B.A.P

(Beauty&Ballad, Ambitious&Aggressive, Protective&Passive)

Chapter 7

.

December28

.

Cast: Jung Daehyun – Choi Junhong

Bang Yongguk – Kim Himchan

Moon Jongup – Yoo Youngjae

Choi Maru & Haru (OC)

Secret members

Others

.

Warning: YAOI, Not EYD, OOC, Typo, Don't like don't read.

This is BAP Fanfiction

.

Lets Start

.

..

Haru dan Maru saling menggenggam tangan satu sama lain. Haru masih menangis dengan Maru yang terlihat menunduk tenang disisinya.

Suasana tampak hening dan kaku.

Daehyun terlihat duduk dengan pandangan lurus dan wajahnya yang memerah dengan urat di sekitar dahinya.

Daehyun marah besar.

Seluruh guci dan benda krystal mahal di rumah ini hancur karena ulah Daehyun.

Puluhan penjaga terlihat berbaris dan menunggu Daehyun berbicara.

Terdengar isakan Nyonya Moon yang terus berkata untuk menyelamatkan puterinya.

Tapi Daehyun tetap tak bergeming.

"Apa yang akan kau lakukan hyung?"

Daehyun menoleh kearah Youngjae yang tengah mengusap kepala Haru yang menangis, ini sudah lebih dari 3 jam Junhong dan Sunhwa tidak di temukan.

Keduanya pergi diam-diam tanpa membawa penjaga dan Daehyun tak menyangka Junhong berani melakukan itu.

"Aku sudah menandatangani surat pemindahan kepemilikan Resort di Jepang dan mobil mewah"

"Tapi Resort itu milik ibumu"

Daehyun hanya bisa memejamkan matanya, menghela nafas dan bergumam tak jelas.

"Hyung…"

"Diamlah Youngjae, kepalaku seperti ingin meledak saat ini"

"Tapi resort itu.."

"Aku yakin mereka akan menjual lagi resort itu, aku bisa membelinya kembali. Bagaimanapun Noona keluargaku, dia wanita dan aku tidak mungkin membiarkan hal buruk terjadi padanya"

Nyonya Moon tertegun mendengarnya, menangis semakin keras saat mengingat anak tiri yang selama ini ingin dia singkirkan adalah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan putrinya.

"Bagaimana dengan hyungku?"

Suara Maru terdengar dingin, memandang Daehyun dengan bola mata hitamnya yang bening.

Maru memilih diam sejak tadi karena dia percaya Daehyun akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan Junhong, tapi apa? Ini sudah 3 jam dan orang kaya arogan itu hanya membanting barang mahalnya sambil berteriak seperti orang frustasi.

"AKU BERTANYA PADAMU BAGAIMANA HYUNGKU!"

Maru akhirnya meledak, menepis tangan Haru yang mencoba menenangkannya sambil menangis.

Mendengar Maru yang berteriak Daehyun menatapnya tak kalah tajam, meraih pistol yang sejak tadi ada di samping meja dan melemparnya kearah Maru.

"Hyung!" Youngjae berteriak kaget saat melihat kelakuan Daehyun.

Maru hanya remaja berusia 14 tahun, Daehyun tidak seharusnya memberikan Maru pistol itu.

"Kau bisa menembak kepalaku jika sesuatu terjadi pada Junhong"

Daehyun berkata tidak main-main, menatap tangan Maru yang gemetar saat memegang pistol berwarna hitam itu.

"Kau tau kan cara menggunakannya?"

"Hyung!"

Youngjae akhirnya bangkit dan merebut pistol itu dari Maru yang mengepalkan tangannya kesal, Jung Daehyun tidak pernah bercanda dengan perkataannya.

Tak lama seorang penjaga datang menghadap Daehyun, memberikan informasi bahwa spam yang beberapa hari ini Daehyun terima adalah pancingan untuk melacak tempat tinggal dan keberadaan dirinya serta Junhong.

"Lalu?"

"Mereka mengikuti Nona Sunhwa selama beberapa hari sampai akhirnya mendapat kesempatan hari ini"

Daehyun menutup bibirnya rapat-rapat, urat di sekitar pelipisnya mulai muncul menandakan bahwa kemarahan Daehyun akan kembali meledak.

Keadaan sedikit teralihkan kala dering ponsel milik Youngjae terdengar, Youngjae mengangkat sambungan telepon dan menganggukkan kepalanya sambil sesekali terdiam mendengarkan.

Melirik Daehyun yang masih tetap duduk dengan pandangan lurus dan wajah tidak bersahabat.

Setelah mengakhiri sambungan teleponnya Youngjae menghela nafasnya dan menatap Daehyun dengan sedih.

"Hyung…"

Daehyun tak menjawab, hanya melirik kecil kearah Youngjae yang memandangnya dengan pandangan tak terbaca.

"Paket di kantormu..Jongup akan datang dan membawanya kesini"

Daehyun kembali menatap lurus tak tertarik, sekarang bukan saatnya membahas paket atau hal apapun kecuali keselamatan Junhong.

"Jongup mengatakan…paket itu berisi hadiah dari Junhong untukmu"

Daehyun seperti dihantam di dadanya, rasa sesak mulai merambat dan seketika membuat Daehyun sulit bernafas.

Ada sesuatu yang menghambat tenggorokannya dan menjalar naik keatas. Daehyun menolak mengakui bahwa ia menahan air matanya.

Jadi Junhong pergi keluar untuk membeli hadiah? Untuknya?

Pemuda bodoh itu mungkin tidak tau, Daehyun benar-benar tidak membutuhkan apapun di dunia ini selain dirinya yang duduk tenang bersamanya.

Dasar bodoh.

….

Flash Back

Suasana ramai, puluhan orang berpakaian formal terlihat tengah berbincang dengan segelas wine di tangan.

Tawa mereka terdengar dengan bahasan serupa seperti keadaan perusahaan, kerja sama dan peningkatan pendapatan.

Daehyun menoleh kearah Youngjae yang tengah asyik mengunyah kue coklat dari piringnya, tersenyum saat melihat Youngjae hanya fokus pada makanan dan tidak peduli sekitar bahkan pada dirinya.

"Apa enak?" Daehyun bertanya pada Youngjae yang langsung mendongak.

"Kau mau?"

"Tidak, itu terlalu manis"

"Siapa? Aku?"

Daehyun tertawa mendengarnya, mengusap pipi Youngjae yang terkekeh untuk membalas usapan Daehyun.

"Kau belum makan apapun? Mau ku ambilkan?"

Daehyun menggeleng, memilih menarik piring yang ada di tangan Youngjae dan berganti menggenggam tangan Youngjae yang tertawa melihat tingkah Daehyun.

"Takut tersesat?" Youngjae menggoda Daehyun yang melebarkan matanya seakan kesal mendengar gurauan Youngjae.

"Hyung~"

"Hm?"

"Apa setelah menikah kita harus tetap datang ke acara formal seperti ini?"

Daehyun menganggukkan kepalanya, menatap ke ujung ruangan dan melihat Jongup disana yang tengah bersandar pada tangga.

Walau jarak mereka tidak terlalu dekat, Daehyun yakin Jongup tengah memandang kearahnya dan Youngjae.

"Aku ke kamar mandi, kau tetaplah disisni"

Youngjae mengangguk cepat, tersenyum kearah Daehyun yang melangkah tenang menembus puluhan orang di sekitarnya.

Aura Daehyun yang terlihat tenang namun tegas sangat terlihat walau Daehyun berada di kerumunan banyak orang.

Membuat Daehyun tak sulit menjadi pusat perhatian dengan wajah dingin dan tampannya itu.

Daehyun masuk ke dalam kamar mandi, bersiap melepas jam tangannya saat melihat pemuda di samping wastafel berdecak pinggang jengkel.

"Angkat tanganmu!"

Daehyun merenyit bingung saat melihat pemuda tinggi itu tengah mengomel pada dua anak lelaki berwajah mirip dengan rambut berbeda warna.

"Haru yang menyuruhku!"

"Maru hanya bisa menyalahkan orang lain!"

Daehyun menatap pantulan dua anak itu di kaca, tertawa kecil saat melihat kedua anak itu saling melirik tajam namun terlihat waspada pada pemuda tinggi di hadapan mereka.

"Baju kalian kotor~ acaranya bahkan belum setengah jalan Brothers~"

Daehyun menyalakan keran di hadapannya, memilih berlama-lama dan mendengarkan suara pemuda tinggi yang masih membelakanginya ini.

"Mian hyung…"

Ahh.. kakaknya.

Daehyun bergumam dalam hati, mencoba mencuri lirik pada kaca untuk melihat wajah pemuda bersuara lembut itu.

"Lengan baju kalian penuh dengan noda cokelat"

Pemuda itu terlihat berjongkok di hadapan adiknya, meraih tissue dan menggosokkan perlahan tissue itu pada kemeja anak berambut hitam.

Bukannya hilang, tissue itu malah tercecer karena tak cukup kuat untuk menjadi bahas gosokkan penghilangkan noda.

"Nodanya tidak mau hilang, bagaimana ini~"

"Gunakan sapu tanganku"

Daehyun akhirnya bersuara, sedikit penasaran dengan sosok berambut merah yang sejak tadi menarik perhatiannya hanya dari suara. Suara lembutnya yang tengah mengomeli kedua adikknya.

Pemuda itu akhirnya mendongak, membuat Daehyun mengerjapkan matanya beberapa kali saat melihat sosok itu.

Apa dia manusia?

Wajahnya terlihat seperti gambaran peri pemberani yang ada pada film fantasy yang pernah Daehyun tonton.

Apa namanya? Elf?

Kulit pemuda itu bersih dengan matanya yang berkedip bingung.

Hidungnya mungil dengan pipi pucat mulus dan tampak lembut.

Bibir pemuda itu merah ranum dan-

"Apa aku benar-benar boleh meminjamnya?"

Pemuda ini bicara padanya.

Daehyun hanya bisa mengangguk kaku dan berdesir saat merasakan tangan halus pemuda itu menyentuhnya saat mengambil sapu tangan itu.

"Untung ada paman ini yang mau meminjamkan sapu tangannya pada kita"

Paman?

Daehyun mencoba menahan tawa saat mendengarnya.

"Apa yang kau tertawakan?"

Perhatian Daehyun teralihkan dari pemuda manis itu, mengerut bingung saat melihat adik pemuda itu menatapnya tajam dan mengintimidasi.

"Choi Maru, bicara yang sopan"

Anak lainnya menyikut Maru –Jika Daehyun tak salah mendengar namanya- dan tersenyum manis kearah Daehyun.

Anak ini lebih lucu dari anak berambut hitam dan tidak sopan itu, nilai Daehyun.

"Haru benar, bicara yang sopan pada orang yang lebih tua"

Jadi anak berwajah lucu ini bernama Haru.

Daehyun menatap ketiganya dalam diam, tersenyum saat melihat Maru dan Haru yang kembali cek cok hanya karena Hyung mereka mendahulukan yang lain.

"Mereka anakmu?"

Daehyun bertanya basa basi, mencoba mengajak bicara pemuda tinggi itu yang langsung berdiri dan terkekeh lebar.

Cantik dan lucu.

"Apa aku terlihat setua itu?"

"Itu juga pertanyaan yang ingin aku tujukan padamu"

"Hng?" Alis pemuda itu mengerut bingung, tertawa canggung pada Daehyun yang membalasnya dengan senyum simpul.

"Aku Jung Daehyun, bukan 'paman ini'"

Pemuda itu tertawa malu saat Daehyun menyindirnya karena sempat memanggil paman pada pemuda tampan itu.

"Annyeonghaseyo~ Choi Junhong imnida"

Junhong, pemuda itu terlihat membungkuk kecil kearah Daehyun yang hanya bisa diam sambil menahan gejolak perasaan kagumnya pada sosok itu.

"Dan ini adikku, yang berambut hitam Choi Maru dan yang berambut cokelat Choi Haru"

Daehyun kembali tertawa, tak sadar sudah berapa kali dirinya tertawa hanya karena tiga orang bersaudara ini.

"Itu..Tuan, sapu tanganmu…"

"Kau bisa menggunakannya, aku tak masalah dengan itu"

"Ah benarkah, kalau begitu ter-"

"Daehyun hyung~ kenapa lama sekali?"

Daehyun menoleh cepat saat mendengar namanya di panggil, Youngjae menatap heran kearah Daehyun yang masih tertawa kearah Junhong dan kedua adiknya.

"Aku pergi dulu, Choi Junhong..itu namamu kan?"

"Hng~ Terima kasih..Tuan Jung Daehyun"

Daehyun membalasnya dengan anggukan, berbalik pergi dengan kekaguman yang belum berkurang sedikit pun.

"Hyung, kau mengenalnya?"

Daehyun diam tak menjawab, memilih menetralkan detak jantung dengan dengungan suara Junhong yang berputar di otaknya.

Tersenyum kecil saat kembali mengingat Junhong, Junhong dan Junhong. Melupakan Youngjae yang hanya bisa menatap heran kearah Daehyun yang tidak berhenti tersenyum.

…..

…..

Ting Tong!

"Siapa?~"

Yongguk belum menjawab, masih berdiri di depan pintu apartemen Jieun yang tampak mewah.

Di tangannya terdapat amplop berisi surat pengunduran dirinya yang harus ia serahkan langsung pada Jieun, Yongguk sebelumnya datang ke perusahaan tapi kabar yang di dapatnya mengatakan Jieun tengah sakit dan terpaksa mengambil cutinya sejak minggu lalu.

Cklek…

Pintu itu terbuka, menampilkan sosok Jieun yang melebarkan matanya karena kaget. Begitu melihat Yongguk di depan pintu Jieun langsung merapihkan rambutnya yang terlihat berantakan dan tidak teratur.

"A-ada apa?"

"Aku ingin menyerahkan surat pengunduran diriku, kau cuti hari ini jadi aku terpaksa…."

"Masuklah"

Suara Jieun terdengar parau, matanya terlihat redup dan melangkan mundur memberi jalan pada Yongguk untuk masuk ke dalam apartemennya.

Yongguk terlihat ragu, belum melangkahkan kakinya masuk sebelum suara Jieun kembali terdengar.

"Aku ingin meminta pendapatmu untuk memilih orang yang akan menggantikan posisimu, bisa bantu aku sebentar?"

Yongguk akhirnya memilih masuk, menatap sekeliling apartemen yang nampak kacau dengan aroma alcohol yang tercium jelas.

"Berapa banyak alcohol yang kau konsumsi Sajangnim?"

Jieun hanya membalasnya dengan senyuman, maju melangkah dan memeluk tubuh Yongguk yang terlihat kaget dan berusaha melepas pelukan itu.

"Sebentar saja…aku mohon"

Yongguk bisa mendengar Jieun yang terisak kecil, bahu wanita cantik itu bergetar dengan pelukannya yang semakin erat.

"Aku merindukanmu dan itu membuatku hampir gila"

Yongguk tau ini sudah kelewatan, maka Yongguk melepas pelukan itu dan meletakkan surat pengunduran dirinya pada meja yang dekat dengan posisinya berdiri.

"Aku dengan resmi mengundurkan diriku dari perusahaan dan-"

"Jung Daehyun..kau mengenalnya?"

Ucapan Yongguk berhenti, menatap bingung kearah Jieun yang terlihat tersenyum simpul.

"Apa dia memiliki hubungan khusus dengan Himchan?"

"Apa maksudmu?"

"Dia membatalkan seluruh kerja sama dan mengancamku untuk tidak lagi datang mengganggu Himchan"

Jieun tersenyum menatap ekspresi wajah Yongguk yang mulai mengeras.

Jieun tidak berbohong tentang kerjasama yang batal, tapi ancaman itu…tentu saja rekayasa.

"Apa mereka memiliki hubungan sedekat itu? sampai Jung Daehyun rela kehilangan investasi ratusan juta hanya karena Himchan"

"Berhenti bicara omong kosong"

"Kau bisa lihat bahwa kerjasama perusahaanku dengan Jung Daehyun batal setelah aku bertemu Himchan"

"Mereka tidak dekat, mereka hanya-"

"Jung Daehyun memberikan sarung tangannya pada Himchan bahkan sampai merangkul pundak pasanganmu itu"

"Aku pergi!"

Yongguk berbalik cepat menghindari pembicaraan ini, dirinya tentu percaya pada Himchan.

Tapi memikirkan Jung Daehyun yang kaya raya tinggal di samping apartemennya dan Himchan yang selalu seorang diri…Yongguk mulai berfikir tidak masuk akal.

"Tetaplah disini…bukan hanya kau yang mengkhianati Himchan. Dia bisa saja melakukannya jauh sebelum kau"

Jieun memeluk erat tubuh Yongguk dari belakang, mengusap dada Yongguk yang terlihat mulai termakan ucapan Jieun.

"Aku membutuhkanmu..tetaplah disini" Jieun berbisik panas pada telinga Yongguk, sengaja menekan dadanya pada punggung Yongguk yang masih diam namun nafasnya menjadi lebih cepat.

"Aku…akan memberikanmu segalanya. Aku-"

Jieun kaget saat tiba-tiba Yongguk berbalik dan menarik pinggul Jieun maju mendekat, mata Yongguk terlihat berkabut dan deru nafasnya menjadi semakin cepat.

Bagaimanapun Yongguk tetap laki-laki, fikir Jieun.

Maka Jieun pun maju untuk menjemput bibir Yongguk yang menyambutnya walau sedikit ragu.

….

….

"Maru…"

Maru tidak menjawab, masih terus duduk di pinggir ranjang dan menundukkan kepalanya.

Fikirannya tidak bisa lepas dari Junhong dan Daehyun yang tampak mengenaskan karena penculikan pasangannya.

"Kau istirahatlah dulu Maru~"

Suara Haru tetap lembut seperti biasa, Maru bisa merasakan tangan Haru yang memeluk tubuhnya dari belakang.

"Tuan Jung pasti akan menemukan Junhong hyung"

"Bagaimana jika tidak?"

"Aku tidak mau berfikiran buruk, aku percaya Tuan Jung akan melindungi Junhong hyung bagaimanapun caranya"

Punggung Maru sedikit rileks kala mendengar penjelasan Haru.

Haru benar, dari yang dilihatnya hari ini Jung Daehyun pemarah itu benar-benar menyayangi hyung mereka.

"Lagipula Junhong hyung memakai gelangku, dia pasti akan di jaga"

Maru membalikkan badannya untuk menatap Haru, mengusap air mata Haru yang menetes semakin lama semakin banyak.

Si cengeng Haru, dia sendiri khawatir pada Junhong tapi masih berpura-pura tegar.

"Kenapa kau menangis bodoh?" Maru menarik hidung Haru yang terkekeh dengan air mata di wajahnya.

"Aku memang hanya bisa menangis dasar menyebalkan" Haru membalas dengan menarik pipi Maru yang tersenyum samar.

"Choi Haru.."

"Hm?"

"Aku menyayangimu.."

Haru tersenyum lebar mendengarnya, merentangkan tangannya dan menerima pelukan Maru yang mengusap kepalanya.

"Apapun yang terjadi nanti…kita harus tetap bersama, okay?"

Maru mengangguk menjawab pertanyaan Haru, mengacak rambut halus si cengeng dan mengeratkan pelukannya.

Masing-masing berdoa di dalam hati agar saudara terkasih mereka selamat tanpa kurang satu apapun.

"Kau lihat obatku?"

Youngjae membuka satu persatu laci kamarnya dengan tergesa-gesa.

Sakit kepalanya datang lagi ditambah dengan keringat yang mengalir dari pelipis hingga turun ke daerah alisnya.

"Obat apa?"

Jongup melepas kacamatanya, menatap khawatir pada Youngjae yang terlihat panik dan berkeringat.

"V-vitamin! Kau melihatnya?"

Jongup menggeleng, bangkit dan mencoba ikut membantu Youngjae mencari obat yang dimaksud.

"Hyung kau baik-baik saja? Kau pucat!"

Youngjae akhirnya menggeleng, jatuh terduduk di karpet kamarnya dengan tangan yang terus mencengkram kepalanya kuat-kuat.

"Hyung!"

Jongup berlari dan langsung menggendong tubuh Youngjae ke atas kasur, mengusap kepala Youngjae yang merintih mengeluhkan sakit di kepalanya.

"Aku akan memanggil dok-"

"Daehyun hyung….panggilkan D-daehyun hyung"

"Apa?"

Jongup menatap Youngjae tak percaya, melepas genggamannya pada telepon kamar dan menatap kecewa pada Youngjae yang sedang memejamkan matanya terlihat lebih tenang.

"Aku ingin bicara dengan Daehyun hyu-"

"Aku suamimu bukan dia"

Jongup berkata dingin, dengan perasaan kecewa kembali meraih gagang telepon dan berniat menghubungi dokter keluarganya.

"Aku tidak mau diperiksa dokter"

Jongup menoleh, menatap Youngjae yang sudah membuka matanya dan terisak kecil.

"Aku ingin bicara dengan Daehyun hyung!"

Youngjae berteriak frustasi, tidak tau harus melakukan apa disaat seperti ini. Hanya Daehyun yang tau masalah penyakitnya, Daehyun mungkin menyiapkan persediaan obat dari dokter pribadi Daehyun yang saat itu memeriksa Youngjae.

"Kau tidak membutuhkanku disini?"

"Jongup-ah.."

"Kau bahkan lebih memilih menyebut namanya saat merasakan sakit, apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku hyung?"

Youngjae tak menjawab, menatap mengiba pada Jongup yang terlihat kecewa semakin parah.

"Siapa aku sebenarnya untukmu hyung? Pelarian? Atau pelampiasan?"

Youngjae membulatkan matanya tak percaya saat mendengar kalimat Jongup.

"APA AKU HANYA PENGALIH PERASAANMU PADA-"

PLAK!

"Pergi! Aku tidak mau melihatmu! PERGI!"

Youngjae berteriak marah, matanya sudah berkaca-kaca dengan tangannya yang gemetar dan panas, tamparan Youngjae untuk Jongup benar-benar keras.

"Kau tidak perlu memaksakan hubungan kita hyung. Setelah Junhong ditemukan..kau bisa langsung menggugat cerai dan aku siap menerimanya"

Jongup langsung bangkit dari kasur dan berjalan keluar kamar.

Membanting pintu kamar mereka dengan Youngjae yang menangis keras karena ketidak jujurannya pada Jongup.

Dia takut, jika Youngjae menceritakan semuanya..Youngjae takut menambah beban di pundak Jongupnya yang malang.

Dirinya hanya membawa keburukan pada kehidupan pernikahan mereka berdua.

Tapi Youngjae menolak mundur dan menjauh dari Jongup, pemuda egois ini….ingin tetap bersama Jongup

….

Mencintaimu sama seperti menggenggam bom waktu.

Kau bisa saja meledak dan melukaiku.

Menghancurkanku menjadi serpihan terkecil dan mungkin saja terinjak.

Tapi aku tidak menyesal, karena sebelumnya aku sadar aku pernah memegangmu erat dalam genggamanku.

Dan aku cukup bahagia karena itu..

To Be Continue

Gimme ur comment ^^