Ini Ann pas lagi ingin update fic padahal sedang diteriaki ortu suruh terus belajar.. Nee, jadi yah, seneng akhirnya bisa update.
Declaimer © Masashi Kishimoto
Story : Another Version of Another Cinderella Story (AVAC)
Chapter 7 : The Party
Enjoy Please !
Bohong. Aku tahu ini bohong. Tidak mungkin seorang Uchiha Sasuke ada di depanku, memegang sebelah tanganku, dan menuntunku berdansa.
Ini tidak mungkin. Dimana semua orang? Aneh sekali bila tidak ada orang di sekitarnya padahal di saat itu jelas diadakan pesta di tempat itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Dimana semua orang? Apa ini hanya ilusi?
"Ino? Apa kau merindukankanku?"
Aku balas menatapnya. "Aku.. sangat merindukanmu."
Aku yakin ini bukan ilusi. Bagaimana hati ini bisa merasakan bahagia yang sangat bila ini hanya sebuah ilusi?
"Ino..."
"Ya?" Sasuke tiba-tiba menunduk. Ia tak menatapku seperti sebelumnya. Aku tak tahu arti wajah yang tampak ragu itu. Tapi, hatiku seketika bergemuruh karenanya.
Sesuatu sedang tak baik-baik saja.
"Sasuke?" panggilku lembut.
Sasuke kembali menatapku. Tapi, wajah yang membuatku gundah itu masih ada.
"Maafkan aku. Aku.. sudah bertunangan dengan Sakura."
DEG
Dia mengucapkannya. Hal yang paling tak ingin kudengar di dunia ini. Hanya satu kalimat saja, tapi terasa membunuh.
"K-kau?"
"Maafkan aku."
Tubuhku mematung. Kulepas tangannya dari tubuhku. Kupikir aku sudah melupakannya. Tapi, begitu melihatnya lagi, perasaan itu kembali menguap. Aku tak lagi bisa menahan diri untuk memeluknya. Menumpahkan betapa aku sangat merindukannya.
Tapi, kalimat itu menghancurkan segalanya. Kumohon, bangunkan aku! Ini hanya mimpi. Aku tahu, pada akhirnya mereka akan tetap bertunangan. Tapi, bila Sasuke yang mengatakannya langsung.. aku tak sanggup bertahan.
"Ino-chan? Ino-chan? Hei, bangun!"
Perlahan, kubuka mataku. Sayup-sayup cahaya terang mengganggu penglihatanku. Hinata menatapku khawatir.
"Ino-chan?"
"A-apa yang terjadi?" tanyaku.
"Kau mengerang dalam tidur. Apa kau mimpi buruk?"
Mimpi buruk?
Kurasa.
Aku menunduk. "Bukan apa-apa."
"Ino-chan?" Hinata meraih pundakku dan mengelusnya. Entah kenapa, aku baru menyadari elusan Hinata begitu menenangkan.
"Bagaimana dengan pestanya? Menyenangkan?" walau Hinata tahu aku hanya mengalihkan pembicaraan, tapi itu lebih baik daripada ia mengetahui mimpiku.
Hinata justru menunduk. "Kau pasti tak ingin mendengarnya."
Mungkin.
Kupaksakan senyuman. "Apa itu, Hinata?"
Wajah ragu itu semakin nampak. Kegundahan dalam mimpi itu kembali terasa. Tapi, kali ini lebih terkesan mencekam. Aku sudah bisa menebak kata menyakitkan keluar darinya.
"Sasuke.. barusaja bertunangan dengan Haruno Sakura."
~! #$%$$$*()
Rasanya.. menyakitkan. Kata-kata itu menghujam tepat di hati ini. Hati ini terbakar. Membuahkan rasa sesak yang tak mengenakkan.
"Maafkan aku, Ino-chan."
Perih. Bahkan kata maaf tak sebanding untuk mengurangi rasa terbakar ini.
"Ti-tidak apa-apa. Aku tahu." Aku menggeleng cepat. Kusingkap selimutku dan berjalan ke dapur. Aku tak kuat lagi menahannya.
Ayolah.. aku sudah menduga ini terjadi, tapi kenapa masih sakit?
Rasa cemburu ini.. mencekam. Aku bisa. Tolong katakan padaku aku bisa menghadapi ini!
Sebenarnya kenapa aku begini? Apa yang kuharapkan?
Apa aku sebegitu cemburunya hingga aku berharap pertunangan itu tidak terjadi? Apa aku sejahat itu?
Hatiku terbakar dan aku butuh air sekarang. Kuambil air dingin dari kulkas. Bahkan tenggorokanku ikut mengering.
"Cobalah cari air dingin, Ino-chan." Entah sejak kapan, Hinata sudah ada di belakangku.
Aku menoleh. "A-aku sudah mendapatkannya," kataku. Tapi, sebelum gelas minuman itu bersentuhan dengan bibirku, Hinata lebih dulu menyambarnya. Membuatku menatapnya heran.
"Bukan yang ini. Carilah pendingin di luar sana! Masih banyak yang bisa menyejukkan hatimu," panggilnya sedikit membentak.
Aku tahu apa maksud kalimat itu. Sangat. Berulang kali gadis ini mengingatkanku. Ia ingin aku maju, aku tahu itu. Aku sedang berusaha. Tapi, cerita itu datang dan aku tak bisa menghadapinya.
"Aku.. akan mencari air dingin." Aku menatap Hinata yang sedari tadi menunggu responku. Mungkin yang harus kulakukan adalah mempercayai gadis ini.
"Tolonglah!"
Senyum sekilas. Hinata langsung menyambar tubuhku. Memelukku. Memberi kehangatan padaku.
"Tentu saja. Aku senang menolongmu."
Dengan ini.. semoga aku bisa melupakanmu, Sasuke-kun.
Selamat tinggal.
~! #$%+++*()
Hidup ini begitu rumit. Dan yang sering, hidup ini tak adil. Aku masih terus bertanya.
Dimana orang tuaku? Bagaimana keadaan mereka? Apa aku juga lahir di kalangan pelayan rumahan? Atau di keluarga bangsawan?
Aku ingin menjadi yang kedua. Keluarga bangsawan. Tapi, itu hanya keinginan yang tak mungkin tercapai. Seperti menginginkan bintang untuk jatuh padamu.
Karena sekarang.. aku bukan anak kecil yang tak merasakan apapun kecuali kesenangan.
Beberapa tahun belakangan ini, aku sudah merasakan kesedihan. Kesedihan yang mendalam disertai beragam tanya yang tak henti-hentinya mengiringi. Masa-masa itu.. takkan bisa tergantikan. Hingga kini pun, aku tak yakin ada yang bisa menggantikannya.
"Kita coba seorang Sabaku Gaara, bagaimana?" bahkan oleh seorang yang paling tampan di kota baruku ini sekalipun.
Aku hanya mengangguk lemah. "Baiklah."
Aku harap.. semua akan baik-baik saja.
Hinata meraih ponselnya kemudian menghubungi Gaara. Aku tak terlalu fokus dengan pembicaraan mereka. Pikiranku sudah melayang entah kemana. Yang pasti, ada kata tempat, waktu, dan pertemuan. Sepertinya Hinata ingin membuat kencan rahasia di antara kami.
"Dia sudah setuju. Temui dia setengah jam lagi!" kata Hinata. Ia mendorongku masuk ke kamar dan menutup pintunya.
"Tunggu dulu. Setengah jam lagi? Pukul lima sore? Dimana?" tanyaku beruntun. Tidak mungkin juga aku berkencan tanpa tahu perjanjiannya.
"Sudahlah. Yang perlu kau pikirkan saat ini adalah.." Hinata menuntunku ke meja rias. "bagaimana membuat dirimu cantik. Untuk yang lain, serahkan saja padaku, ok?"
Dan setelah mendapat kedipan matanya itu, aku hanya bisa menghela nafas. Pasrah.
~! #$%+++*()
Dua puluh menit habis dalam tata riasku.
Hinata membantuku memilih baju serta merias diriku. Sama seperti sebelumnya, riasannya sempurna. Cantik. Aku sudah minta dia untuk tak meriasku berlebihan. Hanya riasan tipis tapi cukup menawan.
Hinata terus memberiku dukungan. Tak lupa, ia juga memberitahuku bagaimana bertingkah saat berkencan nanti.
Kali ini, aku akui Hinata terlalu berlebihan. Tapi, mengikutinya adalah yang bisa kulakukan untuk membalas rasa khawatirnya selama ini.
TIN TIN
"Oh! Dia sudah datang." Pekikan Hinata menyentakkanku.
Aku menatapnya heran. "'Dia'?"
"Ya. Dia. Gaara." Hinata tampak kegirangan. Aku mulai ragu, sebenarnya siapa yang akan kencan kali ini?
"Jadi, kita tidak ke sana? Maksudmu, Gaara menjemputku begitu?"
"Tentu saja, Ino-chan. Nah! Sekarang cepat pergi sana!"
Hinata mendorongku menuju pintu lalu melambaikan tangannya padaku.
"Kau tidak ikut?" tanyaku.
Tapi, Hinata hanya berdecak pinggang. "Mana mungkin aku mengganggu orang kencan. Sudah sana pergi! Hust!"
Baiklah, aku mulai merasa tidak dibutuhkan di sini.
Aku keluar dari apartemen. Sebuah mobil ferrari merah terparkir rapi di depan sana. Aku mulai berpikir, warna kesukaan Gaara pasti merah, sesuai warna rambutnya.
Aku berjalan ke arahnya. Ini semua akan menjadi awal dan akhir dari hidupku. Awal sebuah cerita baru dan akhir kisahku yang sudah tentu kandas. Tepat tadi malam.
"Apa kau harus berjalan dengan melamun?" tanyanya sontak membuyarkanku. Aku bahkan sudah berada di depan mobil itu dengan Gaara yang bersandar padanya.
"Ah! Gomen."
Gaara membukakan pintu mobil. "Kheh. Untuk apa minta maaf. Ayo! Cepat masuk!"
Aku menurut. Setidaknya, Gaara tak terlalu memaksa seperti Sasuke.
Ah! Pemuda itu lagi. Aku tak boleh terus mengingatnya. Aku harus melupakannya.
Seperti bagaimana ia melupakanku.
Gaara beranjak ke kursi kemudi. Tanpa bicara apapun, ia menyalakan mesinnya dan membawaku entah kemana.
~! #$%$$$*()
Hanya lima menit perjalanan, akhirnya kami sampai ke tempat tujuan kami. Lebih tepatnya tempat tujuan Gaara. Karena kami tak pernah membahasnya bersama sebelumnya.
Padang bunga.
"Kudengar kau suka bunga. Jadi, aku membawamu kemari."
Ya. Memang. Aku suka bunga. Sangat.
Tapi, tempat ini membuatku ingat pada Sasuke. Lagi. Tepat ketika kehidupanku berubah menyenangkan dan menyedihkan di saat bersamaan.
"Kenapa? Kau tak suka?"
Eh?
Panggilan Gaara membuatku mendongak padanya. Tentu aku takkan menceritakan perasaanku yang sesak ini padanya. Hanya karena tempat yang Gaara pilih sama seperti tempat yang Sasuke pilih.
"Tentu saja aku suka. Aku hanya terharu. Terimakasih."
Gaara berseringai. "Katakan itu nanti. Now, please let me." Gaara mengulurkan tangannya. Ia terlihat sopan dari gayanya bertingkah. Bah seorang pangeran kepada tuan putri. Atau ini hanya salah satu caranya untuk menghiburku?
Kubentuk sebuah senyum padanya dan kulingkarkan tanganku dengan miliknya. Gaara sudah menyiapkan sebuah sofa panjang di tengah-tengah padang bunga itu. Warnanya yang kekuningan terkesan tak mencolok.
Well, ide yang cukup unik. Aku hanya bisa berharap semoga ini berhasil.
~! #$%$$$*()
"Bunga apa itu?" tanya Gaara. Ia menunjuk sekuntum bunga kuning yang bagiku sangat tak asing. Kami sedang duduk bersama di sofa tadi.
"Itu bunga lili putih."
"Lili?"
"Ya."
"Cantik."
Eh?
Aku menatap Gaara yang menatap lekat bunga indah itu. Kuakui juga, bunga itu memang indah. Merasa aneh juga melihat Gaara yang mengagumi bunga.
"Kau sama cantiknya dengan bunga itu," katanya.
"A-apa?"
Gaara balik menatapku. "Yah, cantik." Dia bahkan tersenyum padaku.
Tapi, aku hanya bisa membentuk senyum paksa sebagai respon. Mungkin Gaara yang tak tahu banyak tentang bunga, bisa dengan mudah bicara seperti itu. Aku memakluminya.
"Kenapa?" Gaara tampaknya hanya seorang diantara kami yang memahami lawan bicaranya. Aku bahkan belum menemukan raut muka tak sukanya sekali pun.
"Sebenarnya.. lili putih memang indah. Tapi, bunga itu beracun."
Lili putih beracun. Walaupun indah, tapi dia selalu menyakiti orang lain.
Dan bila aku menjadi lili putih, aku terkesan meracuni diriku sendiri.
Aku tak berani membalas tatapan Gaara. Tapi, aku tahu Gaara merasa tak enak sekarang.
"Maaf," katanya.
Lagi-lagi aku memaksakan senyum.
Kencan ini tak seperti yang kuharapkan. Gaara memang peduli. Tapi, sifatnya yang dingin selalu mengingatkanku dengan sosok itu. Aku tak yakin, bila aku bisa bertahan di sampingnya. Yang ada aku mengganggapnya Sasuke daripada jati diri pemuda itu sendiri. Kepeduliannya cenderung mengajakku bernostalgia.
"Aku tak mengerti kenapa. Tapi, kau terlihat memaksakan diri," kata Gaara tiba-tiba.
Aku menatapnya penuh tanya.
"Kau tampak tak menginginkan kencan ini," katanya lagi. Dia bahkan tak lagi menatapku.
Dan aku mulai merasa bersalah.
"Maafkan aku."
Tapi, Gaara justru tertawa. "Kheh. Kau selalu minta maaf."
Aku semakin diam. Tak tahu harus bicara apa.
"Kalau begitu, lakukan sesuatu untukku!"
Aku lantas mendongak padanya. Ia masih tak mau menatapku padahal bibirnya terbentuk senyuman.
Permintaan?
"Apa itu?"
Gaara kini menoleh padaku. Dan baru kali ini aku melihatnya tersenyum seindah itu. Dia terlihat keren.
Tapi, entah mengapa aku merasa itu bukan senyuman, melainkan sebuah seringaian.
~! #$%$$$*()
Kencanku yang pertama..
Gagal.
Kami akhirnya berpisah. Dia mengantarku pulang seperti ia menjemputku tadi sore.
Aku langsung menerjang kamar begitu kakiku menginjak lantai apartemen.
"HINATA?" teriakku. Gadis itu tak ada di kamar. Mungkin di dapur. Dan dugaanku benar. Dia tengah memasak entah apa itu dan tubuhnya terbalut apron merah miliknya. Ia tersenyum penuh harap padaku. Seperti menunggu berita baik dariku.
Sayangnya, aku justru menghadiahinya raut muka kesalku.
"Apa yang kau katakan padanya?" tanyaku. Tanpa kusadari madaku sudah meninggi.
Hinata hanya menatapku heran. "Apa?"
"Bagaimana dia bisa penasaran dengan masa laluku?"
Hinata terkikik. Tapi, bagiku ini bukan waktunya bercanda.
"Apa penasaran dengan masa lalu seseorang bisa menjadi kesalahan orang lain?"
Satu hal yang tak kusukai dari Hinata adalah sifatnya yang suka menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Dan di saat ini pun ia juga melakukannya terhadapku.
"Hinata, aku serius. Katakan padaku, apa kau menceritakan masa laluku padanya?" tanyaku semakin tak sabar.
Hinata mematikan kompor kemudian kembali fokus padaku.
"Aku hanya memberitahunya kalau kau sedang patah hati. Itu saja. Tak lebih."
Ok. Aku paham Hinata ingin membantuku. Tapi, kurasa kali ini caranya salah.
Bagaimana bisa seseorang berkencan dengan orang yang baru saja sakit hati? Ia pasti merasa sebagai pelarian. Sama seperti yang kutakutkan.
Menghela nafas. Ini salahku. Harusnya aku bisa move on lebih cepat dan tak membuat gadis khawatiran itu khawatir padaku. Hingga berbuat sejauh ini hanya untukku.
Aku berbalik menuju kasurku. Menjatuhkan diri begitu benda empuk itu hanya beberapa mili dariku. Entah mengapa, benda ini terasa nyaman sekali saat ini.
"Apa aku salah?" Hinata tiba-tiba ada disampingku. Duduk menatapku di pinggiran kasur.
Aku menggeleng. "Tidak. Kau tidak salah. Kau hanya berlebihan, Hinata."
Aku pun beranjak duduk.
"Lalu bagaimana dengan Gaara? Apa aku mesti mencari yang lain? Shikamaru, Neji, atau−"
"Tidak usah!" potongku. "Gaara tidak keberatan. Dia tetap mau menjadi teman kencanku."
Wajah Hinata berubah sumringah. "Benarkah?" Lalu mengerut heran. "Tapi, apa dia baik-baik saja?"
Aku mengangguk. "Dia bilang, dia akan membantuku melupakan Sasuke. Kurasa dia baik-baik saja. Tapi, tetap saja. Aku merasa tak enak."
Hinata menyentuh bahuku. Menghadapkanku dengannya. "Kalau begitu, manfaatkan saja. Mungkin suatu hari, kau bisa berpaling padanya."
Kali ini, lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk atas semua saran Hinata.
~! #$%$$$*()
Hari berlalu. Tentu saja. Gaara selalu menemaniku setiap kali dia punya waktu luang. Bahkan, sesering mungkin, Gaara menjemputku setiap pulang kerja.
Walau kami baru memulai kencan dadakan kami seminggu yang lalu, tapi bagiku, itu sudah terasa lama sekali.
Dan di waktu yang menurutku sudah lama sekali itu juga, aku masih belum bisa melupakan 'dia'.
Kini, Gaara benar-benar orang yang berbeda. Sasuke, dia selalu saja mengerjaiku. Sementara Gaara, dia terkesan menghargaiku. Gaara sangat memperhatikanku. Setiap malam, dia hampir tak pernah lupa memberiku ucapan 'selamat malam'. Hal paling manis yang kusukai darinya.
Gaara juga sering mengusap bibirku yang masih tersisa makanan setiap kali kami makan bersama. Ia tak pernah melepas genggaman tangannya setiap kali kami berjalan bersama. Aku mulai merasa sangat bersalah menjadikan Gaara pelarian cintaku. Gaara tak seharusnya memegang tangan gadis yang justru memikirkan pemuda lain dan bukan dirinya. Gaara sepantasnya mendapat yang lebih baik dariku.
Hanya saja, setiap kali berpikiran seperti itu, nasehat Hinata selalu saja mengiringi.
'Kalau begitu manfaatkan saja.'
Aku mulai bertanya-tanya, apakah aku telah berbuat jahat pada Gaara?
Dan bila dibandingkan dengan Gaara, Sasuke tak sebaik pemuda ini.
Tapi, justru itulah yang membuatku tak bisa melupakan Sasuke. Caranya yang berbeda dalam memperlakukan wanita, membuatku selalu mengingatnya. Aku merindukannya.
"Apa keberadaanku tak bisa membuatmu untuk tidak melamun?" suara Gaara menyentakku. Dia menatap ke arahku.
"Maafkan aku," jawabku.
"Selalu minta maaf." Gaara menghela nafas.
"Haah, aku mulai bertanya-tanya, apa yang bisa membuatmu berhenti mengucapkan kata-kata itu di depanku." Gaara balik menatapku. Kali ini dengan tatapan berbeda. Aku jadi merasa tak nyaman dengan tatapan itu. Seolah mengintimidasiku. Aku menelan ludah paksa.
"Aku takkan pernah memberimu maaf," desisnya.
Dan seketika aku berhenti bernafas. Apa maksud Gaara barusan?
Gaara mengalihkan perhatiannya. "Apa Sasuke-mu itu seperti dirimu?" tanyanya terdengar dingin. Aku tak mengerti. Apa yang terjadi dengan Gaara? Apa yang dipikirkan pemuda itu?
Aku mulai merasa takut.
"M-maksudmu?"
Gaara kembali menatapku intens. "Apa dia sama tak pekanya dengan dirimu sekarang?" bahkan dia setengah berteriak. Dadanya naik turun mengatur nafasnya yang memburu.
Kini aku benar-benar takut.
"Gaara−"
"Keluar dari mobilku!" bentaknya.
Sungguh, aku tak mengerti. Apa yang terjadi pada Gaara? Apa yang kukatakan hingga membuatnya seperti ini?
Gaara tampaknya sangat tak menginginkanku di sini.
Tanpa mengucapkan apapun, aku keluar dari mobilnya. Gaara baru saja menjemputku kerja. Biasanya Gaara mengajakku jalan kaki, tapi entah mengapa ia membawaku bersama mobilnya. Dan itu tak ada bedanya dengan moodnya yang ikut berubah.
Apa kesalahanku padanya?
Setelah aku benar-benar sudah menginjak tanah dan menutup mobilnya, Gaara langsung melesat pergi. Meninggalkanku tanpa kata-kata.
TING
Ponselku berbunyi.
Aku membukanya untuk menampilkan pesan singkat dari seseorang yang baru saja melesat pergi dariku.
'From: Gaara
Aku telah menunggumu dari dulu. Tapi, sekarang aku yakin. Kau takkan pernah datang padaku. Terimakasih telah bersedia memberiku kesempatan menggenggam tanganmu.'
Dan sontak nafasku tercekat. Apa ini? Apa maksudnya ini?
Aku tak tahu betapa terkejutnya diriku sekarang. Gaara..
Kenapa aku tak pernah menyadarinya?
Jadi, selama ini Gaara bersikap baik padaku karena dia memang peduli padaku? Gaara perhatian padaku karena dia memang punya rasa padaku.
Aku tak mengerti.
Aku ingin menyangkalnya. Tapi, setelah apa yang Gaara lakukan padaku selama kami bersama jelas-jelas menjelaskan arti pesan itu.
Dan aku.. Dan aku.. sama sekali tak menyadarinya. Hiks.
Orang macam apa aku ini? Ini semua salahku. Benar-benar salahku.
Aku tertunduk seketika. Bahkan kasarnya pasir di bawahku sama sekali tak menarik perhatianku. Kulirik sekilas tempat perginya Gaara.
Gaara selalu kesakitan di saat aku menjadikannya pelarian?
Kukira, Gaara tak serius dengan kencan ini. Kukira dia menganggap ini hanya sebagai hubungan-tolong-menolong-antar-teman.
Oh! Kami-sama, kenapa bisa seperti ini? Kenapa aku bisa tak sepeka ini?
Jadi, itu yang dimaksud Gaara tadi. Betapa sakitnya Gaara saat ini. Seperti.. sakitnya diriku ketika Sasuke tak peka terhadap cintaku.
Gaara, maafkan aku.
~! #$%$$$*()
"Bagaimana? Bagaimana? Bagaimana?" cerca Hinata begitu aku menginjakkan kakiku di lantai kamar. Wajahnya selalu saja menyiratkan kegembiraan. Sayang sekali aku hanya bisa tersenyum kecut.
"Kami putus," kataku sambil merebahkan diri pada kasur empuk yang sangat kurindukan.
"Ino-chan.."
Lagi. Aku lelah.
"Bolehkah aku menyanyi?"
"Ya. Tolong."
~! #$%$$$*()
Setelah hari itu, duniaku kembali seperti semula. Hatiku kembali gusar seperti semula. Ditambah, kejadian dengan Gaara hari kemarin, meruntuhkan sudah semangatku yang masih tersisa.
"Aku harus minta maaf padanya."
Aku benar-benar bodoh. Cinderella palsu ini sedang patah hati. Dia juga membuat patah hati orang lain. Cinderella ini tak sadar telah menolak pangeran tampan hanya karena pangeran tampan lain yang juga menolaknya.
Tapi, apa Sasuke memang menolakku?
"Gaara memberimu ini." Hinata menghampiriku yang baru selesai melayani pelanggan. Hari ini cafe tak seramai biasanya. Jadi, para pelayan lebih banyak punya waktu luang.
Ia memberiku secarik kertas undangan.
"Undangan?" tanyaku tak mengerti. Kenapa Gaara memberiku surat undangan?
Undangan pesta.
"Ya."
"Ta-tapi untuk apa?"
Hinata mengedikkan bahu. "Entahlah. Mungkin ingin berbaikan denganmu."
Aku menunduk. Menatap undangan itu lekat.
Gaara ingin berbaikan denganku? Seperti apa nanti? Apa yang harus kukatakan?
~! #$%$$$*()
Sore harinya tak kusangka aku mendapati Gaara ada di depanku. Di depan cafeku.
Ia tak menyadari keberadaanku karena tubuhnya yang menunggungiku.
Gaara.. harusnya aku yang menemuinya. Aku yang salah. Karena kalau justru Gaara yang menemuiku, aku tak tahu harus bicara apa.
Aku berjalan mendekatinya. Dia masih belum juga menyadariku.
"Gaara?" panggilku. Sempat aku melihatnya sedikit terlonjak kaget, tapi kemudian berbalik menatapku.
"Sudah selesai?" tanyanya. Seperti biasa, menanyakan pekerjaanku lebih dulu.
Aku mengangguk. "Sudah."
Gaara sedikit mengalihkan perhatiannya dariku. Seolah tak yakin dengan apa yang akan dikatakannya.
"Gaara?"
"Apa kau punya waktu?"
Aku terkesiap. Gaara tak biasa menanyakan waktuku. Dia langsung membawaku pergi kemana pun ia mau seusai kerja. Gaara tak pernah minta ijin lebih dulu.
Apakah ini artinya.. kami benar-benar sudah renggang?
Aku mengangguk lemah. "Aku sedang punya waktu kosong."
"Aku ingin bicara denganmu."
"Hn."
Dan hubungan kami benar-benar sudah renggang.
~! #$%$$$*()
Sunyi. Itulah yang mengisi. Tak seperti biasanya. Entah aku atau Gaara, selalu ada yang memulai. Tapi, kali ini.. hanya sunyi yang mendominasi. Dan aku sangat tahu kenapa.
"Maafkan aku."
Entah berapa kali aku sudah minta maaf, tapi kali ini aku benar-benar merasa bersalah.
"Hn."
Semua benar-benar kacau.
"Kau benar-benar mencintainya, bukan?" Gaara kembali memulai. Dan aku sangat tahu apa yang ia maksud. Serta membuatku bingung. Bagaimana aku harus menjawabnya?
"Gaara, aku.."
"Jujur saja!"
Yah, inilah yang kutakutan. Gaara memintaku menyatakan perasaanku yang jelas-jelas akan menyakitkan hatinya. Tapi, akan lebih menyakitkan kalau aku membohongi perasaan Gaara.
"I-iya."
Dan itu membuatku tak berani menatap pemuda itu.
"Jadi, aku tak punya harapan?"
Aku hanya menunduk. Tak berani menjawabnya. Aku sendiri tak yakin dengan jawabanku. Dan kalaupun memaksakan diri, tak ada baiknya bagi kami berdua. Jawabanku pasti hanya akan sama.
"Kheh. Baru kali ini aku ditolak."
Aku hanya diam.
"Banyak gadis yang datang sendirinya padaku tanpa kuminta sekalipun. Dan kali ini aku mendatanginya, tapi dia tak bisa datang padaku."
Sungguh, aku semakin merasa bersalah. Dan Gaara sepertinya menyadarinya.
"Tidak apa. Aku senang kau setia dengan pangeranmu. Sepertinya, aku takkan bisa menggantikan dia."
Gaara berhenti dan berbalik ke arahku. Dia memegang bahuku dan menatapku penuh arti. "Bolehkah aku memelukmu?"
Aku terkesiap.
"Sekali saja."
Gaara terlihat sangat menginginkannya. Seminggu ini, Gaara tersakiti karenaku. Mungkin, aku bisa memberikan apa yang ia mau. Sebagai balasan atas rasa bersalahku.
Aku mengangguk. Dan Gaara pun segera menyambar tubuhku. Memelukku.
Aku hanya bisa berharap, semoga ini bisa meringankan hatinya.
"Ino?"
Tersentak. Suara itu? Aku mengenalnya.
Kulepas pelukanku dari Gaara segera. Lalu, memandang arah suara itu.
Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa? Di sana, berdiri seseorang yang tak kusangka ada di sini. Seseorang yang kutunggu-tunggu selama ini.
Dia berdiri tegap di sana. Menatapku entah dengan tatapan apa. Tersakiti kah?
Setelah cukup lama tak melihatnya, sosok itu terlihat berubah. Rambutnya lebih panjang, wajah kekanakannya kini terlihat lebih dewasa, dan ia semakin tampan.
Aku tak menyangka ia ada di sini. Bagaimana bisa?
Aku tak tahu. Entah senang atau apa, aku sangat merindukannya. Aku kembali melihatnya. Setelah sekian lama.
Tanpa kusadari, kakiku melangkah padanya. Aku ingin segera menyentuhnya, memeluknya, dan mengatakan betapa aku sangat merindukannya. Kami-sama, ini nyata kan?
Tapi, kenapa dia hanya diam saja? Apa dia tak merindukanku?
"Sasuke-kun?"
Panggilan itu. Kenapa aku tak menyadarinya? Di sampingnya, Sakura bergelayut dalam lengan Sasuke.
Gadis itu sejak kapan ada di sana? Dan dia bersama Sasuke. Mataku seketika terasa perih. Kakiku seketika mematung tak lagi melangkah.
Aku baru sadar, mereka telah bertunangan. Tak sampai dua minggu lalu.
Mereka bukan lagi dua orang berbeda. Mereka sudah terikat dalam suatu hubungan yang sama. Yang orang lain tak bisa memisahkannya.
CLINK
Kulihat kedua tangan mereka. Cincin yang sama, cincin yang membuat mereka satu, tersemat rapi di jari manis keduanya.
Harusnya aku menyadari itu. Betapa menyakitkannya benda itu di mataku.
"Ino?" Suara khawatir Gaara tak kuhiraukan. Aku terlalu terkejut, kepalaku berdenyut. Dan hatiku bergemuruh perih.
GREB
Gaara tiba-tiba menyambar tanganku. "Kita pergi!" dan membawaku pergi dari tempat itu. Dari sebuah jalanan kecil yang tertutupi bayang-bayang pohon besar dari sinar mentari sore, yang mempertemukanku dengan pangeranku. Tapi, sekarang bukan lagi pangeranku.
Mungkin menjauh darinya memang kubutuhkan. Sangat.
Kepalaku menunduk. Bahkan pengeranku sama sekali tak mengejarku. Jadi, aku memang bukan siapa-siapa baginya?
Tak kuhiraukan air mataku yang tumpah. Simbol kepedihan itu biarlah mengalir.
Seiring dengan kekosongan hati yang mulai mengisi. Bahkan tatapan tajam Gaara pada Sasuke kubiarkan begitu saja.
Kini aku.. benar-benar sadar. Aku bukanlah putri. Bukan pula cinderella. Hanya seorang mantan pelayan. Yang mencoba cinta terlarang dengan majikannya.
~! #$%$$$*()
"Kau sudah siap, Ino-chan?" tanya itu hanya bisa kujawab dengan anggukan lemah.
Kami akan pergi ke pesta. Tapi, aku sama sekali tak punya gairah untuknya. Aku hanya duduk di kasurku menunggu gadis berambut indigo itu selesai berhias diri.
"Malam ini Gaara tak bisa menjemputmu. Jadi, kau berangkat bersamaku saja, ya?"
Aku hanya mengangguk kemudian meraih tangan yang diulurkan Hinata padaku.
"Jangan lupa topengnya." Hinata mengingatkan.
Benar. Bahkan pesta topeng yang misterius ini sama sekali tak berpengaruh padaku. Dan semua ini karena kejadian tadi sore.
"Lupakan dia, Ino-chan. Ingat! Kita akan ke pesta sekarang. Bersenang-senanglah." Hinata tersenyum padaku yang hanya bisa kubalas dengan senyum kecut. Kami sama-sama memasang topeng kami. Dan bersiap ke pesta.
Semoga pesta itu bisa meringankan hatiku.
~! #$%$$$*()
Kami sampai ke pesta yang dimaksud dalam undangan yang kuterima tadi. Pesta ulang tahun salah satu teman Gaara yang juga teman Hinata. Entah siapa.
Semua memakai topeng mereka masing-masing. Dan pakaian mereka juga indah-indah. Aku bersyukur aku punya baju pesta yang sesuai. Gaun yang kubeli beberapa minggu lalu.
"Dimana Gaara?" tanyaku pada Hinata yang kelihatan sangat tertarik dengan pesta ini.
Hinata menoleh padaku lantas menggeleng. "Aku tidak tahu."
"Apa dia tidak memberitahumu baju dan topeng apa yang dipakainya hingga kita bisa mengenalinya di keramaian orang seperti ini?"
Kali ini sepertinya Hinata tahu jawabannya. "Dia bilang kalau ingin mencarinya, cari saja laki-laki berjas, berpita merah di kerahnya, dan topeng burung hantu warna biru. Itu saja."
Kuedarkan pandanganku. Berjas, berpita merah, dan topeng burung hantu biru. Sepertinya akan sulit. Sebagian besar penghuni laki-laki pesta ini memakai jas.
"Sudah ya. Aku mau mencari Naruto dulu."
Belum sempat aku merespon, Hinata sudah berlari meninggalkanku. Dan masuk ke kerumunan pesta itu.
Kelihatannya pesta sudah dimulai. Kue-nya bahkan sudah teriris beberapa bagian. Di depan sana, yang kuduga adalah si pembuat pesta ini sedang bercengkrama dengan penghuni pesta lain. Topeng kupu-kupu, seperti milikku, yang dipakainya. Hanya saja, warnanya pink sementara punyaku berwarna ungu.
Aku pun mulai berjalan mengelilingi tempat pesta untuk mencari Gaara. Atau aku akan mati kebosanan bila terus terdiam hingga pemuda itu menemukanku.
Tak sampai sepuluh langkah, mataku menangkap pemuda yang ciri-cirinya mirip Gaara. Berjas, berpita merah, dan bertopeng burung hantu biru. Hanya saja, rambutnya berwarna hitam.
Apa benar itu Gaara? Apa dia mengecat rambutnya? Lebih baik kutanyakan langsung.
Aku mulai melangkah mendekat. Dan kebetulan dia melihatku. Entah apa, aku merasa ia mengenaliku dilihat dari gerakannya yang terhenti dan justru menatapku lekat. Hanya saja, aku masih tak tahu siapa.
Mungkin dia memang Gaara.
"Anoo.. Apa kau Gaara?" tanyaku. Pemuda itu sedikit terlonjak kaget. Ia diam dan tak langsung menjawab. Aku mulai ragu kalau dia memang Gaara.
Tapi, sejurus kemudian, dia tersenyum padaku. "Ino? Kau datang?"
Aku bernafas lega. Syukurlah, dia Gaara. Hanya dia, Hinata, dan mungkin Naruto yang mengenaliku di sini. Mungkin.
"Kau yang memintaku datang," jawabku.
Musik yang awalnya musik pop kini berubah waltz. Para undangan pun mulai berdansa mengikuti alunan lagu itu. Mereka berpasangan antara pria dan wanita. Mungkin mereka sudah tahu siapa lawan dansa mereka walaupun saling memasang topeng.
"Mau berdansa denganku?" entah mengapa, aku merasa suara Gaara lebih dalam. Sangat khas laki-laki.
Aku mengangguk dan kuterima uluran tangannya.
Menuju lantai tengah, seperti tamu lainnya, kami mulai berdansa. Sebelah tangan Gaara bertengger di pinggangku. Dan sebelah lagi menuntunku bergerak. Untuk sementara, kami terhanyut dalam alunan musik indah itu.
~! #$%$$$*()
"Aku ingin berterimakasih," aku memulai. "Terimakasih soal yang tadi sore. Kalau tak ada kau, mungkin aku takkan bisa berjalan dari sana."
Gaara hanya diam. Kuanggap itu isyarat bagiku untuk kembali bicara.
"Gaara, maafkan aku."
"Hn?"
Aku tak berani mendongak.
"Maafkan aku terlalu bodoh. Maafkan aku karena tak peka terhadap perasaanmu. Sekarang aku tahu, aku bukan siapa-siapa baginya." Aku tak peduli bila aku menceritakan semuanya pada Gaara saat ini. Toh, aku memang tak punya harapan lagi terhadap Sasuke.
"Sasuke melupakanku. Harusnya aku menyadarinya dari dulu." Aku benar-benar tak peka. Musik waltz yang semakin pelan membuat gerakan kami ikut pelan. Aku sampai tak menyadari tubuh Gaara yang sempat menegang mendengar ceritaku tadi karena saking seriusnya aku dengan perasaanku.
"Aku menunggunya selama ini. Berharap ia datang padaku dan mungkin minta maaf. Aku merindukannya. Tapi, begitu ia muncul, rasanya bagai tersambar petir saat itu juga."
Lagi-lagi Gaara hanya diam. Kuharap ia tak keberatan dengan ini. Hanya ia yang ada untukku sekarang. Aku butuh pelampiasan. Aku tak tahan menahan sakit melihat Sasuke yang bergandengan tangan dengan Sakura. Rasanya mata ini kembali ingin mengeluarkan air mata.
Gaara, ini yang terakhir kali. Kuharap kau mau menjadi sandaranku.
"Aku terlalu menyukainya. Aku terus menunggunya. Aku.. terlalu berharap lebih padanya."
Perlahan, aku maju dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku tak tahu, seberapa lama lagi aku bisa bertahan.
"Gaara, tetaplah ada untukku. Aku.. membutuhkanmu." Aku mungkin benar-benar jahat saat ini. Mempermainkan perasaan Gaara. Kali ini, aku sungguh berharap Gaara memaafkanku dan memberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku.. akan menerima perasaannya.
"Apa kau yakin? Mungkin saja dia masih mencintaimu."
Seketika aku mendongak. Menatap heran Gaara.
"Gaara, kau marah padaku?" tanyaku. Aku tak mengerti maksudnya.
"Ti-tidak." pemuda di balik topeng itu mengalihkan pandangannya sedikit ke samping.
"Gaara, aku tahu aku salah. Aku membuatmu menunggu sementara aku menunggu orang lain. Dan aku menjadikanmu pelampiasan. Maafkan aku. Tapi, sekarang.. aku akan melupakannya. Aku janji, Gaara."
Gaara kembali menatapku. Aku tak bisa melihat jelas matanya karena tertutup bayangan topeng.
"Jadi, kau benar akan melupakannya?"
Entah kenapa, nadanya terdengar sedikit kecewa. Aku tak mengerti. Tapi, ah! Mungkin aku saja yang salah mendengarnya.
Gaara jelas ingin aku melupakan Sasuke. Gaara ingin aku bahagia. Aku tahu itu.
Aku mengangguk mantap sambil tersenyum.
Setelah ini hidupku akan kembali berubah. Pangeranku bukan lagi pangeranku. Pangeran yang kutahu benar-benar mencintaiku datang padaku. Dan aku harus menerimanya. Walaupun, cinta pertama sulit sekali tuk dihilangkan. Dan aku sendiri tak yakin aku akan melupakan Sasuke. Dia terlalu berarti bagiku. Tapi, itu lebih baik daripada terus terhanyut dalam mimpi buruk bagaimana sosok itu menggandeng tangan orang lain dan bukan tanganku.
Entah berapa kali aku bertekad untuk melupakannya, tapi tak pernah kuwujudkan. Jadi, kali ini aku berniat mewujudkannya.
Aku harap itu takkan menyakitkan.
"Baiklah, Minna. Sekaranglah waktu yang kita tunggu-tunggu." Pemandu pesta memulai. Semua mata beralih padanya. Musik pun ikut berganti. "Sekaranglah waktunya untuk.. membuka topeng masing-masing. Yay!" Dia mendapat tepukan hangat dari sebagian besar tamu undangan. "Dalam hitungan sepuluh detik lampu akan dimatikan. Dan begitu detik terakhir, lampu akan kembali menyala dan kalian membuka topeng di saat bersamaan. Siap?"
Para tamu undangan seketika bersorak. Mereka terlihat sangat tak sabar.
"Ino-chan?" seseorang tiba-tiba memanggilku dan meraih tanganku dari belakang.
Aku menoleh. "Iya?"
Dan lampu tiba-tiba mati.
10
Tapi, aku cukup bisa melihat bayang-bayang orang.
9
"Tenten-nee melahirkan. Kita harus segera pergi!" pekiknya. Walau dalam kegelapan aku tak bisa melihat raut mukanya, tapi aku tahu Hinata tengah khawatir saat ini.
8
"Aku mengerti." Aku melepas topengku saat itu juga.
7
Hinata menarikku pergi. Tapi, tiba-tiba tanganku dihentikan tangan yang lain.
6
Aku menoleh. Gaara juga tengah menatapku. Ia menahanku pergi.
5
Kami saling menatap satu sama lain. Aku masih tak bisa melihat wajahnya. Tapi, aku yakin, topengnya juga telah tersingkap sama sepertiku.
4
Hinata kembali menarikku menuju pintu keluar yang memancarkan cahaya dari lampu halaman depan.
3
Dan tanganku perlahan lepas dari genggaman Gaara. Bahkan tanpa kusadari, topengku ikut terlepas.
2
Tanpa mengucapkan apapun, aku meninggalkan Gaara. Meninggalkan pesta itu bersamaan.
1
Dan aku sudah tak tahu lagi bagaimana wajah tampan Gaara yang sesungguhnya di pesta ini.
.
Tapi, yang membuatku melebarkan mata terkejut adalah ketika mendapati pemuda berambut merah dan Naruto ada di dalam mobil bersiap mengantar kami ke rumah sakit.
Lalu, siapa orang tadi? Bagaimana dia bisa mengenaliku?
Sayang sekali, pertanyaan itu terus menggantung seiring deru mobil kami yang melesat pergi..
TBC
Yoha.. Selesai! Mungkin satu chapter lagi akan tamat. Hanya saja, Ann tak yakin bisa update cepat. Hehe..
En, spesial thanks untuk : jenny eun-chan, Guest, Himeka Karine, Uchihaulin, Uchiha Nanako, SK, Rainhard Geo, amay-chan, ina encheon
.
Dan siapa saja yang sudah membacanya, terimakasih.
Anyway review?
