Dong Bang Shin Ki/Tong Vfang Xien Qi/Tohoshinki/Homin & JYJ/YunJae © S.M Entertainment, CJes Entertainment, Cassiopeia, Big East, Shipper, and their family

Super Junior © S.M Entertainment, E.L.F, and their family

Choi Minho © SHINee, S.M Entertainment, Shawol, and his family

Boys Love and Semi Out of Character © Warning!

Don't Like Don't Read! © Fujoshi and Fudanshi


...Lembar Ketujuh…


"Sebulan setelah peristiwa percobaan perampokan bank yang berhasil digagalkan dan pengeboman sebuah Mall, polisi masih gencar-gencarnya memburu sang tersangka yang masih belum diketahui siapa. Belakang seusai diadakan penyelidikkan menyeluruh, diketahui bahwa tersangka bukan dari dalam kota melainkan dari luar kota."

"DARI DALAM KOTA TAHU!" teriak Jaejoong kesal menunjuk-nunjuk TV tak bersalah di hadapannya.

Di minggu lumayan cerah, Junsu hanya bisa menghela napas pasrah melihat sikap childish Jaejoong mulai muncul saat menonton berita di TV.

Tadi malam Junsu memutuskan untuk menginap di rumah Jaejoong. Tak disangka waktu pagi tiba, mereka sudah disambut kabar menyimpang dari TV. Padahal mereka lebih tahu tentang peristiwa pengeboman itu daripada apa yang baru saja dikatakan sang pembawa berita.

"Sudahlah Jae-ah," kata Junsu turun dari sofa ruang santai sembari menghampiri Jaejoong yang masih memelototi TV dengan geram, "Kau masih ingat perintah Leeteuk-hyung kan? Kita tidak boleh membocorkan masalah ini kepada orang lain yang tidak terlibat. Lagipula kecurigaan kita terhadap perguruan kendo Niatama Kiroitasu juga belum ada bukti kuat, otomatis kesaksian kita tidak akan ditanggapi terlalu serius oleh pihak yang mengurusnya," jelasnya menepuk pundak Jaejoong.

"Tapi kan Su-ah! Kelakuan Shi Dae Senior High School sudah di ambang batas normal, sudah banyak kejahatan yang mereka perbuat. Tunggu apa lagi? Bakar saja sekolah laknat itu!" seru Jaejoong marah.

Junsu menepuk kening pelan, tak mengherankan jika ia sudah menduga reaksi Jaejoong akan seperti ini. Kemudian ia beralih menyejajarkan matanya dengan kedua bola mata biru Jaejoong.

"Dengar. Jangan lupa kita masih punya tugas memenangkan kompetisi bakat dengan Shi Dae Senior High School. Persiapan kita tinggal dua minggu lagi untuk melakukan itu. Setelah semua selesai, pasti kita akan tahu jawabannya. Dan kemungkinan kejahatan Shi Dae Senior High School itu akan terbongkar juga izin keberadaan sekolah akan dicabut. Kurharap kau bisa bersabar."

Jaejoong memejamkan kedua mata sambil menarik napas, "Ya, aku tahu."

"Baiklah. Sekarang kita ke tempat latihan!" komando Junsu bersemangat.

Jaejoong tersenyum, "Ya!"


~oOo~ Phase to Get Spirit ~oOo~

Chap VII. (Waktu yang Mengungkap)

Copyright © Mikazuki Chizuka


"Darimana saja kalian?" kata Yunho setelah menanti kehadiran Jaejoong dan Junsu di lapangan basket sekolah bersama Yoochun.

Sesuai rencana, mereka berkumpul di sekolah untuk memulai sesi latihan mereka dalam bidang menyerang dan pertahanan masing-masing. Tepat hari ini adalah jadwal mereka berlatih dengan senior mereka yaitu Kangin, Leeteuk, dan Eunhyuk.

Sudah dari satu jam yang lalu Yunho serta Yoochun menunggu kehadiran teman yang belum datang. Kini setelah Jaejoong dan Junsu menampakkan diri, tinggal tiga orang lagi yang masih ditunggu.

"Mian terlambat! Apa latihannya sudah dimulai?" tanya Jaejoong sembari mengatur napas yang tak beraturan.

Yoochun menggeleng, "Malah ketiga senior kita yang telat. Ck, dasar."

"Mmm… Hanya ingin memastikan." Junsu mengelus tengkuk, "Aku dan Jaejoong kan perwakilan klub memanah dan menembak dengan pistol. Kalian berdua dengan band kalian kecuali Siwon perwakilan tim basket sekolah. Kibum dan Siwon perwakilan bidang kendo. Minho-hyung dan Eunhyuk-hyung ikut lomba nge-dance. Donghae-hyung, Changmin-hyung, dan Kangin-hyung mewakili perlombaan renang. Wookie dan Chullie mengikuti kompetisi memasak. Lalu apa yang dilakukan Leeteuk-hyung? Bukannya dia juga bisa masuk ke perwakilan kompetisi bakat di bidang mana saja ya?"

"Yah kau benar. Leeteuk-hyung termasuk pemuda jenius dan sempurna dalam sekali seumur hidup." Yunho memuji, "Karena itulah dalam kompetisi bakat kali ini dia jadi panitia penyelenggara bersama dengan anggota OSIS Shin Ki Senior High School yang lain bercampur dengan OSIS Shi Dae Senior High School."

"Kuakui kali ini hyung manis kita tidak salah langkah. Pintar sekali dia mengambil kesempatan menjadi panitia sekaligus mata-mata," komentar Yoochun.

Perkataan Hyouzan langsung mendapat hadiah bekapan tangan dari Jaejoong. Jaejoong pun menoleh ke segala arah, entah ia sedang melakukan apa, yang pasti perlakuannya itu membuat ketiga teman mereka menautkan alis, terlebih lagi Yoochun yang menjadi korban tutup mulut Jaejoong.

"Ya! Apa yang kau lakukan babo? Kau mau Yoochun mati?" ucap Yunho sinis sembari memegang pergelangan tangan Jaejoong dan menariknya agar terlepas dari bibir Yoochun.

"Kalaupun mati juga bukan urusanku," desis Jaejoong acuh, "Apa kalian tidak merasa ada seseorang yang sedari tadi mengintai kita di sini?" bisiknya pelan tanpa memedulikan tatapan menguliti dari Yoochun.

"Seseorang? Mengintai? Siapa?" tanya Junsu penasaran.

"Aku tidak tahu tepatnya siapa. Tapi masa kalian tidak dengar ada orang selain kita berbicara dengan diri sendiri itu sih? Aku saja dengar begitu jelas," guman Jaejoong menggelengkan kepala tak mengerti.

"Kalau memang tidak dengar mau bagaimana lagi? Jika memang benar-benar ada yang mengintai, lebih baik kita bersikap biasa, tapi tetap perhatikan sekeliling," intruksi Yoochun.

"Oke. Akting dimulai," perintah Yunho.

Seusai memerintah, dugaan Yunho semakin kuat tentang chogwa dari Jaejoong. Tidak salah lagi, justru malah sang obyek sendiri yang memberi petunjuk. Namun Yunho belum berani memastikan kerena ia belum membuktikannya secara langsung. Sejenak ia menatap Yoochun yang sedang asyik ngobrol dengan Junsu dan Jaejoong. Tanpa basa-basi tak berarti, Yunho langsung menggenggam tangan Jaejoong erat kemudian mengajaknya berlari pergi meninggalkan Yoochun dan Junsu yang terkejut diiringi teriakan protes dari Jaejoong sendiri. Akan tetapi Yunho tak ambil pusing malah semakin berlari menjauhi mereka yang ditinggal.

"Apa-apaan ini maksudnya, Yoochun? Apa yang kau rencanakan dengan Yunho terhadap kami?" geram Junsu mencengkram bagian depan jemper yang digunakan Yoochun.

"H-hei! Tenanglah Su-ie! Aku tidak merencanakan apa-apa dengan Yunho!" ucap Yoochun menyanggah tuduhan Junsu.

"Lalu apa maksud Yunho menculik Jaejoong dariku, hah?" bentak Junsu sambil menunjuk arah tidak terpusat.

Urat di kening Yoochun berkedut berulang-ulang.

"Sudah kubilang tidak ada rencana apa-apa, chagiya! Bahkan aku juga tidak tahu maksud Yunho menculik Jaejoong seperti katamu!" kata Yoochun tiba-tiba memeluk tubuh Junsu erat, sukses membuat Junsu terlonjak kaget.

"Apa yang kau lakukan?" panik Junsu memberontak di pelukan Yoochun.

"Diam Su-ie! Aku butuh bantuanmu!" seru Yoochun semakin mempererat pelukannya.

Junsu masih berusaha melepaskan diri dari dekapan Yoochun seraya berseru, "Bantuan apa! Bantuan berbuat mesum? Dasar brengsek! Kukira kau orang baik-baik!"

"Diam atau kau lebih memilih aku berbuat macam-macam?" ancam Yoochun membentak Junsu keras.

Junsu terdiam seketika, apalagi setelah dibentak secara kasar oleh Yoochun. Yang membentak sadar akan hal itu langsung memeluk Junsu lembut.

"Mianhae Su-ie. Aku hanya benar-benar ingin meminta pertolonganmu. Kau mau kan membantuku?" ucap Yoochun memperendah nada bicaranya.

Junsu masih terdiam. Perlahan tapi pasti, ia menganggukkan kepala pelan. Mungkin masih sedikit takut dengan ancaman Yoochun.

"Dengar. Chogwa-mu memindah roh manusia ke benda lain kan?" tanya Yoochun yang dijawab Junsu dengan anggukan kepala lagi, "Pindahkan jiwaku ke kucing yang di sana itu," pintanya seraya menunjuk seekor kucing berbulu coklat tua sedang terlelap di bangku penonton.

"A-apa? Kau gila? A-aku yakin kau juga tahu kalau aku belum pernah sekalipun menggunakan chogwa-ku! Kalau salah selangkah saja k-kau…" gagap Junsu memotong perkataannya, "…k-kau bisa kehilangan nyawamu…"

Yoochun mengangguk paham, karena ia memang sudah tahu resiko dari keputusannya tersebut. Lantas cepat-cepat Yoochun menyentuh kedua pipi Junsu dengan kedua tangan, sebisa mungkin membuat Su-ie-nya menatap dirinya.

"Aku sudah tahu itu." Yoochun menatap Junsu lekat-lekat, "Junsu, aku percaya padamu. Maka dari itu kau juga harus percaya padaku. Aku janji aku akan baik-baik saja. Aku tidak mau mati secara tak elit seperti itu," jelas Yoochun panjang lebar. "Tujuanku memelukmu tadi bukan untuk berbuat mesum. Apalagi... Yah, kau tahu sendirilah, tapi kurasa tipe orang pengintai kita tidak suka hal berbau romantis, disaat itulah aku bisa menemukan kelengahannya. Lagipula setelah kau mengeluarkan chogwa-mu, tolong jaga tubuhku dengan tetap memelukku. Hanya dengan cara ini aku bisa mengetahui tujuan si pengintai."

Junsu menggerakkan kepala ambigu antara menggeleng atau mengangguk.

"Tapi k-kenapa menggunakan cara ini? Bukannya k-kau bisa menggunakan c-chogwa milikmu?" tanya Junsu agak terbata.

Yoochun tersenyum simpul.

"Aku belum menceritakan keseluruhan tentang ilmu chogwa padamu waktu di restoran. Setelah semua selesai, aku akan memberitahukan kepadamu apapun yang kutahu tentang chogwa," sumpah Yoochun mengacak-acak kepala Junsu pelan, "Sekarang gunakan chogwa-mu. Kalau berhasil aku akan mengeong dua kali. Ingat, sampai kapan pun aku selalu mempercayaimu. Itu kataku."

Junsu terpaku beberapa jenak hingga akhirnya menganggukkan kepala mantab. Dengan keyakinan yang terbentuk di hati, Junsu mulai berkonsentrasi mengeluarkan chogwa, namun sedikit celah ia berkata, "Waktumu hanya satu jam dari sekarang. Sebut segel pembuka chogwa sebelum waktumu habis. Kalau tidak kau akan menjadi kucing selamanya dan kemungkinan tubuh kucing yang menolak rohmu akan menyebabkan kematian. Aku mempercayaimu Chunnie."

Yoochun tersenyum kecil, "Kau bisa pegang kataku dan kupegang katamu."

Perasaan lega mengiringi ilmu chogwa yang sebentar lagi akan dikeluarkan Junsu.

'Ki!' seru Junsu di dalam hati setelah memastikan timing pengeluaran chogwa sudah tepat.

Seketika itu juga tubuh Yoochun menimpa Junsu. Dengan sigap Junsu memeluk tubuh Yoochun yang tak bernyawa hingga jatuh terduduk. Di samping itu seekor kucing coklat yang menjadi kelinci percobaan chogwa Junsu perlahan membuka mata, memperlihatkan bola mata hijau menyala. Jantung Junsu berdebar tidak karuan karena sang kucing belum mengeong. Apa itu artinya… Ia telah gagal menggunakan chogwa-nya?

"Miaw! Miaw!"

Di ambang keputusasaan, Junsu yang semula menutup kedua mata rapat langsung membuka mata spontan mendengar suara meongan sang kucing. Tak dapat dipungkiri perasaan lega tersangkut di relung hatinya paling dalam, mengetahui usahanya kali ini membuahkan hasil yang setimpal. Ia juga dapat melihat ketika kucing coklat alias Yoochun tersebut berlari kencang keluar lapangan basket, sempat pula ia menoleh ke arah Junsu dan mengedipkan sebelah mata. Sekarang Junsu benar-benar yakin bahwa kucing coklat itu berjiwa Yoochun.

'Syukurlah… syukurlah Yoochun,' batin Junsu sembari memeluk erat tubuh tidak bernyawa Yoochun.

"Janji kau harus kembali dengan selamat, Yoochun. Aku akan menunggumu sampai kapan pun," lirih Junsu pelan.

'Karena aku masih mempunyai satu pertanyaan yang pasti kau tahu jawabannya.'


"Kau menculikku hanya untuk menemanimu ke toilet?" sewot Jaejoong kesal masih bersandar santai di dinding samping pintu toilet laki-laki.

Yunho hanya terkikik geli mulai mempersiapkan benda yang ia pegang. Yap! Sebuah alat perekam berkualitas tinggi kini sudah ada di dalam genggamannya. Sebenarnya ia amat berbohong jika tujuannya mengajak Jaejoong pergi ke toilet untuk melakukan panggilan alam, toh, sama sekali ia tidak segera melakukan seperti apa yang ia katakan pada Jaejoong, melainkan mendepel pada dinding di mana Jaejoong juga bersandar di balik dinding tersebut. Yunho menekan suatu tombol pada alat perekam itu. Ia menyeringai setelah rencana akan dimulai.

'Ya! Mau bagaimana lagi, Joonggie? Sudah mau keluar sih,' batin Yunho menjawab perkataan Jaejoong tadi.

Yah, Yunho membatin, tidak berkata secara langsung, karena ini memang tujuannya demi membuktikan dugaan.

"Lalu kenapa kau tidak mengajak Yoochun saja? Kalian kan sudah bersahabat kental!" seru Jaejoong membalas jawaban Yunho.

Yunho tersentak. Kali ini dugaannya memang tepat. Dugaan bahwa Jaejoong memang mempunyai chogwa. Jikalau dilihat dari kondisi saat ini, Yunho berpikir chogwa dari Jaejoong ialah membaca pikiran atau batin seseorang. Tapi karena masih belum cukup untuk bukti, Yunho masih melanjutkan rencana sampai cukup.

'Mengajak Chunnie? Kau gila apa? Dan membuatnya marah gara-gara aku mengganggunya dengan Junsu sahabatmu itu? Gampang sekali kau berpikir! Punya otak tidak sih?' batin Yunho lagi kali ini dibumbuhi pancingan.

"Apa kau bilang? Sudah rela aku membuang waktu untuk menungguimu melayani panggilan alam! Sekarang apa balasanmu? Dasar tidak tahu terima kasih!" bentak Jaejoong sebal menggedor-gedor pintu toilet keras.

'O-oi! Babo! Kenapa pakai menggedor pintu segala sih? Rusak tanggung jawab kau!'

"Cepat keluar atau kau lebih memilih kutinggal di sini?" ancam Jaejoong makin menggedor pintu, alih-alih malah menggebraknya pula.

'Iya, iya! Aku keluar! Hentikan perbuatanmu itu, babo!' batin Yunho kesal meraih dan memutar kenop pintu toilet.

"Ya! Dasar sial kau, brengsek!" seru Jaejoong diakhiri satu tendangan brutal.

Tidak lama setelah merasa amarah Jaejoong perlahan pudar, Yunho memberanikan diri keluar dari toilet. Di sana, ia mendapati Jaejoong tengah bersandar kembali pada dinding samping pintu, tidak ketinggalan pose kedua tangan terlipat di depan dada menjadi prioritas gaya pilihan Jaejoong, juga tampang kesal bercampur bosan sudah bertengger manis di wajah pemuda tersebut.

"Apa lihat-lihat? Sudah selesai dengan urusanmu kan? Ayo kita kembali," sinis Jaejoong hendak berjalan menuju lapangan basket.

Namun langkah Jaejoong terhenti sebab Yunho langsung menarik pergelangan tangan Jaejoong cepat. Tak khayal keseimbangan Jaejoong limbung sesaat hingga punggungnya kembali menabrak dinding. Yunho memanfaatkan keadaan dengan menghimpit tubuh Jaejoong melalui ia yang sok menahan agar mempunyai alasan untuk memeluk Jaejoong. Yah, dasar pemuda jaman sekarang penuh kobaran jiwa masa muda.

"Ya! Apa yang kau lakukan, brengsek? Kau kira aku ini ga-mphh!"

Perkataan Jaejoong terpotong disebabkan Yunho yang segera membungkam bibir Jaejoong dengan bibirnya, sukses mengharuskan Jaejoong membelalakkan kedua mata lebar, tak menyangka Yunho akan melakukan ini terhadap dirinya. Kalau perlu menggunakan kata lain untuk menjelaskan keadaan, mudahnya Yunho mencium Jaejoong tepat di bibirnya! Secara, secara kan mereka sama-sama lelaki! Dan lantaran Jaejoong terserang syok tingkat atas itulah, ia langsung terdiam.

"K-kau…" desah Jaejoong gagal melanjutkan perkataan.

Lutut Jaejoong terasa lemas setelah menyadari baru saja Yunho benar-benar menciumnya.

"Akan kulakukan hal seperti tadi lagi jika itu memang satu-satunya cara agar bisa membuatmu terdiam. Kau berisik tahu, dasar," ucap Yunho sembari menahan tubuh Jaejoong agar tidak terjatuh, "Sekarang diam dan perhatikan baik-baik apa yang akan kuperlihatkan kepadamu."

Beriringan kata terakhir terucap dari bibir, Yunho mengacungkan sebuah alat perekam tepat di depan wajah Jaejoong. Sejenak Jaejoong memasang tampang bingung pada Yunho. Sang pemuda manly tak ambil pusing, kemudian ia menekan salah satu tombol lain selain tombol awal pada alat perekam.

"Lalu kenapa kau tidak mengajak Yoochun saja? Kalian kan sudah bersahabat kental!"

Kedua mata Jaejoong kembali membulat mendengar suaranya sendiri keluar dari alat perekam tersebut.

"…"

"Apa kau bilang? Sudah rela aku membuang waktu untuk menungguimu melayani panggilan alam! Sekarang apa balasanmu? Dasar tidak tahu terima kasih!"

"…"

"Cepat keluar atau kau lebih memilih kutinggal di sini?"

"…"

"Ya! Dasar sial kau, brengsek!"

Kali ini suara Jaejoong sukses tercekat di tenggorokkan. Bukan karena Yunho yang masih menghimpitnya, melainkan suara rekaman yang mengkopi perkataannya sedangkan perkataan Yunho tidak.

Seakan mengerti, Yunho langsung mengambil alih pemikiran Jaejoong.

'Kau pasti bingung kan mengapa bisa hanya suaramu yang terekam di alat perekam ini sedangkan perkataanku saja tidak ada?'

Jaejoong terpaku. Tak salah lagi, tadi memang ia mendengar suara Yunho begitu jelas, namun apa daya mau dikata, bahkan bola mata hitam bening Jaejoong pun tidak menangkap bibir Yunho yang bergerak, tetapi mengatup rapat tanpa celah.

"H-hei, Yunnie-ah! Kau sedang bercanda kan? Suara ini… suara ini pasti chogwa milik temanmu kan? Jawab aku brengsek!" bentak Jaejoong menggeleng-gelengkan kepala cepat, masih tak percaya dengan apa yang melandanya kali ini.

'Di sini hanya ada kita berdua, bodoh. Ini kata batinku, kau bisa mendengarnya kan, Joonggie?'

Jaejoong semakin menggelengkan kepala cepat dan memejam kedua.

"Tidak! Ini tidak mungkin terjadi! Ahaha! Bercandamu tidak lucu, Yunnie-bear!" ucap Jaejoong tertawa hambar, berusaha menutup diri dari kenyataan.

'Buka matamu, Joonggie! Tatap aku!' batin Yunho memerintah sembari menggoncang-goncangkan pundak Jaejoong pelan.

Perlahan namun pasti, Jaejoong membuka belahan mata. Dikejutkan oleh ke dalam mata Yunho yang begitu menghanyutkan hingga menyalurkan getaran-getaran aneh di relung hati terdalam.

"Dengar Jaejoong," kata Yunho tanpa membatin lagi sambil menyentuh lembut wajah Jaejoong. "Belajarlah menerima kenyataan. Semua yang terjadi ini bukan keanehan. Tetapi ini kekuatan lebih di antara lima indera. Fakta, kau mempunyai chogwa pembaca kata hati."

Jaejoong tertohok mendengar kenyataan tersebut keluar dari bibir Yunho. Bukannya ia tak suka mendapati kenyataan bahwa dirinya mempunyai chogwa, bukan, namun hanya cara yang digunakan Yunho saja berhasil membuat Jaejoong seolah tak bisa menggerakkan seluruh anggota badan. Hei! Memang pemuda mana yang rela dicium pemuda yang tentunya ber-gender sama dan berstatus bukan kekasihnya? Oke, kecuali atas dasar suka sama suka. Lha ini? Belum ada kepastian sama sekali! Bagaimana harga diri Jaejoong jika dipertanyakan?

"Ya! Kau baik-baik saja kan?" kata Yunho menggerakkan tangan di depan wajah Jaejoong.

Seakan kembali mengendalikan diri, Jaejoong menggeleng pelan sembari tersenyum manis, kemudian seketika itu juga ia memukul keras pipi Yunho hingga yang ditampar jatuh terduduk.

"Ya! Apa yang kau lakukan?" bentak Yunho memegang pipinya yang memerah.

Jaejoong mendelik sinis sambil mendekat pada Yunho. Spontan saja ia menerjang tubuh Yunho dan memeluknya erat.

"Ya! Kau ke…"

"Gomawo," ucap Jaejoong sekaligus memotong perkataan Yunho, "Gomawo… gomawo!" Hanya itu yang terucap dari bibirnnya.

Butuh beberapa lama untuk Yunho memroses kejadian tersebut. Seusai mengolah kata Jaejoong, ia tersenyum ketika mengerti apa maksud dari semua itu. Sekadar refleks, ia membalas pelukan Jaejoong dengan pelukan mengintimidasi. Bagai berpotong puzzle yang ditakdirkan berdampingan, tubuh mereka berdua sangat cocok saat bersanding dalam sebuah pelukan hangat. Akan tetapi karena suatu hal, Yunho langsung mendorong Jaejoong.

"Tunggu dulu. Kalau kau berterimakasih padaku. Kenapa tadi kau memukulku, hah?" seru Yunho menuntut penjelasan.

Jaejoong hanya nyengir salah tingkah seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Dengan ini kita impas. Kau pikir semudah itu apa meminta imbalan padaku? Oke, kuakui, aku memang berterimakasih padamu. Tapi kenapa pakai boo segala sih?" bentak Jaejoong manyun.

Tanpa terpaksa Yunho tersenyum jahil.

"Jahat sekali kau. Padahal sangat terlihat tadi kau menikmatinya, Joonggie," goda Yunho sukses membuat wajah Jaejoong bersemu merah.

"Ya! Berhenti menggodaku! Cukup! Lebih baik sekarang kita kembali ke lapangan basket. Barangkali para senior sudah datang," ajak Jaejoong berjalan meninggalkan Yunho yang masih terduduk.

Yunho menyeringai licik sebelum bangkit berdiri dan mengejar Jaejoong. Cepat-cepat ia membalikkan tubuh Jaejoong dan mencuri ciuman mesra di pipinya.

"Tanda terima kasih kedua untukku," kata Yunho tersenyum kecil kemudian berlari sekencang yang ia bisa.

Yang ditinggalkan?

"AKU BERSUMPAH AKAN MEMBUNUHMU, JUNG YUNHO!" teriak Jaejoong sebal sembari berlari kencang menyusul Yunho.


...To Be Continue...


...Gomawo for your RnR! :)...

...Mind to Review? :3…