Sex and Love
By : Han Kang Woo
Cast : Xi Luhan, Oh Sehun, Do Kyungsoo, Kim Jongin, etc
Main Cast : HunHan, 'slight' Kaisoo
Genre : Romance, Drama
Warning : BL (Boys Love), Adult (No Children), 18+
Banyak Typo dan Adegan Mesum
Rated : M+
DLDR
= Happy Reading =
O…O…O…O…O…O…O…O…O
"aku mencintaimu Luhan-ah"
Kalimat cinta itu meluncur mulus dari bibir tipis seorang Sehun, kalimat cinta yang dalam dan tulus dari hati.
Sehun memasang wajah penuh harap, menahan nafasnya dan menunggu jawaban dan tanggapan dari Luhan.
Sedangkan Luhan tidak bisa berkata apa-apa, sejak tadi namja itu hanya bisa mematung, dengan posisi masih berhadap-hadapan dengan Sehun, posisi miring.
"aku tulus mencintaimu, inilah jawaban atas segalanya. Aku tidak ingin berpisah denganmu… karena aku mencintaimu" kata Sehun lagi, menegaskan kalimat cintanya.
Luhan secara mendadak langsung beranjak, dia terduduk disisi ranjang, dengan wajah menunduk, degup jantungnya belum juga normal.
"jangan bercanda Sehun" ucap Luhan, akhirnya bisa mendapatkan suaranya kembali.
"aku tidak bercanda, aku serius" timpal Sehun, juga beranjak dan duduk, didekat Luhan.
"setelah kau dua kali memakai tubuhku, dan sekarang mengatakan bahwa kau mencintaiku. Apa aku akan percaya? hah" Luhan membentak Sehun,
"ya, aku… aku tahu. aku salah, dan kau belum memaafkan kesalahkanku itu. Tapi… Aku tidak tahan jika memendam perasaanku terlalu lama, aku memang mencintaimu" ungkap Sehun, jujur.
"kau tipe namja playboy Sehun, aku tahu… kau pasti sering mengucapkan ini pada sembarang orang diluar sana, iyakan?"
"tidak, baru kali ini aku menyatakan cintaku pada seseorang, dan itu kau" Sehun berusaha meyakinkan Luhan.
Luhan terdiam, dia kembali menundukkan kepalanya.
"mungkin ini terdengar mendadak, aku tahu kau kaget. Tapi aku tidak bisa menahannya, aku harus mengungkapkan perasaanku" lanjut Sehun.
"aku sama sekali tidak kaget" timpal Luhan, bohong.
"terserah, aku sudah mengungkapkan isi hatiku, aku mencintaimu… dan aku berharap kau bisa membalas cintaku" kata Sehun, lalu memasang wajah memelas.
Luhan mendongak dan menatap wajah dan mata Sehun, berusaha mencari kebohongan disana, namun dia tidak menemukannya.
"maaf Sehun, aku tidak bisa menerima cintamu" ujar Luhan, kemudian menunduk lagi
'Jder'
"kenapa?"
"aku sama sekali tidak mencintaimu"
"tidak, kau berbohong. Selama ini aku mengamatimu. Kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku" Sehun berkata nyaris berteriak, teriakan cadel yang kentara.
"apa buktinya?" ketus Luhan, kemudian berdiri dan memandang Sehun dengan pandangan sulit diartikan.
"salah satu buktinya adalah di kamar tamu, rumah Jongin dan Kyungsoo hyung. Saat itu kau pasrah dan tidak berontak saat aku memasuki tubuhmu malam itu" kata Sehun
"itu… itu karena aku hanya ingin mendengarkan desahan jelekmu itu, dan membuktikan siapa yang memperkosaku di hutan" elak Luhan
"bagaimana dengan tadi, kau baru saja memegang pahaku, kau mengelusnya pelan. Dan mungkin jika kau tidak kutegur, kau pasti akan memegang…"
'plak'
Ucapan Sehun berhenti, karena menadadak pipinya ditampar oleh Luhan.
"hentikan ocehanmu. Aku tidak mungkin mencintai orang yang telah memperkosaku, memperkosaku dalam keadaan pingsan, tidak berkata-kata dan meninggalkanku seperti binatang" teriak Luhan, mengambil bantal yang bisa dijangkaunya, kemudian melemparkan bantal itu sembarangan.
Sehun hanya bisa memegang pipinya yang sakit,
"tidurlah sendiri, kau merusak malamku" seru Luhan, kemudian bergerak cepat, menuju pintu, membuka pintu kamar hotel itu dan menghilang dibaliknya.
Luhan pergi meninggalkan Sehun sendiri.
"Luhan, kau… kau mau kemana? Maafkan aku… malam begini sangat berbahaya diluar sana" panggil Sehun,
'ah, bodoh… tidak seharusnya aku menyatakan cinta dalam kondisi dia seperti itu' batin Sehun, merutuki dirinya yang begitu cepat menyatakan cinta.
Namja cadel itu kemudian mengambil jaket tebalnya, dan akan mengejar Luhan.
.
.
.
.
Luhan berlari dengan kencang. Namja itu tidak memperdulikan orang-orang yang sempat berpapasan dengannya dengan wajah heran. Dia hanya ingin berlari, berlari dan berlari, tanpa tujuan yang jelas.
Entah mengapa pernyataan Sehun yang mengatakan mencintainya itu terus memenuhi otak dan pikirannya. Dia galau dan kalut. Perasaannya campur aduk.
Setelah lama berlari dan merasa lelah, akhirnya Luhan berhenti dan mengambil nafas. Dia terengah-engah, posisinya kini ada disamping jalan.
Luhan terus berusaha menormalkan nafasnya, dia memandang kesegala arah, dan langsung terdiam, dia sangat mengenali wilayah itu.
'bukannya ini… daerah sekitar rumahku' batin Luhan, sambil menghapus keringat didahinya.
Matanya menatap bangunan tinggi mewah dengan cat putih dan emas, bangunan yang sangat indah. Dan bangunan itu adalah rumahnya, rumah keluarga Xi.
Luhan tanpa sadar sampai dijalan dekat rumah mewahnya. Padahal dia sudah mengira jarak antara hotel dan rumahnya sudah sangat jauh, tapi sekarang hanya dengan berlari dia bisa sampai disana. Ya… mungkin karena dia berlari dengan tidak sadar, dengan pikiran kacau.
Luhan menimbang-nimbang, untuk kedua kalinya dia berada disamping rumahnya, disekitarnya tidak ada siapa-siapa yang melintas, mungkin karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
'apa sebaiknya aku muncul saja, dan menunjukkan bahwa aku belum mati' Luhan membatin lagi.
Setelah lama berpikir, dengan berbagai pertimbangan, termasuk ingin menjauhi Sehun, akhirnya dia memutuskan untuk memunculkan dirinya didepan rumah, dan terutama didepan pamannya. Dan rencananya untuk meminta bantuan Sehun untuk memberikan pelajaran pada pamannya pudar seketika.
Luhan menarik nafas panjang, kemudian melangkah pelan, pertama-tama dia akan berbicara dengan kedua pengawal yang biasa menjaga pintu gerbangnya, pengawal itu sangat hormat padanya, dan sepertinya akan senang jika melihatnya muncul didepan pintu gerbang.
Luhan dengan gerakan pelan menggoyangkan besi kecil didepan pintu gerbang, untuk menimbulkan suara. Dan tidak lama pintu terbuka, menampilkan dua orang penjaga yang matanya sudah merah menahan kantuk.
"kau mencari siapa?" tanya salah satu penjaga, dengan postur tubuh besar.
"aku Luhan, kau tidak mengenaliku?" kata Luhan, lalu tersenyum, dia tidak melihat jelas wajah pengawal itu, karena cahaya yang minim.
"Luhan? Luhan siapa?" tanya pengawal kedua,
"Luhan, Xi Luhan. Anak tuan Xi… bagaimana, ah… kalian bukan Kris dan Tao?" Luhan sudah melihat jelas wajah kedua pengawal itu, sama sekali bukan pengawal yang dikenalnya.
"kau ini bicara apa, anak tuan Xi sudah meninggal… kau jangan main-main dengan kami" ujar pengawal kedua.
"mana Kris dan Tao, mana mereka?" Luhan sedikit membentak.
"jangan berteriak disini, kau akan membangunkan tuan besar" si pengawal membentak balik.
"kalian berdua pasti orang baru yang dipekerjakan disini. Iyakan?" Luhan mencari celah untuk masuk kedalam halaman rumahnya, namun dihalangi.
"kami memang pekerja baru, kenapa? Dan oh, wajahmu memang sedikit mirip dengan foto diacara kematian anak tuan Xi, tapi kami tidak akan tertipu. Kami sudah diperingatkan sebelumnya. Dan sebaiknya kau pergi… penipu" usir si pengawal, membentak keras.
"tidak, aku ingin masuk dan bertemu dengan Hong Seung Sung" lawan Luhan, dia tidak memakai embel-embel 'ajuhsi' lagi pada kalimatnya.
"kau ini sangat lancang…"
Si pengawal besar mendorong Luhan dengan keras, dan insiden itu membuat Luhan jatuh dan terjerembab disamping jalanan, dekat selokan.
'brakkk..'
Pintu gerbang menutup kembali, dengan bunyi keras.
"ahh, ish… sialan…" gumam Luhan, kakinya terantuk batu, dan bengkak dengan cepat.
Luhan memegang kakinya itu, sesekali meringis dan menahan sakit, dia mencoba berdiri, tapi sulit.
"ahhh, sakitt.." gumamnya, sepertinya butuh pertolongan.
Dan tiba-tiba…
"Luhan, kau kenapa?" tanya seseorang, suara namja. dan dia adalah Sehun.
Sehun berhasil menemukan Luhan, dan memang selama ini dia selalu berhasil menemukan namja yang ingin selalu menjauh darinya itu.
"kenapa dengan kakimu? Tanya Sehun lagi, mendekati Luhan, dan memegang kaki namja itu.
Luhan tidak menjawab, hanya ringisan pelan yang terdengar.
"kakimu bengkak, sepertinya sulit berjalan. Ayo naik kepunggungku. Aku akan menggendongmu kembali ke hotel" tawar Sehun,
Luhan terus saja diam,
"ayolah, maafkan aku… aku tidak akan mengungkit lagi mengenai perasaanku. Kita teman sekarang, hanya teman" ucap Sehun, walau dalam hatinya sangat perih dengan hanya mengucapkan kata 'teman'.
Sehun stay dengan punggung menghadap Luhan, dia membungkuk.
Luhan mendesah pelan, bergerak perlahan. Dan mengarahkan tangannya ke punggung Sehun. Untuk kesekian kalinya dia ditolong oleh Sehun.
Sehun tersenyum, merasa lega karena Luhan tidak menolak niat baiknya untuk menolong. Dia memperbaiki posisi Luhan, tangan namja China itu menggelayut dilehernya.
Sehun kemudian berjalan, dengan Luhan yang seperti anak kecil dipunggungnya, adegan itu mirip adegan didrama-drama Korea, minus air hujan tentu saja.
"apa yang kau lakukan disana, kenapa kau sampai jatuh begitu?" tanya Sehun pelan, dia dan Luhan sudah meninggalkan area elit tersebut.
Luhan tidak menjawab, namja itu hanya diam, diam dan diam.
"bicaralah padaku, mungkin kau ada masalah, dan aku bisa membantumu" kata Sehun lagi, terus berjalan, kali ini langkahnya dipelankan
Luhan mendesah lagi, terhirup wangi dan aroma Sehun dihidungnya. Dan seperti biasanya wangi itu akan memberikan efek dan sensasi, kadang menenangkan, kadang membuat mabuk dan kadang membuat terangsang. Dan kali ini efeknya adalah menenangkan.
Luhan menarik nafas lagi,
"itu tadi rumahku, rumah keluargaku" kata Luhan, akhirnya bisa membuka suara.
"yang tadi itu rumahmu? Benarkah?"
"ya, itu rumahku"
"tapi kenapa kau tidak bisa masuk, apa kau diusir?" Sehun terus bertanya.
"aku akan menceritakan semuanya padamu saat dihotel nanti, dan aku… aku…" Luhan menghentikan kalimatnya
"kenapa? Katakanlah"
"aku ingin meminta tolong padamu" ucap Luhan, mendesah, dia merasa tidak berhak mengucapkan kalimat tersebut, setelah beberapa saat yang lalu dia menampar pipi Sehun.
"minta tolong apa? aku dengan senang hati akan membantu" Sehun langsung menyanggupi,
"aku akan menceritakannya nanti… terima kasih karena kau selalu baik padaku"
"sama-sama, lupakanlah"
Hening
Tidak ada kalimat dan percakapan lagi yang terucap. Sehun terus melangkah dengan Luhan dipunggungnya, tanpa kenal lelah. Kedua namja itu seperti dua insan yang perpacaran, tapi dalam kenyataannya tidak. Cinta yang sudah diutarakan oleh Sehun belum diterima oleh Luhan.
Tapi cinta bisa tumbuh seiring kebersamaan bukan?
Walau dalam hal ini Luhan bukannya benar-benar menolak Sehun, hanya saja namja China itu masih galau dan tidak yakin dengan perasaannya sendiri.
Waktu yang akan menjawabnya nanti.
.
.
.
.
O…O…O…O…O
Jongin dan Kyungsoo pagi-pagi sekali terbangun. Bunyi berisik berupa jeritan dan lenguhan tetangga kamar sebelah memang sedikit mengganggu mereka tadi malam, namun mereka harus terbiasa dengan hal itu. Mereka kini bukan lagi di desa, tapi di kota, tepatnya sudut kota yang menyimpan banyak hal, terutama yang berbau seks dan erotisme.
Pagi ini Jongin dan Kyungsoo berencana pergi berbelanja kebutuhan rumah-tangga. Dan mereka memilih akan pergi ke pasar terdekat saja, dan bukan ke pusat perbelanjaan mewah.
"Jongin-ah, apa kau yakin pagi ini akan mencari pekerjaan?" tanya Kyungsoo, dengan leher terlilit handuk, hendak mandi.
"ya, aku akan bertanya keseberang jalan sana, disana aku melihat ada toko roti, siapa tahu saja mereka membutuhkan karyawan baru" jawab Jongin, dia sejak tadi sudah mandi, dan berpakaian lengkap.
"apa pekerjaan seperti itu cocok untukmu?" Kyungsoo mendesah pelan.
"aku tidak tahu, aku akan mencobanya. Aku tidak mempunyai keahlian tertentu" ucap Jongin.
Jongin hanya tamat SMA saja, dia belum sempat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, karena memutuskan meninggalkan keluarganya dan pergi bersama Kyungsoo.
"tapi lebih baik kita cari pekerjaan sama-sama Jongin-ah, aku juga akan bekerja" Kyungsoo mendekati Jongin
"tidak, aku yang akan bekerja. Kau tinggal saja dirumah. Memasak untukku…" timpal Jongin, lalu memencet hidung Kyungsoo pelan
"ih, nanti hidungku pesek seperti hidungmu" kata Kyungsoo, bercanda. kemudian langsung tersenyum bentuk love.
Jongin mengacak-acak rambut Kyungsoo,
"tunggu aku… jangan ke pasar sendirian. Aku tidak ingin…"
"ditemukan oleh keluargamu. Dan mereka akan menyakitiku. Jangan berpikir itu terus Jongin-ah. Kita sudah menjalin hubungan setahun lebih, dan aku rasa keluargamu mungkin sudah merelakan hubungan kita" Kyungsoo melanjutkan kalimat Jongin tadi
"tetap saja aku takut Kyungsoo-ya, appa sudah mengancam akan menyakiti kita berdua jika menemukan kita. Aku hanya tidak ingin kau disakiti dan terluka" Jongin mengingatkan
"baiklah, aku tidak akan keluar sendiri… kita akan jalan bersama" Kyungsoo menyanggupi.
"itu baru calon istri yang baik, tidak makan sabun, tidak sombong dan rajin menabung"
Jongin dan Kyungsoo tertawa bersama, seakan-akan tidak menghiraukan kehidupan mereka yang bisa dikatakan 'miris', jauh dari kata layak.
Kyungsoo meminta izin untuk mandi. Dan meninggalkan Jongin sendirian.
'tok..tok..'
Terdengar ketukan pintu, sesaat Kyungsoo sudah masuk kedalam kamar mandi. Jongin beranjak pelan dan membuka pintu kamarnya.
Sosok pemilik kos terpampang nyata didepan Jongin sekarang, dia adalah tamu pertama Jongin dan Kyungsoo. Walau kemarin mereka memang sudah bertemu saat pembayaran bulan pertama kos mereka.
"oh, ajuhma. Silahkan masuk. Ada apa?" sapa Jongin, ramah.
"aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, temanmu yang satunya lagi kemana?" si tante pemilik kos duduk seadanya.
"oh, Kyungsoo. Dia sedang mandi" Jongin memang mengatakan bahwa dia dan Kyungsoo berteman.
"aku lupa namamu"
"namaku Jongin"
"ya, Jongin. begini Jongin… aku tidak akan lama dan berbasa basi. Kau tentunya belum mendapatkan pekerjaan bukan?" kata tante pemilik kos, to the point.
Jongin langsung terdiam, masalah pekerjaan adalah masalah sensitif untuknya sekarang.
"benarkan?" ulang tante itu, bergaya ala nyonya bangsawan diatas kereta kuda.
"ya, aku memang belum mempunyai pekerjaan" Jongin berkata pelan, jujur.
"bagus sekali. Aku mempunyai pekerjaan yang cocok denganmu, Jongin" lanjut si tante, bergaya genit, dan memandang wajah Jongin tanpa berkedip.
"pekerjaan apa itu ajuma?"Jongin sedikit bersemangat, ada yang menawarinya pekerjaan.
"pekerjaan yang sangat mudah. Kau akan dibayar perjam, dengan bayaran yang tinggi tentu saja"
"…"
"hanya bermodalkan 'tampang' dan 'tubuh' saja" si pemilik kos terus melanjutkan ocehannya.
"pekerjaan apa itu?" Jongin tidak sabar, penasaran.
"menjadi gigolo, memuaskan hasrat gadis dan janda yang kurang belaian" ungkap si tante, vulgar
Deg
"apa?" Jongin sedikit berteriak, kaget.
"ah, jangan terkejut begitu. Kau tentu saja sudah tahu tempat dan kompleks ini seperti apa. disini banyak gadis-gadis menjajakan dirinya. Dan itu sudah terlalu banyak… yang tidak ada adalah pria. aku hanya perpanjangan tangan saja. ini bisnis baru"
"jadi, aku harus…"
"ya, kau hanya harus memuaskan 1 wanita dalam sejam. Itu mudah bukan…"
"tidak, tidak… Kyung.. maksudku, aku tidak mungkin melakukan pekerjaan seperti itu" Jongin hampir saja mengucapkan nama Kyungsoo.
"kau jangan munafik Jongin. kau membutuhkan pekerjaan. Dan kau bisa menghasilkan banyak uang perharinya"
Jongin terdiam, berpikir. Seharusnya dia menolak mentah-mentah dan mengusir si pemilik kos 'ganjen' itu, tapi sepertinya setan sudah merasuki hatinya.
"bagaimana? Apa kau setuju?"
"aku akan memikirkannya"
"tidak usah dipikirkan, sekarang juga kau harus action. Pelanggan pertama sudah menunggu"
"tapi…"
"sudah, ikut denganku sekarang"
.
.
.
.
Dan disinilah Jongin, disebuah kamar minimalis. Dia tidak sendiri, namun ditemani oleh seorang wanita seksi. Wanita asal Jepang yang sudah menjanda.
Jongin terbujuk oleh rayu dan 'iming-iming' penghasilan tinggi dari si pemilik kosnya. Hingga dirinya berhasil dibawa kesebuah kamar dengan pelanggan pertama yang menunggunya.
Hati Jongin resah, gelisah dan merasa bersalah. Dia seakan-akan menghianati kepercayaan yang diberikan oleh Kyungsoo untuknya. Dan tadi dia tidak pamit pada namja bermata bulat itu.
Jongin berdiri mematung, menatap wanita yang usianya lebih tua darinya itu. Si wanita bergaya seksi, meliuk-liuk seperti ular yang disiram air keras.
"kenapa diam mematung seperti itu, kemarilah" kata si wanita, menggunakan bahasa Korea, namun dengan logat Jepang yang khas.
Jongin tidak menimpali, namja berkulit seksi itu hanya terus berdiri.
"jangan malu-malu seperti itu, setahuku hubungan noona dan dongsaeng sedang jadi trend di Korea" lanjut si wanita, menyinggung masalah perbedaan umur, yang biasanya marak dikalangan seleb, terutama idol Kpop Korea.
Jongin lagi-lagi tidak menyahut.
"namaku Nanako, siapa namamu?" tanya wanita yang bernama Nanako itu, genit. Tipe wanita yang mencari kepuasan sesaat saja.
"namaku Jongin" jawab Jongin, akhirnya bersuara juga.
"apa margamu?"
"Kim"
"oh, setahuku itu adalah marga terbesar di Korea"
"…"
"sebenarnya aku ingin membuktikan sendiri. Menurut survey kejantanan orang Korea Selatan itu adalah yang terkecil di Negara Asia. Berada dibawah Jepang dan Thailand. Apakah benar demikian…" ucap Nanako, tertawa lebay, tawa yang lebih cantik jika disumpal dengan spons pencuci piring.
Jongin mendengus pelan, merasa diremehkan. Dia adalah warga Korea, dan tentu saja tidak terima jika ada yang mengatakan kejantanannya kecil.
'sialan, kau tidak tahu saja, bagaimana besarnya kejantananku' batin Jongin.
Nanako beranjak seksi, merasa bahwa basa-basi yang dilontarkannya sudah cukup. Dia mendekati Jongin dan memberikan sebuah kondom.
"di Jepang sana, pemakaian kondom merupakan hal yang wajib, tapi aku tidak tahu disini" kata Nanako, mendesah ala Syahrini, artis negeri tetangga yang jauh.
Jongin mengambil kondom itu, memeriksanya dengan seksama
"ini bukan kondom bocorkan?" tanya Jongin, pertanyaan yang otomatis.
"itu kondom baru"
Jongin tidak ingin memakai kondom bocor, bagaimana jika wanita dihadapannya itu hamil, dan minta pertanggungjawaban, bagaimana dengan Kyungsoo-nya?
'Kyungsoo, maafkan aku…'
Nanako memandang wajah Jongin, dia ingin mencium bibir Jongin. namun Jongin menghindar. Memundurkan langkahnya.
"kau milikku untuk sejam kedepan" kata Nanako, mulai tidak sabar untuk dijamah.
"…"
Nanako gagal mencium bibir Jongin, dan memutuskan keintinya saja. dia membuka pelan kancing baju Jongin, dengan gerakan seksi.
Jongin mendesah pelan, dia memejamkan matanya singkat dan membukanya kembali, terbayang wajah Kyungsoo didepannya. Dia merasa sudah menghianati namja yang selama ini bersamanya itu.
Nanako berhasil membuka semua kancing baju Jongin, dan nampaklah ABS Jongin yang sudah terbentuk seksi.
"ow, aku sudah tidak tahan…" jerit Nanako, lebay tingkat setan.
Tangan wanita Jepang itu bergerak dan mulai membuka ikat pinggang dan zipper Jongin, dia benar-benar tidak tahan untuk dijamah oleh perjaka Korea.
Jongin menahan nafasnya, ingin sekali menepis tangan Nanako.
Dan tiba-tiba…
'brakkk….'
Pintu mendadak tergebrak dengan bunyi sangat keras. Pintu itu di dobrak dengan menggunakan balok kayu yang besar.
Dan pelakunya adalah seorang namja kecil bermata bulat, dimana mata itu sudah berkaca-kaca.
"Kyungsoo-ya" kata Jongin, kaget. Seakan rohnya hilang dari jasad.
Namja yang merusak pintu memang adalah Kyungsoo. Namja itu memegang balok besar, dan siap melayangkan balok itu pada siapapun yang menghalanginya.
Kyungsoo tidak berkata apa-apa, dia melempar balok ditangannya sembarang, menarik tangan Jongin kasar dan membawa namjanya itu keluar dari kamar tersebut.
Jongin hanya bisa pasrah, sepertinya Kyungsoo sedang marah besar dan akan sulit memaafkannya.
Kyungsoo berhenti sejenak, menoleh pada Nanako, memberikan pandangan ala Satansoo kepada si wanita.
"sebaiknya kau mencari namja yang seumuran denganmu, Jongin punyaku. Dan jika lubangmu itu gatal, gunakan balok itu. Dan puaskan dirimu" tutup Kyungsoo, kalimat yang sadis, dan terucap begitu saja. kemarahannya memang sudah diubun-ubun.
Hening
Kyungsoo dan Jongin meninggalkan si wanita, Nanako.
Nanako hanya bisa mendesah pelan, sepertinya acara 'ikkeh ikkeh kimochi' untuk hari ini batal, dan dia harus mencari yang lain lagi, dan gagal 'mencicipi' namja perjaka Korea yang tampan.
Galau
.
.
.
.
"aku bisa menjelaskannya Kyungsoo-ya" kata Jongin, sambil memasang kancing bajunya.
Kyungsoo tidak berkata apa-apa, namja itu hanya terduduk disudut kamar, dadanya naik turun dengan cepat, emosinya belum stabil.
Mereka berdua sejak tadi sudah sampai di kos.
Jongin terus berusaha menjelaskan semuanya.
"maafkan aku Kyungsoo-ya, aku yang salah… aku melakukan itu untuk mendapatkan uang dengan cepat. Aku sama sekali tidak tergoda dengan wanita Jepang itu. Tujuanku hanya untuk mendapatkan uang, hanya itu"
Kyungsoo tidak menimpali, air matanya menetes pelan, sejak tadi dia memang menahan air mata itu untuk tidak jatuh, tapi kali ini dia tidak bisa membendungnya.
"maafkan aku… aku bersalah" Jongin mendesah, mendekati Kyungsoo.
Kyungsoo menoleh dan memandang Jongin,
"kau… kau menghianati cinta kita. Aku percaya padamu, tapi kenapa kau melakukan itu, kenapa?" Kyungsoo berteriak, menumpahkan kemarahannya.
"maafkan aku… aku hanya membutuhkan uang, pekerjaan"
"tapi bukan pekerjaan seperti itu, aku salah menilaimu selama ini Kim Jongin. hanya karena uang kau rela melakukan semua itu. Bagaimana jika aku telat datang, kau pastinya sudah… ah…." Kyungsoo tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, dia menunduk dan menangis lagi.
"percayalah padaku… aku minta maaf, dan tidak akan mengulanginya… tolong jangan menangis lagi" Jongin terus berusaha membujuk Kyungsoo.
Kyungsoo menghapus air matanya pelan, lalu menatap wajah Jongin.
"apa karena karena kita belum berhubungan seks? jadi kau mencari pelampiasan lain diluar sana?" tanya Kyungsoo, pertanyaan yang vulgar.
"tidak, tidak… aku sudah menjelaskannya tadi, hanya karena uang. Bukan karena aku mencari yang lain diluar sana, percayalah" kata Jongin, jujur.
Lalu kemudian Jongin memeluk Kyungsoo, pelukan yang erat dan hangat.
"tolong maafkan aku, aku tidak akan mengulangi hal itu lagi… aku hanya mencintaimu" ulang Jongin, merutuki dirinya yang mudah terbujuk rayu si pemilik kos gendut dan tidak seksi itu.
Kyungsoo mendesah, pelukan Jongin itu membuatnya merasa tenang, emosinya perlahan stabil, dia membalas pelukan Jongin. dia memang sulit untuk berlama-lama marah pada Jongin.
"aku takut kehilanganmu Jongin-ah, sangat takut. baiklah… kita akan melakukan 'itu' nanti, semua juga salahku, dalam setahun hubungan kita, aku belum pernah memberikan itu padamu" kata Kyungsoo.
Jongin tersenyum, akhirnya bisa meyakinkan Kyungsoo. Dia semakin mempererat pelukannya.
"kita tidak akan melakukan 'itu' jika kau masih dalam keadaan emosi" ucap Jongin, bercanda.
"aku tidak emosi lagi Jongin-ah" balas Kyungsoo
Jongin melepaskan pelukannya, menatap wajah dan mata Kyungsoo intens.
"aku siap Jongin-ah, kita akan melakukannya sekarang… disini" wajah Kyungsoo langsung merah.
"apa kau yakin?"
"ya, kau hanya milikku, dan aku hanya milikmu… itu janji kita berdua"
"baiklah"
Dan sepertinya kegiatan 'yang selalu dinantikan' itu akan terjadi juga. Untuk kali pertamanya dalam hidup kedua namja itu.
.
.
.
.
O...O…O…O…O
Luhan menceritakan semuanya kepada Sehun, ya… semuanya. Mengenai pembuangan dirinya di hutan oleh pamannya sendiri. Luhan bercerita dengan cepat, sedangkan Sehun mendengarkan dengan seksama.
"kenapa pamanmu melakukan hal itu, apa sebabnya?" tanya Sehun, saat Luhan mengakhiri ceritanya.
"sepertinya masalah harta, Seungsung sepertinya ingin menguasi harta dan kekayaan appa dan ommaku. Menguasinya secara penuh. Dia adalah waliku sekarang" jawab Luhan, tidak menggunakan kata 'ajuhsi' lagi dalam menyebut nama pamannya itu.
"kenapa kau tidak melapor saja pada polisi, masalahnya langsung akan beres" Sehun memberikan solusi.
"tidak semudah itu Sehun, Seungsung pastinya sudah mempunyai rencana lain jika aku muncul disana. Aku tidak punya bukti bahwa dia membuatku pingsan dan membuangku di hutan. Dia pasti akan menyingkirkan aku sekali lagi, dan mungkin saja akan membunuhku dirumahku sendiri" ucap Luhan, mendesah.
Sehun diam, berpikir keras. Pernyataan Luhan itu ada benarnya juga. Dia harus mempunyai bukti nyata untuk membuktikan kejahatan paman Luhan itu, dan setelah itu dia akan mudah menyingkirkannya.
"jadi apa rencanamu? Dan kau ingin meminta tolong apa padaku?" tanya Sehun
"aku ingin kau masuk dan menjadi bagian didalam rumahku itu. Kau harus membuat Seungsung mempercayaimu, dan saat itu kau cari kelemahannya, cari bukti yang memberatkannya. Termasuk bukti bahwa dialah yang menyebabkan kecelakaan appa dan omma. Aku masih tidak terima karena polisi dengan cepat menutup kasus kecelakaan appa dan ommaku itu" jelas Luhan, mengungkapkan isi pikirannya.
"masuk dan menjadi bagian keluargamu? Tapi… tapi bagaimana caranya?" Sehun masih tidak mengerti.
"kau harus mengaku sebagai keluarga jauh appa. Keluarga yang datang dari China. Aku akan mengajarimu dan menjelaskan silsilah keluargaku di China. Seungsung pasti tidak akan curiga. Karena dia adalah saudara dari pihak ommaku. Appaku kewarganegaraan China, dan omma adalah orang Korea" jelas Luhan lagi.
"apa kau yakin cara itu akan berhasil?"
"aku yakin, asal kau mau melakukannya. Tapi misalnya kau menolak, aku tidak bisa memaksa…"
"tidak, aku mau, dan ingin membantumu. Kau adalah orang yang kucintai, jadi…"
'Deg'
"oh, maaf… aku lupa… lupakan saja kalimat terakhirku tadi" Sehun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, salah bicara.
Suasana hening lagi, Luhan terdiam, menundukkan kepalanya, seperti bunga desa yang ingin melepaskan keperawanannya dimalam kedua.
Tidak lama, terdengar bunyi deringan telefon. Ponsel Luhan berbunyi. Menampilkan nama Jongdae dilayar ponsel itu. Luhan dengan cepat mengangkatnya
Luhan berbicara dengan cepat ditelefon, Jongdae berhasil membawa dompet yang berisi uang dan kartu ATM Luhan. Beberapa saat kemudian, Luhan menutup telefon.
"aku harus segera pergi, salah seorang pekerja kepercayaanku ingin menemuiku" kata Luhan, bersemangat.
"tapi, kakimu masih sakit" timpal Sehun, menunjuk kaki Luhan yang sudah diobati dan diperban, dia sendiri yang melakukan semuanya.
"kakiku tidak sakit lagi, ini sangat penting.."
"aku ikut, aku tidak ingin kau mendapatkan masalah diluar sana" Sehun khawatir.
"baiklah"
Dan akhirnya Sehun dan Luhan pergi bersama, menemui Jongdae.
.
.
.
.
"terima kasih Jongdae, dompet ini sangat kubutuhkan" kata Luhan, kepada Jongdae. Dia bersama Sehun menemui pekerjanya itu yang posisinya beberapa meter dari hotel yang ditinggalinya.
"sama-sama tuan muda. Aku sangat senang tuan muda tidak apa-apa dan masih hidup" timpal Jongdae tersenyum.
"ya, tapi… kenapa kau membawa tas besar begini?" tanya Luhan, sembari menatap tas yang dipegang Jongdae.
"aku diusir oleh tuan besar" jawab Jongdae
"tuan besar, Seungsung?"
"ya, dia. Asal tuan muda ketahui, kondisi rumah tidak seperti dulu lagi, banyak yang sudah berubah. Tuan besar memecat semua pekerja dan menggantinya dengan pekerja baru. Pekerja yang sama sekali tidak mengenal tuan muda" ungkap Jongdae.
"pantas saja. penjaga gerbang, Kris dan Tao juga sudah tidak ada. Dan digantikan dengan penjaga yang tidak tahu sopan santun" gumam Luhan, mengepalkan tangannya, geram.
"maaf tuan muda, aku harus pergi. Aku takut jika terlihat disini, aku tidak ingin keluargaku kena masalah juga… maafkan aku" Jongdae melongok sana-sini, cemas.
"ya, aku tahu. terima kasih atas bantuanmu" ucap Luhan, ditangannya sudah berada dompet yang sangat dibutuhkannya. Dompet yang susah payah diambil oleh Jongdae di kamar pribadinya.
"sama-sama tuan muda. Aku pergi dulu" Jongdae membungkuk pada Luhan dan juga pada Sehun yang ada disana.
Namja itu tersenyum, berbalik dan hendak pergi, namun Luhan menghentikannya.
"tunggu, Jongdae… apakah kau ingin kembali bekerja dirumahku, suatu saat nanti?" tanya Luhan,
"ya, asal tuan muda yang menjadi majikanku sepenuhnya. Aku dengan senang hati akan kembali" jawab Jongdae,
"yeah, tentu saja. aku akan mengambil alih semuanya. Dan kau bisa kembali bekerja dirumahku" tutup Luhan, yakin.
Dan akhirnya Jongdae benar-benar pergi, meninggalkan Luhan dan Sehun berdua.
Sehun merapatkan dirinya pada Luhan, pasca Jongdae sudah pergi,
"itu adalah salah satu pekerja dirumahmu?" tanya Sehun,
"ya, aku bersyukur dia masih loyal padaku. Dan bukti keloyalannya adalah ini" jawab Luhan, seraya mengangkat dompet coklat ditangannya.
Dia akan segera menarik uang di ATM, dan berencana pindah dari hotel yang dihuninya, dan memutuskan akan menyewa kamar apartemen. Disanalah dia akan menyusun rencana selanjutnya.
Sehun ingin mengajukan pertanyaan lanjutan lagi, namun dikagetkan dengan kemunculan seorang pria paruh baya, yang baru saja turun dari mobil dan hendak masuk kedalam sebuah toko.
deg
Sehun memegang bahu Luhan, membalik tubuh namja itu dan merapatkan dirinya, posisi mereka berdua ada disamping sebuah tembok, kawasan pertokoan.
"ka.. kau kenapa?" tanya Luhan, nafas sehun menyapu wajahnya.
"tidak, aku baru saja melihat appaku" jawab Sehun, mematung, menutupi tubuhnya dari penampakan orang yang disebutnya ayah itu.
"appamu? Appamu datang dari desa dan mencarimu kemari?" Luhan tidak mengerti,
"bukan, appaku yang lain.. ah, dia tidak pantas dipanggil appa sebenarnya" Sehun mendengus
"kau… kau mempunyai dua appa?"
"yah, seperti itulah… aku hanyalah anak angkat appaku yang ada didesa, dan appa kandungku sebenarnya ada di kota ini" jawab Sehun, entah mengapa dia jujur dan mengungkapkan identitas pribadinya pada Luhan, orang pertama diluar warga desa yang mengetahuinya.
"kenapa kau menghindarinya?" tanya Luhan, mendadak penasaran, sesekali wangi dan aroma Sehun menggelitik hidungnya lagi, menimbulkan sensasi 'sesuatu' (seperti biasa, jika jarak mereka sangat dekat)
"entahlah, tapi dia membuangku, menyerahkanku pada appaku yang didesa. Karena dia mempunyai anak lain, anak yang bermarga Kim, sama seperti dirinya" jelas Sehun, tidak memperdulikan posisi mereka yang pastinya akan terlihat oleh orang yang melintas.
"tunggu.. tunggu… kau punya saudara lain?"
"ya, beda ibu. Ibuku bermarga Oh, dan aku mengikuti marga ibuku, bukan appaku yang bermarga Kim. Walau pada akhirnya aku diangkat anak oleh appaku yang ada didesa, yang juga bermarga Kim" ungkap Sehun, merujuk pada ayah angkatnya, Kim Kyung Wook.
"tapi kenapa kau dibuang begitu saja?"
"aku tidak tahu. omma kandungku hanyalah istri simpanannya. Mungkin karena itulah dia tidak menginginkanku"
"tapi kenapa kau menghindarinya? Bukankah dia sudah membuangmu, menyerahkanmu pada orang lain? Jadi tidak ada masalahkan?" Luhan terus bertanya, rasa penasarannya belum hilang
Sehun menarik nafas, memutuskan untuk menjelaskan semuanya pada Luhan.
"dia menginginkan aku kembali menjadi anaknya, setelah dia kecewa pada anak pertamanya… anaknya itu pergi atau melarikan diri bersama seseorang. Aku tidak tahu masalahnya apa, tapi dia mengatakan bahwa dia sudah tidak mengakui anak itu sebagai anaknya. Dan sebagai gantinya dia ingin aku kembali padanya… dan tentu saja aku tidak mau" jelas Sehun, panjang lebar.
"kenapa kau tahu semua itu? Appamu itu menceritakannya padamu?"
"ya, dia menceritakannya. Dia sempat menemuiku diperbatasan desa. Memintaku untuk kembali padanya. Dan aku menolaknya… aku sudah cukup senang tinggal dengan appaku yang sekarang, appa di desa"
Luhan mendengarkan penuturan Sehun dengan seksama, dia merasa nyaman dengan posisi sedekat ini dengan namja cadel itu. Dia merasa bahwa apa yang dialami oleh Sehun sama dengan dirinya, pernah terbuang. Tapi bedanya Sehun dibuang oleh ayah kandungnya sendiri, sedangkan dirinya dibuang oleh pamannya yang gila harta. Dan perbedaan selanjutnya adalah Sehun tidak ingin kembali pada keluarganya yang sebenarnya, sedangkan dirinya ingin kembali dan memperjuangkan hak-haknya sebagai pawaris kekayaan orangtuanya yang sah.
Setelah beberapa detik, Sehun memberanikan dirinya memegang pipi Luhan, dan Luhan tidak menepisnya.
"apa bisikan-bisikan itu kembali muncul dan mengganggumu?" tanya Sehun, memberikan pandangan teduh, sekaligus mengalihkan topik.
"sejak tadi malam tidak lagi" jawab Luhan, wajahnya memerah.
"apa kau betul-betul tidak bisa memaafkan atas pemerkosaan yang aku lakukan?" Sehun kembali bertanya,
"entahlah… tapi aku akan berusaha memaafkanmu, walau itu tidak mudah"
"terima kasih… jangan marah dulu, tapi.. aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu dengan tulus. Aku meninggalkan desa, meninggalkan rencana pernikahanku, mendatangi kota tempat appa kandung yang seharusnya kujauhi, dengan satu tujuan… yaitu mengejar cintaku, mengejarmu" Sehun kembali mengutarakan isi hatinya, didekat keramaian.
Luhan terdiam, dia ingin menunduk, tapi Sehun tetap memegang pipinya.
"dalami hatimu Luhan-ah, apa yang kau rasakan terhadapku?" lanjut Sehun.
Luhan memberanikan dirinya menatap mata Sehun, dan berganti menatap bibir tipis merah namja itu. Dia membuka mulutnya, dengan bibir bergetar.
"aku…aku… sebenarnya…"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
O…O…O…O…O…O…O
Hehehehe…chapter 7 update. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dichapter ini, tapi dichap-chap berikutnya secara perlahan akan terjawab. Jadi reader ikuti saja FF ini hingga mencapai klimaksnya…hehehe… ada NC dichap depan ya…hehehe…
Terima kasih atas Reviewnya lagi, tidak menyangka juga masih banyak yang suka hingga chapter 7 ini, maka dari itu aku selalu berusaha untuk update cepat, dan menghargai Review yang masuk setiap saat di FF ini, Arigatou…
Tidak berlama-lama lagi, Review lagi dong ya.. hehehe… dan sampai ketemu dichapter 8.
Salam OT12, OT10.
