IT'S (not) A
PERFECT WEDDING
Sherry Kim

.
WARNING
GS. Typo bertebaran. Alur tidak jelas juga lambat.
Tidak suka jangan baca.
NO BASH.

。。 * 。。

.

Bukan ini yang Jaejoong bayangkan tentang makan malam yang telah ia rancang sepanjang hari. Jujur, Jaejoong mengharapkan ketenangan pada jamuan makan malam istimewa pertama yang ia buat untuk keluarganya.

Hanya saja ini jauh dari apa yang ia harapkan, nyaris tidak ada percakapan dari suami dan mertuanya.

Terlalu tenang, malah mendekati dingin untuk acara makan malam ringan sebuah keluarga. Anak anak tidak termasuk hitungan, tentunya. Mereka makan dengan cukup baik seperti biasa. Hanya saja suami serta mertuanya menyantap hidangan dalam keheningan seperti upacara kenegaraan dalam keheningan cipta.

Sungguh, ia tidak menduga malam ini akan menjadi seperti ini. Yunho memang tidak mengatakan apapun atau pun menolak kehadiran ayahnya di meja makan selain bergumam tidak menyukai idenya saat ia memberitahu suaminya itu siang tadi.

Dari cerita para pelayan yang sudah bekerja puluhan tahun kepada keluarga Jung, mertua Jaejoong tidak pernah makan malam bersama putra tunggalnya, ataupun jamuan lain yang di adakan keluarga. Hal itu sudah menjadi kebiasaan selama bertahun tahun sampai tidak ada yang mengungkit masalah itu sampai sekarang.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun, kedua ayah dan anak itu duduk di meja makan yang sama. Mrs. Lee, kepala pelayan sempat meragukan keduanya tidak akan dapat duduk untuk santap malam. Namun sejauh ini semua baik baik saja. Jaejoong sangat bersyukur akan ini.

Di lain pihak Yunho menyesali janjinya tentang menutup mulut dan duduk tenang di meja makan. Wajah polos istrinya membuat Yunho mengigit lidahnya sendiri agar tetap diam untuk satu jam berikutnya meskipun ia sangat ingin menghilang dari tempatnya duduk. Tidak mudah memang, tapi ini lebih mudah daripada ia harus menjelaskan kenapa dan mengapa ia membenci ayahnya dan saling menjauh satu sama lain seperti air dan api.

Sungguh, ini sesuatu yang tidak mudah baginya saat ayah yang selama ini ia anggap tidak ada duduk di kepala meja menikmati hidangan dengan tenang. Ia berpikir untuk segera kabur dari sini, tapi dengan alasan apa agar istrinya itu tidak marah karena demi Tuhan, Yunho tidak ingin mencari masalah lain untuk di debatkan bersama Jaejoong setelah masalah sebelumnya baru saja mereka selesaian.

Yunho menyadari tidak baik suami istri selalu bertengkar, terlabih mereka menikah masih dalam hitungan jari.

Dari tempat duduknya di meja seberang, Jaejoong melihat suaminya yang tak seperti biasanya, ia benar benar cemas masakan yang ia masak tidak enak, namun tiga putra Jung yang duduk di sisinya tidak memperlihatkan apapun kecuali menghabiskan makanan yang ada di atas piring mereka.

Memberanikan diri dengan resiko ia bertanya. "Apa kau tidak suka masakan yang aku buat, Yun? Tidak enak?"

Yunho mengangkat pandangan dari piringnya dengan terkejut, menatap Jaejoong yang duduk di seberang meja. "Tidak!"

"Lalu kenapa kau hanya mengaduk aduk makananmu tanpa berniat menghabiskannya?" Musang Yunho tertutup. Rahang pria itu mengeras menahan perasaan ingin membantik serbet dan pergi dari ruang makan secepatnya. Saat ia membuka mata, wajah polos istrinya sedikit mengurangi amarah yang memenuhi rongga dada.

"Masakanmu enak." meski Yunho tidak benar benar bisa memastikan itu karena ia tidak ada selera untuk menyelesaikan santap makan malam ini lagi. "Hanya saja aku memikirkan rapat penting yang besok akan aku hadiri, aku harus segera memeriksa berkas yang belum selesai aku periksa sore ini."

Gesekan kursi menyapa lantai terdengar mengerikan sampai seluruh mata menatap ke arah Yunho. Jaejoong sudah membuka mulut untuk bertanya tapi di dahului oleh salah satu dari si kembar.
"Appa sudah selesai?"

Jaejoong mendapati senyum suaminya terlihat di paksakan untuk anak-anak dan mengangguk lemah. "Selesaikan makan kalian anak-anak." lalu pria itu pergi, tanpa mengucapkan apapun atau sekedar pamit pada ayah ataupun dirinya yang sepertinya tidak terkejut oleh ketidak sopanan putranya sendiri.

"Aku minta maaf Papa." segera Jaejoong bicara setelah memastikan suaminya melewati ambang pintu.

"Kau tidak perlu meminta maaf, aku sudah terbiasa dengan sikapbdingin putraku." Pria itu tersenyum lembut. "Tidak seharusnya aku datang dan menghancurkan makan malam kalian."

"Kami senang kakek datang." Minguk menyahut tanpa mengerti masalah apa yang terjadi pada orang dewasa.

Jaejoong tidak mengira putra kedua suaminya itu mendengarkan apa yang mereka bicarakan sampai bocah itu menyahut. "Kakek tidak pernah makan bersama kami." Yang tentu di iyakan oleh kedua daudaranya yang lainnya.

"Kakek terlalu sibuk dengan taman bunga Kakek," Daehan menambahkan. "sampai tidak meluangkan waktu untuk kami."

Jung Ji Hoon menatap terkejut wajah cucu-cucunya. Ia tidak memperdulikan anggapan orang lain sebelumnya bahkan oleh putranya sendiri. Ia sudah terbiasa di abaikan bahkan di tatap dengan tatapan benci oleh putranya sendiri. Tapi ia tidak pernah berpikir bagaimana perasaan ketiga cucunya dalam hal ini. "Oh anak-anak, Kakek lebih mengayangi kalian dari taman bunga Kakek! Jangan ragukan itu."

"Benarkah?" kening si bungsu berkerut saat menatap kakeknya.

"Tapi Kakek tidak pernah meluangkan waktu untuk bermain bersama kami, atau sarapan bersama." Minguk menimpali.

"Kakek juga tidak pernah makan malam bersama kami. Daehan pikir Kakek membenci kami."

Jaejoong bertanya dalam hati, benarkah ketiga bocah-bocah ini berusia empat tahun? Karena mereka cerdas dan lebih dewasa dari apa yang mereka lihat.

"Ya Tuhan anak-anak, Kakek menyayangi kalian melebihan apapun. Bukankah kita sering bermain bersama di waktu liburan." Ketiga bocah itu mengangguk meski enggan. "Kalian juga sering menganggu Kakekdi taman pada hari libur. Jangan lupa kalian juga mencabuti bunga Kakek." pernyataan itu membuat kembar tiga cekikikan.

"Benar."

"Kami suka bunga kakek."

"Dan kami suka mencabuti bunga Kakek."

Jung Ji Hoon menatap tajam si bungsu yang hanya membuat mereka tertawa cekikikan. "Cepat habiskan makan malam kalian, sebentar lagi kalian harus mandi."

"Apakah masakan Mommy enak?" Jaejoong bertanya. Tiga pasang mata bulat sehitam kelereng itu menatapnya dengan binar yang membuat Jaejoong merasa senang.

Bocah-bocah itu mengangguk antusias dan mulai menghabiskan hidangan makan malam mereka yang masih tersisa. Terdengar gumaman serta pujian mereka yang tak jelas karena mulut mereka sudah di penuhi makanan.

"Terima kasih untuk makan malam ini Jaejoong." Ji Hoon mengulurkan tangan, menepuk punggung tangan Jaejoong di atas meja. "Malam ini sangat berkesan, jauh melebihi dari apa yang aku bayangkan sebelumnya tentang makan malam ini."

Pria itu bangkit dari duduknya, menghampiri kembar tiga lalu mencium satu persatu sebelum pergi. Jaejoong menatap hampa kepergian mertuanya dengan perasaan campur aduk. Ia terlihat bodoh karena tidak tahu masalah apa yang keluarga ini hadapi, tidak adakah seseorang yang akan memberitahunya tentang semua ini.

Menghela napas. Ia tidak yakin Bibi Lee tahu dan apa wanita itu tahu, ia juga tidak yakin seandainya bibi Lee tahu dan bersedia menceritakan masalah pribadi majikan yang sudah beliau anggap keluarga, meskipun Jaejoong menantu di rumah ini.

Tapi, bukankah sekarang ia sudah menjadian sebagian keluarga ini.

.

。。* 。。

.

Lampu nakas kamar masih dalam keadaan menyala sama seperti ketika ia akan tidur. Sengaja, Jaejoong tidak mematikan lampu itu mengingat suaminya sibuk di ruang kerja lantai bawah. Jam dinding menunjukan pukul tiga dini hari saat Jaejoong terjaga.

Ranjang di sisinya kosong, tidak ada tanda tanda bahwa suaminya telah tidur di sana karena selimut dan bantal masih tertata rapi pada tempatnya.

Jaejoong menghela napas, desahan sedih yang ia kira tidak dapat ia rasakan sebelumnya. Yunho menyibukan diri di ruang kerja malam ini, mengunci diri di dalam sana bahkan mengabaikan Jaejoong yang ingin berbicara kepadanya usai makam malam usai. Amarah mengalahkan perasaaan bersalah yang menggelayuti Jaejoong semenjak pria itu meninggalkan meja makan.

Pria menyebalkan itu tidak berhak memperlakukan dieinya seperti ini, jika Jaejoong tidak di ijinkan pindah dari kamarnya kenapa pria itu tidak tidur di kamar mereka dan demi Tuhan, Jaejoong akan mencari dan menyeret suaminya jika perlu untuk membahas masalah ini sampai tuntas.

Mengenakan jubah tidur di atas lingerin, Jaejoong memakai sandal lantai dengan terburu buru lalu berjalan keluar kamar. Terakhir kali ia melihat Yunho berada di ruang kerja perpustakaan, jadi ia akan turun untuk mencari pria itu di sana.

Ruang kerja dalam keadaan gelap, tidak ada tanda tanda siapapun berada di sana saat Jaejoong turun dan memeriksa. Jaejoong ragu suaminya berada di dalam dan jika Yunho tidak di sini, tidak juga kembali ke kamar mereka, ke mana pria itu tidur?

Jaejoong sudah akan menutup pintu saat mendenger suara parau yang nyaris tidak ia kenali terdengar dari dalam. "Jae." suara itu lirih, berat serta gamang.

Cengkraman tangan Jaejoong mengerat pada handle pintu. Ia mencari arah suara itu, menyapu kegelapan yang masih menyelimuti ruangan namun tak menemukan bayangan siapapun di dalam sana. Ia meraba dinding, ruangan menjadi terang kala lampu berpijar. Menyapukan pandangan, Jaejoong melihat Yunho duduk bersandar di sofa panjang tidak jauh dari jendela. Di atas meja terdapat gelas kristal bening yang menyisakan cairan merah sepertiga gelas.

Yunho menutup mata untuk membiasakan diri dengan silau cahaya lampu. Seharusnya Yunho marah kepada istrinya atas apa yang telah wanita itu lakukan. Beraninya Jaejoong mengundang laki laki itu makan malam di meja yang sama denganya. Yunho marah, tentu saja. Namun melihat Jaejoong berdiri di ambang pintu berbalut gaun malam sopan membuat amarahnya seketika terlupakan.

Wanita muda itu berdiri di sana, layaknya wanita malam nakal dalam balutan cahaya membungkus tubuhnya yang menggoda. Rambut pendek sebahu Jaejoong berantakan dengan sangat rupawan, menggoda Yu ho untuk menyeret istrinya kembali ke kamar mereka.

Istrinya menunggu di kamar, yang akan menerima dengan gairah sama besarnya andai Yunho menenggelamkan diri dalam kelembutan Jaejoong, lalu apa yang dilakukanya di sini, mencoba minum sampai mabuk berharap ia dapat melupakan masa lalu yang ingin ia lupakan namun tak pernah bisa ia lupakan.

Musang Yunho kembali menyusuri tubuh Jaejoong, wanita itu terlihat menggoda meski Jaejoong memakai gaun tidur sopan, dan ia merasa bodoh karena begitu mudah jatuh ke dalam pesona Jaejoong dan membiarkan wanita muda itu mengacaukan kehidupan yang dulunya damai.
Damai meski tanpa cinta.

"Kemari." Tangan Yunho terulur. Menunggu tanpa kata agar Jaejoong mendekat dan ia bisa memberi istrinya itu hukuman karena telah membuatnya terpesona.

Istrinya berjalan mendekat. Wajah Jaejoong cemberut saat istrinya itu berhenti di hadapannya, Yunho paham kenapa Jaejoong terlihat marah. "Dasar kau pengacau kecil." Ia pun menarik tangan istrinya.

Jaejoong memekik terkejut. Saat sadar ia sudah berada di pangkuan Yunho dengan lengan pria itu merengkuh pinggangnya erat. Aroma anggur menguar dari napas serta mulut suaminya kala bibir Yunho menempel di atas bibirnya yang terbuka. Jaejoong menggeliat, mencoba lepas dari rengkuhan Yunho.

"Yun." ujar Jaejoong saat bibir pria itu meninggalkan bibirnya untuk menyusuri rahang dan menemukan titik sensitif di belakang telinga, yang membuat Jaejoong menggelinjang menahan pekikan kenikmatan.

"Seharusnya kau menutup pintu." bisik pria itu serak. Jaejoong merasakan lidah basah Yunho menyusuri kulitnya, gigi pria itu mengigit kasar cuping telinga dan Jaejoong tidak mampu lagi menahan desahan keluar dari bibirnya. Ya Tuhan, semudah inikah ia tergoda oleh suami yang pernah tidak ia inginkan.

"Terlalu sensitif, penyihir kecilku." ujar Yunho, menjauhkan diri.

Rasa lega saat Yunho menjauhkan wajah darinya hanya sementara saat jari pria itu menarik tali jubah dan menyusupkan tangan ke balik jubah. "Mendesahlah untukku gadisku. Kau harus mendapat hukuman atas apa yang sudah kau lakukan malam ini."

Kesadaran meninju Jaejoong saat ia ingat tujuannya datang kemari. Dengan sedikit kesadaran yang tersisa ia mendorong pria itu menjauh. "Beraninya kau pergi begitu saja saat makan malam belum usai."

Serigai tanpa rasa bersalah yang Yunho tunjukan sangat menyebalkan. "Kau tidak mungkin memintaku tetap tinggal dan melakukan ini di hadapan anak-anak dan pria itu, bukan?" tangan hangat pria itu mengangkup buah dada mungil Jaejoong dan meremasnya. Mengundang pekikan tertahan yang Jaejoong coba sembunyikan.

Yunho mabuk.
Itulah kenapa pria itu mengindahkan ucapannya. Tidak ada gunanya mengungkit masalah semalam jika suami menyebalkannya ini tidak berpikir jernih.

Baiklah, lupakan masalah itu untuk saat ini sampai pria itu sadar. Jadi, Jaejoong membiarkan tangan suaminya mengusup ke balik lingerin yang ia kenakan. Dan ia membuka bibirnya membalas ciuman suaminya tak kalah bersemangat, membiarkan tangan pria itu menyibak jubah tidurnya untuk merasakan kelembutan kulitnya. Ciuman pria itu beralih ke rahang, mengukur jarak menuju lembah lembut yang kalau boleh jujur ia juga ingin lidah pria itu bermain di sana.

Doe Jaejoong terbuka, menahan kepala suaminya tetap di sana. "Jae... " mata sayu Yunho menatap wajah Jaejoong memberenggut. "Kau tidak boleh... "

"Seseorang datang." sahut Jaejoong. Suara wanita itu tak kalah serak karena hasrat yang sudah Yunho bsngkitkan. Dari balik bahu istrinya Yunho menengok ke belakang. menemukan wajah polos putra keduanya yang tersenyum kearahnya.

Jung Minguk mengintip dari balik pintu yang setengah terbuka. "Dad."

Meskipun enggan, keduanya menjauhkan diri satu sama lain. Jaejoong segera merapikan kembali pakaiannya dan mengikat tali jubah di pinggang sedikit lebih erat.

"Bagaimana kau bisa turun?" Yunho bertanya. Minguk sudah berlari kearah ayahnya lalu naik ke sofa, duduk di samping Yunho.

"Minguk lapar." Yunho melirik jam dinding dan bertanya tanya, apakah semalam putranya tidak makan dengan baik? Meskipun ia meragukan hal itu.

"Bagaimana kalau kita masak ramen untuk cemilan."

Yunho memberenggut. "Ramen bukanlah cemilan. Itu tidak baik untuk anak-anak."

Mengabaikan ucapan suaminya, Jaejoong mengulurkan tangan kepada Minguk. "Bagaimana?"
Bocah itu mengangguk antusias dan turun dari sofa, mengabaikan Yunho yang sepertinya memiliki keinginan lain.

"Jae." Yunho merajuk.

"Diamlah, bergabunglah dengan kami jika kau mau." keduanya melangkah keluar.

Yunho memberengut namun tak ayal mengikuti istri dan putra keduanya keluar ruangan dan melihat alasan mengapa putranya bisa turun ke lantai dasar. Pagar gerbang yang di buat khusus demi keamanan anak-anak di atas tangga terbuka dan itu pasti ulah istrinya yang lupa menutupnya saat turun tadi. Ingatkan Ia untuk menegur istrinya nanti jika suwaktu waktu turun.

.

。。* 。。

.

"Apa kau mau mencoba?"

Alis Yunho menggeryit ngeri melihat kuah ramen yang kental dan sepertinya sangat pedas. Kalau tidak bagaimana mungkin wajah istrinya yang biasanya cerah itu terlihat berkeringat serta merah seakan akan Jaejoong baru saja usai bercinta. "Tidak terima kasih." ujarnya galak. Gairah dalam dirinya semakin membara menatap bibir istrinya yang merah muda.

"Aku masak banyak, takkan habis untukku habiskan sendiri. Baiklah, lupakan. Sepertinya kau masih mabuk."

"Aku tidak mabuk." ujar Yunho sambil mendengus. Minguk menyodorkan piring kosong miliknya dan berniat untuk nambah.

"Kurang?" ya Tuhan, Jaejoong khawatir anak itu akan segendut anak gajah jika terus makan dalam porsi orang dewasa.

"Separuh ramen tidak akan membuat putraku kenyang." sahut Yunho dari seberang meja. Pria itu telihat acuh dengan menyangga kepala di atas kedua tangan menatap Jaejoong dan Minguk bergantian. "Minguk bahkan akan menghabiskan semangkuk besar ramen jika kau menaruhnya di depan wajahnya."

"Apa kau tidak menghawatirkan mereka. Maksudku selera makan mereka yang berlebihan."

"Untuk apa? Bukankah mereka tumbuh dengan sangat baik karena makan banyak." jawaban itu membuat Jaejoong memberenggut. Bagaimana mungkin ada orang tua seperti Yunho yang tidak mempermasalahkan porsi makan putranya yang berlebih.

"Tidak baik untuk mereka jika terlalu banyak makan."

Mengedikkan bahu Yunho berujar. "Mereka sudah terbiasa. Dokter juga mengatakan tidak masalah untuk pertumbuhan mereka, mengingat mereka lahir satu bulan lebih awal. Mereka membutuhkan itu untuk dapat tumbuh seperti anak-anak pada umumnya." jawaban itu membuat Jaejoong membeku. Ada kegetiran dalam suara suaminya meskipun Yunho berusaha terlihat acuh.

Jaejoong tidak mengira bocah bocah seperti triplet lahir prematur. Tidak banyak anak yang bisa bertahan dalam kelahiran seperti itu. "Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan itu. Aku akan mengawasi segala hal apa yang mereka makan dan lakukan."

Yunho mengulum senyum mendengar itu. Setidaknya Jaejoong tidak mengabaikan anak-anak meski ia tahu Jaejoong membencin ayah dari bocah-bocah nakal itu dan juga tidak mengatakan masalah yang ingin wanita muda itu ketahui. "Senang mendengarnya."

"Pedas." wajah Minguk sudah merah sejak tadi. Namun bocah itu tidak melepaskan sendok garpu miliknya dan hanya menatap Jaejoong dengan wajahnya yang merah.

"Sudah ku duga." Lagi lagi Yunho menyahut santai. Seketika Jaejoong sudah menuangkan segelas air. "Minum ini." Dengan rakus bocah itu menegung setengah gelas sebelum mengangkat kembali garpu miliknya.

Bibir mungil Minguk sudah berubah warna dan Jaejoong menggeleng melihat minat bocah itu terhadap ramen tidaklah berkurang meski terlalu pedas untuk ukuran anak anak. Jaejoong gemas dengan tingkah putranya itu dan menunduk. "Bobo."

Mendongak, Minguk tersenyum lalu mencium Jaejoong. "Masih pedas?" pertanyaan Jaejoong di jawab gelengan kepala bocah itu menghabiskan ramen dalam mangkuknya.

Yunho duduk tegak di kursinya mengamati keduanya. Ia merasa cemburu terhadap putranya sendiri. "Boleh aku mencoba?" pria itu sudah menarik panci kecil yang di gunakan Jaejoong untuk makan dan merebut sumpit dari tangan istrinya. "Aku juga ingin mencobanya."

"Silahkan."

Cukup hanya sesuap untuk membuat Yunho tersedak kuah pedas itu dan membuat wajah pria itu merah padam. Jaejoong bangkit dari duduknya untuk menuangkan segelas air untuk suaminya. "Kalau kau tidak suka pedas jangan mencoba."

Di sela sela batuknya pria itu masih mendebat. "Jika Minguk bisa kenapa aku tidak."

Menepuk punggung suaminya sedikit lebih keras ia menggerutu. "Kenyataannya kau tak bisa Jung. Terimalah kekalahanmu dan jangan menggerutu." Itu adalah kata terakhir yang Jaejoong katakan. Yang ia dengar berikutnya adalah batuk suaminya yang tidak berhenti.

Yunho mengutuk diri dalam hati karena ceroboh. Ia berniat membuat dirinya kepedasan agar mendapat ciuman dari istrinya, bukanya rasa panas di tenggorokan bahkan dada panas sampai kepalanya pusing.

Ya Tuhan, ini sangat memalukan. Jika putranya bisa terbiasa dengan rasa pedas itu kenapa ia tidak.

.

。。* 。。

.

"Kukku di mana?"

"Kenapa dia tidak sarapan bersama
kita?"

"Apa dia sakit?"

Pertanyaan itu di lontarkan oleh kedua putranya yang lain bersahutan. "Tidak. Saudara kalian masih tidur dan sebentar lagi Minguk akan turun dan berangkat sekolah bersama kalian." Seakan jawaban ibu mereka belum memuaskan, mereka kembali terdiam. Mereka tidak terbiasa sarapan tanpa salah satu dari yang lain, hal itu membuat keduanya tidak menyentuh sendok mereka.

"Manse akan membangunkan Minguk." Bungsu dari si kembar tiga turun dari kursi khusus anak-anak, begitu juga Daehan. Kedua bocah itu turun dengan cepat sampai Jaejoong tidak memiliki waktu untuk mencegah keduanya lari keluar ruang makan.

"Biarkan mereka. Kau tidak akan bisa menghentikan mereka jika itu yang ingin kau lakukan." Yunho masuk ke ruang sarapan dengan pakaian kerja rapi. Meskipun wajah pria itu terlihat lesu.

Jas tergantung di lengan dan tas di lain tangan. "Aku tidak akan sarapan di rumah, ada urusan penting yang harus aku urus sebelum ke kantor."

Meraih Jas serta tas suaminya, Jaejoong mengantar Yunho sampai halaman di mana mobil pria itu sudah menunggu. "Yunho."

Pria itu berhenti sebelum masuk ke dalam mobil, menatap istrinya dari balik bahu penuh tanya. "Ada apa?"

"Malam ini, bolehkan aku pergi ke rumah Paman Jung Kook?" ia bertanya penuh harap.

"Aku tidak akan pulang untuk makan malam. Aku harap kau di rumah saat aku kembali." Pria itu masuk ke dalam mobil tanpa mengindahkan ijin Jaejoong yang bahkan tidak di jawab olehnya. "Yun... "

"Tidak Jae, hari ini aku sibuk dan kau tidak boleh pergi tanpa aku. Dan tidak juga sendirian." usai berkata tegas Yunho mengangguk kepada sopir. Mobil pun melaju mulus sebelum keluar halaman mansion meninggalkan Jaejoong yang melongo hebat sendirian di sana.

Astaga. Pria macam apa yang ia nikahi. Pria itu benar benar menyebalkan. Di suatu waktu Yunho begitu baik dan di lain waktu pria itu seperti bajingan kurang ajar.

Jaejoong tidak bisa memahami suaminya dan jika ia masih juga berdiam diri membiarkan suaminya mengintimindasi serta menindas dirinya, maka ia bukanlah Kim Jaejoong.

"Jangan harap aku di rumah saat kau kembali. Dan aku juga akan mengajak anak-anak ikut bersamaku."

Benar saja, usai menjemput anak anak Jaejoong melakukan apa yang ia katakan. Membawa triplets pulang ke rumah keluarga Kim tanpa meminta ijin pada suaminya. Biarkan pria itu kelabakan mencari mereka karena Jaejoong tidak berniat menerima telefon dari pria itu.

Usai mematikan ponselnya ia tersenyum kepada tiga putra kembarnya. Ya, putranya. Mereka adalah putranya dan Jaejoong berjanji akan menjadi ibu yang baik untuk mereka. Soal istri yang baik, tunggu sampai Yunho mampu menjadi suami yang baik.

-TBC-

Typo bertebaran. EYD tidak beraturan.

Menerima kritik dan saran. Maaf sempat membuat kalian menunggu FF ganjen ini lama.
Semoga hasilnya tidak mengecewakan.

Kiss satu satu.
-HUG-