Disclaimer © Masashi Kishimoto

.

.

.

.

.

Mengesampingkan segala kecurangan yang mulai dilakukannya, Sasuke mengetuk pintu rumah Sakura. Saat ini jam enam pagi. Biasanya gadisnya itu akan bangun lebih siang dihari libur seperti ini. Sebenarnya waktu kerja gadis itu diaturnya sendiri. Tapi sudahlah, kita pakai aturan umum saja sebagai tolak ukur hari libur.

Butuh usaha sedikit lebih keras membuat Sakura akhirnya membuka pintu. Gadis itu terlihat manis mengenakan piyama putih polos dengan motif polkadot. Tangannya bergerak malas menutup mulutnya yang menguap. Sasuke terpesona. Selalu. Sasuke sampai bertanya-tanya, seberapa banyak stok pesona Sakura sampai Sasuke tak pernah bosan?

"Sasuke-kun..." Suara serak Sakura membuat perasaan bersalah Sasuke muncul. Seharusnya dia tidak datang sepagi ini.

Sebelum Sakura bertanya apapun lagi, Sasuke sudah membopongnya, membawa gadis itu ke kamar. "Sssh baby, tidurlah lagi."

Sepertinya Sakura bahkan tak mendengar ucapannya. Gadis itu meringkuk nyaman dipelukannya. Sekarang Sasuke bersyukur datang sepagi ini. Dia jadi bisa melihat tingkah menggemaskan Sakura!

Dengan lembut Sasuke membaringkan gadisnya di ranjang. Menarik selimut, berusaha melindungi gadisnya dari udara dingin pagi hari.

Sasuke memperhatikan detil wajah cantik yang menggosok bantal dengan malas. Hatinya bergetar gemas. Pria itu tersenyum lembut, membungkuk untuk memberikan kecupan di dahi Sakura lalu keluar.

Setelah menutup pintu kamar Sakura, sekarang Sasuke bingung akan melakukan apa. Tadinya dia datang pagi hari agar bisa menghabiskan waktu santai lebih banyak bersama Sakura. Sayangnya dia baru ingat kebiasaan malas Sakura dihari libur setelah sampai didepan pintu rumah Sakura.

Setelah menimbang-nimbang sebentar, Sasuke memutuskan membuatkan Sakura sarapan. Selama ini dia selalu makan masakan Sakura, tidak ada salahnya kan sesekali dia ganti membuatkan Sakura sesuatu.

Berpikir jika dia tak pernah beraktivitas di dapur selain mengambil sesuatu dari kulkas, maka Sasuke mengandalkan internet.

Dia memilih situs yang paling banyak dikunjungi dan mendapat predikat mudah.

Sayangnya standar mudah Sasuke dan orang lain sangat berbeda. Dia sampai tak habis pikir dimana kesulitan memasak sampai dia bahkan gagal membuat hal mudah itu.

Satu jam dihabiskan Sasuke dan hanya menghasilkan roti dengan selai kacang. Jangan lupakan segelas susu. Yeah prestasinya selama ini sama sekali tidak berguna di dapur. Menyedihkan.

Meski begitu Sasuke masih dengan bangga membawa sarapan buatannya ke kamar Sakura. Di kepalanya terbayang adegn romantis ala drama atau novel. Intinya itu hal umum dan tak ada alasan untuk Sasuke tidak bisa mengalaminya.

Skenarionya, Sakura akan terbangun karna aroma lezat Sarapan buatannya. Tapi dia harus melewati bagian ini, kecuali dia rela mengatakan Sakura kan bangun karna aroma susu. Itu tidak buruk. Tapi sangat tidak berkesan.

Selanjutnya Sakura akan terpesona karna Sasuke dengan penuh perhatian membuatkannya sarapan dan menghadiahinya ciuman selamat pagi. Itu romantis, tapi Sasuke sangat meragukan itu akan terjadi.

Tapi, tidak ada salahnya mencoba.

Saat Sasuke masuk ke kamar Sakura, dia mengerutkan dahinya bingung. Gadisnya sudah tidak ada di ranjang. Meletakkan sarapan di nakas, Sasuke mengedarkan pandangannya yang berakhir di pintu kamar mandi.

Niat nakal segera terlintas dikepalanya. Hany sedetik karna Sasuke langsung menendang ide itu ke belakang kepalanya. Dia tidak akan menjadi begitu tidak bermoral hanya karna ada kesempatan. Hidup hubungan sehat!

Selagi Sasuke bersenang-senang dengan khayalannya, pintu kamar mandi terbuka. Sakura keluar menggunakan bathrobe juga rambut basah. Pikiran yang sangat nakal kali ini tidak hanya melintas dikepalanya, melainkan berputar-putar menggodanya.

"Sasuke-kun. Pintu keluar di sebelah sini." Sakura menunjuk pintu kamar. Wajahnya seolah berkata 'sejak kapan pria ini menjadi begitu tidak sopan?'

"Mmm bisakah aku membantumu mengeringkan rambut?" Tanya Sasuke dengan jantung bertalu-talu. Berusaha menahan gairahnya agar tidak sampai ke wajahnya.

Melihat Sakura yang menatapnya curiga, Sasuke langsung kalang kabut. Dengan cepat dia bergeser, membiarkan Sakura melihat sarapan buatannya. "Aku hanya ingin melakukan hal baik. Lihat? Aku sudah membuat sarapan..."

Sasuke ingin pensiun menjadi Uchiha. Saat ini dia begitu cerewet dan gugup. Itu sama sekali tidak mirip ayahnya. Oke, dorong ayahnya ke bagian tidak penting.

"Baiklah, hanya mengeringkan rambut. Aku tidak mau hamil sebelum mendapatkan status resmi." Sakura tersenyum manis namun penuh ancaman. Meski begitu, dia masih berjalan menuju meja rias.

"Tentu saja. Tapi jika Temari dengar ini, mungkin dia bisa mencekikmu." Sasuke meraih hair dryer. Dengan lembut mengambil helai demi helai rambut Sakura. Ini menyenangkan. Memanjakan Sakura selalu menjadi hobinya.

"Aku yakin kau tak akan membiarkan hal itu terjadi kan Sasuke-kun." Sakura justru tersenyum manis menyahutinya. Sasuke mengangguk setuju.

Setelah mengeringkan rambut Sakura, Sasuke keluar untuk membiarkan gadis itu memakai bajunya. Tidak butuh lama untuk Sasuke melihat Sakura keluar mengenakan kaos lengan panjang yang sedikit kebesaran dan celana jeans selutut. Mulutnya sibuk mengunyah roti buaya Sasuke. Sangat manis. Sasuke yakin jika terlalu lama melihat ini dia akan terkena diabetes.

"Kenapa ke sini begitu pagi?" Tanya Sakura yang sudah duduk disampingnya.

"Ingin mengajakmu berkencan."

"Apa sekarang sudah terlambat?" Sasuke tertawa mendengar pertanyaan bernada main-main dari Sakura.

"Tentu saja tidak. Pergi sekarang?" Sasuke berdiri dan mengulurkan tangannya. Tersenyum ceria, Sakura menyambut tangan Sasuke.

Mereka memutuskan untuk berjalan kaki. Meskipun mereka sadar jika butuh waktu sepuluh menit untuk menemukan halte terdekat.

Sakura menggoyang-goyangkan tangan mereka yang terjalin. Matanya menatap gerakan sederhana itu dengan takjub. Gadis itu merasa kembali ke masa-masa sekolah. Ke saat Sasuke dan dia melakukan hal yang tidak masuk akal namun manis.

Perlahan tatapannya naik dan bertemu dengan mata jernih prianya. Mereka saling melempar senyum dan tertawa bersamaan. Ini benar-benar menyenangkan. Mereka sampai lupa sudah berapa lama mereka merindukan perasaan seperti ini. Tenang dan nyaman. Tanpa satu kekhawatiranpun.

Sesampainya di halte, mereka justru bingung menentukan tujuan. Seharusnya ini tanggung jawab Sasuke yang mengajak berkencan. Sayangnya dia pikir sudah mengunjungi semua tempat. Membuatnya mengeluh, apa mereka harus menjadi tempat yang lebih jauh hanya untuk berkencan?

Mendengar keluhan Sasuke, tentu saja Sakura tertawa. Enam tahun bukanlah waktu yang singkat. Melihat dari sikap Sasuke, bukan hal aneh jika mereka sudah mengunjungi nyaris semua tempat wisata dalam negeri. Bahkan beberapa kali keluar negeri. Karna itulah, Sakura memutuskan agar mereka berjalan-jalan santai menyusuri trotoar saja. Toh mereka belum pernah benar-benar menikmati pemandangan sekitar sini.

Berjalan santai tidak menghabiskan banyak tenaga, lagipula mereka akan berhenti saat melihat penjual makanan enak. Mencicipi dari satu toko ke toko lain. Terkadang bahkan masuk ke toko aksesoris, membeli pernak-pernik kecil yang lucu. Dan terkadang duduk ditaman untuk mengulang lagi cerita sepanjang perjalanan tadi. Berdebat dan tertawa. Sasuke sangat menyukai suasana ini.

Menjelang sore, mereka sampai di pasar jongkok yang biasa buka mulai jam lima sore hingga tengah malam. Di sebut pasar jongkok karna penjual menggelar lapak dagangannya ditanah sehingga pembeli berjongkok saat memilih barang.

Sakura tertawa saat melihat Sasuke mengernyit tak nyaman. Ini pertama kalinya mereka kencan ditempat yang murah meriah. Sakura bisa memaklumi itu.

Berhubung Sakura akan merasa sangat tidak nyaman berjalan berdesak-desakkan dengan pembeli lainya disepanjang pasar, mereka memutuskan masuk ke tenda penjual makanan yang berada di ujung jalan.

Sakura duduk dipojok, antara dinding terpal dan Sasuke. Ini menjaga agar Sakura tidak secara tak sengaja bersentuhan saat ada pembeli lain. Terutama pria. Meski traumanya tidak separah dulu, Sakura merasa menghindari insiden lebih baik.

Posisi Sakura membuatnya bisa melihat kerlap-kerlip lampu sepanjang pasar yang mulai hidup. Menerangi malam dengan cahaya lemah yang memukau.

Sementara itu, disamping Sakura, Sasuke lebih menikmati memandang Sakura daripada lampu-lampu cantik disana. Melihat senyum senang Sakura membuat Sasuke tak bisa menahan dirinya untuk tidak ikut tersenyum. Dia senang memutuskan meluangkan waktu untuk Sakura. Hasil yang didapatkan selalu sangat memuaskan.

Saat pesanan mereka datang, mereka mulai mengobrol santai sembari menikmati makanan.

Jam sembilan malam, Sasuke menghubungi Manma agar menjemput mereka.

Sasuke tidak bisa tinggal lebih lama dengan gadisnya, pekerjaannya menunggu. Setelah berpamitan dan memberi satu ciuman di pipi Sakura, Sasuke pulang. Sebenarnya Sasuke sangat ingin agar kata 'pulang' berarti kembali ke tempat Sakura berada. Tapi sepertinya dia masih harus menunggu.

"Apa ayah melakukan sesuatu lagi?" Sasuke bertanya saat dalam perjalanan pulang.

"Sampai sekarang belum ada hal lain. Tapi sepertinya tuan Fugaku mencurigai pergerakan anda." Sasuke mengangguk. Hal aneh jika ayahnya tidak tahu apa yang dilakukan Sasuke. Dia seorang Fugaku.

Sampai di rumahnya, Sasuke disambut oleh Mikoto. Wanita itu dengan lembut mengajak Sasuke ke meja makan.

Harusnya Sasuke tidak terlalu terkejut mendapati provokasi Fugaku saat selesai makan malam. Lagi pula dia tidak terlalu banyak menelan makanan hingga kecil kemungkinan untuk mual.

"Kau mengganti undangan?" Buka Fugaku. Sasuke memang memerintah seseorang untuk mengganti undangan sebelum tersebar. Jadi undangan yang dibawanya pada Gaara ada versi lama.

"Hn." Jawab Sasuke tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

"Sasu, kenapa kau lakukan itu? Kau ingin membuat malu Uchiha dan Akasuna?" Keluh Mikoto dengan nada memelas. Wanita itu tidak pernah keras namun tidak juga pernah menyetujui keinginan Sasuke dengan mudah.

"Aku sudah mengirimkan pesan pada Sasori. Dia akan membuat keluarganya mengerti." Sahutan Sasuke membuat Fugaku tak bisa lagi hanya mencengkeram pisau ditangannya. Kepala keluarga Uchiha itu kelepasan melemparkan pisau makannya pada Sasuke.

Mikoto berteriak ketakutan sementara Sasuke mengeraskan rahangnya. Pipinya terasa perih karna tergores. Sebut saja dia beruntung karna pisau itu tidak menimbulkan luka fatal padanya.

Suasana yang tadinya kaku berubah semakin berat. Tidak ada yang bicara kecuali Mikoto yang berteriak menyuruh pelayan membawakannya kotak obat.

"Fugaku! Kau keterlaluan!" Umpat Mikoto sembari berusaha mengusap darah yang mengalir di pipi Sasuke namun ditepis perlahan oleh putranya.

"Aku tidak akan mundur. Jika Tou-san bersikeras tidak membiarkan aku dengan Sakura. Bukan masalah bagiku memutuskan hubunganku dengan Uchiha..."

"Sasuke!" Ini Mikoto yang berteriak tidak terima.

"...Sejujurnya aku tidak peduli dengan Uchiha dan Akasuna." Lanjut Sasuke. Inilah yang membuatnya menyerahkan tugas memberikan pengertian ke keluarga Akasuna pada Sasori. Karna sejujurnya dia sama sekali tidak mengkhawatirkan kehormatan keluarga itu. Sasuke mengabaikan Mikoto yang menutup mulutnya tak percaya. Wanita itu menangis.

"Tidak. Tidak. Sasuke, kau bisa bersama Sakura meski menikah dengan Karin. Itu bukan masalah bagi kaa-san." Bujuk Mikoto memegangi tangan putranya. Dia sudah cukup kehilangan satu putranya. Mikoto tak akan bertahan jika kehilangan Sasuke.

Hanya saja wanita itu tidak sadar jika toleransinya justru membuat wajah Sasuke semakin mengeras.

"Kau pikir hidupmu akan mudah tanpa dukungan Uchiha Corp?" Sasuke mengalihkan pandangannya dari Mikoto ke Fugaku. Wajahnya masih tanpa ekspresi berarti.

"Kau salah jika berpikir seolah aku belum lulus sekolah tou-san. Bahkan jika aku tak memiliki tabungan dari Uchiha corp, aku sama sekali tak kehilangan jalan untuk hidup layak. Potensi ku cukup untuk mendapatkan posisi di perusahaan besar selain Uchiha Corp. Dunia tak akan menyia-nyiakan bakat bagus."

Fugaku tahu jika ucapan Sasuke bukanlah omong kosong. Dunia tak kekurangan perusahaan sebesar Uchiha Corp. Dan bakat Sasuke dibidang bisnis sangat menjanjikan.

"Sebaliknya tou-san. Kau hanya memiliki ku untuk dipercaya. Setidaknya masa pensiunmu tidak akan kekurangan sesuatu apapun." Sasuke juga benar tentang ini. Siapa yang tahu apa yang akan dilakukan oleh sepupu-sepupunya saat memegang kekuasaan utama Uchiha.

Sasuke beranjak ke kamarnya. Dia masih mendengar bagaimana ibunya menangis dan memohon pada ayahnya.

"Fugaku. Berhentilah keras kepala. Kau tidak boleh membiarkan Sasuke pergi. Kita hanya punya dia, Fugaku."

Entah karna alasan yang mana, Fugaku bersuara sebelum dia masuk ke kamar.

"Lakukan sesuka kalian!" Raung Fugaku. Pria paruh baya itu masih sempat menggebrak meja makan sebelum menghilang ke ruang kerjanya.

Sasuke menghela nafas lega. Itu berarti ayahnya terpaksa menyetujui apapun yang dilakukannya. Cukup bagus. Dia menoleh, menatap ibunya yang mengusap air matanya. Hanya sebentar sebelum masuk ke kamar.

Keesokkan harinya, Pamannya datang ke kantornya saat jam makan siang. Sasuke hanya bisa tersenyum kecut. Meski kesannya selalu baik pada pamannya, tapi Sasuke tidak suka segala sikap pamannya. Untunglah pamannya membawa Noa.

Sasuke dengan senang menggendong adik kecilnya itu. Mencium gemas pipi gembilnya. Sepertinya dia memiliki respek yang baik untuk anak-anak.

"Kau bisa membuatnya jika ingin." Celetuk pamannya. Sasuke hanya memutar bola matanya.

"Jangan khawatir, itu akan terjadi secepatnya." Acuh Sasuke. Dia menarik kursi untuknya dan membiarkan Noa duduk di pangkuannya.

Sasuke melambaikan tangan pada pelayan. Dia membiarkan Noa memilih makanan yang diinginkannya. Gadis kecil di pangkuannya lebih banyak memilih cake. Entah gen siapa yang membuat Noa menjadi pecinta makanan manis.

"Aku sudah menerima undangannya. Kau tahu, itu membuat media cukup heboh." Pamannya bicara tanpa memandangnya. Pria yang selalu seenaknya itu lebih fokus pada makanannya.

"Seharusnya tidak seheboh itu." Gumam Sasuke. Tangannya sibuk membersihkan mulut adik kecilnya dengan tisu.

"Seharusnya lebih dari itu. Kalau kau lupa, kau adalah putra tunggal dan pewaris Utama Uchiha. Tanpa kabar pertunangan atau berhubungan dengan Putri konglomerat manapun, tau-tau kau mau menikah." Benar, Sasuke mengubah pertunangannya menjadi pernikahan. Ide ini didapatkannya dari Naruto. Maksudnya, Sasuke hanya ingin melakukannya lebih cepat daripada pria pirang itu.

Ah apa Sasuke lupa bilang jika Naruto meneleponnya dan mengomel panjang lebar saat menerima undangan? Sepertinya pesta lajangnya nanti tidak akan berakhir baik. Mungkin ide bagus jika Sasuke tidak usah melakukan hal itu.

"Ngomong-ngomong apa kau sudah melamar Sakura? Ku pikir dia akan panik menjadi berita diberbagai media."

"Ah!" Sasuke tersentak saat pamannya mengucapkan hal itu.

Sasuke mengabaikan tawa lebar pamannya. Sekarang dia benar-benar cemas. Ada apa dengan otaknya yang melupakan bagian paling penting? Bagaimana bisa dia lupa mengatakan tujuannya di kencan kemarin.

"Selamat untuk pernikahanmu." Pamannya meraih Noa. "Itupun kalau Sakura menerima lamarannya ha ha ha." Pria paruh baya sialan itu tertawa lebar. Meninggalkan Sasuke sendiri dan tagihan makanan mereka.

.

.

.

.

Keyikarus

30 Desember 2017

.

.

.

Up selanjutnya

3 Januari 2018