, kalian ingin main layangan?" pertanyaan Naruto lantas membuat kedua bocah kembar di hadapannya membulatkan mata penuh binar, tapi sepersekian detik binar itu tergantikan oleh tatapan lesu yang tentu saja membuat Naruto penasaran dengan menautkan kedua alisnya.
"Kenapa, hm?"
"Kami ingin main layangan.." Sahut Sota sambil memainkan sendok dimangkuk eskrimnya.
"Apa Ibu melarang kalian bermain layangan?" ucapan Naruto lantas membuat safir Bolt menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dan tatapan itu jelas disadari oleh Naruto yang kini membalas tatapan Bolt seakan bertanya -ada apa?- tapi Bocah raven itu lebih memilih menunduk menghindari tatapan Naruto.
Naruto mengernyit melihat reaksi Bolt yang tiba-tiba kembali seperti awal pertemuan mereka, diam.
"Umn.. Ibu pasti cemas kalau kami belum pulang.." geleng Sota seraya menjawab pertanyaan dari Naruto, mendengar jawaban putra bungsunya membuat Naruto mengalihkan safirnya dan mengangguk paham, tak lupa ia kembali menampilkan cengiran khasnya. "Bagaimana kalau besok?" tawarnya yang mendapat anggukan penuh semangat dari Sota.
"Apa Paman akan menjemput kami lagi besok?"
"Tentu saja!" Naruto berseru yakin. Seakan memang dirinya tidak perlu meng khawatirkan apa yang akan terjadi besok.
"YATTA! Nii-chan, besok kita main layangan hahaha.." Sota berujar gembira sambil mengguncang bahu kakaknya yang hanya tersenyum dalam diam. Ada yang aneh, ya, ada yang aneh pada putra sulungnya dan Naruto jelas merasakannya.
"Ehm, kalau sudah selesai kita pulang?" tawar Naruto yang ditanggapi anggukan penuh semangat dari bocah berambut indigo.
'Kenapa seperti ada jarak diantara diriku dan Bolt?' batin Naruto bertanya saat melihat keterdiaman putra sulungnya.
.
.
**Asyah**
.
.
Disnilah Naruto kini berada. Menatap Bolt dan Sota yang tengah bergandengan tangan memasuki gerbang rumah mereka dari balik jendela mobil Lexus hitam miliknya yang terparkir rapih ditepi jalan tidak jauh dari rumah tersebut.
Memilih untuk tidak mengantar putra kembarnya sampai gerbang karena merasa belum saatnya ia muncul dihadapan Hinata setelah semua yang terjadi. Tentu saja Naruto tidak lupa meminta agar kedua anaknya sedikit berbohong dengan mengatakan bahwa yang menjemput keduanya adalah si pantat ayam, Sasuke, karena itu perjanjian yang dirinya buat dengan sahabat emonya tersdebut jika tetap ingin bisa menemui kedua putranya tanpa ada gangguan dari Neji.
Bicara tentang Neji. Naruto jelas masih mengingat tatapan pria bersurai panjang itu terhadap dirinya saat hari pernikahannya dengan Shion. Tatapan dingin dan penuh kebencian itu seperti tengah memberi menghujam dirinya sampai ke dasar.
"Hah, aku tidak peduli meski Neji akan membunuhku sekalipun.. Yang terpenting bagiku adalah bisa memeluk ketiga malaikatku." gumam Naruto sambil memejamkan mata. Tidak menyadari sepasang onyks kelam yang menatap datar mobilnya dari jendela lantai dua rumah Hinata.
-Drrt, Drrt, Drrt-
Safirnya terbuka tatkala pendengarannya menangkap bunyi dari ponsel yang berada di saku celananya. Setengah malas menggapai ponsel miliknya yang berada disaku celana, Naruto mengumpat terhadap siapapun yang mengganggu dirinya disaat sedang membayangkan ketiga orang tercintanya.
"Ada apa?" angkat Naruto berujar ketus pada orang yang menelepon diseberang.
"Sopanlah sedikit, bocah."
tak mengindahkan balasan yang disertai dengusan dari seberang telepon. Naruto kembali berujar tak sabaran. "Kau menggangguku."
"Ya ya, terserah.. Aku hanya ingin tahu, bagaimana hari ini? Apa sukses?"
Naruto tentu tahu apa yang dimaksud dari seseorang diseberang telepon. Menyunggingkan seulas senyum yang tentu saja takkan bisa dilihat si penelepon, Naruto balas bertanya seraya terkekeh. "Menurutmu?"
"Keh! Mendengarmu terkekeh, sudah menjawab pertanyaanku."
"Kau harusnya juga melihat si kembar, mereka sangat menggemaskan! Hahaha.." tawa Naruto tentu saja membuat orang yang berbicara dengannya diseberang telepon turut menyunggingkan senyum. Bukan apa-apa, tapi ini adalah kali pertama Naruto bisa tertawa selepas ini setelah sekian tahun pria bersurai kuning itu hanya memperlihatkan wajah angkuh nan dinginnya pada siapapun.
"Yah, karena mereka mirip denganmu.. Aku jadi bisa membayangkan seberapa menggemaskannya mereka karena mereka adalah colningmu.. Dan kuharap kebodohanmu tidak menurun pada si kembar."
Naruto mengerutkan dahinya sebal mendengar balasan dari seberang telepon yang bernada mengejek. "Aku tidak bodoh!" balas Naruto ketus.
"Terserah."
Tersenyum, Naruto mengulas senyum simpul meski mendapat sahutan acuh dari seberang telepon. "Terimakasih.. Karena bantuanmu aku bisa merasakan hidup kembali, Paman Kakashi."
"Kau bercanda? Meskipun kau keponakan yang kurang ajar, kau tetaplah keponakanku dan aku ingin kau mendapatkan kembali kebahagiaanmu."
"Huh! Yang benar saja." meski mendengus, nyatanya senyum Naruto tak luntur dari celah bibir tipisnya.
"Paman, bisakah aku meminta bantuanmu lagi?" memusatkan safirnya pada pagar rumah berwarna coklat yang dimasuki putra kembarnya. Naruto bertanya dengan nada serius yang tentu saja disadari oleh Kakashi.
"Katakan."
"Bisakah Paman mencari tahu tentang mata kiri Sota?"
"Kenapa kau begitu ingin tahu, Naruto?"
"Aku sempat bertanya pada Sota tentang mata kirinya, tapi yang kudapat malah gelengan pelan dari Sota dan Bolt yang bungkam.. Aku seperti merasa ada yang mereka tutupi dan aku harus tahu apa itu."
"Kenapa tidak bertanya pada Sasuke?"
Naruto berdecih pelan saat mendengar perkataan Pamannya. Sasuke? Dirinya malas jika harus berdebat dulu dengan pantat ayam itu, lebih baik mencari tahu lebih dulu, baru bertanya pada si pantat ayam. "Mau membantu atau tidak?" putus Naruto seraya menggeram, mengundang kekehan Kakashi terdengar dari seberang telepon.
"Beri aku waktu beberapa jam dan kau akan mendapatkan keingintahuanmu."
"Hn, aku percaya padamu Paman!"
"Ya ya, baiklah kita lanjutkan obrolan ini lagi nanti.. Aku harus pergi, jaa."
"Hn." mematikan ponsel miliknya dan menaruhnya kembali ketempat semula. Naruto menumpukan keningnya pada dasbor mobil dengan mata terpejam.
'Dekat, semakin dekat.. Tunggu aku, Hinata..' batin Naruto berujar. Mengetahui betapa dekatnya dirinya dengan ketiga malaikatnya tak ayal membuat hati Naruto terasa sedikit sesak. Bukan, bukan sesak yang menyiksa. Namun sensasi sesak yang ia rasa entah kenapa begitu menyenangkan.
.
.
****TO BE CONTINUED****
.
.
Ola~ saya kembali.. ヽ(*≧ω≦)ノ *dibacok*
Pertama saya minta maaf karena sudah membuat MUNO terlantar sampai lumutan.. *Ojigi*
masih adakah yg ingat MUNO..? *digampar karna banyak cingcong*
saya sangat minta maaf atas keterlambatan update ini dan mungkin chapter ini mengecewakan atau gaje atau malah tambah pendek..?
Saya akui otak saya eror, dan keadaan saya jg kurang fit..
*ditabok krna bnyak alasan*
Saya jg minta maaf krna tidak bisa menjawab bbrapa pertanyaan yg ditujukan pada saya mengenai fanfic saya ini..
Dan saya harap, jawaban dari pertanyaan itu bisa ditemukan saat kalian membaca chap ini atau chap2 selanjutnya yg akan menyusul..
Saya tidak bisa janji up kilat, tpi saya usahakan next chap saya update di tanggal tua bulan ini..
*dibacok*
sekian cuap2 dari saya, akhir kata..
Salam dua jari.. '-')v
