My Precious Woman

.

.

.

A Remake from Kyumin's Fanfiction "You're My Precious" by Author Another Girl in Another Place

Cast :

Kim Jongin

Do Kyungsoo

Warning : a Genderswitch FF, Mature Content

.

.

.

"Yeoboseyo?"

Kyungsoo membuka suaranya menyapa Sehun diseberang sana. Ia berusaha keras menahan getar dalam suaranya, amarahnya pada Jongin yang membuat suaranya terdengar aneh.

"Astaga, Do Kyungsoo! Akhirnya aku bisa menghubungimu juga. Kenapa kau susah sekali kuhubungi, hah? Kemana saja kau?!"

Sehun langsung mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Helaan nafas lega pria itu terdengar, kemudian suara Sehun berganti menjadi suara gadis.

"Kyungsoo? Soo-ya, kau baik-baik saja 'kan? Tidak ada masalah 'kan?"

Kyungsoo membulatkan matanya mendengar suara itu. Itu suara Luhan. Ia melihat Jongin sedang mengernyit tajam. Matanya menyipit memandang Kyungsoo penuh selidik. Kyungsoo mengalihkan pandangannya dari Jongin, ia kembali memfokuskan perhatiannya pada Luhan.

"Nng, Lu… Kau tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja kok. Aku…"

Ucapan Kyungsoo berhenti saat Jongin merengkuh tubuhnya dan merebut ponselnya. Kyungsoo melotot kesal pada Jongin, sementara pria itu dengan cuek duduk dan memangku tubuh Kyungsoo.

"Teruskan obrolanmu."

Jongin berbisik pelan di telinga Kyungsoo. Gadis itu menjauhkan wajahnya risih mendengar suara Jongin di telinganya.

"…Soo? Kyungsoo? Kau masih disana?"

Suara Luhan dan Sehun terdengar bersahutan.

"Ah… I-iya…"

"Apa Jongin hyung mengganggumu, Soo?"

Kyungsoo menegang mendengar pertanyaan Sehun. Kenapa Sehun menanyakan hal itu sekarang?

'Dia tidak sekedar menggangguku, Sehunna. Andai saja kau tahu yang sebenarnya.'

"Ngg, itu… Tidak…"

"Apa Soo?"

"T-tidak… Tidak ada apa-apa, Hun…"

Sehun terdiam disana. Sementara Jongin menyeringai mendengar jawaban Kyungsoo.

"Gadis pintar. Aku belum ingin adikku itu tahu jika kita memiliki affair."

Jongin kembali berbisik. Membuat Kyungsoo menahan geram dalam hati.

"Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Kau… seharusnya sudah tidur 'kan?"

Suara Sehun terdengar lagi.

"Sehunna, aku baru saja pulang. Aku baru saja akan bersiap tidur."

'Tetapi kakakmu yang iblis ini terus saja menggangguku.' Tambah Kyungsoo dalam hati.

Ia menggeliat risih saat tangan Jongin mulai merayapi perutnya. Mengusapnya, sesekali menepuk-nepuknya lembut. Kyungsoo berusaha menarik tangan Jongin tetapi nihil.

"Ah begitu, baiklah. Kau istirahatlah, maaf mengganggumu Soo. Tetapi aku dan Luhan benar-benar cemas karena kami tidak tahu kabamu. Ya sudahlah, kau tidur sekarang. Nanti aku dan Luhan akan meneleponmu lagi."

"Soo, jika terjadi sesuatu lekas beritahu aku ya?"

Suara cemas Luhan benar-benar membuat Kyungsoo terharu.

"Ya… tentu saja."

"Istirahatlah, selamat malam Kyungsoo-ya. Jaljayo."

"Ne, jalja."

"Saranghae, Soo."

Koor terakhir dari Luhan dan Sehun, kemudian sambungan telepon terputus. Sebenarnya Kyungsoo ingin sekali meneriakkan 'Hyung-mu itu disini, Sehun! Mendengarkan semua pembicaraan kita!' . Tetapi ia tidak mau sahabatnya itu tidak tenang di London sana. Lagipula bukankah ia memang berniat menyembunyikan semuanya?

"Siapa itu Luhan?"

Suara pelan Jongin membuat Kyungsoo berjengit dari lamunannya. Gadis itu menyentak tangan Jongin dan berusaha kabur dari rengkuhan pria itu.

Kyungsoo diam tak menjawab Jongin, ia beringsut ke kasur lantainya dan bersiap memejamkan matanya. Ia sudah malas meladeni Jongin, yang diinginkannya sekarang hanyalah tidur. Walaupun ia tidak bisa tenang sepenuhnya karena iblis itu masih berada di kamarnya.

"Do Kyungsoo…?"

Kyungsoo memejamkan matanya rapat, ia sudah berlindung dibalik selimut tipisnya. Ia tahu kalau sekarang Jongin melangkah mendekatinya. Persetan, ia benar-benar lelah sekarang.

Jongin memang mendekatinya. Lelaki itu duduk diam mengamati Kyungsoo yang –awalnya– mengacuhkannya. Tetapi lama kelamaan gadis itu terlelap juga.

Tak ada yang dilakukan Jongin. Ia hanya memandangi Kyungsoo yang tertidur. Lama ia hanya diam seperti batu di posisinya, sebelum akhirnya melirik arloji di tangan kirinya. Jongin menghela nafas, lantas mencium kening Kyungsoo sesaat sebelum akhirnya bangkit dan berjalan keluar dari kamar sewa Kyungsoo.

"Kau berhutang penjelasan padaku, Do Kyungsoo."

.

.

.

Ini pagi hari setelah Sehun meneleponnya. Kyungsoo baru saja selesai membereskan kamarnya, mencuci sprei dan sarung bantal, pakaian-pakaian 'panggung'-nya, dan sekarang ia hendak menyantap sarapannya. Secangkir sereal coklat.

Kyungsoo terus menatap ponselnya, berharap Sehun atau Luhan meneleponnya lagi. Sekarang tidak ada Jongin si iblis itu, jadi Kyungsoo merasa ia bisa leluasa berbicara pada sahabatnya itu. Dan Kyungsoo berharap di pagi weekend yang cerah ini ia bisa menikmatinya dengan tenang tanpa gangguan Jongin.

Ya Tuhan, enyahlah pria itu dari hidupnya!

Tetapi nyatanya ponselnya tidak berbunyi seperti yang diharapkannya. Justru pintu depannya yang berbunyi. Suara ketukan yang tenang terdengar, seolah memanggil Kyungsoo untuk segera membukanya.

'Jangan-jangan itu Jongin… Mau apa dia pagi-pagi datang kesini?'

Kyungsoo membatin was-was. Jongin benar, hidupnya memang tidak pernah bisa tenang. Ia jadi selalu berpikiran yang tidak-tidak dan paranoid.

Perlahan Kyungsoo menghampiri pintu dan membukanya. Ia sudah bersiap akan menutup lagi pintunya jika ternyata Jongin yang bertamu. Tetapi yang dilihatnya adalah Park ahjumma, tetangga sebelah kamarnya.

"Ah, ahjumma… Kupikir siapa…"

Kyungsoo tersenyum lega dan mempersilahkan tetangganya masuk.

"Tidak usah Kyungsoo-ya. Aku hanya ingin memberi ini. Aku ada sedikit rezeki dan yah, aku ingin membaginya denganmu."

Park ahjumma menyodorkan semangkuk kecil dubu jorim pada Kyungsoo. Gadis itu tampak berbinar-binar dan tersenyum berterima kasih pada Park ahjumma.

"Makanlah dengan baik, Kyungsoo-ya. Kau tampak kurus."

Kyungsoo hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih karena Park ahjumma begitu perhatian padanya.

Park ahjumma berlalu dengan alasan anak-anaknya yang belum dibangunkannya, meninggalkan Kyungsoo berdiri di ambang pintu. Gadis mungil itu lalu masuk dan menutup pintu. Dubu jorim pemberian Park ahjumma tampak menggugah selera makannya. Kyungsoo mengambil sumpit dan melahap sepotong lauk kecil itu. Makanan itu pedas, jadi Kyungsoo segera meneguk sisa sereal coklatnya.

Bunyi pintu yang kembali diketuk membuatnya menoleh lagi ke arah pintu. Kyungsoo kali ini tanpa ragu membukanya. Mungkin saja itu Park ahjumma yang datang lagi–

"Mmmh!"

–atau tamu yang sama sekali tidak diharapkan kedatangannya?

BLAM!

Pintu yang tadi terbuka kini sudah terbanting menutup. Menyisakan Kyungsoo yang sedang melotot tajam dalam bekapan seorang pria.

"Pagi, Kyungsoo-ya."

Pria itu, Jongin. Ia tersenyum menatap Kyungsoo yang malah memandangnya dengan berang. Kedua tangan Kyungsoo berusaha menarik tangan Jongin yang membekap mulutnya.

"Aku tak mau ambil resiko dengan jeritanmu."

Jongin menjawab pertanyaan Kyungsoo yang tak terucap. Tangan Jongin menarik pinggang Kyungsoo mendekat, hingga keduanya menempel tanpa jarak. Wangi maskulin menguar dari tubuh Jongin, Kyungsoo bisa menciumnya dengan jelas. Sementara ia belum mandi sama sekali, bangun tidur tadi ia langsung membereskan rumahnya.

Jongin melepas bekapan tangannya pada mulut Kyungsoo, kemudian menunduk dan bibirnya mencari bibir gadis itu. Entah Jongin yang terlalu cepat atau Kyungsoo yang terlambat menolak, yang jelas kini kedua bibir itu sudah menyatu.

Jongin menekan pelan bibirnya diatas bibir Kyungsoo. Jelas sekali gadis mungil nan keras kepala itu meronta, menolak sentuhannya. Kedua tangannya mendorong-dorong tubuh Jongin agar menjauh, tetapi itu bahkan tak ada pengaruhnya sama sekali. Mencoba lepas dari pelukan Kim Jongin itu mustahil, Do Kyungsoo, percayalah.

Satu tangan Jongin merayap di tengkuk Kyungsoo, menekannya pelan agar bibir mungil sewarna blossom yang sangat lembut itu semakin menyatu dengan bibirnya. Dan satu tangannya yang lain menahan tangan Kyungsoo. Digenggamnya erat jemari mungil nan lentik milik Kyungsoo dan meremasnya.

Jongin melepas tautan bibir mereka karena Kyungsoo tak kunjung luluh dengan perlakuan halusnya. Kyungsoo segera mengalihkan wajahnya saat Jongin sudah melepas ciumannya. Dadanya naik turun, terengah mengambil nafas. Jongin masih saja mendekap pinggangnya, meremas jemarinya.

"Mandilah, temani aku hari ini."

Jongin melayangkan satu kecupannya di pipi Kyungsoo. Suaranya terdengar hangat dan membujuk, tetapi tidak di telinga Kyungsoo.

"Tidak mau."

"Kau harus mau."

"Kenapa harus?"

Kyungsoo menatap tajam Jongin. Menatap balik mata kelam Jongin yang biasanya keras dan sedingin es, tetapi entah kenapa hari ini onyx itu hangat seperti matahari diluar sana.

"Karena aku tidak mau yang lain. Aku hanya ingin kau. Aku sudah bilang 'kan? Apa kau tidak mengerti?"

Jongin memajukan wajah dan mencium ujung hidung Kyungsoo. Gadis itu memundurkan wajahnya tidak suka. Matanya menyiratkan bahwa ia akan kembali membantah kata-kata Jongin.

"Sudahlah, Kyungsooya… Hari ini aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, oke?"

Kyungsoo mengerutkan wajahnya kesal mendengar kalimat Jongin, apalagi panggilan untuknya yang keluar dari bibir pria itu. Hanya Sehun dan Luhan yang boleh memanggilnya seperti itu. Memangnya siapa Jongin?

Tahu berbicara dengan Jongin hanya akan sia-sia, Kyungsoo pun menyentakkan tangannya dari genggaman Jongin.

"Lepas."

Jongin menyeringai senang.

"Apa itu artinya kau menyetujui ajakanku?"

Kyungsoo menatap Jongin sengit.

"Hanya dalam mimpimu. Kenapa aku harus menyetujui ajakan iblis sepertimu?"

Kyungsoo mendorong Jongin hingga kini ia benar-benar terlepas dari rengkuhan pria itu. Ia menghampiri cangkir serealnya yang terlupakan, juga semangkuk dubu jorim pemberian Park ahjumma. Tangannya baru saja hendak meraih sumpit ketika tangan Jongin mencekal lengannya kuat. Membuat Kyungsoo memekik pelan dan meringis kesakitan.

"Kau… Aish! Benar-benar kau, Do Kyungsoo! Kubilang tadi mandi, atau aku yang akan memandikanmu?!"

Kyungsoo mendongak menatap Jongin marah.

"Jangan memerintahku! Ini rumahku, bukan mansion mewahmu itu! Kau tak berhak menyuruhku macam-macam!"

Jongin menyentak Kyungsoo mendekat kembali padanya. Satu tangannya menarik helaian panjang rambut Kyungsoo yang menutupi punggungnya, lalu menjambaknya. Memaksa Kyungsoo menengadah menatap wajahnya.

"Oh ya? Aku tak berhak menyuruhmu macam-macam? Kau itu sekarang milikku, Do Kyungsoo. Aku berhak melakukan apa saja padamu."

Suara rendah Jongin terdengar. Kyungsoo menatap Jongin nyalang.

"Kau tidak bisa melakukan ini padaku, aku bukan milikmu! Aku tidak mau menjadi milikmu! Aku–"

"Sejak aku menidurimu beberapa hari yang lalu, maka sejak saat itu kau milikku! Aku tidak peduli kau mau atau tidak!"

Jongin menatap gadis itu tajam, seakan hendak mengulitinya. Ia tidak sadar cengkeramannya pada Kyungsoo semakin menguat. Mereka saling menatap selama beberapa saat, hingga Jongin melihat kedua mata Kyungsoo berkaca-kaca.

"Orang lain tidak akan menyakiti apa yang menjadi miliknya. Tetapi apa yang kau lakukan sekarang?"

Suara Kyungsoo terdengar melemah, tidak sekeras tadi. Jongin yang tadi sempat emosi kini mengerjap. Tahu bahwa cengkeraman tangannya tadi keterlaluan. Ia segera melepas jambakan tangannya di rambut Kyungsoo. Kyungsoo buru-buru menjauh setelah Jongin melepasnya. Mengusap tangannya yang memerah karena cengkeraman kuat Jongin tadi. Ia segera melangkah ke kamar mandi, mengabaikan Jongin yang memandangnya.

.

.

.

"Apa kau akan terus diam seperti itu seharian ini?"

Jongin membuka suaranya. Sedari tadi Kyungsoo hanya diam, tidak menyahut ataupun merespon ucapan Jongin.

"Hei, kurasa tadi aku sudah minta maaf."

Jongin beringsut mendekati Kyungsoo dan mulai memeluk gadis itu. Mereka sedang duduk diatas pasir pantai yang putih. Kyungsoo hanya melengos, masih enggan menatap Jongin.

Jongin mengeratkan rangkulannya dan mengusap pelan kepala Kyungsoo. Sebenarnya sedikit menyesal menyakiti gadis itu tadi pagi, ia akui ia kelepasan. Tetapi sikap keras kepala Kyungsoo benar-benar membuatnya naik darah.

Sekarang ia harus menelan kekecewaan. Karena Jongin berniat mengorek informasi siapa itu 'Luhan' , tetapi sepertinya Kyungsoo tidak akan mau membuka mulutnya barang sedikit pun. Jongin menyerah, lebih baik ia tanyakan pada adiknya nanti.

"Sehun akan pulang besok."

Kyungsoo sebenarnya ingin mengacuhkan Jongin hingga pria itu bosan. Tetapi kalimat Jongin barusan tidak bisa ia abaikan. Wajahnya mulai menampakkan perubahan ekspresi.

"Oleh karena itu, aku ingin menghabiskan waktu seharian denganmu."

Kyungsoo sedikit menoleh ke arah Jongin, dan ternyata pria itu sedang menatapnya. Pandangan mata kelam nan tajam milik Jongin tampak berbeda saat memandangnya sekarang. Kyungsoo mengedipkan matanya satu kali. Kemudian Jongin menarik dagunya, menipiskan jarak wajah mereka.

Ciuman itu lembut, membuat Kyungsoo terbuai. Walau bagaimanapun, ia hanyalah gadis yang tergolong lugu untuk urusan ini dan tidak terbiasa dengan sentuhan intim seperti yang dilakukan Jongin sekarang. Mau tidak mau ia pun menikmatinya.

Bingung sebenarnya, mengapa sikap Jongin begitu rumit? Terkadang sangat kasar, well bukan terkadang tetapi sering. Namun bisa juga selembut kapas seperti sekarang, seakan ia begitu memuja Kyungsoo.

Jongin melepas ciumannya dan mengusap pipi Kyungsoo.

"Ayo pulang."

Jongin menarik Kyungsoo berdiri, kemudian berjalan ke arah mobilnya.

"Ini bukan jalan menuju tempatku! Kau mau kemana?!"

Kyungsoo panik saat Jongin mengarahkan mobilnya menuju arah lain.

"Kim Jongin!"

Jongin hanya diam, ia terus melaju dengan tenang. Tak lama ia sudah berbelok memasuki halaman mansionnya.

"Malam ini tidur disini. Temani aku."

"A-apa?"

Kyungsoo mencengkeram seat belt-nya erat. Jantungnya mulai berdetak tak karuan. Tidur? Apa maksudnya Jongin ingin menyakitinya lagi?

"Hanya tidur, Do Kyungsoo. Kenapa kau tampak ketakutan seperti itu?"

Kyungsoo mulai gemetar. Tangan Jongin maju dan bergerak melepas seat belt yang dikenakan Kyungsoo. Kemudian menarik Kyungsoo keluar.

"Ja-jangan, Kim Jongin… tolong…"

Jongin menghentikan langkahnya menarik Kyungsoo. Ketika menoleh ia melihat kedua mata Kyungsoo sudah basah. Gadis itu menggeleng ketakutan.

Jongin menghela nafas. Ternyata Kyungsoo masih trauma akibat kejadian itu. Ia mendesah pelan.

"Dengar, aku hanya ingin kau tidur disampingku malam ini, bukan melakukan seks. Kau mengerti?"

Kyungsoo hanya diam dan menunduk. Jongin kembali menariknya meniki tangga menuju kamar. Kunci diputar, dan Kyungsoo memperhatikan dengan panik. Jongin bisa melihatnya dengan jelas dari mata Kyungsoo.

Ia mengacuhkannya, lalu menghampiri lemari pakaian dan mengambil salah satu piyama miliknya.

"Ganti bajumu, setelah itu kita tidur. Kau terlihat lelah."

Jongin mendorong Kyungsoo ke kamar mandi. Ia sendiri berganti baju di kamarnya, dan menunggu Kyungsoo keluar. Lima menit yang menurut Jongin sangat lama, dan akhirnya Kyungsoo keluar. Jongin melangkah mendekatinya. Menggulung ujung lengan piyamanya yang kebesaran di tangan Kyungsoo.

"Ayo tidur."

Jongin menggiring Kyungsoo ke ranjang. Hatinya tak menentu melihat Kyungsoo yang menatap ranjangnya seakan benda itu akan menggigitnya. Ia merebahkan tubuhnya dan menarik Kyungsoo.

"Jangan sentuh!"

Kyungsoo sedikit histeris. Ia hendak menjauhkan lagi tubuhnya jika saja Jongin tidak buru-buru menahannya.

"Aku tidak akan menyakitimu lagi, Kyungsoo-ya. Ssst, tenanglah…"

Jongin mendekap erat tubuh itu, memastikan Kyungsoo tidak mencoba kabur lagi. Kyungsoo yang ia tahu tegar dan keras, ternyata bisa serapuh ini. Dan penyebabnya adalah dirinya.

"Tidurlah. Aku tidak akan berbuat macam-macam."

Jongin mengelus punggung Kyungsoo pelan. Kedua tangannya melingkar di tubuh Kyungsoo tanpa kesulitan. Tubuh gadis ini terasa begitu kecil dalam pelukannya, sekaligus ringkih.

"Maafkan aku…"

Jongin berbisik menatap Kyungsoo yang sudah terlelap. Telunjuknya ia gunakan untuk mengusap sudut mata Kyungsoo yang sedikit basah. Jongin memajukan wajahnya dan mencium lama dahi mulus Kyungsoo.

Besok adiknya pulang, dan Jongin tidak tahu harus mengatakan apa. Entahlah, perasaannya sangat kacau saat ini. Sebagian besar hatinya saat ini ingin memiliki Kyungsoo, dan tak ada alasan yang jelas yang membantunya saat ini. Tetapi secuil hatinya juga bimbang.

"Mungkin… aku akan menjauhimu dulu untuk sementara. Kau berhasil, Do Kyungsoo. Berhasil membuatku kacau seperti ini. Lalu apa yang harus kulakukan?"

Jongin menatap wajah Kyungsoo sekali lagi, sebelum menyusul gadis itu untuk terlelap.

.

.

.

ToBeContine

Annyeong~~~ aku mau ngucapin trima kasih banyak buat kalian yang uda baca, review dan favorit cerita ini *bow

Maaf nggak pernah bales komen kalian tapi semua komen pasti aku baca dan jadi penyemangat buat post crita ini^^

Review?