Just Friend

.

.

.

chlorine16

.

.

.

Harry Potter J.K Rowling

London selalu terlihat indah jika malam hari, lampu di jalanan berkelap-kelip dimana-mana. Langitnya yang hitam seakan-akan menjadi background yang paling sempurna untuk kota ini, ditambah suasana natal dan tahun baru menjadikan kota ini begitu ramai dan keceriaan dimana-mana.

Tapi tidak dengannya.

Tidak dengan perasaannya.

Di tengah-tengah lautan manusia yang berkumpul di mengelilingi jam besar kebanggaan kota London. Big band. Bunyi 'teng' akan menggema setiap jarum panjang jam raksasa tersebut perlahan maju di setiap menitnya. Harry tidak begitu menikmati waktu ini, kebahagian yang di rasakan semua orang kecuali dirinya. Dia tahu, mungkin ada segelintir orang yang sama seperti dirinya.

Membenci ketika jarum panjang dan jarum pendek berada di angka yang sama. Di angka 12 pada malam tanggal 31 Desember. Dia dan segelintir orang di dunia membenci itu.

Sebenci apapun terhadap pergantian tahun, dia akan selalu menatap jam tersebut. Menyaksikan secara perlahan-lahan bagaimana jarum jam panjang akan berada di bawah jarum jam yang pendek. Dan, yang tunggu akhirnya terjadi. Dentangan pertama yang di keluarkan oleh Big band yang akan membuat orang-orang merasa bahagia.

Sudah selesai. Saat nya dia pergi. Membuka lembaran baru dengan goresan warna yang sama pula.

Harry menerobos keluar dalam suka cita yang di lakukan sebagian besar penduduk kota London. Dia tidak bisa merasakan kesenangan itu sendirian, atau dia akan menangis sendirian di tengah euforia masyarakat London.

Sungai Thames tidak seramai dan sepadat Big band, beberapa orang berkumpul dan merayakan tahun baru dengan melihat Big band dari jauh. Harry tidak mengerti, seseorang puas hanya melihat dari jauh. Apa enaknya itu? Bukankan jauh lebih baik melihat dari dekat dan mengetahui kecacatan apa saja yang diketahui daripada sekedar mengagumi dan melihat keelokannya dari jauh.

Menumpukan kedua tangannya di pagar pembatas pinggiran sungai Thames, rasa dingin besi pembatas tidak bisa dirasakannya karena mantel yang menjaga tubuhnya agar tetap hangat. Tangannya sudah tidak di perban lagi sejak hari ini dan menyisakan bekas luka kecil. Terdengar ledakan-ledakan kecil dari kembang api yang dinyalakan dari jauh.

Harry melihat pantulan kembang api tersebut di permukaan sungai Thames ketika kembang api meluncur ke langit lalu meledak dengan indah dan hancur menjadi debu.

Rasanya menyakitkan tapi semua orang menikmati ledakannya yang indah.

Hanya itu..

Sangat nyaman ketika melihat kembang api hanya berupa pantulan di air. Toh itu sama saja. Hingga air di sungai Thames beriak kecil karena seseorang melempar batu tepat di objek yang dilihat Harry.

"Hai," Dia menyapa.

Harry menatap Draco dengan tidak penuh minat, "kau menggangguku, Malfoy."

"Aku senang kau menyadariku." Draco bersedekap, menyandarkan punggungnya pada pembatas.

"Tapi aku menyesal."

"Aku senang kau berbeda." Draco berkata tanpa menatap Harry.

Harry diam dan menunggu Draco melanjutkan ucapannya.

Akhirnya mata Draco tertuju padanya, "aku ingin mengatakan sesuatu padamu."

"Seberapa penting?"

Mata Draco menatapnya tajam hingga Harry dapat melihat pantulan kembang api dari matanya, "sangat penting hingga menyangkut keluargamu."

Harry tercekat, "jangan bercanda." sinisnya.

Draco mencengkram lengan Harry sangat kuat dan menyeretnya, "ayo."

Harry pasrah, langkahnya mengikuti kemanapun kaki Draco melangkah. Hal yang penting. Harry berfikir apa keluarganya memiliki masalah dengan keluarga Malfoy atau tidak tapi Harry tidak tahu. Harry tidak tahu apa yang diinginkan keluarga Malfoy kepada Potter yang baru saja bangkrut.

"Aku akan langsung ke intinya." ucapnya, melepaskan lengan Harry.

"Katakan saja." Harry berujar tenang.

Draco menatap ke arah lain seperti tidak ingin menghacurkan hidup orang lain lalu menghirup nafas sebanyak yang dia bisa dan menatap mata hijau yang sarat akan kecemasan dan keingintahuan.

"Dengar, Harry," Malfoy memulai dengan lembut, memegang bahu Harry, "ayah dan kakekmu berhutang pada kami-"

"Berapa banyak?"

"Lima ribu poundsterling." jawab Draco. Dia bisa merasakan bahu Harry melemas.

"Lanjutkan." Pintanya.

"Ayah dan ibuku sudah memberi mereka waktu lima tahu untuk melunasinya tapi ayahmu hanya melunasi sepertiganya. Dan waktu kalian sudah habis saat ini." Draco melihat liquid bening keluar dari mata hijau milik Harry, menjadikan dirinya tidak tega untuk melanjutkan.

"Tolong lanjutkan." Nada serak keluar dari bibir Harry.

"Mereka mencari tahu tentang kalian, harta kekayaan bersih kalian dan dirimu. Mereka menemukan sesuatu di dalam catatan kesehatan milikmu." Mendadak bahu Harry menengang dengan hebatnya.

"Tidak mungkin, dokternya sudah berjanji." Lirih Harry.

"Kami Malfoy, Harry. Kami bisa mendapatkan sesuatu yang rahasia sekalipun jika kami ingin."

"Intinya?"

"Ayah dan ibuku akan ke rumah kalian besok lusa untuk menukarmu." Liquid bening pria di depannya mengalir semakin deras tanpa ada isakan yang keluar.

"Lalu bagaimana nasibku kedepannya?"

"Menjadi pengantinku dan melahirkan penerus Malfoy."

Harry melepaskan tangan Draco dari tubuhnya, suara ledakan dari kembang api juga sudah tidak di pikirkannya. Pikiran dan hatinya sudah hancur menjadi debu seperti kembang api di langit kota London. Harry berjalan terhuyung-huyung, tak mampu menggerakkan tubuhnya yang sudah seperti jeli. Draco membantunya berdiri dan mengatakan sesuatu.

"Aku akan mengantarmu pulang." Draco menawarkan, menyangga tubuh Harry.

"Aku tidak mau pulang." Kata Harry menahan isakannnya.

"Katakan saja kemana kau ingin pergi, aku akan mengantarmu."

Harry menggeleng, "aku tidak tahu."

Harry tidak mau kembali ke apartmen dengan kondisi yang seperti ini. Giant akan khawatir dengan dirinya lalu dia akan menelpon teman-teman Harry untuk meminta bantuan. Itu akan menjadi rumit nantinya.

"Bisakah kau meninggalkan ku sendirian?" Harry menatap Draco dengan mata dipenuhi airmata.

"Tidak. Kita akan menginap di hotel untuk sementara. Kau mau?"

Harry diam saja, menatap arah lain selain Draco. Dia tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa.

"Oke. Kau diam artinya setuju." Draco kembali memapahnya.

Harry tidak menolak dan tidak mengiyakan. Dia lebih kepada terserah.

Harry tetap saja diam dan menahan isakannya sendiri setelah Draco memasangkan seatbelt untuknya.

Draco memakirkan mobilnya di sebuah basement entah dimana.

"Kita di hotel. Jangan menangis, aku tidak mau mereka mencurigaiku. Okay." Draco berkata lembut sambil mengusap air mata Harry dengan tisu.

"Aku bisa berjalan sendiri." Harry menolak ketika Draco akan memapahnya.

"Kau duduk saja disini. Aku akan memesan kamar untuk kita." Ucap Draco dan Harry menurut duduk di sofa depan meja resepsionis.

"Satu kamar suite dengan twins bed. Dua malam."

"Maaf tuan, kamar dengan twins bed sudah habis. Hanya tersisa kasur dengan ukuran king size."

"Ya, tak apa."

Sementara resepsionis sedang mengatur registrasi check in di komputer, Draco memeriksa keadaan Harry. Sama seperti tadi.

"Paymentnya?"

Draco mengeluarkan blackcard miliknya dan menyerahkan ke resepsionis.

"Terima kasih." Draco mengambil kembali blackcardnya dan kunci kamar.

"Ayo." Ajaknya pada Harry.

Harry hanya terdiam sama seperti tadi dan saat saat yang lalu. Dia tidak marah atau kesal dengan Draco atau siapapun. Dia hanya ingin memendam semua emosi yang bergejolak di dadanya.

"Harry," Draco memanggilnya tapi Harry mengacuhkannya, "tak apa jika kau ingin menangis."

Draco menghela nafas perlahan, dia tahu ini sulit untuknya. Jadi Draco membiarkan Harry diam saja di dalam lift hingga masuk ke kamar hotel, dan Harry mengatakan sesuatu.

"Kau bilang jika aku akan menjadi.. pengantinmu, benar?" Harry duduk di pinggiran ranjang, menatap mata Draco ketika berbicara.

"Iya."

"Kau tidak menolak?"

"Tidak."

Kening Harry berkerut, "kenapa?"

"Aku gay."

Harry terkejut mendengar jawaban dari Draco. Tapi itu masih tidak masuk akal baginya atau ini hanya sekedar setingan yang di lakukan Malfoys padanya.

"Kau bercanda."

"Tidak."

"Bisakah kau ceritakan bagaimana orang tua mu sampai menginginkanku menjadi pengantinmu?" Tanya Harry kesal.

Draco memilih untuk duduk di samping Harry daripada hanya terus berdiri.

"Aku gay sejak umur lima belas dan orang tua ku menyadari. Awalnya father menghukumku habis-habisan dan menyuruhku kembali lurus. Aku mencoba untuk lurus dan terus gagal hingga orang tua ku tau aku meniduri pria asing yang ketemui di club. Mother tidak tega melihatku.. dihukum dan dia berjanji menemukan pria yang bisa membawa keturunan Malfoy."

"Mereka tidak membenci mu sekarang?"

"Tidak. Asalkan aku tidak membuka diri bahwa aku seorang gay dan tidak meniduri pria asing lagi."

"Masalah ini sungguh di luar perkiraanku," Harry menggenggam tangan Draco, "Aku akan membayar sisanya, hutang ayahku. Aku janji, hanya berikan aku waktu."

"Tidak mungkin, Harry. Ayahku sudah memberika waktu lima tahun, itu sudah maksimal."

"Kumohon, coba bicara saja. Kau telfon ayahmu dan coba saja Draco, kumohon." Harry begitu memelas pada Draco. Liquid bening itu tertahan di pelupuk matanya.

"Oke." Draco mengambil ponselnya dari dalam saku dan mendial nomor yang sudah di hafalnya di luar kepala.

"Draco, kau tidak ada di rumah."

Sambungannya terhubung dengan ibu Draco. Harry melihat id call di ponsel Draco. Draco sengaja mengaktifkan mode speaker agar Harry bisa mendengar sendiri.

"Happy new year, Mother. Aku menginap di hotel dekat sungai Thames."

"Happy new yearto you too, Dragon. Kau butuh sesuatu?"

"Dimana Father?"

"Disampingku."

"Bisakah aku bicara dengannya?"

"Ada apa? kau membuat ibumu cemas tadi."

Harry mendengar suaranya berganti dengan suara pria yang Harry asumsikan sebagai ayah Draco.

"Aku minta maaf. Father, aku ingin mengatakan tentang masalahmu dengan mister Potter."

"Kenapa?"

"Berilah mereka sedikit waktu lagi."

"Dengan siapa kau di sana?"

"Tidak penting aku sendirian atau bersama dengan orang lain."

"Dengar, Draco. Aku sudah memberikan waktu maksimal lima tahun dan aku tidak akan menambah waktu lagi."

"Father, dengarkan aku-"

"Keputusanku sudah final, Draconis Malfoy."

Lalu sambungan mereka terputus. Draco melihat Harry yang sekali lagi menangis dalam diam. Draco memdorong tubuhnya mendekat ke Harry dan memeluknya.

"Jangan menahan isakanmu, tenggorokanmu bisa sakit nanti."

Lalu sedetik kemudia Harry membenamkan wajahnya di dada Draco dan menangis dengan hebatnya, menumpahkan apa yang sudah di tahan dari tadi.