Warning : Teikou Arc+AU—possibly OOC—AllMainChara x Reader—Nyerempet reverse!harem—possibly typo(s)—Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi.

.

.

.

.

.

The Occult

Tokoh Utama Wanita yang Jahat

.

.

.

.

.

Terhitung tiga puluh dua hari sebelum kutukan Nijimura akan bekerja, masih ada empat orang target yang harus kutaklukan.

Sejujurnya batinku masih kesal dan trauma dengan semua drama cinta monyet yang kualami beberapa hari belakangan ini bersama Aomine. Biarpun sudah meyakinkan diri untuk tidak menyukai si hitam itu, rasa ciuman pertama tentu saja tak dapat dilupakan sekejap mata. Yah, secara teknis ciuman pertamaku sebenarnya dengan Nijimura di hari dimana ia memberiku kutukan, sih. Tapi itu kan ciuman yang tidak diharapkan—apalagi ia iblis.

Akan tetapi, semakin aku kesal semakin cepat pula aku ingin mengakhirinya. Berkali-kali kudesak Nijimura untuk memberitahukan saja sekarang siapa target setelahnya.

"Sudahlaah beritahu saja targetnya sekaraaang ..." Bujukku sambil membaca sebuah majalah fashion remaja yang baru saja kubeli di konbini sore ini.

Iblis yang memiliki kanji pelangi dalam namanya itu memandangku sesinis biasanya ketika aku mulai merengek lagi padanya untuk memberitahukan targetku selanjutnya. "Kau ini keras kepala sekali, ya. Jangan buru-buru. Kau yang baru patah hati dengan cinta monyetmu itu memangnya bisa apa sekarang, hah? Pria tidak semudah itu ditaklukkan, tahu." Ujarnya seperti biasa.

"Uuh~" Aku mengerucutkan bibirku sebal. "Aku sudah menyelidiki siapa saja generasi keajaiban itu. Semuanya ada lima orang. Ada Aomine-kun, Kise Ryouta, Midorima Shintarou, Murasakibara Atsushi, serta Akashi Seijuurou. Selain Aomine-kun, tidak ada yang kukenal. Berarti harusnya jadi lebih mudah karena bisa menyesuaikan karakterku dengan tipe kesukaan mereka, kan? Mereka kan tidak mengenal diriku yang sebenarnya."

"Yah, memang itu salah satu strategi penaklukan yang efektif." Timpalnya. "Tapi kalau kau melakukan itu kau benar-benar akan menjadi heroine yang jahat, sih."

Aku bertopang dagu sembari tengkurap di kasurku, menghindari tatapannya. "Bi—biar saja. Yang membuatku jadi jahat kan kau." Elakku.

Ia menggeleng tegas. "Tidak, tidak, tidak. Sekilas mungkin tuntutanku membuatmu terlihat jahat dengan membuat para target menyukaimu. Tapi, jika semuanya menyukai dirimu yang sebenarnya, apa adanya, hanya dengan dipicu oleh kamu yang mulai menyapa kehidupan mereka kembali, tentu saja tidak jahat."

"Akan tetapi jika kamu menghampiri mereka satu per satu dengan menunjukkan dirimu yang palsu sesuai tipe cewek yang mereka suka, kamu akan jadi empat orang berbeda dan begitu mereka tahu kepribadian aslimu, pasti mereka akan membencimu." Lanjut Nijimura panjang lebar.

Berniat untuk serius menanggapi ucapannya, aku menutup majalah yang tadi sedang kubaca dan duduk di kasur menghadap Nijimura. "Lalu, kalau mereka membenciku memangnya kenapa? Toh saat hati mereka dipenuhi olehku dan kegelisahannya berhasil kuatasi, kamu akan langsung mengambil roh buruanmu dan selesai kan? Tidak masalah kalau setelahnya mereka kecewa karena aku tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan." Ujarku dingin.

Nijimura menatapku dengan sorot mata kecewa. "Bukan itu yang kuinginkan ..." Ujarnya lirih.

"Kenapa aku harus mengikuti apa yang kau inginkan?" Tanyaku menantang. Mood-ku benar-benar sedang jelek sekarang.

"Memangnya kau tidak ingin memacari salah seorang dari generasi keajaiban? Mereka itu idola sekolahmu, kan? Siapa tahu jika kau benar-benar mendekati dan membantu mereka secara tulus lalu membuat mereka menyukaimu, kamu akan menyukai salah seorang dari mereka." Saran Nijimura. "Hidupmu pasti akan lebih menyenangkan jika sedang jatuh cinta dari pada dibenci oleh mereka. Tentu saja itu akan lebih baik dari pada kau hidup sedatar biasanya dan terus menyendiri di kel—"

"Nijimura." Potongku cepat. "Sudah kubilang untuk tidak mencampuri urusanku kan?"

Bibir iblis itu terkatup rapat seketika. Alisnya seperti mengerut ketakutan melihat ekspresi dinginku sekarang. Aku bangkit dari dudukku lalu mengambil handuk baru di lemari. Gerakanku terhenti sebentar saat membuka pintu kamarku.

"Kau ini ... Benar-benar iblis atau bukan?" Tanyaku hampir tanpa intonasi bertanya.

Ia terdiam sebentar lalu menjawab. "Tentu saja aku iblis. Karena aku sudah membuatmu jadi heroine jahat sekarang."

Setelah mendengar jawabannya aku membanting pintu kamarku dengan keras. Aku tak peduli ibuku di lantai bawah akan memarahiku soal ini. Iblis yang suka seenaknya itu selalu saja membuat emosiku naik.

.

.

.

Sejak insiden banting pintu kamar itu, Nijimura jadi lebih kalem dan datar. Kami benar-benar sedang perang dingin. Sudah tiga hari kami hanya berbicara seperlunya dan ia juga hanya muncul ketika aku memanggilnya. Saat aku memanggilnya pun aku hanya terus bertanya, siapa target selanjutnya. Dan ia juga terus menjawab dengan kalimat yang semacam, seperti 'belum waktunya' atau 'tunggu saja' atau 'aku akan langsung memberitahumu begitu waktunya tiba'. Aku curiga ia menunda-nundanya untuk menungguku kembali bergerak sesuai keinginannya.

Walaupun Nijimura tidak membantuku membuat kemajuan, aku mulai berusaha dengan caraku sendiri. Pelan-pelan kukumpulkan informasi lagi tentang generasi keajaiban—dengan mencoret Aomine dari daftar penyelidikan tentunya.

Kise Ryouta teman sekelasku, setelah keluar dari Klub Basket Teikou ia kembali pada pekerjaan part-time-nya sebagai model majalah. Aku cukup tahu soal pemuda itu karena dia merupakan idola yang cukup terbuka sehingga informasinya ada di mana-mana. Ia juga sering muncul di majalah fashion yang kadang-kadang kubeli. Sebagai target ia mungkin akan sedikit menyusahkan, tapi aku tetap harus mencobanya.

Midorima Shintarou, ternyata adalah pemuda berambut hijau aneh yang kutabrak waktu itu. Ia penggila ramalan Oha-Asa. Semuanya ia percayai dari isi ramalannya sampai membawa-bawa benda keberuntungan yang disarankan. Ia juga seorang prefeksionis yang sedikit berlebihan. Tangannya yang diperban itu juga ternyata bukan luka, tapi hanya sebagai pelindung tangan dari luka. Awalnya ia lakukan itu demi menjaga tembakan three point-nya yang hampir sempurna, tapi karena sudah keluar dari basket sekarang ia menjaganya demi permainan pianonya.

Murasakibara Atsushi, si pemuda berbadan raksasa yang gila snack dan sangat kekanak-kanakan. Ia hampir selalu ditemukan sedang mengunyah snack, bahkan saat pelajaran. Sangat cuek, tapi sepertinya mudah didekati dengan umpan makanan.

Yang terakhir, dan sedikit menakutkan menurutku, adalah Akashi Seijuurou. Ia dikenal sebagai puncak dari segalanya; akademik, olahraga, shogi, organisasi, status, serta kekayaan. Entah bagaimana caraku membuatnya menyukaiku, tapi akan kujadikan ia prioritas terakhir—kuharap itu pulalah yang akan disuruh Nijimura.

Lalu, setelah tujuh hari pertanyaanku ditolak Nijimura, kekesalanku sudah di ambang batas. Aku memutuskan untuk bergerak sendiri tanpa arahannya. Toh, saat roh buruan itu berhasil kupaksa keluar pada salah satu target pilihanku sendiri nanti, ia pasti takkan melewatkan kesempatan untuk menangkap roh buruannya itu.

Karena satu minggu yang lalu aku bertabrakan dengan Midorima, kuputuskan mungkin memang sudah takdirnya aku mendekatinya lebih dulu dari pada yang lain. Kalau beruntung, ia juga pasti belum lupa-lupa amat dengan wajahku saat itu. Sebelum mendekatinya, tentu saja aku akan bersiap-siap dulu dengan mengubah karakterku menjadi tipe gadis yang disukainya. Dan untuk mengetahui hal itu, aku terpaksa bertanya kepada orang yang kira-kira mengetahuinya.

"Pagi, Kuroko-kun." Sapaku ramah di depan pintu kelasnya. Alisnya mengerut heran saat bertatapan denganku yang menunggunya itu. "Sebelum masuk kelas, boleh kita bicara sebentar?"

Pemuda berambut biru muda itu sepertinya memilih untuk mengabaikan rasa penasarannya dan mengangguk pelan. Ia menaruh tasnya di dalam kelas dulu lalu mengikutiku menuju tangga ke atap. Pagi-pagi begini pintu itu pasti belum dibuka, tapi di tangganya pun sudah cukup sepi kalau aku tidak ingin pembicaraan ini didengar orang lewat.

"Anoo ... Maaf mencegatmu seperti ini, Kuroko-kun. Ada satu hal yang ingin kutanyakan." Ujarku langsung.

"Silakan." Serunya singkat.

"Mmm ... Kamu pasti kenal Midorima-san bukan?" Tanyaku. "Err ... Dia ..."

Kuroko menghentikanku dengan memberi aba-aba stop dengan tangannya, lalu ia sendiri mulai berbicara. "Jangan-jangan kamu mau membuatnya kembali juga ke klub basket?"

Heh? Aah, iya ya, dia kan salah satu generasi keajaiban yang keluar klub basket Teikou. Aku hampir lupa. Jangan-jangan, masalah yang dihadapi pemuda ini juga merupakan penyebab keluarnya ia dari klub basket? Untunglah jika benar begitu, berarti aku tak perlu susah-payah mencari kira-kira masalah apa yang dihadapinya sampai bisa membuat celah bagi roh jahat tahanan Nijimura memasukinya.

"Yaah ... Kurang lebih begitulah." Jawabku setengah bohong, karena tujuan utamaku pada awalnya kan memang bukan itu. "Untuk itu, tentunya aku butuh beberapa informasi tentangnya—tentang kira-kira apa masalahnya sampai keluar dari klub."

Dan juga tipe cewek kesukaannya, bisikku pelan di dalam hati. Tapi, aku harus berhati-hati menanyakannya agar ia tidak curiga. Kuroko tampaknya sangat berhati-hati dalam setiap tindakannya, terlabih ia adalah tipe orang pengamat. Aku tidak mau jadi dibenci oleh Kuroko hanya karena tugas Nijimura membuatku harus bersikap sedikit jahat.

Ekspresi Kuroko terlihat sedikit ragu. "Aku ingin sekali membantumu, tapi ... aku sendiri sebenarnya kurang dekat dengan Midorima-kun. Jadi tidak banyak yang kuketahui tentangnya." Ujar Kuroko.

"Tidak apa, ceritakan saja apapun tentang Midorima-san yang kamu ketahui, Kuroko-kun." Pancingku. Semoga di antara tidak banyak yang kau ketahui itu ada informasi tentang tipe cewek kesukaannya.

"Baiklah ... Midorima-kun itu orangnya sangat prefeksionis dan agak eksentrik, sih. Tembakan tiga poinnya luar biasa akurat, ketenangannya dalam menghadapi musuh seperti apapun juga bagus, dan ia juga pintar membaca situasi. Ia sama pendiamnya sepertiku—walau kadang suka bicara banyak soal zodiak atau Oha-Asa. Jadi, ia tidak begitu dekat dengan anggota lainnya, terutama karena sifat prefeksionis dan tenangnya ia kelihatannya tidak menyukai Aomine yang suka mengeluh dan bolos, Kise-kun yang berisik, serta Murasakibara-kun yang selalu makan snack kapanpun ia bisa." Jelas Kuroko panjang lebar. "Bisa dibilang ia paling dekat dengan Akashi-kun. Mereka sering sekali terlihat berdua, mendiskusikan taktik dan semacamnya—bersama Momoi-san juga kadang-kadang."

Alisku terangkat sebelah. "Hanya dengan Akashi-kun? Kenapa ia tidak akrab denganmu, Kuroko-kun? Kamu 'kan tidak termasuk orang yang mengganggunya?" Tanyaku.

Ia tersenyum tipis—senyum yang terlihat sedikit jahil. "Kenapa ya? Mungkin baginya aku adalah orang yang tidak mudah ditebak. Lagi pula aku tidak sepintar Midorima-kun dan Akashi-kun, selain itu aku juga paling lemah di sini." Jawabnya.

"Tidak mudah ditebak ya?" Ulangku sambil menyeringai. "Yah, mungkin bagiku juga sama. Tapi aku tidak keberatan dengan itu, kok."

Selama kamu bukanlah seorang iblis yang temperamental, tukang suruh-suruh, banyak maunya, tidak bertanggung jawab, dan tukang menyindir, tentu aku takkan keberatan, gumamku gusar di dalam hati.

"Ada hal lain yang kamu ketahui lagi tentang Midorima-kun?" Tanyaku. "Misalnya tentang kehidupan sehari-harinya atau semacamnya, seperti kepopulerannya di sekolah?"

Tiba-tiba pandangan lembut Kuroko berubah tajam. "(Your name), pertanyaanmu aneh." Ucapnya pelan, tidak menjawab pertanyaanku.

Aku tertegun mendengarnya. A—aneh?

"Untuk membuatnya kembali ke klub basket, bukannya kamu tidak memerlukan informasi soal kehidupan sehari-harinya? Kupikir apa yang kuberitahukan padamu itu sudah cukup." Jelasnya dengan nada dingin.

Mendengar penjelasan dan nada dinginnya, aku berusaha keras untuk tidak terlihat kaget dan salah tingkah. Sial! Sepertinya aku sedikit terburu-buru dan melupakan seperti apa lawan bicaraku ini. Jadi, dia sengaja hanya memberitahukan seputar klub basket? Jangan-jangan ia melakukannya karena ia menyukaiku dan punya firasat bahwa aku ingin mendekati Midorima?

Kugaruk pipiku pelan dengan ujung jari telunjukku. "Umm ... Yah, aku berhasil membujuk Aomine-kun kemarin, sedikit banyak karena aku tahu beberapa hal soal kehidupan sehari-harinya—walau memang tidak ada hubungannya dengan kepopulerannya, sih. Ahaha ..." Jawabku berusaha terlihat salah tingkah sewajar mungkin. "Itu 'kan hanya misalnya, Kuroko-kun. Jangan terlalu dianggap serius, ah."

Kuroko tampak tak melonggarkan tatapannya sedikit pun. "Oh, begitu. Sayangnya, aku tidak tahu apa-apa lagi." Ucapnya datar. "Maaf kalau aku kelihatannya serius sekali. Entah kenapa aku merasakan sebuah firasat buruk."

"Firasat buruk? Duh, jangan menakutiku begitu dong, Kuroko-kun." Komentarku.

"Aku memang tidak sering mengamati Midorima-kun, jadi aku kurang tahu tentang dirinya. Tapi, aku tahu banyak hal tentang dirimu." Lanjutnya. "Bicara seperti ini akan membuatku terdengar seperti stalker, sih, tapi aku tahu semua ini karena aku juga cukup baik dalam mengamati orang-orang."

Belum sempat aku bereaksi dengan kata-katanya, Kuroko sudah menggenggam jemari tangan kananku. "Jika aku tidak menyentuhnya memang tidak kelihatan, tapi ternyata jemari tanganmu memang sedikit gemetaran."

Otomatis, aku menarik tanganku dari sentuhannya yang terasa seperti sedang membaca tingkah lakuku habis-habisan. Kali ini aku tidak sempat menyembunyikan ekspresi kaget dan ketakutanku terhadap tindakannya.

"Lalu, matamu juga menunjukannya. Kamu sedang menahan sesuatu yang tidak seharusnya kamu katakan padaku, 'kan?" Ia tersenyum lembut, tapi kata-katanya bagai menyentil batinku kuat-kuat. "Kurasa kamu sedang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kau lakukan. Jangan paksakan dirimu seperti itu, (Your name). Aku memang bisa membacanya, tapi tidak bisa menyelamatkanmu dan menenangkanmu seperti yang biasa dilakuka—ah, aku sangat menyesalinya, karena tidak bisa melakukannya untukmu."

Kakiku mundur satu dua langkah dari hadapannya. Semakin ia bicara, semakin aku berusaha menahan tubuhku yang gemetaran. Setengah karena ketakutanku padanya—ia berhasil membaca gerak-gerik yang berusaha kusembunyikan padanya dengan hati-hati, lho!—dan setengah juga karena analisisnya barusan. Sedang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dilakukan? Aku? Memaksakan diri? Ia memang tidak tahu—atau mungkin hanya tidak menyebutkan—apa konteksnya, tapi ia bisa membaca semuanya! Ia mengatakan sesuatu yang tidak ingin kuakui dalam diriku sendiri.

Aku tidak ingin melanjutkan misi itu dengan cara seperti ini! Aku tidak mau menjadi seorang gadis picik dalam manga-manga shoujo yang gemar mengincar para pemuda dengan menggunakan daya tariknya—terlebih sengaja mencocokan dirinya dengan tipe pemuda-pemuda itu. Ini bukan diriku! Aku hanyalah seorang gadis penyendiri biasa yang sedikit bosan dengan kehidupanku. Tentu saja aku menginginkan kehidupan cinta, tapi tidak dengan cara menyebalkan seperti ini! Kalau saja Nijimura tidak memaksaku ... Kalau saja batas waktunya tidak semakin dekat ... Kalau saja iblis itu tidak mendatangiku ...

"Maafkan perbuatanku ini, ya, (Your name)." Ucapnya sebelum tiba-tiba memelukku kaku. Tangannya mengusap-usap rambutku yang tergerai dengan lembut. "Maafkan aku karena aku membuatmu takut. Maafkan aku karena aku memanfaatkan kesempatan ini." Gumamnya lirih.

"Jika kamu memang keberatan atau merasa kesusahan saat berusaha menyatukan kembali klub basket Teikou, tidak apa-apa, kok. Kamu tidak berkewajiban untuk melakukannya, (Your name)." Ucapnya lembut. Ia melepaskan pelukannya dan memandangku dengan lembut. "Tidak ada yang memaksamu untuk kembali menjadi bagian dari kami juga."

Mataku berkejap-kejap cepat. Heh? Merasa kesusahan untuk menyatukan kembali klub basket Teikou? Jadi, dia mengira itu adalah masalahku, ya?

"Kurasa dengan kembalinya Aomine dan aku, klub basket Teikou akan membaik keadaannya. Aku yakin, yang lainnya juga pasti akan mengikuti. Kise-kun biasanya akan kembali jika sudah ada aku dan Aomine-kun—walaupun aku tidak tahu juga sih masalahnya keluar dari klub itu apa. Murasakibara-kun dan Midorima-kun juga biasanya mengikuti Akashi-kun, dan kurasa aku bisa bicara dengan Akashi-kun untuk menyatukan klub kembali. Jadi, (Your name) tidak perlu khawatir dan memaksakan dirimu sendiri." Ucap Kuroko panjang lebar. "Mendatangi dan membujuk satu-satu orang yang ... tidak kau kenali ... pasti berat untuk pendiam seperti kita, 'kan?"

Mendengar ucapannya barusan, mau tak mau senyumku terbentuk juga. Analisisnya tentu saja salah, dan masalahnya juga tidak sesederhana yang ia katakan. Tapi, usahanya untuk menenangkanku barusan cukup untuk membuatku tersenyum, kembali pada diriku yang tenang. Ia benar. Aku tidak bisa memaksakan diriku dengan cara seperti ini, meskipun cara inilah yang kelihatan paling cepat berhasil dari pada harus menunggu strategi Nijimura yang tak kunjung dikabarkannya padaku. Nijimura lebih mengenali target dari pada aku sendiri, dan semua rencananya pun tidak ada yang benar-benar 'membahayakan'ku. Kasus Aomine kemarin pun memang aku yang seenaknya membuat alur sendiri tanpa arahan Nijimura—yah dia juga sih yang malah menerawang tidak jelas di kamar ayah dan ibu.

"Terima kasih, Kuroko-kun." Ucapku singkat. "Kamu hampir membuatku menangis karena takut, lho. Ternyata maksudmu adalah untuk menghiburku, ya." Godaku.

Ia tersenyum tipis. "Maaf karena aku tidak pintar mengutarakan sesuatu."

"Soal barusan itu ... sepertinya aku sedikit memaksakan diri, kamu benar. Tapi aku tidak akan berhenti melakukannya. Mungkin aku akan memikirkan metode yang lebih nyaman untukku. Hmm ... Bagaimana kalau aku ikut denganmu untuk membujuk semuanya? Jadi ada perantaranya, 'kan?" Saranku seraya mengaitkannya dengan masalah yang dikira Kuroko sedang kualami. "Hari ini ada latihan, 'kan? Boleh aku ikut untuk melihatnya? Nanti aku datang sama-sama Satsuki, deh."

Kuroko mengangguk setuju. "Boleh. Omong-omong, karena bel masuk sudah berbunyi dari tadi, bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraannya di tempat lain saja? Kadang-kadang ada guru yang suka memeriksa di daerah atap untuk memeriksa anak yang bolos." Ujarnya mengingatkan.

Mulutku membulat kaget setelah mendengarnya. Bel masuk sudah berbunyi dari tadi katanya? Langsung kulirik jam tangan yang melingkar manis di tangan kiriku. Sudah lewat hampir setengah jam dari bel masuk kelas. Benar juga, kalau dipikir-pikir saat aku mengajak Kuroko pergi tadi, kira-kira kurang delapan menit lagi sampai bel masuk berbunyi. Ternyata pembicaraan kami berlangsung cukup lama juga. Haah, tidak ada gunanya aku pakai jam tangan begini kalau masih telat juga.

Aku terkikik pelan menyadari kekonyolan ini. "Wah, tanpa sadar kita sudah bolos jam pertama. Ya sudah, sekalian saja. Sepertinya Kuroko-kun cukup berpengalaman ya, hahaha. Punya ide harus kemana sekarang?"

"Taman belakang dekat aula olahraga tempat latihan klub basket?" Saran Kuroko yang sekaligus meminta persetujuanku.

"Boleh," jawabku setuju sambil menarik tangannya untuk membawanya pergi dari situ. "Traktir aku susu kotak untuk sarapan, ya."

"Kalau bisa, roti pun akan aku belikan, kok." Jawab Kuroko yang terdengar sedikit menahan tawa. "Tapi nanti kita malah akan ketahuan karena tempat yang paling sering dipakai siswa untuk bolos 'kan kantin."

Aku tersenyum. Pemuda ini memang sulit ditebak dan sedikit suram, tapi akhir-akhir ini sepertinya ia sedikit keluar dari karakternya itu dan mulai menampilkan berbagai ekspresi. Mungkin karena ia sedang jatuh cinta ... kepadaku.

Apa mungkin kalau aku juga sedang benar-benar jatuh cinta, aku bisa berekspresi seperti itu?

.

.

.

.

.

Setelah melewati jam pertama dan kedua bersama Kuroko dengan beberapa obrolan ringan, kami masuk kelas di jam ketiga yang mata pelajarannya berbeda guru dengan jam pertama dan kedua. Kami menyusup dengan indah ke dalam kelas masing-masing. Untuk Kuroko yang tidak menarik perhatian mungkin tidak ada yang sadar, tetapi aku yang kasat mata ini tiba-tiba dihujani pertanyaan oleh teman-teman sekelasku.

"Hei, dari mana saja kamu?"

"(Your name)! Kok tadi tidak masuk pelajaran bahasa? Tadi sudah kulaporkan kalau kamu absen ..."

"Untunglah kamu masuk! Nggak lupa bawa kliping buat pelajaran terakhir nanti, 'kan?"

"Wow, kupikir kamu anak yang kelewat rajin! Ternyata bisa sekali-sekali bolos juga ya, hm?"

"Umm ... Apa kamu terkena kecelakaan atau apa, jadi baru datang sekarang?"

Menghadapi beberapa orang yang tiba-tiba mendatangiku dengan berbagai pertanyaan ini membuatku sedikit bingung. Yah, aku memang kasat mata, tapi biasanya tidak ada yang sepenasaran ini tentang apapun yang terjadi padaku. Walau begitu, aku tetap berusaha menjawab mereka satu-persatu.

Lalu, sahabatku satu-satunya yang selalu ada untukku itu hanya melempar senyum di kursinya yang ada di depanku. Segera setelah rombongan anak-anak yang mengerubungiku tadi bubar, ia pun mulai bicara padaku. "Sayang sekali kamu nggak ada pas pelajaran bahasa, (Your name). Materinya tadi resensi buku dan yang menjadi contohnya adalah buku puisi kesukaanmu itu, lho!"

Aku mengangkat kedua bahuku. "Well, aku menyukai konteks buku itu untuk diriku sendiri, Satsuki. Bukan berarti karena aku suka, aku jadi terobsesi dengan apapun yang berhubungan dengan buku itu, tahu."

Satsuki pun menyengir polos lalu diam. Aku memerhatikannya heran dari belakangnya. Sudah beberapa hari ini ia jadi lebih sering diam. Aneh, padahal biasanya ia yang paling pertama merongrongku dengan berbagai pertanyaan jika aku melakukan sesuatu hal yang tidak biasa. Raut wajahnya juga tidak menunjukkan kalau ia cuek atau sedang kesal padaku.

Tunggu ... Kalau kuputar balik ingatanku ke saat-saat aku memergoki Aomine dan Satsuki sedang bicara berdua di atap ...

"Satsuki ..." Panggilku pelan dari belakang.

Ia membalikkan badannya, "ya?" Sahutnya.

"Mmm ... Tidak tanya kenapa tadi aku bolos pelajaran bahasa?" Tanyaku, yang sebenarnya berniat memancing alasannya.

Tawanya pun menggelegak mendengar pancinganku. "Ahahaha! Maaf, aku jadi aneh, ya? Yaah, singkatnya sih aku tidak bertanya padamu karena aku sudah tahu apa yang kau lakukan~"

Alisku terangkat sebelah, heran.

"Aku tahu dari Dai-chan kalau Tetsu-kun hari ini juga entah kenapa tidak masuk jam pertama dan kedua, tadi," Satsuki menunjukkan e-mail dari Aomine di ponselnya. "Dan kamu juga kebetulan sekali tidak masuk pada jam yang sama. Jadi ... Pertanyaanku adalah ... Siapa yang jadi pengaruh buruk di sini? Hihihi ..."

Wajahku memerah mendengarnya. Ia jelas sekali sedang menggodaku. Aku tidak begitu keberatan—walau malu juga—digoda begitu sih. Toh pada kenyataannya tidak ada apa-apa antara aku dengan Kuroko. Tapi, bagaimana dengan perasaannya sendiri? Memangnya ia tidak kesal atau iri atau apalah padaku?

"Kami tadi cuma keasyikan ngobrol, lalu begitu sadar ternyata sudah lewat hampir setengah jam. Sekalian saja deh." Alibiku. "Tapi, kita cuma ngobrol hal-hal biasa, kok! Terutama sih soal tim basket Teikou."

Sorot mata Satsuki tampak menerawang sebentar lalu beberapa detik kemudian kembali fokus padaku. "Ah, iya ya. Kamu kan mau menyatukan kembali generasi keajaiban dalam klub basket Teikou."

Aku mengangguk kuat-kuat, meyakinkannya bahwa hanya itulah fokus pembicaraan kami—padahal sih obrolan remehnya macam-macam. "Satsuki ... Nggak sedang memusuhiku karena hal itu, 'kan?"

Ia menatapku sedikit kaget lalu menggeleng, "tidak! Tentu saja tidak, (your name)! Duh, aku memang menyukai Tetsu-kun, tapi kamu tahu sendiri kan aku bukan pecemburu dan lagi pula ... Kamu juga tahu kalau ia tidak menyukaiku ... 'kan?"

Dengan ragu, aku mengangguk lagi. "Iya, aku tahu."

"Ehehe ... Sebenarnya aku juga sudah sadar dari dulu sekali, sih. Tapi aku tidak mau menyerah, apalagi kamu juga sama sekali tidak sadar dan tidak pernah memerhatikannya, sebelumnya." Satsuki mengakuinya. "Lalu, ia mengakuinya padaku. Di hari dimana ia mengajakku ke Maji Burger itu, kalau ia sudah mengatakannya padamu—tentang pengakuannya padamu itu."

Kuusap tengkukku dengan salah tingkah. Aku jadi seperti seorang suami yang sedang ketahuan selingkuh.

"Terlepas dari apapun itu jawabanmu, aku senang sekali mendengarnya, lho. Aku menjadi orang yang pertama diceritakannya tentang itu. Memang tidak bisa lebih dekat dari status teman, tapi begitu saja rupanya cukup membuatku bahagia." Ia melanjutkannya dengan ekspresi senang yang terlihat begitu jujur. "Kedengarannya naif sekali ya?"

Aku meraih tangan Satsuki lalu menggenggamnya erat-erat sambil menatap matanya dalam-dalam. "Persahabatan kita nggak sedrama di komik shoujo, 'kan?"

Kali ini Satsuki tertawa lepas tanpa beban. "Ahahahaha! Tentu saja tidak!" jawabnya dengan senyum lebar. "Ngomong-ngomong, akhir-akhir ini kamu jadi lebih terbuka dan semangat, ya? Aku tidak menyangka kalau kamu mau repot-repot mengurusi klub basket Teikou—dalam keadaan sekarang."

"Terbuka dan semangat... ya... Haha." Ulangku ketika alasan kenapa hal itu terjadi tiba-tiba terlintas dalam benakku. Kalau aku tidak semangat melepaskan roh-roh buronan itu, nyawaku bisa-bisa melayang dengan menyedihkan ke neraka. Jelas saja aku jadi semangat.

"Pokoknya aku punya alasan pribadi, deh," elakku. "Oh iya, sepulang sekolah nanti, aku boleh ikut kamu ke klub basket? Tadi aku sudah bilang sama Kuroko-kun, sih... Tapi nanti ke sananya kan bareng kamu."

Ia mengangguk mantap. "Boleh dong. Siapa tahu nanti teringat sesuatu."

Aku memiringkan kepalaku heran, lalu ia mengibaskan tangannya di wajahnya, "aah, tidak, tidaak. Lupakan saja yang barusan. Kamu sudah berniat akan menyatukan klub basket Teikou lagi, jadi kunjungan ke klub basket yang sekarang juga penting!"

"Siap~ Ah, ini gurunya kenapa tidak datang juga, sih?" Protesku ketika menyadari jam terus berjalan selama kami mengobrol. Sudah lewat setengah jam tapi guru yang harusnya mengajar saat ini tidak datang juga. Satsuki pun menanyai ketua kelas dan ternyata sang guru sedang dalam perjalanan ke kelas—terlambat karena beberapa urusan, katanya.

Bukannya aku sangat menginginkan kehadirannya juga, sih. Tapi karena aku bolos tadi pagi, setidaknya sehabis ini harus ada bukti kehadiranku di kelas. Selain itu, gara-gara Nijimura yang menggangguku saat pelajaran matematika waktu itu, aku jadi ketinggalan materi saat ini. Kali ini aku harus benar-benar mengejar ketertinggalanku, sayangnya gurunya malah terlambat.

Dan di sela-sela waktu yang sempit untuk belajar ekstra itu, Nijimura muncul tepat ketika gurunya muncul juga.

Kedua mataku langsung melotot ke arah iblis tidak tahu situasi yang suka menghilang seenaknya saat dibutuhkan dan sangat merepotkan itu. Dengan gusar kutulis omelanku di bagian belakang buku tulisku untuk mengusir Nijimura.

"Apapun itu, tolong jangan sekarang. Aku harus mengejar ketinggalanku di pelajaran matematika KARENA KAU MENGGANGGUKU WAKTU ITU."

Nijimura yang lagi-lagi muncul di hadapanku dan menghalangi guru serta papan tulisnya—bagi orang lain memang tidak kelihatan, tapi ia muncul sejelas eksistensi manusia di hadapanku—hanya memutar pandangannya dengan tak peduli lalu berargumen menyebalkan, "hmm? Jadi pelajaran matematika lebih penting dari pada aku—ehm, maksudnya—nyawamu?"

Aku menahan tawa sinisku sembari menulis balasannya, "kau tidak bisa memancingku untuk memperhatikanmu dengan cara seperti itu, sayang sekali, haha. Nyawaku memang jauh lebih penting, tapi, apapun yang kau beri tahukan sekarang pasti takkan bisa kulakukan saat ini juga, 'kan? Jadi, nanti saja, ya."

Ia memajukan bibirnya yang khas dengan gusar. "Aku kesal sih, tapi kau yang seperti ini sudah jauh lebih baik dari pada si heroine jahat yang merasa bisa menggaet generasi keajaiban dengan mengubah dirinya sesuai tipe cewek mereka. Kamu pikir, kamu siapa, sih? Princess?"

Dengan wajah sebal aku menghindari tatapan meremehkannya. "Bawel."

Tidak tahu diri, iblis itu tertawa tergelak-gelak di hadapanku, dengan masih menutup aksesku untuk belajar matematika yang sudah dimulai. "Kayaknya kamu cocok dengan cowok target pertamamu itu, (Your name)." Komentar Nijimura.

"Terserah. Tapi dia nggak bisa membantuku saat aku ketinggalan pelajaran matematika. Jadi, nggak usah jadikan Kuroko-kun sebagai alasan dia bisa mengajariku kalau aku ketinggalan materi karena ulahmu." Balasku sengit. Dari obrolanku bersama Kuroko tadi, aku tahu kalau ia hanya jago di mata pelajaran sastra.

"Oke, oke. Kita akan diskusikan soal target berikutnya saat kau punya waktu luang. Nanti kau panggil aku dengan mengatakan 'Nijimura-sama, Nijimura-sama, Nijimura-sama yang terhormat, saya membutuhkanmu' sebanyak tiga kali sambil menggambar pelangi, di manapun itu, dan aku akan datang!" Seru Nijimura.

Aku menatapnya lelah. "Lebih baik kupanggil saja Kokkuri-san. Siapa tahu dia bisa melenyapkanmu." Tulisku.

Wajah Nijimura mendadak pucat mendengar tanggapan tak seriusku. "Wah, jangan! Lebih baik berurusan denganku dari pada memanggil Kokkuri-san!"

Woah, aku tidak tahu kalau iblis juga bisa takut pada Kokkuri-san. Padahal, jika dibandingkan dengan iblis, bukannya ia hanya hantu rendahan?

"Yah, pokoknya nanti kau panggil saja namaku—Ingat, namaku ya. Bukan julukan darimu yang macam-macam itu." Ujarnya. "Oh iya, target berikutnya itu akan menghampirimu dengan sendirinya, jadi nggak usah khawatir. Belajar sana."

Menghampiriku dengan sendirinya? Siapa? Midorima Shintarou? Bukannya pemuda itu memang sudah menghampiriku—walau sebenarnya itu cuma kebetulan, dan ia jelas sama sekali tak sengaja bertemu denganku.

Karena omongannya yang terakhir, bukannya fokus aku malah jadi bertanya-tanya siapa kiranya target selanjutnya. Untung teman-teman yang menangkap gelagat anehku yang tahu-tahu kesal sendiri itu menegurku agar tidak terkena omelan guru matematika—dan ketinggalan pelajaran lagi, tentunya.

.

.

.

.

.

Pelajaran hari ini akhirnya selesai. Saat makan siang, aku berhasil menutupi ketidakhadiranku di jam pertama kedua tadi dengan sedikit berbohong kalau aku sakit dan istirahat dulu. Yah, aku tidak sepenuhnya bohong, 'kan? Anggap saja saat itu hatiku sedang sakit dan aku bersama Kuroko kan memang beristirahat di taman belakang aula olahraga, hehe.

Lalu, waktunya mengunjungi klub basket Teikou bersama Satsuki pun datang. Satsuki bilang, sejak keluarnya generasi keajaiban, hampir tidak ada lagi gadis yang masuk untuk melihat latihan mereka. Jadi, kedatanganku kali ini mungkin akan jadi suatu perhatian lebih bagi semuanya. Aku diminta menunggu di ruang ganti wanita—latihan basket putri dan putra berbeda harinya sehingga tidak ada siapa-siapa lagi di sana jika Satsuki pergi duluan—dan Satsuki akan menjelaskan kepada semuanya kalau aku akan datang melihat-lihat. Kalau tidak, bisa-bisa latihan jadi terganggu fokusnya, dan aku pun jadi merasa tidak nyaman karena diperhatikan berlebihan.

"Apalagi kamu 'kan cantik, (Your name)." Pujinya tiba-tiba, setelah memperingatkanku.

Aku mengibaskan tanganku sembari menggelengkan kepala. "Tidak, tidak! Kamu ini suka berlebihan, deh. Mereka itu biasa melihat gadis secantik kamu, jadi aku pasti tidak ada apa-apanya. Wajahku yang sedikit berbintik ini tidak semenarik kamu yang mulus, tahu."

Satsuki mencubit pipiku pelan. "Cantik fisik begitu sudah biasa, tahu. Kamu nggak sadar kalau kamu punya sesuatu yang akan membuat mereka terpana saat kamu muncul, ya?"

"Nggak. Selama ini juga di kelas biasa saja, kok. Banyak yang tidak memperhatikanku malah, baik perempuan maupun laki-laki juga. Aku tuh cuma anak biasa yang tidak menonjol tahu, Satsuki." Sangkalku lagi.

"Habisnya selama ini kamu selalu bersembunyi di dalam cangkang, sih. Dan sekarang akhirnya pelan-pelan keluar juga. Teman-teman saja sudah mulai menyadarinya, lho." Ucap Satsuki.

Tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini, aku cepat-cepat menyuruh Satsuki pergi. "Sudah, sudah. Sekarang, kamu jelaskan saja dulu lah—apapun itu alasannya. Aku akan menunggu di sini."

Ia mengangguk sambil mengerling jahil ke arahku. Akhirnya Satsuki pergi juga. Aku jadi punya waktu untuk berdiskusi dengan Nijimura. Aku tidak ingin menundanya lagi. Selepas ini, pokoknya aku harus langsung bertindak.

Kupanggil namanya perlahan-lahan. "Nijimura..."

Satu, dua, tiga, lima, sepuluh, dua puluh, tiga puluh detik, ia tak juga muncul.

"Hei! Nijimura, datang dong! Nijimura!" Panggilku lagi. "Nijimura!" Kali ini lebih keras.

Lalu, pintu ruang ganti terbuka.

Satsuki berdiri di sana sambil menatapku kaget.

Tak ingin ketahuan sedang berusaha bicara dengan iblis, aku berusaha menanggapi reaksi Satsuki dengan bersikap setenang mungkin sambil memikirkan alasan yang paling logis untuk kulontarkan padanya. "Mmm... Ada apa, Satsuki? Apa ada barang yang ketinggala—ah, papan pencatatmu ini, ya." Aku mengambil papan itu lalu kuberikan pada Satsuki yang masih diam di tempat.

"(Your name)..." Ia menyebut namaku dengan lirih.

"Y—ya?" Tanggapku, sedikit gagal untuk tidak salah tingkah.

Ia mengambil sebuah helaan nafas panjang untuk kembali menyadarkan dirinya dan berucap, "tadi... Kamu... Menyebut nama Nijimura?"

Celaka.

Dia mendengarnya dengan jelas.

.

.

.

.

.

To be continue

.

.

.

.

.

A/N : Hai minna~! Schnee balik lagi di penghujung bulan April untuk update The Occult jatah bulan April, hehe. Nggak kerasa udah tujuh chapter, ya. Padahal ending-nya masih lama, lho. Schnee kalau udah ngetik kadang suka nggak tahu diri, jadinya panjang begini...

Well, bagaimanapun itu nantinya, terima kasih banyak yang sudah mengikuti sampai sini dan Schnee lebih berterima kasih lagi kalau kalian ikuti sampai akhir sih~ Soalnya Schnee berusaha bikin ending-nya se-greget mungkin hehehe

Untuk para reviewer, mohon maaf banget nih, Schnee belum bisa ngobrol banyak dan balesin satu-satu. One day, kalau aku bener-bener udah ada waktu luang, yuk fangirlingan bareng, hehe!

So, see you soon at the next chapter!