Amelo : Halo. Kembali dengan ff yg gaje ini dan rated telah naik. Yeay! /plak. Akhirnya amel ngupdate juga. amel ada pertanyaan. Mau langsung ke klimaks/? Dan ending, atau masih dipanjang-panjangin dulu? Semua tergantung reader yg mereview.
A/N : cerita ini buatan "Sakamaki Ama-chan". Amel Cuma ngambil beberapa chapter, dan ide cerita. Tapi, khusus chapter ini Amel bikin ndiri. Tapi tetap ngikutin alur buatan Ama-chan. Yosh! Selamat mengikuti!
.
.
.
.
.
.
My Imouto
Don't like don't read
Disclaimer : chara bukan punya saya. Ide juga bukan punya saya. Saya Cuma lanjutin saja.
Rated : M
Warning : Akashi disini mungkin sangat ooc, typo, GaJe, alurnya ga jelas, abal, OOC, amel gabisa bikin chara POV, dll
CHAP 7
Suram. Yah sangat suram. Pelajaran IPA yang diisi Toshi-sensei sangat suram. Harusnya para murid sangat bahagia karna jam pelajaran yang paling ditunggu telah tiba. Tapi semua berubah karena aura suram yang muncul dari ketua kelas. Aura itu menyebar keseluruh ruangan. Membuat semuanya bergidik, bahkan Toshi-sensei pun hanya diam. Tak berani berbicara. Siapa lagi yang bisa membuat aura seperti itu kalau bukan Raja besar Akashi Seijuuro. Apa yang membuatnya marah seperti ini? Kita intip pagi harinya.
Flashback
[ 14 Februari, 20xx. Pukul 05.30. Mansion Akashi ]
Yap! Bisa dibilang lumayan pagi. Tapi, Akashi Seijuuro sudah bangun. Ia pun turun untuk meminum sesuatu yang dingin. Walaupun ia tau sebenarnya tak baik minum yang dingin setelah bangun tidur. Apalagi pagi hari. Ia pun berjalan kedapur dan menemukan dapur yang terang.
"Siapa yang memasak jam segini?" batin Akashi. Ia pun mengintip dari balik dinding. Dan menemukan Akashi Akiko, yang sedang membungkus cokelat yang lumayan besar. Akiko tampak senang saat cokelat itu sudah selesai dibungkus.
"Aku akan memberikan cokelat itu untuk dia." Senyum Akiko pun melebar. Dalam hati Akashi berdebar, bingung dan marah.
'Ia akan memberikan itu ke siapa?' batin Akashi dalam hati. Akiko pun memasukan cokelat yang lumayan besar itupun kedalam tas kertas kecil berwarna cokelat namun ada hiasan pink. Kemudian ia pun berjalan kearah dinding yang ada Akashinya.
Akashi pun berlari tanpa suara kearah tangga, dan memposisikan dirinya seperti habis turun dari tangga. Akiko pun mengintip untuk melihat diluar dapur.
'Yosh! Tak ada orang!' batinnya. Ia pun keluar dapur namun tas kecil berisi cokelat itupun tetap ia taruh dibelakangnya.
"Kenapa mengendap-ngendap seperti itu Akiko?" tanya Akashi yang pura-pura habis turun tangga. Akiko yang ingin menyembunyikan cokelatnya didalam tas yang sudah ia taruh diruang makan itupun diam.
"Si-siapa yang mengendap-ngendap?" tanya Akiko balik sambil menghadap Akashi dan tas kecil itu ia taruh dibelakangnya.
"Kau yang mengendap-ngendap. Kau sedang apa jam segini?" tanya lagi Akashi. Memperhatikan setiap gerak gerik Akiko. Walaupun saat itu ruangan tersebut tidak dinyalakan lampunya, tapi masih cukup terang untuk melihat satu sama lain.
"Dan kenapa dapur menyala? Jangan bilang kau makan kue yang kemarin." Tanya Akashi sok tidak tau. Padahal ia tau persis kenapa adiknya mengendap-ngendap seperti itu.
"Tidak! Aku tidak memakannya!" jawab Akiko tegas.
"Lalu?"
"A-aku hanya ingin mencoba membuat sarapan.." jawab Akiko tidak setegas yang tadi.
"Sekarang? Sekolah masuk jam 7, dan sekarang sekitar jam 05.40. makanannya akan keburu dingin." Akashi pun mendekati Akiko. Sedangkan Akiko melangkah mundur kearah ruang makan.
"Kan sudah kubilang mencoba! Kalo sekali mencoba belum tentu berhasil! Makanya aku mencobanya dari sepagi ini!" jawab Akiko keras agar kakaknya tidak mendekatinya.
"Lalu apa yang dibelakangmu?" tanya Akashi melihat sesuatu dibelakang Akiko.
Plis Akashi, lu udah tau. Jangan pura-pura sok tau (reader & Akashi: kan lo yg bikin mel!)
"I-ini.. hanya komik! Mau kutaruh ditasku!" jawab Akiko tegas. Namun terselip nada keraguan.
"Komik? Tas?" Akashi pun bertanya lagi. Mengetes sejauh apakah adiknya mampu berbohong /plok.
"Onii-san kan ketua Osis. Dan disekolah ada larangan membawa komik. Jadi diam-diam aku membawanya karena takut disita. Tasku ada diruang makan. Aku pergi mengambil paperbag kecil didapur tadi." Jawab Akiko. Akashi tersenyum. Dalam hati ia berpikir. Kebohongan yang bagus.
Akashi.. adiklu boong kok lu seneng? *amel digunting Akashi*
"Baiklah. Kau bawa berapa komik?" Akashi berpura-pura percaya.
"Hem… 3 atau 4"
"Baiklah. Kali ini ku izinkan. Tapi sebagai gantinnya, buatkan sarapan untukku. Tadi kau bilang ingin mencoba membuat sarapan, kan? Aku ingin Sup Miso." Kata ralat maksudnya perintah Akashi. Ia pun kembali keatas. Akashi juga dapat mendengar bahwa adiknya bernafas lega. Tapi sebagai gantinya ia pura-pura percaya, ia akan membuntuti adiknya seharian ini. Jika tidak bisa ia bisa menyuruh (baca: memaksa) seseorang untuk memperhatikan adiknya.
End Flashback
Dan sekarang aura sangat suram menyertai kelas 2A. sebenernya sang guru sudah memulai pelajaran, namun entah kenapa para murid tidak bisa focus dan guru pun terganggu dengan aura suram Akashi.
"Akashi-kun." Panggil Toshi-sensei.
"Ya sensei?" aura suram Akashi sedikit berkurang.
"Bisakah kau menjawab yang ada di papan tulis ini? Silahkan maju." Pinta Toshi-sensei. Akashi pun maju dan setiap orang yang dilewatinya bernafas lega. Tak terkecuali Midorima yang sepertinya sudah sangat menahan aura tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
2 Hours Later. Amel males nulis bagian kelasnya /dibuang
.
.
.
.
.
.
.
Jam istirahat. Waktunya pengintaian. Akashi segera pergi kekelas adiknya, 1A.
Akashi POV
Kulihat Akiko melalui jendela. Dan betapa terkejutnya aku. Ia membawa paperbag lainnya yang berbeda dengan yang tadi pagi. Iapun bertukar cokelat dengan teman perempuannya dan berkata dengan senang "Ini cokelat persahabatan untukmu!"
Sekarang ia membagikan beberapa bungkus cokelat kecil untuk beberapa teman lelakinya. Dan aku bersumpah akan membuat orang itu merasa trauma karena menerima cokelat enak buatan Akiko. Liat saja!
Oh! Sekarang dia kembali ke bangkunya dan mengeluarkan paperbag yang lain?! Ia sebenernya membawa berapa?! Ia pun berlari keluar kelas. Namun tidak berlari kearah dimana aku berada sehingga aku masih bisa membututinya. Bohong jika murid lain tidak menatapku aneh. Tapi sebisa mungkin mereka tidak menatapku dengan aura suramku ini. Aku pun membututinya. Ia pun pergi kekantin yang penuh sesak. 'Apa didalam paperbag itu isinya bento? Sehingga ia pergi kekantin?' – begitu pikirku.
Namun ternyata kali ini aku salah! Aku yang selalu benar ini salah?! Mustahil! Tapi kenyataannya ia mendekati meja yang berisi Ryouta, Daiki, Satsuki dan Atsushi. Ia pun mengeluarkan cokelat ukuran sedang dari paperbag itu kepada semua orang yang berada dimeja itu. aku melotot, melihat Ryouta dengan senang memeluknya sembari berkata "Terima Kasih!" dengan kencang. Dan Daiki bersemu merah?! Apa dia punya perasaan dengan adikku yang manis ini?! Oh Daiki. Adikku terlalu bagus untukmu. Sedangkan Satsuki juga memeluknya. Sebenarnya aku tak terlalu marah karena Satsuki adalah perempuan. Sedangkan Atsushi langsung memakan cokelatnya.
"Ini enak Aki-chin. Terima kasih." Beruntung sekali kau Atsushi! Aku saja belom dapat cokelat dari Akiko sendiri! Sekarang ia pamit dan berlari keluar kelas. Aku pun kembali membututinya. Sekarang ia pergi ke perpustakaan? Untuk apa?
Ia pun masuk dan pergi rak pertama. Aku pun perlahan memasuki perpustakaan. Bahkan penjaga perpustakaan tak berguna ini melihatku dengan aneh? Oh ayolah! Aku menatap wanita penjaga perpustakaan ini dengan tatapan "Jangan-lihat-aku-seperti-itu!". ia pun mengangguk cepat. Bagus. Dan sekarang dimana adikku? Aku pun melihat satu persatu barisan rak buku yang terjejer rapi. Dan aku menemukan dirinya dengan Shintarou. Aku pun bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mereka.
"Ini untuk Midorima-senpai!" kulihat Akiko memberikan cokelat dengan ukuran dan bungkus yang sama dengan yang diberikan ke Daiki dan kawan-kawan (baca: budak-budak)-nya itu.
"Apa maksudnya ini?" tanya Shintarou. Kurasa ia sepertinya enggan menerima cokelat dari Akiko. Hei shintarou! Kaupikir adikku menyukai mu, huh? Yah itu lebih baik ketimbang menyukai Daiki atau Ryouta.
"Maksudnya? Ini kan Giri Choco Midorima-senpai. Ini kuberikan pada senpai sebagai bentuk terima kasihku selama ini." Jawab Akiko dengan senyum diwajahnya. Kapan kau akan melakukan hal itu padaku Akiko? Aku iri! Aku iri! Kuremas pinggir rak buku itu untuk menyalurkan rasa iriku ini.
Tapi tunggu! Giri choco?! Jadi Akiko tak menyukai Shintarou?! Banzai!
"Hmph! Baiklah kuterima-nodayo. Ta-tapi bukannya aku senang mendapatkan cokelat darimu, itu karena Lucky Item-ku kali ini adalah Giri Choco! Jadi kuterima-nodayo!" ya seperti biasa Tsun mu itu berlebihan Shintarou.
"Hahaha… terima kasih Midorima-senpai! Ngomong-ngomong kau melihat Kuroko-senpai? Aku ingin memberinya cokelat juga." tanya Akiko.
DEG
Akiko suka Tetsuya? Yah memang benar Tetsuya adalah teman (baca: budak) ku yang paling normal diantara Kisedai lainnya. Tapi nilainya hanya nilai rata-rata! Tetsuya juga lebih pendek dariku! Tidak! Tidak kurestui!
[ jadi Akashi merestui Akiko dengan Midorima karna Midorima lebih tinggi dan prestasinya dibawah mu sedikit? Naif sekali *amel dilempar gunting* ]
"Aku tadi sempat melihatnya sedang mengambil buku. Mungkin ia sedang membacanya disuatu tempat di perpustakaan ini-nodayo. Bu-bukannya aku perhatian padanya! Hanya saja itu kebiasaannya, kan?!" Shintarou kembali tsundere.
"Hehehe… menurutku Midorima-senpai sebenernya peduli dengan yang lain selain Kuroko-senpai, kok. Bahkan pada Onii-san ku. Eh tapi jangan bilang kalau aku memberikan cokelat pada senpai maupun Kisedai-senpai yang lain ya? Nanti aku dibunuh. Oke?" Aku sudah mendengar maupun melihatnya Akiko. Dan kapan kau menyembunyikan pisau lipat didalam seragammu? Dan sekarang kau menggunakannya untuk mengancam Midorima. Sasuga Akiko.
[ ini Akashi yang salah apa amel yang salah? Kok keknya Akashi melenceng jadi bego bener || Reader: yang bikin kan lo mel! *amel diamuk reader* ]
Akiko pun memasukan kembali pisau lipatnya dan membungkuk sedikit. Ia pun meninggalkan Shintarou. Shintarou hanya tersenyum sambil memandang cokelat yang diberikan Akiko. Aku rasa Shintarou menyukai Akiko. Aku tak peduli. Sekarang aku harus kembali mencari Akiko.
Aku pun berjalan cepat kebagian perpustakaan dimana para murid biasanya membaca buku perpustakaan disana. Dan kulihat Akiko sedang berbicara dengan Tetsuya. Dengan cepat ia memberikan cokelat itu kepada Kuroko dan berlari cepat. Hei! Apa-apaan sikap itu?! berbeda sekali dari yang tadi! Apa jangan-jangan Akiko benar-benar suka dengan Tetsuya? Entah kenapa dada ini sakit. Aku pun melihat Tetsuya dengan tatapan murka, sedangkan dia malah menatap cokelat pemberian Akiko dan bergumam. Oke, aku bisa membaca gerakan mulutnya.
"Gi..ri.. choco?" aku pun mengucapkan apa yang digumamkan Tetsuya. Jadi yang tadi hanya Giri Choco?! Banzai!
KRRIIINNNGGG!
Sudah waktunya masuk. Aku pun berjalan keluar perpustakaan dan bertemu Shintarou. Ia tampak kalang kabut.
"Se-sejak kapan kau ada di perpustakaan-nodayo?!"
"Hem… sejak tadi. Sekitar 10 menit yang lalu." Jawabku. Kulihat ia berkeringat dingin. Hem, ekspresimu itu menarik Shintarou. Boleh kubuat makin menjadi-jadi?
"Ada apa? Dan itu cokelat dari siapa? Kau popular juga." tanyaku. Aku bisa merasa ia tercengang. Fufufu~ lihat ekspresimu itu Shintarou. Aku bisa tertawa kapan saja.
"Ini dari anak kelas 1-nodayo!"
"Siapa?"
"Entahlah!"
"Aneh. Biasanya kan anak perempuan suka memasukan nama mereka dicokelat mereka, kan?" aku bertanya. Oke Shintarou, wajahmu makin bertambah merah.
"Bu-bukan urusanmu-nodayo!" ia pun pergi. Hm. Aku puas sekali sudah mengerjai Shintarou. Hehe. Aku pun berjalan santai menuju kelasku. Tapi masih ada yang mengganjal dipikiranku, cokelat yang tadi pagi untuk siapa?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
-Skip Time ; Gym-
Akashi POV
Kulihat Akiko membawa tasnya kemari. Tumben-tumbennya. Biasanya ia tinggal dikelas dan memintaku untuk menemaninya mengambil tasnya. Namun sekarang ia taruh diatas salah satu Bench disana.
"Anak kelas 3 datang!" ujar seseorang. Aku pun melihat Kapten sebelumnya. Ya, Shuuzo-senpai. Aura pemimpinnya masih terasa. Tak kalah denganku. Ia termasuk salah satu orang yang masih kuhormati sampai sekarang. Berbeda dengan pemain lainnya. Bahkan temanku sendiri mungkin saja.
Dan apa-apaan ini?! Akiko mengeluarkan paperbag yang tadi pagi dan mendekati Shuuzo-senpai! Ia mau memberikannya ke dia?!
"Ano.. Nijimura-senpai. Aku… aku ingin memberikanmu sesuatu." Ucap Akiko. Hell! Kenapa Akiko bersemu merah seperti itu?!
"Memberikan apa?" tanyanya sambil mem-pass bola ketemannya. Ia memposisikan dirinya dan Akiko kesudut lapangan yang bisa dibilang tak ada orang disana! Kenapa kau membawanya kesana Brengsek! Akupun mengambil posisi yang pas untuk menguping pembicaraan mereka.
Akashi POV End
Normal POV
"Dan.. apa yang mau kuberikan?" tanya Nijimura lagi. Sedangkan Akiko masih menggenggam dengan erat tali paperbag itu.
"I-ini untuk senpai!" Akiko menyerahkan paperbag yang berisi cokelat ke Nijimura. Nijimura melihat isinya dan tersenyum. Ia pun mengusap puncak kepala Akiko.
"Terima kasih." Ujarnya. Wow. Dan apa ini, Akiko makin memerah.
"Se-senpai! A… aku… itu… tentang senpai…" Akiko berkata tidak jelas. Sedangkan Nijimura hanya memandangnya heran.
"Aku… anu… itu…" Akiko makin berkata tak jelas sambil meremas ujung roknya.
"Ada apa ini?" tanya Akashi tiba-tiba yang membuat Nijimura maupun Akiko terlonjak kaget.
"O-onii-san?!"
"Shuuzo-senpai. Apa yang diberikan adikku padamu?" Akashi menatap Nijimura tajam.
"Itu… mungkin cokelat." Jawab Nijimura ragu. Serentak Akashi menarik Akiko menjauh dari Nijimura dan membawa Akiko dengan paksa keluar Gym. Semuanya pun hanya melihatnya bingung.
"Sa-sakit!" kata Akiko saat tangannya ditarik paksa oleh Akashi. Akashi pun melepaskannya saat mereka berasa disamping pintu luar Gym.
"Kau menyukai Shuuzo-senpai?" tanya Akashi.
"Bukan! Aku… aku…" Akiko kembali meremas roknya.
"Jawab aku!"
"Tidak!"
"Lalu? Kenapa kau memberinya cokelat?" Akashi menaikan suaranya. Ia sudah merasa sakit. Dadanya merasa sakit. Mengapa adiknya yang manis ini memberikan cokelat kesemuanya dengan senyuman manis. Sedangkan dirinya tidak?
"Karena… dia…"
"Yang jelas!"
"Dia menyelamatkanku! Dia baik! Gak kayak Oniisan! Oniisan baka! Baka! Aho!" Akiko teriak sambil menangis. Ia pun mendobrak pintu gym, berlari mengambil tasnya dan keluar dari gym lagi. Walaupun sudah ditahan oleh Akashi, Akiko pun mendorongnya dengan keras dan berlari menjauhi Gym dan sekolah.
"Cih! Sial!" Akashi meninju pintu Gym. Ia merasa sakit. Merasa sakit saat adiknya menangis karenanya.
"Akashi." Panggil Nijimura. Akashi pun menengok. Nijimura memperlihatkan cokelat yang sudah dibuka bungkusnya. Tertulis Giri Choco dan pesan.
Terima kasih sudah menyelamatkanku
"Soal menyelamatkan, seminggu yang lalu adikmu hampir diculik oleh entah siapa. Aku yang melihat itupun tak bisa membiarkannya dan menolongnya. Dan ia menangis dibajuku. Soal kenapa ia memerah, aku tak tau. Kau bisa bertanya padanya." Jelas Nijimura. Iapun kembali masuk Gym. Akashi makin mengeratkan tinjunya. Ia sudah salah. Ia tau.
-skip time ; mansion Akashi-
Akiko mencuci mukanya di wastafel di kamar mandinya. Walaupun begitu, hidungnya yang memerah akibat menangis masih terlihat. Ia sangat kesal. Sangat kesal pada kakaknya yang menurutnya kadang egois. Ia pun keluar dari kamarnya. Pergi kedapur dan membuka lemari es dan menyambar cokelat berbentuk kotak. Ia melihat tulisan yang ada diatas cokelat tersebut.
Honmei Choco
Aku sayang Sei-nii
Akiko pun pergi ke sofa ruang tengah yang ga begitu jauh dari dapur. Dengan kesal Akiko membuka bungkusnya dan memakan cokelat itu sambil mengerutu.
"Huh! Huh! Cokelat ini mending kumakan saja! Enak juga nih." Inilah isi gerutuannya Akiko.
PRAK
Seseorang mematahkan dan mengambil potongan kecil cokelat tersebut. Akiko pun langsung menengok kebelakang dan menemukan kakanya yang memakan cokelat itu.
"Kau bikin sendiri?" tanya Akashi. Ia pun memegang pergelangan tangan Akiko yang memegang cokelat untuk mendekatkan potongan cokelat itu kewajahnya, dan memakannya.
"Te-tentu saja! Kalau beli diluar ntar Oniisan gak suka!" jawab Akiko. Ia pun memakan cokelat itu juga. Akashi pun duduk disebelah Akiko yang masih senang memakan cokelat.
"Aku minta maaf." Ujar Akashi. Akiko pun tersedak.
"Uhuk! Uhuk!"
"A-Akiko?!" Akashi berlari secepat kilat mengambil air dan kembali, menyodorkan segelas air untuk adiknya. Akiko menerimanya dan meminumnya cepat.
"Huft! Oniisan jangan tiba-tiba bicara begitu kaget kan!" Akiko kembali memakan cokelat. Jangan ditanya kenapa gak habis-habis. Orang itu kira-kira sebuku tulis kecil kok.
"Jadi… mau gak maafin kakamu ini?" Akashi sekilas mungkin tampak memohon.
"Ya kumaafkan. Tapi janji jangan kayak begitu lagi. Oniisan kan harus tau apa yang terjadi dulu. Baru marah." Akiko menelan cokelatnya dan menatap Akashi sembari tersenyum.
"Lalu, kenapa kau memerah saat memberikan cokelat pada Shuuzo-senpai?" tanya Akashi. Akiko kembali memerah.
"I-itu.. a-aku malu. Oniisan dah tau kan kenapa aku memberikan cokelat ke Nijimura-senpai." Akashi mengangguk.
"Kan aku menangis dibajunya. Kupikir bajunya akan kotor dengan air mataku. Aku jadi malu. Dan gaberani menatapnya." Tambah Akiko. Akashi hanya cengo. Hanya karena itu?
"Ffftt! Kau lucu sekali!" Akashi mengusap kepala Akiko. Akiko makin malu.
"Dan… itu cokelat untukku, kan. Kenapa kau makan?" tanya Akashi lagi.
"Habis aku kesel ama Oniisan." Akiko kembali memakan cokelat itu. Akashi hanya menyeringai. Ia melihat bercak cokelat dibibir adiknya itu. ia mendekati adiknya itu dan…
Slurp
Ia menjilat bibir sang adik.
"Manis." Ujar Akashi sambil tersenyum… mesum mungkin.
"O-oniisan ngapain?!" tanya Akiko kaget.
"Memakan cokelat buatanmu." Akashi kembali menjilat bibir Akiko. Tapi dibagian pinggir.
"Gak usah begitu! Nih!" Akiko menyerahkan cokelatnya ke Akashi.
"Suapin."
"Hah?"
"Suapin aku Akiko. Pake mulut." Akashi menyeringai.
"Gak!"
"Piring antik?" Akashi mengingatkan pada piring antik punya ibu mereka. Sebenarnya Akashi sudah melaporkannya. Dan ayahnya tak marah. Namun karena Akiko tak tau, maka ia bisa menggunakan ini untuk membuat Akiko menurutinya.
"Ba-baiklah!" Akiko pun mematahkan cokelat. Menggigitnya sedikit, dan mengarahkannya pada bibir Akashi. Akashi pun menerimanya. Ia pun memasukan cokelat itu kedalam mulutnya dan membuat bibir Akashi dan Akiko bertautan. Dan acara ciuman itupun berlangsung lumayan lama. Akiko pun melepaskannya dan tersenyum kesal.
"Lagi." Pinta Akashi sambil mengunyah cokelat. Dengan berat hati Akiko pun melakukannya. Hingga cokelat itupun habis. Dan saliva dimana-mana.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Didapur Akashi /ngapain/ :
Hai amel disini! Ini pertama kalinya amel buat chapter yang sepanjang ini! Dan kayaknya adegan mesranya kurang ya? Huhuhu… amel mau aja nulis yang lebih hot. Tapi jariku tak setuju dengan otakku. Jadi kadang malah histeris sendiri pas ngetik. Chap selanjutnya White Day. Ada yang mau saran Akashi ngasih apa ke Akiko? Amel tamping sarannya oke.
MIND RnR?
SEE YOU IN NEXT KISSU /dibuang
