A/N: Chapter 7 UPDATE! Maaf lama, cz sekolah itu loh -_-". Ah, iya. Ada kesalahan perhitungan oleh otak saya. Fanfict ini BELOM TAMAT DI CHAPTER INI! X'D #tebar-tebar bunga kamboja berharap dateng kuntilanak. Maaf-maaf atas kesalahan otak saya #mukul-mukul kepala sendiri. Oke, kita mulai saja ceritanya. tek tek tek (Sound Effect: suara tukang mie tek tek)

Disclaimer: Hidekaz Himaruya, jalan/alur/ceritanya diambil dari film 'Anak Iblis Mencari Setan' cuma saya ubah dikit.

Warning: Typo(s), OC, OOC, OOT tiba-tiba, humor garing, human names, dll.

Nb: Don't Like Don't Read!


Allied Force Mencari Setan

Page 7: Rest Day 1


Hari pertama istirahat…


Pagi itu, Alfred terlihat senang dengan melahap hamburgernya. "Yes, hari ini gak ngejalanin tantangan. I'M FREE!" Teriak Alfred. Ia tidak sadar bahwa adiknya, Matt…Siapalah itu sedang menatapnya.

"Em…Alfred, kau kenapa?" Tanya-nya penasaran.

"Kau tidak akan percaya ini, Mattie! HARI INI AKU GAK NGEJALANIN TANTANGAN! YEAH! BENAR-BENAR HERO!" Seru Alfred.

"Yeah, bahkan aku juga tidak percaya apa yang kau lakukan sekarang." Ucap Matthew sambil melihat Alfred yang sedang nari perut didepannya.

" AYO MATTIE, IKUTI GERAKANKU!" Seru Alfred.

"Ah…Ti-tidak, terima kasih. A-aku harus nyuci kumajirou dulu, bye." Matthew langsung pergi meninggalkan Alfred, sedangkan yang bersangkutan tetap menari tarian perut sambil makan hamburger.

"Eh. Mattie, kau kemana?" Tanya Alfred yang baru menyadari kalau adiknya sudah tidak ada disana lagi. "Yah, bosen deh….Ah, aku jalan-jalan keluar saja lah." Ucap Alfred. Ia bersiap-siap lalu pergi keluar rumahnya. Diam-diam, sesosok orang yang sedang memegang boneka beruang menatap kepergian Alfred dengan tatapan aneh.

'Kenapa aku punya kakak seperti itu?" Tanya-nya dalam hati.


Kita lihat keadaan Arthur….


"Hei, bloody wanker. Sini!" Seru Arthur yang sedang tiduran disofa sambil menonton televisi.

Yang dipanggil, yaitu Peter mendatanginya. "Apaan sih, Jerk?" Dumelnya.

"Bikinin makanan dong, gua laper." Suruh Arthur dengan santainya. Yang disuruh itu membentaknya.

"Heh, emang gua siapa? Pembantu lo! Lagipula, lo gak punya hak untuk nyuruh-nyuruh gua, Jerk!" Bentak Peter pada kakak kandungnya. Arthur yang mulai marah mendengar bentakan Peter langsung berdiri dan mengangkat Peter.

"Ma…Mau apa kau!" Tanya Peter mulai panik.

Arthur tersenyum jahat. "Kau tau, aku tidak akan segan-segan memukul, menendang, mengutuk, bahkan membunuh orang yang tidak mengerti sopan santun seperti kau. Sayang-nya kau adikku, kalau tidak aku yakin sekarang kau sedang tidak bernafas!" Ancam Arthur. Peter menelan ludahnya lalu menundukkan kepalanya.

Tiba-tiba, Aussie, sepupu Arthur datang menengahi mereka. "Hei hei. Santai aja, bro. Jangan tiba-tiba berantem gak jelas kayak gini." Ucapnya. Arthur-pun melepas Peter. Peter langsung berlari menuju Aussie dan bersembunyi dibalik tubuhnya. "Jadi, sebenarnya ada apa ini?" Tanya Aussie.

"Je-Jerk Art—"

"Tidak, tidak ada apa-apa." Ucap Arthur yang memotong kalimat Peter. Ia langsung pergi keluar dari rumahnya.

Peter dan Aussie hanya memandang kepergian Arthur. "Dasar aneh." Gumam Peter dan Aussie bersamaan.


Kita lihat keadaan Francis….


"Ayolah, Sey. Kita pergi nonton bioskop. Setelah itu dinner di restoran kelas satu, dan terakhir kita pergi ke Menara Eifel." Ucap Francis yang sedang bertelponan dengan Sey.

"Maaf, Francis-ku sayang~. Aku tidak bisa, aku harus menemani Mei dan Elizaveta belanja!" Ucap Sey diseberang sana.

"Ja….Jadi, kau lebih mementingkan temanmu daripada pacarmu ini?" Tanya Francis.

"Ya." Jawab Sey singkat. Mata Francis mulai berkaca-kaca.

"O….Oke. Fine. Kita—"

"Mau putus? Terserah, tapi itu kalau kau berani. Lagian, disekolah memang ada lagi yang mau sama kamu?" Kata-kata Sey sangat menusuk hati Francis. Francis mulai pundung.

"Nggak…Nggak, yasudah kalau tidak mau. Bye." Francis menutup telponnya.

"Hah…Bosen. Dirumah gak ada siapa-siapa. Mona lagi pergi les piano sama Roderich. Sey? Boro-boro mau." Gumamnya.

"Ah, aku coba telpon Antonio dan Gilbert ah…" Francis mengambil hapenya dan mencari nomor mereka berdua di kontak listnya. "…Aku baru sadar, Antonio dan Gilbert kan lagi pergi ke tempatnya Lovino. Yaudah lah, jalan ketaman aja, siapa tau nemu hal yang menarik." Ucap Francis sambil membayangkan hal yang menarik itu adalah adanya cewe yang mau dengannya.


Kita lihat keadaan Ivan….


"Jangan Natalia! Aku tidak bisa, da!" Teriak Ivan yang mencoba kabur dari adiknya, Natalia.

"Tapi, kakak bilang kakak mau menikah denganku!" Seru Natalia yang sedang mengejar-ngejar Ivan dengan sebilah pisau ditangannya. "Kekkon kekkon kekkon~" Gumam Natalia.

"TIDAK!" Ivan berlari semakin cepat. Ya, dari dulu Natalia sudah mencoba mengajak kakaknya, Ivan untuk menikahi dirinya. Tetapi, Ivan sering sekali menolak permintaan adiknya itu.

"Kak, cepat nikahi aku sebelum Alfred yang menikahiku!" Seru Natalia santai.

"Lebih baik Alfred yang memilikimu, da!" Balas Ivan. Natalia yang mendengarnya semakin cepat mengejar Ivan, Ivan-pun juga semakin cepat kabur.

Akhirnya, kegiatan rutinitas setiap pagi, siang, dan malam itu berakhir karena Ivan kabur keluar rumah. Dan karena Natalia malas keluar, ia akhirnya membiarkan kakak tercintanya kabur dan kembali menenang.


Terakhir, kita lihat keadaan Yao….


"Kak Yao, kucingku kabur dari kandangnya. Bantuin tangkep dong!" Seru Kiku.

"Kak Yao, bantuin aku masak dong, da ze. Biar Mei tau kalo aku yang paling cakep disini da ze!" Seru Yongsoo bangga. Sedangkan yang dimaksud (Mei) itu langsung buang muka.

"Aduh, Kiku, Yongsoo. Aku lagi capek aru. Bisa biarkan aku sendirian gak aru?" Pinta Yao. Yah, Yao itu tinggal disebuah apartemen. Disana, ia tinggal bersama Honda Kiku, Im-Yong Soo, dan Xiao Mei. Ingat, dengan kamar yang berbeda. (Disini, mereka nggak bersaudara.)

"Tau tuh, Yongsoo! Berisik banget. Sikat aja, kak!" Seru Mei.

"Argh!" Yao mulai stress. Ia menggebrak meja lalu pergi keluar apartemennya.

Kiku, Yongsoo, dan Mei hanya cengo ngeliat Yao pergi tiba-tiba. "Kenapa dia?" Gumam mereka berbarengan.


.

.

.

Disebuah taman, Francis sedang duduk-duduk melihati anak-anak yang sedang bermain. Ia tersenyum melihat anak-anak itu. Yah, ia sedikit kecewa sih karena tidak ketemu cewe cakep yang mau jalan sama dia. Tapi, asalkan ngeliat anak-anak sedang bermain ia bisa menjadi senang. (Sejak kapan Francis kek gini?)

"Aduh, manisnya anak-anak ini. Coba kalo aku bisa 'mencicipi rasa' mereka." Ucap Francis sambil senyum-senyum sendiri. Kalian tau kan maksudnya apa?

"Francis? Kau disini!" Seru seseorang yang tiba-tiba memeluk Francis.

Sontak Francis menoleh kearah orang itu. "A-Alfred? Kenapa kau disini?" Tanya Francis.

"Aku bosan dirumah, Mattie pergi entah kemana. Nggak ada yang lain, jadi bosen deh. Hari ini jadi sangat tidak enak buat hero sepertiku." Jawab Alfred melepaskan pelukannya.

"Kebetulan ada kalian berdua, Alfred, Francis." Ucap Arthur yang tiba-tiba datang ketaman itu.

"Kebetulan sekali, da~" Gumam Ivan.

"Arthur? Ivan? Kenapa kalian bisa ada disini?" Tanya Francis kaget.

Arthur menghela nafasnya. "Kita ini manusia, jadi kita berhak datang kesini, git!" Bentak Arthur.

Francis menggaruk-garuk kepalanya. "Maksudku, kenapa kalian berdua tiba-tiba bisa datang kesini?" Tanya Francis lagi.

"Ohh, jadi gini…Aku lagi jalan-jalan diluar. Ditengah jalan ketemu Ivan yang lagi lari-lari gak jelas. Terus, aku aja dia kesini aja." Jelas Arthur diikuti anggukan dari Ivan.

"Kalau begitu, pasti nanti Yao juga datang." Ucap Alfred.

Dua detik setelah Alfred berkata demikian, terlihat Yao yang sedang jalan santai dari kejauhan. "Hm? Alfred! Arthur! Francis! Ivan! Aru!" Serunya.

"Bener kan." Ucap Alfred santai. Yang lainnya ketawa kecil.

Yao mendatangi mereka. "Hey, kalian kok bisa ada disini semua aru? Janjian ya aru? Kok gak ngajak-ngajak gue aru?" Tanya Yao beruntun yang mengakibatkan jitakan melayang kearah kepalanya, sehingga Yao mengerang kesakitan.

"Kebetulan aja ketemu, jadi ngumpul deh." Jelas Alfred.

"Bosen nih. Enakan ngapain ya?" Tanya Francis.

Pertanyaan Francis membuat yang lain berpikir. Suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara anak-anak yang sedang bermain. "Hm…Arthur, kau bawa buku itu, da?" Tanya Ivan yang memecahkan keheningan.

"Ya, aku bawa." Arthur merogoh tasnya yang sejak kapan dia bawa? Author sendiri gak tau. "Ini…" Arthur memberikan buku 'Petunjuk Pemanggil Setan' itu.

Ivan mengambil buku itu, lalu berkata. "Aku mau menyelidiki buku ini, da." Ucap Ivan.

"Maksudmu?" Tanya Arthur.

"Aku mau menyelidiki pembuat buku ini, da." Jawab Ivan.

"Caranya?" Tanya Arthur lagi.

"Yah, ke toko buku lah, da." Jawab Ivan.

"Boleh juga aru! Ayo!" Seru Yao semangat.

"Masalahnya, kita mau ke took buku dimana?" Tanya Francis.

Diam sejenak….

"Alfred, kau menemukan buku ini didepan rumahmu kan, da?" Tanya Ivan.

"Iya." Jawab Alfred dengan anggukannya.

"Kalau begitu, kita ketoko buku dekat rumah Alfred, da." Ucap Ivan.

"Oke, kalau begitu ayo berangkat!" Seru Arthur. Mereka-pun berangkat mencari toko buku didekat rumah Alfred.

Satu jam mereka mencari toko buku disana, akhirnya mereka menemukannya.

"Hah…Jauh banget sih, aru." Gumam Yao. Yang lain menghiraukannya lalu masuk kedalam toko itu.

Mereka mendatangi petugas toko buku itu. "Permisi, mbak." Sapa Francis.

"Ya, ada yang bisa saya bantu, tuan tuan?" Tanya petugas itu.

"Em…Begini, saya mau bertanya tentang buku ini, da." Ucap Ivan sambil menunjukkan buku 'Petunjuk Pemanggil Setan' itu. "Apa anda mengenal buku ini, da?" Tanya Ivan.

"Err…Gini aja, tuan-tuan ketempat kasir lalu bertanya pada orang yang ada disana." Ucap petugas itu.

"Baiklah." Mereka-pun mendatangi kasirnya.

"Ada yang bisa saya bantu, tuan-tuan?" Tanya petugas kasirnya.

"Begini, saya mau bertanya mengenai buku ini, da." Ivan menunjukkan buku itu kepada petugas kasir. Orang itu mengambil buku yang dipegang Ivan lalu melihat-lihatnya. Mulai dari covernya, sampai isi-isinya.

"Apa kalian sudah melakukan apa yang disuruh oleh buku ini?" Tanya petugas kasir itu. Mereka semua mengangguk.

"Memang kenapa?" Tanya Arthur.

"Yah. Begini, buku ini memang pernah ada disini. Pihak kita sendiri tidak tau buku ini datang dari mana. Lalu setelah kami teliti, ada satu yang janggal dari buku ini." Jelas petugas kasir itu.

"Apanya yang janggal?" Tanya Francis sambil melihat-lihat buku itu.

"Dibagian sini." Petugas kasir itu menunjuk pada nama pembuat buku itu.

"K?" Gumam mereka semua. "Apa maksudnya?" Tanya Alfred.

"Kalian lihat baik-baik namanya." Ucap petugas kasir itu. Mereka-pun memperhatikan nama pembuat buku itu dengan baik-baik.

"K., aru?" Gumam Yao yang menyadari nama itu duluan. "Pembuat buku ini K. aru?" Tanya Yao.

Petugas kasir itu menangguk. "Ya, dan coba kalian gabungkan nama itu tanpa tanda titik."

"Kramat." Ucap mereka semua kompak. "Jadi, buku ini buatan setan?" Tanya Alfred mulai ketakutan.

Petugas kasir itu mengangguk lagi. "Yah, setan mempunyai seribu satu cara untuk menjebak manusia." Kata petugas kasir itu.

"Ah, terima kasih ya, mbak." Ucap Francis. Mereka-pun pergi dari toko buku itu.

.

.

.

"Jadi gimana nih?" Tanya Alfred.

"Langit sudah mulai gelap, da. Matahari juga sudah mau terbenam. Kita lanjutkan besok disekolah, da." Ucap Ivan. Yang lain mengangguk tanda setuju lalu pergi kerumah masing-masing.


-To Be Continued-


A/N: Bersambung ke chapter 8. Semoga gak lama Update.a. Doa-in biar gak ada tugas and sekolah libur terus XD #ditampol. Oh, iya. Jadi, dichapter depan fict ini baru tamat. Dan karena fict ini belum tamat, vote buat character cewek yang bakal tampil di tantangan terakhir masih jalan~. Yang udah vote boleh nge-vote lagi dengan character yang berbeda dengan yang anda vote sebelumnya. Oke, akhir kata..."Bagi readers yang baik hati, review~"