Seoul, 2014

Menurut Mingyu, pagi ini bukanlah pagi yang hadir seperti biasanya. Bukan masalah cuaca yang membuat pagi ini berbeda, tetapi lebih kepada keadaan dari 'dalam' Mingyu sendiri. Sejak Jeonghan Hyung-nya memvonis bahwa ia jatuh hati kepada sang ketua kelas, seluruh saraf otaknya ter-reset secara otomatis menjadi mode 'zombie'.

Dimulai dari dirinya yang tidak bisa tidur semalaman dengan keadaan jantungnya bekerja dengan kecepatan penuh. Dilanjutkan dengan mode 'zombie' otaknya yang menyebabkan dirinya tidak memasang alarm dengan benar dan berakhir kesiangan. Hingga kebodohannya yang membuat seluruh keluarganya heboh termasuk sang ayah yang biasanyanya tenang, ikut panik juga. Mingyu —yang melamun— hampir membuat rambutnya botak seperempat karena surainya tersangkut pada hair dryer yang ia gunakan. Mingyu benar-benar akan membentuk pitakan rambut di kepalanya jika Minseo tidak segera datang —ayah dan ibunya tidak dapat melakukan apa-apa. Ingatkan Mingyu untuk bersyukur memiliki adik cantik nan unik seperti Minseo.

"Mingyu ya! Kau kenapa?" suara Hansol —atau yang sering ia sebut sebagai Vernon— tidak mengusik Mingyu sama sekali yang kini sedang terdiam dalam mode 'zombie'.

Tak ada sahutan yang keluar dari bibirnya. Kedipan lemah dengan pandangan kosong menjadi sahutan dari Mingyu.

"Ya! Kau kenapa? Kau tidak kerasukan kan?!"

"Aku harus bagaimana?" cicit Mingyu sambil mendongakkan kepala ke arah Vernon yang berdiri di sampingnya.

"Apanya yang harus bagaimana bodoh!"

"Huaaa! Aku harus bagaimana ini?!" pekik Mingyu seraya menenggelamkan wajahnya di perut lelaki blasteran ini.

Seketika Vernon merasakan mual di perutnya melihat pemandangan di hadapannya. Tak tahan melihat skinship yang diberikan lelaki tan ini, sesegera mungkin jemarinya ia arahkan ke surai Mingyu dan menariknya sekuat tenaga. "Y-ya! Seriously Kim Mingyu!"

"Aku sudah gila! Huwaaaaaa!"

'Plak'

"Berisik!"

Seungcheol melangkahkan kakinya ke ujung ruangan dan menempatkan dirinya di bangku 'singgasananya' saat berada di klub renang.

"Seungcheol Hyung! Ini sakit! Huwaaa!" Mingyu menggulingkan badannya di atas lantai sambil memegang kepalanya yang berdenyut.

"Aku ke sini bukan untuk melihat penerus ketua klub ini menangis seperti bayi. Ya! Kim Mingyu tegakkan badanmu!"

Mingyu lantas menegakkan tubuhnya dengan bibir bawah yang menyembul dan menatap Seungcheol melas.

Vernon hanya memperhatikan drama murahan di hadapannya sambil memakan chips yang entah milik siapa.

Seungcheol bangkit dari duduknya dan berlutut di hadapan Mingyu. Ia tepuk pipi Mingyu menggunakan kedua tangannya dengan cukup keras beberapa kali.

"Adikku kenapa eoh?"

Mingyu merentangkan tangannya hendak menjadikan Seungcheol objek skinship-nya. Secepat kilat Seungcheol menghentikannya dengan cara menyapukan telapak tangannya ke wajah Mingyu, dan kembali duduk di 'singgasananya'. (Kebiasaan Seungcheol mirip seperti kebiasaan Yoonjae di drama Reply 1997).

"Cerita. Jangan merengek! Pusing aku!" titah Seungcheol.

"Ini masalah yang rumit hyung! Aku tak tahu harus cerita dari mana."

"Dari tadi ia mengatakan omong kosong seperti itu Hyung, sudah tinggalkan Mingyu saja di sini," celetuk Vernon.

"Permsi.." Suara seseorang menginterupsi obrolan mereka, dan muncul lah sosok yang cantik dari pintu ruang klub.

"Oh! Jeonghanie sini!" Seungcheol memberikan tempat duduknya untuk orang itu. Jeonghan mendekati sang kekasih dan memberikan pakaian renang milik Seungcheol, lalu mendudukkan diri di 'singgasana Choi Seungcheol'. Bagaimana dengan Seungcheol? Ia merelakan dirinya duduk di lantai dengan posisi meletakkan kepalanya di atas paha Jeonghan. Dasar modus!

"Kau tak latihan?"

"Eum?" dengung suara Seungcheol membuat alis Jeonghan mengkerut.

"Katanya kau akan latihan bersama Mingyu? Kenapa masih di sini?"

Sang kekasih hanya mendesah pelan sambil menumpukan dagunya di atas lutut Jeonghan. "Kau tak lihat, bagaimana keadaan Mingyu sekarang? Ia bahkan lebih sakit dari orang-orang di panti Rehabilitasi, ku rasa."

"Eoh? Ya! Mingyu kau kenapa?"

"..." Hingga detik yang ke sepuluh pun tak ada sautan.

"Aku rasa aku tahu penyebabnya," bisik Jeonghan.

"Eoh! Wonwoo-ssi, kau kemari?"

"Ha? Wonwoo?" Mendengar nama Wonwoo, Mingyu langsung menolehkan kepalanya ke arah pintu, namun tidak ia dapati Wonwoo di sana.

Lantas, Vernon menendang pinggang Mingyu hingga Mingyu sedikit terjungkal, ia sudah emosi ternyata.

"Ya! Begitu mendengar nama Wonwoo saja otakmu bekerja dengan kecepatan cahaya! Sedari tadi kami berbicara padamu tapi tidak kau jawab, malah kami harus melihat tingkah dungumu! Sialan kau."

Jeonghan hanya terkikik melihat kondisi saat ini, dan ia menarik kesimpulan bahwa orang-orang di sini tidak tahu bahwa Mingyu mendapat syndrome jatuh cinta.

"Jatuh cinta kepada Wonwoo begitu memberatkan ya Gyu?"

Seluruh pasang mata di ruangan itu melirik Jeonghan dengan ganas, ya kecuali Mingyu karena ia malah menganggukkan kepalanya tanpa sadar.

"Eh? Aku tidak jatuh cinta!" Mingyu mengibas-ngibaskan tangannya degan panik, dan jika ditilik lebih dekat, keringatnya mulai menetes.

"Sudah akui saja Kim Mingyu, jadilah lelaki jantan. Jangan menjadi munafik Gyu."

"T-tapi aku merasa ini bukanlah jatuh cinta hyung! Biasanya orang jatuh cinta akan merasa bahagia, tapi aku malah merasa ketakutan kau tahu!"

Vernon merangkul Mingyu hingga keduanya hampir terjungkal di lantai. "Aah.. Kasmaranlah yang membuat kau gila eoh?"

"Sudah ku katakan, aku tidak kasmaran! Kau tahu, tadi pagi hampir saja rambutku botak karena terbayangi masalah ini."

Ketiga manusia di sana terbahak dengan liar mendengar kisah Mingyu, dimana ketiganya setuju bahwa Mingyu yang dikenal sebagai cassanova sungguh bodoh dalam hal percintaan ternyata.

"Ku rasa ini adalah karma dari Tuhan karena kau sering mempermainkan perasaan orang Gyu.. Hahahaha"

Ingatkan Mingyu untuk tidak membunuh kawannya yang satu ini.

"Ya Hyung! Aku tidak pernah mempermainkan perasaan orang tahu! Mereka saja yang terlalu lemah dengan pesonaku."

Bibirnya maju beberapa senti ketika Seungcheol lagi-lagi menyapukan telapak tangannya ke wajah tampannya.

Jeonghan berdeham sebentar dan memasang mimik serius. "Begini Gyu, daripada kau semakin gila dan membuat orang sekitarmu juga ikut gila dengan tingkahmu ini, aku akan membantumu untuk meyakinkan perasaanmu terhadap Wonwoo, jangan mengelak!" ujar Jeonghan ketika melihat Mingyu mulai membuka mulutnya, berusaha menyanggah pernyataan itu kembali.

Seungcheol bangkit dari posisinya yang bersandar pada Jeonghan berubah menjadi duduk di samping Vernon. Mereka berdua memposisikan diri dengan nyaman, siap melihat sesi 'Konseling bersama Jeonghan' yang mirip dengan acara favorit Vernon di televisi.

"Jawab dengan serius Kim Mingyu, dan jujur dengan diri sendiri."

Mingyu menghembuskan nafasnya, "Baiklah."

"Tutup matamu dan bayangkan kau berhadapan dengan kekasih idamanmu. Hari ini ia tampak manis sekali, dan kalian akan berjalan bersama."

Mingyu membuka sebelah matanya, "Hyung! Aku tak punya kekasih, kau ingin mengejekku ya?"

Jeonghan hampir saja mengumpat, tapi beruntunglah sisi malaikat di dirinya hari ini masih menguasainya. "Diam! Ikuti instruksiku saja!"

"Lalu kau menggenggam tangannya, dan ia bersemu. Pada hari itu, kau mengajaknya ke Sungai Han. Cuaca hari itu cukup dingin, tapi kekasihmu malah memakai pakaian yang tipis. Lantas, kau memarahinya sambil memeluknya erat."

Seungcheol dan Vernon memandang mereka dengan semangat, ternyata ini lebih seru di banding acara yang ada di televisi.

"Di tengah kencan kalian, ada orang lain yang menghampiri kalian dan mengaku bahwa orang itu adalah sahabat lama kekasihmu. Kekasihmu terlihat bahagia sekali, bahkan memeluk sahabatnya dengan erat. Hingga akhirnya, kekasihmu melupakan kencan kalian dan parahnya ia meninggalkan dirimu untuk menghabiskan waktu bersama sahabatnya. Sekarang buka matamu."

Mingyu menatap Jeonghan dalam, aura serta garis wajahnya sedikit berubah.

"Hyung.. Kau cenayang?"

"Hah?"

"Itu kisahku yang menyebabkan diriku putus dengan mantan kekasihku dulu Hyung."

Penonton kegiatan ini seketika membeku, ini adalah klimaks adegan yang luar biasa!

Jeonghan tergagap, dan tertawa sengau. "Hahaha.. O-oke sekarang tutup matamu lagi."

"Sekarang kau melihat Wonwoo, ia tampak sangat manis. Dia berlari ke arahmu dengan senyum yang sangat lebar."

Seluruh orang di sana terpaku dengan reaksi yang Mingyu berikan. Wajah Mingyu memerah hingga leher dan kupingnya. Seungcheol bergegas mengambil ponselnya dan mengambil gambar sebanyak mungkin dari Mingyu yang bersemu. Vernon hanya tersenyum sambil menggigit bibirnya, ia merasa excited sekali sekarang.

"Namun ketika Wonwoo akan sampai di hadapanmu, seseorang menghentikan Wonwoo dan menciumnya. Wonwoo hanya terdiam dan menikmatinya. Sekarang buka matamu!"

Mingyu kira dirinya bisa saja membunuh orang asing yang ada di bayangannya saat ini. Dadanya naik turun dan hembusan nafasnya tidak seirama.

"Bagaimana?" Jeonghan menatapnya remeh sambil mengibaskan rambut panjangnya ke belakang. Mingyu terdiam beberapa menit, menyelami perasaannya sendiri.

"Itu yang akan terjadi jika kau tidak segera mengakui perasaanmu. Wonwoo bukanlah orang yang bisa kau anggap remeh, diam-diam ia memiliki banyak penggemar, kau tahu!"

"Jeonghan Hyung~ Bagaimana ini?" Seungcheol dan Vernon lagi-lagi mendesah saat mereka melihat Mingyu kembali merengek.

"Masih mau mengelak Kim? Lihat wajah bodohmu di foto ini! Jelas-jelas kau bersemu hanya dengan membayangkan Wonwoo."

Mingyu merasa hatinya membuat segala sesuatu yang ia pikirkan menjadi semakin kacau. Ada sesuatu yang terpendam dalam hatinya namun tidak dapat diterjemahkan oleh logikanya dengan benar. Namun sejak detik itu, Mingyu mendeklarasi bahwa perjuangan mengejar Jeon Wonwoo dimulai.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Pemandangan yang cukup langka ketika kau melihat duo jangkung Jeon dan Kim berjalan bersisihan tanpa ada omelan dari keduanya. Biasanya mereka selalu terlibat dalam perdebatan, mulai dari nilai ataupun kebiasaan buruk yang tidak dapat diterima dari masing-masing pihak. Namun saat ini, Mingyu dan Wonwoo terlibat dalam sunyi.

"Aku sudah membaca lirik lagumu, dan sudah ku rangkai liriknya dengan milikku. Nanti di rumahku, kau bisa menghafalkan bagianmu lagi."

Mingyu melirik Wonwoo sebentar, namun manik matanya bergetar ketika pandangan mereka bertemu. Terimakasih Tuhan telah menciptakan jantung tepat di dalam tubuhnya. Jika tidak, Mingyu yakin jantungnya akan melompat saat itu juga.

"B-baiklah."

"Kau kenapa? Aneh sekali."

"H-hanya gugup untuk penampilan besok."

Wonwoo memajukan bibirnya beberapa senti, sambil mengangguk paham. Sedangkan Mingyu mengalihkan pandangannya ke arah barisan motor yang terparkir di halaman sekolah. Dalam hati ia merutuk, mengapa Wonwoo manis sekali?!

"Kau tak bawa jaket Jeon?"

Wonwoo menoleh sambil membenarkan kacamatanya yang merosot. "Tidak. Tadi aku pikir kita akan naik Bus, tapi kau bilang kalau naik Bus jam pulang sekolah akan memakan waktu banyak. Jadi ya sudah."

Mingyu melepas hoodie merah yang ia kenakan dan menyerahkannya pada Wonwoo.

"Ini pakai, udara hari ini cukup dingin."

"Tak perlu, aku bisa menahannya."

Mingyu akhirnya berinisiatif mengalungkan topi hoodienya di atas kepala Wonwoo.

"Aku lupa sapu tanganmu aku letakkan dimana, jadi ini, aku berikan hoodie ku saja padamu."

Wonwoo hanya terdiam dan memakai hoodie Mingyu dengan dahi mengkerut.

"Bodoh. Apa yang tidak kau lupakan? Dasar otak satu giga."

Mingyu memencet hidung Wonwoo yang mulai memerah karena cuaca sore ini benar-benar dingin. Kemudian menyerahkan helm untuk Wonwoo.

"Ya.. ya.. Terserah.. Ayo cepat naik."

"Hidung ku bukan mainan untuk sembarangan kau pencet, bodoh!"

Wonwoo memukul punggung Mingyu keras saat ia berhasil naik ke motor sport –nya.

Di tengah perjalanan mereka, Wonwoo berusaha memancing bahan obrolan di antara mereka dan seluruhnya mengandung masalah nilainya. Wonwoo sepertinya mengetahui bahwa Mingyu benar-benar tidak beres sehingga ia mencoba agar mereka tidak terlalu canggung selama perjalanan.

"Nilaimu perlu ditingkatkan lagi, bodoh! Jangan puas berada di tingkat 18 besar di kelas."

"Tapi itu sudah cukup tinggi Jeon! Aku berhasil naik 10 tingkat tahu!"

"Ya-ya.. Awas!" pekik Wonwoo saat melihat anak kecil yang hampir terserempet oleh mereka.

Mingyu dengan cepat menarik remnya yang mengakibatkan mereka berdua jatuh. Beruntung, mereka berada pada kecepatan rendah, sehingga hanya luka kecil yang mereka dapat.

"Huwaaa..." Anak kecil yang berjalan tanpa ada pengawasan dari orangtuanya ini, kini terduduk di atas trotoar dan mulai menangis, maklum, rasa shock masih mengahantuinya.

Wonwoo pertama kali bangun dan membantu Mingyu mendirikan motornya kembali. Setelah itu, lelaki tan itu menghampiri anak kecil itu dengan wajah teramat cemas.

"Aigoo... Kau tidak apa-apa kan? Maafkan hyungnim ya, karena tidak berhati-hati." Mingyu memeluk anak itu, mencoba menenangkan bocah sekolah dasar yang saat ini semakin membesarkan intensitas tangisannya.

"Ya Mingyu! Singkirkan tubuhmu, anak itu takut dengan lukamu bodoh!"

Lantas, Mingyu mengalihkan pandangannya ke siku kanannya yang memang berdenyut perih. Pantas saja anak itu semakin histeris, karena luka yang Mingyu terima tidaklah sekecil itu.

"Y-ya adik kecil.. Jangan menangis, apa kau merasa sakit eoh?" ujar Wonwoo sambil mensejajarkan wajahnya di hadapan anak kecil itu.

"T-tidak. Tapi, hyungnim itu kesakitan. Hiks.."

Mingyu ikut berjongkok dan mensejajarkan wajahnya di hadapan bocah itu. "Tidak apa kok, Hyung ini kuat, luka seperti ini hanya terasa seperti digigit semut! Tidak sakit. Hehehe.. Sudah jangan menangis ya, hyungnim ikut sedih kalau kamu menangis."

Wonwoo mengalihkan tatapannya ke arah Mingyu, dan tersenyum lembut. Dibalik sorotan matanya, tersimpan kecemasan karena darah yang terus menetes pada lengan kanan Mingyu. Wonwoo tak habis pikir, bagaimana mungkin Mingyu bisa menyembunyikan rasa perih itu di balik senyuman bodohnya.

Tak lama kemudian, seorang wanita muda menghampiri mereka, ternyata ia adalah ibu dari anak ini. Melihat kondisi Mingyu, wanita ini meminta maaf sambil menawarkan bantuan untuk mengobati Mingyu. Namun, Mingyu hanya tersenyum dan berkata bahwa ia baik-baik saja. Bahkan, ketika wanita itu memberikan uang, Mingyu dengan sopan menolaknya.

Wonwoo hanya terdiam memperhatikan Mingyu, sedetik kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah motor Mingyu dan mengumpat dalam hati karena spion dari motor itu bengkok. Setelah wanita muda itu beranjak dari tempatnya, lantas Wonwoo berdiri di hadapan Mingyu dan menyelentik dahinya keras.

"Aduh! Sakit Jeon!"

"Bodoh!"

"Iya, maaf aku yang salah, aku tak berhati—"

"Kenapa kau tak ambil uangnya?! Lihat motormu yang penyok bodoh! Kau bisa menggunakan uang itu untuk memperbaiki motor mahalmu. Lagipula itu salah dari wanita itu, kenapa bisa meninggalkan anaknya sendirian! Haishh.. Kim Babo!"

Mingyu bergeming, ia menatap mata Wonwoo yang tersirat rasa kesal dan cemas. Hatinya perlahan menghangat dan bisa ia rasakan kini melumer hingga dasar lambungnya, yang membuat perutnya tergelitik. Tangannya ia arahkan ke pipi sang ketua kelas dan menekannya cukup kuat.

"Dengar Jeon. Wanita itu sudah kalut dengan hilangnya anak itu, bahkan ia bisa menangis kapan saja. Jika kita menuntut untuk kerugian kecil ini, aku yakin perasaan menyesalnya akan bertambah berkali lipat. Jadi, lebih baik aku menolaknya kan, karena perasaan cemasnya akan berkurang."

Sorot mata Wonwoo tidak dapat berbohong kali ini, ia merasa sangat cemas. Tersadar, segera ia menyingkirkan telapak tangan Mingyu yang ada di pipinya.

"Terserah. Ayo pulang, biar aku yang menyetir."

"Tunggu, kau tidak luka kan?"

"Urusi dirimu sendiri baru orang lain bodoh."

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Sepanjang perjalanan, mereka hanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga saat mereka sampai pada halaman rumah keluarga Jeon, barulah mereka berbincang guna menghilangkan rasa canggung.

"Jam berapa ini Kim?"

"Sudah jam setengah 6."

"Ayo masuk, waktu kita tidak banyak."

"Eoh? Kenapa sepi sekali?" tanya Mingyu sambil meletakkan sepatunya di rak yang ada.

"Orang tuaku sedang menghampiri adikku yang ada di Changwon saat ini, rindu katanya."

"Oh."

Mingyu mengekori Wonwoo dari belakang seraya memperhatikan kondisi rumah dari sang ketua kelas. Rumah ini cukup luas dengan gaya minimalis modernnya, namun di samping ia memperhatikan design interior ini, fokus matanya tertuju pada pigura foto yang berjejer di ruang tamu.

Mingyu banyak melihat foto Wonwoo dan adik laki-laki Wonwoo saat duduk di sekolah dasar. Sedikit rasa familiar menghampiri dirinya kala melihat potret Wonwoo yang memeluk bola sepak. Manis. Wonwoo sangat manis dengan rambut hitam legamnya yang panjang hampir menyentuh tengkuk.

"Ya! Siapa yang memperbolehkanmu melihat foto-foto ini ha?!" Wonwoo yang nampaknya dari kamar— untuk ganti baju— menarik kerah baju Mingyu dari belakang.

"Kau manis Jeon. Hahahaha.."

"Berisik! Sana duduk. Aku mau ke dapur sebentar."

Mingyu meregangkan ototnya pelan, "Jeon, aku ijin tidur sebentar ya. Badanku sakit semua."

"Terserah. Kau tidur tidak bangun lagi juga tak apa."

Mingyu hanya berdeham dan membawa tubuhnya di atas sofa. Tak butuh lima menit, deru nafasnya sudah sangat teratur yang menandakan dirinya terlelap.

Wonwoo yang telah kembali dari dapur membawakan minuman dan peralatan P3K untuk Mingyu. Niatnya, ia ingin membangunkan Mingyu supaya Mingyu dapat mengobati lengannya dahulu. Namun, melihat Mingyu yang tertidur dengan pulas membuat Wonwoo sedikit tidak tega dan membiarkan dirinya membersihkan lengan Mingyu.

"Bodoh. Aku membencimu Kimbab." Mulutnya mengeluarkan rutukan untuk Mingyu, namun tangannya dengan lembut membersihkan luka Mingyu.

"Nghh.. Aw!"

Terkejut melihat Mingyu yang bangun dari tidurnya, secara spontan ia menekan luka Mingyu dengan keras.

"E-eoh? Kau sedang apa Jeon?"

"Sedang berenang! Bodoh, pikir sendiri! Aku mau pesan makanan saja."

Wonwoo beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamar. Bagaimana dengan Mingyu? Ia hanya terdiam heran melihat Wonwoo yang kembali aneh. Lalu ia mengambil peralatan P3K dan mengobati lukanya sendiri. Setelah memastikan lukanya tertutup dengan sempurna, kini ia kembali mengobservasi ruang tamu keluarga Jeon. Merasa bosan, ia ambil kertas partitur di tasnya dan mulai bersenandung kecil.

Tidak ada angin ataupun hujan, lampu serta peralatan elektronik di rumah ini mati secara tiba-tiba. Pemadaman listrik ternyata.

"Ya Jeon! Kau punya lilin? Bagaimana kita latihan kalau begini?" Mingyu mengarahkan kakinya ke arah tangga dengan bantuan pencahayaan temaram dari ponselnya—ponselnya sudah lowbatt.

Merasa tidak ada sahutan dari Wonwoo, Mingyu berinisiatif menyusul ke kamar Wonwoo. Namun, ia masih bergulat dengan batinnya mengenai etika bertamu.

'Puk puk'

"YA KAMJAGIYA! (YA AKU KAGET!)" Ia merasakan tepukan dari belakang, sontak ia terperanjat dan membalik badannya. Jika adegan ini di slow motion, kau pasti dapat melihat tetesan air liur yang mengenai wajah Wonwoo saat ini. Ya, Wonwoo lah yang menepuk pundak Mingyu, dan sialnya ia mendapat 'curahan cinta' dari Mingyu juga.

"Kau kenapa bodoh?! Seperti melihat setan saja," ujar Wonwoo datar sambil mengelap wajahnya dengan punggung tangannya.

"Kau yang kenapa Jeon?! Muncul tiba-tiba begini, lagipula tadi kau di lantai dua kan? Kenapa sekarang sudah ada di sini?"

Wonwoo mengangkat plastik besar yang berisi makanan itu tinggi-tinggi. "Tadi aku sudah turun bodoh untuk mengambil ini. Ayo makan."

"Tunggu, kau punya lilin? Ponselku hampir mati."

"Ada, sebentar. Kau duduk dulu saja di sana, oh ya ada gitar juga di sana jika kau ingin berlatih dulu."

Mingyu mengangguk patuh dan mengikuti instruksi Wonwoo untuk berlatih dahulu. Ia sandarkan tubuhnya di pintu kaca yang menghubungkan ruang tamu dengan taman belakang rumah keluarga Jeon, dan memetik gitar yang ada di pangkuannya.

Baby it's all right, I'll call you mine

(Baby It's all right I'll call you mine)

Bame dareun uril balkhyeojwo

(At night the moon is shining at us)

Saebyeogeul jina, bamsaeseo hae bogo sipeo

(Through the dawn, I want to try to stay up all night)

"Omong-omong, aku suka lirik buatanmu." Wonwoo mendudukkan diri di samping Mingyu dan mulai menyalakan satu per satu lilin yang ia bawa.

"Oh? Itu sebenarnya curahan hati dari Kim Mingyu. Hahaha.."

"Untuk mantan kekasihmu?"

"Bukan."

"Lalu?"

'Untukmu Jeon.' Mingyu hanya tersenyum di dalam hati. Ya, akhirnya ia mengaku bahwa ia merasakan euphoria yang menyenangkan ketika bersama Jeon Wonwoo.

"Pokoknya ada saja. Hahaha."

"Oh."

Mingyu tersenyum hingga gigi taringnya menyembul keluar, dan ia ikut berjongkok di sebelah Wonwoo yang sedang berusaha menyalakan banyak lilin.

"Kenapa banyak sekali lilinnya?"

"Dingin. Tidak ada penghangat. Jadi satu-satunya harapan hanya memasang lilin sebanyak mungkin."

"Tak perlu lilin, kan kau punya aku Jeon," cicit Mingyu sambil menggigit bibir bawahnya. Dasar pengecut Kim Mingyu, hanya berani berkata seperti itu dalam volume kecil.

"Ayo segera makan, setelah itu latihan."

Mereka menghabiskan makanan mereka dalam hening ditemani tarian lembut dari api lilin di hadapan mereka. Sebenarnya adegan seperti ini sungguh romantis jika dihabiskan dengan kekasih masing-masing. Namun, Mingyu harus menelan kenyataan pahit bahwa ia harus menghabiskan waktu romantis ini dengan seseorang yang ia sukai, tapi orang yang ia sukai membenci dirinya. Andai Wonwoo berlaku lebih lembut padanya, pasti ia tak segan-segan menyatakan perasaannya saat ini juga.

"Kimbab, menurutmu apa yang harus kita siapkan untuk besok?"

"Emm.. Entah. Tapi, aku mendengar dari kelompok Vernon jika mereka akan melakukan battle rap dengan penonton untuk menarik perhatian."

"Hm? Benarkah? Ah, kurasa terlalu banyak kelompok yang menampilkan rap," ucap Wonwoo.

Tiba-tiba Mingyu diam. Fokusnya tertuju pada helaian rambut Wonwoo yang mencuat tak beraturan. Layaknya de-javu, Mingyu menyisir surai Wonwoo tanpa ia sadari.

"Apa yang kau lakukan?" Wonwoo bertanya pada Mingyu yang tepat berada di depan wajahnya.

"Rambutmu tidak rapi. Hehehe.."

"Bodoh." Wonwoo kemudian mengacak rambutnya pelan.

"Em.. Jeon, menurutku kita tak perlu menyiapkan berlebih untuk penilaian besok. Aku sudah cukup percaya diri dengan lagu yang kita buat. Jadi, jalani saja sesuai gaya kita, yang penting kita santai, dan percaya diri."

"Oke. Baiklah, aku percaya denganmu."

Tak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk membangun chemistry satu sama lain, sehingga latihan pertama dan terakhir mereka berjalan dengan mulus. Mingyu pun terlihat luwes dengan petikan gitarnya, dan Wonwoo mulai sedikit merespect talentanya.

Mingyu bersyukur dalam hatinya, pemadaman listrik yang terjadi membawa keuntungan baginya. Tak pernah terpikir dalam benaknya bahwa ia akan menghabiskan malam berdua bersama Wonwoo ditemani cahaya temaram dari lilin kecil di sekitar mereka. Dari sini pun, Mingyu dapat melihat sisi Wonwoo yang bersinar, peta wajahnya yang tegas namun lembut, suaranya yang berat namun menenangkan. Di dalam hatinya, Mingyu telah berteriak keras-keras bahwa ia telah jatuh hati kepada Wonwoo.

Di dalam kesunyian ini, Mingyu merasakan bahu kanannya sedikit berat. Ia mendapati Wonwoo yang terkulai di bahunya dengan hembusan nafas teratur. Mingyu tersenyum lembut sambil menyingkirkan anak rambut yang menjuntai menutupi rupa Wonwoo.

Ia bersenandung kecil dan dengan hati-hati, ia genggam tangan Wonwoo. Tak perlu ditanya lagi bagaimana keadaan jantungnya saat ini, yang pasti Mingyu merasa adrenalinnya meningkat dua kali lipat.

I woke up kkummajeodo baby

(I woke up, even in dreams Baby)

Neol ttara danineun kkumkkwo eotteokhae

(I still dream of chasing you, what should i do?)

Dareun saramdeul neomankeumeun andwae

(There is no other like you)

Kim Mingyuneun pyojeonggwanri andwae

(Kim Mingyu can't control these feelings)

Naega geurae yeah yeah yeah

(I'm just like that, yeah yeah)

Naega geurae yeah yeah yeah

(I'm just like that, yeah yeah)

Dareun saramdeul neomankeumeun andwae

(There is no other like you)

Kim Mingyuneun pyojeonggwanri andwae, baby, baby

(Kim Mingyu can't control these feelings, Baby Baby)

Selesai dengan senandungnya, ia pastikan Wonwoo masih terpejam dan tidak terganggu sama sekali.

"Andai aku bisa melakukan hal gila ini saat kau bangun Jeon."

Ia arahkan wajahnya mendekati Wonwoo yang tertidur, dan satu kecupan kecil ia berikan di pucuk hidung Wonwoo. Setelah itu, ia segera menjauhkan wajahnya yang sangat memerah sambil menggigit bibir bawahnya keras-keras.

"Wonwoo tidak akan marah kan jika aku menciumnya lagi? Ah ku rasa dia tidak akan tahu."

Kembali Mingyu mendekatkan wajahnya dan mencuri sebuah kecupan di pipi kanan Wonwoo.

"Pipinya sangat halus! Tuhan, kenapa ia sangat lucu.."

Mingyu mengarahkan wajahnya kembali ke arah Wonwoo. Kali ini ia mendekati bibir ranum Wonwoo yang sejak tadi memanggilnya.

'Cup'

Seseorang tolong panggilkan Mingyu dokter, karena ia rasa saat ini ia akan meledak dalam hitungan detik. Ia rasa paru-parunya sudah bertukar tempat dengan organ lain, karena sekarang ia tidak dapat bernafas dengan benar.

'Bibirnya sangat manis! Apakah semua anggota tubuhnya terasa manis?! AH AKU SUDAH GILA!'

Doakan Mingyu agar ia dapat tidur dengan nyenyak malam ini!

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

Keesokan harinya, Mingyu bangun dengan segar, hingga beberapa temannya hampir mengirimnya ke Rumah Sakit Jiwa karena sedari tadi ia tersenyum layaknya dunia adalah surga. Vernon yang menjadi orang terdekatnya hanya mengurut dahi melihat mood Mingyu yang menakutkan. Bayangkan saja, kemarin Mingyu terdiam seperti telah mendapat penghakiman terakhir untuk pencabutan nyawanya. Lalu sekarang? Ia melihat Mingyu tersenyum kepada seluruh orang di sekolah ini. Bahkan kepada staff bersih-bersih pun Mingyu menyapanya dengan semangat.

Penggemar setia Mingyu pun semakin menggila, ketika melihat dirinya menebarkan flying kiss dan menebarkan feromone jatuh cinta berlebih. Penggemarnya benar-benar telah 'diberi makan' dengan baik oleh Mingyu.

Hingga pada waktunya penilaian seni musik yang telah mereka siapkan berhari-hari lamanya dimulai, Mingyu tak dapat berbohong kepada dirinya bahwa ia sangat gugup. Wonwoo yang saat ini duduk di sampingnya hanya membaca buku dan bersenandung kecil, tidak terlihat gugup sama sekali.

"Jeon Wonwoo. Kau sudah tahu bahwa penilaian di lakukan di ruang aula utama? Haish.. ku kira kita hanya menampilkannya di depan kelas."

"Eum? Aku juga baru tahu tadi. Ingat! Jangan mengacaukannya, atau kau akan mati."

"Aku juga berharap tidak mengacaukannya," ucap Mingyu seraya mengusap telapak tangannya yang basah di celananya.

Saat nama mereka dipanggil, barulah Wonwoo merasakan tekanan besar menghampiri dirinya. Terlihat jelas sebenarnya, Wonwoo tidak tenang sama sekali karena di balik wajah datarnya, kakinya sudah bergetar sedari tadi.

"Tes, hana, dul."

Selamat siang semuanya, saya Jeon Wonwoo dan rekan saya Kim Mingyu akan membawakan sebuah lagu yang berkisah perjuangan seseorang untuk mendapatkan sang pujaan hati, dan lagu ini dibuat dengan gairah anak muda yang sedang jatuh cinta," Wonwoo menjelaskan project singkat mereka dengan cukup lancar.

"Ah.. Saya mau menambahi, lagu ini khusus saya persembahkan untuk seseorang yang saya cintai, mungkin orang itu tidak menyadarinya karena kita terlampau 'jauh', tapi saya akan membuktikan cinta saya kepadanya. Selamat menikmati."

Ia rasa telinganya sedikit berdengung ketika mendengar teriakan dari penggemar Mingyu yang girang. Namun Wonwoo terdiam, dan menatap Mingyu yang sedang tersenyum lebar ke arahnya. Dan lamunan singkatnya terpecahkan ketika mendengar petikan gitar Mingyu serta lagu yang mulai dinyalakan.

I woke up, even in dreams Baby

I still dream of chasing you, what should i do?

There is no other girl like you

Seventeen can't control these feelings

I'm just like that, yeah yeah

I'm just like that, yeah yeah

There is no other girl like you

Seventeen can't control these feelings, Baby Baby

She says she loves my rap

"Men that do music have a cool vibe"

I say without thinking 'That's nothing'

And then she said

Are you always going to 'front' like this? No i dont.

And then she like, where are we going?

How about the Hangang river until the late night?

With the river next to the cool wind

Forget everything while talking

Rest your head on my shoulders next

And look up at me slightly from there

Yeah I try to play it cool

But eventually you make me laugh

yeah that's you

Mingyu membawakannya dengan santai dan penuh dengan penghayatan. Memori yang ia simpan bersama Wonwoo di sungai Han kembali terbuka dan menjadikan dirinya semakin hanyut dalam lagu ini.

Can I call your name instead of 'Oppa'?

But my face is as if a boy's eating honey

I'm taking little glances at you

Facing you and making eye contact

I'm going crazy, I'm unable to digest breakfast

Attracted by your 'tail'

Watching me laugh as I keep asking what should I do

Going home then seeing my face in the mirror

Yea, It looks like, It's really lucky

Suara Wonwoo yang sangat dalam membuat hatinya semakin berdebar. Mingyu bersyukur ia telah diberi kesempatan mengenal sosok Wonwoo di hidupnya. Ah, apakah Wonwoo juga merasakan hal yang sama dengan Mingyu?

I woke up, even in dreams Baby

I still dream of chasing you, what should i do?

There is no other girl like you

Seventeen can't control these feelings

I'm just like that, yeah yeah

I'm just like that, yeah yeah

There is no other girl like you

Seventeen can't control these feelings, Baby Baby

You dress neatly,

though only my eyes think it's not appropriate

You need to cover even your knees

And only then that I'm satisfied

Buttons all done up until your neck

Don't let your collarbones show

After school, I must walk with you along the road

Saying 'Goodmornings' and 'Goodnight' with you

So you can't let go of your phone

I have alot of plans

But when I start it I can't say anything

Mingyu teringat dengan pemikirannya yang gila ketika melihat tulang selangka Wonwoo yang pernah ia lihat. Tak ada kata yang tepat selain indah yang dapat ia gambarkan untuk sosok Wonwoo.

My tone is getting intense and excited

I can only 'push and pull' to eventually get you

When you leave me I have no energy to cheer

But when you're close to me

I have no choice but to smile (That's right)

And it's more than just the height difference

With only you, follow me,

let's walk in the same direction

Meeting on the streets

Under the red lights

What do you think about kissing?

Mingyu tersenyum lebar membayangkan aksi 'nakal'nya yang telah mencuri ciuman Wonwoo. Dan ketika ia mendengar nyanyian Wonwoo mengenai ciuman, ia merasa bahwa Wonwoo berkata demikian untuk dirinya. Baiklah, seseorang tolong selamatkan Mingyu.

I woke up, even in dreams Baby

I still dream of chasing you, what should i do?

There is no other girl like you

Seventeen can't control these feelings

I'm just like that, yeah yeah

I'm just like that, yeah yeah

There is no other girl like you

Seventeen can't control these feelings, Baby Baby

Baby It's all right I'll call you mine

At night the moon is shining at us

Through the dawn

I want to try to stay up all night

I woke up, even in dreams Baby

I still dream of chasing you, what should i do?

There is no other girl like you

Seventeen can't control these feelings

I'm just like that, yeah yeah

I'm just like that, yeah yeah

There is no other girl like you

Seventeen can't control these feelings, Baby Baby

Mingyu dan Wonwoo menyelesaikan penampilannya dengan luar biasa. Di tengah hiruk pikuk tepuk tangan, Mingyu hanya dapat mendengar debaran jantungnya. Ya, hanya itu, karena segala hal kini terpusat pada Wonwoo yang menjadi isi dari dunianya.

To Be Continued

Hai! Chapter baru update xD Udah cukup panjang yah ini, hampir 5000 words :')

Ku merasa chapter ini paling bobrok di antara chapter lain TT Btw ini aku sudah berusaha edit berkali-kali, tapi hawanya kalo udah ngedit pengen dihapus semua x'D

Maaf kalo gak ngefeel :""" Lagi susah bangun mood akhir-akhir ini..

By the way, terimakasih sudah mampir, dan memberikan semangat diriku :DD

Teruntuk kak yuki yang ngebet, ini udah aku update, jangan ditagih mulu ya XD

DAN TERAKHIR MAU INGETIN BUAT SUPPORT SEBONG YA YEOROBEUN! DEMI APA COMEBACK MEREKA MAKIN KE SINI MAKIN BIKIN LEMAH

Terakhir~ Feedback juseyo :) supaya paling tidak memicu semangatku biar tidak give up dengan cerita ini yag makin gaje :")