Tanpa alasan Jeon Jungkook tersenyum dan bersemu. Rasanya.. lucu saja. Tiba-tiba saja ada Taehyung dalam kehidupannya.

Namun tepatnya semua terasa salah. Dari awal mereka bertemu memang karena sebuah kesalahan dan yang mereka lakukan juga adalah kesalahan.

Tapi untuk kesalahan ini, Jungkook sedang tak ingin memikirkan karmanya.

Oh man, demi Tuhan. Kim Taehyung itu sangat sexy (apalagi di ranjang)

Jeon Jungkook jadi membayangkan jika mereka bercinta dan Kim Taehyung dengan sebatang rokok di bibir lalu dengan smirk kecil kesukaan Jungkook. Jungkook berani bertaruh, ia akan menyerahkan seluruh hidupnya saat itu juga.

"Kau menjadi gila. Dan aku tak ingin menjelaskan apapun pada Yugyeom karena saat ini ia tengah melangkah kemari."

"Sumpah?" Jungkook langsung menegakkan badan dan benar saja Kim Yugyeom tengah berjalan tampan ke arahnya. Bambam yang sedari tadi sudah muak dengan kelakuan Jungkook hanya mengangkat bahu acuh lalu menyendok makanannya lagi.

"Hai babe?"

"Hai Gyeomie." Balas Jungkook dengan senyum lebar dan memejamkan mata saat Yugyeom sekilas mengecup kepalanya. "Gyeomie darimana saja?"

"Tidak dari mana-mana. Kau, kenapa dari tadi senyum. Aku dari jauh saja bisa melihat raut bahagiamu. Ada yang special sayang?"

Taehyung

"T-tidak, tidak ad-"

"Jangan bohong. Aku akan senang mendengar kau bahagia. Kau tersenyum sangat cantik. Atau, kau memikirkanku?"

"I-i-"

"Apalagi yang ada dalam pikiran anak ini selain berlibur? Besok angkatan jurusan kami akan melakukan penelitian ke Gwangju, sebenarnya hanya pada mata kuliah Prof. Donghae, tapi hanya 30% penelitian , aku berani bertaruh, selebihnya, kita akan bersenang-senang. Iya kan Kook?" Jungkook agak terkaget dengan penjelasan mendadak Bambam namun selanjutnya ia mengangguk heboh.

"Benar. Jalan-jalan Gyeomie. Aku akan meninggalkan kota ini dan dirimu untuk sementara "

"Jangan manyun seperti itu. Kau sangat menggemaskan." Yugyeom mencubit gemas bibir Jungkook dan membuat Bambam memutar bola matanya jengah, ,mulai lagi "Pantas beberapa hari ini kau sulit dihubungi. Mempersiapkan liburmu eoh? Bagaimana sudah semuanya?" tangannya beralih mengelus lembut pipi Jungkook.

Sesaat kemudian rasanya Jungkook mengingat sesuatu.

"Sial, aku bahkan belum meminta izin dan mempersiapkan apapun pada Seokjin Hyung." Panik Jungkook sambil menepuk jidatnya.

Yugyeom terkekeh gemas, karena bola mata Jungkook yang melotot kaget seperti itu sangatlah menggemaskan. Jika saja mereka tidak berada di area kampus, rasanya Yugyeom ingin melahap Jungkook saat ini juga.

"Katakan kekuranganmu padaku, akan kubantu."

"Sebentar aku harus menelepon Seokjin Hyung."

Dengan tergesa Jungkook menekan nomor Seokjin dan tak butuh waktu lama bagi pria itu untuk segera mengangkat teleponnya.

"Seooookkkjiiiin Hyuuuung."

Bambam berani bertaruh, Seokjin Hyung pasti tengah menjauhkan ponsel dari telinga. Jika itu Bambam, sudah Bambam matikan panggilan Jungkook. Jungkook terkadang memang tidak bisa terkontrol.

"Kau makan apa Bam?" Tanya Yugyeom sembari melongok makanan Bambam.

"Kerikil. Pakai nanya bisa lihat sendiri kan?" Ketusnya.

"Hyung aku harus menemuimu saat ini juga. Mendesak."

"Bisa bagi sedikit Bam? Aku lapar."

"Bukan-bukan. Aku tak apa sungguh. Hanya saja aku harus pergi untuk membeli kebutuhan dan aku tak punya uang-"

"Aku lebih lapar pada uangmu, boleh minta sedikit?" Bambam menaikan alisnya menggoda.

"Siap aku akan kesana bersama Bambam."

"Lupakan." Jengah Yugyeom.

Setelah menyelesaikan panggilannya, Jungkook menatap Yugyeom dan tersenyum lebar. "Aku harus pergi Gyeomie, menemui Hyung. Aku akan menghubungimu nanti. Aku mencintaimu." Jungkook mencium kilat pipi Yugyeom lalu menyeret kasar Bambam yang tengah berusaha memasukkan makanan ke dalam mulutnya dan berakhir harus menjatuhkan sendoknya.

"Jangan lelet Bam."

.

.

.

.

"Kau tunggu disini saja." Bambam hanya mengangguk dan memilih duduk. Sementara Jungkook berjalan memasuki salah satu café dimana Seokjin berada. Pria itu berkata tengah makan siang di café bersama temannya. Dan Jungkook tak ingin membawa Bambam masuk karena ia tak ingin Bambam melihat bagaimana Seokjin nanti akan memperlakukannya seperti anak kecil yang harus di beri petuah jika akan berdarmawisata.

Bibirnya tertarik saat ia melihat wajah Seokjin. "Hyung," ia lupa jika umurnya sudah menginjak kepala dua, karena saat ini ia tengah berlari kecil seperti anak kecil dengan tas gendong tersampir di bahu dan rambut hitamnya yang bergoyang. "Hyung tebak aku akan kem-"

Ucapannya terhenti saat melihat siapa pria yang tengah bersama Seokjin yang kini menatapnya dengan diam "Yoongi Hyung?" Lirih Jungkook. Dengan cepat ia berdehem menetralkan suara dan ekspresinya dan kembali beralih fokus pada Seokjin.

"H-hyung." Sial. Jangan seperti ini Jungkook "Hyung ! Kau tahu, aku lupa memberitahumu, besok aku akan ke Gwanju ! Yeayyy ! Bersama teman jurusanku dan Bambam jelas ikut. Aku lupa belum membawa bekal, kau tahu kan aku akan pusing jika menaiki bis tanpa makan? Dan aku tak memiliki uang saku. Oh iya lupa ! Kau mengizinkanku kan Hyung? Ayolah tak jauhhhh. Hanya sehari, masa tidak mengizinkanku. Aku sudah memaafkanmu karena kau tidak membertahuku lebih awal tentang kau yang di selamatkan Taehyung. Aku janji tak akan berkeli-"

Seokjin terkekeh lalu mengusap lembut pipi Jungkook "Cerewet. Hyung akan memberimu uang saku. Dan sebaiknya kau tak terlalu lama berbelanja, segera pulang dan beristirahat untuk besok. Hyung akan pulang lebih awal dan membantumu." Semua interaksi Seokjin dan Jungkook tak pernah lepas dari pandangan Yoongi. Bahkan mungkin pria itu sama sekali tak berkedip.

Ia begitu takjub mendengar bagaimana Jungkook berbicara begitu panjang dan menggemaskan seperti itu.

"Dan.. Kau sebaiknya juga meminta izin pada Yoongi." Untuk sesaat rasanya waktu terhenti. Sedari tadi Jungkook berkata panjang lebar hanya untuk membuang rasa gugupnya. Dan sekarang Seokjin justru menjebloskannya ke dalam jurang. Dengan gerakan perlahan ia menatap Yoongi yang juga menatapnya dengan sendu.

"Tidak Hyung. Untuk apa? Aku bahkan diabaikannya. Seharusnya kau tak lupa itu Hyung. Aku- bukan lagi adiknya." Jungkook mencoba kembali bernafas "Aku pergi Hyung ! Bambam di luar!" tanpa menunggu jawaban Seokjin, Jungkook bergegas keluar.

Karena sejujurnya ia ingin meraung kencang, ia tak berniat berkata seperti itu demi Tuhan.

"K-kook, kau baik-baik saja?" Namun pertahanannya hancur.

Jungkook terlalu menyayangi Yoongi

.

"Yoon?"

Sekuat tenaga Yoongi tersenyum. Sulit rasanya hanya untuk mengambil nafas dan menatap Seokjin "Aku tak apa." Namun suaranya berbohong. Jelas ia bergetar, bibirnya bergetar. "Setimpal dengan apa yang aku lakukan padanya. Tapi-"

Seokjin hanya terdiam menatap sahabatnya yang begitu jelas terlihat rapuh. Hatinya merasa nyeri saat mendengar perkataan Jungkook dan melihat bagiamana Min Yoongi berusaha tersenyum "Dia tetap adikku Seokjin-ah. Selamanya Jeon Jungkook akan jadi adikku. Jadi, biarkan aku juga memberinya uang saku?"

.

.

.

.

.

Min Yoongi tak akan pernah melupakannya.

Senyum manis Jungkook. Tawa hangat Jungkook. Pelukan erat Jungkook. Rengekan manja Jungkook. Lincah lari Jungkook. Lahapnya makan Jungkook. Sulit bangunnya Jungkook. Cerewetnya Jungkook. Dan bisikan manis bahwa Jungkook menyayangi Yoongi.

Ia merindukan itu semua. Setiap hari,

Tiap detiknya ia bernafas untuk Jungkook. Mimpinya hanya berisi tentang Jungkook. Semua untuk Jungkook.

Namun Min Yoongi begitu bodoh dan naïf.

Ia hanya tak ingin Jungkook kembali terluka (karenanya), ia tak mau Jungkook kembali menderita (karenanya), Yoongi tak mau, melakukan kesalahan yang sama.

Seharusnya, dulu Min Yoongi tak meminta pergi. Seharusnya Min Yoongi tak meninggalkan Jungkook. Seharusnya..

Namun Min Yoongi adalah orang yang sial, dan kesialan miliknya, tak ingin ia tularkan lagi pada Jungkook, jadi ia menjauh. Demi Jungkook.

Demi Jungkook.

Dan demi dekapan erat dirinya pada foto kecil Jungkook.

"Yoon." Yoongi terus terdiam bahkan saat Hoseok terus mengelus pipinya yang basah. "Jangan seperti ini."

"S-semua salahku." Hoseok menghela nafas, suara Min Yoongi sudah semakin serak.

"Tak ada yang salah Yoon. Jika kau masih menyayangi Jungkook, kembalilah, peluklah dia erat. Jangan memaksakan diri terus menjauh darinya. Dia adikmu Yoon. Dia membutuhkanmu." Hoseok berusaha selembut mungkin. Namun hatinya benar-benar merasa sakit jika harus memandang Yoongi yang seperti ini.

"D-dia tak mau mengakuiku lagi. Tidak. Memang seharusnya seperti itu. Aku yang meningglakannya. Aku yang pergi. Benar. Ini demi kebaikannya, aku sial, aku tak ma-"

Hoseok muak, muak jika terus mendengarkan Min Yoongi seperti orang gila yang terus menyalah diri sendiri. Dengan cepat ia mempertemukan bibirnya dengan bibir milik Min Yoongi. Membungkam omongan tak jelas Min Yoongi dengan ciuman lembutnya yang kini mulai bergelak secara perlahan. Tangannya menangkup lembut pipi kurus dan basah Yoongi. Dengan pelan ia mengulum bibir atas tipis Yoongi, bergerak lalu mengulum bibir bawah Yoongi. Mengecupnya lembut namun menimbulkan suara cipakan dua bibir yang saling beradu.

Ciuman Hoseok itu memabukkan bagi Yoongi. Terlalu lembut. Dan menenangkan.

Namun Yoongi semakin erat memeluk bingkai foto Jungkook dalam dekapannya. Dan terus menerima ciuman manis Hoseok.

"Percayalah padaku. Semua akan baik-baik saja. Kau itu indah Yoongi, kau sama seperti kami. Kau berhak mendapatkan kebahagiaan. Jadi, aku akan berada disini, jangan pernah takut sendiri. Aku mencintaimu."

Hoseok kembali mempertemukan bibir mereka. Ia tak perlu jawaban Min Yoongi. Ia tak perlu tahu apa yang Min Yoongi katakana. Karena sudah pasti, Min Yoongi tak akan menjawab.

.

.

.

Ada satu tempat di hati Yoongi dimana Hoseok tak dapat menjangkaunya.

.

.

.

.

.

.

"Dia baik-baik saja?"

"Kurasa." Seokjin menghela nafas lalu kembali menyenderkan kepalanya pada dada Namjoon. "Tapi setelah Hoseok menjemput, aku bertaruh. Dia akan menangis. Min Yoongi sebenarnya sangat rapuh. Temanmu itu, sangat mencintai Yoongi?"

Namjoon sempat terkekeh lalu mengusap lembut lengan Seokjin "Jangan ditanya lagi. Hoseok cinta mati dengan Yoongi. Entahlah. Katanya mereka terlibat cinta segitiga, Hoseok kemarin bercerita. Jimin masih menunggu Yoongi pulang dari kantor. Anak pemilik perusahaan Yoongi itu memang sangat bersemangat."

"Apa?" Merasa kaget Seokjin menegakkan badannya dan menatap Namjoon tak percaya.

"Apanya yang apa sayang?"

"J-jimin? Jimin siapa?"

"Namanya Park Jimin. Anak dari Tuan Park Group. Suami dari-" Seokjin akhirnya mengerti. Seokjin terlalu bodoh hingga ia melupakan siapa Park Jimin. Ia menatap Namjoon yang kini menatapnya dengan sendu. Tangannya menggenggam lembut tangan Namjoon berusaha menenangkan kekasihnya.

Ia harap Namjoon baik-baik saja.

"Dunia begitu sempit bukan?" Namjoon tertawa hambar, dan Seokjin merasa begitu kasihan, tapi ia tak dapat melakukan sesuatu. Bahkan untuk bercerita tentang apa yang terjadi dan bagaimana ia bertemu Jimin dan Taehyung. Ia tak dapat melakukan apapun.

"Jungkook sudah tidur?" Seokjin mengangguk lalu kembali bersandar pada dada Namjoon. Memainkan kaos Namjoon. "Anak itu sebentar-sebentar semangat. Lalu marah-marah lagi. Ada apa dengannya?"

"Anak muda. Pubertas. Kau tahu." Namjoon tertawa lalu mengelus lembut rambut Seokjin. "Apa semenyenangkan ini memiliki seorang adik Namjoon-ah?"

Untuk sesaat mereka sama-sama terdiam namun Namjoon tak menghentikan elusan lembutnya. "Jika kau bertanya padaku lima tahun yang lalu. Aku akan menjawab IYA. Itu sangat membahagiakan Seokjin-ah. Melihat ia tersenyum, tertawa dan merengek pada kakaknya. Itu adalah hal yang luar biasa." Tanpa Namjoon tahu, Seokjin tengah tersenyum. "Namun nasibku sama saja dengan Yoongi."

"Kalian akan bahagia."

.

.

.

.

.

Jungkook benar-benar lelah. Lelah dan sangat lelah, ia membanting ponselnya setelah beberapa menit mengobrol dengan Yugyeom anak itu menanyakan kabarnya lalu? Berpamitan untuk pergi bersama teman-temannya. Selalu. Tapi memang Jungkook tengah kelelahan karena baru 20 menit ia berpelukan manja dengan ranjangnya.

Perjalanannya ke Gwangju sangat menyenangkan. Ia makan banyak. Membeli banyak (ia kaget saat Seokjin kembali memberinya uang saku) keberuntungan baginya.

Tapi yang membuatnya bertambah lelah adalah Kim Taehyung.

Lelaki itu benar-benar. Jadi hanya menginginkan tubuhnya? Sial ! Semenjak pulang dari rumah Taehyung, Taehyung sama sekali tak menghubunginya ! ulang. Tak menghubunginya !

Bukannya Jungkook berharap, tapi yaa…

Helloooww mereka kan partner dalam *uhuk* bahkan mereka sudah berteman sekarang. Tak ada salahnya kan mengabari? Bambam juga sering mengirim pesan padanya. Tapi serindu-rindunya Jungkook. Ia tak akan mengirim pesan terlebih dahulu pada Taehyung.

Detik selanjutnya, ponselnya berbunyi.

[ Taehyung

Aku merindukanmu Bunny. Mau bertemu? Aku akan menjemputmu ]

.

Satu pesan dari Taehyung mampu membuatnya tersenyum.

.

.

.

Jungkook merasa aneh.

Taehyung lebih diam dari biasanya. Pria itu datang menjemputnya dengan motor besar. Bahkan tak protes saat Jungkook tak memeluknya saat berkendara, padahal, Jungkook fikir, Taehyung akan menarik tangannya untuk melingkari perut Taehyung seperti biasanya. Nyatanya? Tidak. Jadi Jungkook berpegangan pada jaket Taehyung.

Pria itu mengajaknya membeli sesuatu untuk di makan di apartemen. Taehyung tak banyak bicara, hanya tersenyum diam. Jungkook merasa aneh dan ketakutan. Tentu saja, ini bukan Taehyung yang biasanya. Apa Taehyung merasa bosan padanya? Apa Taehyung akan mencampakannya setelah apa yang mereka perbuat?

"Khm?"

"Kenapa sayang?" tapi Taehyung masih memanggilnya sayang, dan sukses membuat Jungkook memerah malu.

"K-kau aneh."

"Aneh kenapa?" Taehyung tak mengalihkan pandangannya dari Jungkook namun tangannya sibuk mengambil stroberi dan memakannya dengan cepat.

"T-tidak ada! Pikir saja sendiri!" Masa iya Jungkook harus berbicara. Biasanya kau meledekiku, biasanya kau mendekatiku, biasanya kau menggenggam tang- isss apa-apaan.

Taehyung terkekeh. Jaraknya tak sedekat biasanya dengan Jungkook.

"Aku begitu merindukanmu kau tahu? Aku ingin memelukmu. Menggenggam tanganmu. Menciummu. Tapi aku kotor." Ucapnya dengan pelan.

"Kalau begitu mandi !"

Polos.

Jeon Jungkook itu begitu murni.

Taehyung tak ingin melukai Jungkook. Tapi Jungkook terlalu berharga baginya.

Taehyung ingin menggenggam tangan Jungkook, tapi tidak dengan tangannya yang sudah membunuh dua orang.

Taehyung ingin memeluk Jungkook, tapi tidak dengan tubuhnya yang sudah berlumuran darah.

Taehyung ingin mencium Jungkook, tapi tidak dengan bibirnya yang penuh dengan dusta.

Ia ingin Jungkook.

"Kau begitu manis. Begitu pas dengan stroberi ini. Melihatmu membuat stroberi terasa manis." Jungkook mengalihkan pandangannya. "Kau dan stroberi memang sangat manjur." Manjur mengobati lelahnya.

"Apa sih ! Aku mau pulang!"

Kim Taehyung gelagapan. "O-oke jangan pulang. Aku akan mandi. Tunggu disini Bunny."

Setelah Taehyung melesat pergi, Jungkook terkekeh. Jadi benar Taehyung belum mandi. Ada ada saja pria itu. Tak mau menyentuhnya karena belum mandi. Jungkook geleng-geleng tak habis pikir.

Jungkook kembali memeriksa ponselnya. Nihil. Yugyeom tak menghubunginya. Jika sudah bersama teman-temannya, ada gempa dalam rumah Jungkook saja belum tentu Yugyeom akan berlari menemuinya. Pikirnya.

Tak butuh waktu lama.

Taehyung datang dengan rambut basah, kaos hitam polos dan celana pendek. Entahlah. Tapi bagi Jungkook itu terlihat sexy… apalagi melihat rambut abu-abu Taehyung saat ini. Parah.

"Bosan Bunny?" Jungkook hanya diam saja. "Tak dimakan makanannya?" Jungkook menggeleng, Taehyung berjalan mendekat dan duduk tanpa jarak dengan Jungkook.

Biarlah. Biarlah ia kotor. Biarlah ia begitu bajingan. Ada Jungkook.. Ada Jungkook yang membuatnya kembali bersih, kembali tahu bahwa Taehyung juga seorang manusia. Bahwa sesungguhnya, Taehyung tak mengharapkan ini semua.

"Ceritakan, ceritakan padaku apa saja yang kau lakukan selama aku tak menghubungimu." Jungkook memanyunkan bibirnya.

"Yak ! Kau ! Kemana saja?"

"Aku? Pergi keluar negeri untuk urusan bisnis Ayahku." Jungkook membulatkan bibirnya lalu mengangguk. Yeoksiii, orang kaya. Sesuai ekspetasi.

"Aku? Aku pergi ke Gwangju bersama angkatanku."

"Menyenangkan?"

"Lumayan?"

"Lelah?"

"Sangat"

"Merindukanku?"

"Jelas-

Apa tunggu?"

Taehyung tertawa kencang hingga bahunya bergetar. Jungkook benar-benar lugu. Sangat menggemaskan. "Yak ! Kim Taehyung. Tidak. Itu hanya spontan. Iya spontan. Kau kau bertanya tentang Gwangju-"

"Aku juga merindukanmu Bunny. Sangat." Tiba-tiba Taehyung mendekatkan wajahnya pada Jungkook hingga hidung mereka saling menempel dan itu sukses membuat Jungkook diam. Mata mereka saling memandang. "Semakin cantik, semakin membuatku rindu sekalipun kau ada di depanku."

Lalu bibir mereka saling bertemu. Berawal dari ciuman lembut. Tangan Taehyung melingkar pada pinggang ramping Jungkook, meremas lembut pinggul kesukaannya, dan tanpa sadar Jungkook melingkarkan tangan pada leher Taehyung.

Rasanya mereka merindukan sensasi ini.

Ciuman mereka semakin memanas, bahkan Taehyung terkesan begitu rakus memakan bibir Jungkook, menarik tubuh pria yang lebih darinya itu untuk duduk di pangkuannya tanpa memutuskan ciuman panas mereka.]

Tangan yang semula di pinggang kini merambat masuk ke dalam kaos Jungkook, mengelus dengan tangan bergetar penuh gairah kulit Jungkook, halus dan memabukkan.

"A-ah T-tae." Jungkook memutus ciuman memundurkan sedikit wajahnya lalu menatap tepat ke mata Taehyung.

Taehyung mengangkat alisnya menantang lalu tersenyum miring, tangannya tak tinggal diam, dengan jarak yang Jungkook lakukan ini, Taehyung dengan mudah dapat mengelus area dada Jungkook lalu meremasnya halus "T-tae." Rintihan itu terdengar saat Taehyung mengelus lembut dada Jungkook lalu memainkan puting kecil pria yang tengah duduk di pangkuannya.

Lagi-lagi Taehyung tersenyum miring lalu kembali mendekatkan wajahnya dan mulai mencumbu manis leher jenjang Jungkook, membuat Jungkook memejamkan mata dan menggigit kecil bibir bawahnya, lidah Taehyung sungguh berbahaya.

"Mau jalan-jalan sayang?"

"Hng?"

.

.

.

Sumpah demi langit, tadi Taehyung rasanya sudah ingin membanting Jungkook di atas ranjang, tapi Taehyung belum siap, ia masih merasa begitu bersalah pada Jungkook, tanpa alasan yang pasti. Jadi saat ini ia membawa Jungkook ke tepi pantai. Pria manis itu tengah berdiri dengan jaket denim milik Taehyung dan rambut hitamnya yang agak pajang itu tersapu angin, dari jarak Taehyung, ia rasanya melihat keindahan dunia, keindahan yang dapat memutar balikkan hidupnya.

Jungkook rasanya berbeda.

Begitu cantik dan suci. Beberapa kalipun Taehyung memborbardir tubuh Jungkook, Jungkook tetap terlihat begitu suci dan bersih. Taehyung terkekeh lalu berjalan mendekat ke arah Jungkook.

"Dingin sayang?" Jungkook sedikit terkaget saat tiba-tiba Taehyung memeluk tubuhnya dari belakang dan menumpukkan dagunya pada pundak Jungkook. Jungkook sempat terdiam namun kembali memandang ke depan.

"Biasa saja." Jawabnya.

"Menginaplah di tempatku mala mini dan kabari Seokjin Hyung." Taehyung mengeratkan pelukannya, Jungkook begitu hangat. Tangan Jungkook yang semula diam kini menyentuh tangan yang melingkar di pinggangnya, menempatkan tangannya di atas tangan Taehyung, sedikit demi sedikit ia menikmati suasana seperti ini.

"Tidak mau."

"Oh ayolah aku merindukanmu."

"Tidak. Aku lelah."

"Aku akan memijitmu."

"Tidak sudi."

"Aku akan menjadi kasurmu, kau bisa tidur diatasku itu akan membuat tubu-"

"Sialan."

"Aku akan mencumbumu sepanjang malam-"

"Bangsat."

"Aku akan membelikanmu dua porsi bibimbap, chicken, pizza, patbingsu, jajangmyeon-"

"Call. Aku akan menambah listku nanti."

Sialan. Jungkook lebih menginginkan makanan daripada cumbuan Taehyung. Namun kalimat itu membuat Taehyung tersenyum lebar lalu mengecup kecil leher Jungkook. "Kalau begitu hubungi Hyungmu."

Jungkook mengangguk dan mengambil ponselnya. Taehyung sama sekali tak melepas pelukannya, ia terus melihat apa yang Jungkook lakukan. Hatinya merasa perih saat yang terpampang dalam layar ponsel Jungkook adalah foto Yugyeom dengan Jungkook yang tengah tersenyum lebar. Yugyeom sangat jelek pikirnya. Taehyung terus memperhatikan bagaimana Jungkook mengetik pesan untuk Seokjin, lucu, seperti anak kecil tengah meminta izin pada orang tuanya.

Sesaat setelah Jungkook mengirim pesan, ponsel lelaki bergigi kelinci itu bordering.

Panggilan masuk dari Yugyeom,

Jungkook sempat menoleh kea rah Taehyung yang menatap layar ponselnya. "Angkat saja, tapi keraskan suaranya." Jungkook menggigit kecil bawahnya lalu kembali melirik Taehyung.

"Tapi kau jangan bersuara oke?" sakit, tapi Taehyung mengangguk.

"Hallo Gyeomie?"

"Hai sayang. Kau sedang dimana? Berisik sekali." Suara Yugyeom terdengar lembut.

"Berisik?"

"Em, berisik, suara angin begitu kencang. Kau sedang di luar?" Jungkook melotot panic lalu melihat sekitar. Ia tak tahu apa yang harus diucapkan.

"E-em i-iya aku di luar."

"Luar mana?"

"Rumah?" Jawabnya tak yakin.

"Luar rumah?"

"Em. Angin disini begitu kencang. Aku bahkan takut pohon manggaku akan jatuh."

"Tapi kau tidak punya pohon mangga Kook. Depan apartemenmu adalah bangunan."

"Oh ya? Ku kira di depanku ini pohon mangga, kau ingat kan pohon dekat dengan pohon dekat jalanan? Aku melihatnya dari balkon kamar."

"Ooh kau di balkon haha. Kenapa menyebutnya luar rumah? Oke, aku hanya ingin tahu kabarmu. Besok aku tak bisa menjemputmu, kau berangkat siang kan?"

"Taka pa."

"Baiklah. See you Honey."

"See You Gy-" Jungkook melirik Taehyung yang tengah menatapnya tajam lalu menurunkan ponselnya. "Apa?" Suaranya ketus.

Sebelum Jungkook berhasil memasukkan ponsel ke dalam saku, Taehyung menghentikannya, merebut ponsel Jungkook lalu membuka aplikasi kamera. "Ayo foto dan ganti lockscreenmu."

.

.

.

Park Jimin membuang puntung rokoknya sembarangan saat netranya mendapati Min Yoongi sudah keluar dari gedung perusahaannya. Dengan langkah cepat ia menyusul Min Yoongi yang sudah siap keluar area perkantoran.

"Yoongi." Yoongi menoleh dengan cepat lalu menghela nafas sejenak.

"Ada apa? Pulang sana bocah."

Jimin tak menggubris justur menyeret tangan Yoongi dan membawa pria cantik itu mendekati motor besarnya. Tanpa berkata ia memasangkan helm pada kepala Yoongi. Mengaitkan helm lalu membuka kaca helm dengan lembut. "Mau makan dulu? Tubuhmu semakin kurus, dan apa-apaan kantung mata itu. Sebaiknya kau keluar dari perusahaan ini-"

"Bodoh, jika aku keluar lalu kau fikir aku bisa hidup?" Park Jimin tertawa. Ia mendekatkan wajahnya pada Yoongi.

"Kau fikir, calon pemilik perusahaan ini tak bisa menghidupimu? Kau bisa keluar dari perusahaan ini karena kau akan dapat dua hal, memiliki perusahaan ini nantinya dan sekaligus memiliki pemilik perusahaan ini. Diragukan?" Jangan tanya wajah Min Yoongi, pipinya memerah apalagi dengan jarak sedekat ini. "Baiklah cantik, waktunya makan." Jimin kembali menutup kaca helm Yoongi lalu menaiki motor. Menunggu Yoongi dan menarik tangan Yoongi agar melingkar pada perutnya "Kau terlihat begitu rapuh Yoon. Membuatku selalu khawatir dan ingin melindungimu." Lirihnya yang tentu jelas di dengar Min Yoongi.

.

.

"Ayahku menyuruhku untuk ikut dengannya ke Canada setelah aku selesai kuliah."

"Ide bagus."

Jimin terus menatap Yoongi "Aku tidak mau."

"Bukan urusanku."

"Aku tak mau meninggalkanmu apalagi harus pergi dengannya dan wanita itu." Yoongi menghentikan kunyahannya lalu menatap Jimin dengan diam. Ia tahu sangat tahu. Tapi Yoongi memilih diam saja lalu menelan makanannya.

"Ayo pulang. Kau boleh mampir, akan kubuatkan susu cokelat." Jimin mengerutkan kening, iya tak menyukai susu, tapi tawaran Yoongi untuk masuk ke dalam rumah untuk pertama kalinya adalah tawaran sangat berharga.

Park Jimin sudah amat tahu kalau ia bukanlah yang pertama mengunjungi rumah Yoongi. Ia selalu melihat bagaimana Jung Hoseok dengan mudahnya memasuki rumah ini, iris? Jelas. Tapi Jimin tak mau memaksa sebelum Yoongi sendiri yang menawarinya untuk datang. Dan kali ini kesempatan itu datang.

Rumah Yoongi tak terlalu luas, tak terlalu banyak barang dan wanginya wangi khas Min Yoongi. Namun di satu sisi, rumah ini terasa begitu.. hampa. Rasanya sangat hampa, atau mungkin rumah ini sudah begitu kental dengan hawa Min Yoongi.

"Akan kubuatkan su-"

Sebelum Min Yoongi melangkah, Jimin mencekal lengan Yoongi, membalikkan tubuh hingga Yoongi kembali menghadapnya lalu mempertemukan bibir mereka. Jimin tak menciumnya dengan lembut, terkesan tergesa-tergesa, salahnya, Min Yoongi tetap menikmati ciuman Jimin.

Jika kalian merasa Min Yoongi terlalu gampang, sesungguhnya tidak. Dia adalah pria yang kesepian dan menutup diri dari orang lain, namun ketika ada dua pria berbeda karakter dan memberikan afeksi penuh pada Min Yoongi, rasanya akan ada sesuatu yang dapat mengisi kekosongan dalam jiwanya.

Dan Min Yoongi rasanya begitu sulit untuk menolak.

"J-jimin." Bibir Min Yoongi begitu merah dan pipinya kembali bersemu.

Jimin tersenyum lalu mengelap lembut saliva yang menempel pada sekitaran bibir Yoongi. "Tak perlu repot-repot. Kau bisa jelaskan masalahmu padaku. Aku ada disini untukmu." Yoongi mendongak agar dapat menatap Jimin lalu menggeleng.

"A-aku baik-baik saja."

Tanpa aba-aba, Jimin menggendong Yoongi ala bridal lalu mengecup kilat bibir bengkak Yoongi "J-Jimin apa yang kau lakukan. Yak! Turunkan aku!" Jimin hanya tersenyum lalu berjalan , ia yakin kamar satu-satunya itu adalah kamar Yoongi, Yoongi yang merasa panic pun segera melingkarkan tangan ke leher Jimin dan tak kembali meronta. Dengan tangan cekatannya, Jimin membuka pintu kamar lalu menaruh Yoongi ke atas ranjang.

Jimin berjongkok lalu tangannya menangkup wajah kecil Yoongi "Istirahatlah. Kau terlihat sangat kelelahan." Ia mencium bibir Yoongi "Kau memang tak pernah tersenyum, tapi aku tak menyukai wajah murungmu. Aku tak memintamu tersenyum untuk diriku, tapi untuk dirimu sendiri. Ingat, kau itu berharga Yoongi-ah." Yoongi tak dapat menjawab karena Jimin kembali menciumnya, kali ini ciuman Jimin lebih lembut dan tangan Min Yoongi mencengkram kerah jaket Jimin. Jimin melepas ciuman mereka, lalu jempolnya mengelus lembut pipi Yoongi, ia tersenyum begitu manis pada Yoongi "Tidurlah, aku pulang." Yoongi mengangguk.

Saat Jimin hendak berdiri ia sempat melirik foto pada nakas dekat ranjang Yoongi. Foto seseorang yang membuatnya mengerutkan kening, sejenak ia terdiam menatap foto tersebut.

"Jim?"

"Ah ya, aku pulang. Selamat malam cantik."

.

..

.

Rasanya keningnya tak dapat kembali seperti normal, terus berkerut bingung. Karena foto yang terpampang jelas di kamar Yoongi adalah foto Jungkook. Lelaki incaran Taehyung. Lantas, kenapa ada foto Jungkook disana?

.

.

.

..

Tbc

LOL . aku udah rasanyaaaa. Gatau lagi. Laptopku rusak, jadi aku udah ga tau gimana nglanjutinyya, gimana mau update huuuaaaa sedih akutuh.

Dan aku udah ga Pede. Gimana dong. Ceritanya bahkan ga menarik lagiiiiiii. Sedih aku tuh.

Ya sutralaah.

Makasih reviewnya yaa. Aku Love kalian/

/

/

/

syupit : huua maaf lama yaaah, dan ff ini lama2 aneh

yuyunshin : kamu ama Tae jadi fanzone gimana crita skrg?

Shin Ji Rim : tunggu saja permainannya oke. You know, fuckbuddies was better haha

Flowyurin99 : gimana masih kepo jk-suga? Thankyou yaa. Tapi syudah ga PD aku ama crita ini

LitteOoh : Yuhuu

Kyunie : Yup bapaknya mafia

rizkimaori : hmmmmmmm sepertinya tidak terjadi

Novya302 : masih penaaasaran nteu? Makasih semangatnyaaa.. aku tp ga PD skrg

ttaehyungiekooki : jangan gitu *(

EdHosiki : ayo tebaaak lagggii. Kamu juga semngat yaaa

Guest : Yupp]

Winkeukim : Ga Ga santé saja bruuh. Gapapa kadang orang ketiga emang lebih beruntung]

taemochi: iya nananina mulu

bunnylily : Gimana gimana sekarang? Sumpah aku ga pede bgt asliiii

cruchosss : Fuckbuddies is the best]

guest ;yeaay

Kyubear9597 : Gag a masa nganu mulu. Awas, takut lecet. Yugyeom ama eyke dooong, udah lanjut nih

Guesst :SMH