Winter in Tokyo by Ilana Tan

Chansoo Remake Versions

GS story

SAMBIL duduk bersandar di sofa, Chanyeol terpekur menatap layar laptop di hadapannya. Ia sudah terlalu sering memandangi foto-foto yang muncul silih berganti memenuhi seluruh layar laptop itu. Foto-foto yang dipotret dengan tangan dan kameranya sendiri. Foto-foto dengan objek yang sama. Foto-foto wanita itu.

Ia tahu seharusnya ia tidak boleh lagi membenamkan diri dalam kenangan tentang wanita di foto itu. Ia tahu ia tidak pantas, tetapi ia merasa belum sanggup menghapus bayangan wanita itu dari pikiran, ataupun menghapus foto-fotonya dari laptop. Sampai sekarang.

Lamunannya buyar ketika bel pintu apartemennya berbunyi. Tangannya otomatis menurunkan layar laptop, lalu bangkit dan berjalan ke pintu.

"Halo."

Chanyeol mengerjapkan mata melihat Do Kyungsoo berdiri di hadapannya dengan senyum lebar tersungging di wajah.

"Oh, halo." Chanyeol minggir sedikit ketika gadis itu berjalan masuk ke apartemennya sambil menggigil. "Kau sudah pulang?" Biasanya Kyungsoo belum pulang pada jam-jam segini.

"Ya, aku diizinkan pulang cepat karena flu. Biarkan aku masuk dulu. Dingin sekali

di koridor ini." Kyungsoo melepaskan sepatunya dan berganti mengenakan sandal Hello Kitty yang tersedia di jajaran sepatu dan sandal di samping pintu. Tadi pagi sebelum berangkat kerja, Kyungsoo mampir lagi untuk menaruh sepasang sandal yang sudah lama tidak dipakainya di apartemen Chanyeol. Biar praktis saja, ia punya sandal ganti di apartemen tetangganya itu.

Chanyeol menyadari suara Kyungsoo yang sengau dan baru teringat gadis itu sedang flu. Ia cepat-cepat menutup pintu dan mengikuti Kyungsoo ke ruang tengah. Ia juga menyadari langkah gadis itu agak timpang.

"Hari ini kita tidak jadi makan gado-gado," kata Kyungsoo sambil berputar ke arah Chanyeol. Tanpa menunggu jawaban ia melanjutkan, "Tadi aku ketemu Nenek Osawa di bawah. Beliau masak shabushabu dan kita disuruh ikut makan bersama. Dan ngomong- ngomong, kau punya sake? Persediaan sake Kakek sudah habis. Aku disuruh minta padamu, makanya langsung ke sini begitu pulang."

"Punya," sahut Chanyeol setelah mencoba mengingat-ingat. Tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan. "Kau sudah menuruti saranku dan pergi ke dokter?"

Kyungsoo mengangkat sebelah alis. "Sebelum aku menyebarkan virus ke mana-mana?" Ia tertawa kecil. "Tentu saja sudah. Ayo cepat cari sake-nya dan kita turun. Aku sudah lapar nih."

Chanyeol tertegun. Ia menatap gadis di depannya dengan bingung. Tiba-tiba saja ia menyadari sesuatu. Tiba-tiba saja ia tahu kenapa kini ia sanggup melepaskan kenangan masa lalu itu.

Kyungsoo menatap Chanyeol berjalan ke lemari dapur dan mulai mencari-cari sake simpanannya. Ternyata tetangganya itu tidak memerhatikan kakinya yang diperban. Yah, tentu saja Chanyeol tidak menyadarinya karena pergelangan kaki Kyungsoo sendiri tertutup celana panjang. Tapi memangnya Chanyeol tidak menyadari langkahnya agak timpang? Sebenarnya Kyungsoo ingin laki-laki itu bertanya, sehingga ia bisa menceritakan kejadian di rumah sakit tadi siang. Memikirkannya saja sudah membuat Kyungsoo tersenyum-senyum. Nah, siapa yang menyangka ia bisa bertemu kembali dengan cinta pertamanya setelah tiga belas tahun?

Laptop yang setengah tertutup di meja menarik perhatiannya. Karena tidak tahu apa yang mesti dilakukannya sambil menunggu Chanyeol, Kyungsoo iseng-iseng menegakkan layar laptop dan melihat apa yang sedang dikerjakan laki-laki itu sebelum ia membunyikan bel pintu.

Foto seorang wanita berambut panjang sebahu terpampang jelas di layar. Wanita yang tersenyum lebar ke arah kamera itu jelas orang Asia, tetapi di latar belakang foto itu terlihat patung Liberty.

Siapa wanita itu?

Sebelum Kyungsoo sempat berpikir lebih jauh, fotonya lenyap dari layar dan digantikan foto lain. Masih wanita yang sama, namun di lokasi yang berbeda. Kyungsoo mulai heran ketika melihat foto-foto selanjutnya juga menampilkan wanita yang sama.

Apakah wanita ini model?

Lalu foto berikutnya muncul dan Kyungsoo tertegun. Kali ini wanita itu tidak sendirian di dalam foto. Park Chanyeol juga ada di sana. Sepertinya foto itu diambil di restoran. Mereka berdua duduk berdampingan dan tersenyum. Hanya saja si wanita tersenyum ke arah kamera seperti foto-foto sebelumnya, sedangkan Chanyeol tersenyum memandang wanita itu. Dan itu bukan senyum biasa. Di dalam foto itu Chanyeol tersenyum seakan-akan...

"Ketemu!"

Kyungsoo tersentak mendengar suara Chanyeol. Wajahnya terasa panas dan ia merasa seakan ia tertangkap basah mengintip rahasia orang lain. Perasaannya tidak enak.

"Hanya ada satu botol," kata Chanyeol sambil berjalan mendekatinya. "Tidak apa-apa, bukan?"

"Tentu," kata Kyungsoo tergagap. Ia melirik laptop di meja dengan pandangan bersalah. Chanyeol mengikuti arah pandang Kyungsoo dan melihat layar laptop-nya sudah terangkat. Ia tersenyum. "Kau sudah melihatnya, ya?" tanyanya.

Kyungsoo mengangkat bahu serbasalah. Sebaiknya ia tidak berpura-pura bego. "Siapa wanita itu?" tanyanya.

Chanyeol menghampiri laptop dan mematikannya. "Wanita yang pernah kusukai," jawabnya.

"Oh."

"Tapi dia lebih menyukai sahabatku." "Oh...?"

"Mereka akan menikah," kata Chanyeol lagi.

Kyungsoo membuka mulut ingin menanyakan sesuatu, tapi tidak jadi. Ia tidak tahu apakah pertanyaan yang ingin ditanyakannya itu terlalu pribadi.

"Kau benar," gumam Chanyeol tiba-tiba sambil tersenyum samar, seakan bisa membaca pikiran Kyungsoo. "Karena itulah aku datang ke Tokyo. Konyol sekali, bukan?" Kyungsoo menggeleng. "Entahlah." Ia berhenti sejenak, lalu bertanya ragu, "Lalu bagaimana sekarang?"

Jeda sesaat sementara Chanyeol berpikir-pikir. "Semenjak aku datang ke Tokyo, aku jarang memikirkannya. Dan akhir-akhir ini aku hampir tidak pernah memikirkannya." "Bukankah itu bagus."

"Ya, kurasa itu bagus," gumam Chanyeol dengan nada melamun.

Melihat laki-laki itu agak murung, Kyungsoo buru-buru mengalihkan pembicaraan.

"Baiklah. Ayo, kita turun sekarang. Mereka pasti sudah menunggu kita."

Ketika Kyungsoo akan berjalan ke pintu, ia mendengar Chanyeol bertanya, "Kakimu kenapa?"

Akhirnya! Kyungsoo tersenyum dan berputar kembali menghadap Chanyeol, lalu menunduk dan menarik ujung celana panjangnya ke atas, memperlihatkan pergelangan kaki kirinya yang diperban.

"Terkilir sewaktu di rumah sakit," sahutnya dengan nada gembira. "Tidak parah." Chanyeol mengamati kaki Kyungsoo yang diperban. Kali ini keningnya berkerut. "Tidak sakit?"

"Tentu saja sakit."

"Bagaimana kakimu bisa terkilir?" tanya Chanyeol. Matanya kembali ke wajah Kyungsoo.

Aku menabrak seseorang di rumah sakit," jawab Kyungsoo cepat dan penuh semangat. "Hei, kau mau tahu siapa yang kutabrak?"

"Siapa?"

"Cinta pertamaku."

"Oh?" Hanya itu reaksi Chanyeol, tapi Kyungsoo tidak peduli. Ia sedang bersemangat dan ingin bercerita.

"Dia sudah banyak berubah... Yah, itu memang sudah pasti. Lagi pula aku sendiri sudah lupa wajahnya tiga belas tahun yang lalu itu. Aku hanya ingat dia memakai topi biru." Kyungsoo terdiam sejenak, seperti sedang melamun. "Aku tidak akan mengenalinya kalau perawat itu tidak memanggil namanya."

Chanyeol membuka pintu dan Kyungsoo mengikutinya keluar. "Kau yakin memang dia orangnya?" tanya Chanyeol sambil menutup pintu.

"Ya, sudah kutanyakan langsung padanya." "Dia juga masih ingat padamu?"

Kyungsoo tertawa pelan. "Tidak, dia tidak ingat. Kami dulu memang bukan teman sepermainan dan dia memang tidak mengenalku. Aku tahu tentang dia karena dulu dia pernah membantuku dan aku terpesona. Dia sangat ramah." Chanyeol tidak berkomentar.

"Lihat." Kyungsoo mengayunkan kaki kirinya ke depan. "Dia juga yang membalut kakiku. Dia dokter! Keren, kan?" Chanyeol menatap kaki kiri yang diacungkan itu, lalu beralih menatap tangga di depannya. Setelah berpikir sejenak, ia menyerahkan botol sake kepada Kyungsoo, lalu berjalan ke tangga dan duduk di anak tangga teratas, memunggungi Kyungsoo.

"Apa?" tanya Kyungsoo tidak mengerti.

Chanyeol menoleh dan menepuk punggungnya sendiri. "Ayo, biar kugendong sampai ke bawah. Kau pasti susah naik-turun tangga dengan kaki seperti itu."

Kyungsoo ragu-ragu. Alisnya terangkat.

"Kau yakin?"

"Tentu."

"Aku lumayan berat."

"Kelihatannya memang begitu."

Kyungsoo berkacak pinggang. "Nah, apa maksudmu sebenarnya?"

"Oh, ayolah. Aku hanya bercanda," sela Chanyeol sambil tertawa kecil. "Aku mulai kedinginan, jadi tolong cepat."

Kyungsoo menarik napas. "Sebaiknya kau tidak menyesal," gumamnya sambil berdoa dalam hati semoga laki-laki itu tidak ambruk karena berat badannya. Setelah memantapkan hati, Kyungsoo merangkulkan kedua lengannya di leher Chanyeol dan membiarkan laki-laki itu menggendongnya.

"Wah, ternyata kau..."

Kyungsoo memukul bahunya. "Sudah kubilang!"

Chanyeol tertawa dan berdiri tanpa kesulitan. "Aku hanya ingin bilang ternyata kau tidak seberat yang kuduga."

"Tidak seberat yang kauduga?" tanya Kyungsoo sambil mengerutkan kening. "Jadi maksudmu aku terlihat gemuk?" Suaranya agak melengking.

Chanyeol menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dan menuruni anak tangga dengan hati-hati.

"Apa katamu?" tanya Kyungsoo sambil bergerak-gerak ingin melihat wajah Chanyeol. Chanyeol memperbaiki posisi Kyungsoo di punggungnya sambil mendesah, "Kau sadar aku sedang menggendongmu turun tangga? Kalau kau tidak mau kita jatuh terguling sepanjang jalan, sebaiknya kau tidak bergerak-gerak."

"Tadi kaubilang aku tidak berat," protes Kyungsoo.

"Kau memang tidak berat. Setidaknya tidak seberat yang kuduga."

Kyungsoo kembali mengernyitkan kening tidak mengerti. "Lalu kenapa kaubilang kita bisa jatuh terguling kalau aku memang tidak berat?"

"Karena kalau kau bergerak-gerak, aku bisa kehilangan keseimbangan. Itu masalahnya," sahut Chanyeol dengan nada seperti sedang menjelaskan kepada anak kecil berumur lima tahun kenapa manusia tidak bisa terbang seperti burung.

"Tidak mungkin," balas Kyungsoo, masih tidak puas. "Kalau aku memang seringan bulu, meskipun sekarang aku berjumpalitan, kau tidak mungkin jatuh." Chanyeol tertawa. "Siapa bilang kau seringan bulu?"

Kyungsoo mengguncang-guncang bahu Chanyeol. "Jadi menurutmu aku gemuk?" pekiknya. "Ayo, bicara yang jelas!"

Tawa Chanyeol semakin keras. "Aduh, kau mencekikku."

Kyungsoo tidak bisa menahan diri untuk ikut tertawa, tapi ia tetap merangkul leher Chanyeol erat-erat dan mengancam, "Jadilah pria sejati dan bicara yang jelas. Aku gemuk atau tidak?"

Dan pembicaraan tentang cinta pertama Kyungsoo pun untuk sementara terlupakan.

Chanyeol tidak bermaksud memulai perdebatan tentang berat badan. Sebenarnya topik itu juga bukan topik yang suka dibicarakannya. Terlebih lagi dengan wanita. Tetapi lebih baik berdebat tidak jelas tentang berat badan daripada mendengarkan gadis itu bercerita tentang cinta pertama yang baru dijumpainya setelah bertahun-tahun.

"Ngomong-ngomong, foto yang kaukirimkan padaku itu foto apa?" tanya Kyungsoo.

Chanyeol tersenyum kecil mengingat foto yang dikirimkan ke ponsel Kyungsoo tadi siang.

"Kau tidak tahu?" ia balas bertanya. "Belum tahu?"

"Sepertinya foto langit malam dan bintang," jawab Kyungsoo ragu-ragu.

"Kau akan tahu saat kau akan tidur nanti. Tapi kau harus memadamkan lampu. Kau bahkan tidak boleh menyalakan lampu kecil di samping tempat tidurmu itu."

"Kenapa?"

"Karena sesuatu yang indah akan terlihat saat gelap," sahut Chanyeol penuh teka- teki.

"Aku masih tidak mengerti," gerutu Kyungsoo.

Chanyeol tertawa dan mengalihkan pembicaraan. "Semua lampu di apartemenmu sudah bisa menyala, bukan?"

"Sudah," sahut Kyungsoo lega.

"Berarti kau tidak akan bermalam di tempatku lagi hari ini?" tanya Chanyeol ketika mereka tiba di depan pintu apartemen Kakek dan Nenek Osawa.

"Bermalam...?" Kyungsoo terdengar kaget. "Apa maksudmu? Kau membuatnya terdengar seperti..." Lalu gadis itu mulai mengomel dalam bahasa ibunya sambil mengguncang-guncang bahu Chanyeol sekali lagi.

"Aduh, tunggu...," kata Chanyeol susah payah di sela-sela tawanya.

Tepat pada saat itu pintu apartemen 101 terbuka dan Park Sandara berdiri di sana sambil memandangi mereka dengan mata lebar dan alis terangkat heran.

"Turunkan aku," gumam Kyungsoo kaku dan buru-buru turun dari gendongan.

Chanyeol menurutinya, walaupun ia tidak mengerti kenapa sikap Kyungsoo tiba-tiba berubah.

"Oneesan, aku sudah membawa Chanyeol-san dan juga sake-nya," kata Kyungsoo riang begitu kakinya kembali menginjak lantai. Ia bergegas menghampiri Sandara sambil menyodorkan botol sake Chanyeol.

"Oh ya, bagus," kata Sandara sambil memandang Chanyeol dengan senyum lebar penuh arti. "Ayo, masuk, Chanyeol-san. Semua sudah berkumpul dan sedang mengobrol di dalam. Mungkin kau bisa menyumbang obrolan menarik?"

"Siapa yang kaupilih?"

Kyungsoo sedang membantu Nenek Osawa di dapur ketika Sandara menghampirinya dan berbisik dengan nada mendesak. Kyungsoo menoleh dan melihat mata tetangganya berkilat-kilat penasaran.

"Apa maksud Oneesan?" gerutu Kyungsoo salah tingkah, lalu kembali berkonsentrasi pada tugasnya memotong sayur.

"Kau sangat mengerti maksudku," sela Sandara tanpa ampun, masih dengan suara berbisik mengingat Nenek Osawa sedang mencuci sayur tidak jauh dari mereka. Sandara menyiku Kyungsoo. "Tadi saat menelepon, kau bercerita panjang-lebar padaku tentang cinta pertamamu yang sudah jadi dokter itu. Kau begitu gembira dan tersenyum begitu lebar sampai kukira mulutmu bakal robek. Lalu tiba-tiba kau tertangkap basah sedang gendong-gendongan dengan Chanyeol-san."

Mata Kyungsoo melebar kaget. "Gendong-gen...?" Teringat Nenek Osawa ada di dekat mereka, ia merendahkan suara. "Oneesan!"

Sandara menatapnya dengan mata disipitkan. "Kau suka yang mana?" Kyungsoo membuka mulut ingin membela diri, tapi tidak jadi. Tidak ada gunanya mengikuti permainan Sandara. Jadi ia hanya mendesah dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Tapi menurutku Kyungsoo-chan dan Chanyeol cocok sekali."

Kyungsoo dan Sandara serentak menoleh ke arah suara bernada kecil dan ramah itu. Nenek Osawa memandang mereka berdua sambil tersenyum cerah. Matanya berkilat-kilat senang. "Bukankah begitu?"

"Tapi," Kyungsoo mencoba menyela, "kami sungguh tidak ada hubungan apa-apa."

"Ada hubungan juga tidak apa-apa," timpal Sandara cepat.

"Benar sekali," dukung Nenek Osawa. "Senang sekali melihat kalian berdua bersama."

Kyungsoo mengerjap-ngerjapkan mata. "Tapi... tidak, maksudku..." Kenapa dua orang itu tiba-tiba berkomplot melawannya?

"Tentu saja kau tetap harus memilih salah satu," tambah Sandara, mengingatkan Kyungsoo pada topik awal.

"Menurutku Chanyeol itu anak baik," kata Nenek Osawa ringan sambil mengangkat bahu.

Kyungsoo mengembuskan napas dan menggeleng-geleng lagi. "Tapi aku tidak punya perasaan apa pun padanya. Aku tidak... menyukainya."

"Siapa? Chanyeol-san?"

Sebelum Kyungsoo sempat menjawab pertanyaan Sandara itu, terdengar suara Nenek Osawa menyela, "Jangan berkata begitu kalau kau sendiri tidak yakin, Kyungsoo-chan."Kyungsoo tertegun.

Nah, apa maksudnya?

Nenek Osawa memandangnya dengan ramah dan senyum yang seakan menyatakan ia tahu lebih banyak daripada Kyungsoo sendiri. "Kita tidak mau mengatakan sesuatu yang nantinya akan kita sesali, bukan?"

Untungnya Kyungsoo tidak perlu menjawab karena tepat pada saat itu lagu Fly High- nya Hamasaki Ayumi terdengar.

Sementara para wanita sibuk di dapur, para pria duduk mengobrol di ruang duduk. Kakek Osawa sedang bercerita tentang masa mudanya dulu ketika ia masih bekerja sebagai petugas keamanan di sekolah menengah, salah satu topik yang paling disenanginya. Chanyeol berpikir tidak mungkin semua kejadian yang diceritakan orang tua itu benar. Mungkin ada beberapa bagian yang dilebih-lebihkan. Tetapi baik ia maupun Hanbin tidak keberatan karena Kakek Osawa pintar bercerita dan selalu berhasil membuat mereka semua terhibur.

"Hari Natal selalu membuat anak-anak senang. Anak-anak perempuan sibuk merajut syal atau topi untuk anak-anak laki-laki yang mereka sukai. Bahkan dulu ada satu anak perempuan yang merajutkan syal hangat untukku," kenang Kakek Osawa.

"Mungkin sebenarnya syal itu dirajutnya untuk anak laki-laki yang disukainya, tapi ternyata anak laki-laki itu menolak hadiahnya. Akhirnya karena tidak tega membuang syal itu, anak perempuan itu memberikannya kepada Kakek," gurau Hanbin.

Chanyeol tertawa.

"Kalian ini," gerutu Kakek Osawa sambil mendecakkan lidah, lalu ia ikut tertawa kecil dan bertanya, "Lalu apakah kalian punya rencana istimewa pada Hari Natal tahun ini?"

Hanbin mengangkat bahu. "Kalau aku tidak ada yang benar-benar istimewa. Paling-paling hanya berkumpul dengan beberapa temanku."

"Tidak ada kencan istimewa?" Kakek Osawa terkekeh. "Tidak ada gadis yang cukup cantik untuk menarik perhatianmu di kampus?"

Hanbin mendesah dan menggeleng kecewa.

"Bagaimana denganmu?" Kakek Osawa beralih ke Chanyeol. "Ada kencan istimewa?" Chanyeol mengangkat wajah. "Aku? Hmm, aku belum tahu."

"Belum tahu?" tanya Hanbin. "Kenapa?"

"Aku belum mengajaknya." Chanyeol berhenti sejenak, lalu meralat, "Sebenarnya sudah, hanya saja tidak secara langsung. Dia juga tidak menanggapi dengan serius." "Oniisan seharusnya bertanya langsung," kata Hanbin memberi saran. "Zaman sekarang ini semuanya harus serba langsung. To the point. Benar tidak, Kakek? Oniisan harus bergerak cepat sebelum direbut orang lain. Lagi pula cewek juga tidak berbasa- basi kalau mau menolak kita."

"Jadi kau pernah ditolak mentah-mentah?" tanya Kakek Osawa.

Sementara Hanbin menceritakan salah satu kisah cintanya, Chanyeol berpaling ke arah dapur. Ia melihat Kyungsoo sedang memotong-motong sayur sambil mengobrol dengan Sandara dan Nenek Osawa. Bertanya langsung, ya? Bergerak cepat sebelum direbut orang lain. Hmm...

Chanyeol masih tetap mengamati Kyungsoo ketika gadis itu tiba-tiba merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel yang berbunyi nyaring. Lalu gadis itu sedikit terkesiap dan menjauh dari Sandara dan Nenek Osawa. Chanyeol tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Kyungsoo, tapi ia berhasil menangkap satu patah kata ketika Kyungsoo menjawab telepon. Sensei.

Kemudian pandangan Chanyeol terhalang ketika Sandara menghampiri meja sambil membawa piring dan sayuran.

"Sayuran sudah siap. Kita bisa mulai makan," kata Nenek Osawa yang menyusul dari belakang.

"Di mana Kyungsoo-chan?" tanya Kakek Osawa.

"Oh, dia sedang menerima telepon di dapur," kata Sandara sambil tersenyum lebar. "Telepon dari si dokter cinta."

"Dari siapa?" Chanyeol bahkan tidak menyadari ia mengucapkan kata-kata itu dengan lantang dan jelas.

"Si dokter cinta," Sandara mengulangi. "Cinta pertamanya yang sekarang sudah menjadi dokter. Sepertinya si dokter berencana mengajaknya kencan. Menyenangkan sekali."

Chanyeol menoleh kembali ke dapur. Ia teringat kata-kata Hanbin tadi. Oniisan harus bergerak cepat sebelum direbut orang lain.

"Terima kasih banyak," kata Kyungsoo riang sambil menepuk-nepuk pundak Chanyeol ketika laki-laki itu menurunkannya di depan pintu apartemennya. Chanyeol menegakkan tubuh dan mendesah.

"Kau bertambah berat setelah makan." Kyungsoo tersenyum lebar. "Itu wajar, bukan? Lagi pula aku memang makan banyak tadi."

Chanyeol mengangkat alis. "Aneh sekali. Kau tidak uring-uringan walaupun kubilang bertambah berat." Ia menatap Kyungsoo sejenak."Sepertinya kau sedang gembira."

"Aku memang gembira."

"Karena mendapat telepon dari si dokter cinta?" "Dokter apa?" Kyungsoo memandangnya tidak mengerti.

"Cinta pertamamu itu."

Kyungsoo mengangkat bahu, kembali tersenyum. "Ya, itu salah satu alasannya." Ia menunduk menatap kaki kirinya, lalu kembali menatap Chanyeol sambil tersenyum. "Ia menanyakan keadaan kakiku."

Chanyeol diam sejenak, seakan sedang berpikir-pikir. "Cepatlah masuk," katanya tiba-tiba. "Nanti flumu bertambah parah."

Agak heran, Kyungsoo mengiyakan dan membuka pintu.

"Kyungsoo?"

Kepala Kyungsoo berputar. "Apa?" Dengan tangan memegang pegangan pintu apartemennya sendiri, Chanyeol menoleh menatap Kyungsoo. "Jangan lupa matikan semua lampu saat kau tidur nanti." Kening Kyungsoo berkerut samar. "Kau tahu aku tidak suka gelap." Chanyeol mengangkat bahu. "Coba saja dan kau akan lihat nanti." "Lihat apa?"

"Kalau kau tidak mencoba kau tidak akan tahu, bukan?" kata Chanyeol sambil tersenyum, lalu masuk ke apartemennya, meninggalkan Kyungsoo yang kebingungan sendiri.

Tiba-tiba lagu Fly High terdengar dan membuat Kyungsoo tersentak. Ia menggigil, lalu bergegas masuk ke apartemennya sendiri sebelum mengeluarkan ponsel.

"Moshimoshi?"

"Kyungsoo?"

Mendengar suara ibunya di ujung sana, Kyungsoo secara otomatis langsung berbicara dalam bahasa Indonesia. "Halo, Ma!" Ia mengenakan sandal rumah dan mengempaskan diri ke sofa empuk, bersiap-siap mengobrol panjang-lebar dengan ibunya.

Dua jam kemudian, ketika ia keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka, bersiap-siap tidur, Kyungsoo baru teringat kata-kata Chanyeol tadi.

"Matikan lampu?" gumamnya pada diri sendiri sambil berdiri di kamar tidurnya.

Kyungsoo berpikir sejenak, lalu mengangkat bahu. "Tidak ada salahnya dicoba."

Ia berjalan ke sakelar lampu. Sebelah tangannya memegang dinding supaya ia tidak merasa tersesat dan tangan yang satu lagi menggapai sakelar lampu. Dengan sekali jentikan, lampu kamar tidurnya pun padam.

Seketika itu juga Kyungsoo mengerjap-ngerjapkan mata dan terkesiap. Langit-langit kamar tidurnya bertabur bintang! Bintang-bintang besar dan kecil memancarkan nyala kuning kehijauan yang samar.

"Astaga," gumamnya pelan. Perlahan-lahan tangannya terlepas dari dinding dan ia melangkah ke tengah-tengah kamar, masih tetap mendongak menatap langit-langit kamar tidurnya dengan takjub. "Bagaimana...? Astaga," gumamnya sekali lagi.

Kemudian ia menyadari foto yang dikirimkan Chanyeol ke ponselnya adalah foto langit-langit kamarnya. Ternyata sementara mengawasi tukang listrik memperbaiki kabel, Chanyeol melukis langit-langit kamar tidurnya menjadi langit bertabur bintang dengan cat khusus yang bisa menyala dalam gelap. Siapa yang menyangka laki-laki itu juga pandai melukis?

Kyungsoo teringat tulisan yang tertera di bawah foto yang dikirimkan Chanyeol tadi siang: Kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu gelap?

Kyungsoo masih tercengang. Kemudian ia meraih ponsel dan menekan beberapa tombol. Setelah menunggu sesaat, hubungan tersambung. "Chanyeol-san?" Ia mendongak menatap bintang-bintang yang menghiasi langit-langit kamarnya. "Kau apakan langit-langit kamarku?" Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum. "Indah sekali. Terima kasih."

TBC...