"Aku hanya melihat Sehun…" Minseok bergeser gelisah di kasur rumah sakit, sebuah ikatan terbalut disekitar sisi kiri kepalanya. "Aku merasa seperti seseorang memukulku keras dengan tongkat bisbol, tapi aku tidak melihat orang lain kecuali dia."
Sial. Chanyeol sudah mengharapkan sesuatu yang lebih. "Kau tidak mendengar siapapun?"
"Jika aku mendengarnya, si brengsek itu tidak akan menjatuhkan aku." Minseok menghembuskan nafas perlahan. "Sehun pergi ke studio awalnya. Aku pikir dia melupakan tasnya. Aku bisa ingat dia masuk ke dalam…" jari Minseok tergenggam di sekitar selimut putih. "Lalu tidak ada apapun sampai aku bangun di tempat ini."
Chanyeol meletakkan tangannya dibahu Minseok. "Tak apa. Kau
beristirahat saja."
"Kau mengeluarkan aku, bukankah begitu? Aku mendengar para dokter berbicara…"
Chanyeol mengangguk. "Aku tidak akan meninggalkanmu di kebakaran itu."
Minseok memberinya senyum lelah. "Bukahkah itu ketiga kalinya… atau mungkin keempat..kau menyelamatkan hidupku?"
"Tidak masalah. Aku sudah lama berhenti berhitungnya." Chanyeol meremas bahu Minseok dan meluncur menjauhi kasur. "Beristirahatlah teman."
"Tunggu…"
Chanyeol menatap kembali pada Minseok.
"Aku berpikir...aku mengingat satu hal lagi." Mata Minseok menyipit saat dia tampaknya berjuang mengingatnya.
"Kekasihmu, mengatakan, dia meminta maaf… lagi dan lagi. Aku bersumpah. Aku bisa mendengarnya mengatakan hal itu." Lanjut Minseok sambil menekan matanya tertutup. "Tapi itu tidak berguna untuk apapun. Mungkin cuma pengaruh obat yang mereka berikan padaku."
"Mungkin," Chanyeol bergumam. "Aku akan kembali mengunjungimu segera."
Chanyeol menutup pintu dibelakangnya. Sehun menangkap pandangan Chanyeol dan bergegas berjalan mendekat ke arah Chanyeol.
"Apa Minseok sudah siuman? Apa kau sudah bicara padanya?"
Chanyeol pergi masuk sendiri karena ingin menduga reaksi Minseok untuk dirinya. Chanyeol menduga juga Minseok mungkin bisa bicara sedikit lebih bebas jika hanya ada mereka.
Aku ingat satu hal lagi. Kekasihmu, mengatakan dia meminta maaf…lagi dan lagi.
"Apa dia mengingat ada orang lain disana?"
Chanyeol menggelengkan kepalanya. Wajah Sehun menunduk.
Chanyeol harus menanyakan pada Sehun. "Sayang, saat kebakaran, apa kau mengatakan permintaan maaf pada Minseok?"
"Ya."
Sial. "Kenapa?"
Pandangan Sehun sekilas melihat ke atas, bertemu pandangan Chanyeol. Kemarahan terpancar dimata cokelat Sehun. "Karena aku tidak cukup kuat untuk mengeluarkan dia dari kebakaran! Karena aku meskipun sudah menggunakan seluruh kekuatanku dan aku tidak bisa menggeluarkan dia dari sana!" suara Sehun meningkat, menangkap perhatian 2 perawat terdekat. "Karena tidak perduli apapun yang aku lakukan, aku tidak bisa mengeluarkannya dari pintu, dan aku sudah yakin kami berdua akan mati di kebakaran itu."
Chanyeol melangkah mendekati Sehun.
Sehun menyentak kembali. "Tapi bukan itu yang kau duga, kan?" semua kemarahan menghilangkan suaranya. "Aku tidak gila dan kau–" kesedihan melekat diwajah Sehun. "Kau tidak mempercayaiku."
"Tidak, aku sungguh percaya kamu."
Tapi Sehun bergegas ke arah lift. Chanyeol menyumpah, berlari mengikuti Sehun. Chanyeol menjulurkan tangannya, menahan pintu sebelum menutup.
"Aku mempercayaimu sayang," Chanyeol mengatakannya lagi.
"Kali ini, aku yang tidak mempercayaimu." Pandangan Sehun menahan Chanyeol. "Bagaimana rasanya tidak dipercayai?"
Seperti sampah.
"Aku akan pergi ke studio. Aku harus — aku harus berbicara dengan penyidik kebakaran."
"Aku akan ikut denganmu." Chanyeol mulai melangkah ke lift.
"Tidak." Potong Sehun menghentikan Chanyeol.
"Sehun…"
Seseorang menyenggolnya. Mendesak ke dalam lift.
"Aku butuh ruang," kata Sehun, suaranya serak, mencoba melawan tangis. "Kirim satu agenmu denganku, tapi aku butuh ruang." Darimu.
Chanyeol memaksa dirinya untuk melangkah mundur. Dia memandang Sehun sampai lift tertutup. Lalu Chanyeol menarik keluar telponnya. Dalam kurang dari 5 detik, dia punya seorang agen siap untuk pergi.
"Jadi bayanganya," perintah Chanyeol. "Jangan biarkan ia pergi tanpa pengawasanmu."
Sehun mungkin ingin ruangnya darinya, tapi Chanyeol tidak ingin membahayakan hidup Sehun.
~oOOo~
Hilang sudah. Kesempatan keduanya berubah menjadi abu. Sehun menatap arang yang tersisa di studio. Tidak ada barang yang dapat ia selamatkan disana. Semuanya...menghilang. Hancur oleh
kobaran api. Dia sudah menelfon muridnya, mencoba meyakinkan mereka kalau dia ingin mencari tempat lain. Sehun tidak menyebutkan kalau ia tidak punya uang untuk menyewa
gedung lain.
"Apakah kau baik-baik saja?"
Sehun melirik kekiri. Segera setelah dia sampai ditempat kejadian, dia menyadari bahwa Kim Jongin disana, menunggunya.
Sehun datang mendekat kearah Jongin. Sehun melihatnya dengan tatapan pengawalnya yang membuat dia tertekan. "Tolong jangan tanya aku jika aku terlihat akan hancur."
Karena begitulah caranya Jongin melihat padanya. Seperti dia akan terpecah belah. "Aku berjanji, aku sudah cukup kuat dari kelihatannya." Polisi wanita, Yuri—yang mengantar Sehun pulang malam sebelumnya— berdiri beberapa kaki dibelakang Jongin.
Dan anjing penjaga Sehun yang terbaru dari keamanan Park Chanyeol, seorang pria bule bernama Adam Longtree, menunggu sekitar sepuluh langkah dari sisi kanan Sehun. Dia dengan cepat menilai bahwa Adam kuat dan tipe lumayan pendiam.
"Aku minta maaf atas studiomu," kata Jongin ketika Sehun mencondongkan kepala padanya. "Tapi aku tidak berpikir kau akan hancur. Aku tahu jika iya, ya, kau sudah akan melakukannya semalam."
Sehun menegakkan bahunya. "Lalu kau membuat satu orang…"
"Maaf?"
Sehun menghembuskan nafasnya berat. Dia seperti melihat mimpinya tertutupi oleh abu hitam dan abu-abu. "Kau membuat satu orang tidak berpikir aku sedang diambang dari beberapa krisis besar."
Mata Jongin menyempit. "Apakah kau melakukan seperti yang aku minta? Apakah kau berpikir tentang Chanyeol—"
Sehun harus tertawa. "Chanyeol tidak melakukan ini padaku. Sial, dia pikir aku melakukan ini pada diriku sendiri." Lengannya terasa dingin jadi Sehun dengan kasar mengusapnya. "Chanyeol, polisi di Jepang, Zitao—"
"Uh, yah," Jongin memotong, "Aku tidak tahu siapakah Zitao, tapi
kau harus tahu bahwa aku berbicara sedikit dengan detektif Yunho pagi ini."
"Benarkah?"
"Dia menyuruh mekanik untuk memeriksa mobil itu. Masih tidak ada tanda dari pengaruh tabrakan dibagian belakang, tapi pria ini menemukan sesuatu yang lain." Wajah Sehun tercermin di kacamata hitam Jongin. "Semua cairan rem hilang."
"Apa?" Dingin yang Sehun rasakan bertambah parah.
"Dengan semua cairan hilang, mobilnya tidak dapat berhenti. Malam itu, kau diarahkan ke tikungan, dan kau harus mencoba mengerem."
Jongin menggaruk tangannya melalui rambutnya. "Kau tidak bisa, dan mobilnya kehilangan kendali."
Bukan hanya lengan Sehun yang kedinginan. Pipinya pun merasakan hal yang sama. "Seseorang menyabotase mobil itu."
Kwon Yuri melangkah mendekat. Jongin tiba-tiba melirik kearah Yuri, kemudian dia fokus lagi pada Sehun. "Ini tentu saja terlihat seperti itu."
Seseorang mencoba membunuh Sehun, selama berbulan-bulan. "Aku ingin ini berakhir." Apa yang harus ia lakukan? Apa? "Aku tidak bisa hidup seperti ini."
Ketakutan. Memiliki pengawal tetap—tidak.
"Kami akan menemukannya," kata Jongin. "Jangan cemas."
Mudah bagi Jongin berkata seperti itu. Ini bukanlah hidupnya yang terancam.
"Dengan bukti baru, Yunho membuka kembali investigasi di Jepang," lanjut Jongin. "Keparat yang melakukan ini akan jatuh."
Yuri mengangguk keras. Tatapan Sehun beralih cepat antara dua polisi—dan ke Adam Longtree. Sehun tidak terkejut melihat kalau Adam mengeluarkan ponselnya dan menempelkannya ke telinganya. Pria ini mungkin melapor singkat pada Chanyeol dengan perkembangan baru ini.
Chanyeol...
Tatapan Sehun kembali pada Jongin. "Kau pikir keparat itu adalah Chanyeol."
Jongin tidak menjawab.
"Bukan." Yuri berbisik dan menendang bola dikakinya. "Menaruh kepercayaan terlalu besar pada pria yang salah akan berbahaya."
"Semua yang kulakukan berbahaya akhir-akhir ini." Sehun mengangguk kaku pada Yuri dan Jongin. "Terima kasih atas
bantuannya."
Sehun mulai bergegas pergi dari mereka. Adam langsung menyusulnya. Dia besar, enam kaki ditambah bayangan.
"Sehun!"
Berhenti, Sehun melirik kebelakang atas panggilan Jongin.
"Beritahu aku kalau kau tidak tinggal dengannya." Tekanan mengeraskan wajah Jongin.
"Aku tidak akan memberitahumu soal itu." Karena Sehun tidak
berencana untuk kembali ke Chanyeol. Sehun berbohong ketika dia memberitahu Chanyeol bahwa dia butuh istirahat.
Apakah ia mempercayaiku?
Karena, meski setelah semuanya terjadi, Jongin mempercayai Sehun. Dia selalu begitu.
"Jika kau tidak kembali ke tempat Chanyeol, lalu kemana kau akan
pergi?"
Tatapan Sehun berpaling ke reruntuhan. "Untuk mencari studio baru karena aku tidak akan membiarkan mimpiku direnggut dariku."
Sehun akan menemukan cara mendapatkan uang yang dibutuhkan agar menyewa studio lainnya. Pasti ada cara. Sehun tidak akan menyerah. Dia hanya perlu mengambil sesuatu— Satu langkah sekaligus.
Itulah bagaimana Sehun sembuh setelah kecelakaan. Bagaimana dia belajar untuk mengabaikan kesakitan dan terus berjalan.
Satu langkah sekaligus.
~oOOo~
Jongin memperhatikan Sehun berjalan menjauh, matanya menyempit.
"Dia kelihatan tidak takut padaku sedikitpun," kata Yuri ketika dia
Berjalan kembali ke sisi Jongin.
"Dia tidak."
"Terlihat lebih marah, menilai dari tatapan di matanya."
Jongin menoleh dan melihat tatapan Yuri pada Sehun. Dia mengikuti pandangan Yuri dan melihat Yuri merangkak kedalam tempat duduk penumpang dimobil yang menunggunya. Pengawal barunya membanting pintu dan kemudian menuju ke sisi pengemudi kendaraan.
"Kau yakin dia pergi kerumah dengan Chanyeol kemarin malam?" tanya Jongin pada Yuri.
Sialan, Jongin telah memperingatkan Sehun. Mengapa Sehun tidak menanggapi peringatannya dengan serius? Jongin ingin membantunya. Tapi Sehun mulai berpikir bahwa dia kini hanya memiliki harapan kematian.
"Aku yakin kesanalah dia pergi. Tidak mudah menyalahkan pria
itu."
Tidak, bukan itu.
"Chanyeol mendesak Sehun keluar dari klub itu dan masuk kedalam mobil mewahnya," kata Yuri. "Mereka pergi ke penthousenya dan bermalam disana."
Aku sudah memperingatkannya.
"Aku benci dengan orang suka bahaya terlalu banyak," kata Jongin, suaranya keras. Saudaranya pernah mengalaminya. Jongin
telah memperingatkannya, juga. Memperingatkannya, dan menguburnya.
Apakah aku akan mengubur Sehun, juga?
"Ingin aku tetap mengawasinya?" tanya Yuri. Rambut pirang
pendeknya tertiup angin sepoi-sepoi.
"Yah, tetap dekat. Jika kau melihat sesuatu mencurigakan, kau beritahu aku." Melalui bahunya,Jongin melihat petugas pemeriksa kebakaran sedang menunggu untuk berbicara dengannya. Seperti dia butuh pria itu untuk memberitahunya bahwa kebakaran itu dilakukan dengan sengaja. Itu sangat jelas.
Sejelas kenyataan bahwa seseorang sedang bermain-main dengan
Oh Sehun. Permainan yang tidak akan berakhir sampai Sehun mati.
Seperti adikku.
~oOOo~
Lokasi ini sepertinya bagus. Sehun memandang disekitar pos pemadam kebakaran tua itu. Oke, tentu, banyak orang tidak akan berpikir tempat ini diubah menjadi sebuah studio tari.
Tapi ini dapat terjadi. Aku dapat melakukannya.
Gairah dan kebulatan tekad berdebar didalam dirinya. Sehun akan membuat studio ini bahkan lebih baik dari yang sebelumnya. Sehun dapat memulainya segera. Jika Sehun bekerja cukup cepat, cukup keras, lalu mungkin dia dapat menaikkan studio dan menjalankannya dalam tiga minggu, mungkin dua.
Gedungnya berhasil dia dapatkan, jadi sekarang ia harus membayar uang muka untuk tempatnya. Sehun telah menjual semua barang berharga yang dia punya. Kartu kreditnya sudah mencapai jumlah maksimalnya.
Tapi...ada beberapa orang yang bersedia meminjamkannya. Orang-orang seperti Yixing. Mungkin...mungkin dia bisa meminjamkannya uang tunai—
"Aku ambil alih dari sini, Adam. Kau bisa pergi sekarang." Suara Chanyeol. Sehun tidak kaku mendengar suara itu. Tidak ingin memulai alarm perang. Saat ini, Sehun terlalu berharap dan senang.
Langkah kaki Adam menjauh pergi, tapi Chanyeol tidak bergerak mendekat kearah Sehun. Dengan tegas, Sehun melirik kekiri. Sehun menemukan Chanyeol menatap kearah Sehun dengan intensitas tinggi ditatapannya.
"Aku bisa menaruh cermin disana. Pembatas disini." Sehun memberi isyarat dengan tangannya. "Area terbuka ditengah akan sempurna untuk pemanasan penari."
Tatapan Chanyeol tidak meninggalkan wajah Sehun. Intensitas yang mematikan tidak berkurang. Sehun menelan ludahnya.
Aku bahkan dapat menggunakan area lantai atas untuk apartemen. Akan menghemat uangku karena aku dapat keluar dari tempatku.
Tapi...Sehun mendapat sistem pengamanan luar biasa ditempatnya,dan Sehun tidak ingin kehilangannya.
"Aku pikir kau harus menahan pembangunan studiomu." Kata Chanyeol datar.
"Tidak." Penolakan langsung. Sehun berputar untuk berhadapan dengan Chanyeol.
Chanyeol mengenakan pakaian hitam, satu yang menegaskan kegelapan rambutnya dan membuat mata cokelatnya bersinar lebih terang.
"Ya, Sehun," kata Chanyeol, suaranya pendek. "Kau harus pelan-pelan. Tempatmu yang terakhir terbakar kurang dari dua puluh empat jam yang lalu. Tidakkah kau merasa itu sebuah pesan? Tidak aman untukmu melakukannya. Kau harus—"
"Aku harus membuat ini berhasil. Aku harus percaya aku dapat
melakukannya."
Menari adalah satu-satunya hal yang selalu dapat membantunya melalui kehidupan. Ketika Sehun menari, dia menjadi seorang yang lain. Seseorang yang lebih kuat. Tanpanya...aku bukan apa-apa.
Tangan Chanyeol memegang erat bahu Sehun. "Terlalu berbahaya."
"Aku kira aku satu-satunya orang yang melakukan ini kepada diriku sendiri." Sehun menggertak kearah Chanyeol. "Bukankah cerita itu yang beredar sekarang?"
"Cerita itu omong kosong." Jemari Chanyeol mengeras dibahu Sehun. "Kau percaya padaku, dan aku percaya padamu."
Nafas Sehun tertahan ditenggorokannya. Dia ingin mengatakan kalimat itu. Sangat ingin. Sehun mencari sesuatu dimata Chanyeol, bertanya-tanya apakah dia mengatakan yang sebenarnya...atau memberinya kebohongan yang Sehun tahu Sehun ingin dengar.
~oOOo~
Kwon Yuri menatap ke seberang jalan pos pemadam kebakaran
lama itu. Oh Sehun pasti sedang menentukan tempat ini. Dia telah pergi ke lima gedung, mengunjunginya semua dengan pengawal tepat disampingnya, sebelum dia berhenti ditempat ini.
"Dan pengawal sudah pergi," Yuri berbisik ketika dia melihat pria
itu bergegas pergi.
Sejak Park Chanyeol melangkah masuk kedalam gedung pemadam kebakaran lama itu beberapa saat lalu, kedatangan pengawal itu bukanlah kejutan besar. Tapi...detektif Kim Jongin tidak mempercayai Park Chanyeol. Dia pikir pria itu bersalah seperti berdosa.
Mungkin tidak aman bagi Sehun sendirian bersama dengan Chanyeol. Yuri membuka pintu mobilnya pelan-pelan. Lalu dia menuju sebrang jalan dengan cepat. Ponselnya ada ditelinganya ketika dia memasuki lorong.
"Hei, Jongin, ini aku." Yuri tidak menunggunya menjawab tapi bergegas menambahkan, "Sehun sedang mencari gedung baru untuk disewa. Dia berhenti di gedung pemadam kebakaran di 9th,dan Chanyeol bergabung dengannya."
'Apakah mereka disana sendirian?'
"Aku kira begitu. Aku akan melihatnya lebih dekat."
'Hati-hati,' Jongin memperingatinya. Selalu.
Yuri perlahan memasuki lorong. Mungkin disana ada jendela yang bisa ia gunakan untuk observasi sedikit. Dia memasukkan ponselnya kedalam sakunya dan melangkah maju. Iya. Ada sebuah jendela. Satu yang tertutupi debu yang melekat.
Yuri bersandar pada batu bata, mencoba perlahan mendekat ke jendela itu jadi dia dapat melihat— Seseorang memegang Yuri dari belakang. Sebuah tangan kasar menutup mulutnya.
"Kau seharusnya tidak terlibat dalam bisnis yang bukan urusanmu," suara yang meggeram—suara pria— mengganggu telinganya.
Yuri langsung bereaksi, menggerakkan sikunya kebelakang kearah penyerangnya. Sosok itu menggerutu dan pegangannya mengendur, hanya beberapa saat. Sosok itu menyentak menjauh darinya. Yuri memegang senjatanya ketika dia berputar menghadapi pria yang— Hingga akhirnya sosok itu mendorongkan pisau kedalam dadanya.
Jemari Yuri menekan pelatuknya, tapi penyerangnya telah
menyergapnya. Lututnya menghantam tanah. Senjatanya meluncur dari jemarinya yang gemetar dan jatuh disampingnya. Darahnya membasahi dirinya sendiri, dan Yuri bahkan tidak memiliki kekuatan untuk berteriak.
~oOOo~
Ketika terdengar letusan tembakan, Chanyeol memeluk Sehun. Dia menarik Sehun mendekat kedadanya dan menyelimuti tubuh Sehun melindunginnya. Satu letusan bergemuruh...lalu, tak ada lagi.
Sehun melirik melalui bahunya. Tembakan itu pasti datang dari belakang, di lorong. Chanyeol menyingkirkan jaketnya dan menarik keluar senjata miliknya.
"K-kapan kau mulai membawanya?" tanya Sehun pada Chanyeol. Matanya membesar—dan takut.
"Aku selalu membawanya. Aku biasanya meyakinkan dirimu tak
melihatnya." Karena Chanyeol tidak ingin menakuti Sehun. Tapi saat ini bukan tentang menenangkan Sehun. Ini tentang mencari tahu apa yang terjadi dilorong itu. Chanyeol membuka bagian belakang pintu, tapi dia harus tetap posisi rendah. Tetap terlindungi dan—
"Dia terluka!" Sehun menangis.
Chanyeol pernah melihat wanita itu juga. Seorang polisi berseragam tergeletak ditanah. Sehun mencoba mendekati wanita itu, tapi Chanyeol menahannya.
"Tunggu…" Karena siapapun yang mencelakai polisi masih berada didekat sini. Menunggu untuk menyerang lagi.
Chanyeol melihat ke kiri. Ke kanan. Erangan lemah terdengar berasal dari wanita itu, dan, suara itu, Sehun melepaskan diri dari Chanyeol,menghantam lututnya disamping polisi itu dan meraih pisau dari dada wanita itu.
"Jangan!" perintah Chanyeol ketika Sehun mendekat. Tangan kirinya mengambang, mengunci disekitar Sehun. "Biarkan pisaunya."
"Apa?" Sehun menuntut, ekspresinya terkejut. "Kita harus menolongnya! Dia sekarat!"
"Dan dia akan mati lebih cepat jika kau menarik pisaunya." Chanyeol pernah melihat penyerangan ini sebelumnya.
"Dia Yuri," Sehun berbisik. "Kwon Yuri. Dia yang mengantarku semalam." Dan dia polisi yang diam-diam mengawasi Sehun.
Yuri melepaskan tangan Sehun. "Telfon 9-1-1," kata Yuri. "Beritahu dia kalau seorang polisi diserang."
Mereka akan segera datang ke lokasi itu. Chanyeol menyimpan senjata ditangan kanannya. Penyerang itu pasti didekat sini. Chanyeol ingin melepaskan diri dan mencari SOB, tapi Yuri tersedak darahnya sendiri. Sial.
Sehun memiringkan kepala Yuri. Mencoba membantunya bernafas. Darah menutupi bibirnya. Matanya berkabut, kesakitan.
"Dia akan baik-baik saja," kata Chanyeol pada Sehun.
Sehun ingin kata-kata Chanyeol benar dan bukan kebohongan, tapi pembunuh itu tahu benar apa yang dia lakukan ketika dia menyerang. Pisau itu menusuk tepat ke jantungnya dan...Chanyeol condong kedepan.
Bajingan itu memutar pisaunya. Kerusakan parah dan kesakitan
parah.
"Ambulans datang," Sehun berbisik. "Bantuan datang, Yuri. Bertahanlah." Jari-jari Sehun membungkus tangan Yuri.
Nafas Yuri terlihat sangat kasar dan keras. Tatapan muramnya mengedip kearah Chanyeol, lalu mengarah kearah bahunya.
"Kau melihatnya," kata Chanyeol.
Nafas Yuri tidak begitu keras. Tatapannya menunjuk ke bahunya.
"Dia lari kearah sana?"
Bibirnya terbuka. Yuri berusaha berbicara.
"Yuri?" Sehun menangis. "Yuri?"
Mata Yuri masih terbuka. Masih melihat kearah bahu Chanyeol. Tapi petugas itu telah mati. Dari kejauhan, suara sirine ambulans meraung.
Terlambat. Sial terlambat.
Chanyeol menghentakkan kakinya. Memutar kearah lorong panjang yang Yuri perlihatkan disaatnya yang terakhir.
Kau tidak perlu sampai sejauh ini, SOB (Son of a B*tch).
"Ambil ini," kata Chanyeol pada Sehun,menyelipkan senjatanya ketangan Sehun. "Tetap bersama dengan polisi. Bantuan tidak jauh lagi." Tapi Chanyeol tidak akan membuang waktu lagi.
"Tidak! Kau membutuhkan senjata!"
Chanyeol merenggut keluar senjata cadangannya dari sarung pistol tumitnya. "Aku dapat mengatasinya." Lalu Chanyeol berlari menyusuri lorong meskipun Sehun meneriakkan namanya.
Yuri menembakkan senjatanya. Apakah dia berhasil mengenai pelakunya? Benarkah?
Chanyeol melirik kebawah dan melihat titik darah jatuh.
Yuri mengenainya. Dan aku akan mengikuti jejak darahmu sampai aku menemukanmu.
"Chanyeol!" Sehun berteriak.
Chanyeol tetap berlari. Chanyeol harus menghentikannya, sebelum Sehunnya yang ia temukan mati bersimbah darah dilorong.
~oOOo~
To. Be. Continued.
~oOOo~
Fast kan? Ane update cepet kan? Hihi
Jadi masih ada yang ngira Jongin pelakunya?
Masih ada yang ngira Sehun gila? Delusi? Skizofrenia? Haha
Serius baca review readers dari kemaren jadi kasihan sama si Jongin sama abang Chanyeol dituduh jadi pelakunya, kasihan dedek Sehun juga dikira gila terus sama para readers *peluk ChanKaiHun* wkwk
Sebenernya pelakunya udah keliatan si dari awal Chanyeol kasih kode dicerita ini, dan kalian 'ngeh' gak sih sama salah satu disini yang dari awal dicurigain sama Chanyeol?
Jongin? Dia emang suka sama Sehun, tapi Chanyeol gak pernah curiga sama detektif ini dari awal kan? Malah Jongin yang menggebu-gebu pengen njeblosin Chanyeol ke penjara. Wkwk
Kris ya? Sempet banyak review masukan yang nyebut Kris pelakunya. Setelah Chanyeol kandidat pertama terkuat yang dikira pelakunya, Jongin kedua, dan ketiga Sehun gila, keempat si Kris. Hmm~ apa Kris disini terlihat benar-benar seperti pelakunya?
Dan di chapter ini ada sedikit kode siapa pelaku sebenarnya. Haha. Kalian bisa menebaknya? Pasti bisa deh. Disitu Chanyeol udah kode juga kok. Ane udah kasih kode loh ya~ Wks
Tersirat dan tersurat loh~ haha
2 chapter lagi kita akan berpisah dengan FF ini. So? Fast or slow update? Review please~
.
.
Ps : aku sedang berdebat dengan adik satu tentang status Kim Jongin untuk program ff baru. Kim Jongin UKE or SEME? Adekku ngotot Jongin UKE but, yeah dimataku Jongin itu SEME. Dia request ff ChanKai, sedangkan ane lagi mabok sama ChanHun or KaiHun. So? What should I do? Dilema~ Dilema~ T~T haha
.
.
Thanks to review CH 6 :
dd ohun , Haemi Wytha Kim444 , YunYuliHun , Zelobysehuna , hanhyewon357 , auliavp , egatoti , ohmysehun , iloyalty1 , sita2312 , ChieYHanHun , exolweareone9400 , fitrysukma39 , Sekar Amalia, izzsweetcity, exobabyyhun, kim sehyun96, KrisYeolGalaxySHHRN, rytyatriaa , Rafra , bibblebubblebloop , bbuingHyewa, Halona Jill
