Disclaimer : I own nothing but the plot and several OC's.

a/n : yah, udah lama banget ya ga update -,- tapi tetap ditunggu reviewnya :") *ganyambung*


Chapter 7


Sekilas tidak ada yang aneh dari kotak kayu berwarna gelap yang berukuran sedang itu, tapi ketika kotak tersebut di buka, sebuah piala emas terbaring di dalamnya. Sebuah piala yang mengandung kekuatan gelap yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

"Harry,"

Harry terbangun dari lamunannya, menghela nafas pelan sebelum menutup kotak tersebut. Ia menoleh, tersenyum kecil melihat Hermione yang terlihat khawatir. Harry menghampirinya dan mencium Hermione sekilas sebelum ia mengecup kening Rose yang terkikik, tangan mungilnya menggapai-gapai berusaha meraih Harry. Harry tertawa kecil.

"Apa kau yakin, mau menceritakan semuanya?" tanya Hermione, terlihat sangat khawatir dan tidak yakin dengan keputusan Harry untuk menceritakan segalanya.

Harry terdiam sejenak, sorot matanya menggelap tapi ia mengangguk pelan. "Aku harus. Mereka berhak tau, terutama Draco. Dia sudah banyak membantu kita," ujar Harry pelan.

Hermione menghela nafas, ia mendekap Rose erat. "Aku tau. Aku merasa bersalah pada Draco karena—karena kita menghapus ingatannya,"

Mereka masih ingat ketika mereka bertemu Draco untuk pertama kalinya setelah mereka pergi berburu Horcrux. Draco terlihat sangat berbeda dari Draco yang selama ini mereka kenal, ia terlihat merana, sedih dan ketakutan. Harry dan Hermione jelas terkejut ketika Draco membujuk bahkan sampai memohon pada mereka untuk membawanya dan ibunya, Narcissa, pergi dari genggaman Voldemort, ia tidak tahan dengan sikap ayah dan bibinya yang selalu mengesampingkan dirinya dan Narcissa demi memuaskan keinginan tuan mereka.

Harry mengalungkan lengannya di bahu Hermione. "Aku tau. Aku juga merasa bersalah untuk itu, dia banyak membantu kita. Tapi kita juga tidak bisa membuat resiko, jika mereka menangkap Draco dan mengetahui apa yang sudah Draco lakukan untuk kita—"

"Nyawa Draco dan Narcissa bisa terancam. Ya, aku tau. Tapi aku tetap merasa bersalah,"

"Ayo, Remus dan yang lain sudah menunggu,"

Hermione menatap Harry lama, sebelum mengangguk dan membawa Rose keluar dari kamar mereka.

.

Harry menjejerkan Horcrux yang ia temukan. Kalung Slytherin, Diadem Ravenclaw dan Piala Hufflepuff yang berada di dalam kotak kayu. Remus, Tonks, Draco, Bill dan Fleur memperhatikan ketiga Horcrux itu dengan serius, syukurlah Teddy dan Victoire sudah terlelap, Hermione sendiri sedang berusaha untuk membuat Rose tertidur di kamarnya.

"Jadi ini yang kalian cari selama ini?" tanya Remus, memecah keheningan di antara mereka.

Harry mengangguk, "Ketiga benda ini adalah Horcrux, pecahan jiwa dari Vo—dia ada di dalamnya. Dia tidak akan pernah mati jika Horcrux ini masih ada,"

"Berapa benda seperti ini yang dia buat?" tanya Bill.

"Ada enam Horcrux, dua di antaranya sudah di hancurkan sebelum aku, Ron dan Hermione pergi mencari sisanya. Diari sudah kuhancurkan saat aku kelas dua, cincin dihancurkan oleh Dumbledore di tahun keenamku di Hogwarts. Dan satu lagi yang aku yakini sebagai Horcrux, adalah Nagini,"

"Ular itu? Horcrux? Kau yakin?" tanya Draco, dahinya berkerut.

Harry mengangguk, "Aku yakin. Menurutmu apa alasan dia tidak pernah melepaskan Nagini dari sisinya? Untuk hiasan?"

Draco memutar matanya, "Kau benar-benar yakin tentang ini, Potter?"

Harry mengangguk, ia bangkit dari kursinya dan mengacungkan tongkatnya pada Draco. Refleks, Draco juga ikut bangkit dan menghunuskan tongkatnya pada Harry, "Untuk apa itu Potter?" desis Draco, terkejut dan juga waspada pada gestur Harry.

"Harry! Apa yang akan kau lakukan? Draco sudah bukan Draco yang kau kenal dulu! Jadi tenanglah!"

Wajah Harry tetap datar, ia terus menatap Draco tanpa menggubris kata-kata Remus. "Ada sesuatu yang harus aku lakukan padamu Draco. Kau harus percaya padaku," kata Harry pelan.

Draco terlihat ragu.

"Percayalah pada kami Draco," entah sejak kapan Hermione berdiri di dekat Harry, ia tersenyum kecil pada Draco, berusaha meyakinkannya.

"Bagaimana aku bisa percaya! Suamimu tiba-tiba menghunuskan tongkatnya padaku!" seru Draco.

"Percayalah pada kami Draco. Aku berjanji, kami tidak akan menyakitimu," kata Hermione terdengar tenang. "Lagipula, kami tau kau sudah lama berubah. Dan kami tau, kenapa,"

Draco berkedip beberapa kali, tangannya di turunkan ke sisi tubuhnya. Tidak ada yang tau alasan kenapa Draco berubah kecuali Bill dan Arthur Weasley, keduanya sudah berjanji pada Draco tidak akan memberitau alasan itu pada siapapun demi alasan keamanan. Dan darimana Harry dan Hermione tau? Draco ingin tau. Ia mengangguk pelan.

Harry melirik Hermione, yang mengiyakan pertanyaan tidak terucap Harry. Harry mengangguk, ia menarik nafas panjang, "Memorevelio," bisik Harry. Kilatan biru segera menghantam Draco, membuatnya terjatuh dan tidak sadarkan diri.

Hermione menggenggam tangan Harry erat, Harry membalasnya, mereka berdua tau apa yang selanjutnya akan terjadi.

.

Harry dan Hermione ber-Apparate di Knockturn Alley. Mereka sengaja tidak memilih ber-Apparate langsung Diagon Alley karena menurut Hermione itu bisa membuat mereka tertangkap mengingat usaha Pelahap Maut mencari Harry sangatlah gencar. Syukurlah suasana Knockturn Alley saat itu sangatlah sepi, bahkan mereka tidak melihat ada satu orang pun di sekitar mereka.

"Sepi sekali. Tidakkah ini aneh, Hermione?" suara Harry terdengar sangat pelan, bahkan cenderung berbisik.

Hermione tidak menjawab, ia juga menyadari keheningan itu. Tapi Hermione berpikir itu wajar, tentunya para Pelahap Maut berpikir Harry akan muncul di Hogwarts atau Diagon Alley atau The Burrow, lagipula untuk apa Harry muncul di Knockturn Alley?

"Sekarang bagaimana kita pergi ke Hogwarts?" tanya Harry lagi.

Kali ini Hermione menggeleng. "Semua Pelahap Maut pasti berpikir kau akan datang ke Hogwarts. Semua orang tau kau sangat menyukai Hogwarts, jadi aku yakin Hogwarts akan di jaga dengan ketat begitu juga Hogsmaede," jelas Hermione.

Harry melipat kedua tangannya, "Jadi untuk apa kita kemari kalau kita tidak bisa pergi ke Hogwarts?"

"Memangnya siapa yang ngotot ingin pergi ke Hogwarts?"

Harry nyengir dan mengalungkan lengannya di bahu Hermione, mengecup sisi kepala Hermione dengan lembut. "Hermione, love, satu-satunya cara yang kutau untuk menghancurkan Horcrux adalah dengan pedang Gryffindor atau racun Basilisk. Nah, karena kita tidak tau dimana pedang itu sekarang—"

"Kita pergi ke Hogwarts untuk mengambil racun Basilisk. Aku tau itu Harry, aku tau," Hermione menghela nafas, "Tapi bagaimana kita ke sana?"

Crack!

Harry dan Hermione langsung mengambil tongkat mereka dan memutar tubuh mereka. Melihat sosok jangkung bertudung hitam, sosok itu terlihat familiar di mata mereka.

"Potter? Granger?" suara itu tidak mungkin Harry atau Hermione salah mengenali. Itu adalah suara yang selalu mengolok-olok dan menghina mereka sejak mereka menginjakkan kaki di Hogwarts. Tapi yang membuat baik Harry atau Hermione heran adalah, ia sama sekali tidak mengeluarkan tongkatnya. Tidak memperlihatkan tanda-tanda ingin melawan apalagi menangkap Harry atau Hermione.

"Apa kalian gila? Apa yang kalian lakukan di sini? Tidakkah kalian tau kalau kalian ini buronan nomor satu!" ujarnya keras sembari menurunkan tudung hitam yang menutupi kepalanya. Draco Malfoy terlihat tidak senang melihat Harry dan Hermione—seperti biasanya—tapi ia tidak menunjukkan tanda perlawanan walau Harry dan Hermione menghunuskan tongkat mereka padanya.

Mata Harry menyipit, "Kenapa kau tidak mengeluarkan tongkatmu Malfoy? Takut menghadapi kami?" desis Harry.

Draco Malfoy yang mereka kenal pasti akan langsung mengutuk mereka atau minimal membalas ucapan Harry. Tapi Draco Malfoy yang ini hanya diam di tempatnya, menatap Harry tanpa ekspresi. "Aku tidak punya alasan untuk takut padamu. Kau juga tidak punya alasan untuk menyerangku saat ini Potter," Draco melirik Hermione sekilas tapi tidak berkata apapun dan kembali beralih pada Harry.

Hermione menurunkan tongkatnya, menyadari nada suara dan ekspresi Draco yang sangat berbeda dari biasanya. "Apa yang kau mau Draco?" tanya Hermione akhirnya.

Draco menyeringai, "Selalu yang terpintar," Draco tertawa pelan, telunjuknya mengisyaratkan Harry dan Hermione untuk mengikutinya.

Harry menahan tangan Hermione, "Untuk apa kami mengikutimu? Setelah semua yang kau lakukan Malfoy, apa kami bisa mempercayaimu?"

Kali ini Draco mengeluarkan tongkatnya, alih-alih menyerang Harry atau Hermione, ia malah menyerahkan tongkatnya pada Harry. "Aku tidak akan melakukan apapun tanpa tongkatku. Jadi, maukah kau berhenti bicara dan ikuti aku?" Draco berbalik dan mulai berjalan.

Harry masih tidak yakin, ia melirik Hermione yang mengangguk.

Mereka mengikuti Draco menyusuri Knockturn Alley, hingga mereka tiba di depan sebuah bangunan tua yang terlihat tidak berpenghuni. Draco melihat ke sekeliling, seakan memastikan tidak ada satu orang pun yang mengikuti. Ia membuka pintu bangunan itu dan meminta Harry serta Hermione untuk masuk.

Bagian dalam bangunan itu gelap dan suram, mengingatkan Harry pada suasana Grimmauld Place. Bahkan menurut Harry, kondisi Grimmauld Place terkesan jauh lebih terawat dibandingkan bangunan ini.

"Dimana ini Malfoy?" tanya Hermione sembari melihat ke sekeliling ruangan yang dipenuhi debu.

"Bagian lain dari Knockturn Alley yang tidak pernah dipakai lagi sejak bertahun-tahun yang lalu," Draco mengangkat bahu, "Dan bisa dibilang ini tempatku untuk menyendiri,"

Kedua alis Harry terangkat, "Kau? Putra keluarga Malfoy menyendiri di tempat seperti ini?"

Draco tertawa sinis, "Ironis bukan Potter? Tapi itu benar. Ini satu-satunya tempat dimana aku bisa menyendiri," ekspresi Draco menerawang, seperti ia sedang menanggung beban yang sangat berat.

"Aku membutuhkan bantuan kalian," kata Draco kemudian.

Harry dan Hermione berpandangan, bantuan macam apa yang dicari Malfoy dari mereka?

Tangan Draco mengusap rambut pirang platinumnya, "Aku tau, aku sendiri tidak menyangka aku akan meminta bantuan dari kalian. Tapi aku tidak tau lagi harus meminta bantuan pada siapa,"

"Apa itu kenapa kau muncul di hadapan kami?" tanya Harry.

Draco menggeleng, "Tadi itu murni kecelakaan. Aku sedang menuju kemari ketika aku melihat kalian,"

Hermione mengambil sebuah buku dari rak yang berdebu dan mengayunkan tongkatnya pada buku itu, membuat debunya menghilang. Ia melirik Draco, "Kalau tadi kau berniat kemari, kenapa tidak langsung ber-Apparate kesini?"

"Aku sudah memasang anti-apparate, anti-floo, anti-portkey dan beberapa mantra pengaman lainnya. Aku tidak ingin ada yang tau tentang tempat ini,"

Hermione mengangguk mengerti, "Lalu bantuan apa yang kau inginkan dari kami? Kau tidak bisa meminta bantuan pada ayahmu atau teman-temannya?"

Draco tertawa lagi, "Meminta bantuan ayahku? Dia tidak memperdulikan apapun selain Tuannya dan pantatnya," Harry melongo mendengar pengakuan Draco. "Lagipula, aku ingin kalian membantuku dan ibuku untuk pergi dari dia. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku akan lakukan apapun untuk kalian jika kalian bisa membantuku dan ibuku,"

Mata Harry menyipit, "Untuk sekali lagi, Malfoy. Untuk apa kami membantumu?"

"Aku tidak mau menjadi budak siapapun lagi. Jika kau bisa membantuku lepas dari genggamannya, aku berjanji—tidak, aku bersumpah aku membantumu mengalahkannya. Aku akan memberitau kalian semua yang aku tau tentang rencananya. Aku hanya minta satu hal, bantu aku. setidaknya selamatkan ibuku. Aku—" Draco menelan ludah, "Aku—aku mohon padamu Potter, Granger. B—bantu aku,"

Harry menghela nafas, "Itu—aku sulit mempercayaimu. Dulu Dumbledore percaya pada Snape, tapi pada akhirnya Snape tetap setia pada Tuannya," ujar Harry dingin. Hermione meraih tangan Harry, meremasnya lembut. Harry menoleh dan memberi Hermione senyuman lemah.

"Maaf, tapi sepertinya kami tidak bisa membantumu," kata Hermione pelan.

Draco terlihat panik, "Tunggu! Apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu percaya padamu? Kumohon! Aku akan lakukan apapun!"

Harry menggeleng, "Aku rasa tidak ada satu pun yang bisa kau lakukan Malfoy," Harry menyimpan tongkat Draco di atas meja berdebu, melingkarkan tangannya di bahu Hermione dan membimbingnya ke arah pintu. Ketika keduanya mendengar Draco berteriak.

"Aku akan melakukan Unbreakable Vow!"

.

Kepala Draco terasa sakit, seperti dia baru saja di hantam oleh sesuatu yang berat. Matanya buram, tapi ia masih bisa mengenali Fleur yang terlihat khawatir, juga wajah Remus, Tonks dan Bill, semuanya terlihat khawatir.

"Ungh," desah Draco.

"Sepertinya dia sudah sadar," suara Bill.

"Syukurlah! Apa dia tidak apa-apa?" Tonks.

Draco sudah bisa melihat jelas. Fleur tersenyum lebar, terlihat lega karena Draco baik-baik saja, "Ya, aku kira dia baik-baik saja," kata Fleur.

Draco memandang ke sekeliling, matanya melebar ketika melihat Harry dan Hermione. Berbagai memori langsung menghantamnya dari segela arah. Begitu banyak yang ingin Draco katakan atau tanyakan pada Harry dan Hermione. "Aku ingat," kata Draco pelan, ia masih menatap Harry dan Hermione. "Unbreakable vow,"