Chapter 6

"Pagi hyuuuuung."

Begitu Taeyong turun dari kamarnya di lantai 2 dan berjalan memasuki ruang makan, sapaan riang Jaehyun langsung terdengar.

"Tumben sudah bangun, Jae." Taeyong berkata sambil menguap lebar.

Jaehyun hanya cengengesan. Mulutnya masih terus mengunyah.

Taeyong membuka lemari di dekat dispenser yang biasanya berisi cemilan-cemilan miliknya dan Jaehyun. Badannya membungkuk, lengannya mengaduk-aduk berbagai macam snack di dalam sana, terlihat mencari-cari sesuatu.

"Hyung cari apa? Kalau lapar, tunggu saja sebentar lagi. Bibi masih masak nasi goreng."

"Aku cuma mau minum susu sama oreo." Taeyong menjawab tanpa membalikkan badannya. Masih sibuk mencari.

Jaehyun gelagapan. "Hah? Oreo? Yang krim cokelat?"

"Iya."

"Sudah aku makan."

"KENAPA KAU MENGHABISKAN SNACK-KU?" Taeyong langsung membalikkan badannya begitu mendengar jawaban Jaehyun. Kedua mata cokelat gelapnya yang biasanya terlihat lembut dan cantik kini terlihat tajam, dingin, dan mengerikan.

"Eh? Tidak kuhabiskan kok, hyung. Ini, masih ada sisa satu." Jaehyun nyengir tanpa dosa.

Taeyong menghembuskan napas kesal. Lalu berjalan menuju dapur sambil menghentakkan kakinya. Setelah meraih sebotol susu cokelat dari dalam lemari pendingin, Taeyong pun cepat-cepat berjalan lagi melewati Jaehyun yang hanya menatap Taeyong dengan geli.

Jaehyun mengikuti Taeyong naik tangga ke lantai 2, dan tepat sebelum Taeyong masuk lagi ke dalam kamarnya, Jaehyun menahan lengan Taeyong. "Ini hyung, oreo nya masih ada satu lagi. Nih." Bukannya memberikan oreo itu pada Taeyong dengan menggunakan tangannya, Jaehyun malah menyelipkannya di mulutnya sendiri lalu mendekatkannya ke wajah Taeyong, seolah-olah ingin (dia memang ingin sih, dan berharap) Taeyong akan memakan oreo itu. Peppero kiss sudah terlalu pasaran, dan kemungkinan "kiss" nya kecil sekali karena peppero itu lumayan panjang, sedangkan Oreo sekali gigit saja pasti bibir mereka bisa langsung saling bersentuhan, meskipun hanya sekilas.

Entah apa yang merasuki Jaehyun saat ini. Otak mesumnya? Mungkin. Atau memang ia sedang ingin mengerjai Taeyong saja.

"Sialan kau Jung! Lain kali aku akan menaruh semua persediaan snack ku di dalam kamar!" Taeyong berteriak setelah menepis sebelah tangan Jaehyun yang memegang lengan atas Taeyong, lalu langsung membanting pintu kamarnya tepat di depan wajah Jaehyun.

Jaehyun terkekeh senang. Menggoda dan mengerjai Taeyong selalu bisa membuat mood nya membaik.

"Cepat pakai seragam dan sarapan nasi goreng, hyung! Aku sudah bangun pagi-pagi sekali agar bisa menyetir dengan tenang. Aku tidak mau hyung muntah lagi seperti kemarin gara-gara aku kebut-kebutan." Jaehyun mengetuk pintu kamar Taeyong pelan.

"Aku tidak mau sarapan!" Jawaban Taeyong masih terdengar ketus.

Jaehyun menghembuskan napas panjang. Ternyata saat hyung nya berkata ingin makan oreo dan susu, ya hanya itulah yang akan ia jadikan sebagai sarapan. Memangnya Jaehyun, yang setelah menghabiskan sebungkus oreo (milik Taeyong) dan sekaleng pringles (miliknya) masih juga akan menyantap sepiring penuh nasi goreng?!

"Hyung makan choco pie punyaku saja ya?" Jaehyun berusaha membujuk Taeyong.

"Tidak mau!"

"Hyung bisa ambil snickers dan hershey's kisses punyaku juga."

"Tidak mau!"

"Hyuuuuung ~~~~"

"Berisik!"

Jaehyun menundukkan kepalanya dengan sedih. Akhirnya, dengan langkah gontai, ia pun berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ransel. Nafsu makannya hilang.

.

.

Selama di perjalanan menuju sekolah, sama sekali tak ada percakapan di antara Jaehyun dan Taeyong. Taeyong melirik Jaehyun yang sedang konsentrasi menyetir sekilas sambil menggigit bibir bawahnya. 'Apa aku keterlaluan?' Pikir Taeyong. Mood Taeyong memang buruk sejak ia bangun tadi pagi. Salahkan mimpi buruknya! Ia jadi merasa bersalah pada Jaehyun karena menumpahkan mood buruknya begitu saja, bertingkah layaknya anak kecil. Masa hanya gara-gara sebungkus oreo, ia jadi marah-marah tidak jelas?!

Dari waktu ke waktu, Taeyong terus curi-curi pandang ke arah Jaehyun. Jaehyun sepertinya tidak menyadarinya karena terlalu fokus menyetir.

Dulu, saat mereka masih kecil, posisi mereka terbalik. Taeyong tidak pernah uring-uringan tidak jelas seperti ini pada Jaehyun. Taeyong lah yang selalu sabar menghadapi sikap manja Jaehyun. Tapi sekarang, kenapa Taeyong tidak bisa bersikap dewasa? Malah kekanakkan seperti ini!

Mungkin memang sudah seharusnya sejak dulu Taeyong tidak usah sok dewasa, sok jadi kakak. Nikmati masa kanak-kanak seperti anak-anak, dan nikmati masa remaja seperti para remaja. Bukannya terbalik. Saat masih kecil, Taeyong bersikap sok dewasa, tapi saat remaja ia malah bersikap layaknya anak kecil.

Taeyong menghembuskan napas lelah. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia bersikap seperti ini di hadapan Jaehyun. Ya, ia memang "kakak" bagi Jaehyun, tapi entah kenapa setelah beranjak remaja ia selalu ingin menjadi yang diperhatikan, disayangi, dan dimanja.

"Kenapa berhenti, Jae?" Taeyong heran melihat Jaehyun menepikan mobilnya di pinggir jalan. Pikiran-pikiran negatif langsung memenuhi benak Taeyong. 'Bagaimana kalau Jaehyun menurunkanku di sini? Aku tidak tahu jalan! Bagaimana kalau dia meninggalkanku di tengah jalan?!' Taeyong panik. Atau, mungkin dia hanya terlalu banyak nonton drama!

"Tunggu sebentar ya, hyung." Jaehyun tersenyum tipis sebelum membuka pintu mobil dan melangkah ke luar. Taeyong bernapas lega. Ia pikir Jaehyun akan menyuruhnya ke luar dan pergi saja sendiri ke sekolah!

Taeyong mengamati Jaehyun yang berlari kecil ke mini market. "Jaehyun mau beli apa?"

Selama menunggu Jaehyun, Taeyong mengecek ponselnya. Ini masih pagi, tapi ponselnya sudah dibanjiri puluhan pesan, kebanyakan hanya chat-chat iseng dari Johnny. Taeyong tersenyum sambil membalas pesan Johnny yang konyol. Menurutnya, Johnny itu lucu, tukang lawak, yaa meskipun sering membuatnya risih juga karena godaan-godaannya yang frontal dan memalukan. Taeyong tahu pria seperti Johnny tidak pernah serius, jadi ia pun hanya menanggapinya sebagai candaan saja. Sebagai selingan.

Semenjak putus dari cinta pertamanya, Park Chan Yeol, Taeyong belum naksir siapapun lagi. Iya sih, memang banyak pria yang menyatakan perasaan padanya, tapi ia masih belum siap untuk membuka hatinya. Ia masih belum bisa memercayakan hatinya pada siapapun. Ia takut dikecewakan lagi.

Taeyong bukanlah seseorang yang ahli dalam hal percintaan. Saat masih berstatus sebagai pacar Chanyeol pun, Taeyong terlalu lugu. Karena itulah, dengan mudahnya ia bisa ditipu dan dikhianati.

Taeyong masih belum bisa merasakan perhatian-perhatian dan kasih sayang yang "tersirat", maupun kebohongan-kebohongan dan pengkhianatan yang juga "tersirat".

Taeyong masih belum bisa membedakan mana kasih sayang yang sungguh-sungguh, dan mana yang hanya pura-pura. Siapa yang benar-benar menyayanginya, dan siapa yang hanya memanfaatkannya demi popularitas atau nafsu belaka, Taeyong tidak tahu.

Taeyong hanya ingin diperhatikan, didengar, dan dilindungi.

Ia ingin seseorang yang selalu ada untuknya, meskipun pada kenyataannya ia tidaklah se-sempurna yang orang lain bayangkan.

Dulu Taeyong berpikir Chanyeol akan selalu ada untuknya, selalu menjaganya, selalu menyayanginya, dan selalu setia padanya. Siapa yang mengira, ternyata perasaan seseorang bisa berubah?! Atau tidak berubah? Mungkin sejak dulu… Taeyong nya saja yang terlalu banyak berharap. Semuanya hanya ilusi belaka. Chanyeol tidak pernah benar-benar mencintainya!

Taeyong masih mencintai Chanyeol. Tapi ia masih waras untuk tidak kembali pada Chanyeol. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia tidak ingin kembali pada orang yang telah mengkhianatinya! Seperti yang sudah Taeyong katakan sebelumnya, ia tidak bisa memaafkan pengkhianat! Para pengkhianat hanya akan membuka luka lama di hatinya, mengingatkannya pada masa lalunya yang menyakitkan, pada ibu kandungnya yang meninggalkannya begitu saja setelah mengkhianati ayahnya.

Tanpa sadar, Taeyong menitikkan air mata. Ia terlalu banyak melamun, sehingga ia pun tidak tahu Jaehyun sudah kembali.

"Hyung, kau kenapa?" Jaehyun terdengar panik sekali.

"Eh?" Taeyong akhirnya tersadar dan menatap Jaehyun dengan bingung.

Kedua alis mata tebal Jaehyun bertautan. Ia menangkup pipi Taeyong dengan kedua tangannya yang besar dan hangat, perlahan menghapus air mata yang mengalir di wajah Taeyong dengan menggunakan ibu jarinya.

"Hyung, maafkan aku…" Lirih Jaehyun. "Hyung pasti kesal padaku ya? Maafkan aku, hyung…."

Taeyong terkejut saat Jaehyun menariknya ke dalam pelukan. Jaehyun membenamkan wajahnya di pundak Taeyong, kedua lengannya melingkari tubuh kurus Taeyong dengan erat, terlalu erat malah.

Taeyong terkekeh sambil menepuk-nepuk punggung Jaehyun. "Aku tidak kesal padamu, Jae."

"Tapi hyung menangis…"

"Aku malah tidak sadar kalau aku nangis, Jae. Aku hanya sedang melamun…. mengingat masa lalu…"

Jaehyun memeluk Taeyong semakin erat, membuat Taeyong sesak.

Untungnya, sebelum Taeyong kehabisan napas, Jaehyun melonggarkan pelukannya. Jaehyun menatap Taeyong lekat-lekat, seolah berusaha membaca apa yang ada di dalam pikiran Taeyong saat ini.

Taeyong yang ditatap terlalu intens oleh Jaehyun, jadi salah tingkah. Entah mengapa ia merasa tatapan Jaehyun sedikit berbeda dari biasanya. Ada sesuatu yang berbeda, tapi Taeyong tak tahu apa itu.

Jaehyun mengusap pipi Taeyong lagi dengan lembut dan hati-hati, seolah-olah ia takut sentuhannya akan menyakiti Taeyong.

"Hyung masih sering memikirkan mantan hyung ya?" Jaehyun terdengar sedih.

Taeyong tidak langsung menjawab. Ia menatap Jaehyun selama beberapa saat, tidak mengerti mengapa Jaehyun terlihat menderita, jauh lebih menderita dibanding Taeyong sendiri yang merasakan bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang paling ia percayai dan paling ia cintai di dunia ini.

Taeyong mengangguk pelan, tapi kemudian menggeleng. "Aku tiba-tiba ingat ibuku juga…."

Jaehyun menarik Taeyong mendekat lagi, memeluknya sambil mengusap-usap rambut cokelat gelapnya yang halus.

"Aku tidak ingin melihat hyung sedih lagi. Aku tahu, aku sering membuat hyung tambah sedih dengan sikapku yang menyebalkan. Maafkan aku hyung…"

Taeyong terkekeh. "Aku tidak sedih karenamu, Jae. Sungguh."

"Aku tidak akan pernah meninggalkan hyung. Aku janji." Bisikan Jaehyun anehnya bisa membuat Taeyong tersenyum lebar. Hatinya terasa ringan dan hangat.

Taeyong mengelus punggung Jaehyun penuh sayang. Seperti yang selalu ia lakukan saat mereka masih kecil dulu, saat Jaehyun menangis karena keinginannya tidak dipenuhi oleh ayahnya.

Padahal saat ini yang sedang sedih kan Taeyong, tapi kenapa malah Taeyong yang menghibur Jaehyun?

Entahlah. Tapi Taeyong merasa Jaehyun terdengar sangat sedih. Lebih sedih daripada dirinya sendiri. Aneh memang. Taeyong tidak mengerti.

Setelah beberapa saat berpelukan, Jaehyun menarik dirinya menjauh perlahan. "Hyung, ini untuk hyung." Jaehyun meletakkan kantung plastik berisi 20 bungkus oreo dengan berbagai macam rasa di pangkuan Taeyong.

"Maaf, tadi aku menghabiskan oreo hyung."

Taeyong terkekeh, lalu mencubit pipi Jaehyun dengan gemas. "Kenapa beli banyak sekali, Jae?"

"Untuk persediaan. Dan sepertinya itu malah belum cukup hyung. Aku masih merasa bersalah."

"Ya ampun Jae…." Kali ini giliran Taeyong lah yang menarik Jaehyun ke dalam pelukan. "Aku tidak marah padamu. Aku hanya sedang bad mood, makanya uring-uringan hanya karena masalah sepele seperti oreo. Makananku… makananmu juga, Jae. Kau boleh makan semua snack ku, jangan khawatir, aku tidak akan marah-marah lagi. Maafkan aku ya, Jae…"

"Hyuuung…" Jaehyun yang merasa terharu, langsung membenamkan wajahnya di leher Taeyong, membuat Taeyong terkekeh geli.

"Sudah-sudah, ayo kita jalan lagi. Bisa-bisa kita terlambat, Jae."

Jaehyun mengangguk setelah Taeyong melepaskan pelukannya. "Hyung makan oreo nya ya."

"Hmmm." Taeyong mengangguk riang sambil nyengir lebar.

Jaehyun mulai menyetir. Taeyong membuka satu bungkus oreo, memakannya dengan lahap, dan… tak lupa ia juga menyuapi Jaehyun.

"Rasanya lebih enak daripada yang tadi pagi aku makan hyung, soalnya hyung menyuapiku sih. Hehehe."

Taeyong tertawa. Kalau Jaehyun sudah bisa bercanda seperti ini lagi, itu tandanya semuanya baik-baik saja di antara mereka. No hard feelings.

.

.

.

Saat tiba di parkiran sekolah, sebelum melepaskan sabuk pengaman, Jaehyun tiba-tiba mengatakan sesuatu yang mengejutkan. "Nanti sore hyung mau melihatku latihan basket tidak? Agar aku lebih semangat latihannya. Hehehe."

Mata Taeyong membulat lebar, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Jaehyun memintanya menonton latihan basket?! Tumben! Biasanya Jaehyun berusaha keras membuat Taeyong menjauh dari lapangan!

Jaehyun masih tersenyum sambil menatap manik mata Taeyong yang terlihat sangat cantik, menunggu jawaban.

Jaehyun sudah memutuskan, mulai saat ini, ia akan berusaha berhenti bersikap kekanakan. Ia akan lebih memercayai Taeyong. Ia tidak akan melarang Taeyong ini itu lagi. Ia ingin melakukan apapun yang bisa membuat Taeyong bahagia.

Taeyong pernah bilang, ia senang melihat Jaehyun bermain basket. Maka Jaehyun akan membiarkan Tayeong melihanya, meskipun ada konsekuensi yang harus Jaehyun tanggung seperti siulan-siulan jahil Johnny dan lirikan-lirikan mata menyebalkan yang teman-teman klub basketnya layangkan pada Taeyong.

Mulut Taeyong terbuka sedikit. Jaehyun terkekeh karena Taeyong terlihat sangat menggemaskan.

"Sungguh, Jae? Aku boleh melihatmu latihan?"

Jaehyun mengangguk. "Hmmm. Sekalian ajak Doyoung juga boleh." Jaehyun tidak tahu apakah Doyoung sudah berhenti naksir dirinya dan kini malah jadi naksir Taeyong atau tidak. Tapi yang pasti, keberadaan Doyoung di samping Taeyong jauh lebih baik daripada membiarkan Taeyong datang sendiri ke "sarang buaya". Banyak "buaya-buaya" ganas yang lebih ganas daripada Johnny di klub basket, hanya saja mereka pandai memanipulasi, tidak terang-terangan seperti Johnny.

Doyoung itu sangat sassy dan berani. Dia bisa melindungi Taeyong dari para "buaya" saat Jaehyun tidak bisa melindungi Taeyong.

Hey! Bukan berarti Jaehyun rela berbagi Taeyong dengan Doyoung. Hanya saja, ia percaya pada Doyoung. Kalau Doyoung memang ternyata kini jadi naksir Taeyong, yaa tidak masalah. Doyoung itu, selama naksir Jaehyun pun… paling hanya melakukan hal-hal konyol dan ingin diperhatikan. Jaehyun juga tahu, Doyoung tidak pernah benar-benar menyukainya, hanya naksir. Lalu kini, kalau memang benar Doyoung naksir Taeyong, atau malah menyukainya, lebih parah mungkin malah mencintainya, yaaa tidak masalah juga sih. Masalahnya hanya satu, saingan Jaehyun jadi bertambah.

Bagi Jaehyun, itu sih sudah biasa. Yang paling penting, bagaimana perasaan Taeyong. Jaehyun akan terus berjuang agar Taeyong balas menyukainya, lebih dari rasa suka seorang kakak kepada adiknya.

"Jae, kalau kau hanya ingin Doyoung menontonmu latihan, langsung saja bilang ke orangnya! Jangan melalui aku!"

"Eh?" Jaehyun bingung. Kenapa Taeyong terdengar ketus?

Sebelum Jaehyun sempat menjelaskan apapun, Taeyong sudah keluar dari dalam mobil dan berlari meninggalkan Jaehyun yang hanya bisa bengong seperti orang bego.

"Taeyong hyung kenapa? Apa salahku?" Jaehyun mengacak-acak rambutnya, frustrasi.

Baru saja beberapa menit yang lalu mereka baikan, masa sudah marahan lagi sih?!

.

.

.

Setibanya di kelas, Taeyong langsung duduk dengan kesal. Dia juga bingung kenapa ia merasa begitu kesal saat Jaehyun menyebut nama Doyoung!

Ponselnya bergetar. Bel masuk masih lama, masih 20 menitan lagi. Kelas masih sepi. Kebanyakan teman sekelas Taeyong lebih suka datang saat menit-menit terakhir.

Taeyong mengecek ponselnya. Ia pikir, paling juga Johnny yang mengiriminya candaan konyol lagi. Atau Jisung, yang mengoceh tentang dance, atau Haechan yang mengoceh tentang Mark, atau Renjun yang mengoceh tentang moomin, atau…. mungkin juga hanya pesan-pesan iseng yang dikirim oleh teman-teman sekelasnya, atau anak kelas lain yang katanya mengagumi Taeyong. Semua itu sudah biasa baginya. Ia juga tidak terlalu menanggapinya dengan serius.

Tapi kali ini berbeda. Meskipun nomor yang muncul di layar ponsel nya kini adalah nomor yang asing baginya, Taeyong tidak bisa mengabaikan pesan ini begitu saja!

Taeyongie, ini aku. Akhirnya aku bisa dapat nomor ponselmu. Kudengar kau pindah ke Seoul? Aku benar-benar menyesal, Taeyongie. Kumohon…, maafkan aku. Aku masih ingin bersamamu. Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja. Aku akan pergi ke Korea secepat mungkin! Aku akan mengejarmu ke manapun kau pergi, bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun! Aku tidak akan menyerah. – Park Chan Yeol -

Napas Taeyong tercekat. Ya Tuhan!

Tangan Taeyong bergetar saat memasukkan ponselnya ke dalam tas. Cepat-cepat ia bangkit berdiri dan berlari ke kelas Jaehyun.

Untungnya, Jaehyun juga sepertinya berniat mengunjungi Taeyong, jadi mereka bisa bertemu lebih cepat di dekat kelas Taeyong.

"Jaehyunnie!" Taeyong langsung menghambur ke pelukan Jaehyun.

"Hyung kenapa?" Jaehyun jadi semakin cemas karena kini tubuh Taeyong menggigil.

Jaehyun melingkarkan lengan kokohnya di tubuh Taeyong. Melindunginya. Menenangkannya.

"Ch-Chanyeol hyung me-mengirimiku pesan. Dia akan datang kemari, Jaehyunnie…."

"APA?!"

Taeyong meremas baju Jaehyun sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jaehyun. "Aku tidak mau bertemu dengannya! Apa aku harus pindah lagi? Ke mana? Apa sebaiknya aku pindah ke Jepang, ke rumah paman dan bibi di Tokyo? Atau tinggal sendir saja di rumah almarhum kakek dan nenek di Kyoto? Tidak ada yang bisa menemukanku di desa! Aku akan hidup dengan tenang, dan… dan…"

"Ssshhh, hyung, tenanglah…" Jaehyun berusaha menenangkan Taeyong sambil mengusap-usap punggungnya dan mengecupi kepalanya dengan lembut, tidak peduli kalau saat ini mereka sedang berdiri di koridor sekolah, dan ada beberapa anak yang melihat mereka.

"Coba mana ponselmu, hyung?"

"Di.. di tas ku."

Jaehyun menuntun Taeyong berjalan ke kelasnya.

Kening Jaehyun berkerut. Bingung. "Ini kode nomor Korea Selatan, hyung. Di pesan tertulis : Aku akan pergi ke Korea secepat mungkin! Tapi ini kode nomor ponsel Korea, bukan USA. Ada dua kemungkinan. Bisa jadi dia sudah ada di sini, atau… mungkin ini orang lain, bukan Chanyeol."

"Ba-bagaimana kalau dia sudah ada di sini, Jaehyunnie?" Mata Taeyong berkaca-kaca.

"Tenang saja, hyung. Kalau dia ada di sini, aku akan melindungimu. Kau percaya padaku kan?" Jaehyun berkata dengan lembut sambil menatap Taeyong lekat-lekat.

Taeyong mengangguk.

.

Tanpa sepengetahuan mereka berdua, ada dua pasang mata yang sejak tadi mengawasi mereka.

"Sialan! Rencana si Oppa gagal total kan! Dia bilang kalau kita mengirimi pesan palsu ini… Taeyong akan langsung lari, pergi ke tempat yang jauh. Jauh-jauh dari Jaehyun. Apaan?! Nyatanya… malah Jaehyun jadi semakin melindunginya!" Seorang gadis berambut merah dengan eyeliner tebal menggerutu dengan kesal.

"Kita harus cari cara lain. Atau… datangkan saja sekalian mantan si gigolo itu kemari?" Pria berwajah cantik dengan rambut lurus se-bahu menggumam pelan.

"Pikirkan cara yang oke, idiot! Jangan ikut-ikutan cara bodoh si Oppa!" Tukas si gadis rambut merah dengan kesal. Ia makin kesal karena kini ia melihat Jaehyun – pemuda yang ia sukai sejak setahun yang lalu – malah berpelukan dengan Taeyong – murid baru kelas 12 yang sangat mengesalkan – di dalam kelas!