*Ren pov*
From: babyhyun
"kami sudah menunggumu di bawah ! "
Aku menerima sms dari Minhyun, aku segera mengambil tasku dan segera mengendap-endap pergi dari rumah saat tengah malam. Ya, malam ini adalah malam sebelum pernikahanku dengan Baekho besok.
Aku pergi lewat pintu belakang karena itu adalah satu-satunya pintu tanpa pengawalan yg ketat di rumah ini. Aku melangkah pelan-pelan sambil membawa tas ranselku yg besar. Aku pergi hanya dengan membawa sedikit baju, dompet, ipad, dan ponsel yg telah ku ganti nomornya.
"selamat tinggal appa.. umma.. dan segalanya yg ada disini... aku pergi ! " kataku lalu segera pergi menemui Minhyun dan JR yg sudah menunggu di mobil.
"cepat naik ! " kata JR, lalu dia segera mengemudi dengan cepat.
"kita akan kemana? " tanyaku.
"busan ! kita akan tinggal di busan... " kata Minhyun.
Aku sempat sedikit ragu, namun aku akhirnya yakin untuk ikut dengan Minhyun ke busan. Dan sepanjang jalan, dia selalu menggenggam erat tanganku... dan itu membuatku semakin yakin dengannya.
"kalian hati-hati ya disana... nanti kalau aku ke busan, aku akan menemui kalian.. " kata JR saat mengantarkan kami ke bandara.
"tentu, kau bisa menghubungi kami kapan saja.." kata Minhyun, lalu dia memeluk JR.
"JR, terima kasih ya atas semuanya... Kau adalah sahabat terbaik kami ! " kataku lalu memeluk JR juga.
JR melambaikan tangan kepada kami, saat kami akan memasuki pesawat yg akan membawaku dan Minhyun menuju ke busan malam ini juga..
*Ren pov end*
*Author pov*
Rumah keluarga Choi telah sibuk pagi-pagi sekali. Seorang wanita separuh baya melangkah ke sebuah kamar untuk membangunkan putrinya yg akan menikah hari ini.
Tok tok tok...
Dia mengetuk pintu kamar itu, namun tak ada jawaban. Akhirnya dia masuk begitu saja, dan betapa kagetnya dia saat dia tak menemukan putrinya disana. Kasurnya pun masih rapi, seperti tidak ditiduri semalaman. Wanita itu menemukan surat, dan segera membawa surat itu ke suaminya.
"sayang, Ren tidak ada di kamarnya... kamarnya benar-benar rapi seperti tidak ditiduri semalam... "
"APA? BAGAIMANA BISA? " Minho mulai marah-marah.
"aku juga tidak tahu ! tapi aku menemukan ini... " kata Jinri sambil memberikan surat.
Minho pun membuka surat itu, lalu membacanya...
"untuk umma dan appa... pernahkah kalian bertanya padaku apakah aku mau menikah dengan Baekho? Pernahkah kalian tahu tentang isi hatiku? Pernahkah kalian bertanya siapa orang yg aku cintai? Jawabannya adalah tidak !... kalian tidak bertanya apapun padaku. Kalian seenaknya ingin menikahkanku dengan Baekho, tapi aku tidak akan pernah mau menikah dengan seseorang yg tidak aku cintai.. saat kalian membaca surat ini, aku telah berada di sebuah tempat yg jauh dari sini.. jangan pernah mencariku, kalau kalian masih memaksaku untuk menikah dengan Baekho !
Dari anakmu tercinta... Choi Minki ! "
"apa maunya anak itu ! batalkan semuanya, pernikahan ini tidak akan dilanjutkan !" kata Minho kemudian.
"tapi ahjussi... ! " sanggah Baekho.
"tapi apa? Apa kau tak bisa perpikir, kau mau menikah dengan siapa? Ren kan sudah kabur ! " kata Minho lalu pergi dan disusul oleh Jinri istrinya.
MINRENMINRENMINRENMINRENMINRENMINREN
Saat Minho bersedih, karena gagal menikahkan putrinya dengan anak dari rekan bisnisnya.. disisi lain Ren sedang berbahagia untuk memulai hidupnya yg baru di busan bersama Minhyun. Mereka tiba di busan langsung menuju ke rumah nenek dari Minhyun yg telah meninggal, rumah itu telah lama tidak ditempati dan Minhyun telah memperoleh izin appanya untuk menempati rumah itu.
Sembari membereskan rumah yg sedikit kotor, mereka juga merencanakan pernikahan mereka yg ingin cepat diselenggarakan. Mereka ingin menggelar pernikahan itu sebelum Minhyun masuk kuliah, ya.. pria tampan itu diterima kuliah di salah satu universitas terbaik di kota busan. Sedangkan Ren, dia memilih untuk tidak kuliah.
"sayang, bagaimana kalau kita segera menikah? Kalau bisa.. dalam minggu ini juga kita menikah.. " kata Minhyun
"boleh saja..." jawab Ren.
"tapi, siapa yg akan menjadi saksi darimu? Bukankah harus appa, adik, atau saudara lelaki appamu? "
"mmm, aku punya seorang adik yg tinggal di pulau jeju.. "
"adik? Bukankah kau anak tunggal? "
"begini, dulu appaku punya dua istri... dan istri keduanya meninggal setelah melahirkan anak lelakinya. Anak itu lebih memilih tinggal bersama neneknya di pulau jeju, dibandingkan tinggal bersama kami.. sekarang anak itu sudah berusia 16 tahun.. namanya Choi Jun Hong, tapi kami biasa memanggilnya Zelo" Ren menjelaskan pada Minhyun.
"oh begitu, cobalah nanti kau telpon adikmu dulu.. tanyakan padanya apakah kita bisa menikah disana" kata Minhyun.
"ya, suamiku... " kata Ren sambil tersenyum memandangi Minhyun, lalu Minhyun mengecup manis bibir mungilnya.
*Author pov end*
*Ren pov*
"yeoboseyo... " sapa Ren saat adiknya mengangkat telponnya.
"nuguseyo?" tanya Zelo
"junhongie,, ini noona ! "
"noona? "
"Ren, noona... "
"aigoo, mianhae Ren noona.. kau mengganti nomor telponmu sih.. " kata Zelo.
"iya, tapi tolong jangan beritahu appa nomorku ini.. kumohon.."
"ne, waeyo? "
"besok ku ceritakan, aku hanya ingin tanya.. bisakah kau menjadi saksi untuk pernikahanku? "tanyaku.
"kenapa bukan appa? Kenapa harus Zelo? " tanya Zelo lagi.
"aku kabur dari rumah, Zelo.. kau tidak ingin membantu noona kah? "
"baiklah noona, aku kan sangat menyayangi noona.. "
"kyaaa,,,, terima kasih ya adikku sayang.. kira-kira kapan aku bisa menikah disana? "
"2 hari lagi bisa, besok aku akan bilang kepada bapak pendeta... "
"jinjja? Kalau begitu besok noona akan berangkat ke jeju.. "
"ne, noona... sampai jumpa besok ! " katanya lalu menutup telpon.
Setelah menutup telpon dari Zelo, aku segera menemui Minhyun yg berada di ruang tamu. Aku akan mengatakan padanya berita baik itu..
"sayang... " sapaku padanya.
"ya, sayang... ada apa? "
"besok, kita harus pergi ke pulau jeju... 2 hari lagi kita sudah bisa menikah, begitu yg dikatakan Zelo.. "
"jinjja? Kalau begita aku akan mencari tiket pesawat.. dan kau harus membereskan lagi baju-baju kita.." kata Minhyun.
"yes sir ! " kataku, lalu aku melakukan apa yg diperintahkan Minhyun.
MINRENMINRENMINRENMINRENMINREN
"akhirnya kita sampai juga... " kataku saat taxi memberhentikan kami di sebuah rumah mewah di pulau jeju.
"noona-yaaa... " teriak seorang bocah lelaki sambil berlari ke arahku.
"Zelo-yya.. kau besar sekali sekarang ! " kataku sambil memeluk adik tiriku itu.
"inikah calon suami noona? " tanyanya saat melihat Minhyun.
"ne, tampan kan? "
"hai Zelo... " sapa Minhyun.
"neomu kyeopta, noona... ayo masuk... " katanya sambil membawakan barang kami.
Aku pun memasuki rumah itu, rumah yg cukup besar namun tak sebesar rumahku di korea. Disana ada nenek Zelo yg menyambut kami saat memasuki rumah itu.
"ini, Ren? " tanya beliau.
"ne, lama tidak berjumpa ya nek ! "
"iya, Ren.. sebenarnya kenapa kau tidak menikah di seoul saja? "
"aku kabur dari rumah, karena appa ingin aku menikah dengan anak rekan bisnisnya yg sama sekali aku tidak mencintainya.. dialah yg aku cintai, nenek.. " kataku sambil melirik Minhyun.
"yasudah, kalian siap-siap saja.. " kata nenek, lalu beliau meninggalkan kami.
Aku pun mempersiapkan segalanya, baju yg kubawa khusus dari seoul pun ku keluarkan agak tidak kusut. Memang bukan baju pengantin, hanya gaun terusan panjang berwarna putih yg belum pernah kupakai.
Malam itu pun aku tidur dengan Zelo, dan kami bercerita panjang lebar sepanjang malam. Meskipun aku dan dia tidak pernah tinggal serumah untuk waktu yg lama, tapi kami masih terlihat kompak sebagai saudara. Dan dia juga mau membantuku dalam hal ini... aku sungguh berterimakasih padanya.
Pagi hari, aku sudah bersiap-siap mengenakan gaun pengantin.. dan nenek Zelo pun membantu merias wajahku sehingga aku tampak seperti wanita paling cantik hari ini. Sedangkan Minhyun, telah menunggu di gereja bersama JR dan Minhyun... ya, kami hanya mengundang JR saja..
Setibanya aku di gereja, Zelo pun menyambutku dan menggandeng tanganku menuju ke seorang pria yg begitu tampan di depan altar.
"kau, Hwang Minhyun.. apakah kau bersedia menikah dengan Choi Minki seumur hidupmu? " tanya pendeta.
"ya, aku bersedia ! "katanya lantang.
"dan kau, Choi Minki.. apakah kau bersedia menikah dengan Hwang Minhyun seumur hidupmu? " tanya pendeta lagi.
"ya, aku bersedia.. " kataku mantap.
"kalian sudah sah sebagai suami istri... kau boleh mencium mempelaimu, Hwang Minhyun... "
Minhyun pun menghadap ke arahku, dia mencium bibirku lama sekali... dan kulihat JR, Zelo, dan nenek bertepuk tangan.
"selamat yaa... " kata JR.
"gomawo.. gomawo... " kata Minhyun.
"sudah cepat pulang sana, dan berikan aku keponakan baru ya noona.. " kata Zelo.
"Zelo-yaaa... sejak kapan kau mengerti soal itu? " kataku memarahi Zelo.
"Zelo kan sudah 16 tahun, sudah besar noona ! " katanya dengan percaya diri.
Saat sedang bercanda dengan Zelo, tiba-tiba Minhyun menggendongku ala bridal style sampai ke rumah nenek Zelo. Tidak jauh sih, hanya 100 meter dari gereja.. namun saat menggendongku itulah, ku rasakan kasih sayang minhyun sangat besar padaku.
"kita sudah sampai... " katanya lalu menurunkanku di depan rumah.
"saranghae.. " kataku lalu mencium bibirnya.
"aduh sayang.. jangan disini dong, kita kan bisa berbuat lebih dari ciuman di tempat lain.. mmm, maksudku kamar.. ya, kamar pengantin kita.. "
"memang kau mau berbuat apa? " tanyaku.
"ingin membuat little Ren dan Little Minhyun... " katanya sambil tersenyum evil.
"aiigoooo... " tiba-tiba saja Minhyun sudah menggendongku lagi untuk menuju kamar.
*Ren pov end*
To be continued...
