Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

Story by Shin2054

Erwin Smith and Mikasa Ackerman

Rating : M

Genre : Romance

Warning : OOC, Typos, AU

.

Shin2054 presents

.

Kau kembali,

Dan aku tak akan tertipu lagi...

.

.

Mempersembahkan

.

.

Be Mine

.

Bagian 6/7

.

Mematung Erwin disudut jendela, pandangannya terkunci pada tumpukan salju diluar sana semuanya nampak putih dan dingin, sama halnya dengan dirinya saat ini. Disudut jendela pandanganya kembali ke arah ranjang tempat tidur. Perasan sepi menerjang lubuk hatinya, perlahan dengan pasti dia beranjak mengambil tempat ditepi ranjang.

Sudah lebih dari tiga bulan tempat disisi ranjangnya kosong, tak ada lagi pujian cinta yang ia bisikan kepada malaikat pemilik hatinya layaknya dongeng pengantar tidur. Tak ada lagi kehangatan yang mampu membuatnya terlelap, tak ada lagi keberisikan yang mengawali paginya, dan yang lebih membuatnya terluka tak ada lagi gadis cantik menyebalkan malaikat cintanya.

Mikasa Ackerman.

Membelai lembut sisi itu Erwin kembali lagi membayangkan bagaimana jika tak ada Mikasa disisinya. Tiga bulan tak bersamanya saja membuatnya hampir mati menahan luapan rindu, apalagi benar-benar tak ditakdirkan bersama. Bisa-bisa dia mati sekarat saat ini juga.

Tersenyum kecut saat dia kembali teringat tentang takdir. Baginya takdir tak pernah berpihak padanya. Sebagai seorang yang sempurna lahiriah Erwin sama sekali tak kekurangan apapun. Kecuali perasaan cinta yang tak pernah dia kecup dalam hidupnya dulu.

Takdir mempermainkanya! Sekeras apapun dia berusaha mencintai, sejauh itu pula ia justru melukai dirinya. Dia hanya ingin seperti manusia diluar sana, ia ingin jatuh cinta. Merasakan debaran-debaran yang memabukan, perasaan rela berkorban dan memberi tanpa meminta lebih.

Kini perasaan itu tumbuh dihatinya, dia jatuh cinta. Dia merasakan cinta, cinta pada seorang gadis yang tak boleh di cintainya. Gadis yang di cintai sahabatnya.

Rivaille.

Erwin tahu seberapa besar cinta Rivaille pada Mikasa, dia tak bisa menutup mata terlalu lama. Melihat mereka yang selalu akrab dan terlihat nyaman satu sama lain membuatnya semakin mundur dan mengubur cinta yang baru saja tumbuh dihatinya.

Erwin tahu berapa lama Rivaille menunggu Mikasa. Bertahun-tahun menanti kedatangan Mikasa, Rivaille sama sekali tak tergoda dengan gadis manapun. Erwin melihat itu, saat gadis itu datang dan mampu merubah Sahabatnya menjadi lebih baik.

Untuk kesetiaan Erwin tak meragukan Rivaille, novelis itu percaya jika Rivaille tak akan menyakiti Mikasa, sama halnya dia percaya dengan Mike yang tak akan melukai Hanji. Mengingat kedua wanita itu membuat batin Erwin terluka. Erwin mengaku jika dia sudah melakukan kesalahan besar dengan menikahi Hanji.

Erwin menikahi Hanji karena dia yakin jika dia mencintai Hanji sepenuh hati. Ternyata dia salah, ini bukan perasaan cinta, melainkan perasaan ingin melindungi dan menjaga sahabat layaknya saudara yang tak dia miliki. Perasaan yang sama yang dia berikan pada Rivaille dan Mike sahabatnya.

Erwin telah mencoba mencintai Hanji namun hal itu justru membuat hubungan mereka rengang. Pihak ketigapun tak luput dari pernikahan mereka, Erwin sadar dia tak bisa mengikat Hanji terlalu lama dalam kebahagian semu dari sebuah pernikahan.

Erwin tersenyum kala Mike datang padanya, menawarkan cinta kasih tulus yang tak bisa diberikan dia untuk istrinya. Sakit pasti ada, merasa dikhianati oleh sahabatnya. Namun itu bukan pilihan hidupnya, merelakan adalah pilihan, dan membuat Hanji tersenyum bahagia adalah tujuannya. Walaupun mereka bercerai posisi Hanji dihatinya masih sama, Hanji adalah sahabat dan juga sosok adik yang tak pernah dimiliki. Hanji tak tergantikan.

Namun apakah dia akan melakukan hal yang sama pada Mikasanya? Merelakan gadis itu untuk sahabatanya, hal yang sama yang dia lakukan untuk Hanji. Merelakan dan diam-diam terluka sendiri.

Itu tak mungkin. sakit itu terlalu lebih dari yang ia alami saat membiarkan Hanji bersama Mike. Ini lebih dari sekedar merana dan juga..

Mati..

Erwin tahu dan dia harus merelakan itu, apalagi didepan matanya saat sang sahabat Rivaille terang-terangan melamar Mikasa dihadapan banyak orang. Hal yang tak bisa dilakukan Rivaille sebelumnya.

"Menikah denganku Mikasa.."

Detik itu juga dunia Erwin segera berhenti ketika gadis yang dia cintai mengangukan kepalanya dan disambut dengan pelukan mesra sang sahabat.

Rasanya lebih sakit dari yang kau bayangkan. Saat itu juga Erwin langsung pergi dari tempat itu.

Kini hampir satu bulan peristiwa itu telah berlalu, namun sekali lagi bayang-bayang Mikasa tak bisa lenyap begitu saja. Mikasa mencintainya itulah sumber penghidupan yang membuat Erwin bertahan selama ini. Mengenakan mantel hitamnya pria itu melangkah pergi. Dia tahu harus kemana saat rindu yang mendalam ini dapat tertuntaskan.

Mengiring mobilnya kesebuah flat kecil dipingkiran kota Erwin kembali memarkir mobilnya. Di depannya adalah banguan yang ditinggali Mikasanya. Tempat itu dilantai dua flat nomer dua puluh tiga tempat Mikasa tingal persisi disebarang jalan, bahkan Erwin mampu melihat aktivitas didalam flat kecil itu dari seberang sini.

Tersenyum saat bayang-bayang Mikasa menari-nari didepannya. Dilihatnya Mikasa yang baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah. Didepan gadisnya berada terdapat pemuda yang sedang mencoba menyuapi Mikasanya dengan makanan yang baru saja dibuat oleh pemuda itu.

Tch membuatku cemburu saja!

Waktu berjalan dengan cepatnya tepat pukul sebelas malam lampu di flat Mikasa sudah padam, tanda penghuni flat itu tertidur. Pemuda itu juga sudah pulang beberapa waktu yang lalu. Merasa sudah puas melihat keberadaan sang pujaan hati Erwin memutuskan untuk kembali lagi ke apertemannya.

Inilah yang dilakukan Erwin selama tiga bulan belakangan ini. Seperti penguntit dia tak peduli. Tak apa jika dia tak bisa memeluk Mikasanya saat ini, tak apa jika dia tak bisa mencium gadis itu saat ini. yang pasti dia percaya jika gadis bermarga Ackermen ini kelak akan berganti nama menjadi Smith. Ya Mikasa Smith membayangkan itu membuat pria yang disebut-sebut sebagai pria penuh strategi ini tersenyum.

Menyalakan mesin mobil Erwin bergegas pergi dari tempat itu. Heran ketika seseorang pemuda yang cukup dikenalnya sedang berdiri tepat didepan mobilnya. Pemuda itu menatapnya. Membuka pintu mobilnya Erwin beranjak menyusul sang pelaku.

"Kau ada waktu? Aku ada perlu dengamu!" ujar pemuda itu sambil merapatkan jaket tebal mahalnya. Mengikuti pemuda itu dari belakang Erwin membawa mobilnya mengikuti mobil mewah didepannya.

Berada disebuah kedai kopi 24 jam sekarang mereka berada. Sang pemuda menatap Erwin tajam seakan menilai pria yang ada didepannya. Sementara Erwin dia masih sibuk menyesap kopi pesanannya.

"Kau! Apa hubungamu dengan saudariku?" tanya pemuda itu. Didepannya Erwin masih menyesap kopi pesanannya lagi menghiraukan pemuda royal yang mangut-mangut membenci tindakanya yang lebih mirip dengan penguntit.

"Apa urusanmu?" tanyanya tak jauh tajam dari sang pemuda.

Mengeram jengkel pemuda itu memincingkan mata tak suka. "Jelas dia saudariku!" pekiknya menjelaskan status yang ada pada dirinya.

"Eren. Eren Jaeger pemuda yang menjadi cinta pertama Mikasa."

"Ehh?" Eren nampak terkejut.

"Kau!" tunjuk Eren persisi didepan Erwin. Meneguk cairan hitam miliknya kembali lagi Erwin menatap Eren tajam.

"Maksudmu saudara yang kau paksa meninggalkan rumah dan ingin kau nikahi?" tanya Erwin mencemoh.

"Kau!"

"Atau kau dan Mikasa hanya saudara adopsi atau kau hampir membunuh ibumu dengan sikap kekanakanmu?"

Megebrak meja Eren tak terima. "Kau tak mengenalnya!"

Erwin terdiam, matanya memandang Eren dalam. "Asal kau tahu aku lebih mengetahuinya dari siapapun didunia ini."

Mengeram jengkel Eren menarik kemeja pria yang ada didepannya.

"Jadi aku tak usah pura-pura bodoh lagi? kau pria bajingan itu kan!" tuduhnya pada Erwin. "Kau pria yang telah membuat Mikasa menangis lagi! Kau pria yang telah membuat Mikasa jatuh cinta dan membuat Mikasa merana!" pekiknya persisi dihadapan Erwin.

Meninju wajah mulus Erwin keras, Eren merasa puas. Kekesalanya sekarang sudah mereda. Paling tidak inilah yang dapat dilakukan dia untuk saudarinya.

Menunduk lemas Eren mulai kembali tersadar dari emosinya. Mengambil nafas lelah Eren mulai mendinginkan otaknya. "Jika kau masih mencintainya, kenapa kau meninggalkannya?"

Erwin terdiam cukup lama tak bisa menjawab pertanyaan Eren didepannya. Eren tahu betul pria seperti apa Erwin itu. Dia tak mungkin mencampakan Mikasa begitu saja.

"Karena aku ingin mendapatkan cinta darinya. Aku hanya ingin dia sadar jika dia hanya mencintaiku tak ada yang lain." Perkataan Erwin membuat Eren semakin bertanya-tanya. Inikah sikap pria dewasa? Sunguh kekanakan!

"Bodoh!"

"Aku tahu."

.

.

.

Bahkan daun-daun yang berguguran tak mampu menangalkan perasaan ini.

.

.

.

Aku jatuh cinta

.

.

Bersambung ...

Sudah berapa lama aku mengabaikan fic ini satu bulan?Kurasa lebih dari itu. Maaf atas keterlambatan update nya, maklum lagi suka eksis di fic baru :D

Terimakasih kepada:

Hatsune Cherry, Lightmaycry, Kumaida Chiyu, Yamazaki Koharu.

Chapter terakhir wordnya lebih banyak dari chapter ini, karena pasti banyak hal yang akan dijelaskan? Chap terakhir akan lebih panjang dari chap-chap yang lain kq santai aja, mungkin chap selingan ini mampu sedikit menjelaskan tentang Erwin. Membuat dua ending? Bisa dipertimbangkan. Bakal milih siapa Mikasanya? Rivaille atauErwin? Karena ini fic erumika jadi udah kejawabkn pertanyannya:D. Erwin dan Rivaille sama keren. Bener banget jadi pusing sendiri milihnya. RIVAMIKA! Yang sabar ya, pasti berakhir bahagia kok.

Terimakasih lagi atas review dan semua pihak yang mendukung fic ini. Dan untuk terakhir kalinya seperti biasa, jika ada yang mau memberikan saran dan kritik untuk fic ini, silahkan isi dikotak review dibawah ini.

Salam,

Meow ~.~