You, snow and our january
Boyxboy
Main pair: kaisoo
Rated:M
Typos
Kyungsoo terbangun di pagi hari, ia menatap langit-langit kamar yang terasa begitu asing baginya. Ia baru ingat jika saat ini ia berada dirumah sahabatnya, baekhyun. Memang sebelumnya kyungsoo telah memutuskan untuk menerima ajakan baekhyun tinggal di rumahnya. Bagaimanapun ia telah menjadi istri Kim jongin. Suaminya yang juga suami baekhyun.
Tidak ada perubahan rutinitas bagi kyungsoo meski dia tinggal ditempat baru. Ia tetap terbiasa bangun pagi, kemudian menyiapkan sarapan.
Baekhyun turun dari tangga dengan pakaian yang sudah rapi, dan ia mendapati kyungsoo menyiapkan sarapan. Senyum mengembang di bibir mungilnya sambil melangkah menghampiri anggota baru dirumahnya itu.
"waw,,,, kyung! Kamu menyiapkan semua ini" sapanya sambil duduk di meja makan.
Kyungsoo mengangguk lalu tersenyum. "makanlah baek! "
"senangnya kamu bisa tinggal disini, aku pasti tidak akan kelaparan tiap pagi,,, ". Baekhyun mulai menikmati omelet buatan kyungsoo.
"tenang saja,,, aku akan selalu memasak untukmu tiap pagi,,, "
"ahh,,, really? You're the best kyung".
Berikutnya jongin turun melewati tangga dengan langkah terburu. Bahkan ia tak melirik sedikitpun keberadaannya dengan baekhyun.
"jongin sudah terbiasa seperti itu, dia itu workaholic, dia lebih memilih tepat waktu tanpa sarapan daripada sarapan lalu terlambat" jelas baekhyun pada kyungsoo yang memperhatikan kepergian jongin.
"lagipula, aku memang tidak pernah menyiapkan sarapan untuknya, , , kamu tau sendiri aku tidak bisa memasak, , , "
"gwenchana baek, mulai sekarang aku akan menyiapkannya"
"kalau begitu mulai besok siapkan saja bekal untukku dan jongin, sebenarnya aku juga tidak terbiasa sarapan pagi, otte? "
Kyungsoo mengangguk , lagi lagi menuruti permintaan sahabatnya yang menyuruhnya seolah ia tukang masak.
.
.
.
Seminggu telah berlalu sejak kyungsoo tinggal dirumah baekhyun. Entah mengapa kyungsoo merasa semuanya berubah. Baekhyun dan juga jongin.
Setiap pagi kyungsoo akan menyiapkan tiga bekal , untuk baekhyun, jongin dan dirinya sendiri. Sejak tau tidak ada aktifitas sarapan pagi bersama dirumah itu, kyungsoo merasa percuma juga jika dirinya sarapan sendiri, maka dari itu ia juga membungkus bekalnya.
Seminggu berlalu, seminggu pula kyungsoo tidak berbicara dengan jongin sepatah katapun. Bahkan pria tan itu seolah tak melihatnnya sedikitpun. Pernah sekali mereka tak sengaja bertemu pandang saat jongin mengambil bekalnya, tetapi pria itu justru melempar tatapan dingin dan berlalu begitu saja.
Bukan hanya jongin yang berubah, baekhyun juga. Pria penggila eyeliner itu dulunya senang sekali curhat tentang apapun pada kyungsoo, namun sekarang ia seolah membatasi diri.
Kyungsoo merasa bagai orang asing dirumah itu. Dirinya pun terkadang sulit untuk tiba-tiba bergabung dengan jongin dan baekhyun.
Rutinitas kyungsoo di malam hari setelah pulang kerja adalah memasak untuk baekhyun dan juga jongin. Tapi, sekalipun ia tak pernah makan bersama keduanya. Meski baekhyun sudah mengajaknya, namun kyungsoo pasti mencari alasan untuk menolaknya. Entah mengapa ia merasa aneh jika berada diantara keduanya.
Kyungsoo sering kali tidak bisa tidur tiap malam. Kamarnya bersebelahan dengan kamar jongin dan juga baekhyun. Dan entahlah, tetapi suara-suara aneh itu bisa terdengar dari kamarnya. Kyungsoo bukan tidak tau apa yang sedang keduanya lakukan, ia sangat tau, karena ia juga pernah melakukannya sekali. Baekhyun dan jongin hampir Melakukannya setiap malam, dan pria kecil itu selalu mendengarnya.
Pernah suatu malam, suara itu begitu jelas. Desahan baekhyun, kemudian jongin, lalu desah keduanya bersamaan. Kyungsoo memandang kosong kearah langit-langit kamar selagi suara itu terus teedengar. Matanya memanas, semua memori indahnya saat bersama jongin terputar dengan sendirinya. Kyungsoo terus bertanya, benarkah semua itu hanyalah mimpi?. Tetapi, , , jika itu mimpi, kenapa saat itu semua terasa nyata. Bahkan kyungsoo masih ingat, bagaimana cara jongin menyentuhnya untuk pertama kali malam itu.
Terkadang kyungsoo berfikir, bukankah statusnya dan baekhyun adalah sama, lalu kenapa jongin memperlakukannya berbeda. Apakah jongin hanya berpura-pura saat bersamanya? Tapi, kenapa jongin mengatakan 'i love you' saat itu?. Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala kyungsoo, bahkan air matanya tanpa sadar sudah membasahi pipinya. Ia merasa dipermainkan. Kemudian, kyungsoo kembali berfikir, sejak awal memang ia tidak boleh berharap. Pernikahannya adalah semu. Semua ini hanya untuk satu tujuan. Berulang kali kyungsoo menekankan pemikiran itu dalam otaknya, terus menerus hingga ia tidur.
.
.
.
Pagi itu hujan lebat, baekhyun sudah berangkat dengan mobilnya, tak lama kemudian jongin juga berangkat. Memang selama ini, tiga orang dirumah itu berangkat kerja sendiri-sendiri. Kyungsoo yang belun memiliki mobil, selalu berangkat menggunakan bus umum.
Kyungsoo menghela nafas beratnya, berdiri didepan pintu rumah sambil memegang sebuah payung. Padahal dirinya masih harus berjalan menuju halte, namun hujan yang begitu deras sedikit menghalangi niatnya. Dengan enggan ia membuka payung, memposisikannya agar melindungi dirinya dari hujan. Perlahan ia mulai melangkah menerobos derasnya hujan. Ia membuka gerbang rumah dan mulai berjalan menuju halte. Kyungsoo bersenandung lirih, sambil berjalan pelan diatas trotoar.
Belum jauh kyungsoo melangkah, matanya menangkap sesuatu yang membuatnya menghentikan langkahnya. Sebuah mobil perlahan berjalan mundur kearahnya. Dan kyungsoo jelas tau siapa pemilik mobil itu.
Jongin menghentikan mobilnya tepat didepan pria kecil itu berdiri. Ia membuka kaca jendelanya.
"masuklah!" ucap jongin menatap kyungsoo datar.
Kyungsoo ragu untuk sesaat, tetapi ahirnya ia menerima tawaran jongin dan masuk kedalam mobil. Kyungsoo tau jongin terus menatap dirinya, tapi ia tidak berani membalasnya.
Namja mungil itu sedikit tersentak ketika jongin tiba-tiba mendekatinya, cukup dekat. Pandangan mereka bertemu, tapi ia tidak dapat membaca ekspresi jongin yang masih datar.
'cklek! '
Bukan tanpa alasan, rupanya pria tan itu memasang seatbelt tanpa kyungsoo sadari. Meski sebentar kyungsoo dapat mencium aroma maskulin khas suaminya yang entah mengapa begitu ia rindukan.
Jongin kembali pada posisinya dan segera menjalankan mobilnya. Sesekali kyungsoo melirik pria disebelahnya. Ia benar benar tidak bisa menebak seperti apa jongin yang dihadapinya saat ini. Setelah beberapa hari terahir ia mengacuhkan dirinya, pagi ini tiba-tiba pria itu muncul dan bersikap manis, meski wajahnya tanpa ekspresi.
Kyungsoo memainkan cincin di jari manisnya, hingga mobil itu berhenti disebuah persimpangan karena lampu merah.
"setelah ini belok ke kiri, " ucap kyungsoo lirih.
"arra! " jawab jongin masih menatap lurus kedepan.
Kyungsoo sedikit bertanya-tanya bagaimana jongin bisa tau dimana kantornya, padahal kyungsoo sama sekali tidak pernah memberitahunya.
Jongin menghentikan mobilnya tepat didepan tempat kyungsoo bekerja. Perlahan namja kecil itu melepas seatbeltnya, dan bersiap turun dengan payung ditangannya.
"gomawo " ucap kyungsoo lirih menoleh pada suaminya.
"hm, hati-hati" jawab jongin masih terus menatap ke depan tanpa melihat kyungsoo sedikitpun. Pria kecil itu segera turun lalu menutup pintu mobil pelan. Ia segera berbalik dan berjalan menuju pintu masuk.
Kim jongin pov.
Aku menoleh, melihatnya ketika ia mulai berjalan menjauh menuju kantornya. Tubuh kecilnya dibawah payung biru itu terlihat sangat rapuh. Aku ingin memeluknya. Sangat.
Aku tau, mungkin saat ini kyungsoo berfikir selama ini aku hanya mempermainkannya. Tapi sungguh itu salah. Semua yang pernah kulakukan padanya adalah tulus.
Ini sangat berat bagiku. Bahkan sejak pertama kali aku melepas tangannya ketika sampai dikorea, hatiku sungguh tidak rela. Aku bahkan tak sanggup mengatakan apapun padanya saat itu, menatap matanya saja aku tidak bisa. aku bingung, aku takut, aku tidak tau bagaimana menghadapi situasi seperti ini, dimana aku harus bersama dengan dua orang yang kucintai.
Ketika sampai dirumah saat itu, baekhyun menyambutku, tentu aku tidak bisa mengabaikannya, bagaimanapun dia orang yang aku cintai. Mungkin saat itu kyungsoo mengira aku menganggapnya tak ada, tapi tanpa ia sadari, aku memperhatikannya, melihat bahu sempit itu perlahan menjauh.
Aku sedikit senang dengan ide baekhyun yang memintanya menyiapkan bekal, setidaknya aku bisa memakan masakannya tiap hari. Aku sangat bahagia, meski ia tidak tau bagaimana perasaanku. Mungkin ia juga tidak tau, jika aku rela terlambat datang ke kantor, hanya untuk menghentikan mobilku di perempatan dekat halte. Menunggu untuk melihatnya hingga naik bus melalui kaca spion.
Lalu ketika malam hari, ingin rasanya aku mengajaknya makan bersamaku dengan baekhyun, tapi entah mengapa bibir ini tak sanggup mengeluarkan suara. Padahal itu masakannya, tetapi ia justru makan sendirian. Aku sungguh pengecut. Aku ingin marah pada diriku sendiri.
Andai dia tau, alasanku bersikap dingin selama ini, tak lain karena aku tak tau bagaimana harus bersikap. Aku tidak ingin menyakiti perasaan baekhyun, tapi aku juga ingin menjaga perasaannya. Namun kenyataannya, aku mungkin justru menyakitinya. Dan aku sadarsaat ini aku berada di korea, maka itu juga menjadi alasan mengapa aku tidak bisa bebas bersikap. Aku harus menjaga status sosialku disini.
Pagi ini, aku berterimakasih pada hujan, sesuatu yang biasanya kubenci, tapi kali ini memberikan kesempatan padaku untuk dekat dengannya. Aku sengaja membiarkan baekhyun berangkat dulu, lalu menunggunya di luar rumah.
Katakan aku mencuri kesempatan, biarlah, tapi aku senang. Ketika memasangkan seatbelt padanya, membuatku bisa menatap mata bulatnya yang indah, mata yang selalu kurindukan. pandangan kami bertemu, aku bisa menebak ia sedikit terkejut. Dan jarak yang dekat, dapat membuatku menghirup aroma vanilla parfum miliknya. Aku sangat menyukainya.
Sepanjang perjalanan, ia hanya diam sambil memainkan cincin dijarinya. Rasanya ingin aku menghentikan kebiasaannya, karna aku tau itu dapat melukai jarinya. Ia sempat memberitahuku jalan ke kantornya, mungkin ia tidak tau bahwa aku sudah mencari tahu sebelumnya.
Kemudian ia turun dan mengucap terimakasih padaku saat sampai didepan kantornya, sungguh berat bagiku berakting seolah aku tidak peduli. Tapi aku bertahan.
Maafkan aku soo,,, jujur aku sendiri tidak bisa menentukan bagaimana aku harus bersikap.
Kim jongin pov. End
.
.
.
"ice americano, satu" order baekhyun pada pelayan di sebuah kafe.
"dua" sahut seseorang yang sudah berdiri tepat disamping baekhyun.
Baekhyun tak perlu menoleh untuk tau siapa pemilik suara baritone itu.
"baru muncul sekarang, darimana saja? " tanya baekhyun melirik sinis pada park chanyeol.
"aku orang sibuk baek,,, ".
Tanpa basa basi baekhyun menarik tangan pria tinggi itu, membawanya masuk ke sebuah bilik toilet di kafe itu. Lalu menguncinya.
'PLAKK! '
sebuah tamparan keras sukses membuat pipi park chanyeol memerah.
"brengsek,,,! Aku tau kamu masih mencintaiku, tapi jangan pernah berfikir kamu bisa merusak hidupku untuk kedua kalinya" baekhyun tegas sambil mengibaskan tangannya setelah menampar keras pria dihadapannya. Itu adalah hukuman karena mantan suaminya itu telah membongkar kesalahannya pada jongin tempo hari.
Chanyeol terkekeh pelan, mengelus pipinya yang terasa panas.
"bukan kah aku yang seharusnya bilang begitu?,,, kamu yang memulai semuanya malam itu, bukan aku" jawab chanyeol tenang.
"aku sedang mabuk park chanyeol, aku tidak akan mungkin melakukannya jika aku sadar, "
"benarkah?!, tapi bahasa tubuhmu malam itu mengatakan sebaliknya, dan aku tau, kamu bukan orang yang mudah mabuk!" tutur chanyeol sukses membuat baekhyun speechless.
"apa maumu sebenarnya? Kamu belum puas sudah menghancurkan hidupku sekali, kamu ingin melakukannya lagi? "
"kamu yang merusak semua harapanku terlebih dahulu baek"
"jadi ini tentang kyungsoo lagi? " tebak baekhyun seolah jenggah dan park chanyeol hanya diam seolah membenarkan tebakan baekhyun.
"tidakkah kamu merasa jahat memanfaatkan sahabatmu sendiri? Bertahun-tahun baek, bukan hanya sekali dua kali, hanya karena dia orang yang naif, bukankah itu keterlaluan? " sindir chanyeol.
"bukan urusan kamu, "
"ini akan jadi urusan aku, karena sampai sekarang, perasaanku padanya tidak berubah, "
Baekhyun menghela nafas dalam.
"arasseo,,, mulai sekarang lakukan saja apa maumu, tapi jangan pernah berharap kamu bisa menghancurkan semua rencanaku" ucap baekhyun penuh penekanan. Kemudian ia mulai bergerak untuk keluar dari toilet.
Belum sempat ia keluar, pria tinggi itu menarik tangannya cepat hingga menghentikan langkah baekhyun. Chanyeol membalikkan tubuh baekhyun menghadap dirinya.
'PLAKK! '
sebuah tamparan keras mendarat dipipi baekhyun, membuat pria mungil itu shock dan menatap chanyeol tajam sambil memegangi pipinya.
"aku rasa kita impas sekarang, aku tidak akan menghalangi rencana kamu, jadi kamu juga tidak boleh menghalangi rencanaku" balas chanyeol lalu mulai melangkah meninggalkan baekhyun.
"ya! Brengsekk! ! Jika aku tidak bisa bahagia, maka kamu juga tidak boleh bahagia, begitu juga dengan kyungsoo! " teriak baekhyun, kali sukses membuat pria park itu menghentikan langkahnya bahkan menoleh kembali kearah baekhyun.
"kamu terlalu serakah baek, harusnya kamu menjaga baik baik apa yang sudah kamu miliki,,, atau kamu akan kehilangan semuanya" chanyeol berucap tenang penuh makna. Kemudian ia tersenyum dan kembali berjalan. Kali ini benar benar meninggalkan baekhyun.
.
.
.
Kyungsoo merapikan meja kerjanya lalu mengambil tasnya dan mulai melangkah untuk keluar dari tempatnya bekerja. Sesekali ia melempar senyum dan mengucapkan sampai jumpa pada karyawan lainnya.
Sesampai di luar kantor, ia melihat sosok yang tidak asing, bahkan ia sangat mengenalnya. Pria itu menatap kyungsoo sambil bersandar pada mobil mewahnya, melempar senyum manis pada kyungsoo yang masih berdiri memperhatikannya.
Berikutnya pria itu melangkah mebdekati kyungsoo.
"hei" sapanya.
"ada apa chan? "
"ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan kamu"
"jika ini tentang permintaanmu, agar aku meninggalkan jongin, maka,, "
"bukan itu!" potong chanyeol.
"lalu apa? "
"ayo kita makan malam, nanti aku bicara disana"
Kyungsoo menghela nafas, memikirkan sejenak tawaran chanyeol. Sebenarnya ada beberapa hal juga yang ingin ia tanyakan pada chanyeol, jadi kyungsoo menerima tawarannya.
Chanyeol membawa kyungsoo kesebuah restoran mewah berbintang. Bahkan ia mendapatkan perlakuan sebagai tamu vip.
"aku tidak biasa makan ditempat seperti ini chan? "
"tidak apa kyung, kamu harus terbiasa mulai sekarang? " ucap chanyeol sambil menarik kursi mempersilahkan kyungsoo duduk.
Keduanya membaca menu yang diberikan pelayan.
"kamu mau pesan apa?"
Kyungsoo menutup buku menu, meletakkannya diatas meja. "sama dengan kamu saja, "
"oke! "
Chanyeol segera memesan pada pelayan, yang kemudian segera pergi untuk mendapatkan pesanan.
Sementara menunggu pesanan, kyungsoo menatap chanyeol, menunggu pria itu berbicara. Tetapi kyungsoo menangkap pria yang duduk dihadapannya itu justru menatapnya lekat.
"kenapa melihatku seperti itu? Ada yang salah denganku? " tanya kyungsoo sedikit bingung
"aku sungguh penasaran, kemana kamu dan jongin pergi selama hampir satu bulan, apa saja yang sudah kalian lakukan? Apa dia memelukmu, apa dia juga menciummu, apa dia menyentuhmu, apa dia juga melakukan 'itu' padamu? "
"kamu kenapa chan? Kamu mabuk? " tanya kyungsoo yang senakin bingung.
Chanyeol menggeleng. "no! Aku hanya penasaran, jawab aku kyung? "
"apa yang harus kujawab chan? "
"apa saja yang sudah dia lakukan padamu?"
"chan,,, dia suamiku, dia boleh melakukan apapun padaku, kamu ini sebenarnya kenapa?"
Chanyeol menyandarkan punggungnya pada kursi. Masih menatap kyungsoo lekat. Sesaat kemudian pelayan menghidangkan semua makanan didepan keduanya. Lalu menuangkan wine.
"tuangkan sampai penuh! " pinta chanyeol. Setelah itu, seolah air putih chanyeol meneguk habis wine dalam gelas kaca itu. Kyungsoo hanya menatap tak percaya.
"makanlah! Aku akan bercerita, dan tolong jangan potong ceritaku, dan jika kamu ingin bertanya, tunggu sampai aku selesai." Chanyeol berucap sangat serius kali ini.
Kyungsoo diam, dan si pria tinggi menganggap itu persetujuan dari kyungsoo.
"aku menyukaimu sejak dulu kyung, , , sejak baekhyun mengenalkanku padamu, sejak kita bertiga bersahabat, tapi aku selalu kehilangan kesempatanku untuk mengatakannya padamu, dan aku tau itu karena baekhyun. " chanyeol memulai ceritanya.
"mungkin kamu tidak percaya, tapi pada hari kelulusan, saat kamu memutuskan pergi ke london, baekhyun bilang alasannya adalah kamu mendapatkan beasiswa. Aku tidak pernah tau jika saat itu kamu membutuhkan bantuan kyung, andai aku tau, aku pasti akan melakukan apapun agar kamu bisa tetap tinggal di korea. Aku kecewa saat itu, berfikir bahwa kamu egois. Aku sedikit membencimu. Dan ahirnya satu-satunya orang yang tertinggal adalah baekhyun, Dia menyatakan perasaannya padaku, dan aku menerimanya, aku tidak bisa menyangkal bahwa dia adalah orang yang membuatku nyaman, kami menjalin hubungan sejak masuk kuliah" lanjut chanyeol, lalu menuang lagi wine dalam gelasnya.
"tapi perasaanku padamu tidak hilang kyung, aku berusaha melupakanmu, tapi tidak bisa. Karena itu diam-diam aku mencaritahu tentangmu, dan aku menemukanmu. Aku selalu mengirimkan surat dan donasi untuk panti asuhan kamu, tapi kamu mengira itu adalah baekhyun. Aku tidak masalah dengan itu, asal aku tau kamu baik disana. Kemudian, sebuah alasan lain muncul membuatku tidak bisa langsung menemui kamu. Dan saat itulah aku memutuskan menikahi baekhyun"
Chanyeol kembali meneguk winenya. Meletakkan gelas kaca itu diatas meja sambil terus memainkannya.
"suatu ketika, baekhyun mabuk, dia tahu bahwa selama ini aku masih terus memperhatikanmu, dia marah, dan dia tak sengaja mengungkap semuanya. ahirnya aku tau, selama ini dialah orang yang menghalangiku mengatakan perasaanku padamu. Aku sempat marah, tapi aku tidak bisa melakukan apapun, karena bagaimanapun dia istriku. "
"hingga suatu hari, kecelakaan itu terjadi, aku bukannya tidak peduli kyung, saat itu aku berada diluar kota, aku panik, aku segera kembali ke seoul. Begitu sampai rumah, orang tuaku menceritakan segalanya yang terjadi pada baekhyun, termasuk tentang bayi kami. Aku sangat shock , lalu saat itu orang tuaku memberikan berkas perceraian, aku kaget, karena disana sudah ada tanda tanganku dengan baekhyun. Aku tidak pernah merasa menandatangani berkas itu, jadi aku yakin orang tuaku memalsukannya. Aku sangat marah, lalu aku segera pergi berniat menemui baekhyun, tapi yang kulihat, dia justru berciuman dengan kim jongin. Aku merasa dihianati, bukan untuk pertama kalinya, tapi entah keberapa, karena aku tau, dia memang seperti itu dengan jongin bahkan saat kami masih menikah. Ahirnya aku memutuskan, untuk melanjutkan berkas perceraian itu"
Chanyeol menghela nafas, menatap kyungsoo yang juga menatapnya. Chanyeol tau, mungkin saat ini kyungsoo bingung, bahkan tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.
"setelah perceraian itu, aku pergi mencari kamu, tapi ternyata alamat kamu sudah berbeda. Dan ketika aku menemukanmu, aku sedikit terlambat, kamu sudah menikah dengan jongin. aku sedikit kecewa kyung,,, apalagi aku tau, baekhyun hanya memanfaatkan kamu. mungkin kamu merasa bersalah tentang kecelakaan itu, tapi asal kamu tau, itu bukan salah kamu. orang-orang yang menyerang baekhyun malam itu, mereka memang sudah mentargetkannya, dan tentang rasa balas budi kamu, kamu tidak perlu melakukannya, karena semua donasi ke panti asuhan kamu, itu aku yang melakukannya, bukan baekhyun" ucap chanyeol yakin.
Kyungsoo menatap chanyeol bingung, ia seolah tidak percaya semua yang dikatakan pria dihadapannya saat ini.
"a-aku,,, tidak tahu harus berkomentar apa chan,,, " kyungsoo ahirnya berbicara. Sunnguh ia sangat bingung saat ini.
"aku tau kyung, kamu mungkin berfikir aku hanya mengarang cerita, tapi semua yang aku katakan adalah yang sebenarnya" chanyeol berucap yakin. Pria itu berdiri mendekat pada kyungsoo lalu berlutut sembari meraih tangan kyungsoo.
"kamu sedang apa? " tanya kyungsoo bingung.
"dengarkan aku kyung, aku tidak bermaksud apapun ketika aku menceritakan semua ini, aku juga tidak bermaksud merusak persahabatan kamu dengan baekhyun, aku cuma tidak ingin kamu terus-terusan dimanfaatkan olehnya, sudah cukup kyung, "
"aku juga tidak akan meminta kamu meninggalkan jongin saat ini. aku tidak ingin memaksa kamu, aku hanya ingin, kamu tau semua kenyataannya. dan aku juga ingin kamu tau, perasaan ku padamu tidak berubah, aku menyukaimu kyung, jadi,,, aku ingin memulai semua dari awal, dan aku siap untuk menunggu kamu berpisah dengan jongin" lanjut chanyeol yakin.
Sementara kyungsoo justru semakin bingung dengan semua ucapan sahabatnya ini, kenyataan tentang baekhyun, kemudian tiba-tiba mengatakan bahwa ia menyukai dirinya, semuanya seperti tidak masuk akal untuk kyungsoo.
Namja kecil itu menarik pelan tangannya dari genggaman chanyeol.
"chan,,, aku lapar, aku mau makan" ucap kyungsoo tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
Chanyeol hanya tersenyum, lalu berdiri sembari memperhatikan pria dihadapannya yang mulai menyantap makanannya.
.
.
.
.
.
Kyungsoo berjalan pelan memasuki rumah. Otaknya masih penuh dengan semua perkataan chanyeol. Ia tidak tahu, apakah ia harus percaya atau tidak.
"kyung, darimana? " tanya baekhyun yang duduk di sofa depan televisi bersama jongin.
Kyungsoo menoleh, menatap baekhyun. Lagi-lagi semua perkataan chanyeol mengalir difikirannya. Benarkah baekhyun hanya memanfaatkannya selama ini?.
"kyung" panggil baekhyun lagi menyadarkan kyungsoo dari lamunannya.
"aku makan malam dengan teman"
"siapa?"
"teman dari panti asuhanku" jawab kyungsoo asal. Tentu ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya dinner dengan mantan suami baekhyun.
"kamu mau pizza? " tawar baekhyun.
Kyungsoo menggeleng pelan. " aku sudah makan tadi"
Lalu kyungsoo segera berjalan ke kamarnya, ia bahkan tak sadar jika jongin memperhatikannya.
.
.
.
Keesokannya,
Kyungsoo mendapat sebuah kejutan di kantornya. Seseorang mengirim makan siang untuk seluruh karyawan dikantornya dengan nama kyungsoo. Tentu namja kecil itu bingung ketika semua orang berterimakasih padanya. Spontan ia menjawab itu bukan dirinya, tetapi semua orang justru menggodanya, mengatakan bahwa pengirim itu pasti pacar kyungsoo.
Entahlah tapi kyungsoo benar-benar tidak bisa menebak siapa pengirim itu. Sesaat kemudian telpon dimeja kerjanya berdering.
"ya, ini kyungsoo"
"kyung, seseorang menunggumu diluar, katanya penting! "
"siapa? "
"molla? "
"oke".
Kyungsoo tidak penasaran lagi siapa orang yang ingin menemuinya begitu melihat sebuah audi a4 putih di depan kantornya. Itu milik chanyeol. Kyungsoo mengetuk jendela mobil, dan chanyeol segera menurunkan kaca jendela mobilnya, menampilkan senyum lebar yang mempertontonkan barisan gigi putihnya.
"kamu yang mengirim makan siang? " tebak kyungsoo yakin.
Chanyeol mengangguk. "trims, nanti akan kuganti" ucap kyungsoo.
"hey, gwenchana,,, aku bekerja sama dengan perusahaan ini juga, jadi,,, it's okay"
"ada apa kamu kesini? " kyungsoo to the point.
" ayo pergi nonton malam ini, aku sedang bosan, "
Kyungsoo menghela nafas. "aku lembur malam ini, maaf,,, "
"kamu tidak berusaha menghindari aku kan?"
"aku benar-benar lembur chan,,,"
"okee,,, semangat! " ucap chanyeol lalu segera bergegas pergi.
.
.
.
00.10 am
Hujan deras mengguyur kota seoul. Namja bermata bulat itu berdiri dari tempat duduknya, bergerak merenggangkan ototnya. Perlahan ia mulai berkemas setelah menyelesaikan pekerjaan lemburnya.
Drtt,,, drttt,,,
Kyungsoo melirik ponselnya, sebuah panggilan masuk dari seseorang. Kim jongin.
"yebseo"
"kamu dimana? " tanya jongin dengan nada dingin.
"aku masih di kantor, ini mau pulang"
"tunggu disitu, jangan keluar"
"tapi,,,- "
Kyungsoo belum sempat menyelesaikan kalimatnya, namun jongin sudah memutus telponnya. Sebenarnya kyungsoo sedikit bingung, mengapa jongin memintanya tetap disitu. Mungkinkah jongin akan dating menjemputnya. Kyungsoo ragu, tapi entah mengapa hatinya berkata untuk mempercayai jongin. Kyungsoo menunggu.
30 menit berlalu,,,
Drtt,,, drtt,,
Kali ini sebuah pesan masuk, masih dari orang yang sama.
'aku didepan'.
Tidak tau karena apa, entah sadar atau tidak, kyungsoo mengembangkan senyuman manis dibibirnya. Ia segera berjalan cepat keluar ruangan menuju luar kantor.
Kyungsoo melihat mobil jongin sudah terparkir tepat didepan kantornya. Kemudian ia membuka payungnya, sembari berpamitan pada satpam yang berada didekat pintu. Ia berlari kecil dibawah payungnya menuju mobil jongin.
Perlahan kyungsoo masuk, memposisikan dirinya duduk disebelah jongin. Ia mendapati pria tan itu bermain ponselnya, ekspresi wajahnya masih tetap dingin. Jongin meletakkan ponselnya, lalu bersiap mengemudi.
"seatbelt! " ucap jongin mengingatkan.
"hm, sudah" kyungsoo menjawab lirih.
Kemudian jongin mulai menjalankan mobilnya. Tidak ada sedikitpun pembicaraan selama perjalanan. Lagi lagi kyungsoo hanya menatap keluar jendela, melihat derasnya air hujan sembari memainkan cincin dijari manisnya.
Mungkin namja kecil iti tak sadar, pria tan disampinnya beberapa kali memperhatikannya. Pria tan itu merindukannya.
.
.
.
Kyungsoo mengekor jongin pelan saar keduanya masuk rumah. Kemudian jongin membalikkan badannya membuat langkah kyungsoo seketika berhenti. Dua pasang mata itu bertemu.
"kamu sudah makan? "
Kyungsoo mengangguk.
"lain kali jangan pulang selarut ini, , , "
"hm"
Jongin membalikkan badan dan mulai melangkah lagi. Tetapi baru beberapa langkah pria itu kembali berbalik membuat kyungsoo yang mulai melangkah harus terhenti lagi.
"jika memang harus lembur, telpon aku, aku bisa menjemputmu, , , "
Kyungsoo mengangguk lagi.
"istirahatlah! " ucap jongin. Kali ini membiarkan kyungsoo berjalan duluan.
Hati kyungsoo menghangat, ia tahu jongin menghawatirkannya. Ia mulai melangkah menuju kamarnya.
Kyungsoo membuka pintu kamarnya perlahan, kemudian masuk sambil tersenyum tipis. Ketika ia hendak menutup pintunya, sesuatu mencegah pintu itu tertutup. Kyungsoo reflek menoleh, dan ia menemukan sebuah tangan berurat menyangga pintunya. Itu milik jongin.
Entah bagaimana kejadian ya, tapi itu terlalu cepat. Kini kyungsoo menemukan dirinya terhimpit diantara pintu dan tubuh besar suaminya. Mereka sudah berada didalam kamar. Bibir kyungsoo sudah terbungkam bibir yang lain. Tidak ada permulaan yang halus, jongin menciumnya seolah orang kelaparan. Ia melumat kasar bibir atas dan bawah kyungsoo bergantian. Lidahnya memaksa masuk untuk menemukan lidah yang lain. Bahkan jongin memberikan gigitan kecil diantara ciumannya. Ia tidak peduli bahwa perilakunya dapat melukai pasangannya. Saat ini ia hanya butuh menuntaskan hasrat yang selama ini ia pendam.
Kyungsoo sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima perlakuan jongin. Ia yakin jika bukan tuhan yang menciptakan bibirnya, pasti saat ini bibirnya sudah rusak tak karuan.
Jongin perlahan menyudahi ciumannya, melepas bibir kyungsoo hanya karena ia sadar mereka butuh oksigen. Jarak mereka masih intens, bahkan kening mereka masih bersentuhan. Mata jongin masih terpaku pada bibir kenyal layaknya marshmallow milik kyungsoo. Nafas keduanya memburu.
Ia menarik pinggang ramping kyungsoo, membuat tubuh pria kecil itu tidak berjarak dengan tubuhnya. Kemudian, seperti belum puas, pria tan itu kembali meraup bibir kyungsoo. Kali ini ciuman mereka lebih intens dan basah, mengirimkan sengatan pada seluruh tubuh kyungsoo hingga membuat kakinya lemah. Beruntung jongin memegang erat pingganggnya.
Rambut kyungsoo kusut, tanpa sengaja jongin meremasnya, ketika ia membawa kepala kyungsoo untuk mengikuti gerakan pria tan itu.
"eunghh,, ,,"
kyungsoo mulai mendesah, ia masuk pada permainan jongin. Namun tiba-tiba telapak besar jongin membungkam mulutnya seiring pria tan itu mulai berpindah pada leher putih kyungsoo.
Jongin mengukir sebuah karya disana dengan bibirnya, membuat pria kecil itu bergerak tak nyaman dalam himpitan jongin. Terimakasih jongin telah membungkam mulutnya, karna jika tidak, saat ini kyungsoo pasti sudah mendesah keras akibat jongin yang menghisap kuat lehernya seolah vampire. Dan sudah pasti baekhyun mungkin akan mendengarnya dari kamar sebelah.
Karya itu tercetak jelas dileher kyungsoo, warnanya sungguh kontras. Jongin menatap kyungsoo lekat setelah melepas bungkaman tangan dimulutnya, ia mengelus pipi halus kyungsoo, menyentuh bibirnya, serta hasil karyanya pada leher pria kecil itu.
"istirahatlah! " ucap jongin kemudian beranjak keluar.
Tubuh kyungsoo merosot jatuh terduduk kelantai. Semua terjadi begitu cepat, bahkan kyungsoo seakan tak percaya perlakuan jongin padanya barusaja. Kyungsoo mungkin memang merindukan jongin, bahkan ia tidak menyangkal jika sentuhan jongin adalah sesuatu yang tubuhnyapun juga menikmatinya tanpa sadar.
Tetapi, sesuatu lain berkecamuk difikiran kyungsoo, membuat matanya memanas. Pertanyaan seperti 'mengapa jongin memperlakukannya seperti ini? ', 'apakah jongin hanya mempermainkannya', ' kenapa jongin bertingkah seperti ini hanya dibelakang baekhyun? ', 'lalu apa arti dirinya untuk jongin?', semua pertanyaan itu memenuhi fikirannya. Kyungsoo semakin merasa ia hanyalah orang ketiga, yang harus ada saat dibutuhkan, tetapi bukan dari bagian peran utama.
Sedikit terbesit dalam benaknya ingin mengahiri permainan ini, ia takut jika nantinya akan larut pada perasaannya sendiri, sementara ia tau semua ini hanyalah semu. Dilain sisi kyungsoo juga mempertimbangkan perkataan chanyeol tentang baekhyun tempo hari.
.
.
.
.
.
Keesokannya adalah minggu. Jongin dan juga baekhyun memilih untuk berenang dirumah, sementara kyungsoo sibuk membuat sarapan didapur.
"waw, kamu masak apa kyung? " tanya baekyun yang baru saja selesai berenang.
"ini sup ayam, "
"hm,,, baunya sedap sekali,,,, " ucap baekhyun sambil mengobservasi masakan kyungsoo. Sesekali pemuda bereyeliner itu juga mengobservasi sahabatnya yang sedang memasak. Dan dia menemukan sesuatu yang membuatnya sedikit iri.
"nice skin! " ucap baekhyun sambil menyentuh karya jongin di leher kyungsoo, membuat pria itu sedikit tersentak. Kyungsoo tidak berani menatap baekhyun, ia sibuk dengan bahan masakan ditangannya.
Baekhyun beranjak, sambil memanggil jongin yang barusaja selesai berenang.
"jagiya~" panggil baekhyun manja lalu berhambur memeluk jongin, memberi kecupan manis dibibir tebal pria sexy itu. Kyungsoo bukan tak sengaja melihat, ia memang melirik perilaku keduanya. Mereka terlihat bahagia dan harmonis. 'lalu siapa dirinya? '
Dilain sisi, baekhyun sengaja menamerkan kemesraannya dengan jongin didepan kyungsoo. Sebenarnya ia cemburu setelah melihat leher kyungsoo. Baekhyun yakin, itu pasti jongin yang melakukannya, karena baekhyun tahu kyungsoo tidak mungkin melakukan itu dengan pria yang tidak punya hubungan khusus dengannya. Baekhyun mulai posesif, ia takut, ia tidak ingin kehilangan jongin, lebih tepatnya ia tidak mau jika kyungsoo lebih bahagia dari dirinya.
.
.
.
Dalam dua minggu kedepan kyungsoo izin pada baekhyun untuk tinggal diapartemennya sendiri, dengan alasan ia akan lebih sering lembur dikantor karena ada proyek. Kyungsoo berfikir jarak apartemennya dengan kantor lebih dekat ketimbang rumah baekhyun dengan kantor. Tentu saja baekhyun mengiyakan, ia juga menyampaikannya pada jongin, tetapi pria tan itu tidak mengatakan apapun.
Sejak kembali pindah ke apartemennya, kyungsoo serasa menemukan suasana yang lebih nyaman dan menyenangkan. Bahkan ahir-ahir ini hubungannya dengan chanyeol kian dekat. Bukan kyungsoo menerima perasaan chanyeol, tetapi pria tinggi itu benar-benar mampu membawa kembali suasana pertemanan mereka saat masih sekolah dulu. Tak jarang chsnyeol mengirimkan makan siang untuk kyungsoo, dan terkadang mereka pergi minum cofee bersama sepulang kerja. Chanyeol juga sesekali mengajaknya nonton.
Bukannya kyungsoo melupakan jongin atau apa, ia bahkan merindukan pria itu. Tetapi semenjak kejadian itu, jongin belum pernah sekalipun menghubungi dirinya.
Mungkin kyungsoo tidak tau dan tidak seorang pun tahu, bahwa seseorang sering memperhatikannya dari jauh, dan langsung tersenyum hanya dengan melihat wajah namja mungil itu. Namun adakalanya ia tidak suka melihat kedekatan pria kecilnya dengan mantan suami istrinya..
.
.
.
Siang itu kyungsoo sedang menikmati makan siang bersama teman kantornya. Seperti biasa mereka sering menggoda kyungsoo, meminta kyungsoo untuk mengenalkan kekasihnya. Hal itu wajar karena teman-teman kyungsoo melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Serta beberapa kali chanyeol yang datang menjemputnya, meski chanyeol belum pernah menunjukkan wajahnya dan hanya berada dalam mobil, tapi semua teman-teman kyungsoo sungguh penasaran dan mengira itu adalah kekasih kyungsoo.
'drtt,,, drttt'
"kyung, telpon tuh! Pasti dari pacarmu! " ucap ken, salah satu teman kyungsoo.
"apaan sih! " kyungsoo meraih ponselnya, dan ia melihat nama suaminya tertera di lcdnya. Kyungsoo berdiri kemudian berjalan menjauh dari teman-temannya. Tak peduli mereka yang meneriaki menggodanya.
"yeobseo"
"kamu dimana? "
"aku di kantor, ada apa? "
"aku didepan apartemen kamu kyung, aku ingin tidur"
"huh? " kyungsoo sedikit terkejut dengan kalimat jongin.
"berapa paswordnya? "
"pasword? " kyungsoo masih sedikit bingung.
"iya, pasword apartemen kamu"
Kyungsoo terdiam.
"aku boleh mampir kan? Aku ingin tidur"
"1485"
"thank you"
Kyungsoo tidak tau apa yang dirasakan hatinya saat ini, senang atau takut. Entahlah, tapi pria bermarga kim itu sukses memporak porandakan perasaannya. Lagi.
.
.
.
Kyungsoo pulang dimalam hari, perlahan ia menekan tombol pasword pintu apartemennya hingga berbunyi 'klik' menandakan pintu terbuka. Kyungsoo melangkah masuk, menyalakan saklar utama. Matanya menatap ke seluruh penjuru ruangan, ada yang berbeda. Dan ia baru ingat suaminya siang tadi datang.
Sebuah jaket kulit hitam tertinggal di kursi ruang tamu, dan beberapa bungkus makanan ringan bertengger di meja. Perlahan kyungsoo mengambilnya, membawanya ditangan, sembari membuang sampah yang ada. Ia berjalan kedapur, menemukan sebuah cup ramen kosong diatas meja makan, dan kyungsoo yakin pria tan itu pasti kelaparan tadi siang. Kyungsoo tersenyum sambil membereskan meja makannya. Selanjutnya ia berjalan menuju kamarnya, dan aroma pria itu masih tertinggal menyapa indra penciuman kyungsoo. Aroma maskulin yang khas. Namja kecil itu menemukan sebuah kemeja biru tergeletak diatas ranjangnya yang juga kusut, bantalnya juga tidak lagi tertata seperti pagi hari saat ia pergi bekerja.
Kyungsoo perlahan duduk, menyentuh kasur empuknya. Ia sangat yakin siang tadi jongin berbaring dikasurnya. Kyungsoo merebahkan tubuhnya perlahan dan ia benar benar bisa mencium aroma khas suaminya. Ia menyukainya.
.
.
.
Sejak hari itu jongin sering mampir ke apartemen kyungsoo, bahkan terkadang ia tak meminta izin pada kyungsoo. Meski begitu, kyungsoo tetap tau, karena terkadang pria itu sering meninggalkan barangnya, juga membuat apartemennya sedikit berantakan. Sebab setiap pulang kerja kyungsoo punya pekerjaan baru, ia harus membereskan ulah jongin di apartemennya. Meski lelah tetapi kyungsoo senang.
Suatu malam kyungsoo benar benar lelah, ia ingin segera melempar tubuhnya ke ranjang. Ia mulai berjalan menuju apartemennya. Sambil menikmati pemandangan malam kyungsoo melihat semua toko maupun restoran disepanjang jalan menuju rumahnya. Kemudian sesuatu membuatnya berhenti. Ia menatap ke arah sebuah restoran berbintang dimana chanyeol pernah mengajaknya makan. Tapi kali ini sosok yang ia lihat bukanlah sahabat tingginya itu, melainkan pria berkulit sedikit gelap, suaminya. Jongin duduk dengan baekhyun disana, menikmati dinner mewah, mereka tertawa bahagia. Sesekali baekhyun menyuapkan makanan pada jongin, dan dengan senang pria itu menerimanya.
Hati kyungsoo sakit. Ia meneruskan perjalanannya. Sesampai diapartemen, seperti biasa ia menemukan apartemennya sedikit berantakan. Kyungsoo sungguh penasaran apa yang dilakukan pria itu. Dengan cekatan ia memberesekan semuanya, kemudian segera masuk ke kamarnya, dan lagi ia menemukan kamarnya juga sedikit berantakan. Kyungsoo menemukan sebuah polo diatas ranjangnya dan celana jeans tersanpir di kursi. Kyungsoo sangat lelah malam ini, entah mengapa ia ingin marah. Apalagi ia teringat sesuatu yang dilihatnya beberapa saat lalu.
Kyungsoo melempar tubuhnya keatas ranjang, ia meringkuk, memeluk lututnya. Matanya tiba-tiba memanas dan cairan bening mulai menuruni pipinya. Fikirannya dipenuhi tentang pria bernama kim jongin. Kyungsoo benar-benar merasa pria itu mempermainkannya. Ia merasa dirinya seperti pria simpanan. Bahkan meski jongin sering datang ke apartemennya, sekalipun ia tidak pernah menemui dirinya. lalu saat ini ia bersenang-senang dengan baekhyun. Kyungsoo yakin, jongin memang hanya mencintai sahabatnya, lalu pernikahan ini, memang murni untuk sebuah tujuan. Kalau saja kyungsoo bisa memutar waktu, mungkin ia tidak akan menerima permintaan baekhyun. Tetapi ia sadar ini bukan sepenuhnya salah sahabatnya.
Kyungsoo meraih ponselnya, mencari nama seseorang yang bisa menghibur hatinya saat ini.
"hai chan, apa aku mengganggu? "
"aniya, kenapa? Kamu merindukanku? Tumben telpon? "
"aku sangat lelah hari ini, bisakah kamu menghiburku dengsn leluconmu?"
"aah,,, begitu rupanya,,, arraseo"
Dan malam itu ahirnya kyungsoo bisa tertawa dan sedikit melupakan penatnya tentang kim jongin berkat lelucon sahabatnya meski melalui telepon.
"kyung, ayo pergi nonton besok" ajak chanyeol pelan.
"hm? "
"ada film baru, kelihatannya seru"
"aku selesai kerja sedikit malam besok chan! "
"it's okay, kita bisa nonton yang midnight"
"sungguh tidak apa-apa? "
"it's okay kyung"
.
.
.
Keesokannya kyungsoo benar benar pergi nonton dengan chanyeol sepulang kerja. Sebenarnya beberapa kali jongin menelpon kyungsoo hari itu, tetapi kyungsoo sengaja tidak menjawabnya. Kyungsoo tidak tau jika malam itu jongin datang ke rumahnya. Pria tan itu mondar mandir hawatir mengapa kyungsoo belum pulang.
Kyungsoo pulang saat hampir tengah malam. Ketika ia membuka pintu rumahnya, sesuatu terjadi. Passwordnya salah. Seingat kyungsoo ia sudah benar, kecuali seseorang telah menggantinya. tidak ada yang tau password rumahnya kecuali dia dan,,,,.
Kyungsoo meraih ponselnya untuk memastikan sesuatu.
"yeobseo "
"jongin, kamu mengganti password rumahku? " tanya kyungsoo tanpa basa basi.
"kenapa baru pulang jam segini, kamu darimana? " tanya jongin balik.
"berapa paswordnya? ". Tanya kyungsoo yakin bahwa jongin yang mengganti Passwordnya.
"jawab aku, kamu darimana? "
Kyungsoo menghela nafas, sebal dengan sikap jongin yang sok perhatian menurutnya.
"aku dari kantor, berapa paswordnya? "
"bohong! aku ke kantor tadi, dan petugas bilang, semua karyawan sudah pulang"
"berapa paswordnya, jongin? " alih kyungsoo.
"kamu darimana? "jongin bersikeras.
"aku pergi nonton dengan teman, aku sangat stress, belakangan ini"
"1214".
Kyungsoo langsung menekan tombolnya, dan berbunyi 'klik' tanda pintu terbuka. Bersamaan dengan itu kyungsoo memutus sambungan telponnya.
.
.
.
Pagi ini minggu, kyungsoo tidak berencana kemanapun. Ia ingin membersihkan apartemennya lalu beristirahat saja. Sekitar sore, ia menyelesaikan semua pekerjaannya, kemudian ia membersihkan diri dan bersantai sambil menonton televisi.
Tak lama, ia mendengar sesuatu diluar pintu rumahnya, bersamaan dengan itu, jongin menelponnya. Kyungsoo bisa menebak pria itu mungkin sedang berada dibalik pintu itu, mencoba untuk masuk. Tapi sayang kyungsoo sudah mengganti Passwordnya.
Kyungsoo lagi lagi sengaja tidak menjawab telepon jongin. Entah mengapa ia masih belum bisa melihat lelaki itu saat ini. Mengabaikan telepon dari jongin, kyungsoo kembali melanjutkan menonton televisi.
1 jam berlalu, kyungsoo kembali mengecek ponselnya. Dan sekitar sepuluh pesan masuk dari jongin. Dan beberapa panggilan tidak terjawab.
16.05
'soo, aku datang kerumahmu, tapi paswordnya kamu ganti, boleh aku tau? '
16.15
'soo, tolong angkat telponku'
16.17
'soo, kamu dirumah? Atau kamu sedang keluar? '
16.25
'aku menunggu di depan rumahmu, soo'
16.39
'soo, maaf jika kemarin aku lancang mengganti Passwordnya '
16.50
'kyungsoo,,, '
16.57
'soo,,, '
17.03
'aku diluar, tolong buka pintunya, aku tau kamu didalam'
17.15
'soo, kita harus bicara, aku tidak akan pulang, aku akan terus menunggu sampai kamu membuka pintu'
17.20
'aku menunggu soo'
Kyungsoo menguatkan hatinya, ia bertekad untuk membangun pertahanan dirinya agar tidak larut dalam permainan hati jongin. Sungguh, sebenarnya kyungsoo bukan orang yang tega membiarkan orang lain menunggunya. Ia bergegas menuju kekamarnya, merebahkan tubuhnya diranjang, lalu menutupi dirinya dengan selimut. Kyungsoo bersenandung agar lekas tidur.
Namja kecil itu terbangun, merasakan perutnya meronta-ronta. Ia teringat tadi sore belum sempat makan. Kyungsoo meraih ponselnya dengan malas, melihat jam digital yang menunjukkan pukul 9.00 pm. Ia juga menemukan beberapa pesan dari jongin. Sungguh kyungsoo berharap pria itu sudah pulang. Kyungsoo membuka pesannya.
17.50
'soo,,, '
18.10
'aku masih diluar'
18.45
'aku menungggu'
19.30
'aku masih menunggu'
20.12
'aku didepan pintu'
20.54
'aku menunggu'
Seketika kyungsoo melompat dari ranjang. Pikiran dan hatinya tidak sejalan lagi. Ia sungguh tidak tega membiarkan jongin menunggu lagi, meski ia masih sulit menerima perilaku pria itu.
Kyungsoo membuka pintunya. Ia menemukan jongin duduk kedingiban disana. Namja tan itu tersenyum melihat kyungsoo. Bibirnya sedikit membiru karena terlalu lama berada pada udara yang dingin.
Jongin berdiri perlahan, ia menatap kyungsoo. Sungguh namja kecil dihadapannya ini sangat menggemaskan. Wajahnya begitu polos seperti anak kecil, ditambah penampilan rambut hitamnya yang berantakan khas orang bangun tidur.
"m-maaf, aku baru bangun tidur" ucap kyubgsoo lirih.
Jongin mengangguk pelan. "boleh aku masuk? "
Dan kyungsoo memberikan jalan untuk pria itu agar masuk ke dalam.
"ada apa,,, kesini? " tanya kyungsoo ragu.
"tidak apa apa, aku ingin menonton film".
Aku sangat merindukanmu, soo.
"baiklah, silahkan menonton, aku ada pekerjaan kantor yang harus ku selesaikan"
"oke! ".
Tidak bisakah kamu menonton denganku ,soo.
Kyungsoo melangkah ke kamarnya. Sesungguhnya ia mengharapkan jawaban lebih dari itu. Namun, apa yang dikatakan jongin, semakin membuat kyungsoo yakin, semua ini hanya permainan, bukan ketulusan.
Kyungsoo keluar dari kamar dua jam kemudian. Ia masih menemukan jongin duduk sambil menonton film dengan beberapa snack di tangannya. Kyungsoo melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 23.30.
"kamu tidak pulang, baekhyun pasti sedang menunggumu, pulanglah! " ucap kyungsoo sambil berjalan menuju dapur.
Jongin menghentikan filmnya. Ia menatap bahu sempit lelaki yang saat ini berdiri di depan counter di dapur.
"kamu mengusirku? kamu tidak suka aku disini?, ada apa denganmu soo, kamu seolah menghindariku, ?" jongin berucap dengan nada sedikit tinggi.
Kyungsoo terdiam, ia berhenti mengiris bawang ditangannya. Air matanya mulai mengalir.
"apa aku untukmu jongin? " ucap kyungsoo berat.
"tolong, jangan seperti ini, , , karena aku takut, , , aku takut terluka nantinya" lanjut kyungsoo bergetar.
"jadi kamu fikir, aku hanya mempermainkan kamu?" tanggap jongin serius, kali ini pria itu berdiri dari posisinya.
"soo, demi tuhan, aku tidak pernah sekalipun punya niat seperti itu padamu. Jika kamu merasa kesulitan, kamu bukan satu-satunya, aku jauh lebih sulit menghadapi semua ini"
"aku tidak tau bagaimana caranya mengatasi rasa rinduku padamu, mungkin ini gila, tapi memang aku merindukanmu setiap hari, aku ingin selalu melihat wajahmu, melihat senyummu, kamu tau betapa sulitnya aku menahan itu semua, aku harus berpura-pura dihadapan baekhyun, aku tidak ingin menyakitinya, tapi justru aku menyakitimu, ini pilihan yang sulit untukku soo, " lanjut jongin mulai menumpahkan semua isi hatinya yang selama ini terpendam.
"lalu aku melihatmu tersenyum didepan pria lain, pergi minum bersama, nonton bersama, kamu fikir aku tidak cemburu? Aku sangat ingin melakukannya juga, aku bahkan tidak tau alasan apa yang membawaku datang kesini, aku hanya merindukanmu, sungguh, , ,
aku tidak punya alasan lain, soo, , , "
Jongin perlahan mendekati namja kecil itu, membalik tubuhnya agar menghadap dirinya. Kyungsoo menunduk, berurai airmata, dan jongin melihatnya untuk pertama kali. Ia semakin merasa bersalah.
Ia meraih dagu kyungsoo, menyeka air matanya, sementara kyungsoo terus menunduk. Jongin mendekatkan wajahnya, berusaha meraih bibir kyungsoo dengan bibirnya, tapi kali ini kyungsoo justru memalingkan wajahnya. Jongin mencoba lagi, tetapi namja kecil itu menghindar lagi.
"let me kiss you, soo" pinta jongin pelan.
Kyungsoo tetap diam dan masih belum menatap jongin, seolah ia membetikan jawaban 'tidak' dalam diamnya.
Jongin menangkup kedua pipi kyungsoo, memaksa pria itu menatapnya.
" i love you , " jongin tegas berucap.
Kali ini pria itu dengan cepat meraih bibir kyungsoo dengan bibirnya. Si pria kecil mencoba untuk menolak, namun ia kalah cepat, bibirnya sudah berada dalam lumatan bibir yang lain.
Kyungsoo mencoba melepaskan diri dari jongin, ia memukul mukul lengan pria itu. Tetapi jongin terlalu kuat, dan pria itu justru memeluknya erat. Kyungsoo menangis, bukan karena sedih, tapi karena ia tahu, sekali lagi kim jongin berhasil membuat hatinya luluh.
Jongin merasa kyungsoo sudah berhenti melawan. Maka dengan perlahan jongin membawa kedua kaki pria itu melingkar padanya, lalu membawa kyungsoo ke kamarnya. Jongin mendudukkan kyungsoo diranjangnya sambil melepas ciuman panjang mereka. Ia menyeka air mata kyungsoo, begitu juga dengan saliva yang tertinggal di sudut bibir berbentuk hati itu.
"izinkan aku menginap disini malam ini" pinta jongin lembut. Kyungsoo tidak bergeming, ia justru merebahkan tubuhnya diatas ranjang sambil menarik selimutnya.
Jongin mengambil posisi yang sama, kini keduanya saling berhadapan. Jongin sesekali memainkan rambut halus kyungsoo, jemarinya menelusuri setiap inchi wajah istrinya. Sementara kyungsoo sendiri tidak merespon sama sekali. Ia hanya diam sambil memejamkan matanya.
Kyungsoo dapat merasakan bahwa tangan jongin mulai menelusup masuk dibawah kaosnya. Memberi sentuhan pada kulit pinggang kyungsoo. Perlahan kyungsoo membuka matanya.
" please don't, i'm not ready" ucap kyungsoo lirih. Dan jongin menarik tangannya perlahan. Kemudian ia menarik selimut hingga menutupi tubuh kyungsoo sampai batas dada, membawa pria kecil itu kedalam pelukannya lalu mendaratkan sebuah ciuman sayang pada puncak kepala kyungsoo.
Sebenarnya kyungsoo belum tidur ketika jongin terbangun karena ponselnya berdering. Jongin menjawab telponnya. Dan itu baekhyun.
"maaf baek, sepertinya aku tidak pulang malam ini, aku lembur di kantor"
Bahkan jongin berbohong. Ia tak bisa mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya pada baekhyun, karena pria itu takut menyakiti perasaannya. Namun tanpa sadar ulahnya telah menyakiti hati yang lain. Sekarang semua jelas bagi kyungsoo.
Sesaat kemudian, setelah menutup telepon dari baekhyun, jongin menerima sebuah pesan dan itu dari ayahnya.
'appa tidak mau tahu, pertemuan berikutnya baekhyun harus mengumumkan bahwa dia hamil, kamu tau apa yang seharusnya kamu lakukan bukan? Kyungsoo harus hamil'
Jongin memijat pelipisnya pelan sembari menatap kyungsoo yang tengah tidur diatas ranjang.
.
.
.
Dilain tempat, , ,
Chanyeol sempat mengucapkan sumpah serapahnya ketika bunyi ponselnya sendiri membangunkan ia dari tidur.
"yeobseo "
"selamat malam tuan park, saya dari rumah sakit seoul, "
"hm "
"saya mau memberikan hasil tes DNA tuan"
Chanyeol seketika terbangun 100%.
"bagaimana hasilnya?
"negatif"
Chanyeol menghela nafas kecewa. "baiklah, terimakasih "
Kini pria tinggi itu termenung, menatap kosong langit langit kamarnya.
'Tinggal dua lagi, jebal,,, please don't him'
.
.
.
TBC
NOTE: KALAU DISURUH PILIH KALIAN SUKA YANG MANA?
JONGIN PLAYBOY SUKA MENGGODA
JONGIN SOMBONG DAN DINGIN
waduhhh! Gak kerasa nulis panjang! Sorry kalo banyak typos,,,
See you next chapter!
JANGAN LUPA REVIEW YA!
