Manik Emerald mengawasi keadaan sekitar. Melihat keseliling ruangan yang terlihat lebih tenang di bandingkan sebelumnya. Draco sudah kembali ke kamarnya dengan bujukan Narcissa.
Saat melihat situasi sudah aman. Dengan pengawasan yang hanya sedikit di sekitar wilayah kamarnya. Ia mulai mengeluarkan sebuah tali panjang yang akan di gunakan untuk keluar dari kamar.
Jika ia keluar dari depan, ia tidak akan berhasil. Ia sangat yakin jika Narcissa dan Lucius akan mengetahuinya. Draco akan mencegah dirinya untuk pergi seorang diri.
Setelah menguatkan niat. Memastikan pijakan tanah di bawahnya aman, ia mulai turun perlahan dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi. Tidak ingin jatuh sebelum ia menemukan kerajaan yang sering dikatakan banyak orang.
'Sret'
'Tap… Tap… Tap'
Langkah kaki terdengar menuju dirinya, ada suara terdengar dua orang tengah berbicara entah membicarakan apa, ia tidak ingin mengetahuinya.
Dengan cahaya yang minim. Beberapa pengawal lewat membawa sebuah obor untuk melihat sekitar.
Langkah kaki kedua pengawal itu mulai menghilang dibalik perbelokan dengan dinding. Hingga suara itu benar-benar telah menghilang. Barulah ia turun dengan cepat, agar tidak ada lagi pengawal yang lewat.
'Sret'
Dengan mudah, ia mendarat sempurna, dalam hening tanpa sepengetahuan pengawal satupun. Ingin rasanya ia bersorak senang. Berhasil karna rencananya. Sebelum-
"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Harry Potter,"
Tubuh Harry tersentak kecil lalu menegang seketika sesaat mendengar suara dari balik tubuhnya. Harry sangat kenal suara yang sedang bertanya padanya saat ini. Rasanya usaha Harry saat ini hanyalah sia-sia.
"Dra- Dray?" panggil Harry takut-takut dengan gerakan gugup melihat sosok yang sejak tadi memerhatikannya saat ini.
Draco Malfoy, seorang pewaris tunggal kerajaan 'Greyssia' sekaligus pewaris 'Malfoy' harus dibuat khawatir di tengah malam saat melihat sang pujaan hati yang tiba-tiba saja tidak ada di dalam kamarnya.
Awalnya, Drcao hanya ingin melihat apakah Harry sudah tidur atau belum. Jika belum, ia ingin meminta maaf atas kejadian siang hari. Jika sudah tidur, ia ingin mengucapkan selamat tidur dan mencium keningnya seperti malam-malam sebelumnya.
Namun, yang dilihat, justru kamar yang kosong dengan jendela yang terbuka lebar. Setellah dilihat, Draco justru menemukan sebuah tali panjang yang mengarah ke luar jendela.
Dan benar saja, ia menemukan pujaan hatinya berusaha untuk kabur, layaknya seorang tahanan penjara bawah tanah.
Draco menghela napasnya pelan, tidak mengerti dengan jalan pikir Harry saat ini.
"Sebaiknya kita ke ruangan Mom dan Dad. Aku harap kau mempunyai alasan yang kuat agar kau terbebas dari hukuman," ujar Draco mengenggam tangan Harry erat, enggan melepaskan. Takut jika Harry akan melarikan diri lagi.
Harry tersentak kecil lalu mengikuti langkah kaki Draco yang besar. Harry tidak akan mengira jika Draco mengenggamnya cukup kuat membuat pergelangan tangannya sakit seketika.
Ingin membantah namun, ia tidak bisa. Harry memang salah di sini. Terpaska ia mengikuti langkah Draco dan perintah sosok yang sedang menarik tangannya saat ini.
"Baiklah. Dray,"
.
.
.
.
.
HARRY POTTER Belongs to
The King of The Emeraldia Kingdom Belongs to Farida Lil Safana
.
.
.
.
.
'Brak'
Narcissi dan Lucius sontak terkejut saat melihat pintu ruangannya terbuka secara kasar dan tergesa-gesa. Baru saja Lucius akan memarahi sang pelaku. Ia hanya dapat memandang tajam melihat sosok yang ada di hadapannya saat ini.
"Apa-apaan ini? Draco. Kau sudah lupa semua peraturan dan tata karma yang diajarkan?" Tanya Lucius geram melihat putranya.
Draco terdiam lalu menarik Harry hingga ada di hadapannya.
"God! Harry," pekik Narcissa terkejut saat melihat Harry yang sudah terlepas dari cengkraman tangn Draco. Terlihat pergelangan tangan Harry yang memerah namun, di tutupi tangannya.
"Draco," panggil Lucius kembali.
"Aku hanya ingin melihat keadannya di kamar. Namun, yang aku dapatkan. Harry berniat kabur dari sini. Menggunakan tali yang mengarah keluar jendela," jelas Draco membuat kedua orang tuanya terkejut mendengar jawaban Draco.
Narcissi dengan cepat memutar tubuh Harry memeriksa keadaan anak itu. Memastikan apakah ada luka yang tertinggal di sana. Ia tidak ingin Harry terluka sedikitpun. Narcissi baru tenang saat tidak melihat luka di tubuh Harry ataupun sobekan pada bajunya.
"Hary. Kenapa kau melakukannya?" Tanya Narcisaa khawatir.
Harry menggigit bibir bawahnya gugup. Ia sangat bersalah saat ini, ingin mengatakan sesuatu, namun tidak bisa. Seperti suaranya tersangkut di tenggorokannya. Hingga Harry hanya dapat terdiam.
Manik Emeraldnya menatap ke lantai dengan tatapan sendu. Kepalanya menunduk dalam, tidak berani menatap wajah Narcisaa saat ini.
"Maaf," lirih Harry yang terdengar seperti suara bisikan.
Narcissi memeluk erat Harry enggan melepaskan. Ia tidak menyangka jika Harry akan berbuat nekat seperti itu. Di dalam benaknya ia masih membayangkan jika Harry akan terluka saat turun dari ketinggian kamarnya.
Lalu bagaimana jika para pengawal menganggapnya adalah penyusup atau penjahat yang akan mencuri barang?
Narcissi tidak ingin membayangkan lebih jauh lagi.
Yang terpenting saat ini, adalah Harry Potter. Anak dari Lily dan James sudah ada di hadapannya dengan keadaan selamat tanpa adanya tubuh yang terluka.
Sepertinya Narcissa harus memperketat keamanan agar Harry tidak akan berniat untuk kabur yang kedua kalinya.
"Aku tidak tau harus berbuat apa saat itu. Yang aku pikirkan hanya ingin memberitahu secepatnya pada Mom dan Dad," ujar Draco pelan, terdapat rasa bersalah terselip di dalam hatinya.
Terlebih ia sudah bersikap tidak sopan tadi. Membuka pintu kasar lalu menarik tangan Harry kuat hingga terseret mengikuti dirinya.
Lucius menghela napas pelan. Wajar saja jika putranya bersikap seperti tadi, ia tidak ingin hal buruk terjadi pada Harry sedikitpun.
"Baiklah. Aku mengerti," balas Lucius pelan.
Kini tatapan Lucius jatuh pada Harry yang masih menunduk.
"Harry. Kau bisa menceritakannya besok. Malam ini lebih baik kau tidur dengan Draco. Mengerti?" Tanya Lucius lembut.
Harry mengangguk mengerti.
"Baik," jawabnya pelan. Lalu mengikuti langkah kaki Draco menuju kamar.
Narcissi dan Lucius menatap kedua punggung itu dengan tatapan cemas. Narcissi tau jika cepat atau lambat Harry akan memutuskan untuk mencari kerajaannya seorang diri di dalam hutan.
Tidak mempedulikan bahaya yang selalu mengincar hingga membunuhnya.
"Lucius," panggil Narcissa khawatir.
Lucius mengangguk mengerti.
"Aku mengerti. Kita akan membicarakannya esok," saran Lucius lalu mencoba menenangkan Narcissa yang tengah khawatir.
.
.
.
~The King of The Emeraldia Kingdom~
.
.
.
Draco menatap Harry yang masih terdiam mematung di sisi tempat tidurnya. Ia hanya dapat menunduk sejak tadi.
'Sret'
Draco menyentuh pipi kanan Harry lembut, mencoba menenangkan sosok di hadapannya.
"Dray?" panggil Harry terkejut sontak menatap Draco dengan tatapan bingung. Manik Emeraldnya bertemu dengan manik Draco yang sedang menatapnya lekat.
'Sret'
Drcao membawa Harry ke dalam pelukannya dalam satu tarikan yang kuat.
"Dray," panggil Harry sekali lagi dengan wajah yang mulai memerah atas perlakuan Draco saat ini padanya. Terlebih ia kembali mengingat kejadian siang tadi dengan Draco yang terus menggodanya.
"Maafkan aku," ujar Draco tulus dengan tangan yang mengusap surai Raven Harry lembut.
Harry tersentak kecil. Lalu menatap kearah Draco yang tengah menatapnya lembut. Sebelum ia kembali menunduk, mengingat perilakunya yang membuat keluarga 'Malfoy' sangat khawatir akan dirinya.
Seharusnya ia mengerti jika ia tidak boleh membuat mereka cemas dan membuat terbebani akan kehadirannya. Ia sangat menyesal akan kesalahannya saat ini.
Harry memeluk Draco erat, membenamkan wajahnya di dada Draco. Sontak membuat Draco terkejut atas perlakuan Harry yang tidak seperti biasanya.
"Maafkan aku Dray. Seharusnya aku berpikir lebih dewasa kali ini. Bagaimana bisa aku membuat kalian khawatir?" lirih Harry dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Draco mengusap surai itu kembali dengan lembut. Membuat Harry nyaman dalam pelukannya. Maniknya menatap kearah langit-langit kamar dengan cahaya yang minim.
Di dalam pikirannya hanya satu, ia tidak ingin kehilangan Harry. Dan ia akan selalu berusaha bagaimanapun caranya untuk melindungi sosok pujaan hatinya agar tidak menghialang dari sisinya.
Cukup saat itu saja, sebuah kabar yang mengatakan jika keluarga Potter telah di serang oleh musuh dan membuat kedua orang tua Harry, Lily dan James yang meninggal dunia. Hidup Draco hancur seketika membayangkan jika ia akan kehilangan Harry saat itu juga.
Bahkan ia hampir mengurung dirinya di dalam kamar dalam waktu yang lama. Setiap kali ada pelayan yang memanggilnya ia akan mengusirnya cepat begitupun berlaku dengan sahabatnya.
Hingga ia menemukan sosok seorang gadis yang ternyata adalah Harry. Bagaikan bangun dari mimpi buruk Draco berharap ia tidak akan kehilangan sosok itu untuk yang kedua kalinya.
"Harry. Kau tahu?" Tanya Draco lembut. Dagunya di taruh diatas kepala Harry lembut.
"Aku sempat kehilangan kendali dan hampir bunuh diri saat mengetahui keadaan keluargamu saat itu. Aku tidak tau harus melakukan apa tanpa adanya dirimu. Setiap kali ada yang berkunjung ke kamarku. Aku akan mengusirnya," jelas Draco dengan berbisik tepat di telinga Harry.
Harry tersentak kecil lalu tertegun seketika saat mendengar penjelasan Draco.
Ia masih ingat jelas kejadian itu. Di mana ia kehilangan kedua orang tuanya. Dan menyuruh Harry untuk melarikan diri ke dalam hutan seorang diri.
Lalu di mana dirinya terjatuh ke dalam jurang dan sempat kehilangan ingatannya. Dan saat itulah ia bertemu dengan Severus dan Hagrid yang menolongnya dan selalu bersamanya di saat ia berada di tengah kebingungan tanpa adanya satupun ingatan.
"Akupun sama sepertimu, Dray. aku sangat takut untuk melihat dunia. Saat terbangun setelah aku jatuh di jurang. Aku tidak ingat satupun seakan aku berada di sebuah labirin tanpa adanya jalan keluar," jelas Harry dengan nada bergetar.
Jujur saja jika kembali mengingatnya ia sangat ketakutan.
Draco yang sadar akan perubahan Harry pada pelukannya. Ia kembali mencoba menenangkan Harry.
"Saat ini aku sudah bersamamu, Harry. Aku aakn selalu melindungimu sampai kapanpun," janji Draco lembut dengan anggukan pelan Harry sebagai jawabannya.
"Andai saja, aku mengetahui jika gadis itu adalah dirimu, aku pasti akan membawamu ke istana. Dan memberitahukan secepatnya pada Mom dan Dad," ujar Draco pelan, terdapat nada penyesalan di dalamnya.
Harry menggeleng pelan, membantah perkataan Draco saat ini. Ia tidak ingin Draco menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidak. Dray. aku sangat senang kau berhasil menemukan diriku. Terima kasih," ujar Harry tulus.
Draco tersenyum saat mendengar jawaban yang diberikan Harry. Untuknya Harry terlalu baik untuk seseorang yang pernah merasakan pahitnya dunia. Bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita cintai dan berharga di dalam kehidupan.
Perlahan namun, pasti. Draco dapat mendengar suara napas Harry yang mulai tenang dan teratur. Draco yakin. Jika saat ini Harry sudah tertidur dengan tenang. Tidak ingin mengangggu.
Draco memposisikan Harry agar tidurnya lebih nyaman.
'Chup'
Draco mencium kening Harry lembut, membuat sebisa mungkin agar Harry tidak terbangun akan perilakunya.
"Aku sangat senang kau ada di sisiku, Harry." Gumam Draco lembut lalu bernapas lega.
Malam berhiaskan bintang dengan angin yang berhembus lembut. Membuat Draco menutup kedua matanya mengikuti sang pujaan hati yang sudah lebih dulu memasuki mimpi.
Tbc~
(Maaf jika terjadi kesalahan kata/typo dalam penulisan cerita)
~Farida Lil Safana~
