"Hei Ino, Peter pan kan pasangannya Wendy, dan lagi kan ada adegan kissingnya, apa nggak apa-apa tuh? Sasuke sama Matsuri lho..." Bisikan dari Sakura itu membuat Ino serasa tersengat listrik ribuan volt.
"WHAT THE HELL...?" seru inner Ino, sungguh dia baru sadar akan hal itu.
Tapi apa yang membuatnya merasa tidak terima saat mendengar ucapan Sakura tentang Sasuke dan Matsuri?
Apakah rasa sukanya pada Sasuke belum lenyap sepenuhnya?
Mungkin benar kata orang, kalau cinta pertama itu sulit dilupakan, apa lagi orangnya masih di sekeliling kita.
Lalu bagaimana dengan Gaara?
Silahkan lajut untuk mengetahuinya!
Disclaimer: Rela nggak rela tetep aja aku musti bilang ini, hak cipta Naruto cuma milik Masashi Kishimoto, kalo saya cuma punya fic ini sama doujinnya doang T.T
Chapter 7
=Bunkasai I=
Ino menatap tajam ke depan kelas di mana Sasuke dan Matsuri sedang latihan dialog untuk drama nanti, bibirnya bergumam tidak jelas meskipun tangan kanannya kini tengah memegang script bagiannya, sesekali dia berdecih kesal saat Matsuri mengucapkan dialog yang agak romantis, ketiga teman Ino hanya menggeleng-geleng prihatin dengan sikap Ino.
"Rasanya kemarin kau terlihat yakin sekali saat memilih Sasuke jadi Peter pan," Tenten mulai membuka suara.
"Tch, aku lupa kalau di cerita Peter pan ada adegan kissu antara Peter dan Wendy!" decak Ino tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Psst...kau masih ada rasa sama Sasuke ya? Tapi kau kan sudah punya Gaara!" bisik Sakura.
Deg!
Ino langsung menegakkan punggungnya, dan menatap Sakura.
"K...kau ini bicara apa? A...aneh sekali...tentu saja...aku sudah punya Gaara, masa aku suka sama Sasuke...jangan bercanda!" Ino menyangkal tuduhan Sakura, tapi dari nada bicaranya sih memang mencurigakan.
"I...Ino-chan...ka...kalau kau masih suka Sasuke, se...sebaiknya kau melepaskan Gaara saja..."
Ino semerta-merta berdiri dari duduknya setelah Hinata selesai dengan ucapannya, membuat ketiga temannya menatap heran padanya.
"Aku...mau ke toilet!" pamit Ino tanpa menatap ketiga temannya.
Ino berjalan menghentak menyusuri koridor sekolah, sepertinya dia perlu mencuci mukanya sekalian mencuci otaknya kalau bisa, supaya dia bisa melupakan perasaan ganjil saat dia mengingat tentang adegan kissu antara Sasuke dan Matsuri nanti, seharusnya dia tidak punya perasaan apapun kan?
Dia sudah punya Gaara, kurang apa lagi coba?
Tapi...TAPIII...
Tetap saja yang namanya perasaan itu memang tidak bisa diajak kompromi kan?
Suka ya suka, apa lagi ketahuan kalau Ino itu udah suka sama Sasuke sebelum dia jadian sama Gaara, yah untuk saat ini sepertinya Gaara harus ekstra hati-hati, dan harus lebih protektif lagi sama pacarnya tercinta itu.
Sesampainya di toilet, Ino buru-buru membasuh wajahnya di depan wastafel, mencoba untuk menghapus rasa kesalnya, dipandangnya pantulan wajahnya yang basah di depan cermin, menelisik kesalahannya sendiri dari aquamarine yang terpantul di depan sana.
Drrrt...drrrrt...
Ino tersentak saat merasakan getaran ponsel di saku roknya, buru-buru dia mengeringkan telapak tangannya yang basah tadi dengan tisu, dan merogoh ponselnya yang masih bergetar itu, Ino terdiam sesaat ketika melihat gambar yang tertera di layar ponselnya.
"Gaara-kun?" lirih Ino, dia pun langsung menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan dari kekasihnya itu.
"Moshi-moshi...Gaara-kun?" lirih Ino.
"Hn!" terdengar jawaban dari seberang.
"Ada apa?" tanya Ino.
"Memangnya aku tidak boleh meneleponmu? Ini kan sudah lewat dari jam pulang sekolah! Dan kau melarangku untuk menjemputmu gara-gara persiapan bunkasai bodoh di sekolahmu itu!" sungut Gaara kesal.
"Oh ayolah Gaara-kun, hanya 2 minggu kok, lagi pula kau kan sudah mengantarku tiap pagi," Ino bersandar di wastafel sambil memain-mainkan poninya.
"Kau pulang jam berapa nanti?" tanya Gaara dari seberang telepon.
"Um...mungkin agak malam, sekitar jam 6, kenapa?" tanya Ino balik.
"Biar kujemput!" kata Gaara.
"Ti...tidak usah, aku tidak mau merepotkanmu," tolak Ino.
"Kau selalu bilang begitu, aku ini pacarmu, aku tidak merasa repot jika itu untukmu!" Ino terdiam mendengar ucapan Gaara, tak berapa lama terdengar desaan berat di seberang telepon.
"Ino?" lirih Gaara, menyebut nama Ino.
"Ya?"
"Aku mencintaimu," lanjut Gaara yang membuat Ino tercekat.
"Te...tentu saja aku tahu itu Gaara-kun, kau ini kenapa? Aneh sekali?" tanya Ino gugup, terdengar lagi suara desahan dari Gaara.
"Entahlah, aku hanya merasa...perasaanku tak enak..." Ino mendekap mulutnya demi didengarnya ucapan Gaara.
Hening sejenak setelah ucapan terakhir Gaara, Ino menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya sebelum menjawab perkataan kekasihnya.
"Gaara-kun...semuanya...akan baik-baik saja, tak ada yang perlu kau khawatirkan!" ucap Ino lembut.
"Baiklah...tapi malam ini aku akan tetap menjemputmu! Jam 6 kan?" tanya Gaara.
"My...my...kau memang keras kepala Gaara..."
"Ino kau di dalam?" ucapan Ino terpotong saat Sakura membuka pintu toilet dengan tiba-tiba.
"Ada apa forehead?" tanya Ino sedikit kesal karena acara teleponnya diganggu.
"Lama sekali kau di sini, ngapain aja sih kamu? Kami sudah menunggumu sejak tadi untuk latihan, sekarang giliranmu dengan Sasuke, cepatlah!" perintah Sakura yang kemudian keluar dari toilet.
Ino yang sadar sambungan teleponnya belum dimatikan, segera menempelkan kembali benda mungil itu di telinga kanannya.
"Ma...maaf Gaara, aku harus segera kembali, terserah kau saja kalau mau menjemputku malam ini, jaa..!" Ino pun menutup sambungan teleponnya dan buru-buru kembali kekelasnya.
Sedangkan di tempat Gaara
"Giliran Ino dengan Sasuke? Apa maksudnya? Memangnya mereka mau menampilkan apa di bunkasai nanti?" berbagai pertanyaanpun memenuhi benak Gaara, dan perasaannya kembali tidak tenang saat mendengar nama Sasuke yang merupakan rivalnya ikut disebut.
=oooooo=
Gaara benar-benar datang menjemput Ino, pemuda itu menunggu gadisnya di depan gerbang seperti biasa, tapi kali ini ditemani oleh ketiga kawan berisiknya, tentu saja mereka menjemput pasangan mereka masing-masing, tak berapa lama, dari arah sekolah terlihatlah segerombolan siswa yang baru pulang.
Ketiga teman Gaara langsung menegakkan punggung mereka, menelisik di antara gerombolan itu, siapa tahu pacar mereka ada diantara gerombolan itu, dan yang pertama kali memekik adalah Naruto si biang berisik.
"Saku-chaaaan!" seru Naruto sambil melambai-lambai semangat ke arah Sakura yang baru terlihat, gadis itu pun berlari-lari kecil menghampiri Naruto.
"Sudah lama di sini?" tanya Sakura sambil meraih helm yang disodorkan Naruto padanya.
"Belum kok, baru 5 menit yang lalu!" kata Naruto.
"Hei Sakura, Hinata mana?" tanya Kiba.
"Iya, Tenten-chan juga belum keluar ya?" kali ini Lee yang bertanaya, sebenarnya Gaara juga ingin menanyakan soal Ino, tapi bukan Gaara namanya jika dia tidak bisa bersikap cool dalam setiap keadaan.
"Um...Hinata tadi ke toilet, sebentar lagi juga pasti keluar, kalau Tenten, dia sedang piket, mungkin sedikit lebih lama." kata Sakura yang kini sudah siap di duduk di belakang Naruto, kedua matanya bergulir ke arah Gaara.
"Er...Ino masih di kelas, mengemasi barang-barangnya, mungkin sebentar lagi dia muncul." Gaara menoleh ke arah Sakura, gadis itu reflek menunduk menghindari tatapan tajam Gaara yang seolah berkata 'aku tidak bertanya padamu, diamlah!'
"Oi...oi...jangan menakuti cewekku dong bos, ntar dia kabur, ya udah aku pergi dulu!" Naruto menutup kaca helmnya yang semula terbuka.
"Jaa...!" ucapnya yang kemudian tancap gas meninggalkan ketiga temannya.
Tak berapa lama, Hinata dan Tenten pun menampakkan diri, mereka juga langsung pergi dari area KHS setelah mengucapkan salam pada Gaara yang hanya ditanggapi dengan 'Hn' saja.
Kini hanya tinggal Gaara sendiri yang tengah menunggu Ino.
Di kelas.
"Memangnya tadi kau taruh di mana naskahnya?" tanya Sasuke yang kini tengah sibuk membongkar barang-barang di dalam kardus besar.
"Tadi kutaruh di atas mejaku, tapi waktu bersih-bersih tadi aku tidak memperhatikannya, lalu tiba-tiba naskahnya hilang saat aku mau mengambilnya," Ino juga terlihat panik sambil mengaduk-aduk isi kardus besar lain.
Drrrrt...drrrrrt...drrrrt...
Ino merasakan ponselnya bergetar, dan langsung menerima tanda panggilan itu setelah melihat gambar di layar ponselnya.
"Maaf Gaara, aku masih di kelas, naskah dramaku hilang, sekarang aku sedang mencarinya, apa kau masih menungguku?" tanya Ino sambil mengapit poselnya di antara bahu dan telinga kanannya, sedangkan kedua tangannya masih sibuk mengaduk-aduk isi kardus.
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Di mana kelasmu? Aku akan menyusulmu!" Ino menghentikan kerja kedua tangannya sejenak, mata aquamarinenya melirik ke arah samping di mana Sasuke berada.
"Baiklah kau boleh ke sini tapi jangan ngamuk ya!" Ino memperingatkan Gaara sebelum memberi tahu pria itu tentang keberadaan kelasnya.
"Aku tidak yakin kalau kau sudah bilang begitu lebih dulu," Gaara mengerutkan alisnya.
"Kalau begitu aku takkan memberi tahumu!" ancam Ino.
"All right all right, aku mengerti, sekarang beri tahu aku di mana letak kelasmu!" akhirnya Gaara menyerah pada kekasihnya itu.
Setelah diberi tahu secara rinci letak kelas Ino, Gaara pun langsung menuju kelas itu, dan setelah sampai di dalam ruangan, seperti dugaan Ino, Gaara hampir saja ngamuk saat melihat Sasuke juga berada di sana.
"Kau?" Gaara bersiap menghampiri Sasuke dengan penuh amarah.
"Gaara, kau sudah janji nggak akan ngamuk!" Ino mengingatkan kekashinya itu soal janji yang sudah dia buat.
Hasilnya?
Gaara hanya bisa mengumpat kesal sambil melangkah mendekati Ino.
"Biar kubantu kau mencarinya! Naskahmu seperti apa?" tanya Gaara yang mulai meraih kardus lain di dekat Ino.
"Sampulnya berwarna kuning dengan tulisan, Ino's script." kata Ino sambil masih mengacak-acak isi kardus di depannya.
"Aku mengerti!" Gaara pun mulai mencari.
Suasana di dalam kelas itu terasa sangat kaku, di mana ada sepasang rival yang tengah menahan diri untuk tidak ribut, dan seorang gadis yang sejak tadi merasakan adanya aura buruk yang terpancar dari kedua pemuda di sekitarnya.
"Sudah ketemu belum?" Tanya Ino entah pada siapa, yang pasti dia hanya ingin memecah atmosfer negatif di dalam kelas itu.
"Belum." jawab Gaara dan Sasuke bersamaan, membuat keduanya langsung beradu deathgalare setelahnya.
"Er...ya sudah kalau begitu..." Ino benar-benar tidak tahu lagi harus bicara apa untuk mengisi kekosongan ini.
Cukup lama kegiatan mencari naskah itu berlangsung, tentu saja dalam keadaan hening, sebelum kemudian Ino memekik hambar.
"Ah, ketemu, ternyata ada di laci meja hahaha..." kata Ino gamang, terlihat sekali kalau dia sedang berpura-pura.
Rupanya Ino sendiri yang menyembunyikan naskahnya, dan memancing Gaara untuk datang kekelas, karena Sasuke juga menawarkan diri untuk membantunya mencari naskah yang hilang, dan rencananya itu dia lakukan untuk mendamaikan hubungan buruk antara Gaara dan Sasuke, lalu apa hasilnya?
Nihil
"Haaaah..." Ino mendesah pasrah ketika sadar rencananya gagal total.
Kini dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, tentu saja dalam keadan hening, karena sepertinya Gaara sedikit kesal padanya.
Setelah beberapa menit, sampailah mereka di depan rumah Ino, Gaara menghentikan laju motornya di depan rumah minimalis itu, Ino pun turun dengan ragu.
"Er...kau marah ya?" tanya Ino ragu, sambil menyerahkan helmnya pada Gaara.
"Untuk apa aku marah?" tanya Gaara balik, tapi dengan nada yang tidak mencerminkan pertanyaannya.
Ino menelan ludah dengan susah payah.
"Tidak, dia tidak marah, tapi murkaaaaa..." jerit Ino dalam hati.
Gaara membuka helmnya dan menatap Ino.
"Sial! Dia pasti akan bertanya kenapa aku melakukannya, pasti itu! Lalu aku harus menjawab apa?" Inner Ino mulai panik melihat tatapan Gaara, tapi hal yang ditanyakan Gaara bahkan sangat jauh melenceng dari apa yang dipikirkan Ino sendiri.
"Kalian mau mementaskan drama apa?" tanya Gaara datar, Ino cengo.
"Are? Kok dia malah nanya itu ya?" batin Ino bingung.
"Hei, jawab aku!" perintah Gaara yang sukses membuyarkan lamunan Ino.
"Hah? E...eto...Peter pan," jawab Ino ragu, Gaara terlihat lega.
"Syukurlah bukan Romeo & Juliet atau roman klasik lain..." batin Gaara, biarpun diluarnya dia cuma bilang
"Ooh begitu?"
Ino menelengkan kepalanya, semakin bingung dengan sikap Gaara yang sudah mulai melunak.
"Tunggu! Di sini Ino jadi apa?" batin Gaara panik, tapi di luarnya...
"Lalu perannya?" tanya Gaara datar.
"Aku jadi Tinkerbell, dan Sasuke jadi Peter pan." Ino sengaja tidak menyebutkan nama Matsuri, dia terlalu malas untuk menyebutnya.
"Tidak ada adengan kissu antara Peter pan dan Tinkerbell kan?" tanya Gaara sambil memicingkan matanya.
Kedua aquamarine Ino membola, tak menyangka kalau Gaara ternyata mengkhawatirkan hal itu.
"Tentu saja tidak Gaara-kun, di cerita Peter pan versi manapun tak kan ada adegan itu!" kata Ino sambil menahan geli.
"Aa~ aku tahu!" Ino melirik jahil ke arah Gaara.
"Tahu apa kamu?" tanya Gaara curiga.
"Ka-mu-cem-bu-ru-ya?" Ino menggoda Gaara dengan memencet-mencet pipi Gaara dengan jarinya.
"J...jangan bercanda!" Gaara memalingkan wajahnya dari ke arah lain.
"Kawaiiiii..." Ino merangkum pipinya sendiri sambil berbunga-bunga.
"Siapa yang kawai?" sentak Gaara tak terima dibilang kawai.
"Kamu Gaara-ku~n..." Ino memencet hidung Gaara dengan gemas.
"Apaan sih?" Gaara menepis tangan Ino dari hidungnya, kemudian menarik tubuh Ino mendekat ke arahnya.
"Biar kuhukum kau karena sudah menyebutku kawai, memangnya kau tidak sadar kalau kata itu seharusnya ditujukan padamu hm?" wajah Ino mulai memerah saat melihat wajah tampan Gaara tepat di depannya.
"Nah kan? Apa lagi di saat seperti ini, kau makin kawaiii..." kata Gaara sambil mengusap lembut pipi Ino, kemudian turun ke bibir gadisnya, tak ketinggalan dengan wajahnya yang kini mulai mendekat, ingin meraih bibir manis yang setiap hari dia kecup itu.
3 centi
.
.
.
2 centi
.
.
.
1 centi
.
.
.
"Ehm!" dan bibir mereka gagal bertemu saat terdengar suara deheman berat dari belakang Ino, keduanya pun langsung memisahkan diri, dan berlaku seolah tak terjadi apa-apa, padahal jelas-jelas si pemilik suara yang tidak lain adalah Inoichi itu melihat apa yang akan mereka lakukan tadi.
"Ahaha...a...ayah...aku pulang..." Ino berbalik menghadap ayahnya dengan cengiran palsu, berlagak inocent, sedangkan tangannya yang berada di belakang punggung memberi isyarat pada Gaara agar buru-buru pergi.
Gaara yang mengerti maksud Ino segera memakai helmnya, kemudian tancap gas setelah sebelumnya berpamitan dengan Inoichi dengan kaku.
Inoichi sendiri terlihat masih kesal dengan apa yang barusan dia lihat, tapi Ino tetap memasang wajah inocent supaya sang ayah tidak memarahinya.
=Show Me Love=
Hari H Bunkasai Konoha High School
Ino telah bersiap memakai kostum dan segala macam aksesoris untuk perannya sebagai Tinkerbell, Hinata yang berperan sebagai Narator pun sudah siap dengan kostumnya ala peri, lalu Tenten dan Sakura juga sudah siap dengan kostum cosplay mereka, karena keduanya bertugas di cafe.
Tenten mengenakan terusan kostum gadis cina sepanjang mata kaki, dengan belahan setinggi paha, sedangkan Sakura mengenakan kostum ala putri Orihime dalam legenda Tanabata.
Ino yang sudah selesai ber-make up mulai berkeliling memperhatikan rekan-rekannya, siapa tahu ada yang dandannya nggak beres, Ino itu kan terkenal pintar berdandan, meskipun setiap harianya dia hanya memakai make up minimalis, bedak dan lip balm saja.
"Ino, kostum Peter pan yang kau jahit kemarin di mana?" tanya seorang teman Ino.
"Oh iya, itu ada di tas ungu di dekat ruang ganti!" tunjuk Ino pada salah satu tas tangan di dekat ruang ganti.
"Mana Sasuke?" tanya Ino sambil celingak-celinguk mencari pemuda berambut hitam itu.
"Hei, kemana saja kau? Aku mencarimu dari tadi, katanya kostumku kau yang bawa ya?" Sasuke tiba-tiba sudah berdiri di belakang Ino, membuat gadis itu berjenggit kaget karena ulah Sasuke.
"Oh, i...i...iya, itu di tas ungu." Ino kembali menunjuk tas ungu tempat menyimpan kostum Peter pan milik Sasuke.
Pemuda itu pun langsung meraih tas itu dan masuk ke dalam ruang ganti.
"Kalau ada yang kurang bilang ya Sasuke!" seru Ino dari luar ruang ganti, setelah itu dia pun berlalu, kali ini dia menuju dapur cafe, dia ingin membantu di cafe sebelum dia pentas, tapi baru saja dia melayani tamu, seorang temannya memanggilnya.
"Ino, ada yang mencarimu di luar!" seru seorang gadis berkostum maid.
Ino pun menengok ke arah temannya.
"Siapa?" tanyanya.
"Cowok-cowok cakep!" seru gadis itu dengan wajah yang bersemu merah, Ino yang mendengar kata cowok cakep pun langsung bergegas keluar ruangan.
Ino tersenyum senang saat mengetahui siapa yang tengah menunggunya di dekat kelasnya.
"Gaara-kun!" panggilnya sambil berlari kecil menghapiri Gaara yang tengah berbicara dengan ketiga rekannya.
Gaara dan yang lainnya pun menoleh ke arah Ino, Gaara langsung terpana melihat gadisnya dengan kostum yang menurutnya kelewat cocok dengan gadis itu.
"Wuaaaah, ada Tinkerbell sungguhan lho...!" pekik Naruto yang langsung bersparkling ria.
"Tinkerbell tolong rubah wajahku jadi lebih ganteng sedikit ya, biar Hinata makin terpesona padaku hehehe..." kali Ini Kiba yang mengoceh.
"Wow kostum hijaumu sungguh mencerminkan semangat masa muda!" Lee kumat penyakitnya.
Sementara ketiga temannya sibuk berkoar-koar, Gaara sendiri masih speacless sambil menutup bibirnya dengan punggung tangannya.
Entah lah dia sedang apa, mungkin ngelap iler (dijejalin ke dalam kendi)
"Aku cocok tidak dengan kostum ini?" tanya Ino pada Naruto, Kiba dan Lee sambil memutar tubuhnya, memamerkan kostum Tinkerbellnya yang minimalis.
Maksudnya minim bahan, di mana roknya kelewat pendek, atasan yang berupa kemben, dengan sayap peri transparan di punggungnya, sedangkan kakinya dibalut dengan sepetu hak tinggi yang cukup membuat proporsi tubuh Ino semakin sempurna.
"Huooho...AMAZING!" seru trio Toa itu.
"Benarkah?" Ino tersenyum malu-malu, wajahnya pun bersemu merah.
Di mata Gaara senyuman Ino yang seperti itu terlihat amat suangat cuantik sekali, belum lagi saat tatapannya terpaku pada bibir Ino yang berkilau pinkish karena memakai lip glos, otomatis membuat benak Gaara kacau, dan langsung kebelet pengen nyium tuh jelly pink.
Gaara pun menyingkirkan ketiga orang temannya seolah menyibak korden, Ino tersentak saat Gaara dengan tiba-tiba muncul di depannya seperti ingin memakannya bulat-bulat (yah memang itu sih yang ada di pikiran Gaara sekarang)
Tanpa peringatan apapun Gaara langsung menyeret Ino menjauh dari keramaian, dan di sinilah keduanya berada sekarang, di dalam ruang musik yang tentu saja tak terjamah oleh orang lain di saat seperti ini.
"G...Gaara-kun?" lirih Ino bingung, namun terdengar seperti desahan bagi Gaara.
Dan lagi-lagi tanpa peringatan, Gaara kini mendekatkan wajahnya ke wajah Ino, berniat untuk meraup bibir Ino yang ingin dia sentuh sejak tadi, tapi aksinya terhenti karena tangan Ino telah lebih dulu membungkam bibir Gaara, menutup aksesnya untuk memakan jelly pinknya, pemuda itu pun menatap Ino heran.
"Er...itu...nanti saja setelah pentas...aku nggak mau make up ku rusak," Ino mengembungkan pipinya, bibirnya pun mengerucut imut, dan tentu saja hal itu malah membuat Gaara semakin bersemangat untuk memakannya bulat-bulat.
Pemuda berambut merah itu menyingkirkan tangan Ino yang membungkamnya, kemudian mulai mendekat ke wajah Ino lagi.
"Kalau nanti sudah tidak manis lagi," bisik Gaara tepat di depan bibir Ino, gadis itu pun kini hanya bisa memejamkan matanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan Gaara padanya.
Melihat Ino yang tak lagi melawan, Gaara pun langsung meraup bibir pinkish itu, seperti yang dia duga, rasanya benar-benar manis, tangan kanan Gaara kini merengkuh punggung Ino merapat padanya, sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk menekan kepala Ino agar ciuman mereka semakin dalam, dan yang Ino lakukan hanyalah mengalungkan kedua lengannya di leher Gaara, mencari pegangan agar dirinya tidak jatuh karena lemas, sungguh ciuman Gaara kali ini berbeda dengan yang biasanya, yang ini terkesan lebih menuntut dan penuh perasaan, Ino yang hampir kehabisan nafas karena ciuman yang cukup lama itu mulai mengerang ingin dilepaskan, kedua tangannya yang semula mengalung di leher kekasihnya, kini turun ke dada Gaara untuk mendorong pemuda itu, memang ciuman Gaara terlepas, tapi kini malah menjarah ke lehernya, hampir saja pemuda itu meninggalkan jejak kiss mark di leher jenjangnya, beruntung Ino segera mendorong Gaara untuk tidak melakukan lebih jauh lagi.
"S...shudah...chukup...G...Ghaara-khun...!" lirih Ino dengan susah payah, sambil mempertahankan tenaganya untuk menahan Gaara yang masih memeluknya.
"Sedikit lagi..." desah Gaara di telinga Ino.
"Nan...ti shaja...h...!" Ino memejamkan matanya erat-erat, tak kuasa untuk menahan Gaara.
"Gaara-ku...?" Ino dibungkam lagi dengan ciuman Gaara, kali ini dia benar-benar tidak bisa melawan.
Sementara itu di dalam kelas 2-3 yang sudah disulap menjadi cafe dan panggung teater, telah banyak pengunjung yang datang, para siswa yang bertugas di cafe pun sedikit kewalahan karena banyaknya pengunjung, belum lagi jika ada yang meminta foto dengan para cosplayer atau pemain dramanya, yang paling laris sih Sasuke, tapi dia sekarang sedang kabur dari para perempuan rese yang mengejarnya untuk foto bersama.
Pemuda berambut hitam itu duduk memeluk lutut di dalam ruang ganti, dia pikir tempat itulah yang paling aman baginya sekarang, dia benar-benar mirip seperti seorang anak gelandangan yang sedang sembunyi karena dituduh mencuri.
Srek!
Tiba-tiba tirai penutup ruang ganti terbuka, Sasuke mendongak dan mendapati salah seorang teman sekelasnya berdiri di sana.
"Ada apa?" tanya Sasuke dingin bonus deathglare pula, karena dia terlihat dalan keadaan yang menyedihkan dan amat sangat memalukan bagi seorang Uchiha.
"A...ano...dramanya akan segera dimulai, tolong segera bersiap!" kata orang itu dengan takut-takut, siapa tahu Sasuke langsung membunuhnya ditempat, tapi untung itu hanya dalam pikirannya saja.
"Ck, baiklah!" Sasuke pun berdiri dari posisi duduknya.
"Ino di mana?" tanya Sasuke tanpa menatap objeknya.
"Ti...tidak tahu, tadi kulihat dia pergi degan seorang laki-laki berambut merah, sepertinya bukan orang sini," Sasuke langsung menatap horor ke arah temannya.
"Laki-laki berambut merah?" seketika tubuh Sasuke diselubungi aura hitam pekat yang membuat orang di depannya pingsan di tempat.
"Pasti Sabaku!" gumam Sasuke sambil melangkah menghentak untuk keluar ruangan, tapi belum juga dia keluar dari backstage, dia sudah melihat Ino berlari-lari ke arah belakang panggung, Sasuke melebarkan matanya saat melihat penampilan Ino yang tidak bisa dibilang rapi.
Ikatan rambut yang sedikit acak-acakan, di mana beberapa helainya terlepas dari pengikatnya, roknya yang sedikit tergulung ke atas, lalu pipi yang memerah.
(Sebenarnya penampilan kacau Ino itu karena dia baru saja menerobos gerombolan manusia yang sedang berburu Sasuke di depan tadi, bukan karena ulah Gaara lho hehehe...)
"Kau habis dari mana Ino?" tanya Sasuke shock, apa lagi melihat bibir Ino yang belepotan lip glos.
"I...itu tidak penting Sasuke, sekarang aku harus segera merapikan make up ku!" kata Ino yang langsung mencari alat make up-nya sambil menutupi rona merah di wajahnya.
Di cafe
"Kemana saja kau Gaara? Lama sekali?" tanya Naruto sambil menyeruput jus jeruknya, Gaara tak menjawab pertanyaan Naruto, hanya merapikan gulungan lengan kaos panjangnya yang terlapisi kemeja kotak-kotak, kemudian duduk di samping Naruto.
"Tak perlu kau sembunyikan Gaara, kau terlihat senang, pasti habis terjadi sesuatu!" selidik Kiba.
"Diamlah, dan lihat pertunjukannya!" Gaara tak mau repot-repot menjelaskan kejadian antara dia dan Ino tadi, dan jika Gaara sudah bersikap seperti itu, maka takkan ada yang mampu membantahnya.
Pertunjukan drama pun dimulai.
"Di suatu tempat, tersebutlah sebuah negri dengan nama Neverland, di sana hiduplah seorang pemuda lincah bernama Peter pan, dengan peri cantik yang selalu bersamanya bernama Tinkerbell..." Hinata mulai membacakan narasi, untunglah demam panggungnya sudah teratasi, dalam pikirannya tertanam dengan kokoh asumsi bahwa saat ini dia sedang sendirian di atas panggung tanpa ada yang menontonnya.
Adegan di bagian depan memang tidak ada masalah, tapi semakin ke tengah, semakin banyak improvisasi dari Sasuke yang tentunya membuat kacau naskah aslinya, contohnya saat adegan Peter pan yang berdansa dengan Wendy di padang bunga, Sasuke bukannya berdansa dengan Matsuri malah pura-pura mancing di latar yang dibuat seperti telaga kecil.
Lalu saat adegan pesta yang dilakukan Peter pan dan anak-anak asuhnya, dia malah duduk di singasana sambil memangku Ino yang berperan sebagai Tinkerbell.
Tentu saja hal itu membuat yang punya Ino menaikkan tension meternya.
Adegan demi adeganpun dilalui dengan penuh kekacauan di belakang panggung, kini cerita sudah sampai di saat Wendy diculik oleh Kapten Hoock, dan antek-antek Kapten Hoock yang memasang jebakan di rumah pohon Peter pan.
"Pete jangan diminum!" Ino yang berperan sebagai Tinkerbell menghentikan Sasuke yang berakting akan meminum air di dalam cangkir kecil di tangannya.
"Kenapa Tink? Kau aneh sekali?" tentu saja ceritanya di sini Peter pan kan nggak tahu Tinkerbell ngomong apa.
Sasuke buru-buru memasukkan isi cangkir ke dalam mulutnya, Ino terbeliak kaget, seharusnya dia menghentikannya lebih dulu sebelum Sasuke meminumnya, jadi yang kena racun itu seharusnya Tinkerbell bukan Peter pan, dan entah ide dari mana, karena Ino tak ingin mengacaukan cerita lebih jauh apa lagi membuat Peter pan mati di tengah cerita.
Ino sebagai Tinkerbell pun langsung meraih tengkuk Sasuke dan menyatukan bibir mereka, lalu Ino pun pura-pura pingsan sambil membatin 'Maaf Gaara-kun, kau bunuh saja aku setelah ini, aku ikhlas...'
Dengan itu Gaara semakin naik pintam, sedangkan Sasuke tersenyum senang namun ditutupi dengan tampang stoicnya.
Ketiga teman Gaara berusaha menahan tubuh Gaara yang sudah akan lari ke atas panggung saja.
Adegan pun terus berlanjut di mana Peter pan berusaha menyadarkan Tinkerbell yang sebenarnya sudah mati, dan Sasuke yang memerankannya pun terlihat lebih lebay dari versi aslinya, apa lagi dia malah menggabungkan adegan putri salju dengan adegan membangunkan Tinkerbell yang sesungguhnya, apa lagi kalau bukan ciuman dari pangeran tampan (jiyaaaah...)
Penonton ber owh so sweet ria
Tenten gigitin pinggiran nampan
Sakura membeku dengan tampang shock
Hinata pingsan di tempat
Gaara MURKAAAAAA
Naruto, Kiba dan Lee pasrah dengan lepasnya tawanan mereka, kemudian berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing demi keselamatan KHS beserta penghuninya.
Ino?
Dia setengah sadar, meskipun matanya terbuka, tapi isi pikirannya kosong mlompong, nggak bisa memikirkan apapun kecuali...
Gaara marah sekolah hancur...Gaara marah sekolah hancur...
Itulah yang terus melintas di dalam pikiran Ino.
"Tink? Oh thank's God you're save..." Sasuke masih sempat melanjutkan improvisasinya dengan ketenangan tingkat dewa, yang sama sekali tidak perduli dengan aura panas yang berasal dari bangku penonton.
Drama pun masih juga dilanjutkan, kali ini sampai pada saat misi penyelamatan Wendy yang diculik oleh Kapten Hoock, tapi di sinilah kekacauan yang sesungguhnya baru akan dimulai.
"Serahkan Tinkerbell padaku, dan aku akan melepaskan Wendy!" kata pemeran Kapten Hoock yang entah kenapa berbeda dari pemerannya yang tadi.
"WHAT THE FUCK?" kali ini Ino yang membeku dengan tampang shock.
"Kenapa Gaara bisa di atas panggung?" seru inner Ino frustasi.
"Kheh, sampai mati pun nggak akan kuserahkan Tinkerbell padamu!" kata Sasuke yang kini berdiri menantang Gaara yang entah kenapa bisa berperan sebagai Kapten Hoock.
Benar-benar improvisasi tingkat akut.
Mari kita lihat bangku penonton.
"Kapten Hoock nya ganti ya?"
"Iya, ganteng banget kayaa..."
"Wah jadi bingung milih yang mana ya?"
"Aduuh Peter pan ganteng, Kapten Hoock juga ganteng awawa..."
"Wah ceritanya jadi seru nih"
Itu lah beberapa tanggapan dari penonton.
Lalu kita lihat orang-orang yang bersangkutan dengan para pemain.
Sakura mulai kejang-kejang melihat adegan abal-abalan itu
Tenten sudah menghabiskan setengah bagian dari nampan yang dia gigiti tadi, tiba-tiba ada seseorang yang berlari ke arah dapur cafe.
"Tolong siapa saja, gantikan Hinata jadi narator, siapa saja yang pintar bicara dan memutar balikkan fakta, karena cerita ini sungguh sudah keluar jalur amat sangat jauh!" kata orang itu yang tak kalah shock dan mega ultra panik.
Sedangkan adegan di depan sana masih berlanjut dengan nistanya.
"Maaf Peter, aku mencintai Kapten Hoock, jadi aku tidak bisa pulang bersamamu maaf..." kata Matsuri lebay ala telenopela di tipi-tipi ituh.
Ino hampir terkena serangan jantung,
Gaara merinding,
Sasuke berseringai,
Sakura nulis surat wasiat,
Tenten nepok jidat stres,
Hinata yang tadinya udah siuman langsung pingsan lagi,
Naruto makin kusyuk berdo'a
Kiba sembunyi di bawah meja
Lee malah berkoar-koar semangat masa muda ckckck...
Para pemeran nista di depan sana masih saja melanjutkan jalan cerita yang sudah melenceng jauh dari versi aslinya.
"Kalau begitu bersenang-senanglah dengannya Kapten Hoock, kita pulang Tink! Dan cerita selesai!" kata Sasuke sambil melenggang dengan merangkul pundak Ino.
"WOOOOI!" Gaara melempar tangan palsunya ke arah Sasuke tapi untung cuma kena topinya, kalo kena kepalanya, Ruru pasti langsung didemo Sasuke FC.
"Jangan sentuh cewekku!" tuding Gaara yang membuat para penontonnya semakin tercemar(?) maksud saya semakin tercengang.
"Aku kan sudah pernah bilang, 'Whatever' aku nggak perduli soal status khufufu..." Ino semakin hilang kesadaran ketika mendengar ucapan Sasuke, Gaara pun semakin murka.
"Apa hak mu padanya hah? Aku ini sudah pernah blah blah blah..." Gaara malah berkoar koar menceritakan semua yang pernah terjadi antara dirinya dan Ino, dari ciuman pertama hingga yang terakhir kali mereka lakukan tadi di ruang musik.
Matsuri langsung pingsan ditempat, menyusul Hinata.
Ino berteriak frustasi karena rahasianya disebar luaskan oleh pacarnya sendiri.
Sementara itu Tenten langsung berlari tunggang langgang kebelakang panggung, berusaha menghentikan kekacauan yang sangat tidak penting itu.
"Cepat tutup tirainya, aku akan segera mengakhiri semua ini!" perintahnya pada orang-orang backstage.
"YAMENASAAAAAAAI!" teriak Ino yang sudah tidak tahan dengan sikap kedua pemuda di depannya.
Sing...
Keadaanpun menjadi hening, Tanten yang akan keluar sebagai narator pun berhenti di tempat, dan yang bertugas menutup tirai juga menghentikan kegiatan mereka, penonton pun terdiam tak ada yang bicara.
"Baikan sekarang atau aku akan membenci kalian SEUMUR HIDUP!" sentak Ino yang kini menatap tajam pada Gaara dan Sasuke.
Keduanya malah saling beradu tatap tak mengerti dengan sikap memerintah Ino tadi.
"CEPAT!"
Gaara dan Sasuke tersentak dengan bentakan Ino, dan tanpa sadar mereka sudah berjabat tangan dan saling berpelukan ala teletubies dengan tampang bloon, seperti robot yang terkena pengaruh remote control yang akan melakukan tindakan sesuai dengan perintah.
"Bagus! Awas kalau kalian berantem lagi! Aku nggak akan pernah mau bicara sama kalian! Mengerti?" ancam Ino seperti ibu-ibu sipir penjara yang mengancam napinya agar tidak berbuat ulah.
Dan tirai pun benar-benar ditutup, Tenten menghela nafas lega, melihat Ino yang berhasil menyelesaikan drama abal ini dengan sangat baik meskipun sangat tidak masuk akal sehingga dia bisa menutupnya tanpa adanya pemotongan adegan.
"Nah demikianlah akhir dari cerita Peter pan and the Tinkerbell versi kami, pada akhirnya Peter pan dan Kapten Hoock berdamai dan mereka hidup bahagian selama-lamanya hahahaha..." tutup Tenten yang tidak kalah abal.
=ooooo=
Ino terkapar lemas di backstage, Gaara menghampirinya dengan ekspresi kesal.
"Kenapa kau menciumnya?" tanya Gaara dingin.
"Aku hanya tidak ingin mengacaukan jalan ceritanya, seharusnya kan aku yang minum airnya, bukan dia, dan kau malah semakin mengacaukan pertunjukanku dengan menjadi Kapten Hoock!" Ino tidak perduli dengan sikap dingin Gaara padanya, bagaimanapun juga bukan salahnya jika drama Peter pan tadi jadi kacau dan melenceng jauh.
Gaara yang semakin kesal kini mencekal pergelangan tangan Ino, dan menariknya agar berdiri.
"Ada apa Gaara-ku..."
"Ikut aku!" Gaara memotong ucapan Ino dan langsung menyeret gadis itu keluar ruangan.
"Mau kemana?" tanya Ino di sela langkahnya.
"Pembersihan!"
Glup!
Wajah Ino pun memerah mendengar kata pembersihan, pasti Gaara mau mengulangi perbuatannya di ruang musik tadi.
Di cafe.
Ketiga teman Gaara dan Ino malah asyik-asyik pacaran di salah satu bangku pengunjung.
"Hahaha...ternyata malah pada suka sama drama abal-abalan tadi, padahal ceritanya kacau banget!" kata Kiba sambil merangkul pundak Hinata.
"Iya, si bos juga langsung maen jadi Kapten Hoock aja tanpa perduli sama ekspresinya Ino pas dia tiba-tiba naek ke panggung," tambah Naruto sambil sesekali menyeruput jusnya.
"Aku benar-benar shock waktu lihat Ino nyium Sasuke tadi, sumpah!" kata Tenten sambil mengipasi dirinya dengan nampan yang tinggal setengah.
"Sama!" dukung Sakura.
"Oh ya, minggu depan giliran sekolah kami yang ngadain bunkasai, kalian wajib dateng OK!" Naruto mempromosikan acara bunkasai di sekolahnya.
"Yang bener Naru? Okay aku nggak akan melewatkannya!" kata Sakura semangat, Kiba memicingkan matanya, kemudian beringsut mendekat ke arah Naruto dan membisikkan sesuatu.
"Oi, Narubaka! Di sekolah kita kan ada Shion, nggak apa-apa nih Sakura ke sana?" bisik Kiba yang langsung membuat Naruto tersedak jus, kemudian menoleh ke arah kawannya itu dengan ekspresi horor.
Kiba yang mengerti dengan keadaan Naruto hanya menepuk pundak kawannya itu dengan prihatin.
"Berjuanglah kawan, mungkin kau akan segera melihat keindahan api neraka." bisik Kiba yang malah menambah ekspresi horor di wajah Naruto.
"THEDAAAAAAAAAK!" teriak inner Naruto dengan lebaynya, menyadari kebegoannya sendiri.
TBC
Ow ow bersambung lagi minna ahahaha...
Reader: "Udah lama updatenya, pendek lagi!"
Ruru: "Gomen ne..." bersujud di hadapan para reader.
Terima kasih banyak buat yang udah review chapter lalu
Sukie 'Suu' Foxie, chocolatess,Kira tiqa-alegra maxwell, El cierto, Vaneela, Cupid 08, Mayraa, And'z a.n, Agusthya, Airi Princess 'Darkness angel.
Thank you all, berkat kalian saya masih bisa melanjutkan fic ini.
Oh ya, kali ini saya ingin memberi tahu pada reader fic saya yang 'My Barbie Babe', mohon maaf fic itu udah tamat di chapter 2 kemaren, jadi nggak akan ada lanjutannya, kan di bawah juga udah ada tulisan 'Complete', kalo mau ItaIno lagi, laen kali akan saya buatkan yang lain, tapi bukan My Barbie Babe, ato mau side story Promise yang laen? Ato fic behind the scene Promise? Insya Allah lain kali, jadi maaf buat yang udah menunggu apdetan fic ituh, saya nggak bermaksud menghiatuskannya, tapi memang itu udah kelar T.T, maaf kalau mengecewakan...
(saya lihat di kotak review fic itu ada yang nagih sampe 3 kali, astaga, saya sampe nggak tega buat ngasih tahu ini T.T, sekali lagi mohon maaf)
Nah kembali ke SML, silakan masukkan pendapat kalian lewat review minna-sama (-.-)
*Salam Cute*
