My Sassy Girl
.
.
.
Warning : OC, OOC full, Typo
.
Genre : Drama, Romance, Hurt, little Humor
.
Pairing : Sasuke x Hinata
Other Main Artist : Sakura, Gaara
.
I'm just borrow the all character from Mr. Masashi Kishimoto for My Fanfiction.
.
Fanfic ini untuk hiburan semata, jika ada kemiripan cerita mohon di maafkan..
.
.
.
Hinata kini tengah melihat sekelilingnya. Hamparan berbagai bunga. Warna-warna cantik bunga itu mendominasi pemandangan yang ada.
Hinata mengenakan gaun biru muda berjalan perlahan melewati padang bunga, tanpa ada niat menginjak bunga - bunga indah itu.
Langit cerah semakin mempercantik hari ini.
Hinata menarik nafas dalam-dalam, menyuplai begitu banyak oksigen untuk paru-parunya.
Aroma wangi dari bunga-bunga menyeruak di penciuman Hinata.
Terlihat Hinata sangat menyenangi hal ini.
Kemudian dari langit tiba-tiba jatuh bola bekel emas..
'Lagi?' Pikir Hinata.
'Ini mimpikah?' Hinata berkeringat dingin.
Mengingat Hinata pernah bermimpi hal yang sama namun dengan latar tempat berbeda. Hinata menggenggam bola emas itu dan kembali menerawangnya. 'Tetap cantik' pikir Hinata.
Hinata melihat sekelilingnya.
Takut?
Tentu saja, bayangkan Pangeran Kodok itu datang dan benar-benar merubahnya menjadi Putri Kodok.
Karena merasa takut Hinata segera berlari.
Terus berlari.
Meskipun nafasnya sudah tersengal-sengal, dia terus berlari.
'Kenapa padang bunga ini tak berujung.' Rutuk Hinata mulai ketakutan.
Di tangannya masih menggenggam bola emas itu. Ingin sekali Hinata melemparnya, namun terlalu sayang meskipun dalam mimpi.
'Bagaimana ini.. Aku takut..' Hinata mulai ketakutan.
"Sasuke.." Tiba-tiba nama itu terucap begitu saja dari mulut Hinata, begitu lirih.
"Hinata?" Hinata yakin mendengar suara Sasuke.
Hinata tersenyum senang..
Dia segera berbalik.
"Sasu-..' Hinata tidak menemukan sosok Sasuke dimanapun.
"Sasuke dimana kamu?" Hinata mulai ketakutan.
"Aku di bawah sini.. Kwokk.." Ucap Sasuke.
Hinata sangat yakin mendengar suara lain..
'Kwokk..?'
Hinata memberanikan diri untuk melihat kebawah.
Hinata terkejut kali ini.
Muncul seekor Pangeran Kodok yang Hinata takuti.
Dia muncul..
Dia yang ditakuti Hinata.
"Gyaaaaaa..." Hinata berteriak.
"Aku Sasuke.. Kwok.. Kemarilah sayang.. Kwok..." Ucap Pangeran Kodok yang bernama Sasuke.
Kodok itu membentangkan ke dua tangan berselaputnya.
"Pergi kamu kodok jelek.. Gyaaaa.." Hinata kembali menendang Pangeran Kodok yang mengaku Sasuke.
"Aaa.. Kwok.." Terdengar suara nya melambung di udara.
Tingg..
Hinata terus berlari.. Berlari..
Dia tidak peduli dengan gaunnya yang kotor, keringat berkucuran, yang jelas dia ingin keluar dari mimpi buruk ini..
"Tidak.. Tidak.. Jangan mendekat.." Hinata kembali mengigau.
"Hei-hei Bodoh.. Apanya tidak?" Ucap Sasuke kesal membangunkan Hinata yang tidak bangun-bangun.
Untuk pertama kalinya Hinata mengigau keras, membuat Sasuke yang berada di kamar sebelahnya tidak bisa tidur.
Mulanya Sasuke berpikir terjadi sesuatu dengan Hinata, namun Hinata hanya mengigau.
Entah apa yang sedang dimimpikan gadis ini, begitulah kira-kira pikiran Sasuke.
"Gyaaaaa..." Hinata terbangun dengan keringat yang cukup banyak.
Wajahnya seperti mengalami syok.
Pandangan pertama Hinata adalah Sasuke yang menatapnya kesal dengan wajah masih sangat mengantuk. Hei.. Ini masih subuh..
"Sa-Sasuke.." Hinata ragu-ragu.
"Hm.."
"Kamu bukan Pangeran Kodok yang menjelma kan?" Tanya Hinata polos, membuat siku siku di kening Sasuke.
Sasuke mengantuk.. Sangat.. Dan dia terbangun karena teriakan seorang gadis yang ternyata mengigau. Parahnya ketika gadis itu bangun, Sasuke dikira Pangeran Kodok.
"What's?" Tanya Sasuke mulai kesal.
Bagaimana mungkin wajah tampan begini dibilang Pangeran Kodok yang pastinya hijau, bertotol dan jelek.
"Hahaha.. Untung aku hanya mimpi buruk.." Ucap Hinata lega melihat Sasuke tetap Sasuke dan bukan Pangeran Kodok.
Sasuke menggeram kesal dalam hatinya.
'Gadis ini perlu di berikan hukuman.' Pikir Sasuke licik.
"Sudahlah, aku mengantuk.. Dan jangan pernah mengigau tidak jelas.. Sebaiknya kamu berdoa sebelum tidur." Sasuke pun melangkah keluar kamar Hinata.
"Oyasumi Sasuke.." Hinata tersenyum.
Sasuke berhenti.
Andai Sasuke mau berbalik sebentar, dia akan melihat senyuman maut Hinata.
"Hm.. Oyasumi.." Sasuke pun melangkah lagi keluar kamar Hinata.
Hinata menghela nafas lelah begitu mendapati dirinya kini seorang diri di kamar yang sangat luas.
"Kami-Sama.. Bolehkah aku berharap lebih kepada Sasuke.." Hinata menerawang.
.
.
.
Pagi ini menjadi pagi yang cukup buruk untuk Hinata. Pasalnya dia tidak bisa tertidur setelah mendapati mimpi buruk.
Hinata takut akan mimpi itu kembali mengganggunya tidur.
Mata Hinata terlihat berair dan merah. Hinata juga terlihat menguap beberapa kali.
Mikoto sudah menyarankan Hinata untuk pergi istirahat, namun Hinata menolak karena dia ingin bekerja.
Mikoto akhirnya tidak bisa berbuat banyak dan meminta Sasuke untuk menjaga Hinata.
.
.
.
Begitu sampai di hotel, Hinata pergi ke toilet untuk buang air kecil, karena sudah tidak tahan Hinata menggunakan toilet karyawan. Hinata tidak segera menekan flush toiletnya karena mendengar percakapan dua orang.
"Hei.. Aku sudah mendapatkan informasi mengenai Hinata-Sama."
"Hah? Benarkah?"
"Tentu saja.."
"Apa.. Apa?"
"Ku pikir awalnya Hinata-Sama memiliki derajat yang sama dengan Sasuke-Sama, ternyata tidak.. Dia itu anak orang miskin yang tidak menimba ilmu tinggi.. Dan ini aku juga tidak yakin benar atau tidak, keluarganya memiliki banyak hutang dan semuanya dilunasi begitu saja oleh Fugaku-Sama."
"Sungguh beruntung.. Lalu bagaimana dengan Sakura-San? Ku dengar dia sangat menyukai Sasuke-Sama, mereka itu kan sahabat sudah sejak lama"
"Pasti dia bertepuk sebelah tangan, kasihan Sakura-San.. Jika aku menjadi Hinata-Sama, aku akan lebih tahu diri lagi untuk tidak mendekati Sasuke-Sama, selain derajat, status, dan lainnya saja sudah jauh dari Sasuke-Sama."
"Sudahlah.. Mereka kan juga karena di jodohkan.. Kenapa kamu malah sewot?"
"Iya sih.. Tapi mengingat bos kita mendapatkan wanita yang tidak sepadan, rasanya gimana gitu."
"Aku tidak terlalu perduli.. Itu urusan mereka, aku hanya ingin mendengar saja. Ehhehe.."
"Dasar kamu.. Sudahlah kita sebaiknya kembali bekerja."
"Hm"
Ketika mereka sudah yakin keluar barulah Hinata memencet Flushnya.
Hinata kembali menitikkan air mata.
Matanya terasa perih.. Hatinya pun demikian..
Salahkah dia mencintai Sasuke?
Salahkan siapa?
Status social? Pendidikan? Keluarga? Siapa?
Hinata kembali menangis dalam diam, seorang diri.
.
.
.
"Kenapa matamu semakin bengkak saja?" Tanya Sasuke menautkan alisnya.
"Tidak.. Ini hanya perasaanmu saja." Hinata bersikap dingin.
"Apa yang terjadi?" Tanya Sasuke begitu aneh melihat sikap Hinata yang tiba-tiba berubah dingin.
Hinata hanya menggelengkan kepalanya.
"Ini dokumen yang harus kamu tanda tangani, aku permisi." Hinata meletakkan 5 map file di atas meja kerja Sasuke.
Sasuke hanya menatap heran, meskipun dia tahu ada sesuatu yang terjadi. Mengingat tadi pagi dia masih ceria seperti biasa.
.
.
.
Gaara menghampiri meja kerja Hinata. Dia bisa melihat Hinata tengah serius mengerjakan semua pekerjaan yang diberikan Sasuke.
Gaara menarik seulas senyum. Dia suka melihat Hinata yang serius.
"Hinata.."
"Gaara-San.."
"Matamu kenapa?" Tanya Gaara khawatir begitu melihat mata Hinata yang merah dan bengkak.
"Ah.. I-Ini karena aku kurang tidur.." Hinata mencari alasan.
"Begitu.. Apa ada yang membebani pikiranmu?" Gaara benar-benar terlihat khawatir.
"Ie.." Hinata menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Setidaknya senyuman itu mengungkapkan dia tidak terjadi apa-apa meskipun sebaliknya.
"Siang nanti, kita makan siang bersama?" Tawar Gaara.
"Maaf Gaara-San.. Aku sudah memiliki janji dengan Sasuke.. Mungkin lain waktu?" Hinata terlihat sedikit tidak enak hati.
Gaara tetap memasang wajah cool meskipun hatinya terasa sakit. Dia cemburu.
"Baiklah, namun lain kali kamu jangan pernah menolak ajakanku lagi." Gaara mengedipkan matanya ke Hinata.
Hinata yang mendapat perlakuan itu hanya tersenyum geli. Baginya Gaara itu sudah di anggap sebagai kakaknya. Hinata tidak memiliki perasaan lebih kepada Gaara.
.
.
.
Sasuke mengajak Hinata untuk makan siang di restaurant berbeda kali ini.
Sasuke masih merasa malu untuk makan di restaurant langganannya setelah kejadian tempo hari.
"Kemarin.."
"Hm.." Hinata merespon singkat karena sedang asik makan makanannya.
"Kalian, maksudku, kau dan Gaara kemana?" Tanya Sasuke penasaran juga.
Sasuke sebenarnya ingin bertanya kemarin, namun dia urungkan karena tidak ingin mengacaukan kembali suasana hati Hinata.
"Hanya mengunjungi galeri.."
"Begitu?" Sasuke tidak percaya.
Hinata menangkap sesuatu di wajah Sasuke. Hinata tersenyum tipis.
'Mungkinkah Sasuke cemburu?' Pikir Hinata.
"Apa begitu menyenangkan?"
"Tentu saja.. Hanya saja sayang, kami tidak bisa bertemu dengan pemilik galeri karena dia sedang melakukan bisnis dadakan. Padahal aku sangat menantikannya." Ujar Hinata senang.
"Lain kali ajak aku." Ini seperti perintah untuk Hinata.
"Eh.?"
"Kenapa?" Tanya Sasuke melihat Hinata yang sepertinya terkejut.
Hinata kaget karena sepertinya Sasuke bukan tipe orang yang mengagumi seni.
"Tidak.. Jika itu tidak membuatmu mati bosan, baiklah." Hinata sedikit menyindir.
"Hm.."
"Ng.. Ano Sasuke.."
"Hm?"
"Minggu depan maukah kamu menemaniku menghadiri acara Hanabi di sekolahnya?" Hinata ragu, namun tidak ada salahnya mencoba bukan?
"Baiklah.." Ucap Sasuke begitu saja.
"Benarkah? Janji?"
"Hm.."
"Jika kamu mengikarinya lagi, aku akan marah kepadamu.." Ancam Hinata menunjuk Sasuke.
"Hm.."
"Arigatou Sasuke.." Ucap Hinata pelan.
'Ini yang terakhir kalinya Sasuke.. Aku janji..' Hinata menunduk menutupi raut wajah sedihnya.
.
.
.
Hinata sudah berpikir keras dan selama seharian. Rasanya benar, dia tidak pantas untuk bersanding dengan Sasuke.
Memang dirinya itu siapa?
Gadis biasa? Gadis miskin?
Yaa, semua itu benar.
Dan disitulah letak kesalahannya, semua ini berubah karena perjanjian ayahnya dan ayah Sasuke, namun tetap tidak merubah situasi dan keadaan sebelumnya.
Hinata ingin kembali memulai hidup barunya tanpa Sasuke, meskipun dia mencintai Sasuke, namun Sasuke tidaklah memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.
Maka dari itu Hinata berpikir untuk menyerah dan membatalkan semuanya sebelum Hinata merasa tidak akan bisa pergi selamanya dan terperangkap oleh sosok Sasuke.
Acara Hanabi akan menjadi permintaan terakhir Hinata.
Setelah itu Hinata akan pergi dan menjauh dari kehidupan Sasuke. Yaa.. Hinata akan pergi..
.
.
.
Hinata menghela nafas berkali-kali, seolah dapat membantunya meringankan semua beban-bebannya.
Dia terus melangkah, pikirannya masih sedikit kacau, pembicaraan antara ke dua staff tadi pagi masih terus membayangi pikiran Hinata.
Sore ini Hinata meminta ijin kepada Mikoto dan Sasuke untuk membeli beberapa keperluan di supermarket.
Sebenarnya itu hanya alasan klise, agar Hinata bisa jalan-jalan merileks kan semua bebannya.
Awalnya Hinata kesulitan karena Mikoto yang terlalu protectiv, bahkan Mikoto akan membelikan semua keperluan Hinata untuk 1 tahun ke depan, namun dengan alasan tidak ingin merepotkan dan dia ingin sekalian jalan-jalan sore, maka Mikoto mengijinkan dengan di temani supir.
Sasuke sendiri mendapat meeting dadakan dengan seorang klien baru yang ingin menanamkan sahamnya di Hotel Uchiha, sehingga tidak dapat menemani Hinata.
Hinata meminta sang supir untuk menunggunya di parkiran dan merahasiakan hal ini dari Mikoto.
"Hinata?"
Hinata berbalik mendapati orang memanggil namanya.
"Gaara-San?"
"Kamu sendiri?"
Hinata menggeleng.
"Sasuke?"
Hinata kembali menggeleng.
"Aku dengan supir."
"Oh.. Kamu sedang apa?" Tanya Gaara.
"Jalan-jalan.." Hinata sendiri ragu sedang apa dirinya.
"Mau mengobrol sebentar?" Tawar Gaara tersenyum.
Hinata mengangguk dan tersenyum. "Bukan ide yang buruk." Lanjut Hinata.
Gaara senang, karena Hinata tidak menolak ajakannya.
Mereka mengunjugi sebuah cafe kecil yang ada di dalam mall.
Mereka berbincang kecil dan terkadang tertawa kecil.
"Gaara-San, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya Hinata serius dengan sedikit ragu.
"Hm.." Disertai anggukan kepala Gaara.
"Apa Sakura-San sungguh mencintai Sasuke?" Hinata menundukkan kepalanya. Hinata tahu jawabannya, dia pasti sudah tau.
Gaara menautkan alisnya.
"Iya.. Kami sudah mengenal dan bersahabat sejak dulu.. Sakura selalu mencintai Sasuke sejak saat itu sampai sekarang." Gaara terlihat biasa.
Hinata tersenyum miris. Hatinya tercabik-cabik meski dia sudah tahu jawabannya.
Pertanyaan yang akan di lontarkannya kali ini membuat hatinya semakin sakit, jujur dia tidak ingin mendengar jawaban itu, namun dia penasaran.
"Lalu.. Apa -"
"Sasuke?" Gaara sepertinya paham maksud pertanyaan Hinata selanjutnya.
"Aku tidak tahu, jika kamu ingin menanyakan apakah Sasuke menyukai Sakura." Lanjut Gaara kemudian menyeruput tehnya.
Hinata menjadi bingung.
"Hinata.."
"Hm.."
"Bagaimana jika aku bilang, aku menyukaimu sejak kita pertama kali bertemu?"
Mata Gaara menatap Hinata serius.
Hinata kaget? tentu saja.
Hinata bingung harus menjawab apa.
"Ba-Bagaimana bisa?" Hinata menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Gaara.
Hatinya berdebar mendengar pengakuan cinta dari seorang pria tampan, ini pertama kalinya untuk Hinata.
"Entahlah, cinta itu datang begitu saja.." Gaara tersenyum melihat Hinata yang menunduk malu.
"Ta-Tapi.."
"Kamu menyukai Sasuke? Aku tahu.." Sebenarnya itu bukan pertanyaan Hinata selanjutnya.
Hinata segera menatap Gaara dengan pandangan sulit di artikan.
"Aku akan menunggu.. Jika perlu aku akan membuatmu melupakan Sasuke.. Aku tidak tahan jika harus melihatmu menangis karena Sasuke.." Gaara tetap serius dengan ucapan, maupun pandangannya.
Tangan Gaara kali ini menggenggam tangan Hinata.
"Ku mohon, berikan aku kesempatan untuk membahagiakanmu.." Gaara tersenyum.
Hinata terdiam dan dia semakin bingung..
"A-Ah.. Se-Sebaiknya aku segera pulang.. Aku tidak ingin Mikoto-Baasan menungguku terlalu lama." Hinata sedikit memerah dan melepas genggaman tangan Gaara.
Hinata keluar dari cafe itu disertai dengan tatapan sendu Gaara.
.
.
.
Di dalam mobil Hinata lebih banyak melamun. Dirinya tidak menyangka Gaara akan menyatakan perasaannya.
Hinata bahkan hanya menganggap Gaara sebagai seorang teman yang baik, tidak lebih atau mungkin seorang kakak laki-laki. Perasaan Hinata sudah jauh lebih dulu jatuh kepada seorang Sasuke yang angkuh dan menyebalkan.
Dia semakin bingung harus bersikap seperti apa jika bertemu Gaara nanti.
"Hinata-Sama, kita sudah sampai." Sang supir menepuk pelan bahu Hinata karena Hinata memang sedang melamun.
"A-Ah.. Arigatou.." Hinata segera turun dari mobil dan membawa semua barang yang di belinya tadi.
Hinata baru akan melangkah ke dalam rumah, merasa seseorang yang nampak tidak asing berdiri di depan pintu.
"Ng.. A-Ano.." Sapa Hinata.
"Kamu pasti Hinata?" Sapa pria yang menyerupai Sasuke, namun rambutnya panjang lurus dan di ikat.
"Ha-Hai.." Hinata menjadi gugup sendiri.
"Aku kakak Sasuke, Itachi.." Itachi tersenyum.
Hinata merutuki dirinya yang bodoh, tidak ingat wajah Itachi, namun tetap saja semua anggota Uchiha aslinya lebih tampan dan cantik di bandingkan di dalam foto.
Hinata segera membungkuk memberikan hormat.
"Ah.. Tidak perlu sopan begitu.." Itachi tertawa kecil.
"Jadi kamu calon tunangan Sasuke?" Itachi meletakkan tangannya ke dagunya, seolah berpikir.
Hinata hanya menganggukan kepalanya.
"Hm.. Bagus juga selera Sasuke.." Itachi meneliti Hinata dari atas ke bawah, membuat Hinata sedikit merasa risih.
"Ayo masuk.." Itachi menarik tangan Hinata masuk ke dalam rumah bersama.
.
.
.
"Ahh.. Itachi sayang.." Mikoto sedang duduk di ruang tamu dan membaca beberapa majalah.
"Hinata kamu sudah pulang?" Lanjut Mikoto melihat Itachi yang tidak sendiri.
Hinata hanya menganggukan kembali kepalanya dan tersenyum.
"Okaasan, kenapa tidak menjodohkan Hinata denganku saja?" Rengek Itachi.
Hinata kaget.
Mikoto tersenyum.
"Itu keputusan Otousan-mu sayang.." Mikoto membelai wajah tampan Itachi..
"Dan lagi bukankah kamu sudah memiliki Conan?" Selidik Mikoto.
"Ah.. Aku sudah putus dengannya.." Itachi tersenyum.
Mikoto hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak sulungnya.
Itachi Uchiha, terkenal sebagai seorang playboy sejak SMP. Meskipun dia pintar dan tampan, namun dia tidak bisa menolak adanya pesona seorang wanita cantik. Itachi bahkan pernah memacari 5 wanita dalam 3 bulan dan sepertinya mereka tidak keberatan di 5 kan oleh Itachi.
Jika Itachi sudah merasa bosan, maka dia akan memutuskan semua gadis-gadis itu dan mencari gadis lainnya yang antri dengannya. Pernah dia memacari salah seorang dari fans-fans Sasuke.
Maka dari itulah Fugaku menjodohkan Hinata dengan Sasuke bukan Itachi, selain takut di permainkan oleh Itachi, alasan lainnya karena Sasuke belum pernah berpacaran dengan gadis manapun. Dia hanya sering terlihat bersama Sakura dan itu pun hanya sahabat menurut Fugaku.
Fugaku takut Sasuke benar akan menjadi seorang Gay.
"Sebaiknya kamu membersihkan diri, kita akan makan malam di luar.." Mikoto membelai rambut Hinata dan tersenyum manis. Mendapat perlakuan seperti ini Hinata jadi teringat ibu kandungnya.
"Hai.." Balas Hinata patuh.
Mikoto dan Itachi melihat kepergian Hinata menuju lantai 2.
"Hei.. Jangan coba-coba ganggu tunangan adikmu, atau Otousan dan Sasuke akan marah.." Ancam Mikoto, namun tidak benar-benar mengancam.
Itachi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hai.. Hai.. As your wish My Queen.." Itachi mengedipkan matanya ke Mikoto.
Itachi kemudian mendorong pelan bahu Mikoto untuk kembali duduk di sofa.
Rencananya mereka makan malam di luar untuk menyambut kepulangan Itachi dan juga sepertinya acara pertunangan Sasuke dan Hinata akan segera dilangsungkan.
.
.
.
TBC
.
.
.
Semuanya Maaf.. *Sujud-Sujud*
Saya sudah lama sekali menelantarkan fict ini..
Setelah meng-upload fict ini, saya akan menghilang sementara… hehehe..
Saya kini tengah sibuk dalam pembuatan skripsi dan tugas akhir lainnya..
Jika saya senggang akan saya upload lagi..
Janji…
*curhat*
Sekali lagi terima kasih kepada semua reader yang mendukung fict saya..
Muach… :*
Jaa….. \(^^)
