Pair : Sasuhina

Rate : M

Genre : Angst, Romance, Drama

warning : Typos, OC, Only for 18+, Full of Drama, etc


It Can't be

"Pakai ini". Sasuke memberikan jaket metallic hitamnya pada Hinata saat mereka akan turun dari mobil.

Hinata hanya memandang jaket itu sekilas. "I-itu tidak perlu Uchiha-san… A-aku baik-baik saja…".

"Terserah…". Sasuke menarik kembali tangannya dan membuang jaketnya sembarang.

Hinata turun dari mobil dan melihat sebuah gedung yang ia tahu adalah klub malam tepat berada di depannya. Ia sama sekali tidak tahu alasan kenapa Uchiha membawanya ke tempat ini. Ya, semuanya terjadi begitu saja. Setelah keluar dari hotel, ia menolak ajakan Kiba dan Shino untuk mengantarnya pulang karena ia sudah meminta sopir taksi untuk menunggunya. Tapi saat ia keluar, taksi yang ia tumpangi sebelumnya sudah tidak ada. Padahal ia sangat yakin sudah meminta sopir taksi itu untuk menunggunya sampai ia keluar dari hotel. Ia mencoba menghubungi sopir itu, tapi percuma saja karena nomor sopir maupun nomor perusahaan taksi yang ia tahu tidak bisa di hubungi. Saat ia mulai frustasi, tiba-tiba saja Uchiha Sasuke datang dan memaksanya mengikutinya. Dan di sinilah mereka sekarang.

"Apa yang kau tunggu?".

"Ke-kenapa kau membawaku ke tempat ini Uchiha-san?". Tanyanya takut.

"Kau akan tahu saat kita masuk ke dalam…".

"A-aku tidak mau… aku akan pulang sekarang…". Hinata berbalik ingin meninggalkan tempat itu, tapi dengan cepat Sasuke mencekal lengannya.

"Ck… Aku memberimu dua pilihan Hyuuga… Kau ingin jalan sendiri… atau kau ingin aku menyeretmu masuk ke dalam?".

"A-apa?".

"Aku tidak akan melakukan apapun padamu, bodoh…".

"La-lalu katakan alasanmu membawaku ke sini Uchiha-san…". Hinata mencoba melepaskan tangannya.

"Sudah kubilang, Hyuuga… Kau akan tahu saat kita masuk ke dalam…". Sasuke mulai geram dan menarik paksa Hinata.

"I-ittai…".

Mendengar Hinata yang meringis kesakitan membuat Sasuke menghentikan langkahnya dan menghadap gadis itu. "Ck. Sekarang kau mau jalan sendiri?".

"Ha-hai…". Hinata mengusap lengannya yang sakit saat Sasuke melepas tangannya.

"Tetaplah di belakangku…".

Sasuke berjalan di depan dan Hinata mengikutinya dari belakang. Saat mereka masuk ke dalam, musik yang sangat keras mulai terdengar. Hinata mencoba terus mengikuti Sasuke. Tapi saat berada di kerumunan, mereka berdua terpisah karena Hinata tidak bisa mengikuti langkah Sasuke yang lebih capat darinya dan dia sendiri terjebak berada di antara kerumunan orang yang menari di atas lantai dansa.

"A-ah go-gomenasai…". Ia terus meminta maaf berulang kali saat ia tidak sengaja menabrak orang-orang yang ada di sana. Ia mencari keberadaan Uchiha Sasuke, tapi ia sama sekali tidak bisa melihatnya maupun menemukannya karena tempat itu sangat gelap dan hanya di terangi dengan sinar lampu disko.

"Hei manis… apakah kau sendirian?". Hinata kaget saat ada pria mabuk menghadangnya.

"Su-sumimasen…". Hinata memilih mengabaikannya dan pergi menjauh, tapi pria mabuk itu berhasil meraihnya.

"Jangan buru-buru pergi… temanilah aku malam ini saja… kau ingin aku membayarmu berapa hmm? Aku bisa memberikan apapun untukmu…". Pria itu mulai berani mengelus leher dan pundak Hinata yang halus lalu turun ke dadanya.

"Le-lepaskan aku…" Hinata dengan cepat memberontak dan mendorong pria itu saat ia merasakan tangan pria itu menyentuh dadanya. Saat melihat pria mabuk itu limbung, ia segera pergi. Tapi tiba-tiba ia merasakan seseorang mencekal tangannya lagi dan menariknya. "Ti-tidak… kumohon lepaskan aku…". Teriaknya ketakutan.

"Ini aku, bodoh… Bukankah sudah kubilang untuk terus berada di belakangku? Kau ini kemana saja hah?".

"U-Uchiha-san?". Ia lega saat tahu bukan pria mabuk itu yang menariknya.

"Kau ini benar-benar-". Kalimatnya terhenti saat Hinata tiba-tiba memeluknya.

"Hiks… a-aku takut…". Hinata menangis sesenggukan sambil terus memeluk Sasuke dengan erat.

Sasuke sendiri hanya terdiam. Ia sama sekali tidak membalas maupun menolak pelukan Hinata. Hanya saja saat Hinata memeluknya, ia merasakan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak bisa mendeskripsikannya. Ia hanya menerima pelukan itu sambil memandang lurus ke depan. Di sana ia melihat teman bodohnya sedang berpagutan dengan gadis berambut merah muda yang juga merupakan teman masa kecilnya. Melihat Hinata yang sedang menangis, membuatnya mengurungkan niatnya. Padahal ia membawa Hinata ke tempat ini adalah untuk memperlihatkan bagaimana sahabat bodohnya sangat memuja gadis berambut merah muda itu dan ia juga berencana membuat Hinata merasakan sakit hati melihat mereka bersama, lalu membuatnya tidak akan lagi bisa percaya dengan harapan, cinta, ketulusan atau apapun itu. Saat mengeluarkan mobilnya dari basement hotel, ia mendapat telepon dari anak buahnya sekaligus teman sekelasnya saat SMA, bahwa kedua teman masa kecilnya itu datang ke tempat ini. Ia sama sekali tidak tahu kenapa anak buahnya itu selalu memberitahunya tentang keberadaan kedua temannya. Jika biasanya ia mengabaikannya, maka tidak dengan hari ini. Entah kenapa ia harus melakukan sesuatu. Ia dengan waktu singkat merencanakan semuanya. Pertama, ia menyuruh para peretas handal yang ia kenal untuk mencari tahu apakah ada seseorang yang bernama Hyuuga Hinata memesan taksi malam ini dengan tujuan Sheraton grande tokyo hotel, karena ia tahu gadis ini tidak pernah membawa mobil jika bepergian. Kedua, saat ia tahu jika Hinata memang memesan taksi, ia menyuruh peretas itu untuk meretas nomor perusahaan taksi dan menyuruh sopir taksi kembali ke perusahaan saat itu juga. Ketiga, saat ia melihat taksi yang keluar dari hotel tanpa penumpang yang ia yakini adalah taksi yang ditumpangi Hinata, ia langsung menyuruh peretas itu meretas nomor perusahaan taksi dan nomor sopir taksi itu agar tidak bisa dihubungi. Keempat, Ia hanya harus menunggu di dalam mobil yang ia parkirkan di depan hotel sampai Hinata keluar. Rencananya hampir gagal sebelumnya, karena ia melihat dua orang pria yang ia kenal sebagai Aburame Shino dan Inuzuka Kiba mengantar Hinata keluar hotel dan seperti ingin menawarkan tumpangan untuknya. Tapi ia menyeringai saat melihat Hinata sepertinya menolak tawaran mereka. Kelima, saat ia melihat Hinata frustasi mencari taksi yang ia tumpangi dan mencoba menelepon seseorang, ia menghampirinya dan langsung memaksanya masuk ke dalam mobilnya.

"Kita keluar sekarang…". Ia melepas jas yang ia pakai dan memakaikannya pada Hinata untuk menutupi punggung dan pundak gadis itu.

"U-un…". Hinata mengangguk cepat.

Mereka berjalan menembus kerumunan dengan Sasuke yang menggandeng tangan Hinata. Akan tetapi tiba-tiba seseorang menghampiri mereka, lebih tepatnya menghampiri Hinata.

"Dasar jalang… berani sekali kau mendorongku tadi huh?". Pria mabuk yang tadi menghadang Hinata kembali menghampirinya dan menarik lengannya. Sepertinya ia tidak menyadari ada seseorang yang bersama gadis itu di sisinya.

Dengan cepat Sasuke menarik kerah pria itu. "Ck. Brengsek…"

-Bughhh-

Satu bogem mentah berhasil membuat pria mabuk itu mimisan dan pingsan. Sasuke ingin memukul pria yang pingsan itu lagi, tapi Hinata berhasil menghentikannya. Setelah itu Sasuke menarik Hinata keluar dari tempat itu.

"BUKANKAH SUDAH KUBILANG UNTUK MEMAKAI JAKETKU SEBELUM MASUK KE DALAM HUH? DAN AKU JUGA SUDAH BILANG AGAR KAU TETAP DI BELAKANGKU… TAPI APA YANG KAU LAKUKAN?". Sasuke menendang tong sampah stainless di tempat parkir dan membuat sampah di dalamnya tumpah berserakan. Ia juga sama sekali tidak tahu kenapa ia tiba-tiba begitu sangat marah. "KENAPA KAU BEGITU BODOH, HYUUGA…".

"Hiks… Go-gomenasai…".

"BERHENTI MENANGIS, BODOH…".

Hinata tersentak kaget mendengar Sasuke meneriakinya.

Sadar gadis di depannya sesenggukan dan terlihat ketakutan, Sasuke mulai menenangkan diri. "Ikut aku…". Ia menarik tangan Hinata menuju minimarket yang tidak jauh dari klub malam itu. "Duduk dan tunggu aku di sini…". Melihat Hinata menurutinya, ia beranjak masuk ke dalam minimarket itu.

Beberapa saat kemudian…

Sasuke keluar dengan membawa dua es krim kerucut di tangannya. "Ini". Ia menyerahkan es krim rasa vanilla pada Hinata dan rasa coklat untuk dirinya sendiri.

Hinata menerima es krim itu, tapi sama sekali tidak memakannya. Ia hanya diam dan menunduk dalam.

Sasuke yang menyadarinya langsung membuka suara. "Cepat makan itu, dan aku akan mengantarmu pulang".

"Go-gomenasai Uchiha-san…". Gumamnya pelan. Tapi Sasuke masih bisa mendengarnya.

"Hn". Ia sama sekali tidak ingin berdebat.

Hinata memakan es krimnya dengan pelan sambil menghapus air matanya.


It Can't be

Beberapa saat yang lalu…

"Sudah cukup Sakura-chan… kau jangan minum lagi…". Naruto mengambil gelas di tangan Sakura.

"Aku masih hik mau minum Sasuke-kun…". Sakura sudah sangat mabuk. Ia bahkan menganggap Naruto adalah Sasuke.

"Hentikan itu… Kita pulang sekarang…". Naruto mencoba memapah Sakura, tapi gadis itu menolaknya dengan keras. "Aku bahkan sudah memberitahu Ino bahwa aku sedang mengantarmu pulang, dattebayo~".

"Waahhh kau bicara seperti hik Naruto saja Sasuke-kun…". Sakura tertawa antusias dan menyentuh kedua pipi Naruto. "Aku kan hik selalu ingin menghabiskan waktu bersamamu Sasuke-kun… kenapa kau hik selalu saja menolakku?".

"Berapa kali sudah kubilang… aku memang Naruto, dan bukan Sasuke…". Naruto menurunkan kedua telapak tangan Sakura yang menyentuh pipinya. "Jangan membantah lagi… kita pulang sekarang…".

"Aku tidak mau pulang Sasuke-kun…"

Naruto mulai geram. "Terserah kau saja… lebih baik aku pergi dari sini…".

Belum sempat Naruto berdiri, Sakura meraih tangan Naruto dan melumat bibir pemuda itu dengan rakus.


It Can't be

"Ada apa?". Shikamaru yang baru saja keluar dari kamar mandi terlihat bingung saat melihat kekasihnya itu berbaring di tempat tidur dengan wajah yang kesal. Mereka berdua menginap bersama di salah satu kamar hotel tempat sepupu Ino mengadakan pesta.

"Dei-nii sangat menyebalkan… Hampir saja tadi aku berhenti bernapas dan jantungku berhenti berdetak…".

Shikamaru yang mendengarnya ingin sekali tertawa. "Kau berlebihan… memangnya ada apa?".

Ino mengubah posisinya menjadi duduk dan menatap Shikamaru. "Begini… tadi aku ke kamar Dei-nii dan protes padanya tentang ia memperkerjakan Sai-kun… saat Dei-nii sudah selesai menjelaskan dan menenangkanku, aku beranjak akan keluar dan kembali ke sini… Tapi tiba-tiba…"

Flashback

Ino PoV

"Apakah Sasuke dan temanmu yang bernama Hinata itu menjalin hubungan?". Tanya sepupuku membuatku mengerutkan kening.

"Tidak... Memangnya kenapa?".

"Aneh sekali... sepertinya tadi aku melihat mereka berciuman...".

"APA?". Aku membulatkan mata tidak percaya mendengar apa yang di katakan sepupuku. "A-apa kau serius?". Aku menatap sepupuku yang lama-kelamaan ekspresinya mulai berubah

"Pfffttttt lihat wajahmu itu hahahaha kau hahaha sudah lama aku tidak melihat wajahmu seperti itu… hahahaha". Aku melihatnya tertawa terpingkal-pingkal. "Padahal aku cuma bercanda hahahaha". Sepupuku tertawa terbahak-bahak dan bahkan aku bisa melihat sudut matanya mengeluarkan air mata.

Sudah kuduga, seharusnya aku tidak mendengarkannya. "Baka aniki…"

-BLAMMM-

Aku langsung keluar dari kamar dan membanting pintu dengan keras.

Ino PoV end

Flashback End

"Menyebalkan sekali kan?". Ino mendengus kesal bangkit dari tempat tidur dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi.

Setelah yakin kekasihnya itu sudah masuk ke dalam, ekspresi Shikamaru berubah serius. Ia teringat kembali situasi Hyuuga Hinata dan Uchiha Sasuke saat di pesta.


It Can't be

"A-arigato Uchiha-san…". Hinata berterima kasih setelah ia menghabiskan es krimnya dan suasana hatinya mulai tenang.

"Hn".

"A-ano… e-etto… Uchiha-san…".

"Kita pulang". Sasuke berdiri dan berjalan ke tempat dimana mobilnya terparkir.

"Ha-hai…". Hinata mengikutinya dari belakang.

"Ambil ini". Sasuke melempar kunci mobilnya pada Hinata. "Kau yang menyetir".

"A-apa? Tapi Uchiha-san…". Percuma saja jika Hinata ingin menjelaskan. Sasuke sudah masuk ke dalam mobil tanpa mau mendengarkannya dan duduk di kursi penumpang samping kemudi. 'Bagaimana ini?'. Tidak ada pilihan lain, Ia terpaksa harus menyetir jika ia ingin cepat sampai ke apartemen. Ia sedikit kesulitan masuk ke dalam mobil seperti sebelumnya, karena posisi jok mobil yang rendah dan ruangannya lebih sempit dari mobil biasa. Apalagi dengan pakaian yang ia kenakan. Saat ia berhasil masuk, ia terdiam cukup lama.

"Ck. Apa yang kau lakukan?". Sasuke mulai geram melihat gadis yang duduk di sampingnya terlihat melamun.

"A-ah tu-tunggu sebentar Uchiha-san aku-"

"Pakai sabuk pengamanmu".

"A-ah hai". Setelah memasang sabuk pengamannya, Hinata kembali terdiam.

"Kau tidak bisa menyetir?".

"A-aku bisa…".

"Lalu tunggu apa lagi?".

"E-etto… Uchiha-san aku…".

Sasuke menghela napas. "Menyetir mobil sport sedikit berbeda dengan cara menyetir mobil biasa…".

"E-eh? Benarkah?". Ia langsung menatap Sasuke terkejut.

"Sekarang nyalakan mesinnya…". Tanpa menjawab Hinata, ia langsung memberi perintah padanya.

"Ta-tapi…"

"Apa yang kau takutkan? Aku di sini bersamamu…". Suaranya mulai melunak. "Injak rem dan putar kunci di bawah stir…"

"Ha-hai…". Hinata melakukannya sesuai perintah Sasuke. Mesin mulai menyala.

"Pilih transmisi yang kau inginkan… Geser ke kiri kalau kau ingin menjalankannya secara otomatis… dan geser ke depan untuk manual….".

"Ha-hai…". Akhirnya ia memilih manual.

"Sekarang jalankan mobilnya seperti biasa…"

"Ha-hai…".


It Can't be

"Itu kan… mobil Sasuke…". Naruto yang baru saja keluar dari klub malam sambil memapah Sakura sedikit terkejut melihat mobil Sasuke yang melaju meninggalkan tempat itu.

"Apa? Uweekkk".

"Sa-Sakura-chan… jangan muntah di-". Percuma saja. Sakura sudah memuntahkan isi perutnya ke bajunya. "Tu-tunggu, muntahkan di sana… di sana saja Sakura-chan…". Dengan cepat ia menggotong Sakura ke area rerumputan yang bersemak.

"Uweeekkk".

Naruto memijat tengkuk Sakura dan menepuk-nepuk punggungnya. "Sudah kukatakan kan tadi… jangan minum terlalu banyak… kau sama sekali tidak mau mendengarku…". Naruto menghela napas dalam. "Kau tunggu di sini… aku akan pergi membeli pereda mabuk untukmu…".

"Naruto…". Sakura menahan tangan Naruto.

"Ada apa? Apa kau memerlukan sesuatu yang lain? Aku akan membelikannya…".

Sakura menggelengkan kepalanya pelan tanpa melihat ke arah Naruto dan masih jongkok dengan salah satu tangannya memegang perutnya. "Arigato...". Ia mempererat genggaman tangannya. "dan… gomen, selalu merepotkanmu…".

Naruto menatap Sakura sendu. "Aku akan kembali…". Ia pergi tanpa menanggapi apa yang di katakan Sakura.

Setelah Naruto pergi, Sakura tidak bisa menahan lagi air matanya. Ia menangis dalam diam dan tanpa suara hingga membuat dadanya sesak.


It Can't be

Selama lebih dari 30 menit kemudian, akhirnya mobil Sasuke berhenti di depan sebuah apartemen mewah daerah Shinjuku.

"A-arigato Uchiha-san… Kau sudah menolongku dan mengantarku pulang…". Ia tidak lupa berterima kasih saat mereka turun dari mobil.

"Kau tinggal di sini?". Sasuke langsung bertanya tanpa merespon Hinata.

"Ha-hai…".

"Lantai berapa?".

"E-eh? E-etto…". Hinata gelagapan. Ia tidak tahu harus mengatakannya atau tidak. "Mou ichido… Arigatou gozaimasu…". Hinata langsung membungkuk untuk berterimakasih kembali sebelum ia berlari memasuki gedung.

Sasuke menyeringai lebar. "Jadi di sinilah kau tinggal, Hyuuga?". Setelah puas dengan informasi lain tentang gadis itu, Ia kembali memasuki mobilnya. Ia mengetukkan jari-jarinya di setir mobil memikirkan sesuatu. Melihat gadis itu ketakutan saat berada di klub malam dan melihat responnya yang ingin sekali menamparnya saat ia menciumnya membuatnya berpikir ulang.

"Aahh, pokoknya Hina-chan adalah gadis yang baik, sangat baik. Dia sangat baik dan juga sopan. Dia.. Apalagi ya,,"

"Mungkin kau benar dobe".

-drrttt drrrtttt-

Tidak seperti biasanya yang ia selalu geram saat ada yang menghubunginya, kali ini ia langsung mengangkat ponselnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.

"Hn"

'Kau dimana?'.

"Apa kau tidak ada pekerjaan lain selain menggangguku, apalagi sekarang hampir jam 2 malam, Itachi?"

'Kaasan sakit…'

"Kau tidak perlu berbohong padaku…Katakan saja apa maumu?"

'APAKAH AKU AKAN BERBOHONG DI SITUASI SEPERTI INI?'.

Mendengar kakaknya yang berteriak frustasi, wajahnya berubah serius. "Apa yang terjadi?". Ia menggenggam setir mobil dengan kuat.

'Datanglah ke rumah sakit Chuo Byoin sekarang…'.

Tanpa membuang banyak waktu, Sasuke langsung melajukan mobilnya.

-TBC-