Sore itu hujan turun, tidak deras namun kenyataan bahwa Jeonghan akan sampai di apartementnya dengan keadaan basah kuyup membuatnya kesal. Ia menghela nafas dan memperhatikan orang-orang yang berlarian menghindari hujan atau berjalan santai dengan membawa payung yang melindungi mereka dari air hujan. Jeonghan baru saja pulang dari supermarket dan berniat untuk pulang lalu kembali mengerjakan tugasnya tapi, baru saja ia sedang membayar belanjaannya hujan turun tiba-tiba dan mengurungkan niatnya alhasil disinilah ia sekarang berdiri dengan menahan marah di depan supermarket.
"Seharusnya aku tidak keluar tadi…" gerutu Jeonghan. Karena pegal terus berdiri Jeonghan akhirnya menyerah dan berjongkok dengan dua kantong plastik putih di sebelahnya. Ia bahkan menopang dagunya dengan kedua tangannya dan menatap bosan ke arah genangan air yang tidak jauh berada di depannya. Ia kemudian melirik sebuah mobil hitam yang berhenti di sebrang jalan lampu merah. Mata Jeonghan menyipit ketika mengenali siapa yang berada di balik kursi kemudi.
"Kim Mingyu…" bisik Jeonghan. Matanya masih terus terfokus pada pria yang menggunakan setelan jas hitam dan seperti tengah menerima telepon. Lalu kemudian mobil itu kembali berjalan dan menjauh.
"Kim Mingyu, sebenarnya siapa dirimu?" gumam Jeonghan. Tiba-tiba saja ia mengingat sesuatu di dalam kamar yang Jeonghan yakin milik Mingyu itu. Ia masih penasaran dengan apa yang dia lihat, warna hijau di atas genangan air itu seperti rambut atau bulu. Tapi, warna merah itu sebenarnya apa? Itu yang terus ditanyakan Jeonghan akhir-akhir ini.
Ia ingin bertanya pada Wonwoo tapi anak itu lagi-lagi tidak masuk karena sakit, itu juga yang menjadi pertanyaan Jeonghan. Setiap kali Jeonghan melihat Wonwoo akan selalu ada pria bernama Mingyu itu dan setelah itu Wonwoo akan berakhir dalam keadaan sakit. Apa pria bernama Kim Mingyu itu sebuah virus? Dan lagi Jeonghan mendengar bahwa roommate Wonwoo itu bekerja di perusahaan Shin Company. Perusahaan besar yang terkenal di seluruh benua asia, pria kaya seperti Kim Mingyu itu kenapa memilih menempati apartement kecil dan berada sangat jauh dari tempat ia bekerja? Jeonghan yakin seorang pekerja keras seperti Kim Mingyu itu seharusnya memilih apartement yang lebih dekat dengan perusahaannya meskipun sewanya mahal sekalipun. Dan lagi tempat tinggal Wonwoo juga berada di daerah Jack The Ripper sering beraksi. Jeonghan benar-benar memikirkan itu semua bahkan tanpa sadar ia menggigiti kukunya dan mengacuhkan seorang pria berambut pirang dan bermata sipit yang sudah berdiri di depannya dengan payung berwarna merah.
Our Secret by Bola Salju
Main Cast: Seventeen Mingyu + Jeonghan x Wonwoo
Other Cast: ?
Genre: Drama, Romance, Psycho, Mystery, Hurt.
Rating: EhemM!
Warning! Yaoi, Boys Love, Shounen-Ai, Obsessive, Possesive, BDSM, DeathChara, Rape, OOC, Typos.
ALERT! BAGI ANAK DIBAWAH UMUR DAN TIDAK KUAT IMAN SILAHKAN TINGGALKAN HALAMAN INI DENGAN DAMAI!
A/N: Semua cast milik tuhan, keluarga juga agensi mereka, plot cerita milik author.
#Chapter 7
Wonwoo memiringkan tubuhnya mencari posisi nyaman untuk kembali tidur. Ia menarik selimut tebal miliknya hingga di bawah leher. Ia menghela nafasnya lewat dari hidung dan mengerutkan keningnya ketika mencium bau harum entah darimana. Perut Wonwoo mendadak berbunyi dan terasa kosong karena bau harum itu ia dengan terpaksa membuka matanya dan bangun dari tidurnya.
"Apa tetangga sebelah sedang memasak?" gumamnya dan berjalan keluar kamar, ia menggaruk-garuk kepalanya dengan lemas dan berjalan ke arah dapur untuk minum tapi ternyata, bau harum itu bukan dari tetangganya melainkan dapurnya sendiri atau mungkin berdua dengan Kim Mingyu. Ia mengerutkan keningnya ketika mendapati pria tinggi berambut hitam itu tengah memunggunginya, tangannya terlihat sibuk membalikkan sesuatu yang ternyata adalah sebuah pancake.
Wonwoo mengacuhkannya dan kembali ke niat awal mengambil minum dan berlari ke kamarnya lalu mengunci diri hingga Mingyu pergi.
"Kau sudah bangun?" Wonwoo terlonjak kaget dan hampir saja menjatuhkan mug yang ia pegang, ia menghela nafas lega ketika mug bergambar beruang itu sudah kembali berada di tangannya. Mingyu yang melihat itu tersenyum geli lalu mematikan kompornya dan membawa piring dengan pancake yang baru saja matang itu ke atas meja.
"Setelah kau kembali dari rumah sakit kau terus tidur Wonwoo, aku khawatir jika kau makan dengan benar ketika aku sedang pergi…" kata Mingyu sambil merapihkan meja. Wonwoo hanya diam dan memperhatikan Mingyu yang dengan cekatan merapihkan meja dan menyiapkan semuanya dengan cepat. Ia bahkan berpikir bahwa Mingyu lebih terlihat sebagai seorang istri yang sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Sedang apa kau? Cepat makan," ujar Mingyu membuyarkan lamunan Wonwoo.
"Selalu menyuruh seperti biasa." Gerutu Wonwoo tapi akhirnya menurut dan duduk berjauhan dengan Mingyu. Kening Mingyu mengerut tapi kemudian ia mengacuhkannya dan mulai memakan sarapan yang ia buat.
Wonwoo memotong pancake yang sudah diberi saus blueberry di atasnya dan memakannya dengan perlahan. Ia tidak bisa memungkuri masakan buatan Mingyu terasa enak, Wonwoo bahkan sudah tidak ragu lagi dan mulai memakan pancake itu dengan lahap. Mingyu memperhatikan Wonwoo dengan seksama tapi kemudian, perhatiannya teralih dan matanya kemudian menatap mulut Wonwoo yang terbuka dan memperlihatkan lidah juga beberapa giginya ketika ia menyuapkan pancake, atau bibir bawah Wonwoo yang basah karena saus bluberrynya. Rasanya Mingyu ingin melumat lagi bibir Wonwoo hingga membengkak dan menggigitnya hingga berdarah. Bicara tentang darah.
"Wonwoo apa kau masuk ke kamarku?" tanya Mingyu tiba-tiba membuat Wonwoo menatapnya. Dengan masih mengunyah Wonwoo menggeleng dengan wajah tanpa dosa dan Mingyu percaya Wonwoo tidak berbohong.
"Apa kau mengajak temanmu kemari?" tanya Mingyu lagi dan dijawab dengan gelengan Wonwoo.
"Mereka mengunjungimu?" Wonwoo kembali menggeleng. Mingyu menutup matanya sebentar dan kemudian menopang dagunya dengan tangan kanannya.
"Aku harus mengganti kunci lagi…" gumam Mingyu dan membuat Wonwoo lama-lama penasaran.
"Apa ada orang yang masuk ke kamarmu?" tanya Wonwoo membuat Mingyu menatapnya dengan seringai lebar di wajahnya.
"Kau mulai tertarik Wonwoo?" goda Mingyu membuat Wonwoo terdiam dengan wajah datar. Bukannya menjawab Wonwoo malah mengambil pancake yang baru dimakan setengah milik Mingyu.
"Kau akan terlambat," ujar Wonwoo sedikit risih melihat Mingyu masih menatapnya dengan seringai itu.
"Aku tahu…" jawab Mingyu dan bangkit dari duduknya. Ia kemudian memakai jas hitam yang ia sampirkan di leher kursi. Matanya masih memperhatikan Wonwoo yang sedang menghabisi pancake bagiannya, lagi-lagi mata Mingyu kembali pada bibir Wonwoo. Mingyu kemudian mendekatkan dirinya pada Wonwoo yang duduk di hadapannya, menangkup kedua wajah Wonwoo dan menjulurkan lidahnya memasukkan ke mulut Wonwoo yang baru saja menelan pancake itu. Wonwoo dengan cepat berontak dan menjauhkan wajah Mingyu dengan mendorongnya keras tapi, Mingyu tidak berkutik dan malah mulai menjelajahi mulutnya. Mingyu tersenyum kecil ketika mendengar Wonwoo mendesah tertahan meskipun sebenarnya ia sedikit kesal karena Wonwoo terus mendorong wajahnya.
"Tsk," Mingyu berdecak ketika merasakan sakit di bagian bibir bawahnya, ia bahkan merasakan darah mengalir dan dengan gerakan perlahan Mingyu menjilatnya.
"Kau mulai berani Jeon Wonwoo," goda Mingyu kembali mendekatkan wajahnya pada Wonwoo. Wonwoo menjauhkan wajahnya dengan mata yang terpejam rapat.
"KIM MINGYU KAU TERLAMBAT LIMA MENIT! HEY CEPAT BUKA PINTUNYA!" Wonwoo dan Mingyu langsung menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara teriakan super kencang dengan diiringi gedoran pintu yang membuat Wonwoo panik.
"Dia akan merusak pintunya Mingyu…" bisik Wonwoo khawatir membuat Mingyu memutar bola matanya. Tentu saja bukan pada Wonwoo tapi pada orang yang sudah menganggu kesenangannya.
Dengan perasaan jengkel Mingyu akhirnya pergi setelah mengambil ponselnya yang ditaruh di atas meja, Wonwoo penasaran siapa orang yang berani mengganggu Mingyu tapi sekaligus bersyukur pada siapapun yang sudah membebaskannya. Tanpa sadar Wonwoo mengikuti Mingyu sampai ke pintu depan dan bahkan memperhatikannya tengah memakai sepatu. Melihat Wonwoo memperhatikannya Mingyu tersenyum dan mencium kening Wonwoo. Wonwoo kontan terkejut dan menyentuh keningnya sambil berjalan mundur.
"Aku akan pulang cepat hari ini, jajangmyeon untuk makan malam sepertinya enak juga…" Wonwoo hanya bengong dan kemudian menggosok-gosokkan kening yang dicium Mingyu tadi.
"Hyung kau membuatku lama menunggu, presdir akan memarahimu lagi nanti…" Wonwoo mengerutkan keningnya dan mendadak merinding.
"Apa Mingyu senang tipe orang yang sok imut begitu? Payah," gerutu Wonwoo tanpa sadar. Meskipun ini pertama kalinya Wonwoo melihat Mingyu pergi bekerja tapi, ia yakin Mingyu selalu pergi sendiri. Lalu kenapa sekarang ada pria yang bicara dengan nada manja seperti itu di depan apartementnya?
Wonwoo memegangi kepalanya yang mendadak terasa pusing dan kembali berjalan ke dapur. "Sebaiknya aku makan lagi…"
.
.
.
Wonwoo menguap dan berjalan lemas menyusuri koridor kampusnya, dengan tas di punggungnya ia merasa beban hidupnya bertambah karena harus membawa buku-buku berat untuk bahan refrensi tugas yang akan ia kerjakan nanti. Sudah seharian ini ia bahkan menghela nafasnya dan berwajah lesu, Wonwoo memang pendiam tapi aura di sekelilingnya lebih dingin dari biasanya dan itu membuat Jihoon pria mungil di sampingnya itu menatapnya heran.
"Kau bosan hidup?" tanyanya dengan alis yang mengangkat, Wonwoo menghela nafasnya lagi.
"Matipun aku segan Jihoon-ah. Kenapa orang bermarga Kim itu selalu saja menyusahkan ku? Kim di apartementku selalu saja mengangguku, di sini selalu membuat tugas yang kelewat banyak. Ada apa dengan mereka?" gerutu Wonwoo sambil menarik salah satu kursi di perpustakaan. Jihoon mengikutinya dan duduk di hadapannya.
"Mungkin seorang dari keluarga Kim menaruh kutukan agar kau dan keturunanmu mendapat kesialan Wonwoo,"
"Itu tidak membantu Jihoon-ah terimakasih." Desah Wonwoo dan menidurkan kepalanya di atas meja sedangkan Jihoon mulai membuka bukunya. Mata Wonwoo awalnya memperhatikan Jihoon yang tengah membaca tapi kemudian, ia mulai memperhatikan sekitar dan tidak bosan berdecak kagum melihat begitu besarnya perpustakaan milik kampusnya itu.
"Jeonghan hyung berbicara dengan siapa?" tanya Jihoon tiba-tiba sambil menolehkan kepalanya, Wonwoo menegakkan tubuhnya dan melihat ke arah mata Jihoon. Wonwoo mendapati Jeonghan tengah berbicara dengan seorang pria berambut pirang dan bermata sipit di ujung perpustakaan tidak jauh dari mereka. Jeonghan terlihat akrab dan sesekali mereka berdua tertawa pelan.
"Aku belum pernah melihatnya…" ujar Jihoon yang diangguki Wonwoo, tiba-tiba saja Jihoon berdiri dan refleks Wonwoo ikut berdiri lalu mengikuti Jihoon yang menghampiri mereka dari belakang.
"Jeonghan hyung?" panggil Jihoon, Wonwoo melihat Jeonghan yang terlonjak kaget dengan jelas sebelum melihatnya menoleh dan tersenyum.
"Jihoonie, ah! Kau sudah sembuh Wonwoo?" tanya Jeonghan sambil tersenyum. Wonwoo membalas senyumannya dengan senyuman kecil dan mengangguk pelan.
"Apa kalian sedang mengerjakan tugas?" tanya Jeonghan lagi. Jihoon mengerutkan keningnya dan memperhatikan pria di sebelah Jeonghan yang tengah melihat ke arahnya juga.
"Apa dia teman barumu Jeonghan hyung?" tanya Jihoon balik membuat Jeonghan dan pria itu saling pandang.
"Tidak, kami kebetulan bertemu disini. Sebaiknya aku pergi sampai jumpa." Ujarnya dan pergi meninggalkan Wonwoo yang masih penasaran.
"Wow, temanmu itu baik sekali hyung." Sindir Jihoon.
"Dia bilang kami tidak berteman Jihoonie, kami pertama kali baru disini tenanglah sedikit…" kekeh Jeonghan. Wonwoo menggelengkan kepalanya melihat Jihoon. Jihoon memang punya harga diri yang tinggi.
"Ngomong-ngomong kau kemana saja Wonwoo. Ini sudah kedua harinya kau baru masuk, kami semua mengkhawatirkanmu…" kata Jeonghan sambil memeluk Wonwoo, Wonwoo sebenarnya agak risih dan malu karena dua orang pria berpelukan di tempat seperti ini bukan hal yang biasa. Jeonghan memang cantik tapi, tetap saja dia adalah pria.
"Aku tidak kemana-mana hyung, demamku lagi-lagi naik itu sebabnya aku tidak masuk. maaf sudah membuatmu khawatir…" jawab Wonwoo sambil tersenyum kecil setelah Jeonghan melepaskan pelukannya. Jeonghan menghela nafas dan menyentuh pipi kiri Wonwoo, mengelusnya dengan lembut dengan ibu jarinya.
"Kau benar-benar membuatku khawatir Wonwoo…" bisik Jeonghan dengan mata sendu, Wonwoo terhenyak melihat ekspressi Jeonghan. Seperti seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya, dan itu membuat Wonwoo benar-benar menyesal. Mungkin lain kali ia harus sering-sering mengabari Jeonghan seperti ia mengabari orang tuanya.
"Ugh, bisa kalian lakukan adegan ibu dan anak di tempat lain. Aku harus mengerjakan tugasku…" protes Jihoon yang risih melihat Jeonghan begitu mengkhawatirkan Wonwoo, sebenarnya Jihoon juga khawatir tapi karena dia seorang Tsundere* tidak mungkin dia mengatakannya dengan keras.
"Baiklah, aku akan mentraktir kalian makan malam nanti,"
"Eh, maaf Jeonghan hyung mungkin lain kali. Aku sudah janji dengan roommateku hari ini…" Jeonghan dan Jihoon langsung menoleh ke arah Wonwoo.
"Kau makan malam dengan roommatemu Wonwoo?" tanya Jeonghan yang dijawab anggukan lemah Wonwoo.
"Dia merawatku ketika demam jadi…aku akan berterimakasih padanya hari ini." Jawab Wonwoo, Jeonghan memperhatikan wajah Wonwoo dengan datar dan kemudian tersenyum.
"Baiklah mungkin lain kali," jawab Jeonghan sambil mengacak-ngacak rambut Wonwoo lembut. Wonwoo mengangguk dan tidak sadar bahwa Jihoon melihat semuanya.
.
.
.
Seorang pria berwajah khas orang barat itu mengambil ponsel dari sakunya, matanya dengan serius melihat ke arah layar dengan jari-jari yang bergerak di atasnya dengan cepat. Ia kemudian menempelkan ponselnya ke telinga kanannya dan menghela nafas.
"Wonwoo hyung aku sudah sampai…"
To Be Countinue.
Akhirnya apdet#elapkeringet#tolong beritahu aku sudah berapa abad ff ini terbengkalai dan chapter ini asli pendek banget(?)-_- nyahahahah anggap saja chapter ini adalah opening dari masalah Wonwoo yang berikutnya(?) jadi siap-siap mulai nebak-nebak fufufufu, belum ada ncnya kasian Wonwoo istirahat bentar T.T mueheheheh oke ditunggu reviewnya dan sampai jumpa di chap berikutnya '-')/
