Halo~ ==v nekat banget aku bikin fic ini padahal aku lagi tak berdaya di atas kasur *halah* tapi karena sudah berjanji dengan Dobe atau Chiho Nanoyuki untuk melanjutkan fic ini setelah dia mereview ficku yang 'Game Over' akhirnya aku melanjutkan hoho. Sekalian, mumpung idenya lewat dan takut lupa lagi XD

Oke, kalau sakitku tambah parah, ntar tinggal salahin Chiho aja wkwkwk *dibakar* EHEM, oke langsung saja. Enjoy it! :D


Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : OOC, AU

Genre : Romance/Friendship

Pairing : SasoSaku, ItaSaku, SasuSaku

.

.

MY BUTLER IS SUCK!


CHAPTER 7 : SHE IS MINE

"Butler sialan itu pasti aslinya anak tidak normal yang dikutuk ibunya!" suara-suara kecil yang terdengar mengutuk itu terdengar dari dalam rumah besar milik keluarga Haruno. Seorang gadis berambut pink yang tengah mengepel itu berkali-kali mengeluarkan kata-kata kasar dari mulutnya. Mengutuk seorang butler yang entah kemana sosoknya tersebut.

"Ah sudahlah! Orang tuh butler aja udah hilang kok," geram gadis yang bernama Sakura Haruno itu dan kini tengah melempar kain pel yang dari tadi dia pegang. Dengan langkah gontai, Sakura langsung membanting dirinya di atas sofa empuk di ruang tamu.

Sakura berkali-kali mendesah pelan dan memijat-mijat tubuhnya yang pegal itu. Fuh, begini rasanya ya, orang kaya yang tidak pernah bekerja dan sekalinya disuruh kerja langsung tepar tak berdaya? Lebay memang, tapi beginilah pada umumnya. Karena itu supaya tidak jadi seperti Sakura di fic ini, kita harus rajin bekerja seperti sang author *plak bhug dhuak*

Ehem, back to the fic. Sakura memposisikan dirinya yang tadi setengah bersandar, kini tiduran. Sakura mengambil bantal dan memeluknya. Berkali-kali dia berganti posisi hingga akhirnya dia menemukan posisi yang pas dan merasa nyaman. Sakura merasakan dirinya mulai mengantuk, perlahan tapi pasti dia memejamkan matanya perlahan.

TING TONG

Sakura tersentak, dia langsung memposisikan dirinya duduk kembali,"Si.. Siapa? Butler sialan itu sudah pulang?" tanya Sakura pada dirinya sendiri. Dia terdiam sesaat.

Sakura menggelengkan kepalanya, "Tidak, kalau butler sialan itu pasti sudah langsung masuk tanpa mengetuk dahulu," gumam Sakura. Setelah beberapa saat terdiam, Sakura dengan ragu bangkit dan melangkahkan kakinya menuju pintu tersebut. Sakura membukanya perlahan.

Sebelum membukanya lebar-lebar, Sakura mengintip dulu untuk melihat siapa yang kini tengah berdiri di depan pintunya dengan sabar. Sakura menelan ludah melihat sosok yang kini tengah ada di hadapannya, dia tersenyum lembut seperti biasa. Menatap gadis yang menatapnya dengan mata emeraldnya yang sedikit tegang.

"Itachi-nii," gumam Sakura dengan suaranya yang pelan sekali. Tanpa sadar, gadis itu sudah membuka pintunya lebih lebar. Untuk melihat sosok tampan Uchiha sulung tersebut.

"Hai, ngg gomen kalau mengganggu ya Sakura," ucap Itachi canggung dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Sakura tidak bergeming, dia sibuk menatap mata onyx Itachi yang lembut dan hangat, berbeda sekali dengan mata onyx adiknya.

"Sakura?" Itachi yang dari tadi menunggub jawaban Sakura mulai terlihat bingung, dia memegang kedua bahu mungil Sakura membuat gadis itu tersentak.

"A… Ah, iya ada apa Itachi-nii?" tanya Sakura yang spontan langsung melepaskan pegangan Itachi pada bahunya, "I… Itachi-nii mau masuk ke dalam rumah?" tanya Sakura canggung. Itachi kembali tersenyum canggung dan mengangguk.

Itachi melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah gadis kaya tersebut. Laki-laki berambut panjang dikuncir itu melihat sekelilingnya, terakhir dia ke sini tidak banyak yang berubah. Itachi sedikit tersenyum simpul, mengingat dia pernah pacaran dengan Sakura di rumah ini. Waktu di mana, belum ada Sasuke maupun Sasori—butler sialan yang dimaksud Sakura. Itachi kembali mengedarkan penglihatannya, dia sedikit bingung dengan keadaan rumah yang sangat sepi itu.

"Err Sakura?" Sakura menoleh ke arahnya, "yang lain mana? Kaasan dan butlermu?" tanya Itachi. Sakura mendengus pelan.

"Kaasan sedang ada dinas ke luar kota, sedangkan butler sialan itu entah kemana," jawab Sakura dingin. Itachi sedikit tertegun, berarti… dia hanya berdua dengan Sakura di rumah sebesar ini?

"Ah ya, Itachi-nii mau bicara apa?"

.

.

.

Di bagian Sasori…

"Ehem," suara berdehem seseorang memecahkan keheningan di antara tiga orang tersebut. Saat ini mereka semua ada di depan bangunan yang runtuh dan rata dengan tanah tersebut. Salah satu dari mereka yang berambut merah dan berwajah baby face langsung mendelik pada kedua teman di sampingnya.

"Jadi…" sang baby face membuka mulutnya, kemudian dia tersenyum. Senyum yang mengerikan, "siapa yang bisa menjelaskan kejadian ini?" tanya laki-laki yang tak lain bernama Sasori itu.

"De… Dengan senang hati, bos yang akan menceritakan alasannya," ujar Deidara yang langsung menggeser posisinya sehingga Pein yang kini berhadapan dengan Sasori.

"Ehehe, halo Sasori. Lama tak bertemu, kau semakin tampan," sahut Pein dengan nada yang agak dipaksakan. Sasori memutar bola matanya dan menatap malas pada bosnya yang bodoh ini.

"Sudah selesai basa-basinya? Sekarang, jelaskan kenapa markas kita bisa sampai seperti ini PAIN?" Sasori menekankan kata-katanya terutama pada kata Pain yang berarti 'penderitaan'. Pein dengan santai hanya terkekeh pelan, meski begitu tak dapat dipungkiri keringat dingin mengalir di pelipisnya.

"Yaaah, sebagian besar sudah diceritakan oleh Deidara kan? Pokoknya intinya bangunannya gak seimbang gitu," jelas Pein sambil memainkan jarinya. Sasori menatap bingung ke arah mereka. Lama mereka bertatapan hingga Sasori menyerah dan mendengus.

"Baiklah, aku hanya membantu menuliskan tata cara membangun rumah, apa saja yang harus dibeli, dan tata pembangunan yang baik. Selebihnya, KALIAN KERJAKAN SENDIRI!" teriak Sasori yang mulai frustasi. Deidara dan Pein tersentak kaget dan langsung mengangguk canggung dan langsung berlari meninggalkan Sasori yang kini berkutat dengan buku dan penanya.

Sasori mengambil nafas panjang sebelum akhirnya dia mulai menyentuhkan ujung penanya dengan kertas kosong yang ada di depannya. Namun, tiba-tiba Sasori merasa degup jantungnya berdegup kencang. Sasori sedikit tersentak kaget, dan spontan ujung penanya pun patah. Sasori terdiam sesaat mengamati ujung pena yang kini tumpul itu. Pikirannya tiba-tiba terusik sekarang. Bayangan Sakura tiba-tiba kembali melewati benaknya. Laki-laki baby face itu menggelengkan kepalanya dan kembali berusaha fokus pada apa yang ada di depannya.

"Baiklah Sasori, semakin cepat kau menyelesaikan ini, maka semakin cepat kau akan pulang!"

.

.

.

Di bagian Sakura…

"…begitu, aku ingin berbaikan kembali dengan Sasuke. Bagaimana ini Sakura?" tanya Itachi yang kini tengah mengepalkan kedua tangannya seolah menahan semua rasa yang ada.

"Aku mengerti Itachi-nii," ucap Sakura setelah lama mereka terdiam. "Tapi, sebagai kakaknya, Itachi-nii pasti tahu betapa keras kepalanya Sasuke itu. Benar kan?" tanya Sakura perlahan. Itachi mengangguk, saat itulah dia kembali menatap Sakura. Sementara yang ditatap, sibuk melihat jam dinding di depannya.

"Tch, sudah jam segini tapi butler sialan itu belum pulang. Apa sih maunya?" gerutu Sakura yang kini tengah menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. Itachi terdiam, dia sama sekali tidak bergeming menatap Sakura di depannya.

"Sakura,"

"Ng?" Sakura menoleh saat Itachi memanggil namanya. Gadis itu tertegun begitu melihat Itachi kembali menatapnya tidak biasa. Tatapan itu, tatapan saat mereka masih bersama. Tepatnya, tatapan sebelum mereka…

"Sakura, kau tahu?" Itachi menggeser posisi duduknya sampai dia memojokkan Sakura hingga gadis itu tidak bisa menggeser lebih jauh lagi karena terpojok antara Itachi dan dinding di sampingnya, "aku masih menyayangimu, Sakura," ucap Itachi lagi.

Sakura menelan ludahnya, saat dia merasa sudah tidak bisa menjauh lagi dan wajah Itachi semakin dekat dengan wajahnya. Sakura tidak bisa berkata apa-apa lagi, bibirnya kaku seketika dan terkatup rapat. Sementara Itachi sudah menyentuh dahinya, lalu hidungnya, hingga sekarang sudah menanti bibirnya. Sakura merasakan degup jantungnya berhenti sesaat saat Itachi kembali menyentuhkan bibirnya pada bibir Sakura. Padahal, dulu saat berpacaran, dia seringkali melakukan ciuman ini dengan Itachi, tapi entah kenapa kali ini dia merasa seperti baru berciuman dengan anak sulung Uchiha itu.

Itachi semakin menekankan bibirnya pada bibir tipis nan mungil milik Sakura. Gadis itu merasa degup jantungnya berdetak sangat cepat, bahkan rasanya dia seperti tidak bisa mengimbangingnya. Sementara itu, Itachi membuka bibirnya dan sedikit mengemut bibir Sakura. Namun, tak kunjung mendapat balasan membuat Itachi risih juga. Meski begitu, Itachi tidak berniat untuk melepaskannya. Semua perasaannya yang dari dulu dia tahan, dia keluarkan semua saat ini.

KRIET

Itachi tersentak kaget, begitu pula Sakura. Laki-laki berambut hitam panjang itu langsung menoleh ke arah suara, yang tepatnya di depan mereka. Pintu rumah itu telah terbuka, di sana berdiri seorang laki-laki berambut merah berwajah baby face. Laki-laki yang tak lain bernama Akasuna no Sasori itu terpaku di tempatnya berdiri. Dari pandangan matanya yang mengernyit, bisa dipastikan dia melihat adegan ciuman Itachi dan Sakura.

"Sa… Sasori," gumam Sakura pelan melihat laki-laki itu. Sasori mendengus pelan, dengan pandangan mata yang mengerikan, dia berjalan mendekati Sakura dan Itachi.

"Kau mau apa?" tanya Itachi yang langsung memegang tangan Sasori yang hendak menyentuh Sakura, "jangan macam-macam dengan dia, kau hanya butler," ketus Itachi yang langsung menyipitkan matanya.

"Terus kenapa kalau aku hanya butler?" tanya Sasori ketus sambil menepis tangan Itachi yang memegang tangannya, "harusnya aku yang tanya, siapa kau? Kau sudah bukan apa-apa bagi Sakura," geram Sasori.

Itachi mendelik, "Hmph, jadi kau merasa kalau kau sudah bagian dari Sakura?" tanyanya, Sasori menoleh sedikit menatap laki-laki itu, "apa kau merasa? Dengan hanya menjadi butler, kau sudah bisa mencampuri hidupnya?" tanya Itachi lagi.

Sasori memegang tangan Sakura. Mendengar penuturan Itachi, Sakura terdiam entah kenapa dia tiba-tiba ingin mengelak semua perkataan mantan pacarnya itu. Sasori pun sama, tadinya dia ingin mengacuhkan saja si sulung Uchiha itu. Tapi kalau pun ingin mengelak, apa yang harus dia katakan? Sebagian besar perkataan Itachi memang benar, dan terasa menusuk hatinya. Sasori menatap Sakura yang kini tengah menggigit bibir bawahnya. Baby face berambut merah itu menarik nafas.

"Kau pikir begitu ya?" tanya Sasori, Itachi terdiam, "Tapi sayang, kau salah," ucap Sasori lagi. Itachi tertegun, dia bisa melihat Sasori menyeringai. Dan genggaman Sasori pada tangan Sakura pun semakin kuat, membuat gadis itu sedikit meringis kesakitan.

Itachi tersentak kaget, saat tiba-tiba Sasori menarik tangan Sakura. Oh, atau lebih tepatnya tubuh Sakura, sehingga laki-laki berambut merah itu bisa mencium bibir gadis berambut pink di depannya. Sakura sama kagetnya, matanya terbelalak sementara sebelah tangannya digenggam Sasori sangat erat. Itachi menggertakan giginya dan langsung memegang bahu Sasori. Namun sebelum Itachi menariknya untuk menjauh, Sasori sudah melepaskan ciumannya duluan dan menatap Itachi dengan seringai penuh kemenangan.

"Kau… berani sekali," geram Itachi. Wajahnya menyiratkan kemarahan yang amat sangat. Sementara Sakura masih terdiam, wajahnya mengeluarkan semburat merah. Tidak percaya dengan apa yang dilakukan butlernya itu.

"Dengan ini, aku bisa menekankan satu hal padamu," Sasori bergumam, dia berbalik dan menatap Itachi yang tengah mengepalkan tangannya, "Sakura, bukan milikmu ataupun Sasuke lagi," dan Sasori menarik Sakura hingga kepala gadis itu menyentuh bahu bidangnya.

"Sekarang, Sakura milikku. Enyahlah!"

Sakura tersentak saat Sasori mengucapkan kata-kata itu. Sama dengan Itachi, dia menatap laki-laki berambut merah di depannya yang tengah tersenyum tanpa rasa takut. Sakura terdiam, biasanya jika laki-laki lain bahkan Sasuke pun kalau mengucapkan kata-kata 'milikku' seenaknya pada dirinya, pasti langsung Sakura tolak mentah-mentah. Namun, kenapa? Kenapa Sakura tidak bisa mengelak saat Sasori yang mengucapkannya? Bahkan degup jantungnya berdegup kencang. Apakah ini pertanda…

"Oh ya, satu lagi," ucap Sasori memecahkan keheningan, dia menyentuh rambut Sakura dan mengacak-acaknya seperti mengacak rambut anak kecil, "dia babu spesial milikku, jadi jangan ganggu dia," gumam Sasori sambil menjulurkan lidahnya. Seketika semburat merah di wajah Sakura menghilang, dan air mukanya berubah dingin.

"Apa-apaan itu? Aku gak pernah bilang kalau aku mau jadi babu spesial milikmu!" elak Sakura sambil melepaskan tangan Sasori yang tengah mengacak-acak rambutnya. Sasori menatapnya malas.

"Nggak papa kan? Toh, kau juga mengikuti semua perintahku, dasar cewek bodoh!" ejek Sasori. Dan kembali terjadi adu mulut antar dua anak manusia ini. Yang bisa Itachi lakukan hanya menonton.

Itachi terdiam melihat pertengkaran dua anak itu. Namun, pandangan Itachi lebih terpusat pada tatapan Sasori terhadap Sakura. Meski yang keluar dari mulutnya hanyalah ejekan-ejekan yang membuat lawan bicaranya kesal, Sasori tidak bisa berbohong, jelas sekali dari pandangan matanya bahwa dia memang menyukai Sakura bahkan mungkin lebih. Sakura pun sama, mungkin perasaannya belum sebesar perasaan Sasori padanya, tapi tetap saja gadis itu tidak pintar menyembunyikan seluruh perasaannya. Terlihat dengan wajahnya yang terkadang mengeluarkan semburat merah saat Sasori tersenyum.

"Ehem," Itachi berdehem membuat kedua anak manusia itu menghentikan aksi mereka. Sasori menatap kesal pada Itachi yang terkesan mengganggu acaranya.

"Kalian lucu," komentar Itachi dengan nada sarkastik tiba-tiba, membuat Sasori tertegun bingung, "tapi Sasori, tadi Sakura tidak mengiyakan saat kau bilang kalau Sakura milikmu kan?" tanya Itachi yang kini ikut memegang tangan Sakura di sampingnya. Membuat Sasori mendecih kesal.

"Eh ah anu…" Sakura tertegun bingung melihat kedua laki-laki di sampingnya. Itachi hanya berkedut kecil, dia melepaskan tangan Sakura dan pergi menjauhi mereka.

"Baiklah, aku pulang dulu ya Sakura, oh ya bisakah besok kau datang ke kantorku? Aku masih ingin membicarakan tentang Sasuke," tanya Itachi dengan senyum lembutnya. Sakura mengangguk canggung, medapati Sasori di sampingnya tengah memberi death glare pada sang laki-laki Uchiha. Itachi pun tersenyum sesaat, dan berlalu meninggalkan rumah keluarga Haruno.

Sakura berbalik menatap Sasori, "Err Sasori?" tanya Sakura takut-takut, Sasori mendelik padanya, "boleh kan?" tanya Sakura lagi.

Sasori tersenyum, manis sekali. Namun, tidak jadi manis saat jawabannya… "TIDAK!"

"Eeeh? Kenapa?"

"Kau sadar gak sih? Besok kau itu harus nyapu, ngepel, belum ntar pangkas rumput di kebun belakang, nyuci piring yang gak habis-habis, beresin buku di rak lantai dua, dan masih banyak lagi! Kau masih mau enak-enakan kencan dengan laki-laki tak jelas itu hah?" jelas Sasori panjang lebar. Sakura kembali menatapnya kesal.

"Enak saja! Bukannya itu tugasmu sebagai butler di sini hah? Wajar dong, di umur segini aku butuh banyak kencan, setidaknya aku laku tidak seperti kamu BWEEE!" Sakura menjulurkan lidahnya. Sasori mendelik kesal.

"Aku tidak laku kau bilang? Kalau aku tidak laku, kenapa kau mau ciuman denganku hah?" Sasori mencubit kedua pipi Sakura.

"Uuuuvh sakhiiit! Levaskhaan!" Sakura meronta-ronta namun tangan Sasori terlalu keras. Sasori terkekeh pelan.

"Heheheh kamu lucu juga kalau begini," cengir Sasori, lalu dia melepaskan cubitannya dan membalik tubuh Sakura, "sudah, sana beresin buku di lantai dua!" Sasori pun memukul punggung Sakura.

"Ih, apa sih? Aku nggak ma—"

Sasori mengambil hpnya.

"Ma… Mau!" dan tanpa aba-aba Sakura langsung berlari menuju tangga dan menaikinya menuju lantai dua. Sasori kembali terkekeh melihat tingkah

gadis itu.

Namun, lagi-lagi tawanya berhenti saat dia menyadari hpnya kembali bergetar sesaat lalu berdering. Sasori menaikkan sebelah alisnya menatap layar hpnya melihat siapa yang menelponnya. Pada akhirnya, laki-laki itu memutuskan untuk mengangkat saja telepon tersebut.

"Sasoriii~ uang kita habis nih, tapi bahan yang harus kita beli masih kurang," rengek suara seseorang dari seberang Hp Sasori. Laki-laki itu memutar bola matanya bosan, siapa lagi kalau bukan Pein.

"Haaah, memangnya benar-benar habis?" tanya Sasori malas. Pein menjawab 'iya' berkali-kali. "Lha terus maumu gimana dong?" tanya Sasori sambil memijit kecil dahinya yang mengerut.

"Ah Sasori, sepertinya tidak ada pilihan lagi," gumam Pein setelah menghela nafas panjang. Perlahan tapi pasti, nada suaranya mulai terdengar serius. Sasori terdiam. Dia menggenggam erat Hpnya.

"Maksudmu apa, Pein?" tanya Sasori lagi. Pein terdengar kembali menarik nafas panjang. Setelah berpikir sesaat, Pein mulai membuka mulutnya. Jawaban yang mungkin akan terus mengganggu pikiran Sasori sampai nanti.

"Kita harus segera mencuri harta kekayaan keluarga Haruno,"

To Be Continued


Oke, special thanks for :

Akira Light Star 98, Intan SasuSaku, Kaze-chan, Naru-mania, Utsukushi I - KuroShiro6yh, Ame ChochoSasu, red goblin, Imuri Ridan Chara, Ka Hime Shiseiten, Fun-Ny Chan, Sakura-ChaNoRuffie-chan, Haruchi Nigiyama, Sasori Schifferway, Kuroneko Hime-un, Dhevitry Haruno, kin chan usagi, Tsukimori Raisa, Ryuku S. A .J, Rhevita Emerald, Uchiha Akasuna Sakura, widiiew xie kabogoh sasuke, Pandachhi, Chiho Nanoyuki, FiiFii Swe-Cho, chiu-chi Hatake, Rivzed, PriTycHan

Dan juga untuk yang lainnya yang sudah baca. Terima kasih banyak ya ^^

Sebelumnya, aku mau emm ngucapin kalau aku sumpah gak nyangka banget ternyata fic ini adalah fic yang paling banyak ditunggu dan diminati pembaca, bahkan mengalahkan 'Choose Me!'. Haha padahal iseng bikinnya karena lagi cinta SasoSaku. Ya Allah gak nyangka hehe, terima kasih banyak untuk semuanya yang sudah ngevote hehehe saya senang sekali :D

Hem, ngomong apa ya. Kayaknya udah gak ada haha *plak* oke deh boleh minta review lagi? X3 *puppy eyes (?)*