Cast : Lee HyukJae, Lee Donghae, other member SuJu and member f(x)

Pairing : HaeHyuk

Genre : Drama/ Romance

Rate : T

Disclaimer : HaeHyuk saling memiliki XD

Warning: Genderswitch, gaje, abal, miss Typo(s), bahasa tak sesuai EYD

Point of View disini seluruhnya aku berikan pada Lee Hyukjae aka Lee Monkey *dilempar*

Don't Like Don't Read

.

.

.

-/-

Eh?

Tak tahu apa yang kurasakan saat ini, reaksi awal aku kaget. Yang dikatakannya tadi? Yang dikantin dengan teman-teman Hangeng oppa maksudnya? Haruskah aku bahagia, atau mungkin sekarang kepalaku menjadi 3 kali lipat lebih besar saat melihat senyumnya.

Sesuatu didalam dadaku bergemuruh. Seolah tak bisa bergerak aku diam saja saat tangan Donghae terulur membelai pipiku.

Tidak ini tak benar kan?

Aku tak mengerti maksud namja ini?

Posisi kami yang semakin dekat membuatku sulit bernafas atau lebih tepatnya aku yang berusaha menahan nafas. Kugelengkan kepalaku keras.

PLAK !

Aku mundur selangkah setelah menyampar tangan namja ini, ia sepertinya juga kaget.

Berulang kali kutelan ludahku, ingin rasanya kuakhiri perasaan ini, ingin rasanya aku jauh-jauh darinya. Permainan apa yang kini ia perankan aku tak ingin terlibat. Sungguh.

"Hyujae!" Donghae menatapku nanar lalu kembali berjalan mendekat. Kubuang mukaku.

Aku baru sadar koridor ini sedari tadi sepi. Gugup. Jangan ditanya berapa persen kegugupanku kini. Hanya secuil perasaan sedih tumbuh makin membesar dibenakku dalam waktu detik

Drap Drap

Drap Drap

Awalnya aku hanya berjalan cepat. Langkahku ini semakin tak teratur hingga tak kusadari aku berlari kencang. Aku tak ingin melihatnya, aku tak suka melihat wajah yang kuanggap penuh belas kasian itu.

Kenapa begini, aku tak tahu yang mana yang jujur, ucapannya atau kenyataan yang ada sekarang?

Bahkan aku lebih memilih yang menyakitkan asal aku tak dibohongi.

Drap Drap

Hahh..Hahhhh

Tap

"Chagi, kenapa lari-lari begitu. Ada yang mengejarmu?"

Aku terhenyak, kejadian beruntun yang menimpaku hari ini kesialan atau keberuntungan aku tak bisa menyimpulkannya. Namja didepanku ini mengintip sesuatu dibelakangku, memastikan siapa yang membuatku lari ketakutan mungkin. Hangeng oppa mengambil sapu tangan dari kantongnya, dihadapanku ia mengusap butiran keringat di dahi hingga turun pada pipiku. Mataku memanas.

Apa pendapat Hangeng oppa jika tahu yang terjadi antara aku dan adiknya tadi?

"Apa ponselmu sudah dikembalikan Donghae?" Pertanyaannya tak kujawab, aku masih mencoba bernafas normal saat ini dan gemuruh didadaku tak jua berhenti.

Kurasakan tangan Hangeng oppa mencengkeram bahuku, konsentrasiku masih buyar. Aku menatapnya seperti orang kebingungan.

"Chagi kau tak apa kan? Gwaenchana? Mianhe harusnya tadi aku menunggumu di dalam."

Ini pertama kali. Ya, pertama kali Hangeng oppa memelukku.

"Uljima ne!" Aku tak menolak ataupun membalas pelukan ini, aku masih merasa tak tenang. Kuraba pipiku, masih teringat jelas usapan tangan Donghae tadi. Tidak, aku tak boleh memikirkannya lagi.

"Ehemmm!"

Kulepas pelukan Hangeng oppa cepat. Donghae, ia bersedekap dada menatapku dan Hangeng oppa bergantian.

"Bisakan kita pulang sekarang?" tanyanya dingin. Kuhindari tatapannya lagi, aku tak mau terlihat lemah.

"Kita pulang sekarang ne chagi."

Hangeng oppa merangkul pinggangku, menuntunku masuk kedalam mobilnya yang sudah terparkir manis didepan gerbang. Membukakan pintu samping pengemudi. Perhatiannya ini sungguh membuatku tak enak diri, aku hanya berusaha memberi senyum agar Hangeng oppa tak khawatir lagi.

Brmmmm

Selama perjalanan pulang aku menunduk, berkali kusadari Hangeng oppa menoleh padaku "Hyukkie, apa kita perlu ke dokter. Wajahmu pucat."

Dokter?

Yang benar saja, aku hanya perlu istirahat dan tidur cepat saat ini. Tapi aku malah tak yakin malam ini aku bisa tidur, mungkin harus minum beberapa pil tidur.

Aku menggeleng dan tersenyum, rasanya sayang sekali diberi perhatian seperti ini "Gwaenchana oppa. Aku cuma ngantuk saja," dalihku.

Kutatap sekilas kaca spion depan, mataku secara tak langsung bersitatap dengan Donghae. Pandangannya tak jauh beda dengan yang tadi.

"Baiklah demi kau oppa akan ngebut biar kau bisa cepat istirahat."

Baik sekali namjachinguku ini

Bisa kudengar dengusan keras dari arah belakang, kuharap Hangeng oppa tak mencurigai apapun. Mana mungkin aku mengecewakannya, setidaknya demi dia aku mau satu mobil dengan orang yang paling ingin kuhindari.

.

-()()()()()-

.

BRAK

Kudobrak pintu kamarku keras, kalau eonni mendengarnya pasti aku kena omel tentang berapa biaya tukang yang harus ia keluarkan untuk memperbaiki engsel pintu yang roboh.

Tanpa melepas seragam, seperti biasa aku langsung menghambur ke kasur dengan posisi tengkurap. Berbagai fikiran mengusik benakku. Kejadian-kejadian hari ini melayang-layang diatas kepalaku. Semakin susah saja saat aku mencoba mengurutkan kronologinya berusaha sedikit mengerti. Ini sama sulitnya saat aku tak bisa memecahlan soal cerita matematika.

Ahhh, pusing. Kupejamkan mataku erat. Kejadian beberapa hari lalu yang giliran hinggap di otakku

Slap

Cahaya dari 2 lilin cukup menerangi meja bundar bertaplak putih di depanku. Tapi tak bisa kubedakan sekarang yang mana kentang, mana daging di piring ini. Kuakui ini pertama kalinya aku makan malam romantis dibawah sinar rembulan langsung, kalau orang barat sering menyebutnya candylight dinner. Aku tak mengerti apa dinner itu selalu dengan makanan yang seupil ini, dan air sirup sekali tenggak juga. Padahal ini sudah lumayan keren, ditengah-tengah meja sudah ada sepucuk mawar merah dalam vas, cuma makanannya saja yang tak memadai karena terlalu sedikit, tak tahu saja kalau mulai malam nafsu makanku meningkat.

Tapi tetap dong aku menjaga image. Menyesuaikan dengan penampilanku yang cantik ini. Dress pinjaman dari Ryeowook dengan warna ungu, sepatu pinjaman yang ungu juga. Perasaan kenapa semua yang kupakai saat ini adalah hasil pinjaman?

Ya. Aku cuma punya sedikit gaun dirumah. Tidak elit rasanya jika aku mengenakan gaun yang sama dengan sebelumnya, dipikir aku tak pernah mandi lagi. Yah, meskipun itu benar, aku selalu malas mandi jika sudah ketiduran sepulang sekolah. Apalagi jika mulai ada tamu bulanan aku bisa tak mandi selama seminggu. Ahh, berlebihan.

"Hyukkie, apa kau suka?" tanya namja diseberang meja, senyumnya itu terlihat manis dengan penyinaran amat minim ini. Ia tetap tampan walau penampilannya mirip bapak-bapak, memakai jas dan dasi. Harusnya aku bilang Hangeng oppa sangat keren malam ini, tapi penampilannya yang formal mengingatkanku pada appa.

"Ne, oppa ini indah."

Kubalas senyumnya. Ucapanku tadi terdengar manis bukan? Hihi

"Syukurlah kau suka, aku harap kau juga menyukaiku."

Eh?

Apa telingaku masih normal ya?

Yang seperti ini, pernyataan cintakah?

Bahkan makanan ini sesuap pun belum masuk dalam perutku. Yah yang biasa kulihat di drama si cowok akan mulai bilang suka setelah mereka selesai makan.

"Maksud oppa?"

Aku pura-pura polos dan tak mengerti, siapa tahu bibir Hangeng oppa tadi kesleo dan salah bicara.

Ah

Tangan Hangeng oppa meraih kedua tanganku yang ada diatas meja, menariknya ketengah. Genggaman erat ini membuatku salah tingkah.

Ayolah kita bisa makan dulu sekarang.

Namja didepanku mengulum senyum lagi, sepertinya ia gugup, bisa kutangkap saat ia mencoba membuka mulut namun malah tarikan nafas panjang yang ia lakukan. Berkali-kali seperti itu.

"Aku.. setiap malam.. aku memimpikanmu."

Hah?

Biarkan aku melayang saat ini, bolehkan aku merasa senang? Aku tersipu, malu-malu kucing.

"Hyukkie, dengarkan aku!" Genggaman ini makin erat, Hangeng oppa menatapku dengan tampang serius atau mungkin seperti ekspresi menahan BAB.

"Aku mencintaimu. Sejak pertemuan pertama kita, aku selalu memikirkanmu."

Kenapa?

Seandainya sekarang yang ada didepanku itu Donghae. Seandainya ucapan seperti ini keluar dari mulut Donghae. Apa yang kuharapkan? Jelas-jelas sekarang ada namja yang menunjukan ketulusannya padaku, bisa-bisanya aku memikirkan orang lain yang belum tentu mau tahu tentangku.

Hangeng oppa membawa tanganku dan menangkupkannya

"Aku mencintaimu."

Sekali lagi dia meyakinkanku, semakin dalam pula aku hanyut dalam kebingungan. Aku tak bisa menegakkan kepalaku, aku tak bisa memandang Hangeng oppa atau aku akan merasa bersalah.

Harus kujawab apa aku pun tak tahu. Namja ini terlalu baik. Jika kutolak bukankah terlalu sayang, seumur-umur baru kali ini aku ditembak namja. Kalau kuterima bebanku pasti makin berat saja mengingat dia kakak Donghae. Yah meski aku sudah bilang melupakannya, bahkan aku ragu pada ucapanku sendiri.

Aku tetap diam, aku tahu Hanggeng oppa menunggu aku bicara sesuatu. "Hyukkie, kau tak perlu menjawabnya sekarang. Aku tak masalah untuk menunggu, tak jadi masalah."

Kumohon jangan terlalu baik.

Kalau kau terlalu baik aku bisa lemah, aku ini gadis yang jahat.

Kenapa aku tak bisa memberi kepastian? Lalu kenapa pula aku selama ini tak menolak jika diajak kencan oleh Hangeng oppa?

Bagaimanapun aku sama dengan gadis lain. Jika diperlakukan dengan lembut, aku juga bisa menjadi lembut.

Aku mendongak saat Hangeng oppa melepas tangaku.

"Jangan terlalu memikirkannya, sekarang kita makan ne."

Sudah kubilang jangan bersikap sebaik ini.

Slapp

Kubuka mataku, kata-kata Hangeng oppa malam itu terngiang. Mana mungkin aku mengecewakannya.

'Tidak! Aku ini sedang menunggu seorang gadis.'

Kali ini suara Donghae yang menggema.

Benarkah yang dimaksudnya adalah aku?

Tapi...

Banyak pertanyaan saling bertabrakan dibenakku. Tapi jika semua itu benar, artinya perasaanku tak bertepuk sebelah tangan?

Tidak Lee Hyukjae. Berharap apa kau ini?

Kutangkupkan bantal ditatas kepala, mencoba untuk mengusir bayangan aneh Donghae. Siapa yang punya penghapus, tolong hapus capslock nama namja ini dihatiku.

.

-()()()()()-

.

"Paket kilat. Tolong nona tanda tangan disini."

"Ah, disini? Berapa kali?"

"Ne, cukup sekali."

"Yap sudah!"

"Pulpen saya jangan dikantongi dong!"

"Aaa, mianhe adjuhssi"

Cklek..

Kubawa bungkusan kardus coklat yang tadi diberi si adjuhssi tukang pos. Tumben sekali ada paket mampir ke rumah, pagi-pagi lagi. Biasanya sih cuma amplop isi tagihan listrik atau sebatas brosur kredit.

Kurobek bungkus coklat yang menyelimuti paket seukuran kotak sepatu ini.

Breett!

"Wae? Apa itu."

"Ada paket datang ya, pasti dari nae yeobo!"

Aish sial, padahal niat awal aku ingin membuka paket ini diam-diam, siapa tahu isinya makanan. Pagi ini aku sangat kelaparan gara-gara semalam aku lupa makan, akhir-akhir ini aku selalu lupa makan. Makan itu sudah seperti sahabatku sendiri, bisa-bisa aku kalah bahenol sama jupe kalau sedikit makan.

Umma dengan semangat ekstra merebut kardus yang setengah terbuka, Teukki eonni ikut mengintip dibelakang punggung umma.

"Nae yeobo mengirimi gaun."

Ha? Gaun? Itukan hanya daster biasa, dasar ibu-ibu heboh. Ummaku terus merentangkan dua daster, mengepaskan kain itu pada tubuhnya.

"Kyaaa.. Akhirnya appa membelikanku kipas lampu, aaa cantiknya. Dari dulu aku ingin ini" kali ini Teukki eonni yang menjerit. Tak salah jika banyak tetangga bilang keluargaku adalah keluarga heboh.

Kakak tunggalku ini terus memamerkan kipas hias tersebut didepanku wajahku, memang sekilas terlihat seperti kipas tangan biasa tapi saat kipas itu dikibaskan maka akan muncul cahaya otomatis seperti lampu. Jika malam hari mungkin lebih terlihat indah, pernik ini biasa dipakai saat pesta tahun baru dengan pakaian hanbok. Memang cuma musiman sih, tapi harga barang itu mahal. Tau sendiri kan eonniku pelitnya 11 12 denganku.

Srett..

Curang. Ini tak adil, umma dapat 2 daster, eonni kipas lampu yang mahal tapi aku hanya 5 pasang kaos kaki. Tahu saja aku tak ganti kaos kaki seminggu.

Aku lebih ingin sushi saat ini, tau tidak sih aku kelaparaaann.

Yah setahun sekali tak masalah, setiap menjelang tahun baru appa pasti dapat bonus gaji lalu membelikan sesuatu untukku, umma dan eonni. Bedanya mungkin appa tak bisa pulang seminggu ini.

Umma dan Teukkie eonni sudah pergi sekarang, meninggalkanku bersama beberapa kaos kaki ini. akhhh. Kalau aku sedang tak waras mungkin sudah kumakan kaos kaki ini, lagi-lagi aku harus masak mie rebus.

.

-()()()()()-

.

"Hyukkie, kau dicari Donghae!"

"Mwo?"

"Aku hanya disuruh memanggilkanmu."

"What?" Shindong, namja tambun teman sekelasku hanya menggatakan hal tadi sekilas lalu berjalan ke belakang pada tempat duduknya. Untuk sepersekian detik aku masih terpaku, Ryeowook yang ada disampingku pun tak memberi respon apapun

Mencariku?

Wah.. Payah! Telinga Shindong pasti tak beres, mana mungkin aku yang dicari. Kalau disekolah aku lebih sering dicari oleh Park Sonsae guru matematika.

Lee Hyukjae jangan besar kepala, ayolah lihat realitas yang ada sekarang. Pasti yang dicari itu Luna.

"Eunhyuk, dicari Donghae tuh?" Kini giliran onew yang mampir sebentar kemejaku dengan alasan yang sama.

Yang benar?

Aku tak percaya?

"Ciee, Hyukkie, ehemmm.. Ciee..ciee." Ryeowook menyenggol bahuku lalu mencolek daguku. Aish apaan sih anak ini. Sumpah aku benar-benar malas, tapi dadaku ini malah semakin berdebar.

Kuhentikan gerakan tangan Ryeowook dan menatapnya tajam, memberi tanda warning bahwa aku akan marah. Jika aku sudah marah maka ia harus mentraktirku seminggu penuh.

Tring!

3 lampu neon muncul diatas kepalaku.

"Wookie-ah yang cantik dan baik, kau saja yang temui Donghae ne? Ne? Ne? Ne?"

Ryeowook mendelik meski sudah kutunjukkan jurus rayuan memelas.

"Shirreo, enak saja!" Sahabatku ini menggeleng lalu berbalik menghadap meja, pura-pura membuka buku.

Srett.

Ia menoleh lagi saat kuambil paksa buku atlas miliknya, aku tahu betul Ryeowook tak suka pelajaran geografi. Apa salahnya sih ia membantuku ketimbang melihat gambar tak jelas seperti ini. Kalau aku sih tak perlu membuka peta dan semacamnya, setiap hari aku bisa melihat dibantalku. Setiap malam aku selalu mengukir pulau baru.

"Wookie, kau sahabatku kan. Kumohon bantu aku," rajukku. Bagaimanapun ia harus mau.

"Yang dicari Donghae itu kan kau. Eunhyuk bukan Ryeowook! Ish pokoknya aku tak mau!"

"Wookie, kau keras kepala sekali sih!"

"Yak! Tak salah bicara?"

"Setidaknya kau bisa mewakili aku, temui dia."

Kesepuluh kalinya Ryeowook menggeleng "Sekali shirreo tetap shirreo."

Kupasang tatapan lebih nelangsa "Kau pelit sekali denganku."

"Aku ketularan sifat pelitmu mungkin."

"Eunhyuk, ada Donghae mencarimu didepan."

Mulutku menganga, biarkan saja jika lalat penasaran dan nyangkut masuk.

Aku dan Ryeowook bertatapan.

Luna?

Dia mengatakan hal seperti tadi dengan santai, bahkan aku yakin ia tersenyum. Padahal selama ini jangankan tersenyum, menyapanya saja aku sudah tak pernah lagi. Gara-gara perasaan cemburu dulu.

Ryeowook sendiri kulihat bengong sebentar lalu mengangkat bahu seolah menjawab rasa penasaranku.

"Wookie, kumohon temui Donghae. Aku tahu aku mungkin menyebalkan, tapi kali ini saja bantu aku."

Ryeowook menghela nafas panjang, apa ia sudah termakan jurus memelasku ini?

"Sekarang aku tanya, kenapa kau tak mau menemui Donghae?"

Aish, apapula pertanyaannya.

"Ya, ya karena.. kare na aku malas saja."

Ryeowook menggembungkan pipi, matanya yang mendelik membuat wajahnya seperti ikan gembung "Bohong! Lalu kenapa kau ngotot memintaku menemui Donghae? Kalau tak ingin menemuinya ya tak usah ditemui. Gampang kan?"

Eh?

Benar juga, tapi.. Kasihan kan. Kenapa aku ini?

Aku menggeleng ragu. Perasaanku lebih peka daripada logikaku saat ini.

"Yasudah biarkan saja ia menunggu," putusku, sebenarnya aku gelisah, benar-benar gelisah. Meski sudah bilang 'biarkan saja' fikiranku lari kemana-mana. Peperangan logika dan perasaan kembali dimulai.

Aku menoleh pada Ryeowook "Tapi apa kau tega?"

Sahabatku ini menaikkan alis "Jadi kau tak tega?"

"Ya, kau bisa menemuinya sebentar," eyelku lagi.

"Lalu setelah aku menemuinya aku harus bicara apa? Kau memintaku mengajaknya ke kantin eum? Atau aku perlu bilang jika Lee Hyukjae masih sangat mencintai Lee Donghae. Begitu?"

Kutelan ludahku. Ryeowook kenapa sih? Lagi PMS ya? Sensinya melebihi kakakku jika kehabisan uang.

Sekarang dia malah mengancam, susah ya ngadepin orang PMS, jurus pusaka apalagi yang harus kukeluarkan?

Kuputar otakku, "Ya, tak seperti itu juga. Kau bisa bilang padanya kalau aku sedang lelah sampai-sampai tak bisa jalan atau aku sedang sibuk. Ya pokoknya begitulah, bagaimana?"

Ryeowook mendengus

Aku salah bicara lagi ya?

"Jadi kau menyuruhku bohong?"

Aku mengangguk was-was, senyumku mulai melebar saat Ryeowook bengkit berdiri.

"Ya, Wookie, Wookie-ya. Kumohon lepas tanganku. Aku tak mau. Kumohon! Jebal."

Terimakasih Kim Ryeowook, sekarang ia menggeret tanganku, dengan tenaga besar berbanding terbalik dengan tubuh tripleknya Ryeowook menggiringku keluar kelas.

Bruk!

Beribu-ribu sial hari ini, bahkan aku berdoa lebih baik pelajaran saja daripada classmeeting seperti ini.

Arggh. Pantatku sakit. Kim Ryeowook, awas kau ya!

"Kau sengaja membuatku menunggu ya?"

Kepalaku menengadah, rasa sakit pantatku bisa di nomor duakanlah.

Donghae mengulurkan salah satu tangannya, melihat senyumnya membuat debaran ini menggila. Aku diam, bukannya aku betah dengan posisi ngesot ini, tapi...

"Kau mau kugendong agar berdiri?"

Eh?

Aku menunduk saat Donghae mulai berjongkok didepanku. Sepintas kulihat wajahnya, sendu.

Peduli amat dengan orang yang berlalu lalang, aku ingin segera lari dari sini.

"Kenapa kau ini selalu membuatku menunggu, kau senang melakukan ini semua ya?"

Aku terhenyak, maksudnya?

Jangankan untuk bergerak, bicara sepatah kata saja aku kesulitan.

"Mungkin aku mengganggu hidupmu, iya ya, kau kan pacar kakakku."

Kini Donghae berdiri, aku hanya bisa menatap lekat lantai yang kududuki. Menghitung semut.

Donghae menyelipkan satu lengannya pada tengkukku pelan, masih dengan posisi berdiri. Mau tak mau aku menangkap keseluruhan wajahnya

"Kau tak bisa mengerti perasaanku kan Lee Hyukjae!"

Tidak! Harusnya aku yang bicara seperti itu. Aku salah lihat kan, mata namja ini keruh, berkaca-kaca.

Ughh

Kudorong dada Donghae keras hingga namja itu mundur beberapa langkah. segera aku berdiri dan membenahi bagian belakang rokku yang mungkin saja kotor. Donghae memandangku aneh, tatapannya terlalu aneh untuk kuartikan. Detik berikutnya aku berbalik dan lari setelah mendesiskan kata yang entah terdenggar olehnya atau tidak. 'Aku membencimu'

.

-()()()()()-

.

Kuhela nafas berat, untuk kesekiannya kepalaku pusing. Sepertinya aku harus biasa jika besok-besok sakit kepala ini kambuh lagi, siap-siap obat. Padahal hari ini disekolah pelajaran cuma 2 jam pertama, untuk berikutnya hanya jam bebas.

Kugetok-getok kepalaku dengan kepalan tangan, berharap rasa sakitnya mengurang. Akhh makin berdenyut saja ubun-ubunku.

Srekk.

Apa ini?

Amplop putih bersih yang ada ditumpukkan kaos kaki dalam lokerku ini mirip surat tagihan pelunasan SPP.

Kuamati amplop ini seksama, ada tulisan diujung kanan bawah. Ah bukan tulisan, cuma guratan pena membentuk huruf 'L'

Tadinya niat awalku adalah ingin membawa pulang tumpukan kaos kaki, mumpung uang dapat uang saku tambahan, jadi ingin kubawa barang-barang berhargaku ini ke tukang laundry. Percaya atau tidak umma ku tak pernah mau mencuci kaos kaki sekalipun itu milik appa. Dan aku malah dapat amplop aneh dalam loker yang tak pernah kubuka berminggu-minggu

Srett.. Srettt...

Surat?

Kertas warna pink, kancing warna-warni di bagian pojok. Ini suratku dulu. Tulisanku pun masih ada. Siapa yang mengembalikan surat ini?

Donghae? Tak ada tersangka lain selain dia. Aku tak bisa membayangkan bagaimana Donghae membuka lokerku dan disambt wewangian kaos kakiku. Oke, itu tak penting, tapi bukannya dia tak tahu surat ini dariku? Tapi kenapa...?

Set

Saat berniat melipat surat ini, aku baru sadar ada yang berbeda. Dibalik tulisanku, halaman yang dulu kosong kini berisi penuh tulisan.

Balasankah?

Kuedarkan pandangan kesekitar. Oke sepi! Tak apalah jika aku membaca disini, aku bisa penasaran sepanjang jalan jika menundanya.

Dadaku bergemuruh, kenapa hanya membaca sebuah surat saja aku segugup ini, norak.

kutangkap sederet tulisan di pojok atas. 15 December? itu berarti seminggu yang lalu.

Sret

.

PS : Amplopmu hilang jadi aku pakai amplop ini.

Aku tahu, jawaban untuk pertanyaanmu adalah aku tahu.

Kufikir perasaanku bertepuk sebelah tangan, tapi ternyata tidak.

Tapi kenapa kau selalu membuatku menunggu. Setiap istirahat pertama aku selalu menyempatkan datang ke taman belakang, berharap kau datang. Tapi kenapa kau selalu pura-pura bodoh dan tak tahu? Kau tak mungkin lupa bukan ucapan kakak kelas saat penerimaan siswa baru dulu. Janjiku untuk menunggumu di taman ini.

Saat aku mengingatkanmu pun kau tetap berpura-pura.

Waktuku SMU ini sama saja dengan SMP dulu, yaitu menunggumu. 6 tahun waktu yang kuhabiskan.

Dulu aku menerima Jessica, kau tahu karena apa? Karena kau yang memintaku. Sesuai apa yanng kau mau, aku pun membohongi perasaanku dan kaau tetap tak mengerti.

Kenapa aku bisa jatuh cinta pada gadis sepertimu?

Aku senang dihari valentine itu kau datang, hal untuk yang pertama kalinya.

Kau malah mengatakannya lebih dulu. Aku yang selalu menunggumu. Kau malah mendahului hal yang ingin ku ucapkan.

Aku memang tak menyukaimu, tapi aku sangat menyukaimu. Kau adalah orang pertama yang membuatku rela melakukan suatu kebohongan.

Aku sedikit berharap kau cemburu melihatku bersama Luna, tapi nampaknya kau tetap tak acuh, tetap tak peduli.

Cuma seminggu aku langsung melepas gadis itu, yang membuatku terlihat seperti playboy adalah kau.

Aku tak mengerti saat kau menghindariku, kau selalu membuang muka saat bertatapan denganku. Apa aku sejelek itu?

Aku ragu apa perasaanku benar-benar terbalas.

Satu yang kuminta darimu sekarang, hentikan ini semua. Aku menderita.

Jika kau ingin tahu apa yang kurasakan, aku benar-benar kacau. Aku tak bisa diam saja saat melihatmu bersama kakakku, kenapa kau bukan tersenyum padaku saja? Aku berusaha tuli saat Hangeng hyung bercerita tentangmu, tidak! dia tak lebih hebat dariku. Dia tak tahu bagaimana kau yang sebenarnya. Gadis aneh, ceroboh, pemarah, pelupa dan sebagainya.

Apa bersama Hyung ku kau merasa senang? Tapi aku tidak sama sekali, bahkan hari-hariku jadi buruk. Tapi tentu saja kau tak mengerti.

Kumohon hentikan ini semua sebelum kau membuat aku dan kakakku bertengkar, aku tak berani menjamin semua baik-baik saja jika memang kau mencintai kakakku.

Kau hanya boleh mencintaiku, hanya boleh denganku.

.

Deg. Deg. Deg

Kutangkupkan surat ini

"Sudah selesai membacanya?"

Aku menoleh. Donghae? Sejak kapan dia ada dibelakangku?

"Sekarang kau kularang lari!"

.

.

.

.

.

TBC

.

Annyeong, bagaimana chapter ke-7? Semakin membosankan .

For Anonymouss, haehae, Kazuma B'tomat, harumisujatmiko, Name minnie, dewi90, kyukyu, cherrizka980826, UrrieKyu, Kim Jung Min, LEETEUKSEMOX, WoonWook, Kyuaniee fiee, anchofishy, Jo Kyuzha, erryeo, lucifer84, Cho Miku, Haehyuk Shipper, CoolBeauty, myfishychovy, Bunnyminimi Cloudsomnia, nisa, Dyna, RaditaHaehyuk, mink, Anchovy, HaeHyuk DaUGhteR, Kim Seorin SichulShipper, LadieHAEHAE, narniaHaehyuk, UNYUunyu, nurulMJ, green Reaction, HaehyukkL, Kakashi, NadiaFSlayer, ressijewel, amandhharu0522, Yenilina

Terimakasih sudah riview chapter sebelumnya.

Sekali-kali Donghae POV? Mianhe disini Lee Hyukjae tak mau membagi point of view yang sudah dipatenkan sebagai miliknya *disikat*

Donghae menderita? Yang ini gimana, kurang menderita aku rasa

Penerimaan murid baru? Sudah jelaskah, sebenarnya masih ada penjelasan lagi chapter berikutnya. Tapi ini sudah mencakup semua yang musti dijelasin kan?

Ini bener dari novel? Bukan novel juga sih, hanya cerita karangan waktu SMP dengan watak yang kuperjelas tentunya.

Yewook moment? Mian ngga ada *bow*

Pertanyaan-pertanyaan sudah terjawab bukan? Kalo masih penasaran baca ulang lagi aja *dibogem*

akhir kata

RIVIEW PLEASE