JAM MASIH BERDETAK DAN MENUNJUKKAN PUKUL SETENGAH ENAM SORE.
"Gaara? Apa kau bisa mendengar suaraku?"
Ia membuka perlahan matanya, melawan semua rasa sakit yang dirasakannya dari ujung kakinya hingga ujung kepalanya. Berdenging. Itu yang ia ini.
"Gaara?"
Suara berat itu membangunkannya dari tidur lelapnya. Mengira itu adalah sang malaikat maut, tapi yang ia dapat hanyalah sesosok lelaki berambut jigrak dengan jas putih dokter melekat di badannya. Ia memutar bola matanya lalu berkata, "Halo Dokter."
"Halo juga, Gaara. Asal kau tahu saja, kau sudah tertidur selama empat hari dan kau baru saja terbangun?"
"Aku tahu. Sleeping Beauty Syndrome."
"Kau bukanlah penderita Sleeping Beauty Syndrome. Penyakitmulah yang menidurkanmu. Kau tahu? Berapa kali suster Hinata dan suster-suster yang lain mengunjungimu. Dan kau baru memanggil suster Hinata pada hari keempat? Hari ini?"
"Ya "
KLAK!
Seseorang masuk ke ruang UGD itu dan langsung memeluk lelaki berambut merah itu. "Gaara!"
Lelaki itu mengenal bau tamunya. Seketika ditariknya lelaki itu dari pelukannya dan dilihat baik-baik wajahnya. Ia mengenalnya. Ia mengenal lekuk wajahnya. Ia mengenal gayanya. Ia mengenal suaranya.
Lelaki berambut merah itupun memeluk tamunya lagi dengan erat. Tamu yang selama ini ia tunggu-tunggu. Tamu istimewa itu adalah kakaknya.
ooo
Bab 4
" Although we both lie close together we feel miles apart inside…"-Poison
ooo
Kamu mematut di depan cermin dan memperhatikan terusan bercorak bunga anggrek hitam yang melekat di badanmu. Rambutmu diikat satu agar tak gerah, walaupun sekarang sudah sore menuju malam. Kamu mengingat perjanjianmu dengan sahabat lelakimu pada saat kalian masih berada di sekolah.
Sahabatmu bakal menjemputmu jam tujuh malam karena katanya restoran itu akan semakin penuh jika waktu makin menuju malam. Dan saat kamu memberitahu ibumu perihal ajakan sahabatmu, ibumu dengan wajah sumringahnya langsung menarikmu ke kamar dan mendandanimu habis-habisan.
Sudah berapa kali kamu katakan kepadanya bahwa kamu bukan ingin pergi kencan atau sebagainya. Tapi hanya ajakan makan malam saja. Tak ada yang lebih.
Tapi ibumu tetap bersikeras mendandanimu secantik mungkin.
Dan sekarang, dirimu yang sedang kau lihat di cermin, adalah hasil 'karya' ibumu. Sapuan bedak dan sedikit polesan lipgloss di bibir merahmu ditambah tas tangan milik ibumu berada di tanganmu. Berada di genggamanmu, saat ini.
Tiba-tiba pintu kamarmu terbuka lebar dan ibumu menyembulkan kepalamu dari celah pintu. "Ino? Kau sudah siap?"
Kamu menoleh ke arah pintu dan mengangguk.
"Bagus. Lima menit lagi ibu tunggu di bawah."
Kemudian pintu kamarmu kembali ditutup, meninggalkanmu sendiri lagi sambil mematut bayanganmu di cermin. Sekali lagi, kamu memerhatikan penampilanmu di cermin dan selesailah sudah. Kamu pun juga merasa mantap dan langsung melangkahkan kakimu keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.
"Bu? Ibu?" katamu sambil menuruni anak-anak tangga dengan sepatu datar yang kau kenakan. "Ibu di ma "
Seseorang. Dihadapanmu ada seseorang yang berpakaian cukup formal walau tanpa jas. Hanya kaus putih dengan jaket kulit hitam dan jeans biasa. Rambutnya agak dibuat berantakan, membuat penampilannya sangat…
Kamu menelan salivamu dan menatap seseorang itu dengan tatapan tak percaya.
"Ino?" panggilnya, bermaksud memanggilmu.
Kamu berjalan mendekatinya dan menatapnya lekat-lekat dari kaki hingga kepalanya. "Entah kenapa "
Ia, lelaki itu, hanya berdehm menunggu jawaban. Tak sadar kamu mengucapkan suatu kalimat yang memang membuatnya kaget. "Hari ini kau sangat memikat, Sai." Lelaki itu tersenyum mendengar penuturanmu lalu mengacak-acak rambutmu. Kamu menepis tangannya dari kepalamu dengan wajah yang sengaja dibuat agak memelas. "Sai, rambutku berantakan."
"Harus rapi ya? Kan hanya aku yang mengajak makan, bukan siapa-siapa."
"Iya, tapi " Ini hasil kerja ibuku, Sai. Kamu tak mampu mengucapkan kalimat itu, seperti tercekat di tengah tenggorokanmu dan pita suaramu tak mengijinkanmu untuk mengucapkannya. Senyumpun tersungging dari bibirnya lalu menggenggam tanganmu yang terbebas dari tas tanganmu. Kamu merasakan pipimu agak merona, tapi cepat kamu tepiskan pikiranmu itu
"Kalian belum pamit?"
Suara ibumu menyahut dari belakangmu membuatmu berbalik dan menunjukkan cengiranmu kepada beliau. Kamu langsung menghambur ke pelukannya dan meminta maaf kepada beliau atas kelalaianmu karena tidak pamit sebelum berangkat. Beliau memaafkanmu, seperti biasa. Dan setelah melambaikan tanganmu kepadanya, kamu pun berangkat sambil menggengam tangan sahabatmu.
ooo
"Mau pesan apa?"
Pelayan beryukata itu tersenyum kepada keduanya sembari memberikan daftar menu. "Menu makanan favorit di sini, apa ya?" katamu sembari melihat pelayan itu. "Oh, yang paling istimewa itu Salmony Sweet Roll. Biasanya orang pesan yang itu."
"Oh. Kalau Pumpkin Sushi Spice?" tanya sahabatmu sembari melihat ke arah pelayan itu, juga. "Itu juga enak. Rasanya pedas dan asam."
"Kalau begitu aku pesan Salmony dan Pumpkin," kata sahabatmu dengan nada mantap.
"Oke," kata pelayan itu sembari mencatat pesanan di komputer tablet miliknya. "Minumannya?"
"Lemon tea," katamu.
"Air mineral."
"Arigatou Gozaimashu," kata pelayan itu lalu pergi ke dapur untuk memberitahu pesanan. Kamu melihat-melihat interior restoran itu. Beberapa patung Gargoyle dengan nuansa pohon sakura buatan yang menghiasi tempat itu membuatmu agak sedikit merinding. Merinding yang terlalu dibuat-buat.
"Ino, menurutmu tempat ini bagus tidak?"
Kamu menatap lelaki di hadapanmu sembari menjawab ,"Unik. Berbeda."
"Berarti aku tidak salah memilih tempat, dong?"
Kamu menjawab sambil mengangguk. "Kurasa."
Kamu pun teringat akan sesuatu. Sesuatu yang sangat ingin kamu telepon. Kamu segera membuka tas tanganmu dan menemukan telepon genggammu tidak berada di sana. Kamu menyapu ke belekang ponimu sembari terus mencari teleponmu. "Kamu kenapa?" tanya sahabatmu dengan wajah heran.
Kamu pun menepuk jidatmu sendiri dan tertawa kecil. "Aku lupa telepon genggamku di rumah."
Kamu memang panikan. Cepat sekali panik, malah. Kamu bahkan bisa teriak-teriak, menangis, dan melakukan hal yang memang tidak semestinya dilakukan saat seseorang lupa atau kehilangan sebuah benda.
"Oh, kukira kau kenapa."
Tiba-tiba, terlintas niatanmu untuk menelepon sebelumnya. "Sai, boleh aku pinjam teleponmu?"
Lelaki dihadapanmu dengan raut muka yang terkejut segera memberikan telepon genggmanya kepadamu. "Untuk menelepon siapa?"
Kamu segera menyambar telepon dari tangannya kemudian berkata, "Menelepon Sakura. Aku penasaran dengan apa yang sedang dilakukannya saat i-"
Lelaki dihadapanmu langsung mengambil paksa telepon genggamnya dari genggamanmu dan segera memasukkannya di saku jaket kulitnya. "Jangan."
"Memangnya kenapa?" tanyamu.
Lelaki dihadapanmu hanya nyengir dan berkata, "Ya tidak. Aku tahu dia sedang melakukan apa malam ini."
Tepat saat itu, pelayan yang tadi membawakan minuman kalian. Sembari mengucapkan terima kasih, pelayan itu pun kembali lagi bekerja. Kalian menggeser minuman masing-masing agar berada tepat di depan bibir mereka masing-masing.
Ketika kamu menyesap lemon tea-mu, matamu sedikit melirik ke arah teman makanmu malam ini. Dan entah disengaja atau tidak, ia juga melirik ke arahmu dan tatapan mata kalian pun bertemu.
Kamu sedikit salah tingkah dengan membuang mukamu agar tak terlihat olehnya, membuatnya membentuk senyuman tipis yang samar. "Ino, tolong lihat aku."
Suara itu berat namun pelan. Kamu berusaha agar mukamu dan mukanya bisa berhadapan lurus dan saling menatap. "Aku sudah menatapmu sekarang. Ada apa?"
Lelaki itu tiba-tiba merogoh sesuatu dari dalam saku celananya dan menarik sebuah kertas dari dalamnya. Dibukanya lebar-lebar kertas itu dan membuatmu langsung membelalakkan mata.
Kata-kata I LOVE YOU, YAMANAKA terpampang jelas di sana, ditulis oleh spidol hitam marker yang tajam dengan sentuhan permainan garis pensil warna yang samar.
"Selama ini, aku ingin sekali jujur kepadamu tentang perasaanku. Ingin sekali, Ino. Akan tetapi kau tahu? Kau selama ini tidak peka melihat bagaimana perasaanku padamu."
"…"
"Kau tahu? Aku begitu kaget ketika kau memberitahuku bahwa ada seseorang yang kau sukai di luar sana. Padahal kau tidak tahu namanya "
"Aku tahu namanya, Sai," katamu sembari memegang sumpit di antara kedua jarimu; jari tengah dan telunjuk.
"Oke mungkin kau tahu namanya, tapi kau tak tahu identitasnya, sifatnya, dan kau dengan mudahnya bilang kata cinta?"
"…"
"Dengar, Yamanaka. Aku akan menyatakan cintaku padamu sekarang."
Lelaki itu mencoba menelan ludahnya.
"Aku menyayangimu, Yamanaka. Sampai kapanpun aku akan tetap menjaga cintaku padamu.
"Maukah kau menjadi pacarku?"
Terdiam.
Dengan sangat spontan, gadis itu berdiri dari kursinya dan langsung keluar dari restoran itu. Sahabatnya langsung mengejarnya dan sebelumnya membayar harga makanan yang belum sempat ia makan.
Kamu menyusuri jalanan dengan udara dingin mencekam, membuatmu sedikit menggigil.
"Yamanaka!"
Mendengar suara itu, kamu sebisa mungkin mempercepat langkahmu agar ia tak dapat menangkapmu begitu saja. Tapi salahkan sepatu hak tinggimu yang menghambat larimu. Ia dapat memegang pergelangan tanganmu dengan erat dan segera membalikkan badanmu agar kalian bisa bertatapan satu sama lain.
"Yamanaka…"
"Kukira kau sahabatku," begitu katamu. Suaramu agak tercekat sambil kamumembuang mukamu. Air matamu sudah ada di ujung mata, tapi kamu menahannya untuk keluar. "Kukira kau sahabatku yang tidak akan pernah mengatakan kata cinta kepada sahabatnya sendiri."
"Yamanaka…"
"Tidak boleh ada cinta di antara kita, Sai!" teriaknya. "Selama ini, aku tidak ingin ada kata 'cinta' dalam kamus persahabatan kita bertiga; aku, kau, dan Sakura. Aku tidak mau Sai!"
"Ya-Yamanaka…"
"Kau tahu?" katamu dengan sebulir air mata telah jatuh, "Aku sangat syok mendengar pernyataanmu tadi. Tidak! Tidak boleh ada cinta di antara kita! Tidak bo-"
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibirmu. Lembut, itu yang dapat kamu rasakan.
Lelaki itu menarik kepalanya darimu lalu mengucapkan puisi yang pernah dilantunkannya kepadamu.
"Aku telah bernyanyi untukmu
Tapi kau tidak juga menari
Aku telah menangis di depanmu
Tapi kau tidak juga mengerti
Haruskah aku menangis sambil bernyanyi?"
Kamu menggeleng-gelengkan kepalamu dengan satu tangan menutup mulutmu lalu berkata, "Kau telah mengambil ciuman pertamaku. Kau juga dengan lancang mengucap kata norak itu."
Sebagaimana gadis perempuan pada umumnya, setelah seorang lelaki menyatakan cintanya padanya pasti perasaan mereka sungguh senang. Sungguh gembira. Tapi tidak untuk yang satu ini. Kamu menarik tanganmu dari genggamannya lalu berkata, "Aku hanya menyukai seseorang dan dia itu Gaara! Bukan kau!"
"Oke! Oke kalau memang kau menyukai Gaara! Tapi apa dia pernah memberimu perhatian?"
Kamu terdiam. Beberapa bulan terakhir ini kalian memang tidak pernah lagi bertemu, apalagI menyapa.
"JAWAB YAMANAKA!"
Kamu mendengus kesal dengan telunjuk menunjuk-nunjuk tepat di hadapannya. "Iya! Aku memang tak pernah bertemu dengannya lagi! Tapi…tolong," katanya dengan nada suara yang dikecilkan sedikit. "Hargai perasaanku, Sai. Kenapa kau menciumku barusan? Kau sudah mengambilnya! Dan kau yang mengambilnya! Kau!"
"TERSERAH!"
"BAIKLAH!"
Akhirnya, kalian berdua pun berpisah dengan arah jalan pulang yang berlawanan. Sembari mendengus, kamu memanggil taksi dan segera pulang ke rumah untuk bisa menangis sejadi-jadinya.
Dan suara telepon lelaki itu berdering keras, membuat lelaki itu mengangkatnya tanpa suara.
"Gimana tadi? Seru?"
Lelaki itu masih bergeming. Diam.
"Sai? Gimana tadi? Seru?"
"Sangat tidak menyenangkan. Dia marah padaku. Dia tak suka padaku. Puas?"
Diputuskannya hubungan telepon itu dengan cepat dan segera menembus malam yang berudara dingin saat itu.
ooo
Kamu mengumpat. Tidak boleh! Menurutmu, hal yang barusan terjadi itu salah besar. Kesalahan yang tak dapat dimaafkan. Padahal dalam hatimu sendiri, apa salahnya menyatakan cinta? Tapi tidak ada yang boleh merusak hungan persahabatan yang kental antara mereka berdua. Tidak boleh ada kata cinta.
Kamu ingin menangis, tapi keduluan dengan tangisanmu dalam hati. Kamu ingin menyalahkan semuanya; menyalahkan dirimu, menyalahkan sahabatmu, dan menyalahkan takdir. Kamu tahu yang salah dalam hal ini cuma dirimu tapi kamu merasa ingin menyalahkan semuanya dalam hal ini.
Kamu berjalan menuju rumahmu dengan perasaan yang kacau. Kamu menyesali kelakuan bodoh yang kau perbuat saat bersamanya.
Sampailah kamu di depan rumahmu.
Kamu menggeser pintu pagarnya perlahan, dan menutupnya kembali. Kamu mepercepat langkah kakimu agar bisa sampai ke dalam. Kamu sedikit menoleh ke arah garasi rumah dan mendapati mobil ayahmu terparkir di tempat yang biasanya kosong itu. Kamu membuka pintu rumah dan masuk ke dalamnya.
Sembari melepas sepatumu, kamu mengucapkan salam agar keluargamu dapat merespek keberadaanmu saat ini. Rambutmu sedikit tersibak karena kerlingan kepalamu. Ibumu berjalan menghampirimu sambil tersenyum. "Bagaimana kencanmu?"
Kamu mendengus kesal. "Bukan kencan. Lagipula kalau dibilang kencan…ini terbilang hancur. Sangat hancur."
Kamu melempar sepatumu ke sembarang tempat dan mendengar ibumu berceloteh tentang kelakuan burukmu itu. Kamu berlari menaiki tangga dan terdengar suara ayahmu yang memanggil namamu dari lantai bawah. Kamu tidak peduli dan tidak akan mau peduli untuk saat ini saja. Dirimu butuh menyendiri. Kamu membuka pintu kamarmu yang gelap dan segera menyalakan lampunya. Kamarmu cukup rapi, tidak bisa dibilang tidak rapi juga. Kamu berjalan ke arah cermin dan mematut dirimu kembali. Bayangan semu itu memotret dirimu, kali ini lebih buram. Kamu ingin menangis saat ini, dan sayangnya bayangan semu itu justru mengikuti setiap gerakan dan setiap inci tarikan yang kamu buat. Ingin dirimu lari dari bayangan dan bersembunyi di balik selimut. Menutupi kekesalan yang sedang mengelabuimu saat ini.
Betapa bodohnya dirimu. Betapa abstraknya pikiranmu. Hanya itu yang dapat kamu rasakan.
Kamu perlahan-lahan menutup matamu dan berpikir kalau-
- memang seharusnya kau harus ganti baju dulu untuk benar-benar bisa menjernihkan kepalamu barang sebentar.
ooo
Kepala lelaki itu nampak masih terkulai, tapi menjadi lebih baik daripada kemarin-kemarin karena kehadiran kakaknya yang jauh-jauh datang dari negara untuk merantau dan menyempatkan dirinya agar menjenguk adiknya, si lelaki rambut merah itu. Lelaki itu menatap tamunya dengan senyum yang mengembang tulus.
"Kau tahu darimana aku masuk rumah sakit?" tanya lelaki rambut merah itu, dengan nada tidak sopan.
Tamunya hanya menyeringai lalu berkata, "Sudah tidak usah tahu. Yang sekarang kau harus ceritakan kepada kakakmu ini adalah kenapa kau bisa masuk rumah sakit? Hm?"
Lelaki itu menarik nafasnya lalu mulai menjawab pertanyaan yang menurutnya cukup berat. "Sakitku. Sakitku."
Hanya itu, kata 'sakitku' yang diulang. Tak ada jawaban lain yang dapat menggambarkan rasa sakit yang dideritanya saat ini.
Tamunya itu mengelus punggung tangan adiknya yang masih disuntik dengan infus. Melirik sebentar, tampak saluran oksigen dipasang di hidungnya. Tapi pikirannya langsung dibuyarkan oleh suara adiknya.
"Sekarang kau lagi yang kutanya. Darimana kau mendapat informasi tentang keberadaanku saat ini?"
Kakak lelaki itu tersenyum sambil mengusap punggung tangan adiknya itu. "Dokter Jiraiya yang meneleponku. Istriku adalah keponakan dokter yang merawatmu- "
"Lalu," kata lelaki berambut merah itu. "Maaf kalau kupotong."
"Tidak apa-apa. Silahkan, lanjutkan saja."
"Isteri? Aku baru tahu kakak punya isteri."
"Maaf, kakak tak sempat mengabarimu. Aku pernah mengirimkan sebuah undangan pernikahan tapi ternyata kau pindah apartemen ya?"
"Dari delapan bulan lalu," kata lelaki yang sekarang sedang bermain dengan selang infusnya menggunakan jari-jari tangannya. "Kalau isterimu keponakan dokter Jiraiya, mengapa…ah, sudahlah. Aku minta minum."
Sebelum air minum sampai di dalam genggamanmu, kamu merasakan penglihatanmu mengabur. Kamu belum merasakan sakit tapi badanmu tiba-tiba melemas. Keringatmu bercucuran, membuat kakakmu segera mengambil selembar tisu dan berniat menghapus keringatmu.
"Jangan, kak!"
Sang kakak menurunkan tisu itu dan berkata, "Maaf. Aku- "
"Santai sa- AH!" Rasa sakit itu kembali datang dan kali ini betul-betul menyiksa batinmu luar dalam. Saraf-saraf leher, badan, dan kepalamu menengang; seperti hendak keluar dari dalam kulitmu.
"Tunggu di sini," kata lelaki yang menjadi tamunya itu, "aku akan panggil dokter!"
Lalu ia pun berlari keluar. Badan si rambut merah itu sedikit mengejang dan merasakan sarafnya langsung mengendur tiba-tiba, membuatnya langsung pingsan saat itu juga. Saat itu juga.
ooo
Matamu menerawang ke langit-langit kamar, hampa. Kamu menaruh kedua tanganmu di atas kepalamu dan menyelonjorkan kakimu ke depan. Kamu menarik tanganmu dari atas kepala lalu telunjukmu memegang bibirmu. Masih ada di pikiranmu tentang kejadian tadi. Kamu menyingkirkan telunjukmu dan 'mengembalikan' tanganmu ke atas kepalamu lagi.
Sungguh kamu tidak habis pikir, kalau sahabatmu dengan beraninya mengambil kesempatan yang memang sengaja kamu simpan untuk dilakukan tepat pada waktunya. Sahabatmu dengan gampangnya merenggutnya darimu. Kamu ingin menyimpannya untuk Gaara -kalau kamu diperbolehkan untuk jujur.
Tiba-tiba, sisi lain hatimu berkata sesuatu yang tak pernah kamu hendaki. Kenapa kamu tidak menerimanya saja? Toh, Gaara tidak bakal menemuimu lagi. Terbukti 'kan? Sudah hampir berapa bulan kau tak pernah bertemu dengannya lagi? Untuk apa menaruh harapan kepada lelaki yang tak jelas asal usulnya?
Kamu memutar bola matamu, kesal. Menurutmu suara hati itu muncul karena adanya dorongan paksaan berlebihan dari dalam hatimu, dalam batinmu.
Kamu yakin suatu saat kamu akan bisa bertemu lagi dengannya.
Kamu berbalik dan memeluk gulingmu tanpa mematikan lampu kamarmu. Kamu berdoa lalu tidur dengan nyenyak. Kamu membayangkan esok pagi yang cerah nan indah. Tapi, kamu tak pernah tahu bahwa esok adalah hari terburuk sepanjang hidupmu.
CONTINUE
