[Re-Make] A Romantic Story About Serena
.
Cast : Wu Yifan , Huang Zitao , and others.
.
Rated : M
.
Disclaimer : alur cerita ini akan sama persis dengan aslinya yaitu A Romantic Story About Serena by Shanty Agatha.
.
(s).
.
.
.
.
.
.
Zitao hampir saja terlambat kerja, dia menarik napas panjang melihat jam absennya...hanya kurang satu menit.
Dengan segera dia melangkah masuk ke mejanya, teman-teman seruangannya sudah mulai sibuk bekerja. Zitaopun mulai berkonsentrasi, tapi matanya hanya menatap kosong ke layar komputer, pikirannya mengingat ke kejadian semalam dan dia mengernyit, Dia merasa murahan sekali, menjual diri kepada laki-laki itu tetapi terlena dengan rayuannya. Mau bagaimana lagi, lelaki itu adalah jelmaan Eros penakluk wanita dengan segala pengalaman dan keahliannya, sementara Zitao baru pertama kalinya bercinta.
"Tuhan, ampunilah dosa-dosaku" Zitao memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya sebelum mulai menenggelamkan diri dalam pekerjaan,
"Iya, aku juga tidak menyangka," suara berbisik dua rekan disebelahnya menarik perhatian Zitao, "Rasanya seperti bukan Mr. Yifan"
Mendengar nama lelaki itu disebut mau tak mau Zitao menajamkan telinganya, mendengarkan.
"Tadi kami serombongan habis sarapan berpapasan dengan Mr. Yifan, kami hanya menunduk karena bisaanya Bos besar itu hanya melirik dari sudut matanya, mengangguk selama sedetik lalu pergi dengan acuh tak acuh,"
Wanita itu menghembuskan napas takjub, "tapi tadi...Astaga! Mr. Yifan bahkan berhenti, tersenyum ramah dan menanyakan kabar kita semua-" suaranya terpekik hampir histeris, "Dan senyumnya yang sangat jarang itu-bukannya menjawab semuanya malah terpesona dengan mulut menganga, ada yang mencoba menjawab tp yang keluar hanya suara tercekik," lanjutnya menggebu-gebu,
"Mr. Yifan sama sekali tidak merasa terganggu dengan sikap konyol kami. Dia malah tertawa geli dan melambaikan tangan ramah sebelum pergi,benar benar anugerah tak terlupakan! Menurutmu..."
Zitao beranjak berdiri ke kamar mandi, tak tahan mendengarkan pemujaan pemujaan terhadap laki-laki itu,
Tapi tetap saja dia ikut bertanya tanya, Zitao terpekur di depan pintu kamar mandi.
Dia berpikir mengenai perubahan sikap Yifan dikantor, bosnya itu memang selalu memasang wajah dingin, ketus dan jarang bicara, banyak wanita di sini yang takut sekaligus memujanya karena sikapnya itu...tapi kenapa dia berubah ramah?
"Memikirkanku?"
Suara yang diucapkan dengan pelan dan lembut itu membuat Zitao membalikkan tubuhnya mendadak dengan terlonjak kaget dan hampir menabrak orang yang berdiri dibelakangnya,
Matanya langsung bertatapan dengan mata birunya yang tajam, obyek pikirannya.
Dan kenapa si bos ada di sini? Di lorong menuju kamar mandi lantai 3 padahal dia punya kamar mandi sendiri di ruangannya?
Tanpa sadar Zitao mengucapkan pertanyaannya keras-keras,
Yifan tertawa,
"Aku sedang menemui kepala personalia di lantai yang sama, tiba tiba ingin ke toilet, tidak bolehkah?" suaranya makin melembut, lalu matanya berubah tajam. Dan Zitao mengenali tatapan itu, tatapan kalau...
"Damn! Aku sudah amat sangat merindukanmu!"
Dengan cepat Yifan meraih Zitao,lalu menciumnya, dengan gairah menggebu-gebu seolah-olah sudah lama tidak berciuman, padahal baru tadi pagi mereka-
Suara percakapan yang sayup-sayup mendekat membuat Zitao terperanjat,dengan secepat kilat didorongnya Yifan dan dia setengah berlari masuk ke toilet perempuan.
Didengarnya suara Yifan dengan ramah membalas sapaan orang-orang yang baru datang ke toliet, Suaranya terdengar bisaa saja bahkan sedikit kegembiraan kecil terselip di sana. Apakah lelaki itu geli atas sikapnya?
Sialan dia! Tak sadarkah dia kalau menyergapnya seperti itu di toilet kantor benar-benar tindakan nekat? Jantungnya masih berdentam-dentam dengan kuatnya seakan ingin meloncat dari tempatnya...
Tapi...Zitao mengernyit, apakah jantungnya berdetak keras karena ketakutan...ataukah karena ciuman spontan yang tidak diduganya itu?
.
.
.
"Kau tampak senang," ChanLie menatap Yifan yang sedang memeriksa berkas kontrak kerja mereka dengan supplier baru.
Yifan mengalihkan tatapannya dari berkas di mejanya dan menatap ChanLie muram,
"Bukannya itu bagus? Tapi kenapa aku mendengar nada mencela dari suaramu?"
ChanLie mengangkat bahu,
"Aku cuma tak ingin kau mabuk kepayang dan melakukan hal-hal yang akan kau sesali nanti"
Tatapan Yifan berubah tajam,
"Aku? Mabuk kepayang? Apakah kau sedang bercanda?"
"Bukan begitu maksudku,tapi sepertinya kau agak berubah, kau tahu, agak tidak fokus, bahkan kata sekertarismu tadi pagi kau terlambat, pertama kalinya, katanya"
"Dan kau kira itu karna aku mabuk kepayang pada Zitao, begitu? Baik! Memang aku terlambat karena terlalu asyik bercinta dengan Zitao, lalu kenapa ? Perusahaan ini sebagian besar milikku! Apakah seorang pemilik tidak diperbolehkan terlambat? Toh keterlambatanku tidak merugikan perusahaan ini!"
"Yifan," ChanLie berusaha meredakan emosi Yifan, "Aku tidak bermaksud membuatmu marah, aku hanya mencemaskanmu"
Sejenak Yifan tidak berkata-kata, tatapannya menyala-nyala, matanya bagaikan api biru yang membakar. Tapi kemudian dia berhasil mengendalikan emosinya. Dihelanya napas keras-keras,
"Kau benar, maafkan aku ChanLie"
Sebelum ChanLie dapat menjawab, ponsel Yifan berdering, Yifan meliriknya dan dahinya berkerut melihat siapa yang menelponnya.
"Ada apa Jessica?"
Mendengar nama Jessica disebut, ChanLie langsung berdiri dan memberi isyarat berpamitan pada Yifan, Yifan mengangguk mempersilahkan dan ChanLie berjalan keluar ruangan.
Di seberang, suara Jessica yang lembut dan elegan terdengar mengalun,
"Aku bertanya-tanya, kenapa kau tak menghubungiku sayang, sabtu kemarin kau mendadak membatalkan acara makan malam kita, dan kemudian aku sama sekali tak bisa menemukanmu, apakah ada pekerjaan mendadak yang menyulitkanmu?"
Wajah Yifan berubah dingin, dia sama sekali tidak pernah menjalin komitmen dengan Jessica. Mereka diperkenalkan pada suatu acara makan malam, setelah itu Jessica menghubunginya, mengajak makan malam berdua karena ingin mengenal lebih dekat. Yifan tidak menolaknya, baginya Jessica cukup cantik dan saat wanita itu mendekatinya, kenapa tidak? Pertemuan mereka berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya, Tetapi di saat awal Yifan sudah menegaskan kepada Jessica bahwa hubungan yang mereka jalin adalah hubungan tanpa ikatan. Saat Jessica mengundangnya ke tempat tidurnyapun Yifan sudah menegaskan itu dia lakukan tanpa ikatan dan tanpa cinta.
Tapi sekarang Jessica sepertinya besar kepala karena Yifan saat itu tidak dekat dengan wanita lain selain dirinya, dalam otaknya dia mengira bahwa dirinya telah berhasil menaklukkan Yifan dan membuat lelaki itu setia padanya, Dia tidak tahu bahwa saat itu pikiran Yifan sedang terpaku untuk mendapatkan wanita lain, Zitao.
Sekarang Yifan merasa muak dengan tingkah Jessica yang bertindak seolah-olah mereka sepasang kekasih, yang harus selalu mengetahui kegiatan Yifan dan merasa berhak mengatur-atur Yifan,
"Sayangku, Yifan ? Kau masih di sana?"
"Jessica, maafkan aku sedang sibuk sekali"
Terdengar helaan napas dramatis di sana, sudah pasti wanita ini tidak akan menyerah, dia terbisaa dikejar kejar dan dipuja lelaki, penolakan hanya membuatnya lebih gigih mengejar.
"Begini sayang, aku ada undangan pesta di rumah Shuan Xian, kau tau kan pelukis terkenal itu? Dia mengadakan pesta di pembukaan pameran lukisannya. Aku belum punya pasangan untuk datang ke sana, kau mau kan menemaniku?"
Yifan menghela napas keras,
"Jessica, sudah kubilang aku sibuk, aku tak bisa menemanimu ke pesta manapun, lebih baik kau ajak kekasihmu atau laki laki lain, pasti mereka dengan senang hati akan menemanimu"
"Tapi Yifan, aku mencintaimu dan yang ku ingin hanya kamu."
"Aku bukan kekasihmu Jessica, dan tak akan pernah, ingat itu, jadi jangan meminta macam-macam dariku, Oke ?" Yifan langsung menyela dengan kesal.
"Oke oke!" Jessica setengah menjerit, "kau sudah pernah mengatakan itu berulang kali padaku, tapi tidakkah kebersamaan kita selama ini-"
"Jessica, aku sibuk,Maaf." Yifan langsung menutup percakapan, menyudahinya karena dia yakin Jessica tidak akan menyerah dengan segera.
.
.
.
Zitao baru saja membuka pintu apartemen ketika telephonnya berdering,dia segera mengangkatnya dan langsung terdengar suara Yifan diseberang sana,
"Kau suka masakan Thailand?"
"Hah?" Zitao terperangah mendengar sapaan pertama Yifan yang tanpa basa-basi, baru ketika Yifan mengulang pertanyaannya dia mengerti, dan tanpa sadar mengangguk,
"Zitao?"
Mendengar pertanyaan Yifan Zitao baru sadar kalau dari tadi dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Eh-iya iya"
"Oke, kalau begitu jangan memasak malam ini, kubawakan dua porsi untuk kita"
Telepon ditutup. Meninggalkan Zitao yang yang masih terperangah.
Satu jam kemudian, ketika Zitao menyeduh kopi, Yifan datang, langsung ke dapur, masih mengenakan jas resminya, tapi dengan dasi yang sudah dikendorkan. Dia meletakkan Kantong kertas berisi makanan yang masih panas, berlogokan nama hotel bintang lima.
"Tadi ada undangan pertemuan dengan kilen di sana, hanya minum kopi, tapi aku lalu ingat kalau masakan Thailand di hotel ini terkenal enaknya, dan aku ingat kamu,"
Yifan mengedipkan sebelah matanya, "Siapkan ya, aku mandi dulu"
Dengan langkah anggun Yifan membalikkan badan menuju kamar,
Zitao mengatur masakan berbau harum itu pada piring saji, sambil mengatur poci kopi di nampan untuk Yifan, untuk dirinya dia menyeduh secangkir teh.
Yifan muncul di dapur setengah jam kemudian, dengan piyama sutra hitam, lali duduk di kursi di meja dapur,
"Aku lapar sekali, tadi jalanan macet "
Zitao duduk di hadapan Yifan, memperhatikan lelaki itu mulai menyantap hidangannya dengan penuh minat. "Tadi, di pertemuan tidak ada makan malam?" setahu Zitao pertemuan bisnis di hotel seperti itu selalu disertai dengan jamuan makan malam.
"Ada, tapi aku menolaknya, hanya minum kopi tadi," Yifan menatap Zitao dengan tiba-tina hingga Zitao kaget, "Kenapa tidak kamu makan ? ayo,ini enak."
Dengan gugup Zitao menyantap makanannya, memang enak sekali, guman Zitao pada suapan pertama, Tanpa sadar dia makan dengan lahap, dan baru berhenti ketika menyadari Yifan menatapnya geli, pipinya langsung bersemu merah. Yifan langsung terkekeh geli.
Zitao baru mengetahui kepribadian Yifan yang seperti ini, santai dan penuh tawa, berbeda sekali dengan apa yang ditampilkannya di kantor. Selesai makan seperti bisaa Yifan minta ditemani saat mengerjakan tugas kantornya, lelaki itu tampak serius mengahadapi laptopnya, sambil sesekali menyesap kopi, sementara Zitao menyibukkan diri dengan menonton chanel masak memasak di TV kabel. Benaknya berkecamuk, apakah Yifan akan bercinta dengannya lagi? Bodoh! Tentu saja, kalau bukan untuk itu buat apa lelaki itu menginap di sini ?
"Kau bisa memasak yang seperti itu?." Suara celetukan Yifan hampir membuat Zitao terlonjak karena kagetZitao menatap ke arah Yifan, lelaki itu sudah bersandar di sofa, dengan santai menyesap kopinya sambil menatap televisi. Laptopnya sudah tertutup dan berkas-berkasnya sudah tersusun rapi, Astaga...berapa lama tadi dia melamun? Sudah berapa lama Yifan menyelesaikan pekerjaannya? Dengan buru buru Zitao menoleh ke televisi, adegan di sana menampilkan cara memasak sup jagung dengan berbagai modifikasinya,
"Bisa,aku pernah membuatnya meski tidak persis seperti itu"
Yifan tersenyum, "Aku jadi ingat saat aku sakit waktu kecil dulu, ibuku selalu membuatkanku sup jagung, tidak ada yang mengalahkan rasa sup buatannya"
Zitao ikut tersenyum mengenang,
"Ibu dulu membuatkanku bubur ayam. Rasanya tidak enak hingga aku selalu ingin memuntahkannya"
Yifan tertawa geli mendengarnya
"Aku belum pernah menemui wanita sepertimu sebelumnya," gumamnya dalam tawa.
Zitao menoleh pada Yifan dengan bingung,
"Wanita sepertiku?"
"Polos, jujur dan tidak berusaha memanipulasiku," senyum Yifan berubah sensual, "Dan masih bisa tersipu sampai memerah di sekujur kulitnya, padahal sudah berkali-kali kusentuh"
Kali ini Zitao hampir tersedak tehnya,dengan cepat diletakkannya cangkirnya dan ditatapnya Yifan dengan waspada. Lelaki itu juga sedang menyesap kopinya, tapi mata birunya yang tajam itu menatap serius pada Zitao,
"Kau seperti kelinci yang terjebak ketakutan," gumam Yifan sambil menyipitkan matanya, "Apakah cara bercintaku menyakitimu?"
Pipi Zitao langsung memerah mendengar pertanyaan Yifan yang blak-blakan itu,
"Ti-tidak, bukan begitu... Sa-saya hanya belum terbisaa"
Zitao menelan ludah ketika Yifan beranjak dari sofanya dan berdiri di depan Zitao,lalu menarik Zitao berdiri dan langsung mencium bibirnya dengan lembut,
"Kalau begitu, tidak ada yang bisa kulakukan selain membuatmu terbisaa bukan?" suara Yifan berubah serak, lalu dengan cepat mengangkat Zitao dan membawanya ke kamar.
.
.
.
Jam dua pagi, ketika Yifan terbangun dan menyadari ada tubuh hangat dalam pelukannya. Zitao berbaring meringkuk di dadanya, tubuhnya begitu mungil hingga Yifan merasa bisa meremukkannya dalam sekejap kalau dia mau.
Damn! Kadangkala Ketika Zitao tidur wajahnya terlihat seperti anak kecil , Yifan seperti merasa sedang melakukan pelecehan seksual pada anak di bawah umur,
Tanpa sadar tangan Yifan mengelus punggung polos Zitao, dan dalam tidurnya, Zitao bergumam tidak jelas, lalu meringkuk makin rapat ke dada Yifan.
Tidak! Mungkin wajahnya seperti anak-anak, tapi tubuhnya benar-benar tubuh wanita dewasa. Yifan tidak pernah merasa begitu bergairah sekaligus begitu terpuaskan selain dengan Zitao . Tubuh mungil itu telah memberikan kepuasan yang sangat dalam bagi Yifan.
"Aku mungkin tak akan pernah melepaskanmu," guman Yifan di kegelapan, "kau milikku Zitao"
Seolah mendengar ancaman Yifan di alam bawah sadarnya, alis Zitao berkerut dan menggumam tak jelas.
Yifan tertawa geli melihatnya, lalu dikecupnya dahi Zitao dengan lembut. Anak kecil ini benar-benar tidak terduga, tidak disangka dia akan menyerah di pelukan gadis seperti ini.
"Se...hun"
Yifan langsung menoleh secepat kilat ke arah Zitao, Apa? Tadi gadis itu bilang apa?!
"Sehun,"
kali ini gumaman Zitao terdengar lebih jelas. Bahkan Yifan melihat ada air mata di sudut matanya
Rahang Yifan menegang karena marah, siapa lelaki yang disebut Zitao itu? Kenapa dia tidak pernah mendengarnya? Dia sudah menyelidiki Zitao bukan? Selama ini Zitao tidak pernah dekat dengan lelaki manapun, dia bahkan masih perawan!
Dengan gusar Yifan menghapus air mata di sudut mata Zitao, lalu mengguncang tubuh Zitao pelan.
Dan mata lebar yang polos itu terbuka menatap Yifan dengan bingung karena dibangunkan tiba-tiba,
"Berani-beraninya kau!" desis Yifan dengan tatapan membara, "Berani-beraninya kau menyebut nama lelaki lain dan menangis untuknya di atas ranjangku!"
Zitao benar-benar tidak siap ketika Yifan menyerangnya dengan cumbuan yang sangat hangat dan menggelora. Kali ini Yifan berbeda dengan bisaanya,dia seperti...seperti membara, seolah olah tidak ditahan-tahan lagi, ada apa? Ada apa sebenarnya?
Tapi Zitao sudah tidak dapat berpikir lagi karena Yifan sudah menenggelamkan kesadarannya dengan cumbuan dan belaian jemarinya yang sangat ahli. Sungguh nikmat...dan Zitao akhirnya menyerah dalam pelukan Yifan.
.
.
.
Zitao terbangun sendirian di ranjang itu. Yifan sudah tidak ada. Yah lelaki itu mungkin sudah pergi pagi-pagi sekali kembali kerumahnya sebelum berangkat ke kantor. Dia kan punya rumah, tidak mungkin kan dia terus-terusan berada di apartement ini?
Tapi entah mengapa Zitao merasa ada yang kosong, setelah beberapa kali dia terbangun dengan Yifan di sisinya, entah kenapa ada yang kurang saat dia terbangun sendirian sekarang.
Bodoh! Apa yang kau pikirkan Zitao? Kau hanyalah wanita simpanannya, yang dibelinya untuk memuaskan nafsunya! Jangan pernah berpikir macam-macam. Lagian masih ada Sehun yang harus kau cemaskan.
Sambil membungkus tubuhnya dengan seprai, Zitao melangkah ke kamar mandi, tubuhnya terasa agak nyeri, karena entah kenapa pagi tadi Yifan bercinta seolah-olah kesetanan dan tidak menahana-nahan diri.
Ketika mengaca dan menurunkan selimutnya Zitao mengernyit.
Dari Leher, buah dada sampai perutnya, semuanya penuh dengan bekas ciuman Yifan. Lelaki itu seolah sengaja meninggalkan jejak di mana-mana. Warnanya merah di sekujur tubuh Zitao, dan Zitao yakin tak lama lagi akan berubah menjadi ungu.
Dasar Yifan! Siapapun yang melihat akan tahu kalau ini bekas ciuman, di bagian dada bisa dia sembunyikan, tapi yang di leher?
Zitao belum pernah mendapatkan bekas ciuman seperti ini di tubuhnya sebelumnya.
Percintaannya dengan Sehun selalu sopan dan tidak pernah sepanas itu sehingga Sehun bisa meninggalkan bekas-bekas ciuman di kulitnya. Tapi Zitao tahu bekas ciuman seperti ini butuh beberapa hari untuk hilang.
Dasar Yifan bodoh! Gerutunya sambil mencari cari turtle neck yang dapat menutupi tubuhnya sampai ke leher lalu memadankannya dengan blazer, Zitao hanya menyapukan bedak tipis ke mukanya, lalu segera melangkah keluar, jangan sampai dia terlambat ke kantor lagi.
Ketika berdiri di tepi jalan menanti kendaraan umum, Zitao merasakan sengatan sakit yang tiba-tiba di kepalanya.
Aduh! Di saat seperti ini migrainnya kambuh. Tapi tentu saja hal itu terjadi, dia belum sarapan, dan dia kurang tidur gara-gara Yifan hampir tidak pernah membiarkan tidur nyenyak tiap malam.
Dengan memaksakan diri Zitao naik ke dalam bus menuju kantornya.
.
.
.
"Wajahmu pucat sekali" salah seorang temannya memandang Zitao dengan cemas ketika Zitao mendudukkan diri di kursinya. Tadi dia hampir terlambat dan setengah berlari ke mesin absen.
Zitao memegang pipinya, memang terasa agak panas, apakah dia demam? Dan kepalanya juga pusing sekali. Tapi tetap dipaksakannya tersenyum,
"Engga apa-apa kok, mungkin karena belum sarapan, nanti setelah minum teh hangat pasti agak baikan."
Tapi ternyata tidak, rasa pusing itu makin menusuk nusuk di kepalanya terasa nyeri,bahkan untuk menolehkan kepalanya saja terasa sangat sakit, badannya juga sama saja, rasanya nyeri di sekujur tubuh seperti habis dipukuli. Zitao bertahan dengan tidak bergerak di kursinya, tapi rasa sakitnya makin tak tertahankan,
"Zitao coba kesini sebentar, lihat draft pemasaran ini bagaimana menurutmu?" salah seorang rekannya memanggilnya.
Dengan mengernyit Zitao mencoba berdiri, tubuhnya limbung sejenak, tapi dia berdiri dan bertahan sambil berpegangan di tepi meja.
Lalu setelah menarik napas dalam-dalam, dia melangkahkan kaki ke meja rekannya. Tapi tiba-tiba rasa nyeri tak tertahankan menyerang kepalanya dan semuanya menjadi gelap.
.
.
.
"Pingsan?!"
Yifan setengah berteriak kepada ChanLie yang menyampaikan kabar itu padanya,
"Kapan?! Dimana?!" Yifan mulai berdiri dari balik meja besarnya.
ChanLie hanya duduk santai di sofa kulit hitam di ruangan kantor Yifan, "Tadi dalam perjalanan ke sini aku kan mengambil arsip di sebelah klinik, ada keributan di luar, gadis itu sedang digendong salah seorang rekannya ke klinik dan di antar beberapa rekannya yang lain juga, dalam kondisi pingsan, dia pucat sekali seperti kelelahan " tambah ChanLie penuh arti.
"Digendong?" kali ini wajah Yifan menegang karena marah, "laki-laki?"
ChanLie tiba-tiba saja tidak bisa menahan tawanya,
"Simpananmu pingsan dan kau meributkan siapa yang menggendongnya?"
Tawa ChanLie kembali terdengar tak peduli pada wajah Yifan yang marah," Tentu saja laki-laki, mana mungkin perempuan?"
Yifan mendengus marah dan hendak melangkah keluar ruangan, tapi ChanLie berdiri dan menahannya,
"Kau pikir kau mau kemana Yifan?"
Yifan menatap tangan ChanLie yang menahan lengannya dengan marah,
"Tentu saja melihat Zitao!"
"Dan membuat kehebohan di luar? Seorang CEO perusahaan yang jarang terlihat saking sibuknya, yang bahkan untuk berkonsultasi dengannya harus melalui perjanjian temu yang sulit, tiba-tiba saja turun menjenguk seorang staff biasa? Kuulangi seorang staff biasa, yang tidak ada hubungan apapun dengannya"
ChanLie menatap Yifan tajam, "dan bahkan dengan wajah pucat pasi lebih pucat dari yang pingsan kalau boleh kutambahkan" ChanLie mulai terkekeh geli.
Yifan melotot marah padanya, tapi kemudian menarik napas dan tersenyum skeptis,
"Kau benar, aku tak bisa" dengan pelan dia melangkah dan duduk di sofa.
ChanLie menuangkan minuman untuknya dari meja bar kecil dan memberikan kepada Yifan yang langsung menyesapnya.
"Kau tak pernah begitu sebelumnya Yifan, dan tak kusangka kau sebegitu perhatiannya kepada gadis kecil ini, kukira kau hanya menganggapnya tubuh yang sudah kau beli?"
Yifan meletakkan gelasnya, lalu menatap tajam ChanLie
"Dan tubuh yang kau katakan itu yang sekarang terbaring pingsan."
ChanLie tersenyum dan duduk di sebelah Yifan,
"Kemarin aku baru saja bilang kalau gadis itu membuatmu lelah dan tidak berkonsentrasi, ternyata kau berbuat lebih parah padanya" ChanLie tak dapat menahan diri untuk tersenyum lebar, "Kau apakan saja gadis kecil itu Yifan?"
Yifan mengacak rambutnya bingung,
"Aku juga tidak menyangka bisa jadi begitu terobsesi kepadanya, kau tahu...rasanya tidak ingin berhenti, aku ingin terus menerus menyentuhnya, ingin terus menerus merasakannya...jadi tiap malam aku..aku.."
"Kau bermaksud bilang tiap malam kau hampir tidak pernah membiarkannya tidur?" kali ini alis ChanLie berkerut.
Yifan menghindari tatapan ChanLie,
"Aku baru beberapa hari bersamanya, aku masih belum merasa puas" gumamnya tak Jelas.
ChanLie menarik napas dalam,
"Yifan, aku tahu kau terbiasa dengan wanita dewasa yang berpengalaman, yang mungkin akan melayani marathon seksmu dengan senang hati kalau kau mau, tapi ini, seorang perawan, seorang gadis kecil tak berpengalaman, seharusnya kau lebih menahan dirimu."
"Aku tahu!" Yifan menyela dengan keras, frustasi kepada dirinya sendiri, "tapi...ah, kau tidak tahu rasanya ChanLie..."
"Betul aku tidak tahu, karena itulah aku tidak mengerti, kalau memang nafsumu sebegitu besarnya, kenapa kau tidak mencari wanita lain sebagai pelampiasan? Wanita lain yang lebih bisa mengimbangimu? Jadi kau tetap bisa menjaga kondisi tubuh gadis itu, tubuh yang kau beli seharga 100 juta" ChanLie mengingatkannya.
"Ah ya...ya, bisakah kau jangan menyebutnya sebagai 'gadis itu atau 'tubuh itu..? Dia punya nama ChanLie, namanya Zitao."
"Baiklah, Zitao ini, kalau kau tidak mau menyakitinya, seharusnya kau mencari wanita lain untuk mengimbangimu."
Yifan mengernyit, wanita lain? Sepertinya itu ide yang bagus, kalau hasratnya membuat tubuh Zitao lemah, dia seharusnya menyalurkannya kepada wanita lain, tapi. Yifan tidak bisa membayangkan wanita manapun, dia mau Zitao, hanya Zitao yang membuat tubuhnya berhasrat sampai seperti ini,
"Tidak bisa kalau bukan dia ChanLie, kau tahu aku bukan maniak seks, bercinta selama ini menjadi kebutuhan nomor duaku, bahkan aku selalu mementingkan pekerjaan dibandingkan janji temuku dengan wanita-wanita itu, tapi Zitao... Dia seperti ada magnet dalam tubuhnya yang mengubahku menjadi seperti ini"
ChanLie menarik napas,
"Kalau begitu, kau harus belajar menahan diri Yifan dan lebih peka, kalau dia terlihat lelah, jangan memaksakan kehendakmu."
.
.
.
"Apa yang kau lakukan padanya?" Gumam dokter LuHan, janda berusia 33 tahun yang sangat cantik, yang kebetulan adalah sahabat Yifan juga, ketika melihat Yifan masuk ke ruangan klinik itu, suasana sudah sepi dan dokter LuHan sudah mengusir rekan-rekan kerja Zitao dari klinik itu,
Yifan mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan LuHan,
"Kenapa kau langsung menuduhku seperti itu?" gumamnya pura-pura tersinggung.
LuHan melirik ke arah Zitao yang tertidur pulas, tadi Zitao sempat bangun dan LuHan sengaja memberinya obat yang membuatnya mengantuk agar gadis itu bisa beristirahat,
"Seorang staff rendahan pingsan dan beberapa waktu kemudian sang CEO perusahaan yang tidak pernah menginjakkan kakinya di klinik ini tiba-tiba datang? Kau pikir ini kebetulan?"
Yifan tersenyum miring,
"Setidaknya kecerdasanmu tidak berubah LuHan"
LuHan terkekeh pelan,
"Tentu saja aku sama sekali tidak menduga kalau gadis itu ada hubungannya denganmu, waktu memeriksa tubuhnya aku melihat bekas-bekas ciuman dari leher sampai ke perut, lalu aku berfikir, lelaki brengsek mana yang membiarkannya sampai pingsan kelelahan begitu"
LuHan mengangkat alisnya, " Dan tiba-tiba saja lelaki brengsek itu muncul."
Yifan mengerutkan alisnya lalu terkekeh,
"Sayangnya kata-kata tajammu juga tidak berubah, yah aku memang lelaki brengsek itu" Yifan mengangkat bahu, lalu menatap ke arah Zitao yang terbaring pucat di ranjang klinik itu, " bagaimana kondisinya?" wajahnya berubah serius.
LuHan menarik napas,
"Aku tak mau bertanya apapun itu kehidupan pribadimu" LuHan menatap tajam ke arah Yifan," gadis itu kelelahan, kurang tidur dan tekanan darahnya rendah sekali, kondisi tubuhnya lemah dan karena itu dia demam, sepertinya gejala flu."
Yifan mengernyitkan allisnya, menerima tatapan tajam LuHan.
"Baik, baik semua salahku, ChanLie sudah mengatakannya padaku, sekarang bisakah kau meninggalkan kami sendirian sebentar?"
LuHan melirik ke arah pintu,
"ChanLie ada di luar? Bagaimana jika nanti ada karyawan yang kebetulan ke klinik?"
"Itulah gunanya ChanLie di luar, tapi kalau sampai terjadipun aku akan bilang kalau aku sedang mencarimu meminta resep."
LuHan mengangguk,
"Aku akan bergabung dengan ChanLie di luar, jangan berbuat macam-macam ya!"
Yifan tersenyum mendengar ancaman LuHan. Wanita itu adalah istri dari sahabatnya, dan merekapun ahkirnya bersahabat. Sayangnya suami LuHan meninggal dalam kecelakaan tragis di jalan tol beberapa tahun lalu, sejak itu LuHan membentengi diri dengan mulut tajam dan sifatnya yang ketus, padahal sebenarnya dia adalah wanita penyayang, sikap ketusnya itu tidak mempan pada Yifan dan ChanLie, Yifan melirik keluar, seandainya saja LuHan bisa melirik ChanLie, bagus sekali kalau sahabat-sahabatnya itu bersatu.
Dengan langkah pelan Yifan melangkah ke tepi ranjang berdiri di samping Zitao yang tertidur pulas,
Benar, wajahnya pucat sekali, kenapa Yifan tidak menyadarinya dari semalam?
Tangan Yifan menyentuh dahi Zitao, gadis ini demam! Badannya panas sekali...
"Jadi kau ingin mengantar pulang Zitao?"
LuHan tiba-tiba bersuara di pintu dengan agak keras, sengaja memberi peringatan kepada Yifan.
Yifan langsung menjauh dan berdiri di depan meja kerja LuHan.
Pintu terbuka dan salah seorang laki-laki, rekan kerja Zitao tapi Yifan lupa namanya, masuk membawa tas Zitao yang tertinggal di ruangannya, disusul oleh LuHan dan ChanLie di belakangnya.
Rekan kerja Zitao itu tampak sangat kaget mengetahui Yifan, CEO perusahaan yang hanya pernah dia lihat dari foto, sekarang berdiri langsung di depannya, wajahnya langsung pucat pasi,
"A-anda" lelaki itu bahkan tak sanggup berkata-kata karena kagetnya, Yifan menatap sekilas seolah tak peduli,
"Ya, Saya memang benar Yifan" dipasangnya ekspresi paling dingin,
"Saya ada urusan dengan dokter LuHan, tapi silahkan selesaikan urusan anda dulu, saya bisa menunggu."
"Justin hanya ingin menjemput rekannya yang pingsan dan mengantarkannya pulang Yifan"
ChanLie menyela di belakang LuHan tapi matanya menatap Yifan penuh peringatan.
Pulang? Yifan mengernyit, tapi Zitao kan sekarang tinggal di apartement mewah yang dia belikan, tidak mungkin dia membiarkan Justin mengantar Zitao pulang!
"Sa-saya hanya sebentar, saya akan mengangkat Zitao dan mengantar pulang, kebetulan saya ada janji temu dengan kilen di dekat tempat kostnya jadi sekalian, mohon maaf, silahkan dokter jika ada urusan dengan Mr, Yifan"
Justin cepat-cepat membalikkan tubuh tak tahan menghadapi tatapan tajam Yifan, memang benar gosip yang beredar, Mr. Yifan CEO mereka ini terkenal sangat dingin dan tidak berperasaan, bahkan aslinya lebih menakutkan, wajahnya sangat rupawan tapi aura membunuh disekelilingnya sangat kental.
Yifan masih terpaku di situ, tempat kost? Si bodoh ini pasti masih mengira Zitao masih tinggal di tempat kostnya yang lama. Dan.. Apa yang dilakukan lelaki itu ? Dia menyentuh tubuh Zitao ?!
Yifan hampir menyeberangi ruangan untuk menepiskan tangan Justin yang mencoba menggendong Zitao ketika Suara LuHan menyela dengan cepat, menyadari gawatnya situasi yang terjadi,
"Jangan Justin" perintahnya membuat Justin meletakkan tubuh Zitao kembali dan menatap LuHan penuh tanda tanya,
"aku memberi obat tidur untuknya supaya dia bisa beristirahat, kalau kau pulangkan dia ke kostnya dalam kondisi seperti itu, siapa yang akan menjaganya nanti? Lebih baik biarkan dia beristirahat dan tidur di sini dulu"
Justin menyadari kebenaran perkataan dokter LuHan dan cepat-cepat menyetujuinya. Lagipula dia ingin cepat-cepat keluar dari ruangan ini.
Sang CEO hanya berdiri membatu di sudut ruangan tapi tatapan matanya mengerikan, seperti akan membunuhnya dengan tangan kosong!
Ah, mungkin dia hanya sedang tidak enak badan, Justin berusaha menenangkan dirinya, lalu mengangguk,
"Baiklah saya akan meninggalkannya dulu, nanti kalau dia sadar saya akan menjemputnya lagi" gumamnya sambil meletakkan tas Zitao di kursi dan hampir melonjak kaget ketika Yifan berseru dalam bahasa Jerman yang tidak dimengertinya,
LuHan agak menahan senyum karena dia tahu arti kata-kata Yifan, 'Langkahi dulu mayatku', itu artinya
"Tidak usah Justin, biar aku yang mengantarnya sekalian pulang nanti"
Justin mengangguk, sebenarnya dia ingin membantah, dia ingin mengantar Zitao, sebenarnya sejak dulu dia sudah suka pada Zitao tetapi belum berani mengungkapkannya karena Zitao terlihat begitu tertutup, kejadian ini dianggapnya sebagai kesempatan mendekati Zitao, tapi mengingat aura tak nyaman di ruangan ini, Justin memutuskan menyerah, mungkin lain kali, putusnya.
Lalu melangkah ke luar setelah mengangguk pada semuanya, tak bisa menahan untuk mempercepat langkahnya keluar dari situ.
"Aku yang akan membawanya pulang" Yifan bergumam memecah keheningan.
"Kau ada rapat satu jam lagi Yifan" sela ChanLie tajam.
"Batalkan, mereka akan menyesuaikan jadwalnya denganku"
LuHan dan ChanLie hanya bisa berpandangan, lalu mengangkat bahu.
.
.
.
TBC
