Make Trouble

I'M NOT HIM

HUNHAN

.

.

.

.

.

Sebelumnya

"Mana Luhan? Kenapa ia tak ada dikamarnya?" Tanya Kai terdengar kesal. "Jangan bilang kalau.." Kai tak melanjutkan kalimatnya, ia berderap melangkah ke kamar Yeonseok dan Luhan dulu, tepatnya kamar Sehun kini.

Dan benar dengan apa yang ada dalam benaknya jika Luhan ada di kamar itu, di ranjang Sehun.

"Kenapa bisa Luhan tidur di ranjang mu Sehun? Apa kau ingin menusukku dari belakang eoh? Katakan Sehun! Apa itu yang sedang kau lakukan pada ku!

.

.

.

.

.

~I'M NOT HIM~

.

.

.

.

.

"Sehun kenapa kau lakukan ini!?" Kai kesal menatap Sehun yang hanya diam tanpa melihatnya. "SEHUN!" Teriak Kai membuat namja pucat itu menatap matanya.

"Luhan tadi malam mengalami sakit kepala, dan aku panik sampai-sampai tidak menyadari telah membawanya kekamar ini." Sehun mengalihkan pandangannya agar tak menatap Kai. Mungkin ia takut terlihat berbohong walau sebagian besar apa yang ia katakan adalah benar.

"Aku tau dia sakit, Baekhyun sudah mengatakan semuanya padaku tadi, makanya aku kemari. Lain kali jangan kau lakukan lagi, Luhan milikku—ingat itu." Setelah mengatakan kalimat tersebut Kai masuk kedalam kamarnya membawa paper bag berisi bubur jagung kesukaan Luhan.

Sedang Sehun yang mendengar apa yang Kai katakan benar-benar kesal dengan Bai Xian yang telah memberi kabar bahwa Luhan sakit kepada Kai.

Dia pikir aku tak bisa menjaga Luhan dengan baik, benar-benar membuatku kesal mulut namja bebek itu..gumamnya dalam hati.

Sehun mengarahkan pandangannya ke kamar, sesekali melihat Kai yang kini membangunkan Luhan membuatnya kesal sampai menendang penyangga sofa. Tak bisakah ia berdua saja dengan Luhan? Kenapa harus ada namja —hitam pengganggu— itu, pikirnya dalam hati.

Rasa ingin tau pun akhirnya menggerogoti hatinya, rasa ingin tau apa yang Luhan dan Kai bicarakan sampai tertawa berdua membuat mood-nya tambah jelek. Sehun pun masuk kedalam dengan alasan membawa segelas air hangat untuk Luhan.

"Bagaimana sakit kepalamu Lu? Apa masih sakit?" Tanya Kai sambil membelai kepala Luhan lembut. Sehun yang melihat itu hanya bisa menatap jengah dan mengalihkan pandangannya.

"Aku tidak apa-apa Kai, ada Yeonseok hyung yang menjaga ku..benarkan hyung.." Tatapan tulus Luhan menghangatkan hati Sehun dan tanpa sadar ia tersenyum menatap Luhan dan mengangguk pada namja mungil itu.

"Baiklah, aku membawakan bubur jagung kesukaanmu—kau harus makan banyak..akan aku suapi—" ucap Kai cepat.

Drrrtttt... Drrrtttttt...

Drrrtttt... Drrrtttt...

Ponsel Kai bergetar—dengan cepat ia mengambil benda tersebut dari dalam sakunya dan meletakkan di telinganya setelah mengusap tanda hijau pada layar benda tersebut.

"Ya Yeol..wae?"

"..." Hening sejenak.

"Aku bersama Luhan." Jawab Kai terdengar kesal.

"..." Wajah Kai terlihat gusar dan menatap Luhan lekat sambil mendengar apa yang Chanyeol katakan.

"Aku kira kau bisa gantikan aku..oh ayolah teman, aku tak bisa meninggalkan Luhan."

"..." Kai makin terlihat kesal.

"Okay—setengah jam." Kai mengakhiri panggilan dan mengambil kembali mangkuk berisi bubur jagung tadi. Saat Kai ingin menyuapi Luhan lengannya di tahan oleh namja mungil itu.

"Kai— pergilah, aku tidak apa-apa, hanya sakit kepala biasa dan nanti juga sembuh dengan sendirinya."

Sehun yang berada di sofa sambil membaca majalah tersenyum simpul. Ia senang? Tentu saja— ia akan bersama Luhan seharian tanpa ada namja hitam yang slalu mengganggunya dan Luhan langsung yang menyuruh Kai pergi. Sehun seperti menyadari kenapa mimik wajahnya jadi berubah. Kenapa juga dia harus senang menjaga Luhan? Seharusnya ia tak perduli dengan keadaan namja mungil itu. Tapi kenapa ia tak bisa? Wae? Sehun hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Kai menghela nafasnya, menatap Luhan lekat pada matanya. Kai masih ingin bersama Luhan. "Setelah menyuapimu aku akan balik ke kantor dan tak ada penolakan!" Tegas Kai sambil membenarkan kerah piyama yang dipakai Luhan yang kebesaran membuat Kai bertanya-tanya dalam hatinya kenapa piyama yang Luhan pakai terlihat sangat besar dan hampir meng-ekspose pundak mulusnya. "Aku bisa makan sendiri Kai, jangan kuatir." Luhan menggenggam kedua jemari Kai dan menepuknya pelan.

"Hmm...baiklah tapi kau harus menghabiskannya selagi hangat eoh?" Kai menarik ujung hidung Luhan gemas melihat Luhan yang menganggukan kepalanya.

"Ne."

.

.

"Sehun..aku peringatkan sekali lagi." Kai mengancam namja pucat itu saat akan keluar dari apartment.

"Yeah aku ingat— menjadi Yeonseok yang tak mencintai Luhan, aku ingat itu." Ucapnya dan Kai pun pergi setelahnya. Namja pucat itu pun tersenyum simpul menatap kepergian Kai. Saat kau pergi aku akan menjadi Sehun yang baik, tidak apa-apa kan? Lanjutnya dalam hati.

Entah apa yang terjadi padanya beberapa hari ini. Sehun merasa berbeda saat bersama Luhan. Ada rasa kesal jika Luhan berinteraksi dengan namja hitam —Kai— itu yang selalu ada di sekitar Luhan. Setelah kejadian di kamar mandi dan tadi malam Sehun merasa buruk karena selalu membayangkan Luhan yang seakan-akan menggodanya di setiap detik. Di tambah wajah ketakutannya dan binar matanya yang selalu tulus membuat Sehun benar-benar ingin menjadi dirinya sendiri untuk menaklukkan Luhan dan membuatnya lupa dengan Yeonseok. Hyung-nya sendiri.

Kini Luhan hanya berdua dengannya di apartment ini, seketika wajah Sehun merona senang sekali, saat pintu tertutup ia menari-nari tak jelas didepan pintu kamarnya, dan memperbaiki penampilan rambutnya sedikit, mengubah ekspresinya menjadi datar dan pelan membuka pintu setelahnya.

Luhan menatap Sehun yang masuk, ia hampir memasukkan sesendok bubur jagung ke dalam mulutnya tapi tertahan karena melihat Sehun yang mencoba tersenyum hangat padanya kini. Luhan bertanya-tanya. Apa yang terjadi pada Yeonseok? Apakah Yeonseok-nya telah kembali seperti dulu pikir Luhan.

Sehun duduk di sisi ranjang dekat Luhan sambil membenarkan selimutnya. Luhan berjengit saat Sehun membelai pipinya. Ya ampun Sehun, apa yang kau lakukan tadi? Membelai pipi Luhan? Untuk apa??!!

"Ayo aku suapi." Sehun mengambil mangkuk plastik dari telapak tangan kirinya dan mengambil sendok dari jemari tangan kanannya. "Bilang aaaa.." Sehun menyodorkan sesendok bubur jagung yang masih hangat, Luhan tetap menatapnya sambil membuka bibir plum nan merahnya, mengunyah pelan pipil-pipil jagung terus menghabiskan sendok demi sendok bubur yang disuap Sehun, yang di tatap hanya membalas tatapan Luhan sambil sesekali membersihkan bekas lelehan bubur dari ujung bibir Luhan dengan jarinya, Luhan terpana dan secara tak sadar air matanya menetes mengalir di pipi.

"Luhan..kau menangis? Ada apa? Apa..apa buburnya masih terlalu panas tadi?" Tanya Sehun kuatir sambil mengusap linangan air mata pada pipi Luhan.

Luhan menahan jemari Sehun dipipinya, merasakan kembali sentuhan lembut namja yang ia anggap kekasihnya ini. "Hyung— Yeonseok hyung hiks—" Luhan terisak, ada senyuman disela isakannya, ia merasa Yeonseok-nya kembali, kembali mencintainya lagi.

"Ya Tuhan Luhan.." Sehun menarik tubuh Luhan didalam pelukannya, menenangkannya sembari mengusap lembut punggung sempit Luhan. "Gwaenchana..gwaenchana.." Luhan membalas pelukan Sehun erat setelah namja pucat itu mengatakan kata-kata yang menenangkan hati Luhan.

"Kau ... kau kembali seperti dulu.. Hyungie ku.. yang menyayangiku..tidak kasar lagi padaku.." Ucapan Luhan membuat Sehun bergetar— sejahat itu kah ia pada makhluk lembut ini tapi Sehun memang namja yang tidak punya perasaan, Luhan maafkan aku gumam Sehun dalam hati.

.

.

.

.

.

~I'M NOT HIM~

.

.

.

.

.

Hari-hari yang Luhan lalui benar-benar menyenangkan saat ini, seperti bulan ke tiga kehamilannya Sehun bekerja seperti biasa dan pulang lebih awal agar menjaga Luhan. Saat morning sick pun kini selalu ada Sehun disisinya menggantikan Bai Xian, namja pucat itu berubah hanya saat Kai berada di apartment mereka, ia menjadi menjauh dan tak perduli, tetapi saat Kai pamit pulang pada Luhan tentu saja Sehun kembali menjadi lembut dan perhatian, semua itu Luhan anggap Sehun yang kini dimatanya adalah Yeonseok hyung yang sedang cemburu melihat Kai dekat dengannya.

.

.

.

"Luhan ayo minum susu-mu, aku sudah menggantinya dengan rasa strawberry kesukaanmu. Ayo sayang."

Setiap pagi yang Sehun lakukan rutin membuatkan susu hamil untuk Luhan, begitu pula saat malam sebelum tidur.

"Gomawo Hyungie." Dan senyum tulus Luhan adalah hal yang selalu Sehun tunggu-tunggu.

Dari semuanya perlakuan Sehun yang membuat Luhan kembali bahagia adalah saat Sehun menyarankan agar Luhan tidur kembali dikamarnya dahulu bersama Yeonseok, awalnya Bai Xian protes dan menentang semua itu tetapi Sehun berjanji hanya menjaga Luhan yang lagi hamil, tentunya Luhan akan terbangun saat tengah malam merasakan lapar atau haus, jadi Sehun yang berada di sisinya bisa membuat Luhan tidak lagi mengganggu Bai Xian yang tengah mengantuk hebat.

Sebenarnya Bai Xian tidak mempermasalahkan apapun, yang terpenting adalah Luhan dan bayi dalam kandungannya baik-baik saja, tetapi Sehun tetap bersikeras ingin menjaga Luhan dan mengatakan agar Bai Xian bisa istirahat dengan cukup.

Woaah apa ini Sehun? Kau seperti menjadi suami siaga saat istri-mu tengah hamil. Sehun terkadang heran dengan apa yang terjadi padanya. Ia tulus melakukan semua dan tidak tau kenapa ia mau melakukan ini. Apa karena tubuh polos Luhan yang pernah ia lihat? Ahh dasar Sehun mesum. Atau karena kelembutan juga kebaikan Luhan yang tanpa sadar selalu ia terima dengan sangat jelas. Ahh molla.

.

.

.

"Han-ah.. Na wasseo.."

Hari-hari pun berlalu. Pnggilan yang kini Luhan dengar saat Sehun sampai di rumah selalu menjadi hal yang menyenangkan di tiap harinya.

"Ne~ Hyungie..." Seperti biasa Luhan menjawab dan keluar dari dapur saat namja yang ia anggap Yeonseok itu pulang dari kantor.

"Istirahatlah, kau tak perlu melakukan pekerjaan didapur, aku bisa memesan makanan di luar." Sehun berujar sambil membuka sepatu dan juga melepaskan jasnya yang di bantu oleh Luhan. Membuat Sehun mengulum senyum-nya setiap adegan ini terjadi di tiap hari saat ia pulang dari kantor. Merasa mempunyai keluarga kecil dengan istri yang cantik, baik, rajin, dan bla-bla-bla-bla yang lainnya.

"Tidak! Selama aku masih bersamamu hyung, makanan rumahan lebih baik dan terjamin kesehatannya, kita tidak tau bagaimana mereka membersihkan semua bahan-bahannya, aku tidak mau kau sakit hyung, apa kau lupa kalau aku tidak suka makan diluar." Sehun memang tidak tau bagaimana keseharian Luhan tunangan hyung-nya ini tetapi setiap harinya Luhan membuat Sehun makin menyukainya, seperti saat ini Luhan mempoutkan bibirnya lucu membuat Sehun gemas~

Chuu~

Sehun mengecup cepat bibir plum Luhan.

Mengecup!!!

Yeah, Sehun kini mulai berani mengecup bibir ranum Luhan jika ada kesempatan, berani sekali kau Sehun. Entah apa yang terjadi, Sehun selalu tak tahan melihat bibir merah alami yang mengerucut lucu saat Luhan lagi dalam mood merajuknya, dan bukankah ia kini Yeonseok dimata Luhan, tentu saja ia bebas mencium Luhan.

Terkadang ia pun tak sabar menunggu datangnya malam, karena ia akan melihat Luhan terlelap dalam rengkuhannya.

"Ayo hyung—aku telah menyiapkan makanan kesukaanmu seeerba daging..jja.." Luhan menarik lengan Sehun dan namja pucat itu pun hanya mengikutinya, saat di meja makan Luhan menarik Sehun untuk duduk menikmati makan siangnya.

"Luhan.. kau yang masak semua ini?" Tanya Sehun dan Luhan mengangguk lucu tersenyum manis dengan mata rusanya berbentuk bulan sabit seperti anak kecil membuat Sehun makin gemas dibuatnya.

Semua masakan Luhan benar-benar membuat Sehun terkagum-kagum. Seperti sebelumnya Luhan memasak daging saus asam manis dan tumisan sayur yang tentu saja memakai daging didalamnya karena yang Luhan tau Yeonseok yang ini sangat menyukai daging. Hari ini Luhan memasak sup daging kesukaan Sehun dan roast beef catsup, namja pucat itu menghirup bau enak dari masakan Luhan.

"Mmmhhh... Aku lapar..suapi aku eoh?" Sehun menarik Luhan duduk disampingnya, Sehun tak pernah semanja ini saat bersama Kyungsoo, kekasihnya hanya memasak dan membiarkannya makan sendirian tetapi saat bersama Luhan ia benar-benar dibuat menjadi bayi besar dan Sehun menyukai itu, pantas saja Yeonseok hyung sangat mencintai Luhan pikirnya.

"Bilang aaaaa.." Luhan menginterupsi lamunan Sehun dan namja tampan itu pun membuka mulutnya seperti anak kecil "aaaa..ammm..nyammm." Katanya menikmati masakan Luhan. Kini si namja mungil mengambil sesendok sup daging dan meniupnya pelan disodorkan ke arah Sehun setelahnya dan dengan cepat Sehun menyeruput kuahnya sekaligus melahap sayur dan daging, begitu seterusnya sampai nasi didalam mangkuk sehun habis tak tersisa.

Luhan benar-benar mendapat nilai plus di mata Sehun kini, semua dilakukan Luhan dengan sangat baik, memasak sendiri, mencuci juga merapikan semua kekacauan di dalam apartment yang telah ia buat, seperti nonton sambil memakan snack dan ia dengan sabar membersihkan segala serpihannya, bermain video game juga begitu dan Luhan yang merapikan semuanya, seperti seorang eomma dan Kyungsoo tak pernah melakukan itu untuknya. Yang bisa kekasihnya lakukan hanyalah marah dan marah jika melihat kekacauan apapun. Oh kenapa sekarang kau membanding-bandingkan Kyungsoo dengan Luhan, Oh Sehun?

Tetapi selalu saja Sehun melupakan pikirannya tentang Kyungsoo karena sifat Luhan yang tak pernah mengeluh dengan apa yang ia perbuat.

Pernah Sehun kesal dengan Kai yang datang tiba-tiba hanya untuk mengajak Luhan jalan-jalan dan makan diluar, sekuat apapun Luhan menolak Kai tetap memaksanya, mau tidak mau Sehun harus mengizinkannya karena ia tak bisa apa-apa dan setelah pulang Luhan melihat rumah yang berantakan, bungkusan makanan ringan dimana-mana tetapi Luhan tak pernah mengeluh, ia langsung membersihkan semuanya, mengambil sapu dan membuang semua sampah. Lama-lama Sehun bisa jatuh cinta pada Luhan.

Bisa jatuh cinta? Mungkin Sehun sudah jatuh cinta pada Luhan malah. Bagaimana bisa ada manusia sesabar Luhan?

"Siang ini apa yang akan kau lakukan?" Tanya Sehun saat Luhan membawa piring-piring kotor dalam bak cuci.

"Mmm... hanya mencuci semua pakaian itu saja.." Jawab Luhan.

"Itu saja?" Tanya Sehun.

"Eumm.." Jawab Luhan singkat sambil memiringkan kepalanya menatap Sehun sedikit heran karena menanyakan kegiatannya hari ini. Tumben.

Ini yang Sehun suka, salah satu-nya saat Luhan memiringkan kepalanya seperti bingung, terlihat sangat imut sekali.

"Baiklah aku akan membantumu." Ucap Sehun sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Luhan terkekeh, namja pucat itu pun masuk kekamar mengganti setelan kantornya dengan pakaian rumahan, kaos putih tanpa lengan dan celana selutut berwarna sama, seperti janjinya ia akan membantu Luhan mencuci pakaian.

.

.

Diluar ekspektasi. Ternyata Sehun bukan membantu Luhan tapi realita mengatakan Sehun malah asik mengganggu si namja mungil, sesekali mencolek pipinya, menarik baju kotor yang akan Luhan cuci, dan yang membuat Luhan memekik tertawa saat Sehun memakai celana dalamnya sendiri diatas kepalanya sendiri.

"Haahaha.. Hyungie berikan padaku ppalli-ppalli..haahaha.." Luhan mengejar Sehun yang berlari memakai celana dalam yang masih bertengger di atas kepalanya.

"Hahhah..kau tidak bisa menangkapku me-rong.." Sehun memeletkan lidahnya ke arah Luhan yang mengejarnya di meja makan.

"Aaaaisshh jincha~Hyungie~ geumanhae~ kemarikan celana mu~ itu kotor~ ppalliiii~" Luhan merengek manja, ahh benar-benar membuat Sehun gemas bukan kepalang. "Geurae..tapi bayarannya mahal.." Sahut Sehun dengan pongah.

"Mwo! Untuk celana dalam kotor itu aku harus bayar mahal? Maldo andwae.." Luhan pun tak mau kalah, bersedekap sambil membuang muka kearah lain. Hmmm~ sin nan da gumam Sehun dalam hati sambil ber-smirk ria, benar-benar menyenangkan pikirnya karena mengganggu Luhan kini.

"Ini bayarannya—ummm.." Sehun menutup matanya sambil mem-pouting-kan bibirnya, membuat Luhan mencibir melangkah mendekati Sehun sambil menghentak-hentakkan langkahnya seperti anak kecil yang mendongkol, Sehun yang mengintip sedikit mata kanannya mengulum senyum sambil tetap mengerucutkan bibirnya.

Saat berhadapan Luhan sedikit berjinjit dan ~chuup— Luhan mengecup bibir Sehun cepat.

"To~" Sehun meminta lagi dan Luhan mengecupnya lagi.

"To~" mintanya lagi dengan nada nakal dan namja mungil itu pun mengecupnya singkat (lagi).

"To~oo~" minta nya lagi dengan nada makin manja membuat Luhan tersenyum jengah. "Aishh~chuup~chup~mmmphh.." Luhan mengecup berkali-kali dan seketika ia terkejut luar biasa karena tiba-tiba Sehun menarik Luhan ke dalam pelukannya menahan pinggulnya erat dan mengecup bibir Luhan dengan lembut tanpa paksaan, bibir Luhan sangat menggodanya, lelaki tampan itu melumatnya dengan lembut, memainkan bibir atas dan bawah bergantian, menghisap dan menjilatnya dengan panas. Luhan membuka mulutnya mengerang. Kesempatan itu tak Sehun biarkan, ia memasukkan lidahnya dan melumat keseluruhan bibir Luhan.

"Luhan—" Suara Sehun serak sensual saat melepaskan pangutan mereka dan Sehun mengecup lagi bibir itu lembut sambil mendesakkan lidahnya, Luhan yang tergoda dengan semua perlakuan Sehun ikut larut dan membalas pangutan itu membuat Sehun tersenyum dalam pangutannya, nikmat sekali bibir Luhan pikirnya. Bibir Sehun menjelajah diseluruh permukaan bibir Luhan, bunyi kecapan membuat Sehun semakin panas dan bergairah, tangannya tak tinggal diam membelai punggung Luhan secara abstrak, namja mungil itu mengeratkan pegangannya pada kaos Sehun sedang si namja tampan terus saja menjalin lidah Luhan menggoda,

Sehun benar-benar ingin menyerap semua rasa pada bibir juga lidah Luhan dan ketika ciuman itu terlepas, napas mereka berdua sama-sama tersengal-sengal.

Sehun tersenyum dan menyapu saliva di ujung bibir Luhan entah miliknya atau Luhan, atau keduanya. Luhan menarik celana dalam kotor diatas kepala Sehun dan wajahnya merona, ia tak ingin Sehun melihatnya, Luhan berlari menjauh meninggalkan Sehun yang kini mengusap kasar wajahnya dan menghela nafasnya, ya Tuhan aku menginginkannya— menginginkan Luhan pikirnya.

Sehun dengan langkah lebarnya pun pergi ke kamarnya duduk di pinggir ranjang menutup wajah dengan kedua telapak tangan dan siku tertumpu pada kedua lututnya. Ia menghela nafasnya, apa yang kau lakukan Sehun? Kau sudah terlalu jauh, ingat Kyungsoo..ingat Kyungsoo..gumamnya dalam hati. Tapi bibir itu ahhh— Sehun mengerang dalam hatinya.

Sedang orang yang Sehun pikirkan kini hatinya juga berkecamuk hebat. Luhan sedikit bingung dalam hatinya. Kenapa ia seperti merasa ciuman ini adalah yang pertama? Bukankah dulu ia dan Yeonseok sering melakukannya, kenapa ciuman Hyungie sangat berbeda, dan kenapa ia seperti merasa bersalah? Luhan bertanya-tanya dalam hatinya, ia pun menepis semua praduga sambil melanjutkan cuciannya yang tertunda tadi.

.

.

.

.

.

~I'M NOT HIM~

.

.

.

.

.

"Baekhyunnieee~..."

Haahh tidak, Tuhan jangan dia lagi— gumam Bai Xian kesal dalam hatinya. "Berhenti memanggilku seperti itu, cukup Baekhyun saja arra?"

"Baiklah.. Baekkie-ah.." Chanyeol duduk di depan Bai Xian menumpu kedua sikunya diatas meja sambil berkedip genit menatap Bai Xian.

"ya..byeontae—a~geumanhae!" Bai Xian melotot dan Chanyeol tak perduli dengan tatapan Bai Xian karena ia merasa Bai Xian makin terlihat cantik saat marah seperti ini.

"Xian—" ini bukan Chanyeol yang memanggil, Bai Xian pun mengalihkan pandangannya pada si pemanggil dan ternyata itu atasan diruangannya Zitao.

"Ne Bujang-nim." Bai Xian menundukkan kepalanya hormat.

"Maukah kau makan siang bersamaku?" Tanyanya pada Bai Xian, dan Chanyeol menatap kesal pada Tao.

"Yak! Panda..kau mengganggu kesenanganku.." Chanyeol yang menjawab membuat Tao mengulum senyumnya.

"Setiap karyawan baru selalu saja kau dekati, berilah kesempatan untuk yang lain teman—bagaimana Xian..kau mau kan makan siang bersamaku?" Tanya Tao lagi pada Bai Xian setelah berkata pada Chanyeol, akan tetapi kata-kata Tao tadi membuat mata Bai Xian membola dan ia terlihat kesal, ternyata bukan padanya saja tapi kepada semua pegawai baru Chanyeol berlaku genit seperti itu?

"Ne Bujang-nim..aku ikut denganmu, aku tidak mau dekat-dekat dengan namja mesum tiang listrik ini huuft—" Bai Xian meninggalkan Chanyeol yang berjengit melihat tatapan Bai Xian yang terlihat benar-benar marah padanya.

Ahh— great, kini kartunya terbongkar dan itu dari mulut si-panda jomblo itu gumamnya dalam hati Chanyeol hanya bisa menghela berat nafasnya—

"ouhh nan ije chugota!" Lirihnya saat Bai Xian dan Tao berlalu dari hadapannya.

"Neon ije chugo isseo!" Chanyeol terlonjak akibat pundaknya di sentuh seseorang.

"Y—yak! Kau mengagetkanku.." Namja tiang listrik itu menatap seseorang yang menyentuhnya. Adalah Kai yang kini tersenyum terlihat mengejeknya.

"Berhentilah bermain-main Yeol.. Baekhyun bukan namja yang bisa kau goda seenaknya, semua karyawan baru selalu kau dekati termasuk Luhan, pintarnya cantikku itu tak pernah merespon apapun signal yang kau berikan.." Kai menatapnya dalam. "Cari namja lain yeol, jangan Baekhyun." Kata-kata Kai membuat Chanyeol tak bisa berkata-kata. Ia tak segigih ini ketika mendekati karyawan baru, tidak pernah mempermalukan dirinya sendiri saat mendekati namja atau yeoja manapun. Tapi Baekhyun—namja itu yang telah membuat Chanyeol menjadi tak tau malu, walau terlihat seperti itu Chanyeol tak perduli, entah apa didalam dirinya yang membuatnya jadi terlihat idiot dimata Baekhyun dan itu ia lakukan hanya untuk menarik perhatian si namja mungil itu.

"Tidak Kai— kau tidak mengerti, aku mengejar Baekhyun benar-benar untuk diriku sendiri, aku tak pernah terlihat bodoh didepan namja cantik atau yeoja manis manapun dan kau pun tau aku hanya ingin berteman dengan mereka—dan entah kenapa di depan Baekhyun, aku seperti bukan diriku sendiri." Chanyeol memijat tengkuknya. Sebenarnya Kai pun merasa Chanyeol terlihat berbeda saat bersama Baekhyun, namja tinggi ini selalu saja memperlihatkan senyum idiotnya jika Baekhyun berada di dekatnya, tapi ia tak yakin dengan penglihatannya saat ini, kecuali Chanyeol memang benar-benar tidak perduli jika melihat karyawan yang baru masuk nantinya, entahlah..yang Kai harap sahabatnya tidak mengejar Baekhyun hanya untuk bermain-main saja.

.

.

.

.

.

~I'M NOT HIM~

.

.

.

.

.

Luhan sekilas menatap namja tampan yang kini sedang menikmati makan malamnya dalam diam. Kenapa Yeonseok hyung mulai terlihat tak perduli kembali, setelah insiden itu ia tak pernah mendengar namja tampan itu membuka suaranya pikir Luhan dalam hati.

Bai Xian yang ikut makan malam bersama menatap Luhan yang sesekali melihat Sehun yang tak sedikit pun mengangkat wajahnya, tapi ia tak perduli.

"Gege.." Bai Xian membuka suaranya, dan Luhan mengalihkan pandangan ke arahnya.

"Ada apa Xian?" Tanya Luhan lembut.

"Apa Kai hyung sudah menghubungi gege?" Luhan tertegun, ia pun terbangun mengambil ponselnya di dalam kamar Sehun.

"Ya ampun Xian, ada dua puluh panggilan dari Kai dan aku..aku tidak tau kenapa profil ponselku silent." Luhan menekan tombol virtual di bawah layar dan mencoba menghubungi Kai. Sehun sesekali menatap tajam punggung Luhan yang menjauh sambil mencebikkan bibirnya.

Haahh susah payah aku meng-silent-kan ponselnya, tetap saja mereka saling mencari satu sama lain..ssi pal! Lirihnya dalam hati.

Bai Xian terkekeh dan terdengar nada mencela dari tawanya membuat Sehun menatapnya. "Kenapa kau tertawa eoh?" Tanya Sehun kesal.

Bai Xian tersenyum mengejek. "Amugeotdo aniyo.." Jawab Bai Xian sambil mengusap bibirnya dengan serbet dan membawa piring kotornya ke bak cuci piring meninggalkan Sehun yang menatapnya kesal.

"Hyung~" suara lembut Luhan membuat Sehun membalikkan cepat tubuhnya.

"Ne?" Jawabnya dan Luhan mendekati Sehun yang masih mengaduk malas makan malamnya.

"Malam ini aku harus memeriksa kehamilanku, Kai menawarkan diri mengantarku ke rumah sakit." Ucap Luhan hati-hati sambil mengarah pandangannya ketempat lain.

"Kau suka pergi dengannya?" Tanya Sehun dan terdengar nada kecewa.

"Aku..aku su—"

Sehun menghela nafasnya. "Hahh, pergilah! Aku juga ada urusan diluar!" Potong Sehun setengah memekik kesal dan melangkah lebar kekamar.

Luhan menatapnya sedih, padahal aku mau bilang suka pergi denganmu hyung— gumamnya dalam hati menatap punggung Sehun yang menjauh.

BLAM!

Luhan berjengit, Sehun membanting pintu kamarnya. Yeonseok hyung benar-benar berubah gumam Luhan dalam hati, ia pun membersihkan piring-piring kotor dan membuang makanan yang tidak Sehun habiskan tadi.

Luhan menghela nafasnya, terkadang ia sering berpikir apa Yeonseok hyung memiliki kekasih lain? Kalau memang ada siapa namja atau yeoja itu? Luhan bertanya-tanya dalam benaknya dan saat Luhan selesai membersihkan meja juga mencuci piring bel berbunyi berkali-kali. Luhan mengusap kedua tangannya yang basah dengan handuk lap yang tergantung di dinding dan melangkah ke pintu, ia tersenyum saat melihat layar intercom, Luhan membuka pintu setelahnya.

"Kai.. Yeoli.." Luhan memekik senang didepan pintu, "ayo masuk.." Serunya dan Kai masuk ke dalam diikuti Chanyeol. "Aku akan bersiap-siap lanjutnya" Kai mengangguk dan Chanyeol hanya menatap nyalang ke segala ruangan di depannya seperti mencari sesuatu. Mana dia ya? Lirihnya dalam hati.

Saat Kai dan Chanyeol menunggu Luhan, suara pintu kamar terbuka dan Chanyeol langsung berbalik melihat objek yang ia cari-cari dari tadi, Bai Xian dengan baju santainya keluar dari kamar sambil membaca majalahnya.

"Baekkie.." Panggil Kai padanya dan Bai Xian menurunkan majalahnya menatap kearah suara yang memanggilnya.

"Hyung.." Pekiknya saat matanya melihat Kai dan pandangannya langsung menjadi jengah saat melihat orang yang dia masukkan ke dalam list 'paling dia benci' ada juga di hadapannya.

"Hai.." Ucap Bai Xian malas kearah Chanyeol dan ia duduk di samping Kai setelah itu, mereka duduk dalam diam, Kai yang merangkul Bai Xian sambil ikut melihat apa yang dibaca namja itu membuka suara.

"Aku dan Chanyeol akan mengantar Luhan memeriksa kandungannya, kau tidak mau ikut?" Tanya Kai sambil mengusap rambut coklat madu Bai Xian.

"Tidak." Jawabnya singkat, Bai Xian sesekali melirik ke arah Chanyeol yang masih asik menatapnya sambil tersenyum idiot.

"Kau akan menyesal, karena setelah dari dokter aku dan Chanyeol akan mengajak gege-mu bersenang-senang..kau yakin tidak mau ikut melepas lelah setelah seharian bekerja di kantor?" Pertanyaan Kai membuat Bai Xian menatapnya sambil berpikir, dan Bai Xian mengarahkan bibir tipisnya pada telinga Kai.

"Aku akan ikut, tapi hyung— jauhkan namja idiot itu dariku..okay~?" Bisiknya membuat Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan dan ia menganggukkan kepalanya tanda setuju pada namja yang telah ia anggap adiknya ini. Bai Xian segera bangkit dari sofa dan berlari kearah kamar. Kai berbalik kearah Chanyeol dan mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum dan namja tiang listrik itu tersenyum tampan sambil menggumamkan "gomawoyeo~" pelan sambil menepuk kedua telapak tangannya tanpa suara. Luhan yang keluar dari kamarnya langsung ikut duduk disofa panjangnya di sebelah Kai.

"Kata Xian dia akan ikut, tunggu sebentar ne—" Kai tersenyum menatap Luhan penuh cinta. "Joasseo!" Katanya lembut pada namja mungil yang tersenyum sangat manis dan Kai hampir meleleh dibuatnya.

Cklek!

Chanyeol, Luhan dan Kai mengarahkan pandangannya pada pintu kamar utama yang terbuka. Sehun yang mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang dilipat menyampirkan leather coat pada lengannya, ia terlihat sangat tampan dan seperti bersiap-siap ingin pergi, Luhan berdiri dan melangkah mendekat padanya.

"Hyungie—kau sudah mau pergi? Kemana?" Tanya Luhan hati-hati. Sehun menatap Luhan jengah "bukan urusanmu!" Jawabnya singkat dan meninggalkan Luhan yang hanya mematung mendengar jawabannya yang sedikit terdengar kasar, ia pun berlalu melangkahkan kakinya tanpa melihat air mata Luhan yang terjatuh karena jawabannya.

.

.

"Sial..sial..aarghh!!" Sehun memukul berkali-kali setir mobilnya kesal. Apa yang membuat ia kesal? Tentu saja dengan Kai yang berada di sekitar Luhan. Sehun cemburu sekaligus kesal tak bisa apa-apa jika namja hitam itu dekat dengan Luhan. Bodoh kau Sehun! Bodoh! Bodoh! Gumamnya dalam hati dan seketika gerakannya terhenti matanya menatap empat namja yang masuk ke dalam ferrari kuning milik Kai dan melaju di depannya. Secepatnya Sehun menstarter mobil Rubicon Blacknya melaju mengikuti mobil Kai dari belakang, seperti yang Sehun katakan ia ada urusan diluar dan itu bohong. Itu ia lakukan semata-mata agar dirinya juga bisa mengikuti Luhan, Sehun tak perduli bagaimana nanti tapi ia sudah terlanjur menyukai Luhan dan tak ingin namja mungil itu jatuh ke tangan Kai.

Menyukai Luhan?

Yeah benar. Sehun mulai menyukai Luhan dan sadar dengan perasaannya saat ia mencium Luhan hari ini.

Sehun memarkirkan mobilnya jauh dari gedung rumah sakit, ia keluar dan memakai coat, masker, juga topi hitamnya memperhatikan dari jauh Luhan yang menunggu giliran untuk bertemu dengan dokter kandungan bernama Kim Minseok.

Kau seperti stalker Sehun pabbo! Tapi biarlah pikirnya, yang terpenting ia dapat melihat Luhan walau dari jarak jauh sekalipun itu tak apa-apa, disana Luhan tersenyum manis pada Kai yang membelai perutnya yang masih rata membuat Sehun panas dingin dan mencengkeram kasar ujung coat yang ia pakai, namja mesum itu senang sekali mencari-cari kesempatan memegang Luhan—nya.

Saat ini kembali didalam mobil Sehun masih tetap memfokuskan pandangannya kearah mobil Kai yang melaju ke jalan gangnam-gu, aish..mau kemana lagi sekarang mereka? Sehun menarik kopling kasar dan melaju dibelakang mobil Kai dan ikut berhenti agak jauh saat Kai memberhentikan mobilnya di jalan chungdam-dong mengajak Luhan juga Bai Xian dan Chanyeol di belakang mereka masuk ke salah satu bar. "Dasar namja gila, Luhan lagi hamil, dengan seenaknya dia membawa Luhan ke bar, namja picik, apa dia mau membuat Luhan mabuk dan jatuh dalam pelukannya? shit!" umpat Sehun sambil mencengkram stir-nya, saat Luhan dan yang lain tak terlihat lagi Sehun mengambil setelan lain di tempat duduk bagian belakang, membuka kancing perkancing kemeja hitamnya dan mengganti dengan kaos hitam pekat dengan V neck dipadukan jas abu-abu gelap mengacak poni dan rambutnya berikut kaca mata berbingkai hitam tebal, penampilan yang berbeda dan tentu saja tetap tampan.

Semoga Luhan dan yang lainnya tak mengenaliku bisiknya dalam hati..Sehun pun keluar dari mobil dan masuk ke bar memandang sekeliling lalu ahh— itu mereka pekiknya dalam hati melihat Luhan dengan kaos putih tipis tertutupi jas lembut yang pas di tubuhnya membuat Sehun tanpa sadar kesal sendiri melihat Luhan yang begitu terlihat tampan dan cantik malam ini dibawah kerlap-kerlip lampu bar, Sehun melihat bukan hanya wanita saja yang menatap Luhan lapar, tetapi para namja berstatus seme pun menatap Luhan tak berkedip, setelah memesan minumannya ia duduk di sudut bar, Sehun menggeretakkan gigi dan rahangnya mengeras, ia menggenggam keras stem glass yang berisi bourbon melihat Kai kini merangkul mesra pundak Luhan.

.

.

Luhan membiarkan Kai merangkulnya seperti tak mau melepaskannya, Luhan tau bahwa Kai ingin menjaganya. Kai sangat tau bagaimana mata para namja dan yeoja yang memandang Luhan malam ini, dan ia tak ingin Luhan didekati siapapun.

"Mereka sangat serasi benar kan Baekkie —seperti kita—" seru Chanyeol pada Bai Xian yang menatapnya malas.

"Mereka memang sangat serasi, but there's no —we—, remember that."

"Kau membenciku Baekkie?" Tanya Chanyeol dengan nada sedikit kecewa.

"Naega? Aniyo..untuk apa?" Bai Xian menenggak minumannya.

"Setelah Tao mengatakan 'itu' kau makin terlihat membenciku." Chanyeol ikut menenggak minumannya, Bai Xian hanya menatapnya dan membenarkannya dalam hati, mereka berdua terdiam tanpa kata dan beberapa menit kemudian Chanyeol membuka suara.

"Apa yang Tao katakan memang benar, aku slalu mendekati semua karyawan baru atau para trainee yang magang di kantor, tapi semata-mata bukan karena aku ingin melakukan hubungan spesial dengan mereka, aku hanya ingin berteman..hanya itu..aku tak pernah melakukan hal buruk seperti melakukan skinship apapun atau—" Chanyeol menggerakkan kedua jari telunjuk dan tengahnya seperti mengatakan tanda petik membuat Bai Xian tersenyum miring sambil mengangguk.

"Kau tau kan apa itu.. Aku tak pernah melakukannya, aku hanya suka mengajak mereka makan, karena aku suka sekali makan— mungkin mereka yang salah mengartikan semua..padahal aku memperlakukan mereka sama." Lanjutnya lagi sambil mempoutkan bibirnya dan jujur saja itu membuat hati Bai Xian melembut. Melembut? What? Tak mungkin— gumam Bai Xian dalam hati.

"Kalau begitu ubah semua perilakumu terhadap karyawan baru.." Ucap Bai Xian datar.

"Apakah kau menyukaiku?" tanya Chanyeol menatap dalam mata Bai Xian.

"MWO? ANIDA—" Teriak Bai Xian membuat Chanyeol berjengit, begitupun para pengunjung bar di sekitar mereka yang memandangnya kini, membuat dirinya agak menunduk. Chanyeol tersenyum kaku dan mendekati Bai Xian.

"Nah—kau saja tidak terpengaruh, berarti bukan salahku kalau mereka menyalah artikan semua perhatian yang aku lakukan.." Bai Xian tertegun dengan perkataan Chanyeol, benar juga kata si namja tiang ini, kenapa aku harus membencinya? hal itu membuat Bai Xian tersenyum dan Chanyeol melihat itu membuat hatinya terpana menatap manisnya senyuman Bai Xian.

"Kau mau berteman denganku Baekkie?" Tanya Chanyeol. "Tentu saja—" Jawab Bai Xian membuat Chanyeol tanpa sadar melompat-lompat mengatakan 'yes' berkali-kali dan tentu saja Bai Xian terkekeh dibuatnya, tak ada salahnya berteman dengan si idiot tampan ini gumam Bai Xian dalam hati.

Luhan melihat itu tersenyum kearah Bai Xian dan Chanyeol. "Apa yang dikatakan Xian sampai Yeoli kegirangan seperti itu?" Tanya Luhan pada Kai yang sedang memesan minuman. Kai menatap Luhan dan mengarah pandangannya ke Chanyeol dan Bai Xian.

"Entahlah, tapi Chanyeol terlihat sangat senang, nah ini minumanmu Lu—" ujar Kai sambil menyodorkan strawberry milkshake kearahnya. "Kai~ wae? Aku ingin minum sepertimu.." Luhan merengek manja. "Aigo yeppuda.. Tentu saja—tidak boleh—" Kai mencubit pelan hidung bangir Luhan membuat namja mungil itu menyipitkan matanya sambil mempoutkan bibirnya lucu.

"Maafkan aku Luhan, aku ingin kau dan bayi dalam kandunganmu sehat." Kai mengusak lembut surai madu Luhan dan tersenyum gemas kearahnya. Luhan terdiam beberapa saat melamun sambil menikmati milkshake-nya tanpa suara. "Kau tidak suka disini?" Tanya Kai yang memperhatikan Luhan.

"Ne?" Luhan sedikit terkejut saat Kai tiba-tiba bertanya.

"Aku bilang, kau tak suka disini?" Ulangnya lagi.

"Aniyo— aku suka.." Jawab Luhan sekenanya.

"geojinmal!" Sahut Kai menatap Luhan tajam. "Ada yang kau pikirkan dan aku tau itu.."

Luhan menghela nafasnya berat. "Aku memikirkan Yeonseok hyung—mian." Luhan meminta maaf.

"Apa yang membuatmu memikirkannya humm?" Kai menyisir rambut Luhan dengan jemarinya, Luhan menarik nafas dan membuangnya dengan susah seperti akan menangis. "Hey— aku membawamu kesini untuk menghiburmu agar melupakan semua kesedihanmu sayang." Kai meraih jemari Luhan dan menggenggamnya erat.

"Dia sangat berbeda Kai, dia tidak mencintaiku lagi, ada saatnya dia memperlakukanku dengan baik tapi selanjutnya ia kembali menjadi Yeonseok yang kasar, Kai~ kira-kira apa dia memiliki namja atau yeoja lain?" Luhan menduga-duga, air matanya menetes.

"Aku mohon Luhan, jangan pikirkan hal yang tak penting." Kai berusaha mengalihkan arah bicara mereka.

"Tapi dia sangat penting bagiku Kai, aku mencintainya dan rasanya sakit ketika orang yang kita cintai berubah dalam waktu yang cukup singkat." Luhan mengeluarkan uneg-unegnya, andai saja Kai bisa mengatakan bahwa saat ini yang bersamamu buka Yeonseok, Luhan— andai saja ia bisa mengatakan bahwa Yeonseok sudah tiada, Kai mendongkakkan kepalanya menatap lampu-lampu diatas langit bar.

"Yang aku tau, saat pintu yang kita harapkan tidak mau terbuka walau kita berusaha mati-matian membukanya tidak ada salahnya melihat pintu yang lain yang mungkin saja memang tidak terkunci Luhan." Kai menepuk bahu Luhan dan mengusak rambutnya, berharap Luhan mengerti bahwa ia lah pintu yang tidak terkunci itu. "Luhan aku ke toilet sebentar, jangan kemana-mana okay sayang—" Kai meninggalkan Luhan, tanpa menjawab Luhan hanya menatap kosong dance floor yang hanya diisi oleh beberapa pasangan— ia kembali merenungkan apa yang Kai katakan.

Sehun yang kini telah berada di samping Luhan tanpa namja mungil itu tau karena ia memunggunginya agar dapat mendengar apa yang Luhan dan Kai bicarakan.

Sehun pun berharap sama seperti perkataan Kai, agar Luhan melupakan hyung—nya dan masuk ke hatinya karena ia juga ingin menjadi pintu yang tak terkunci yang disebutkan Kai tadi, Sehun menghela nafasnya penuh harap, seketika ia tersentak melirik kearah Luhan yang kini melangkah kearah dance floor, semua mata seketika mengawasi pergerakannya.

Luhan ikut turun di dance floor saat musik Alan walker—Sing me to sleep—terdengar, jujur saja, lama Luhan tak menikmati hiburan malamnya, biasanya ia menari hanya di hadapan Yeonseok, tak perduli siapapun yang melihat karena Yeonseok menjaganya dari tangan-tangan nakal, Luhan pun terus saja mengingat semua saat ia bersama Yeonseok, Luhan menggerakkan tubuhnya, ikut menghentakkan kepala dan pinggulnya, berikut kedua lengannya ia layangkan keatas seperti menggulung, Luhan tak perduli semua mata memandang padanya, di sela-sela tariannya di kerumunan para namja yang berstatus uke pastinya sedikit kesal melihat seme mereka yang terpana dengan kecantikan namja mungil itu, atau para namja stright yang kesal karena yeoja mereka lebih terpaku memperhatikan Luhan si pria cantik sekaligus tampan terlihat sisi manly—nya, Luhan pun menitikkan air matanya sambil terus menari menggerakkan kakinya mengikuti irama, indah memang tapi wajahnya tidak memancarkan itu. Sehun yang melihat itu dipenuhi rasa resah, terlebih rasa amarahnya memuncak saat kedua lengan Kai menarik Luhan kedalam tubuhnya ikut mengajak Luhan mengikuti gerakan nakalnya, dan Sehun benci itu, tanpa sadar ia berjalan kearah Luhan dan Kai, menarik cepat lengan namja mungil itu membawa masuk kedalam lautan manusia agar Kai tak menemukannya.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Maap beribu maap inyong haturkan kehadapan sodara-sodara sekalian. Kemaren rencananya mau update tapi suasana kantor lagi mencekam. Jadi rada tatut buka lappy ato ponsel hiksss.

Mana pulang kerumah bawa PR dari kantor lageh.

Bos mayah-mayah ama cemua kalyawan..telmasuk aku ikh..cebel deh~ *ee..dia malah curhat*

Maap juga ni ye kalo ceritanya tu alur nya cepat ato merasa ada yang lambat. Karena emang apa yang ada dikepala kalo ngerasa cocok langsung aku tumpah kan diatas meja eh maksudnya di cerita-ku kekeke.

Mengetik sambil melihat foto2 Yeonseok oppa dan Sehun bener2 menyegarkan mata *oke ini tidak penting*

Semoga makin suka ya ama ceritanya.

Untuk yang favs and foll thank bgt.

Untuk yang review gomapta.

Untuk sider ayo dunk ikutan review, tapi gomawo udah mau baca.

na wasseo : gw dtg

nan ije chugota : mampus gw

neon ije chugo isseo : mampus lu

Yeorobun saranghae..