Title: CHAMPAGNE (Chapter 3)
Author: Myka Reien
Main Cast: ChanBaek
SC: BAP Yongguk, BAP Himchan (BangHim), Yixing, Chen, Tao, Hyun (OC)
Genre: Rate T, GS
Note: No bash, no flame, no peanut please. Let's be a good reader and good shipper.
HAPPY READING
Ppyong~❤
.
.
.
CHAMPAGNE
(Chapter 3)
.
.
.
Chanyeol melirik jam digital hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. 3 menit sudah berlalu dari jadwal tayang film yang ingin dia tonton. Namja jangkung itu mendengus dan menghempaskan punggung ke sandaran kursi dengan kesal. Pada akhirnya film yang mati-matian dia perjuangkan sampai harus menolak dan mengundur semua meeting serta jamuan kerja di akhir pekan ini terlewatkan dengan sia-sia.
Chanyeol mengetukkan ujung sepatunya ke permukaan lantai, tanpa ada maksud untuk membuat suasana tegang di sekitarnya menjadi lebih menguarkan hawa frustasi lagi. Tapi dia sedang kesal, berdiam diri hanya akan membuat emosinya semakin menumpuk di ubun-ubun dan berakhir dengan menjajah keji mood-nya hingga berantakan. Namja tersebut memandang ke depan, mengarahkan mata ke sosok anggun berambut panjang dan memakai dress warna mint, yang sedang menundukkan wajah cantiknya dengan gesture tubuh menunjukkan jika dia sedang gugup.
Chanyeol menghela napas pelan, lantas namja tiang itu kembali mendekatkan dirinya ke tepi meja, meletakkan kedua tangannya di atas meja, dan menatap intens pada Himchan yang duduk diam di hadapannya.
"Kau bilang kau ingin bicara denganku." Suara berat Chanyeol merobek keheningan panjang yang mengungkung mereka sejak keduanya duduk di salah satu sudut meja-kursi di rest area bioskop.
Wajah Himchan mendongak, membalas tatap mata lebar Chanyeol dengan sepasang mata hitamnya yang bening dan cantik, mata yang dulu pernah membuat Chanyeol tergila-gila dan rela melakukan apapun untuk mendapatkannya.
"Apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku, Yeolie?" balas Himchan.
Seringaian muncul di bibir Chanyeol. "Apa maksudmu? Memang apa yang ingin kau dengar dariku? Ucapan selamat lagi, huh?" namja itu merasa geli sekaligus kesal.
Himchan mengambil napas dalam. "Apa kau marah padaku?" desisnya memasang wajah sedih.
"Kenapa kau baru menanyakan itu sekarang?" Chanyeol kembali menjawab pertanyaan gadis cinta pertamanya tersebut dengan kalimat yang juga berakhiran dengan tanda tanya.
Namja itu terlihat sangat tidak nyaman berbicara dengan Himchan membuat semua nada kalimatnya terkesan begitu ketus. Dan memang itulah yang sedang dirasakan oleh Chanyeol sekarang. Bertatap muka dengan orang yang paling tidak ingin dia temui di dunia ini, setidaknya setelah Himchan mendepaknya dengan begitu dingin dan tanpa perasaan. Dan bahkan gadis itu tidak menoleh saat berjalan pergi meninggalkannya, serta sama sekali tidak ada kata 'maaf' yang keluar dari bibir tipisnya setelah berhasil membuat Chanyeol terpuruk sendirian di sudut ruang kosong hatinya yang berdarah.
"Oppa..." Himchan mendesis.
Chanyeol nampak terkejut mendengar kata pendek itu, namun kemudian dia menyeringai. Entah kenapa telinganya terasa gatal dipanggil seperti itu.
"Kau yakin kau masih berada di posisi bisa memanggilku seperti itu, eoh? Kalau suamimu mendengarnya, dia akan salah paham padaku." Chanyeol memperingatkan.
"Aku dijodohkan," ujar Himchan masih tidak merubah raut wajahnya yang sedih.
"Ara, kau sudah mengatakan itu saat kita berpisah," sahut Chanyeol.
"Aku dipaksa menikah dengannya," imbuh Himchan.
Kali ini Chanyeol tidak menjawab.
"Aku tidak mencintainya," tutup Himchan membuat mulut Chanyeol semakin mengatub. Iris coklatnya mendaratkan tatapan datar pada gadis putih berparas keturunan Jepang yang tak henti-hentinya memandang melas padanya tersebut.
"Aku tidak bisa melawan kehendak keluargaku, selain itu perusahaan Appa juga membutuhkan korelasi ini. Awalnya aku pikir, kalau aku setuju untuk menikah, lama-lama aku akan terbiasa dan bisa menerima Yongguk. Aku sudah menahan diri selama setengah tahun, tapi aku tetap tidak bisa melihatnya lebih dari status sebagai 'suami'. Perasaan suka yang aku rasakan padamu, aku tidak merasakannya pada Yongguk sama sekali. Pernikahanku hambar, tapi aku tidak bisa melakukan apapun," tutur Himchan panjang dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.
Chanyeol menelan ludah, perlahan dia menundukkan kepala, dan mengalihkan pandangan dari wajah Himchan. Dia tidak boleh memandangnya. Jangan sampai dia terlena dan jatuh pada air mata gadis itu. Chanyeol lemah jika berhadapan dengan wanita yang menangis.
"Oppa, maafkan aku..." lirih Himchan. Dia sengaja memanggil Chanyeol dengan sebutan 'Oppa', trik yang selalu dia gunakan untuk merajuk pada namja yang tidak pernah mampu menolak aegyo dan puppy eyes tersebut. Dan selama ini, trik itu tidak pernah gagal.
Chanyeol menggigit bibir bawahnya, semakin merasa gelisah. Wajah sedih Himchan, puppy eyes gadis itu, dan suaranya yang memelas ... jika hal ini terus berlanjut, Chanyeol merasa kewarasannya akan hilang dan dia bisa berakhir dengan menuruti semua keinginan mantan kekasihnya itu. Oh, dosa apa yang sudah dilakukannya sehingga dia harus kembali berhadapan dengan situasi yang selalu membuatnya menghela napas dan meloloskan permintaan Himchan seperti ini?
Chanyeol frustasi, dia memaki dirinya sendiri di dalam hati karena terlahir dengan sifat yang tidak pernah tega menyakiti yeoja dan terlalu menghargai mereka. Terlalu menghargai atau kasihan? Ah, itu beda tipis bagi Chanyeol. Intinya, hal-hal seperti puppy eyes dan aegyo adalah pantangan besar! Haram hukumnya untuk Chanyeol!
Chanyeol menghela napas perlahan, menutup mata, dan kembali membuka matanya dengan sorot lemah. "Jadi apa maumu sekarang?" dia menyerah.
Himchan tersenyum. Sebaris senyuman manis sedikit manja tersungging di parasnya yang elok, memberikan kesan elegan dan sombong di waktu yang bersamaan. Namun tetap saja, dia nampak cute jika dilihat dari sisi manapun. Benar-benar cerminan seorang nona muda yang sempurna.
"Oppa memaafkan aku?" gadis itu belum melepaskan aegyo-nya.
"Aku tidak pernah marah padamu," jawab Chanyeol lirih. "Kau tahu aku selalu menghargai setiap keputusanmu selama itu baik untukmu," imbuhnya.
"Tapi keputusanku yang ini sama sekali tidak membawa kebaikan padaku," tukas Himchan.
Chanyeol memandang mata Himchan dengan datar. Tak ada emosi apapun di iris coklat itu selain perasaan lelah. Lelah fisik, mental, dan hati. Jika tadi Chanyeol ingin terjun bebas ke lantai satu karena dikerjai habis-habisan oleh Baekhyun, sekarang rasanya dia ingin mati karena tidak bisa melakukan satu pun hal dengan benar, terutama dalam hal menjaga harga dirinya sebagai seorang pria.
Perlahan tangan putih Himchan bergerak ke tengah meja, terus terulur hingga meraih jemari panjang berurat tegas milik Chanyeol dan menggenggamnya erat. Sementara namja itu hanya mendaratkan tatapan mata dingin dengan emosi yang masih tak teraba pada tangannya yang diremas kuat oleh jemari lentik tersebut. Hatinya sedikit bergetar merasakan kehangatan sentuhan itu, namun matanya langsung meredup manakala dia melihat cincin putih yang melingkar di jari manis tangan Himchan. Benda kecil yang menjeritkan status Himchan sekarang sebagai seorang 'istri'.
Chanyeol mendesah tanpa suara. Tidak dapat dia pungkiri, meskipun dia sudah tidak ingin melihat dan bertemu dengan Himchan lagi, meskipun kehadiran bahkan hanya bayangan gadis itu saja sudah cukup untuk membuat dadanya berdenyut nyeri, namun biar bagaimanapun gadis itu adalah cinta pertamanya. Orang yang pertama kali mengenalkan cinta dan semua manis-pahitnya pada Chanyeol yang selama hidup hanya memikirkan cita-cita dan ambisinya menjadi seorang pengusaha sukses seperti Appa-nya. Dan bertatapan langsung dengan Himchan seperti saat ini membuat Chanyeol tidak dapat menghindari getaran di dalam hatinya.
Himchan yang feminim, cantik, dan anggun adalah mahkota berlian yang diperebutkan banyak orang di sekolah swasta elit tempat Chanyeol dulu belajar. Dan merupakan sebuah kebanggaan bagi namja jangkung itu untuk bersanding menjadi kekasih sang primadona setelah sebelumnya dia mempertaruhkan segala hal untuk mendapatkannya. Termasuk image-nya sebagai seorang siswa teladan dan anak tunggal pemilik 'raja' department store.
Namun dibalik keanggunan, kecantikan, dan seribu aegyo-nya yang mematikan, Himchan adalah seorang tuan putri yang penuh dengan tuntutan dan ambisi. Semua keputusan dan keinginannya adalah mutlak. Dan hal itulah yang sering memicu keributan antara dia dan Chanyeol, karena Himchan sangat mudah ngambek pada hal-hal kecil, membuat tensi darah Chanyeol naik-turun.
Tapi pertengkaran mereka tidak pernah berlangsung lama. Selain karena Chanyeol memang orang yang tidak suka membiarkan masalah berlarut-larut, Himchan juga sangat pandai menggunakan kelebihannya ber-aegyo. Dia sangat tahu caranya menggunakan puppy eyes dan aegyo-nya untuk mendapat anggukan pasrah dari kekasihnya. Dia pun tidak harus merendahkan harga dirinya dengan meminta maaf, sebab Chanyeol akan langsung melupakan semua sikap kekanakannya hanya dengan sedikit rayuan dan keimutan yang dia perlihatkan.
Hubungan seperti itulah yang bertahun-tahun Chanyeol habiskan bersama dengan gadis bernama Kim Himchan tersebut. Tidak setiap hari berjalan baik, namun selalu memiliki akhir yang baik untuk kedua belah pihak maupun hanya salah satu pihak. Dan Chanyeol tidak pernah keberatan, tidak pernah mempermasalahkannya, apalagi punya pikiran untuk meninggalkan Himchan. Selama gadis itu tidak bosan bergelayut manja padanya dan tetap menyunggingkan senyuman manisnya, meski dunia seisinya dia minta, Chanyeol akan memberikannya.
Dicintai dengan begitu membuta hanya karena dia adalah cinta pertama, tak lantas membuat Himchan sadar diri jika dia sangat berharga untuk kekasihnya. Gadis itu meninggalkan Chanyeol dengan alasan tidak dapat menolak perjodohan demi kepentingan perusahaannya. Padahal kekasihnya itu sudah mengatakan jika dia bisa mengusahakan korelasi bisnis apapun dan akan memberikan semua keuntungan di pihak Himchan, namun tetap saja gadis itu bergeming.
Chanyeol terpuruk. Tak ada waktu baginya untuk mengungkit semua pengorbanannya di masa lalu guna mempertahankan hubungan cintanya, karena dia yakin Himchan pun juga tidak akan peduli sama sekali. Hingga pada akhirnya, undangan pernikahan mendarat mulus di permukaan meja kerja Chanyeol, membawa perasaan kosong di dalam hatinya yang telah mati rasa karena tangis yang berhari-hari. Dan dengan memasang wajah poker serta berakting seolah dia tidak mengenal mempelai wanita, Chanyeol datang ke pernikahan itu.
Sepasang iris coklat tersebut menerawang total dan sangat memperlihatkan jika pemiliknya sedang melamun, terlebih karena dia tidak memberikan respon apa-apa pada genggaman tangan cantik yang semakin kuat dan menuntut di dalam tangannya. Chanyeol baru menggerakkan pupil matanya ketika merasa ujung kuku Himchan menusuk kulitnya.
Chanyeol kembali menatap wajah Himchan yang belum merubah ekspresi puppy eyes-nya. Ada sesuatu yang berdesir di dalam dada Chanyeol memandang mata indah itu. Bukan lagi aliran hangat yang membawa kebahagiaan seperti dulu, perasaan ini lebih mirip seperti banjir lelehan gletser yang menerjang celah sungai kering berbatuan di dasar jurang yang sangat gelap. Terasa begitu dingin, sakit, dan asing.
"Yeolie." Himchan memanggil Chanyeol dengan nama kesayangan yang selalu dia perdengarkan ketika mereka masih bersama. "Aku mencintaimu. Masih sangat mencintaimu."
Untuk beberapa saat ekspresi wajah Chanyeol bergeming, tetap datar. Namun kemudian, akhirnya perubahan itu ada. Perlahan sorot mata namja tersebut melembut, terasa gerakan tangannya yang balas menggenggam jemari Himchan, membuat gadis itu tersenyum. Melihat senyuman Himchan, bibir Chanyeol ikut menyunggingkan sebaris senyum tipis, menyempurnakan wajah tampannya dan aura bijak yang dia miliki.
. . .
Mata Baekhyun yang ber-eyeliner tegas melirik ke arah atas, ke salah satu sudut dinding di depannya, tempat tergantungnya sebuah kamera CCTV. Agaknya Yongguk tidak menyadari keberadaan kamera semacam itu di hampir semua tempat di mall Kingdom dan membawa Baekhyun menyepi begitu saja di tangga darurat. Dalam hati Baekhyun bersyukur dengan sistem keamanan nyaris sempurna dari mall olahan tangan Chanyeol tersebut. Karena jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang buruk padanya di tempat sesepi itu, dia hanya tinggal melambaikan tangan ke kamera (sumpah, ngakak pas nulis kalimat ini, lol XD).
Baekhyun melipat lengan di depan dada. Matanya sinis menatap pada Yongguk yang berdiri tegak di hadapannya dengan sorot mata tenang membalas ekspresi kesal yang kentara menguar dari wajah mungilnya. Sepertinya namja itu masih ingat cara menghadapi Baekhyun si gunung berapi. Semarah-marahnya Baekhyun, semeledak-meledaknya Baekhyun, satu-satunya cara paling ampuh untuk memenangkan 'pertempuran' melawannya adalah dengan tetap bersikap tenang. Karena jika ledakan emosi Baekhyun dijawab dengan ketenangan, maka Baekhyun sendiri yang akan uring-uringan dan lama-lama dia akan diam karena capek. Tapi jika sebaliknya, yang ada malah Baekhyun akan membuat lawan bicaranya menjadi emosi dua kali lipat dari dirinya dan berujung dengan kehilangan akal sehat.
Semenit, dua menit, tiga menit, entah sudah berapa lama keheningan itu ada menyelimuti wilayah Baekhyun dan sekitarnya. Membuat gadis tersebut makin menekuk wajah hingga kusut. Dia benci keheningan, dia benci didiamkan, karena itu akan membuat jiwa dan mentalnya tertekan. Dia lebih mudah badmood saat didiamkan terlalu lama daripada dipancing untuk meledak. Karena jika dia didiamkan, hal itu akan membuatnya berpikiran yang macam-macam tanpa adanya kejelasan yang pasti. Dan dia benci kegalauan intern seperti itu!
Baekhyun mengatubkan mulut, dia sudah tidak peduli lagi bagaimana rupanya sekarang. Dentuman gempa dan lahar panas yang semakin berkumpul di dalam hatinya, tinggal menyisakan beberapa persen saja sampai sebelum semuanya meluber dan melumat ladang kesabarannya.
Sementara Yongguk masih tetap berdiri, bergeming menatap lurus ke arah Baekhyun yang membalas tatap matanya dengan delik sengit penuh kemarahan. Dia tidak heran jika yeoja itu sangat marah padanya, karena dia sendiri sadar dengan kesalahan yang sudah dia lakukan. Meninggalkannya, tidak mampu mengatakan jika dia terjebak dalam perjodohan, dan menikah tanpa mengucapkan apa-apa.
Yongguk menghela napas, sejujurnya dia sangat terkejut ketika melihat kedatangan Baekhyun di pesta pernikahannya dulu. Awalnya dia bermaksud untuk memberitahukan langsung pada gadis itu beberapa hari setelah pernikahannya berlangsung. Sekedar meminta maaf dan mengakhiri semua hal dengan baik-baik, meski dia tahu Baekhyun tidak akan mungkin memaafkannya dengan begitu mudah dan tidak akan membiarkan hal ini berakhir baik begitu saja. Satu atau dua bogem mentah sudah diprediksikan Yongguk pasti akan melayang padanya, mengingat yeoja mungil itu juga menekuni hapkido dan punya kemampuan yang bukan di level amatiran.
Yongguk sudah merencanakan semua hal itu dengan matang, tapi kedatangan Baekhyun menghancurkan semuanya, membuatnya belum sempat mengatakan penjelasan apa-apa sampai detik ini. Yongguk perlahan mengalihkan mata dari Baekhyun yang malah membuat sikapnya itu terlihat seperti sedang salah tingkah. Sementara gunung berapi aktif di hadapannya itu sudah bersiap untuk mengeluarkan letupan erupsi pertama.
"Mau bi..."
"Baekhyun-ah." Suara berat Yongguk memotong dan menenggelamkan suara kecil Baekhyun hingga ke dasar palung laut. Mulut Baekhyun meruncing. Dia paling benci jika ada yang menyela kalimatnya. Sangat benci!
"WAE!?" nada suara Baekhyun mendadak tinggi.
Awalnya dia hanya merasa kesal karena sudah bertemu dengan Yongguk tanpa ada persiapan hati apa-apa, lalu merasa kesal karena sudah didiamkan begitu lama dan dibiarkan menganggur seperti kambing congek, kemudian sekarang ucapannya dipotong dengan begitu frontal. Bagus sekali, Baekhyun sudah punya alasan yang komplit untuk membunuh orang malam ini.
"Mianhe," desis Yongguk masih belum merubah nada kalimatnya yang rendah dan dipenuhi dengan penyesalan. Didukung oleh pita suaranya yang berat dan dalam, membuat permintaan maaf pendek itu terdengar makin memelas. Tapi entah kenapa Baekhyun tidak terpengaruh sama sekali dengan perkataan Yongguk dan malah balas memunculkan seringaian remeh di bibirnya yang tipis.
"Aku katakan padamu, meski kau membalikkan langit dan bumi hingga bertukar tempat, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Dan harusnya kau tahu itu...OP – PA," tegas Baekhyun penuh sindiran.
Yongguk menghela napas kembali, memutar mata lagi dan mengalihkan pandangan sekali lagi dari wajah cantik di depannya yang meskipun terlihat sangat marah, tapi tak dapat dia pungkiri masih berhasil membuat dadanya bergetar hebat. Meskipun bibir tipis itu tetap tidak berubah, dengan ringannya melepaskan kata-kata seruncing anak panah dan tanpa rasa takut membalas setiap kalimat yang terlontar padanya.
Namun justru di situlah daya tarik Baekhyun. Tubuhnya yang mungil dan wajahnya yang cantik, namun tidak dibarengi dengan kepribadian yang serupa, terutama mulutnya, malah membuatnya terlihat sangat menantang. Menantang untuk menaklukkannya. Dan kebanyakan pria menyukai tantangan, termasuk Yongguk.
Moment pertemuan pertama dengan Baekhyun dulu sangat tidak mengenakkan. Yeoja mungil itu memaki-maki Yongguk di depan umum karena tidak mau minta maaf setelah tidak sengaja menabrak temannya hingga dia menjatuhkan gelas soft drink dan membuat baju temannya basah. Ketika itu Baekhyun datang terlambat dan tidak tahu jika yang sebenarnya menabrak dan tidak hati-hati adalah temannya dan bukan Yongguk.
Makanya Yongguk tak heran jika beberapa hari kemudian Baekhyun datang mencarinya untuk meminta maaf. Dia bilang kalau dia baru tahu jika Yongguk tidak bersalah. Dia juga mengakui kalau dia adalah tipe orang yang selalu mudah meledak. Mulutnya selalu maju lebih cepat dibandingkan dengan isi kepalanya dan karena itulah dia sering mendapatkan masalah.
Awalnya Yongguk melepaskan Baekhyun begitu saja karena gadis yang terlalu 'liar' bukanlah tipenya. Namun kemudian beredar kabar kalau ada anak tingkat satu dari jurusan design yang sangat menarik. Cantik, seksi, oriental, dan 'menantang'. Berita itu menyebar dengan cepat hampir ke seluruh bagian fakultas seperti pandemi[1]. Karena penasaran, akhirnya Yongguk ikut teman-temannya untuk melihat artis dadakan itu dan voila! Dia adalah Baekhyun.
Demi mempertahankan image-nya sebagai seorang cassanova, Yongguk pun mulai merayu Baekhyun. Dengan menggunakan alasan kecerobohan gadis itu karena sudah mempermalukannya tempo hari, dia mengajak Baekhyun makan malam. Dan keberhasilannya membawa gadis itu untuk dinner, membuatnya memenangkan taruhan di tempat nongkrongnya dengan imbalan uang yang cukup besar.
Keisengan berbuah cinta, itulah yang dialami Yongguk. Menjalin pertemanan (awalnya) dengan Baekhyun membuat namja itu semakin mengenal yeoja mungil tersebut lebih jauh. Dan di luar perkiraan, yeoja 'liar' yang dikira Yongguk tidak akan pernah dia sukai, ternyata adalah yeoja 'menyenangkan' yang sangat menarik perhatian. Baekhyun adalah orang yang ekspresif, nyaris tanpa kebohongan sama sekali. Apa yang dia katakan, itulah yang dia rasakan. Benar-benar polos seperti anak kecil, cukup mengagetkan Yongguk.
Terlepas dari mulut tajamnya, Baekhyun juga seorang gadis yang cute. Dia sering melakukan hal-hal imut tanpa dia sadari seperti mem-pout-kan bibirnya sampai seruncing pensil ketika sedang kesal atau memasang ekspresi wajah blank-puppy ketika dia tidak mengerti dengan suatu penjelasan. Dan aegyo-nya itu selalu berhasil membuat Yongguk gemas setengah mati.
Yang paling Yongguk sukai adalah Baekhyun selalu penuh dengan kejutan, menjadikannya tidak membosankan. Selalu ada sisi baru dirinya yang terungkap, membuat Yongguk tidak pernah ingin meninggalkan gadis itu karena dia merasa jika Baekhyun masih memiliki banyak misteri yang belum dia ketahui.
Perlahan Yongguk menghela napas. Dia menenangkan hatinya yang masih bisa merasakan gejolak panas bongkahan perasaannya pada Baekhyun. Kemudian namja tersebut mengumpulkan segenap keberaniannya untuk kembali memandang gadis yang memiliki mata hazel kecil, namun terlihat begitu cemerlang seperti kerlipan bintang baginya.
Sebisa mungkin Yongguk menahan diri untuk tidak memeluk tubuh mungil yang sudah sangat lama dia rindukan tersebut, mengecup bibirnya, lalu menikmati rona merah di kedua pipinya setelah menerima sentuhan Yongguk. Baekhyun terlalu berharga untuk dilepaskan, dia terlalu indah untuk ditinggalkan, meski yang Yongguk lakukan adalah semua hal itu. Melepas dan meninggalkan yeoja yang dia sendiri mengakuinya sebagai yeoja yang paling dia inginkan di dunia.
"Baekhyun-ah, aku tidak bermaksud untuk melukaimu," desis Yongguk.
"Tapi kau sudah melakukannya," sahut Baekhyun cepat.
"Bukan aku yang memutuskan perjodohan dan pernikahan ini," tambah Yongguk.
"Tapi kau menyetujuinya." Baekhyun masih tegas dengan kalimatnya.
"Baekhyun-ah, aku mencintaimu..."
"CUKUP!" jerit Baekhyun memotong, kedua matanya memerah dengan selaput kaca yang sedikit demi sedikit mulai berkumpul.
"Aku mohon jangan katakan apapun lagi, jangan mengatakan hal-hal yang bisa membuatku semakin membencimu. Aku tidak mau membencimu lebih dari ini. Aku mohon, Oppa..." pinta Baekhyun dengan suara parau.
Hati Yongguk seperti diremas mendengar perkataan Baekhyun dan selaput air matanya itu ... ah, Yongguk tidak dapat menahan diri lagi.
"Baek..." Yongguk bergerak maju, hendak meraih wajah gadis mungil di depannya yang sudah memerah akan menangis. Namun Baekhyun mendadak memundurkan kakinya dengan cepat menghindari Yongguk.
"Jangan mengasihaniku, jangan lagi bersimpati padaku. Apapun yang aku lakukan, apapun yang terjadi padaku sekarang, itu sudah bukan urusanmu lagi. Jadi tetaplah di tempatmu dan jangan dekati aku," desis Baekhyun. Suaranya masih parau, tapi nada bicaranya berubah datar dan dipenuhi ketegasan. Seolah dia sedang berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri.
"Aku minta maaf, Baek..." Yongguk kembali memohon.
Baekhyun terdiam sesaat, memandang kedua mata tajam namja tinggi di depannya yang sekarang terlihat begitu memelas dan menyedihkan. Kenyataan kali ini sangat kontras jika dibandingkan dengan image Yongguk yang selama ini berakar di dalam ingatan Baekhyun. Seorang Bang Yongguk yang menjadi direktur perusahaan smartphone terkenal dan selalu bersikap profesional, tegas, serta bertangan besi. Jangankan memohon untuk dimaafkan, dia bahkan tidak pernah menampakkan ekspresi penyesalan pada para pesaingnya yang bunuh diri karena perusahaan mereka yang bangkrut di depan permainan bisnisnya.
Yongguk adalah pribadi yang keras, dia bukan orang yang mudah minta maaf ataupun memaafkan. Jika dia melakukan itu, pasti ada yang dia inginkan. Baekhyun bukannya berprasangka buruk, tapi berpacaran bertahun-tahun dengan namja itu cukup membuatnya hapal dengan tabiat Yongguk.
"Gurae, anggap aku sudah memaafkanmu. Kau puas 'kan sekarang? Jadi pergilah, jangan ganggu aku lagi," tandas Baekhyun lalu melangkahkan kaki, melewati tubuh jangkung Yongguk, hendak meninggalkan namja itu secepatnya. Namun Yongguk tak tinggal diam, dia meraih lengan Baekhyun dan menariknya dengan kuat. Badan mungil Baekhyun terhempas dengan ringannya dan berakhir dengan tersudut menempel di dinding.
Mata Baekhyun melotot horor pada sepasang pupil gelap Yongguk yang mengintimidasinya dengan tajam. Apalagi dengan posisi mereka sekarang, kedua lengan kuat namja itu memenjarakan kedua tangan kurusnya hingga tak bisa bergerak sedikit pun di dinding yang dingin.
Jantung Baekhyun menggelepar, bukan karena terpesona, tapi karena takut, takut pada kilat posesif yang mulai muncul di kedua mata mantan kekasihnya itu. Selain bersifat keras, Yongguk adalah tipe namja yang posesif akut dan tidak akan pernah melepaskan apapun yang dia anggap sudah menjadi miliknya. Semua yang sudah berada di bawah kekuasaannya adalah mutlak miliknya dan tidak ada seorang pun yang dapat merebutnya darinya atau orang itu akan berakhir dengan menyedihkan. Dan sepertinya, sekarang dia menganggap Baekhyun sudah menjadi 'miliknya'.
Yongguk mendekatkan wajahnya perlahan pada Baekhyun yang semakin menempelkan kepala belakangnya ke dinding, berharap dia akan bisa menembus dinding itu seperti hantu.
"Baek, aku bilang padamu kalau aku minta maaf, kenapa kau malah sekasar ini padaku?" desis Yongguk dengan sorot mata sedih.
Baekhyun mengatubkan mulut. Apa ini sikap orang yang minta maaf!? Mana ada orang yang minta maaf tapi memaksa seperti ini!? Makinya dalam hati.
"Dan kau tahu 'kan bagaimana aku, Baek? Aku tidak ingin menyakitimu, jangan buat aku melakukannya. Di dunia ini, yang paling tidak ingin aku sakiti adalah kau. Karena kau adalah milikku yang paling berharga dan aku tidak pernah ingin membuat cacat barang berhargaku. Sebab, mereka harus sempurna untuk tetap jadi berharga," bisik Yongguk memaniskan suaranya.
Baekhyun tidak menjawab dan masih berusaha untuk melepaskan kedua tangannya dari cengkeraman Yongguk yang semakin kuat. Gadis itu menelan saliva dengan kasar dan napasnya mulai memburu menahan marah. Matanya berkilat seperti jutaan pedang samurai yang siap menebas Yongguk kapanpun namja itu melakukan hal-hal yang merugikannya.
"Dan orang yang paling tidak ingin aku benci di dunia ini adalah kau. Jadi berhentilah melakukan hal-hal yang membuatku marah seperti ini," geram Baekhyun.
Yongguk tersenyum miring, dia mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Baekhyun. "Kau sangat seksi kalau sedang marah, Baby," bisiknya seduktif. Entah sejak kapan Yongguk mulai salah fokus seperti ini. Seingat Baekhyun tadi, namja itu membawanya ke tangga darurat untuk meminta maaf. Tapi kenapa dia malah berakhir dengan merayunya?
Wajah Baekhyun memerah marah, kesabarannya sudah habis dan lahar di dalam hatinya sudah mulai meleleh keluar. Gadis mungil itu menggeliat keras, berusaha mengenyahkan tangan Yongguk. Meski sebenarnya, usahanya itu hanya akan membuat kedua tangannya terasa sakit karena namja tersebut malah berbalik memperkuat cengkeramannya di tangan Baekhyun. Baekhyun mengerang tertahan, merasa pergelangan tangannya akan putus jika hal seperti ini berlanjut.
"Tenanglah, Baby. Kau tahu kalau pemberontakanmu itu hanya akan merugikan dirimu sendiri," desis Yongguk sambil tersenyum penuh kemenangan pada singa betina yang sekarang berubah menjadi kucing kecil di bawah kuasanya itu.
Baekhyun menggeram semakin keras. Dalam hati makian demi makian dia lontarkan pada namja bersuara bass di hadapannya sekarang.
"Kalau kau tidak segera melepaskan aku, aku akan berteriak," ancam Baekhyun.
Yongguk tertawa kecil. "Berteriaklah," tantangnya. "Keluarkan suaramu yang seksi itu. Aku merindukannya."
Baekhyun kembali mengetatkan geraham. "Kenapa kau jadi menyebalkan seperti ini?" desisnya.
"Kenapa ya?" nada kalimat Yongguk terdengar sangat memuakkan.
"Karena kau menolakku." Suara namja jangkung itu berubah datar dan dingin. Sedikit menyeramkan.
"Dan karena kau merendahkanku..."
"Aku tidak merendahkanmu," sela Baekhyun cepat. "Tapi kaulah yang merendahkan dirimu sendiri." Sepasang mata yeoja itu berkilat, tidak memperlihatkan ketakutan sedikit pun.
"Kau membohongiku dan meninggalkan aku sampai seperti ini. Apa kau tahu bagaimana perasaanku? Apa kau pernah memikirkan perasaanku!?" suara Baekhyun meninggi.
"Aku...! Aku bertahan di Paris, berharap suatu hari kau akan kembali dan melamarku seperti janjimu. Tapi ternyata yang datang padaku adalah berita pernikahanmu. Aku merasa seperti orang bodoh sudah percaya dan menunggumu selama ini tanpa punya pikiran sedikit pun jika kau akan berkhianat padaku. Dan aku merasa semakin bodoh karena aku sudah menangis untuk munjasekki sepertimu yang bahkan bisa dengan gampangnya tersenyum pada semua orang tanpa rasa bersalah."
Yongguk terdiam, terkejut dengan perkataan Baekhyun barusan.
"Kau...menangis?" desis namja itu lirih, pegangannya pada tangan Baekhyun mengendor.
"Ne, aku menangis. Awalnya aku menangis. Tapi kemudian aku berpikir jika hal itu akan sia-sia saja. Kh, aku bahkan tidak akan heran jika kau tidak mengingatku waktu menerima perjodohan ini," jawab Baekhyun tajam sambil menarik kasar kedua tangannya. Pergelangan tangan kecil itu nampak memerah dan lebam karena sudah diremas dengan begitu kuat.
"Aku memikirkanmu, aku tidak pernah melupakanmu sedetik pun. Tidak pernah! Tapi...tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa." kalimat Yongguk berubah meratap.
Baekhyun menyeringai. "Sebesar apa kau memikirkan aku, hah? Kalau memang kau benar-benar memikirkan aku seperti yang barusan kau katakan, kau pasti tidak akan menikah seperti ini. Kau pasti akan lebih memilihku dan menolak perjodohan apapun! Masih ada jalan kalau kau mau berusaha sedikit saja. Tapi kenyataannya, lihatlah dirimu sekarang. Kau menikah, mencampakkan aku, dan kau masih mau bilang jika kau tidak bersalah dan tidak punya pilihan apapun?" Baekhyun menarik napas sebentar.
"Lalu setelah semua kekacauan itu, sekarang kau mengatakan kalau kau masih mencintaiku. Kh, lelucon apa yang kau buat ini? Apa kau sedang membujukku untuk mau menjadi selingkuhanmu? Well, for your info, aku BUKAN gadis menyedihkan yang BUTUH belas kasihan dari MANTAN kekasihnya seperti ini. Akan aku buktikan padamu kalau aku akan mendapatkan namja yang LEBIH baik darimu di segala hal. Jadi, kau tidak perlu repot-repot memintaku menjadi selingkuhanmu, karena aku menolaknya. Lagipula..."
Baekhyun berhenti sejenak sebelum mengeluarkan kalimat penutup yang dia tahu pasti akan membuat emosi namja di depannya langsung memuncak. Dia tahu itu, tapi dia tetap mengucapkannya.
"Bang Yongguk-ssi, aku sudah tahu kalau kau ini brengsek, tapi aku tidak pernah tahu kalau kau juga pengecut."
Tepat seperti dugaan Baekhyun! Ekspresi wajah Yongguk yang tadinya dipenuhi dengan penyesalan, langsung berubah. Alis tebal itu mengerut dalam sekejab dan sepasang matanya menajam mendengar semua perkataan berani gadis itu. Sementara Baekhyun sendiri mengambil napas pendek-pendek melawan deru jantungnya yang berpacu menyadari jika aura di sekitar mantan kekasihnya itu mulai memberikan sinyal tidak baik. Yongguk marah dan Baekhyun menyadarinya. Tapi kepalang basah, sudah terlambat kalau ingin minta maaf, lagipula Baekhyun tidak berniat untuk minta maaf sama sekali.
"Munjasekki sepertimu...umph!" umpatan Baekhyun terhenti karena mendadak mulut Yongguk menyambar bibirnya dengan cepat, menekan dan melumatnya dengan sangat kasar. Baekhyun mengerjabkan mata panik, kedua tangannya kalah kekuatan di dalam kungkungan tubuh tegap namja itu. Baekhyun menahan dada Yongguk dan mencoba untuk bersikap tenang saat dia sadar jika kepanikannya hanya akan sia-sia saja. Yeoja mungil itu menghitung satu sampai tiga di dalam hati selagi mengumpulkan kekuatan. Di hitungan ketiga, dia mendorong namja di depannya sekuat tenaga dan menarik bibirnya dengan paksa.
Yongguk bergerak mundur beberapa langkah dan Baekhyun bisa merasakan anyir darah di bibirnya yang lecet karena bergesekan dengan gigi namja itu. Baekhyun menggigit bibir bawahnya yang terasa perih, tanpa tahu jika tindakannya tersebut malah membuatnya terlihat seperti sedang menggoda dan Yongguk semakin gelap mata.
Namja itu kembali menerjang Baekhyun, menekan kedua bahu sempitnya hingga menyatu dengan dinding, menenggelamkan wajah di ceruk leher jenjang gadis itu.
"ANDWE! ACK!" Baekhyun menjerit sambil berusaha menjauhkan tubuh Yongguk. Lehernya terasa sakit karena digigit dan dihisap dengan liar oleh namja itu. Kedua tangan kecil Baekhyun mencengkeram bahu bidang Yongguk nyaris mencakarnya, sepasang mata hazelnya berair, dan dia semakin panik saat merasakan resleuting jaket Chanyeol ditarik turun.
Chanyeol-ah... dari semua nama yang dikenal Baekhyun, entah kenapa mendadak dia memanggil nama Chanyeol. Bayangan wajah namja itu dan senyum bodohnya terpampang jelas di benak gadis mungil tersebut. Air mata Baekhyun semakin banyak berkumpul, mengingat dia datang ke mall itu untuk bertemu dengan Chanyeol namun malah berakhir seperti ini.
Baekhyun menutup mata, menahan kristal bening supaya tidak jatuh di pipinya. Dalam hati dia tidak ingin menyerah, tapi secara sadar dia tahu jika dia tidak akan menang melawan Yongguk dan suara napasnya yang sudah memburu dilingkari oleh nafsu itu. Cengkeraman tangan Baekhyun di bahu Yongguk melemah.
"Berhentilah melihatnya. Kalau kau masih merasa sakit waktu melihatnya, jangan lihat dia, jangan acuhkan dia, jangan biarkan dia menggoyahkan hatimu. Kau sudah bersikap tegar dan keren sampai detik ini, jadi jangan hancurkan itu atau kau akan membuat dia besar kepala karena merasa kau tidak bisa hidup tanpanya..."
Mata Baekhyun terbuka dalam sekejab ketika kalimat panjang yang pernah dilantunkan oleh suara berat Chanyeol di masa lalu, kembali menyeruak naik ke permukaan memorinya. Tak hanya itu, Baekhyun pun juga mengingat bagaimana ekspresi namja tersebut ketika mengatakannya. Tegas, mantap, dan dengan sedikit sirat khawatir dari kedua mata lebarnya.
Baekhyun baru sadar, jika saat itu ada kilat khawatir yang tersimpan di sorot mata Chanyeol. Kekhawatiran yang tidak pernah dia ucapkan, namun terpampang jelas di kedua matanya. Tapi sialnya, hal tersebut tidak disadari oleh Baekhyun kala itu. Chanyeol sama sekali tidak memikirkan perasaannya yang pasti juga carut-marut saat bertemu dengan Himchan, namun dia malah memikirkan perasaan Baekhyun yang harus melihat Yongguk tanpa dapat dia hindari dan membantunya untuk mengalihkan perhatian.
Kembali mata Baekhyun berair, bukan karena Yongguk yang semakin kasar memperlakukan tubuhnya, tapi karena sekarang Chanyeol sudah sepenuhnya memenuhi spasi di dalam kepala gadis mungil itu. Di tambah dengan kenyataan, bahwa namja bermata lebar tersebut sedang tidak ada di sini bersamanya sekarang dan tidak bisa membantunya lagi. Di detik yang singkat itu Baekhyun merasa, jika dia merindukan Chanyeol.
Perlahan gigi Baekhyun mengetat dan tangannya menggenggam dengan kuat. Napas gadis itu menjadi berat, bukan karena terangsang oleh ciuman-ciuman Yongguk di lehernya, tapi karena dia marah. Level emosi Baekhyun mulai naik bertahap dari angka satu, dua, tiga, perlahan semakin merangkak ke tingkat maksimal. Dan begitu uap panas sudah keluar menandakan air telah mendidih, Baekhyun memegang kedua telinga Yongguk dan menariknya dengan kuat, dia fokus pada menarik kedua anting namja itu.
Berhasil! Yongguk memekik kesakitan seraya menjauhkan wajah dari kulit Baekhyun.
DUAGH! Belum berhenti sampai di situ, Baekhyun masih memberikan bonus berupa benturan dari kepala ke kepala sekuat tenaga membuat Yongguk mengaduh sekali lagi. Kemudian yeoja bertubuh mungil tersebut menghempaskan badan jangkung mantan kekasihnya ke samping. Yongguk terjatuh ke lantai dengan dua telinga dan kening memerah. Baekhyun sendiri memegang kepalanya yang sedikit pening, rasanya baru saja dia seperti membenturkan tulang tengkoraknya ke beton atau sejenisnya. Keras sekali!
Sambil berusaha melenyapkan pusing, Baekhyun memperbaiki penampilannya yang diacak-acak oleh Yongguk. Menaikkan lagi jaket Chanyeol yang sempat merosot turun, mengusap kasar lehernya yang dihiasi beberapa hickey dan basah oleh saliva Yongguk. Gadis itu mengurai rambut panjangnya hingga menutupi keseluruhan lehernya dan mendaratkan tatapan mata keji pada namja tinggi yang sudah kembali berdiri di hadapannya.
Yongguk menyeringai. "Kenapa kau urai rambutmu? Mau menggodaku, eoh?" tanya namja itu dengan napasnya yang masih terengah, sebelah tangannya memegang kepala yang terasa sedikit berdenyut karena ulah Baekhyun.
Baekhyun membalas seringaian Yongguk dengan seringaian juga. "Naega wae? Tanpa aku harus mengurai rambutku pun kau sudah tergoda 'kan? Sepertinya pernikahan sudah banyak memberimu manfaat, Bang Yongguk. Setidaknya, kau sudah berubah dari orang brengsek menjadi orang mesum sekarang," cela Baekhyun kembali menyalakan percikan api di kedua mata tajam Yongguk.
"Tidak bisakah kau menutup mulutmu itu?" desis Yongguk dengan mata berkabut antara emosi dan nafsu.
"Anniya, kau tahu kalau aku tidak pernah mau diam dengan mudah," balas Baekhyun berani.
Yongguk berjalan mendekati Baekhyun dengan ayunan kaki terburu, tidak sabar untuk kembali menerjang gadis mungil bermulut pedas itu. Namun kali ini Baekhyun tidak mau diam saja. Tepat ketika lengan panjang Yongguk terulur hendak meraihnya, sebelah tangan Baekhyun lebih dulu mencengkeramnya dari arah bawah, menekan bisepnya dengan ujung jari sekuat tenaga sambil menariknya dan memposisikan satu tangannya yang lain ke bagian ulu hati Yongguk.
BUGH! Satu tinju keras dari kepalan tangan kecil Baekhyun cukup membuat erangan lolos dari mulut Yongguk. Tubuh tegap namja itu melengkung merasakan sakit dan mual bersamaan di perutnya karena bogem mentah gadis mungil tersebut. Perlahan Yongguk ambruk ke lantai, memegang perutnya sambil memandang Baekhyun yang tersenyum sarkastik menikmati wajah kesakitannya.
"Neo..." tunjuk Yongguk dengan napas terputus-putus merasakan nyeri yang melilit perutnya.
"Naega wae~?" kalimat Baekhyun keluar dengan nada cute, sengaja menggoda Yongguk yang hanya dapat meringis menahan sakit. Yeoja bermata coklat itu menginjak sebelah tangan Yongguk, membuat namja tersebut kembali mengerang. Lalu Baekhyun berjongkok di dekat tubuh mantan kekasihnya yang masih terkapar, menangkap jari telunjuk Yongguk yang lain yang barusan sudah menudingnya tanpa ijin.
"Aku tidak melakukan ini di pesta pernikahanmu karena aku tidak mau mempermalukan diriku sendiri. Aku ingin kau tersiksa dan mengingatku dengan sikapku yang keren. Lalu membuatmu menyesal karena sudah mencampakkanku. Dan sepertinya aku berhasil, geutji?" mata Baekhyun membulat dengan senyum sarkas belum hilang dari bibir tipisnya yang terluka dan membengkak.
"Tapi sekarang, tidak ada yang perlu aku takutkan lagi. Dan aku..." Baekhyun mendekatkan bibirnya ke telinga Yongguk. "...akan membalas dendam padamu," bisiknya menguarkan aura hitam setan dari setiap pori-pori kulit tubuhnya, membuat wajah Yongguk memucat. Namja itu menelan ludah dengan seret. Baekhyun tidak main-main. Otaknya memberikan sinyal bahaya tingkat lanjut mengenai keseriusan kalimat yeoja mungil tersebut.
"Dan aku tidak akan pernah lagi memanggilmu 'Oppa' setelah ini. Mulai sekarang, aku nyatakan kita resmi putus, Bang – Yong – guk – Op – pa." Kalimat Baekhyun terucap satu per satu dengan sangat tegas dan mantap. Seringai mengerikan kembali tercetak di wajah cantiknya seiring dengan warna putih yang juga ikut merata melengkapi ekspresi takut yang diperlihatkan oleh Yongguk.
Baekhyun mengangkat jari telunjuk Yongguk, menempatkannya di antara dua gigi taringnya, lalu menggigitnya sekuat tenaga, menuai pekikan keras suara bass menggelegar dari mulut Yongguk hingga menggetarkan kamera CCTV yang terpasang di sudut paling atas dinding. Dan saking kerasnya suara itu, seolah gemanya masih akan terus terdengar hingga ke lantai basement.
"AAARRGGHH! BAEKHYUUUNN! LEPASKAANN! APPOOOHHH! AAARRRGGGHHH! ANDWEEEEE! UMMAAAAAAA!"
. . .
Chanyeol masih belum melepaskan tangan Himchan dan masih menatap lurus pada gadis itu tanpa melenyapkan senyuman di bibirnya. Begitu pun dengan Himchan yang juga tersenyum senang memandang Chanyeol, bahkan dia sudah menggenggam tangan namja itu dengan kedua tangannya, seperti tidak ingin melepaskan Chanyeol kemana-mana.
Dapat Chanyeol lihat, jika kedua mata Himchan berbinar dengan indah berhiaskan pantulan wajahnya di permukaan beningnya. Mata itu seperti berlian, berlian yang diukir, disepuh, dan dipoles oleh tangan pengrajin paling mahir di dunia. Membuatnya yang sudah berharga, menjadi semakin tak ternilai. Dan Chanyeol merasa jika dia tidak pantas memiliki berlian semahal itu. Meski dulu dia pernah sempat memilikinya dengan menukarkan hampir seluruh yang dia punya, tapi kemudian berlian itu hilang, dan sekarang dia muncul lagi setelah 'ditemukan' oleh orang lain. Masalah yang tersisa adalah apakah Chanyeol masih berhak untuk mengakui jika berlian itu 'miliknya' ?
"Himchan-ah," panggil Chanyeol dengan nada suara lembut, dia tidak pernah bisa memakai nada kasar setiap kali bicara pada wanita. Baekhyun? Dia pengecualian.
"Ne, Oppa?" jawab Himchan dengan manis.
"Kau gadis yang baik dan kau tahu kalau aku selalu ingin yang terbaik untukmu, jadi..."
"Yang terbaik untukku adalah bersama denganmu!" sela Himchan tidak ingin mendengar lanjutan kalimat Chanyeol.
Chanyeol tersenyum. Perlahan dia menarik tangannya dari genggaman jemari Himchan. Gadis itu mengetatkan cengkeramannya, tapi Chanyeol tidak mau mengalah kali ini. Dengan sedikit menggunakan kekuatannya, dia memaksa untuk melepaskan pagutan tangan mereka. Tangan Chanyeol terasa perih ketika akhirnya terlepas dari remasan kuat jemari lentik itu.
Wajah Himchan mendadak merah, kedua matanya berkaca-kaca, dan bibirnya meruncing. Kembali, dia menggunakan aegyo untuk merajuk pada mantan kekasihnya yang hanya memandang datar padanya.
Chanyeol menghela napas dengan dalam, menguatkan hatinya menghadapi sikap gadis itu. Ya, dia harus menguatkan hati kali ini. Bisa atau tidak bisa, dia harus memaksa hatinya untuk kuat. Kalau kali ini dia gagal, maka selamanya dia ataupun Himchan akan terjebak di dalam hubungan rumit yang berputar-putar. Dia tidak akan dapat melupakan Himchan dan akan menyia-nyiakan hatinya begitu saja untuk gadis yang sudah bersuami. Dan Himchan ... cinta? Kh, Chanyeol tidak dapat meraba ketulusan maupun perasaan dari kalimat yang diucapkan gadis itu. Entah apa alasannya, tapi Chanyeol merasa jika kata itu kosong, begitu hampa. Himchan mengatakannya bukan karena dia merasakannya, tapi karena dia ingin.
"Himchan-ah, aku tahu kalau kau sudah tidak mencintaiku lagi, aku mohon jangan bohongi hatimu..."
"Oppa..." Himchan berusaha menyela namun Chanyeol mengangkat tangannya, memintanya untuk diam.
Namja itu mengarahkan mata lebarnya pada mata indah Himchan, menatapnya hangat dengan penuh kelembutan. Tak ada getar apapun yang tersirat di sana selain tatapan mata bijak seorang kakak pada adiknya, maupun cara melihat antar teman.
"Aku mengenalmu tidak hanya satu atau dua hari. Kita sudah bersama sejak SMA, kuliah, dan sampai saat ini. Dengan tenggang waktu selama itu, aku pikir aku berhak mengatakan jika aku sangat mengenalmu. Kebiasaanmu, sifatmu, apa yang kau suka, apa yang kau benci, aku hapal semua itu di luar kepala. Dan aku tahu, kau mengatakan cinta bukan karena kau masih mencintaiku. Tapi karena kau membutuhkanku," tutur Chanyeol.
Himchan terdiam.
"Kau yang seorang tuan putri, yang kau butuhkan adalah orang-orang yang mengerti keinginanmu dan meloloskan semua yang kau mau. Seperti aku. Karena aku adalah satu-satunya, selain orang tuamu, yang sudah paham dan tahu bagaimana sifatmu itu sehingga kau merasa lebih nyaman kalau bersama denganku. Benar 'kan? Tapi kau merasa nyaman, bukan berarti kau mencintaiku. Kau membutuhkanku, bukan berarti kau punya perasaan padaku." Chanyeol mengambil napas sebentar.
"Aku menebak Yongguk pasti tidak memperlakukanmu dengan cukup baik. Lagipula dia tidak terlihat seperti orang yang mau diganggu dan dipaksa untuk menuruti keinginan orang lain. Yongguk tidak mau memanjakanmu, dia tidak bersikap seperti yang kau mau. Iya 'kan? Makanya kau mengatakan 'masih mencintaiku' dan memintaku untuk kembali, karena kau butuh orang yang bisa memahamimu lagi," tutup Chanyeol. Matanya masih mengarah pada Himchan yang perlahan menundukkan wajah.
Himchan menarik tangannya kembali ke pangkuannya. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Entah apa yang dipikirkan yeoja tersebut, mengakui kebenaran kata-kata Chanyeol atau sedang memikirkan kalimat pembelaan diri. Chanyeol sendiri tidak peduli. Toh apapun yang akan dikatakan Himchan, dia sudah memantapkan hati untuk mengakhiri hubungan mereka tanpa akan menyisakan cabang atau serat apapun.
Harus berakhir, harus selesai sampai di sini. Sehingga Chanyeol bisa menobatkan nama Kim Himchan sebagai 'kenangan cinta pertama'. Karena namja itu ingin kisah cinta pertamanya berakhir dengan manis, bukan malah tragedi. Supaya nanti dia bisa menceritakannya dengan bangga pada anak-anaknya, memberitahu mereka bahwa Appa-nya punya sweet first love story yang tidak akan memberikan bayang-bayang takut jatuh cinta pada para penerusnya kelak.
"Himchan-ah, kau selalu bergaul dengan baik dan kau juga dapat membuat orang-orang menyukaimu. Kali ini pun aku yakin, kau pasti juga akan bisa membuat Yongguk menyukaimu. Tetaplah menjadi dirimu sendiri, Kim Himchan yang ceria dan penuh dengan aegyo. Kalau kau berusaha terus, Yongguk pasti akan luluh padamu. Percayalah padaku. Jika memang waktu 6 bulan belum cukup untuk membuat kalian saling 'terbiasa' satu sama lain, mungkin satu atau dua bulan ke depan lama-lama akan ada perubahan. Karena tidak mungkin tidak ada yang berubah sementara kalian selalu bersama-sama. Jadi bersabarlah sedikit lagi dan jangan menyerah. Eoh?"
Himchan mengangkat wajah, matanya telah basah begitu pun dengan kedua pipinya. Chanyeol memang sudah bertekad untuk menguatkan diri. Namun seperti sudah mendarah daging, hatinya tetap saja mencelos melihat seorang gadis menangis tepat di hadapannya, apalagi dialah yang sudah membuatnya menangis. Chanyeol mengetatkan geraham, menahan sesak di dalam dadanya melihat air mata Himchan yang mengalir.
"Kau pembohong," desis Himchan parau.
Chanyeol mengalihkan pandangan, tidak sanggup memandang wajah menangis Himchan lebih lama.
"Kau bilang kau tidak marah padaku," imbuh Himchan.
"Kalau memang kau tidak marah padaku seharusnya KAU TIDAK MENOLAKKU!" suara gadis itu melengking seiring dengan isakannya yang mengeras, mengagetkan Chanyeol.
Namja itu membelalakkan mata dengan sikap histeris Himchan. Dia mengedarkan pandangan ke sekitar dan gugup melihat begitu banyak pasang mata yang sekarang mengarah ke tempat duduk mereka, mendaratkan tatapan menuduh pada Chanyeol.
"Ya, kenapa kau berteriak sekeras itu?" bisik Chanyeol menyayangkan sikap berlebihan Himchan.
"Hiks-" Himchan tersedu. Dia menatap tajam pada Chanyeol. Penolakan adalah hal yang paling dia benci dan itu membuatnya marah. Lalu tanpa sadar sifat egoisnya muncul ke permukaan.
"Apa karena YEOJA bernama Byun Baekhyun itu KAU MENOLAKKU? Kau benar-benar PACARAN dengannya!?" Himchan masih berteriak.
"Jangan berteriak...!" hardik Chanyeol tertahan.
"AKU TIDAK AKAN BERHENTI KALAU KAU TIDAK MENJAWABKU!" balas Himchan tidak mau mengalah.
"Aku tidak akan menjawabmu kalau kau tidak mau berhenti...!" pada akhirnya Chanyeol kehilangan kesabaran. Mulut Himchan mengatup seketika. Melihat kilat di kedua mata mantan kekasihnya membuat nyalinya sedikit ciut, biar bagaimanapun dia sangat tahu Chanyeol bisa berubah menjadi menyeramkan kalau dia sedang marah meski di kesehariannya dia adalah namja yang lucu dan menyenangkan.
"Aku melakukan ini bukan karena Baekhyun. Ada atau tidak ada dia, tidak akan merubah apapun. Kau yang lebih dulu mengakhiri semuanya secara sepihak dan kau yang memutuskan untuk menikah. Kau tidak memberiku kesempatan apapun sejak awal dan kalau kau baru memberiku kesempatan kali ini, itu sudah terlambat. Kau sudah menjadi istri orang dan aku tidak mau disebut sebagai perebut istri orang maupun perusak rumah tangga orang. Bukan karena image atau apapun.
"Aku mohon dewasalah, Himchan-ah. Cobalah menerima keadaan. Ini keputusanmu, sudah seharusnya kau tahu dan menanggung semua konsekuensi yang ada. Kalau kau merasa berat menjalaninya, pikirkan orang lain. Pikirkan Ayahmu, Ibumu, suamimu, dan perusahaan kalian. Jangan hanya mengikuti keinginan dan egomu saja. Kau sudah bukan anak kecil lagi, sudah waktunya kau sadar kalau dunia ini tidak selalu harus sesuai dengan keinginanmu," nasehat Chanyeol panjang lebar.
Himchan terdiam sesaat. Menatap kedua mata Chanyeol dengan air bening kembali luruh di kedua pipinya.
"Hiks-" gadis itu kembali terisak.
"Kau membenciku? Sekarang kau bahkan juga MEMBENCIKU!?" Himchan kembali menangis.
"Bukan begitu...!" Chanyeol memegang kepala dengan frustasi. "Aigoo, apa yang harus aku lakukan...!?" dia merutuk panik. Dalam kebingungan itu Chanyeol teringat pada kalimat kuno yang mengatakan jika wanita selalu menang. Entah siapa pencetusnya, namun Chanyeol selalu ingin memberikan karangan bunga pada pembuat kalimat tersebut karena memang kenyataan jika wanita selalu menang dan pria berada di tempat yang selalu salah.
Drrt, drrt, di tengah kekacauan itu mendadak ponsel Chanyeol bergetar, membuat namja tersebut semakin merutuk kesal. Siapa lagi yang menghubunginya di situasi genting begini?
[Baekhyun] Mian, aku pulang duluan.
Chanyeol membeku membaca satu pesan pendek tersebut. Lalu dia tersadar seolah ada seseorang yang baru menamparnya dengan sangat keras.
"Himchan-ah, apa kau kemari dengan Yongguk?" tanya Chanyeol dan di saat yang bersamaan dia mengaku dalam hati jika dia bodoh menanyakan hal itu. Mereka suami-istri, sudah pasti mereka pergi bersama. Ini 'kan malam Minggu!
Himchan mengangguk sambil belum berhenti tersedu-sedan.
"Aish, shibal...!" umpat Chanyeol tertahan. Segera dia berdiri dan memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
"Oppa!" Himchan meraih tangan Chanyeol dengan cepat, mendongakkan wajahnya yang dipenuhi oleh air mata dan memasang ekspresi paling memelas yang dia miliki. Mencoba sekali lagi meluluhkan hati Chanyeol supaya tidak meninggalkannya. Gigih juga usaha gadis itu, berjuang hingga detik-detik terakhir.
Chanyeol membalas tatap puppy eyes tersebut dengan kedua iris coklat tak berriak. Wajahnya juga tenang, tak terlihat sama sekali jika dia terpengaruh oleh aegyo Himchan kali ini.
"Berhentilah, Himchan." Chanyeol menyebut nama Himchan tanpa embel-embel '-ah', membuatnya jadi terdengar formal, sedikit mengagetkan gadis itu.
"Oppa..." Himchan mendesis gamang.
"Berhentilah bersikap bodoh (babo). Berhentilah sekarang juga dan jangan sampai aku menyebutmu 'mengemis cintaku'," tandas Chanyeol membuat tubuh Himchan lemas mendadak. Pegangan tangan gadis itu terlepas begitu saja dari lengan Chanyeol dan bahkan saat namja tersebut berlari pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan 'selamat tinggal' apalagi 'maaf', Himchan masih bergeming di tempatnya duduk.
Perlahan air mata kembali merembes keluar dari kedua mata indah Himchan, gadis itu menutup wajah dengan kedua tangan, bahunya bergetar menahan isakan yang terasa begitu menyesakkan dadanya. Himchan menangis, menangisi kisah cinta pertamanya yang dia akhiri sendiri dan ditutup dengan sempurna oleh kepergian Chanyeol. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Himchan tahu rasanya ditolak dan ditinggalkan.
. . .
Chanyeol berlari menuruni eskalator dengan terburu-buru. Hampir semua orang dia tabrak dan yang dapat dia lakukan hanyalah menundukkan kepala sambil mengucapkan permintaan maaf dengan singkat, membuat makian terlontar membalas ucapan penuh penyesalannya. Chanyeol tak mempedulikan itu dan terus melangkahkan kaki panjangnya secepat mungkin menuju parkiran di basement, satu-satunya tempat parkir yang ditujukan khusus untuk kendaraan roda empat seperti mobil. Dan dia yakin jika Baekhyun pergi ke mall itu dengan mengendarai mobil.
Napas Chanyeol terengah-engah ketika sepasang kakinya sudah berhasil menapak di lantai basement. Keringat sebesar biji jagung menetes deras dari keningnya. Berlari turun dari lantai sepuluh ke lantai bawah tanah bukanlah pekerjaan yang mudah. Bullshit dengan mitos yang mengatakan kalau yang muda yang bertenaga kuat. Selama dia bukan super hero, menuruni sepuluh lantai sambil berlari tetap saja menjadi pekerjaan yang melelahkan.
Setelah napasnya sedikit teratur, Chanyeol kembali berlari seraya menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok mungil berjaket kebesaran yang dia harap belum pergi meninggalkan area parkir. Chanyeol terus mencari, melongok ke sana-kemari dengan perasaan cemas yang memuncak. Namja itu berhenti sejenak untuk mengatur napasnya, lalu berlari lagi mengelilingi parking area yang luasnya nyaris menyamai separuh lapangan bola.
Dan akhirnya, Chanyeol menemukan sosok itu, sedang memasukkan kunci ke dalam lubang pintu mobilnya dan menarik tuas pintu. Chanyeol bergegas mendekatinya.
Blam! Baekhyun terkejut manakala sebuah tangan panjang menutup kembali pintu mobilnya dengan cepat. Dia menoleh ke samping, menatap Chanyeol yang langsung memperlihatkan tatapan terenyuh melihat keadaannya yang berantakan. Rambut tergerai kasar, make up yang tak lagi tersapu halus, dan bibirnya itu ... Chanyeol mengerutkan alis miris melihat bibir tipis Baekhyun yang lecet dan membengkak.
Apa yang sudah terjadi pada gadis itu selama tidak bersamanya? Apa yang sudah dilakukan Bang Yongguk (well, Chanyeol hanya mengira saja kalau ini adalah perbuatan Yongguk) pada Baekhyun saat dia sibuk dengan Himchan? Chanyeol tak kuasa mengatakan apa-apa selain merutuki kebodohannya karena sudah melupakan keberadaan gadis itu tadi.
"Waeyo, Chanyeol-ah?" desis Baekhyun tidak mengerti dengan makna sorot mata yang tertuju padanya sekarang. Sedangkan Chanyeol tidak berhenti memandangnya, semakin lekat menatapnya hingga rasanya hanya ada dia di mata namja itu.
"Mianhe," bisik Chanyeol dan langsung meraih kedua pipi Baekhyun, mendaratkan bibirnya di atas luka di bibir Baekhyun. Namja itu merapatkan punggung Baekhyun ke mobilnya dan menghimpitnya.
"Umph..." gadis mungil itu berontak, mendorong kuat tubuh Chanyeol, dan melepaskan ciuman mereka.
"APA YANG KAU LAKUKAN!?" bentak Baekhyun geram. Setelah Yongguk, sekarang Chanyeol? Kenapa hari ini kesialan tidak berhenti menghampirinya? Apa tadi ada seekor kucing hitam yang melompati kakinya?
Chanyeol memandang kedua pergelangan tangan Baekhyun yang memerah dan memar. Terbayang olehnya jika tangan kecil itu dipegang dengan begitu kasar dan kuat. Mulut Chanyeol mengatup rapat, kedua tangannya menggenggam keras, dan kepalanya terasa panas dalam sekejab. Dia kembali mengarahkan mata ke mutiara hazel Baekhyun, sedikit mengejutkan yeoja itu yang semakin tidak mengerti kenapa namja jangkung di depannya ini mendadak marah.
Chanyeol mendekatkan diri pada Baekhyun, tangan kanannya memegang kepala belakang gadis itu dan tangan kirinya mendapatkan dagu mungilnya. Kembali dia mengikis jarak di antara bibir mereka. Baekhyun berusaha untuk memberontak, tapi tangan kiri Chanyeol sudah lebih dulu beralih ke punggungnya, mendekapnya, dan membatasi gerakannya. Chanyeol melumat bibir Baekhyun yang terluka dengan lembut, meskipun kedua tangannya dipenuhi dengan paksaan tapi gerakan bibirnya di jalan bicara gadis mungil itu benar-benar sangat pelan dan tidak berniat untuk melukainya sama sekali.
Mendadak Chanyeol merasakan air asin membasahi permukaan bibirnya, dia membuka mata dan melihat kedua mata Baekhyun telah basah. Gadis itu menangis di tengah-tengah pagutan mereka. Selaksa perih menyusup di dalam dada Chanyeol, namun dia belum menghentikan gerakannya. Namja tinggi tersebut menyibakkan rambut panjang Baekhyun dan seketika matanya menajam melihat bekas merah yang tercetak di kulit putih leher gadis itu. Chanyeol melepaskan ciumannya dan beralih mendaratkan kecupan-kecupan lembut di setiap kissmark yang ada di leher Baekhyun.
"Hentikan..." isak Baekhyun sambil berusaha mendorong tubuh Chanyeol dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Tenaganya sudah banyak terpakai untuk menghadapi Yongguk dan sisanya yang tinggal sedikit itu sekarang malah terpotong oleh perlakuan Chanyeol yang memabukkan. Baekhyun tidak menghendakinya, tapi entah kenapa kedua kakinya lemas diperlakukan dengan begitu lembut oleh Chanyeol. Cara dia melakukannya sangat berbeda dengan cara Yongguk tadi.
"Jebal, geuman..." permohonan Baekhyun nyaris berubah menjadi desahan sementara Chanyeol belum menghentikan gerakannya yang mencium dan menyesap lembut kulit lehernya, benar-benar membuat Baekhyun terbuai dan tidak sanggup membuka mata. Jarak tubuh mereka begitu dekat dan apa yang mereka lakukan terlalu intim untuk jadi tontonan orang-orang. Untung saja saat itu area parkir sedang sepi, jadi yang melihat tingkah mereka hanyalah lensa kamera CCTV.
"Chanyeol..." Baekhyun perlahan mengetatkan geraham, mengumpulkan sedikit demi sedikit perca kewarasan dan akal sehatnya lagi.
Mendengar geraman gadis di dalam kuasanya itu, membuat Chanyeol tahu jika Baekhyun sudah mulai marah. Namun dengan sengaja dia tidak menghentikan aktifitasnya dan malah dengan berani memindahkan tangan ke permukaan dada Baekhyun.
"AKU BILANG HENTIKAN, SEKIYA!" suara Baekhyun melengking. Dengan sepenuh tenaga dia mendorong tubuh Chanyeol hingga terjajar ke belakang dan membentur mobil yang sedang terparkir tenang tepat di sebelah sedan putih Baekhyun, membuat alarm mobil itu meraung dengan keras memekakkan telinga.
PLAK! Sebuah tamparan dahsyat mendarat di pipi Chanyeol hingga wajahnya menoleh ke samping. Rasa panas dan perih menjalar cepat di separuh muka Chanyeol dibarengi oleh migran dan warna merah yang terlihat samar di ujung bibir namja itu, tapi darah yang merembes tersebut hanya ditelan saja oleh Chanyeol. Tak ada sedikit pun suara yang keluar dari celah bibirnya.
"Kenapa kau juga ikut-ikutan seperti ini?" desis Baekhyun, air mata belum berhenti mengalir di kedua pipinya.
"Kenapa kau jadi ikut-ikutan menyebalkan!?" pekik Baekhyun mulai hilang kontrol.
"Kenapa kau seperti ini, hah!? Wae!? WAE!? WAEEE!?" jerit Baekhyun keras sambil memukulkan tasnya ke dada Chanyeol.
Chanyeol masih diam dan menerima semua kemarahan gadis mungil itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kenapa kau jadi menyebalkaaAANN!? HUWAAAAA~!" Baekhyun melempar kuat tasnya ke arah Chanyeol lalu meraung keras seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen oleh Ibunya. Tubuh mungil itu jatuh terduduk di lantai dengan air mata mengalir deras membanjiri wajahnya.
"HUWAAAAA~!" Baekhyun masih menangis sekeras mungkin, menumpahkan seluruh perasaannya, kekesalannya, dan kemarahannya melalui air mata yang kian tak terbendung. Sementara Chanyeol hanya duduk jongkok, memegang tas Baekhyun dan memandang gadis kecil yang sudah dia buat menangis itu tanpa tahu harus melakukan apa untuk menghiburnya. Namja tersebut berakhir dengan hanya mengamatinya saja.
"KAU MENYEBALKAN!" amuk Baekhyun sambil melepas dan melemparkan sebelah sepatunya ke wajah Chanyeol. Namja jangkung tersebut mengangkat tangan untuk melindungi mukanya, tapi tetap tidak melontarkan pembelaan apa-apa. Dia membiarkan Baekhyun mengamuk dan terus-menerus memakinya tanpa ada niat baginya untuk membalas.
Tiba-tiba beberapa orang pria tegap berseragam security datang tergoboh-goboh ke tempat Baekhyun dan Chanyeol. Suara keras alarm mobil membuat mereka berpikir jika sedang ada kejadian pencurian mobil. Tapi begitu melihat sosok Manager-nya yang duduk di hadapan seorang gadis kecil yang sedang menangis, para security itu hanya mampu membungkukkan badan sopan pada Chanyeol, dibalas anggukan ringan namja jangkung tersebut.
Selama hampir sepuluh menit lebih Baekhyun seperti itu, menangis keras hingga tersedu-sedu dan kesulitan bernapas serta tidak bisa bicara. Setelah dia sedikit lebih tenang, Chanyeol menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil, meski tetap saja sikap lunaknya itu tidak membuat Baekhyun berhenti memukulinya. Usai berhasil membuat Baekhyun duduk di kursi penumpang, Chanyeol menempatkan diri di belakang kemudi, lalu mengantar Baekhyun pulang.
-NEXT?-
Footnote:
[1] Pandemi (eng: pandemic) adalah wabah penyakit menular yang menyebar melalui populasi manusia di kawasan yang luas, misalnya beberapa benua, atau bahkan di seluruh dunia. (cr: wikipedia)
Mian kalo moment ChanHim & BangBaek lumayan panjang, karena aku ingin menceritakan asal muasal kenapa mereka bisa jadian dulunya :3 ㅋㅋㅋ Jadi panjang sih, tapi aku pikir masa lalu ChanBaek lumayan penting juga buat jadi perbandingan nanti, ㅋㅋㅋ
I JOIN WP NOW^^. Karena kemarin banyak keluhan tentang FFN, entah itu mendadak gak bisa akses / susah review / log out sendiri, jadi aku bikin WP supaya ada alternatif lain buat update FF Myka Reien. Sekaligus buat jaga-jaga kalau ada penghapusan akun mendadak kayak yang dialami beberapa author, haduhh horor~ ㅠㅠ
Silakan akses di "mykareien#.#wordpress#.#com" (hapus tanda #) aku usahain update WP sama kayak di FFN^^ ada FAQ Corner-nya juga di sana, jadi silakan yang mau kepo-kepo, ㅋㅋㅋ
Main-main ke sana ya~ DAN JANGAN LUPA TINGGALIN KOMEN! Yehet? YEHET! ㅋㅋㅋ XD
Udah, segitu dulu. Sisanya ngikut besok, mmuach~❤
FAQ CORNER (ganti nama, ㅋㅋㅋ)
Q: kapan mereka saling mencintaiii? hueeeee
A: Segera! Yakin! :D
Q: Habis champagne selesai pairingnya Krisho atau TaoLay ya thor ? :3
A: ㅋㅋㅋ Rahasia XD #ditendang
Q: Kapan yah, dikasih jaket gitu sama chanyeol #dor
A: #dor aku juga mau. Huwehehehe~
Q: chanbaek momentnya ditambah dong author-nim
A: Ini 'kan MC-nya ChanBaek, udah pasti banyak moment mereka yang nungguin review kamu (~'o')~
Q: thor ne ceritannya jd panjang ya? pokoknya ditunggu kisah kocaknya baekyeol
A: Iya, panjang *sigh* ㅠㅠ malah lebih panjang dari 2 judul KaiSoo di depan mungkin. Jadi gak enak sama KaiSoo, hiks- #dipukpuk KaiSoo
Q: Aku nunggu baby Chaehyun .. Update kilat ya thor
A: Dedek Chaehyun banyak fans-nya ya, ㅋㅋㅋ syukurlah~^^ gak bisa janji buat fast-up, kkebseong~ ㅠㅠ
Q: dihhhhh,,, sumpahhhhh,, pengen teriakkkk abiss baca ff ini,,,, aaaaaaaaaaaaa,,, maniss bgt,,,
A: Makasih^^ kalo ada gejala diabetes segera ke dokter minta suntik insulin, ok? ㅋㅋㅋ
Q: thorr kenapa berhenti! ini lg mana mantan-mantannya baek sm channie ada lg ishh-,- apa jngn2 mereka udah cerai?! (?)
A: Emang udah waktunya TBC kok -,- BangHim belum cerai, jadi tenang aja mereka bakal ketemu lagi nanti, ㅋㅋㅋ
Q: cha daeum ju thor. buat chanbaek 'this and that' lg trus baek hamil ahaha
A: OmO! Ini rate T, brooh! *diam sejenak* tapi tunggu aja tanggal mainnya *sarkas* huahahaha! XD
Review ne?^^
FF ini juga di-publish di WP "MY KALAXIEN, Another galaxy in the solar systeM" a/n admin Myka Reien.
Silakan hubungi saya untuk kritik, saran, keluhan, & kepo(?) melalui PM / twitter / ask . fm / blog / WP (lihat link lengkap di profil)
I am VERY WELCOME, Guys~!❤
FYI: I always share about the update in twitter & WP, so just check my twitter & WP to know about fast update and more^^
Kamsahamnida~ *bow*
