Disclaimers: Naruto © Kishimoto Masashi-sensei

Chances © Kyou Kionkitchee

Pairing: Naruto x Sasuke (bisa NaruSasu ataupun SasuNaru)

Genre: Drama/Friendship

Rated: T

Warning: Shounen-Ai, semi-canon, OOC, heavy themes, betrayal, banishing, OC, typo(s). Don't like don't read! Find another story if you hate MxM. I've warned you!

Summary: Sasuke ikut Tim Konoha kembali, meninggalkan Arashi tanpa tahu bahwa sebenarnya pemuda itu adalah Naruto. Akan tetapi, ada seseorang yang memanggil Naruto di momen kesendiriannya. Siapakah dia?

A/N: Ini adalah chapter terakhir. Yang berikutnya adalah epilog. Enjoy~

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Biar saja mau disebut paling bodoh, aku tidak akan menyerah tentang Sasuke!"

"Hmph! Bahkan orang bodoh sepertimu pun mungkin bisa menciptakan keajaiban!"

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Chances

Last chance: To be With You

© Kionkitchee

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Tiada angin berhembus menerpa pepohonan. Dedaunan yang biasa menghiasi jarak pandang mata pun tak tampak menari. Semak yang berbisik sesamanya juga tak acuh… meninggalkan segala bentuk keceriaan yang menghangatkan suasana. Waktu seakan berhenti.

Langkah meringis di atas jalanan berbatu dan ampas daun yang mengering, menuju setitik cahaya yang masih juga bersembunyi di balik kegelapan. Tidak hanya berasal dari satu sumber, tetapi juga beberapa yang mempunyai tujuan sama; membentuk lingkaran yang menjaga sesuatu di tengahnya… seseorang yang menyebabkan keheningan tersebut.

Namaku Uzumaki Naruto, dan kesukaanku adalah ramen!

Sasuke melangkah seolah tanpa nyawa mendiami tubuhnya. Tidak lagi ia berpikir maupun mengingat apa-apa yang telah terjadi selama ini, namun teringat dengan sendirinya. Seolah rekaman memori berjalan dengan otomatis; mengingatkannya akan kesalahan yang kerap diulanginya… dan tak bisa diperbaiki sekeras apa pun upaya yang dilakukan.

Cita-citaku adalah menjadi seorang Hokage, dan suatu saat nanti, aku akan membuat semua penduduk desa mengakui keberadaanku!

Ia takkan mampu menghilangkan gema itu seumur hidupnya. Selamanya, ia akan terus dihantui oleh perasaan bersalah dan penyesalan. Terus dan terus berulang hingga memakan seluruh kewarasannya, lalu gila… mati di atas tumpukan dosa yang tak berkesudahan. Ini adalah balasan yang setimpal. Ini adalah pembalasan yang manis dari apa saja yang membuatnya bernapas. Ini adalah caranya untuk dimaafkan meski ia yakin hal itu takkan pernah datang padanya.

Naruto…

Setiap langkahnya bernapaskan nama itu. Setiap gerakannya menghembuskan nama itu. Setiap helaan napasnya memendarkan nama itu. Tiap-tiap yang dilakukannya, semua menyerukan nama itu… sebagai pengingat… sebagai penanda… bahwa ia sudah terperangkap sungguh pun setelah ia mati… bahwa nama itu sudah memilikinya seutuhnya. Dan ia tak mempunyai niat sepercik pun untuk terlepas dari hal itu. Tidak sekali pun. Jika dengan begitu ia bisa merasakan kehadiran sang pemuda, maka itulah yang akan dipegang teguh olehnya. Jika dengan begitu Naruto bisa ada bersamanya…

Kau memang pandai berbohong, Sasuke-kun.

Sasuke mengangkat kepalanya yang menunduk sedikit. Ia mengenali suara itu yang berbicara dengannya kemarin malam. Kedua bola oniksnya melirak-lirik ke segala arah dengan gerakan lambat. Namun, ia tak menemukan siapa yang berbicara itu.

Aku melihatmu, Sasuke-kun, dan aku bisa menunjukkan diriku padamu jika aku mau.

Memejamkan mata, sang Uchiha menghembuskan napas berat yang tak terdeteksi. Ia lalu bersikap seakan tidak mendengar suara itu. Bukan merasa kerepotan tetapi karena ia merasa dipermainkan. Bisa saja semua hanya ilusinya. Bisa saja semua hanya permainan salah satu dari ninja Konoha yang mengawasinya sambil berjalan itu—bahkan mereka berlima. Ia takkan termakan… ia takkan berpikir lagi.

Wah, kalau begitu aku yang akan kerepotan. Aku membutuhkan kerja samamu untuk menolong saudaraku, Sasuke-kun.

Kedua tangan Sasuke terangkat untuk menutup telinganya. Ia tak mau mendengar lagi…

"Ada apa, Sasuke-kun?" Lee bertanya setelah melihat sang pemuda melakukan hal demikian. Sayangnya, ia tak mendapat jawaban apa-apa. Neji memberinya tanda untuk tetap siaga; mengantisipasi hal mencurigakan yang mungkin saja hendak dilakukan tahanan itu.

Kenapa, Sasuke-kun? Kenapa kau menolak untuk menyadarinya? Padahal ada yang sangat membutuhkanmu di sana.

Kepala pemuda yang bersangkutan mulai menggeleng pelan seakan tidak menerima keberadaan suara yang menggema dalam kepalanya. Ya. Ia memutuskan bahwa suara itu hanyalah suara pikirannya yang belum menerima kenyataan. Kalau ia tetap bersikeras, pasti suara itu akan hilang dengan sendirinya. Pasti suara itu—

Aku bukan sekedar suara dalam kepala, Sasuke-kun. Aku nyata. Aku ada di sekitarmu. Buka matamu baik-baik dan perhatikan. Aku ada di sudut ruang yang kerap kau singkirkan.

"… Hentikan…" desis Sasuke sambil menggeleng kasar.

"Sasuke-kun?" Lee tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya lagi. Memang ada yang aneh dengan sang Uchiha. Kecemasannya menarik perhatian keempat ninja lainnya.

Aku akan berhenti setelah kau menyelesaikan urusanmu, Sasuke-kun.

"Kubilang… hentikan…!" Sasuke semakin menggeleng kasar. Jemarinya kini menjambak erat rambut raven-nya.

"Apa kau sakit?" Kali ini Chouji yang bertanya.

Semakin kau menolak, semakin kau merasa bahwa aku nyata. Kau takkan bisa melenyapkanku dari pikiranmu, Sasuke-kun.

"Sasuke—"

"BERHENTI MEMANGGIL NAMAKU, BRENGSEK!" seru Sasuke dengan mata terpejam erat dan dalam kondisi mencakar kepalanya sendiri. Ia ingin sekali menghancurkan siapa saja yang sudah membuatnya merasa frustasi seperti itu. Ia tak suka mendapati dirinya bisa dikendalikan semudah itu oleh sesuatu yang tak jelas asal-usulnya. Ia takkan membiarkan dirinya dijadikan mainan lagi seperti yang pernah dilakukan Orochimaru dan Madara. Ia ingin menghilang!

"Sial… berhenti… berhenti menggangguku… brengsek…!" desisnya lagi; kini lututnya sudah menyentuh permukaan hutan yang berbatu dan dihiasi dedaunan kering. Jemarinya masih bertahan untuk meraih tengkorak kepalanya dengan menyakitkan… mewarnai kulitnya dengan cairan berwarna merah pekat yang mengalir di pelipis.

Shino menggenggam pergelangan tangan sang Uchiha; menghentikan tindakan tidak masuk akal pemuda itu. "Menyakiti diri sendiri tidak akan menghasilkan apa-apa, Sasuke." Namun, sang pemuda sama sekali tidak bergeming. Malahan, ia seperti membatu dalam kondisi seperti itu. Shino tak bisa menarik jemari itu dari tempatnya membenamkan kuku. Ia mendecak, "Kau ingat yang dikatakan Mori-san, 'kan?"

Yep. Dengarkan kata-kataku, Sasuke-kun~

Seketika, Sasuke menghentakkan tirai matanya membuka. Ia merasa telah mendengar sesuatu yang janggal.

Menyakiti diri sendiri hanya akan membuatmu mati, Sasuke-kun. Itu yang kukatakan, benar?

Dan ia seperti mendengar suara itu berkata padanya sambil tersenyum geli. Sasuke menoleh ke segala arah untuk mencarinya, namun, tetap tidak tampak apa-apa. Ganti ia mendecak kesal karena merasa dipermainkan oleh sesuatu yang tak nyata.

"Oi, rencana macam apa yang ada di otakmu, Uchiha?" Neji bertanya ketus pada pemuda yang masih terlihat bermain dalam dunianya sendiri. "Percuma jika mencoba melawan dalam kondisi seperti itu, kau dengar?" kesalnya karena tidak dipedulikan.

Sesuai yang terlihat, kau memang pandai membuat orang kesal ya, Sasuke-kun.

Yang bersangkutan bangkit berdiri lalu mulai berjalan goyah menuju suara tersebut berasal. Ia berhasil menghentak tangan-tangan yang berusaha menghalanginya, lalu ia pun berlari menuju arah semula. Keempat ninja di belakangnya pun berlari mengikuti, kecuali satu yang berjalan dengan tenang bersama anjing kesayangannya. Pemuda terakhir itu memang tidak mau mengurusi jika sang tahanan bermaksud kabur dari mereka karena ia sudah bilang mengundurkan diri dari misi ini.

Lebih dekat lagi, Sasuke-kun. Aku ada di tempat yang pertama kali terlintas dalam benakmu.

Dan Sasuke berlari mengikuti instingnya. Ia kembali ke jalan awal, lalu membelok dan menghampar di depannya adalah tanjakan menuju bukit tempat Naruto dikebumikan. Ia berhenti. Para ninja di belakangnya pun berhenti. Semua menatap ke arah yang sama. Seolah ada sesuatu yang bermain dalam pikiran, mereka mulai mendaki bukit tersebut, dan waktu terasa berjalan begitu pelan karena apa yang mereka tuju bukanlah yang memanggil batin… melainkan sesuatu yang lebih abstrak lagi.

"Kenapa kita ke sini?" tanya Chouji bingung. Lee menggeleng pelan. "Aku tidak mengerti tapi… seperti ada yang menarikku ke sini…"

"Uchiha," panggil Neji pada pemuda di depannya, "apa yang ada dalam pikiranmu?"

"Neji, sepertinya ia tak bisa mendengarmu," Shino menyahuti setelah melihat kondisi sang Uchiha yang menatap lurus tanpa alihan sedikit pun. Mungkinkah ini berhubungan dengan Naruto? batinnya.

Akhirnya… akhirnya kau bisa mendengarku.

Sasuke dan keempat shinobi Konoha sudah sampai di depan makam yang dihiasi sinar matahari. Di sana, kalung kristal Hokage terlihat lepas dari gundukan batu pengganti nisan; bergulir menyentuh bunga Krisan di bawahnya, terus hingga menyentuh ujung kaki sang Uchiha. Pemuda itu lalu mengambil kalung tersebut dan menatap batu di depannya.

Sadarilah, Sasuke-kun. Siapa yang selama beberapa hari ini merawatmu… menjagamu dengan penuh kasih sayang… dan siapa yang sebenarnya menemukanmu…

Sang Uchiha pun mulai mengingat kembali. Ia memaksa otaknya untuk berpikir tentang semua hal yang terjadi selama ia di hutan ini… selama ia bersama Arashi.

"Tidak sabaran ya, Kau ini! Setelah mengganti perbanmu, baru akan kujawab!"

"Lebih baik kau tidak memaksakan diri, Sasuke. Aku tahu kau tidak mau terlihat lemah tapi bersabarlah sampai lukamu sembuh,"

Kala itu, ia merasa tidak suka dengan orang yang dengan seenak hati menyuruhnya. Padahal mereka baru saja bertemu, dan merupakan orang asing. Ia ingat betapa tangannya ingin memukul pemuda itu.

"Siapa yang 'tidak tahu malu', Brengsek! Namaku Arashi!"

Namun, yang selanjutnya terlontar dari mulut sang Mori adalah kalimat yang mengingatkannya akan Naruto. Ia tahu betul bahwa sang Uzumaki sering mengatainya 'brengsek'—bahkan, ia hapal dengan nada yang pemuda itu gunakan sewaktu menghinanya. Akan tetapi, ia merasa tidak boleh meleburkan Naruto dengan Arashi. Bagaimana pun ia memohon, mereka adalah pribadi yang berbeda. Ia harus tahu diri.

"Oyasumi,"

Samar-samar di batas kesadarannya tempo itu, ia merasa mendengar seseorang berbisik dengan lembut. Dengan nada yang pernah ia dengar sewaktu ibunda mengantarnya tidur dulu, mimpi akan Naruto membawanya ke alam lain, dan ia diingatkan akan pertemuan pertamanya dengan sang pemuda setelah tiga tahun berpisah. Padahal, sebelumnya ia hanya bermimpi tentang Itachi dan pengkhianatannya.

"Gomenne…"

Kemudian, sewaktu di tempat ia berdiri sekarang; di makam, yang mana ia tertidur setelah kelelahan menangis, ia masih bisa mendengar setitik penyesalan itu dari sang Mori. Saat itu, sempat terpikir olehnya pertanyaan 'mengapa' yang lalu ia lupakan. Apa Arashi menyesal telah membawanya menemui Naruto yang hanya tinggal nama? Tidak. Ada sesuatu yang lebih dari itu.

"Ini 'kan rumahku. Memangnya kau pikir aku akan tidur di luar?"

Sahutan yang waktu itu dianggapnya bodoh justru semakin mengingatkannya akan pemuda yang telah hilang. Sebab, ia bepikir bahwa Naruto akan berkata seperti itu jika suatu hari nanti ia berkunjung dan menginap di rumahnya. Mimpi… semua itu takkan pernah terjadi… Naruto sudah tiada dan ia tak bisa melakukan apa-apa untuk menghidupkannya.

"Oh, syukurlah!"

Tidak. Tunggu dulu. Ia mengingat sesuatu setelah Arashi bertanya apakah lukanya masih terasa sakit sekali. Saat itu, ia menjawab 'tidak' dengan menggumamkan 'hn', dan pemuda berambut merah itu mengerti maksudnya. Bukankah itu sedikit mencurigakan? Sepanjang hidupnya, ia selalu disebut-sebut sebagai orang yang susah dimengerti, dan yang bisa memahami segala ucapan serta perbuatannya dengan jelas barulah satu orang… hanyalah seorang. Kenapa Arashi bisa memahaminya dengan mudah?

"Naruto tidak pernah menyesal bertemu denganmu, Sasuke. Satu-satunya penyesalan dalam dirinya adalah bahwa ia tak bisa bertemu denganmu untuk yang terakhir kali…"

Ah, ia mengingat yang satu itu. Arashi mengucapkan kalimat itu bukan dengan nada 'yang mengerti' layaknya seorang kakak mengerti permasalahan adiknya, melainkan dengan nada 'yang mengalami'… seperti mengalaminya sendiri. Apa itu berhubungan dengan masa lalunya yang misterius? Ataukah sebenarnya—

Sedikit lagi, Sasuke-kun. Galilah sedikit lagi.

Suara itu kembali berkata padanya, dan Sasuke semakin mencurigai kenyataan yang terlihat. Apa yang sebenarnya ingin suara itu sampaikan padanya?

"Atau kau mau ikut denganku mencari kayu bakar? Sesekali mengganti suasana tidak apa, 'kan? Cepat mandi dan ganti baju lalu kita pergi!"

Sewaktu mengajaknya, Arashi tidak terdengar seperti pertama kali bertemu dengannya. Pemuda itu menjadi lebih terbuka dan ceria. Apa itu karena akhirnya ia diterima dengan tangan terbuka? Atau ada hal lain di baliknya? Ia ingat sempat menolak, namun, Arashi pura-pura tak mendengarnya dan malah menyuruhnya cepat. Ia juga sedikit terkejut ketika mendapati dirinya setuju begitu saja tanpa perlawanan berlebih. Begitu besarkah pengaruh orang asing tersebut?

"Pasti Naru-chan akan senang mengetahui kau ada di sini…"

Nenek di desa non-shinobi mengatakan itu sambil melirik Arashi seolah yang akan senang adalah pemuda bermata hijau itu. Wajah sang nenek juga menjadi cerah ketika diberitahu bahwa ia akan tinggal bersama Arashi—bahkan berkata tidak perlu cemas meninggalkan pemuda itu sendiri. Kenapa reaksinya seperti merujuk pada… Naruto sendiri?

"Sampai kapan kau akan terus begini, Sasuke? Kau tidak lemah, tahu!"

Lagi, ketika ia mengunjungi makam Naruto untuk ke sekian kali. Samar-samar ia mendengar Arashi mengucap kalimat itu padanya. Seolah ia mengenalnya dengan baik… seolah ia memahami seberapa kuat dirinya… seolah kesal karena temannya menghilang. Kenapa? Padahal mereka baru bertemu… padahal mereka asing satu sama lain! Kenapa ia seperti mengenalnya?

"Dan Sasuke, kau tidak bisa ke mana-mana dengan senjata ninja terarah padamu, 'kan? Bagaimana sekarang?"

Lalu saat ia terkepung oleh kunai tajam milik shinobi Konoha yang saat ini masih berada di belakangnya seperti peliharaan setia, Arashi bertanya seolah menyindir bahwa ia tak bisa berbuat apa-apa. Saat itu, ia merasa sedang dihina olehnya… yang bagai terlontar dari mulut Naruto sendiri ketika pemuda itu menantangnya.

Kami-sama, ia harus segera menghentikan pikirannya yang mulai tidak logis itu.

Jangan berhenti, Sasuke-kun! Sedikit lagi kau akan mendapatkan jawabannya!

Benarkah…? batin Sasuke yang kini berganti memandang matahari tanpa peduli bahwa ia bisa buta jika terus melihat terik sinarnya.

"Ingat yang kukatakan tentang menyakiti diri sendiri, Sasuke? Kalau sudah mengerti, kenapa kau malah melakukannya, Brengsek! Naruto tidak akan suka mengetahui kau yang seperti ini, kau dengar itu!"

Itu… kalimat yang diucapkan Arashi sewaktu ia ingin menghabisi diri sendiri dengan kunai di tangan Neji. Namun, mengapa bisa terdengar seperti terlontar dari mulut Naruto? Ada apa sebenarnya?

"Bertahanlah, Teme…"

"Ore wa… koko ni iru… Sasuke…"

Malam berbadai, Arashi membuatnya pingsan. Ia pun bermimpi tentang Naruto… tentang pemuda berambut pirang dan bermata biru yang menatapnya sendu seakan ingin memanggilnya namun tak bisa. Ia seperti ada dan tiada dalam celah kosong antara cahaya dan kegelapan… menunggu seseorang—dirinya menyadari keberadaannya.

"Kalau kau pergi bersama mereka dengan niatan mati, aku takkan membiarkanmu, Sasuke!"

Cukup… CUKUP!

Jangan ingatkan lagi tentang orang itu! Jangan ingatkan lagi tentang Naruto yang sudah pergi meninggalkannya! Sudah cukup…

Naruto sudah tiada, dan Sasuke harus menjalani sisa hukumannya. Ingatan akan seseorang yang berharga malah semakin membuatnya tak ingin kembali ke penjara. Ia tak butuh hal itu karena ia ingin segera menyusul sahabatnya. Ia tak butuh hidup di dunia lebih lama lagi.

Benarkah kau berpikir begitu, Sasuke-kun? Apa kau yakin Naruto benar-benar sudah tiada? Apa kau yakin yang menyelamatkanmu di hari berbadai itu adalah aku?

Sasuke menundukkan wajahnya lagi dengan mata yang semakin membelalak. Apa… maksudnya itu?

Aku sudah bilang, Sasuke-kun. Kau sebenarnya sudah menyadarinya. Hanya saja, logikamu menolak karena tidak mungkin orang mati bisa hidup lagi—yah, kalau bisa menggunakan jurus ninja sih mungkin saja.

Ia menatap kalung kristal di tangannya. Chakra yang ia rasakan hampir sama dengan yang menyelubungi gubuk itu. Padahal, awal ia menyentuhnya, kristal itu hanya terasa seperti Naruto, namun kini—

Belum terlambat. Kau belum terlambat untuk menghadapinya. Raihlah sesuatu di dasar hatimu, Sasuke-kun, maka kau akan mendapatkan jawabannya.

Jemari kiri sang Uchiha yang tidak memegang apa-apa bergerak untuk bersentuhan dengan letak jantung. Berdetak… berdetak dengan cepat… dan bersamaan dengan ritme yang ditimbulkan, ia mengingat kepingan terakhir dalam benaknya. Kepingan yang berisi airmata dari bola hijau Arashi setelah pemuda itu mendengar Kiba begitu memikirkan Naruto… kemudian, sikap rubah itu yang menunjukkan empati pada orang selain Naruto… dan pelukan terakhir sebelum ia pergi.

Benar, Sasuke-kun. Itulah jawabannya.

Jadi…

"Hei, Uchiha!" kesal Neji. "Apa yang kau rencanakan—"

"Bukan Naruto…" Sasuke melangkah mundur, "ini bukan makam Naruto…" Ekspresi campur aduk bermain di wajahnya, membuat yang melihat merasa bingung.

"Apa maksudnya ini bukan makam Naruto?" tanya Chouji.

Sang Hyuuga mengenggam bahu pemuda Uchiha. "Kalau kau tidak segera menjawabku—" Sayangnya, tahanan penjara internasional itu sudah keburu lari menuruni bukit. "KEJAR!" perintahnya pada keempat orang rekannya. Mereka pun berlari mengejar Sasuke yang seperti kesetanan. Larinya sangat cepat seakan mengejar sesuatu yang telah pergi menjauh dan tidak dapat diraih. Yang mereka ketahui adalah bahwa pemuda itu berlari menuju satu-satunya gubuk yang ada di sana… tempat Arashi berada.

"Hei, apa maksudmu tadi itu bukan makam Naruto-kun, Sasuke-kun?" Lee bertanya sambil lari. Baru ia yang menyamai gerakan sang Uchiha yang melebih normal itu. "Apa ada yang memindahkannya?" Dari belakang, Kiba mengekeh kecil lalu menyahuti, "Maksudnya yang dikubur di sana bukan Naruto, Lee!"

"Kalau bukan Naruto, lantas siapa?" tanya Chouji. Shino mendengus sembari menjawab pelan, "Kemungkinan terbesar adalah…"

Sasuke berhenti, tepat di pintu hutan dan di depan ladang sang Mori. Kelima shinobi di belakangnya pun berhenti, dan mereka berenam mendapati pemandangan yang sama. Di sana, di teras gubuk yang dialiri chakra, tampak Arashi bersandar pada Kyuu yang menjilati wajahnya sementara jemari kecoklatannya mengelus dagu panjang hewan itu. Mereka terlihat seperti saling menghibur dengan pendaran keluarga yang begitu akrab… membuat sang Uchiha terpana dan melangkah mendekat.

"… Naruto?"

Dan perlahan mata Sasuke membulat lebar ketika Arashi menoleh ke arahnya. Ia memperhatikan bagaimana sosok di depan sana berubah secara bertahap; dari warna merah yang menguning, hijau yang membiru… dan tiga garis cakar yang membentuk di pipi sang pemuda. Yang terpampang berikutnya adalah seseorang yang selama ini selalu dirindukannya… selalu disayanginya…

"Sasuke? Kenapa kembali…" Sosok itu menghentikan tanyanya setelah menyadari bahwa pemuda Uchiha itu memanggilnya dengan nama asli. Ia merasa Kyuu mengelus-eluskan kepala ke kakinya seperti ketika mantan siluman itu memperlakukan ia yang sebenarnya. Apakah itu berarti…

"Naruto…" Sasuke melangkah lambat seperti ditahan sesuatu yang membelenggu kakinya. Namun, ia harus segera ke sana. Ia harus segera ke tempat mataharinya berada. Ia harus ke sisi Naruto!

Arashi memang tak salah dengar. Pemuda Uchiha itu memanggilnya 'Naruto' yang menandakan bahwa ia sudah menyadari siapa dirinya yang sesungguhnya… juga sebagai pertanda bahwa ia bisa berhenti berlaku sebagai Mori Arashi. Sasuke telah menyadarinya… Sasuke mengenalinya!

"Sasu—"

BUAGH!

Dengan telak, sebuah tinju menghantam pipi Naruto sehingga pemuda itu tersungkur dan nyaris membentur ujung tiang penyangga kalau Kyuu tidak menjadi bantalannya. Pelaku dari tindakan itu tak lain tak bukan adalah sang Uchiha sendiri yang dengan cepat berada di hadapannya.

"Ittai na, Teme!" (1)

"Kau…" Sasuke berusaha menenangkan napasnya yang memburu, "pantas mendapatkannya…" jemarinya masih mengertak keras oleh sesuatu yang tidak diketahui. Ia hanya merasa sangat marah… dan lega.

Naruto mengusap-usap pipinya. "Yeah, kurasa aku pantas mendapatkannya…" gumamnya sambil berdiri. Ia menghadap sang Uchiha yang masih terlihat marah dan bersiap memukulnya lagi. Sayangnya, kali ini ia tidak akan membiarkan dirinya dipukul karena sebagian besar dari apa yang terjadi bukanlah salahnya. Ia melakukannya karena HARUS… kesepakatan dengan hutan bukanlah hal main-main, dan ia bukan orang yang akan melanggarnya.

"Aku masih ingin memukulmu…" desis Sasuke yang menahan diri, "tapi percuma…"

Naruto menaikkan sebelah alisnya sejenak sebelum tersenyum kecil. "Kalau begitu, lakukan yang lain saja," ujarnya yang lalu memeluk sang Uchiha erat dan lembut di saat yang bersamaan. Ia menenggelamkan wajahnya di leher pemuda yang belum membalas pelukannya. Tubuhnya mulai gemetaran setelah bola langitnya meneteskan embun dengan sempurna.

"Akhirnya… akhirnya kau mengenaliku, Teme…"

Tak bisa bertahan lebih lama, Sasuke menggenggam erat kain punggung sang Uzumaki dan melakukan hal yang sama. Ia benamkan wajahnya di leher Naruto sembari menumpahkan seluruh emosi terpendamnya.

"Dobe…"

Benar, Sasuke-kun, Naruto masih hidup.

Sementara kedua orang itu bercengkerama, kelima shinobi yang menyaksikan termenung. Bukan karena sulit menerima perubahan Arashi menjadi Naruto, atau bahkan tentang pemuda itu yang berpelukan dengan Sasuke, melainkan posisi mereka sebagai ninja pemburu. Mereka bingung harus bagaimana menyikapi keadaan setelah ini. Sebagai buronan, Sasuke harus segera dikembalikan ke penjara internasional, namun, mengetahui Naruto masih hidup, sangat berat untuk melakukannya. Seperti yang Kiba katakan, apakah mereka sanggup memisahkan kedua orang itu lagi? Meskipun mereka memang nyaris melakukannya, mereka hanya setengah hati. Bagaimana sebaiknya?

"Ayo pulang, Akamaru!" seru Kiba mengajak anjingnya meninggalkan hutan. "Urusan kita sudah selesai~" Akamaru menggonggong setuju.

Shino menaikkan sebelah alisnya. "Kiba," panggilnya pada sang Inuzuka yang terlihat mencurigakan, "apa maksudmu?"

Pemuda berambut coklat itu nyengir kuda sebelum membalas, "Aku akan mengatakan pada Shikamaru bahwa Uchiha Sasuke sudah mati. Itu saja~"

"Kiba…" Lee sedikit terkejut dengan kalimatnya. Namun, sedetik kemudian, ia berseru, "Yosh! Kita lakukan itu!" sambil meninju udara. Chouji yang berdiri di sebelahnya mengangguk puas. Ia yakin sahabatnya di Konoha akan mengerti maksudnya.

"Jelaskan, Kiba," Shino masih meminta penjelasan dari temannya sejak kecil itu. Ia melihat sang Inuzuka menghela napas panjang sebelum menjelaskan.

"Setelah kita keluar dari Suna, apa kalian tidak aneh mendapati hutan setelah gurun pasir yang panjang? Saat itu, aku merasa ada sesuatu yang membimbing kita masuk ke dalamnya, dan ternyata, kita masuk ke hutan tempat aku latihan bersama tousan. Kalau aku tidak salah ingat, hutan ini disebut sebagai hutan penebusan dosa. Hanya orang yang telah kehilangan segalanya dan ingin kesempatan kedualah yang bisa memasukinya. Waktu itu, aku bisa masuk bersama tousan dan Akamaru karena tousan pernah menolong seorang lelaki yang kelelahan, dan kalian tahu, dia mirip sekali dengan Mori-san. Mungkin saja beliau yang membimbing kita kemari,"

Neji bertanya, "Kenapa kau tidak segera mengatakannya?"

Mendecak, Kiba membalas, "Aku berada dalam mode diam, kau lupa? Aku merasa mati setelah Naruto pergi karena aku tidak percaya ia tega meninggalkan desa. Tetapi, aku lebih merasa marah pada tetua sialan yang ternyata memang mengasingkannya!" geramnya. Sejenak, ia diam; memikirkan kalimat yang akan diucapkannya. "Dan karena sekarang terbukti Naruto masih hidup dalam keadaan sehat, lalu bertemu dengan Sasuke yang memang kabur dari penjara untuk mencarinya, aku tidak akan menghancurkannya!" tegasnya—dibarengi oleh gonggongan Akamaru.

Chouji menyunggingkan cengiran lebar. "Setuju!" Lee pun demikian.

"Kau terdengar seperti menjodohkan mereka," gumam Shino. Kiba nyengir, "Kau juga tahu bagaimana perasaan mereka terhadap satu sama lain, 'kan?" Sang Aburame hanya menyeringai di balik tudung jaketnya.

Hyuuga muda yang mendengar semua reaksi itu menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah dua pemuda yang masih saling menumpahkan perasaan mereka, lalu tersenyum tipis. Mungkin ide itu bagus juga… batinnya. Namun, ia masih bingung bagaimana keluar dari hutan ini tanpa harus berjalan dan melakukan sebagainya dalam kurun waktu seminggu.

Jika kau memohon untuk keluar dengan sungguh-sungguh, jalan akan terbuka dengan sendirinya.

Neji mendengar suara dalam kepalanya. Ia mencari sumber suara itu, lalu menemukannya di sisi lain hutan yang menghadap ke gubuk. Seorang lelaki berbalut kimono putih bercorak etnik, berambut merah panjang diikat tinggi, bermata hijau, dan berkulit putih pucat tersenyum padanya. Lelaki itu mengangguk sopan yang juga dibalas Neji dengan kesopanan yang sama. Sosok itu kemudian menunjuk ke suatu arah, dan sang Hyuuga mengerti. Ia pun berpaling ke rekan-rekannya.

"Ikimashou," ujarnya sambil berbalik. Keempat shinobi lainnya mengangguk lalu mengikutinya… meninggalkan dua pemuda untuk menjalani hidup mereka yang baru.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Sasuke, kalau kau bisa ke masa lalu, apa yang akan kau ubah?"

"… Hn. Omong kosong."

"Hei, jawab saja!"

"… Kau?"

"Ckk, Teme! Aku yang nanya tahu! Tapi ya sudahlah. Akan kujawab. Kalau aku bisa ke masa lalu, aku tidak ingin mengubah apa-apa…"

"… Terus kenapa menanyakan hal itu?"

"Heeh… aku 'kan penasaran…"

"… Hn. Jawabanku sama."

Karena pada akhirnya, mereka bersama; memulai kehidupan di kesempatan baru yang tercipta dari tangan mereka… seperti yang pernah Mori katakan.

END?

(1) Itai na, Teme!: Sakit, Brengsek!

Masih ada epilogue kayaknya. Nantikan minggu depan ya~

Reviews? Flames are waste~ ^^

_KIONKITCHEE_