Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Cintaku Seperti Hantu © Birunya Musim Semi
Character: Sasuke Uchiha, Hinata Hyuuga
Rated: T
Warning: Alternate Universe, Crack, Out Of Character, Typo, Tanpa Japanese Honorific
.
.
.
Cintaku Seperti Hantu
-6-
.
.
.
Di sinilah Sasuke sekarang, di ruang santai kepala keluarga Hyuuga; duduk bersimpuh dengan kepala menunduk di hadapan Hiashi Hyuuga. Setengah jam yang lalu, Sasuke sudah mendapatkan "latihan khusus" dari Hiashi. Punggungnya terasa sedikit nyeri karena berkali-kali terkena jurus bantingan Hiashi. Saat ini, ia dapat merasakan kedua kakinya yang kesemutan. Lehernya juga terasa kaku karena terus menatap tatami. Namun, kepala keluarga Hyuuga yang bersila di depan Sasuke belum juga mengeluarkan suaranya.
"A… Ayah…." Hinata yang juga bersimpuh di samping Sasuke, akhirnya berinisiatif untuk memecah keheningan. Setelah mengangkat wajahnya untuk melihat ekspresi sang ayah, Hinata menundukkan kepalanya lagi—lebih dalam daripada sebelumnya.
Hiashi berdehem setelah melirik Hinata sekilas. "Sasuke," panggilnya dengan suara berat.
"Ya, Paman," balas Sasuke tegas sambil mengangkat wajahnya.
"Nikahi Hinata."
"APA?" pekik Sasuke dan Hinata bersamaan.
"Orangtuamu juga sudah merestui, Sasuke," kata Hiashi tenang.
Sasuke dan Hinata tampak sama-sama ingin mengeluarkan suaranya, namun tidak ada satu pun kata yang meluncur dari mulut mereka. Bibir mereka terlihat bergerak-gerak tanpa suara, dengan kata lain; megap-megap.
"Aku tidak peduli dengan 'budaya' pergaulan liar remaja zaman sekarang. Asalkan putri-putriku, perempuan Hyuuga, tidak seperti mereka," tambahnya. "Mungkin karena itu, banyak yang menganggap keluarga Hyuuga sebagai keluarga yang kaku dan kolot. Tapi aku tidak peduli."
Sasuke menutup mulutnya. Sepertinya tidak ada lagi keinginan untuk membantah guru sekaligus err… calon mertuanya itu. Sasuke diam bukan karena takut, tapi karena ia sangat menghormati Hiashi Hyuuga.
"Keluarga Hyuuga sangat menjunjung tinggi kehormatannya. Jadi, sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya kalian segera meresmikan hubungan kalian…."
"Hu… hubungan apa, Ayah? Ka… kami hanya… hanya…" Hinata melirik Sasuke sejenak. Ia terlihat ragu untuk meneruskan kalimatnya. Ia menelan ludah sebelum melanjutkan, "… hanya… kami hanya… teman sejak kecil." Suara Hinata terdengar semakin memelan.
Teman sejak kecil, eh?
Sasuke tersenyum miring mendengar ucapan Hinata. Sepertinya ia tidak bisa menerima pernyataan Hinata.
Bukankah yang dikatakan Hinata memang benar? Memangnya hubungan Sasuke dan Hinata seperti apa, selain hanya sebagai teman sejak kecil? Bukankah status mereka memang tidak pernah berubah? Atau mungkin belum berubah….
Sasuke memperhatikan perubahan raut wajah Hiashi. Kening Hiashi tampak mengerut dan alisnya bertautan. Ia menoleh ke Hinata ketika Hiashi mengarahkan pandangannya ke Hinata.
"Berarti… aku, ibumu, dan orangtua Sasuke salah mengartikan hubungan kalian," ujar Hiashi ragu.
Sasuke kembali menatap Hiashi. "Saya tidak keberatan, Paman. Saya tidak keberatan jika harus menikahi Hinata," sahut Sasuke mantap. "Saya akan bertanggung jawab," lanjutnya.
"Sas… Sasuke…." desis Hinata. Ia menoleh ke kiri untuk menatap Sasuke. Ia sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran teman sejak kecilnya itu.
"Sebenarnya semalam kami melakukan perbuatan yang…" Sasuke berdehem sambil melihat ekspresi Hiashi yang tetap tidak terbaca. Alis Hiashi tampak semakin menyatu dan bibirnya terkatup rapat. "… hanya kami dan Tuhan yang tahu…." lanjutnya santai.
"Paman pasti sudah mengerti," tambah Sasuke tanpa rasa takut. Ia melihat Hinata yang sepertinya ingin membantah dan hanya bisa melambaikan dua tangannya kepada Hiashi; ingin mengisyaratkan kepada ayahnya bahwa ucapan Sasuke tidak benar adanya.
"Kalian…." geram Hiashi seraya menatap Sasuke dan Hinata secara bergantian. "Jika kalian tidak menikah pada musim gugur tahun ini, berarti kalian ingin melihatku melakukan harakiri."
Sasuke dan Hinata membelalak seketika.
Sebagai seorang Hyuuga yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisional tanah airnya dan juga karena darah samurai yang mengalir dalam darahnya, maka tidak heran jika budaya harakiri menjadi salah satu pilihan untuk mengakhiri hidup seorang Hiashi Hyuuga.
"Ja… jangan Ayah…." Mata lavender Hinata tampak berkaca-kaca. Ia sangat takut mendengar ucapan Hiashi. Ia belum siap kehilangan ayahnya, apalagi dengan cara seperti itu. Bagaimanapun selama lebih dari tujuh tahun, Hinata hanya tinggal bersama ayah dan salah satu pamannya di Kumo.
Setelah kakek Hinata—ayah Hiashi—yang tinggal di Kumo meninggal, Hiashi harus membantu adiknya—Kou Hyuuga—untuk mengurus kebun teh yang ada di Kumo. Saat itu, Hinata bersikeras ikut ayahnya ke Kumo karena bertengkar dengan Sasuke dan malu untuk belajar di SD Konoha setelah ia diskors akibat kenakalan pertama yang dilakukannya.
Jadi, hubungan Hinata dengan ayahnya menjadi sangat baik. Mungkin sekarang Hinata jadi lebih dekat dengan ayahnya daripada ibunya.
"Sebagai seorang Hyuuga, Ayah belum siap kehilangan kehormatan akibat ulahmu dan Sasuke, Hinata. Ini bisa menjadi aib keluarga Hyuuga dan Uchiha. Dan juga, Ayah belum siap menanggung malu karena gagal dalam mendidikmu," balas Hiashi dingin.
.
.
.
Sasuke keluar dari ruangan Hiashi bersamaan dengan Hinata yang mengekor di belakangnya. Mereka hanya berjalan dalam diam, hingga Hinata berhenti melangkah dan mengeluarkan suaranya, "Kenapa?"
"Hn?" Sasuke berhenti dan berbalik menatap Hinata.
"Kita masih SMA, kenapa kamu mau menuruti perintah Ayah?" tanya Hinata pelan sambil membalas tatapan Sasuke.
"Aku harus bertanggung jawab karena semalam tidak memulangkanmu," jawab Sasuke tenang. "Lagipula, SMA Konoha tidak melarang muridnya untuk menikah. Jangan samakan dengan SMA Kumo," tambahnya.
Bukan. Bukan itu yang ingin kudengar darimu, Sasuke….
"Kamu malah memperburuk keadaan," tuduh Hinata kalem.
Sasuke mengeluarkan seringai dan kembali melangkahkan kakinya mendekati pintu depan rumah Hinata. Sebenarnya Sasuke tidak mengerti mengapa ia malah menyulut amarah Hiashi. Padahal sebelumnya ia merasa tidak terima atas tuduhan Hiashi terhadapnya.
"Mau langsung pulang?" tanya Hinata ketika Sasuke memakai sandalnya.
"Hn," gumam Sasuke seraya menggeser pintu rumah Hinata.
Hinata mengikuti Sasuke keluar rumah dan tetap berdiri di depan pagar rumahnya sampai Sasuke berbelok di tikungan. Hinata mengernyitkan kening setelah menyadari bahwa Sasuke tidak berbelok ke tikungan menuju rumah. Sasuke mengendarai sepeda gunungnya berlawanan dengan arah ke rumahnya.
"Katanya mau langsung pulang?" gumam Hinata yang masih belum beranjak dari tempatnya semula.
"Kak Sasuke kan bekerja paruh waktu tiap akhir pekan."
Hinata sedikit tersentak karena mendengar suara toa Hanabi dari arah belakangnya. Sambil mengelus dada, ia membalikkan badannya untuk menghadap Hanabi yang berdiri di ambang pintu. Walaupun begitu, ia sangat penasaran dengan perkataan Hanabi tentang Sasuke.
"Bekerja? Dimana? Mulai kapan? Kok aku nggak tahu?"
Hanabi memutar bola matanya karena diberondong pertanyaan oleh Hinata. "Kakak tahu toko swalayan dekat SD Konoha?"
Hinata tampak mengingat-ingat. Sepertinya toko swalayan yang dimaksud Hanabi adalah minimarket yang kemarin Hinata masuki karena diajak dan ditraktir es krim oleh Sasuke. Kejadian sebelum ia bermalam bersama Sasuke di gedung olah raga SD Konoha karena sore itu tiba-tiba Konoha diguyur hujan deras sampai pagi.
"Oh, toko swalayan yang berdiri di samping salon itu, kan…." jawab Hinata mantap sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Iya. Toko swalayan dan salon itu milik Kakek Orochimaru," kata Hanabi. Karena hanya mendapatkan respon berupa kerutan di dahi Hinata, Hanabi mengibaskan kipas di tangan kanannya. "Kakak pasti nggak tahu. Kakak kelamaan di Kumo sih…."
"Memang," balas Hinata santai sambil melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Ia tidak tahan berlama-lama berada di luar rumah saat musim panas seperti ini.
"Kak Sasuke bekerja di sana sejak SMA, lho…." tambah Hanabi yang mengekor di belakang Hinata yang berjalan menuju dapur.
"Lalu?" tanya Hinata tanpa menoleh ke belakang. Ia membuka kulkas dan mengeluarkan senampan semangka yang sudah dipotong-potong. Ia meletakkan nampan itu di atas meja makan yang salah satu kursinya diduduki Hanabi. Ia mengambil sebotol air putih dingin dan menuangkannya ke gelas yang ia letakkan di samping nampan berisi semangka. Ia mengambil tempat duduk terdekat, yang berarti di seberang Hanabi.
"Berarti tabungannya sudah banyak. Makanya Kak Sasuke malah menawarkan diri untuk menikahi Kakak," jawab Hanabi seraya menyeringai jahil.
Hinata tersedak air putih yang diminumnya. "Kamu tahu dari mana tentang err… pernikahan itu?" tanyanya sambil sesekali terbatuk-batuk.
"Telingaku ada dimana-mana," jawab Hanabi sebelum mencomot semangka dingin di depannya.
"Dasar tukang nguping," gerutu Hinata.
Hanabi hanya mengangkat bahunya tak peduli. Ia memakan semangka kuning tanpa biji, setelah sebelumnya memakan yang merah.
"Menurutku, Ayah masih bisa berubah pikiran." Hinata meminum sisa air putih di gelasnya.
"Kayaknya nggak mungkin. Menurutku, Ayah ingin mewariskan dojo kepada Kak Sasuke."
Hinata tidak sengaja menyemburkan air putih ke muka Hanabi karena terkejut mendengar ucapan adik semata wayangnya itu.
"Kakak jorok…." keluh Hanabi sambil mengelap air yang membasahi wajahnya. Ia menampakkan tampang kesalnya.
"Jangan ngomong sembarangan."
Hanabi memanyunkan bibirnya. "Saat Ayah ke Kumo, yang mengurus dojo cuma Kak Sasuke, lho…."
Alis Hinata mengkerut. "Bukannya Paman Hizashi dan Kak Neji juga membantu?"
"Itu kan dulu. Beberapa bulan sebelum Kakak dan Ayah pulang, hanya Kak Sasuke yang mengurus dojo. Kalau nggak percaya, tanya Ibu. Ayah juga sudah tahu."
Hinata tidak bisa membantah Hanabi lagi kalau sudah menyangkut ibunya. Ia yakin kalau Hanabi berkata benar jika sudah melibatkan ibunya.
"Terkadang Kak Neji memang datang, tapi dia lebih sering membantu ayahnya di toko tofu," jelas Hanabi. "Karena sekarang Ayah sudah pulang, jadi Kak Sasuke hanya menjadi salah satu guru di dojo," tambahnya. "Kak Sasuke itu guruku, lho…." pamernya bangga.
Hinata bersikap seolah tidak peduli. Ia berdiri, membuka kulkas, dan mengeluarkan sepiring potongan semangka yang ia siapkan khusus untuk ayahnya. Ia mengambil nampan lain untuk membawa sepiring semangka dan segelas air putih dingin ke ruang santai Hiashi. Biasanya jam segini ayah dan ibunya bercakap-cakap di ruang santai, tapi sekarang ia hanya membawakan satu porsi untuk ayahnya karena ibunya sedang keluar rumah.
"Nanti kamu harus cerita lagi," tambah Hinata sebelum keluar dari dapur.
"Oke, oke, dengan senang hati," sahut Hanabi riang sambil mengipas wajahnya dengan kipas yang sejak tadi tidak lepas dari tangannya.
.
.
.
Hanabi tertidur di ranjang Hinata setelah sebelumnya berceloteh kesana-kemari. Mungkin Hanabi kelelahan karena sedari tadi ia tidak henti-hentinya menceritakan tentang Sasuke kepada Hinata. Menurutnya, ini kesempatan baginya untuk ngobrol panjang lebar dengan Hinata karena hal itu jarang dilakukannya ketika Hinata masih tinggal di Kumo.
Biasanya kalau Hanabi membicarakan Sasuke melalui telepon, Hinata akan langsung mengalihkan pembicaraan. Entah mengapa, kali ini Hinata yang menjadi sangat antusias untuk mendengar all about Sasuke versi Hanabi—sebenarnya hanya beberapa hal tentang Sasuke yang diketahui Hanabi.
Tiba-tiba, Hinata merasa menyesal karena dulu ikut ayahnya pindah ke Kumo. Andai Hinata tetap di Konoha, mungkin sekarang ia tidak hanya menjadi teman sejak kecil Sasuke….
Hinata menggelengkan kepalanya cepat untuk menghilangkan pikiran itu. Setelah itu, ia bergegas masuk ke kamar mandinya.
"Kak, handphone Kakak bunyi terus. Berisik," gerutu Hanabi dengan mata terpejam sambil meraba-raba meja di samping ranjang Hinata. Tidak lama kemudian, ia mendengar langkah seseorang yang semakin mendekat. Tanpa membuka matanya, ia mengangsurkan ponsel flip imut berwarna putih itu ke sembarang arah. Setelah merasakan bahwa ponsel itu sudah tidak di tangannya, Hanabi kembali terlelap.
Hinata hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah adiknya. Dengan malas ia menjawab telepon yang baru masuk sesudah melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Honey, kamu sibuk nggak?"
"Nggak sih." Hinata ingin mengatakan "ya", tapi yang keluar malah jawaban jujur. Ia memang tidak bisa berbohong. "Memangnya kenapa?" tanya Hinata takut-takut.
"Temani aku makan siang," jawab seseorang di ujung sana—Sasori, "pacar" Hinata. "Please," tambahnya sebelum Hinata sempat mengeluarkan bantahan.
Hinata jadi bertanya-tanya dalam hati. Mengapa harus dirinya yang dipilih? Bukankah pacar Sasori tidak hanya dirinya?
"Mm… dimana?" Sebenarnya Hinata tidak rela menanyakannya.
"Sebentar lagi aku akan menjemputmu."
"Ja… jangan!" tolak Hinata cepat.
"Kenapa?"
"Ng… aku saja yang ke sana," jawab Hinata ragu-ragu.
"Ya, sudah," balas Sasori cuek. "Tahu kafe Haruno, kan?"
Haruno? Sepertinya Hinata merasa tidak asing. Ia memandangi langit-langit kamarnya untuk mengingat-ingat. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya.
Ah, iya!
Akhirnya Hinata ingat. Haruno kan marga teman SD Hinata. Sakura Haruno. Cewek ceria yang sering dipanggil "rambut permen karet" oleh teman-teman cowok di SD Konoha. Semua itu karena warna rambutnya yang langka dan spesial; merah muda.
"Itu lho… kafe yang letaknya di seberang toko bunga Yamanaka. Nggak jauh dari SMA Konoha." Setahu Sasori, Hinata baru pindah ke Konoha. Ia maklum jika Hinata masih belum mengerti tentang Konoha.
Yamanaka? Tidak salah lagi. Ino Yamanaka juga merupakan teman SD Hinata di Konoha. Seingat Hinata, dulu Sakura dan Ino selalu terlihat bertengkar di kelas. Namun, ia tahu kalau mereka berdua itu bersahabat sejak kecil. Bahkan Sakura memiliki panggilan "sayang" untuk Ino, begitupun sebaliknya.
"A… aku tahu. Aku akan segera ke sana," kata Hinata akhirnya.
"Sepertinya aku yang akan datang lebih awal."
.
.
.
"Kenapa kamu lama sekali?" Sasori melihat jam tangannya ketika Hinata menghampirinya dengan nafas terengah. "Kamu terlambat dua jam," tambahnya sambil mengisyaratkan Hinata agar duduk di seberangnya.
"Ma… maaf."
Hinata memberanikan dirinya untuk membalas tatapan Sasori. Ia sedikit tidak percaya bahwa Sasori bersedia menunggunya. Sebelumnya ia mengira bahwa Sasori bukanlah tipe orang yang suka menunggu. Padahal kalau tadi Sasori menelepon dan membatalkannya, Hinata malah senang.
"Tadi aku harus menyiapkan makan siang untuk keluargaku dulu," jelas Hinata pelan tanpa ada pertanyaan dari Sasori.
"Aku jadi nggak berselera," balas Sasori dingin.
Sasori berhasil membuat Hinata merasa bersalah. "Maaf."
Kening Hinata mengernyit melihat perubahan raut wajah Sasori. Sepertinya bukan ekspresi marah. Di mata Hinata, Sasori terlihat seperti… menahan sakit?
"Kamu kenapa?" Mendadak Hinata menjadi khawatir.
"Maag," jawab Sasori lirih.
Maag? Mengapa Sasori tidak makan lebih dulu, dan malah menunggu Hinata? Kali ini Hinata merasa sangat bersalah. Ia memang tidak menderita sakit maag, jadi ia tidak bisa merasakannya. Tapi ayahnya yang terkena sakit maag. Saat di Kumo, ia sering tidak tega melihat ayahnya yang kesakitan saat maag yang dideritanya kambuh.
Dengan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan, Hinata berdiri dari duduknya dan menghampiri Sasori. "Kamu bawa antasida?" tanyanya lembut.
"Di mobil."
Hinata mengajak Sasori ke mobilnya yang diparkir di halaman kafe. Setelah Sasori duduk di bangku kemudi dan meminum antasida, Hinata sedikit berlari kecil ke mesin penjual otomatis di dekat kafe Haruno. Ia membeli minuman kalengan hangat dan beberapa bungkus roti.
Saat Hinata berjalan mendekati mobil Sasori, ia berpapasan dengan cewek berambut pink yang rasanya sangat dikenalnya. Melihat warna rambut yang sangat langka itu, Hinata langsung bisa menebak nama cewek itu.
"Sakura," sapa Hinata seraya menyunggingkan senyum.
Yang dipanggil Sakura oleh Hinata terlihat mengernyitkan dahi. Ia memandangi Hinata dari atas ke bawah, lalu ke atas lagi. Ia terlihat mengingat-ingat.
"Siapa?" tanya cewek berambut merah muda sebahu itu.
"Aku Hinata. Kamu lupa?" Hinata kembali tersenyum.
"Hinata?" Sakura memandangi Hinata. Beberapa detik kemudian, ia terlihat membuka mulutnya dan matanya tampak berbinar. "Hinata?" serunya lagi dengan semangat.
Hinata mengangguk dengan senyum yang semakin mengembang.
"Long time no see…." Sepertinya Sakura ingin memeluk teman yang sudah lama tidak dijumpainya itu. Tapi melihat beberapa roti di pelukan Hinata, ia jadi mengurungkan niatnya.
Ketika Hinata mengikuti arah pandang Sakura, ia baru ingat kalau ia harus segera menemui Sasori.
"Mm… Sakura, aku terburu-buru."
Sakura melihat kemana Hinata sesekali mengalihkan pandangannya. Ia bisa melihat seorang cowok berambut merah yang sedang duduk menyandar sambil memejamkan mata di dalam mobil merah.
"Pacarmu?" tanya Sakura pelan, membuat Hinata menghentikan langkahnya.
Hinata hanya menampakkan senyum yang terlihat dipaksakan.
Sakura menaikkan satu alisnya ketika melihat respon Hinata. "Aku kira, kamu sama Sasuke," gumamnya.
Sekali lagi Hinata tersenyum hambar. Kali ini, ia dengan cepat meninggalkan Sakura yang masih berdiri di depan kafenya. Hinata langsung menduduki bangku penumpang di samping Sasori. Saat itu Sasori mulai membuka matanya kembali.
"Masih sakit?"
"Masih. Perutku kram."
Hinata tampak sedikit panik. "Sasori, bisa angkat kaosmu?"
Sasori bingung dan memandang Hinata dengan mata sayunya. "Kenapa?"
Hinata menggigit bibir bawahnya. Karena ia tidak bisa menjelaskannya, ia langsung mengangkat sedikit kaos Sasori hingga menampakkan bagian perutnya. Ia yang sedang merona, tidak berani melihat ekspresi Sasori saat ini. Karena itu, ia hanya memfokuskan pada apa yang tadi akan dilakukannya. Dengan perlahan, ia menempelkan kaleng berisi minuman hangat ke daerah ulu hati Sasori. Ia melakukannya secara teratur dan berulang-ulang. Kata ayahnya, ini bisa meringankan sakit maag.
"Nggak panas, kan?" tanya Hinata kalem tanpa melihat lawan bicaranya.
"Nggak."
Hanya jawaban singkat dan pelan yang bisa didengar oleh Hinata.
Dulu, Hinata sering melakukan hal serupa saat maag ayahnya kambuh. Biasanya ia menempelkan kain yang dibasahi air panas ke daerah perut atau ulu hati ayahnya.
"Hai, Kak Itachi, Kak Hana. Makin mesra saja…."
Hinata mengangkat wajahnya dan memandang keluar jendela mobil karena samar-samar mendengar suara Sakura yang menyebutkan nama seseorang yang tidak asing baginya. Ia membelalak ketika menyadari bahwa laki-laki berambut hitam panjang yang dikenalnya itu sedang melihat ke arahnya. Masalahnya, Hinata belum menghentikan kegiatannya semula. Ia memalingkan wajahnya ke Sasori dan langsung mendapatkan tatapan yang meminta penjelasan darinya.
"Ada apa?"
Hinata baru menyadari bahwa saat ini jarak wajahnya dengan wajah Sasori hanya tinggal beberapa centimeter. Dan yang mempersempit jarak itu bukan Sasori, melainkan dirinya sendiri yang sebelumnya berusaha mengurangi rasa sakit di perut Sasori. Sebenarnya bukan kesengajaan, tapi… jika ada orang lain yang melihatnya, apa mereka akan berpikiran sama dengan Hinata?
.
.
.
To Be Continued?
.
.
.
uchihyuu nagisa, Keira Miyako, Sora Hinase, Namikaze-Tania-Chan, kana seiran, UchihaHinataHime, Hina bee lover, Reita, Yuki Tsukushi, Ind, Shaniechan, Lollytha-chan, shiroyue, Merai Alixya Kudo, harunaru chan muach, Dindahatake, soft purple, MarMoet Hime Chan, Yuuaja, SaHi-chan, Lyner Croix Rosenkrantz, Nerazzuri, imaa50
.
.
.
Terima Kasih
.
.
.
15 Februari 2011
