pat. pat. pat. pat. pat.

Login.

Klik!

enter username or code.

pat. pat. pat. pat. pat. pat.

pat. pat.

...

Klik!

enter password.

pat. pat. pat. pat. pat.

...

*loading...*

...

Klik!

OOPS!

You might be a spammer.

Please retry your request later.


Keringat dingin terus mengucur dari kedua pelipis, namun sayangnya, tidak ada waktu bagi Ian Kirkland untuk menyekanya barang sedetik saja.

Irisnya bergulir ke segala arah menatapi layar Jasmine, tatapannya menyiratkan suatu kecemasan.

Sekarang, data-data 'kekayaan' keluarga Kirkland di dalam perangkat Jasmine bukan hanya di-lock, namun juga disusupi oleh virus CrashDt, yang entah siapa yang menjadi pelakunya.

Arthur sudah pergi dari ruangan dimana Ian berada, dia sendiri yang mengusir pria yang juga beralis tebal itu untuk keluar dan meninggalkannya dengan halus.

... Yang tentunya dengan alibi: jika ada orang lain yang bersama dengan dirinya ketika Ian sedang (mencoba) untuk berkonsentrasi penuh, maka konsentrasinya malah akan buyar kemana-mana.

...

"A-aku tidak bisa..."

Jemarinya beralih tugas untuk mengetik tombol-tombol pada telepon kabel di dekatnya. Nomor telepon, milik seseorang yang dikenalinya.

Nada statis penyambungan antara kedua belah pihak melalui telepon Ian dengar.

("Hallo?")

"Aku- aku membutuhkan bantuanmu, Kartika Honda..."

...

Oh, dan satu lagi. Ian sendirilah yang meminta pada Allistor untuk menggantikan pria itu dalam mengatasi teretasnya superkomputer keluarga mereka.

...

...

...

...

...

"Bisa kau kesini sebelum dua hari lagi —tanggal 20 Maret? Jika perlu dengan Kiku juga..."

("Tentu saja bisa. Aku akan bersiap-siap untuk segera berangkat ke London...")

Dia tersenyum. "Baik, akan aku atur masalah penerbangannya kemari."

("Sure.")

PIP!

Namun, sedetik setelah sambungan kedua insan diputuskan oleh pihak di seberang sana, senyumannya berubah menjadi seringaian...

•••

"Aku lapar..."

Sejak senja tadi, Peter hanya berguling-guling di atas kasurnya dengan wajah memelas. Bibirnya sudah memutih dan kering, tanda dehidrasi.

Tangan kecilnya terus memegangi perutnya, Peter benar-benar dalam kondisi lapar.

Tadi pagi, dia hanya menelan beberapa suap sendok penuh mi carbonara buatan Alice kemarin senja.

Sejak saat itu, Peter tidak memasukkan santapan apapun untuk mengenyangi perutnya.

"Aku lapaaaaaarrr..."

Alice bahkan tidak berkunjung ke rumah, Peter justru malah berguling tidak jelas di atas kasur (yang beruntungnya, kasur itu berukuran King Size yang diperkirakan muat untuk lebih kurang enam orang seumuran dengan Peter.

"Aku lapaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrr!"

...

Bruk!

"Ouch!"

Tangan mungilnya mengelus dahi bagian kanannya yang terbentur indah dengan lantai dingin berubin.

...~o0o~...


HETALIA - AXIS POWERS (c) HIMARUYA HIDEKAZU. Penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya.

-chapter VII-

- RENCANA -

.

{Just wanna think about that is who you are.}

Rated: T (R13). Genre: Family, Angst, semi Science-Fiction. Language: INDONESIAN. Notes: AU, OC, contains nyotalia, contains 2p! Hetalia, typos, etc...

-Indonesia; 08 Agustus 2017-


~...0o0...~

Arthur hanya bisa melihat dengan warna netra cemas. Allistor menghubungi Eduard berkali-kali, dengan tajamnya tatapan yang mulai melemas.

"Bagaimana?"

"... Missconection." Allistor menghela nafas, ponsel berlayar sentuh dia letakkan di atas meja berbahan kayu jati yang berukir. "Eduard tetap belum bisa dihubungi."

"Bagaimana bisa? Bukankah beberapa jam yang lalu kita masih bisa menghubungi Eduard?" Arthur baru saja kembali dari ruangan Jasmine, meninggalkan Ian sendirian di sana.

"Tadi dan sekarang itu berbeda, Arthur." Allistor menatap lemas pada berkas-berkas yang berisi identitas lengkap Jasmine.

"Mungkin dia sedang di perjalanan. Kita tunggu saja."

Suara perempuan itu menengahi dialog mereka berdua.

Alice Kirkland.

...

-oOo-

...

"Eduard von Bock. Dipanggil oleh tuan Arthur Kirkland dan Allistor Kirkland."

"Di Golden Room nomor dua puluh tiga di lantai empat."

"Terima kasih."

...

...

...

...

...

Orang-orang di sepanjang langkahnya menatapnya heran, heran akan penampilan Eduard yang tidak bisa dikatakan 'rapi'.

Kemeja yang basah karena keringat bercucuran. Rambut yang tidak jelas lagi rupanya karena tersibak-sibak angin. Langkah yang terseok-seok karena kaki kirinya yang keseleo saat berlari mengejar kereta selanjutnya.

Pula dengan kacamata yang remuk karena terinjak berulang kali oleh para pejalan kaki yang seolah tidak acuh dengan keadaannya.

Bagaikan sudah jatuh, tertimpa tangga, penuh dengan luka-luka, dan tidak ada yang berniat untuk menolong.

Eduard hanya bisa bernafas lega dengan berbalut rintihan pelan ketika seperangkat laptop, lengkap dengan charger dan mouse pemindah kursor yang berada di dalam tas hitamnya tidak ikut terinjak oleh orang lain.

to be continued...


SELAMAT HARI JADI ASEAN, READERS!

*eh, apa cuma saya yang inget? :"v*