Price Tag
Rival
Hari berikutnya setelah ketua dan wakil ketua untuk kelas yang mewakili festival sekolahpun datang. Luhan dan Sehun yang terpilih harus mengikuti rapat pengarahan dengan anggota organisasi sekolah dalam mengisi data tentang kelas yang mengikuti festival, tema yang akan kelas mereka pilih, lalu persyaratan dan peraturan festival sekolah mereka tahun ini.
Luhan sudah menunggu Sehun didepan kelas, Sehun belum juga muncul sampai jam 7 bel sekolah mereka bordering. Luhan hanya bisa menatapi jam tangannya dengan malas sambil melihat keujung lorong sekolah, berharap Sehun segera muncul dari manapun. Setelah menunggu sekitar 15 menit, jam menunjukkan pukul 07.15 am, dengan berat hati Luhan memutuskan untuk pergi duluan keruang osis sekolah mereka yang berada didekat ruang guru. Yeoja ini berjalan sambil menghela napasnya, Sehun pasti akan selalu telat seperti ini lalu mengapa namja itu menunjuk dirinya sendiri menjadi wakil ketua? Dan yang membuat Luhan khawatir, yeoja ini pasti tidak akan bisa mengobrol dengan Sehun, pasti obrolan mereka akan terlihat sangat awkward apalagi Luhan sudah melihat Sehun dengan yeoja chingunya waktu itu.
"Semoga semuanya akan berjalan lancar"
Gumam Luhan sendiri berdoa didalam hatinya. Ia kembali menghela napas untuk kesekian kalinya. Beberapa saat kemudian yeoja inipun sampai diruang osis yang terlihat sudah memulai rapat mereka. Baru Luhan membuka pintu ruangan itu untuk masuk kedalam yeoja ini terdiam ditempatnya berdiri.
Namja yang sepertinya tadi sedang menjelaskan sesuatu didepan kelas ini terdiam menghentikan kegiatannya, ia menatap Luhan dari kejauhan dengan agak bingung.
"Maaf, saya perwakilan dari kelas 2-1 izin untuk masuk kedalam rapat" ucap Luhan tak begitu memperdulikan namja yang masih terlihat bingung didepan kelas itu.
Namja bersurai hitam itu mengangguk pelan. Luhan menganggap dirinya sudah diperbolehkan untuk masuk kedalam rapat segera menempatkan dirinya dibangku terdekat. Namja didepan kelas itu kembali melanjutkan penjelasannya sambil menahan senyumnya melihat Luhan masuk kedalam ruangan ini.
Kim Jongin.
Luhan menatap Jongin dari kejauhan dengan tatapan kesalnya. Yeoja ini terus mengigiti bibir bawahnya. Baekhyun benar-benar sangat membantu dirinya semakin membenci Kim Jongin, tentu saja karena sekarang ia harus datang kerapat organisasi sekolah yang memang dipimpin oleh Jongin. Setiap haripun yeoja ini harus bertemu dengan Jongin, tidak ada alasan baginya lagi untuk menghindar dari Jongin.
"Maaf aku terlambat"
Bisik namja disebelah Luhan. Yeoja ini langsung tersadar dari pemikirannya sendri tadi lalu menatap siapa yang berbisik padanya itu dan benar saja perasaan yeoja ini mengenali suara namja itu terjawab saat melihat namja disebelahnya.
Dahi yeoja ini berkerut setelah melihat Sehun yang sudah duduk dengan santai disampingnya. Namja itu langsung mengalihkan pandangannya dan berkonsentrasi penuh oleh penjelasan Jongin. Luhan masih menatap Sehun dalam diam, karena Sehun menyadarinya namja itu segera menyuarakan pikirannya.
"Kau seperti melihat hantu" gumam Sehun pelan.
Mendengar komentar Sehun membuat Luhan jengkel sendiri dengan namja disampingnya itu. ia sudah menunggunya dari tadi dan namja itu seenaknya saja sekarang duduk disampingnya sambil berpura-pura serius mendengarkan Jongin, walau sebenarnya Luhan tidak begitu tahu apa yang sekarang sedang Sehun dengarkan dan pikirkan ditempatnya duduk.
"Kau terlambat, sangat terlambat"
Komentar balik Luhan, nada suaranya mulai terdengar kesal. Luhan kembali mengalihkan pandangannya pada Jongin dan ikut mendengarkan penjelasan ketua dalam rapat itu yang berada didepan kelas.
"Kau pernah berangkat bersama namja itu bukan?"
Pertanyaan Sehun membuat fokus Luhan kembali pada namja berparas sempurna disampingnya. Dahi yeoja ini kembali berkerut heran, bagaimana Sehun bisa bertanya seperti itu padanya. Luhan tidak pernah datang sebelum bel sekolah berbunyi, pasti tidak akan ada yang melihat mereka jika mereka berangkat bersama kesekolah.
"Mungkin kau salah lihat" jawab Luhan acuh, ia tidak begitu ingin menanggapi Sehun dengan serius karena itu akan membuatnya terlihat aneh.
"Kau berjalan duluan melewatiku lalu namja yang berada didepan itu berjalan dibelakangmu setelah itu. Namja itupun tersenyum sambil menatapmu dari belakang" jelas Sehun panjang lebar. Memang itulah yang namja ini lihat saat ia baru saja keluar dari ruangan Park songsaenim.
"Aku tidak mengerti yang kau bicarakan" jawab Luhan menatap Sehun dengan tatapan bingungnya lalu yeoja ini tersenyum memaksa pada Sehun. Luhan kembali mengalihkan pandangannya pada Jongin didepan, ia tidak ingin membahas mengenai Jongin sekarang karena menurutnya ia akan selalu tempramen bila seseorang membicarakan Jongin padanya.
Sehunpun mengalah, ia terdiam sambil juga ikut mengalihkan perhatiannya pada penjelasan Jongin. Entah mengapa Sehun merasa aneh dengan sikap yeoja disampignya, Luhan tidak pernah menunjukkan sikap aneh atau kekesalan pada dirinya tapi hari ini terlihat berbeda. Yeoja itu biasanya bertindak sesuka hati dan selalu menjawab seadanya apa yang yeoja itu pikirkan, bahkan Sehun tidak pernah mengira Luhan akan menghindar dari pertanyaan sederhananya.
"Baiklah, teman-teman sekarang kita berkumpul dikelas untuk memutuskan tema kelas kita dalam festival sekolah ini" umum Luhan yang berdiri didepan kelas, Sehun duduk dibangku barisan paling depan. Namja itu tidak berniat untuk berdiri bersampingan dengan Luhan karena sepertinya yeoja itu masih terlihat sensitive dengan kehadirannya. Dan akhirnya Baekhyun yang menggantikan Sehun mendampingi yeoja itu berdiri didepan kelas.
"Sepertinya membuat rumah hantu sedang tren"
"Ya, benar, pengunjung kita akan semakin banyak nanti"
Kelaspun berdiskusi secara terbuka, mengeluarkan pendapat mereka masing-masing sementara Luhan hanya mengawasi dari depan kelas ide-ide dari teman sekelasnya itu. Saat ia mengalihkan pandangannya kebangku deretan depan, tatapan namja itu mengarah padanya. Sehun menatapnya dari bangkunya duduk, Luhan hanya menghela napasnya lalu mengalihkan pandangannya dari Sehun kearah lain selain namja itu. Entah mengapa karena kejadian pertanyaan Sehun mengenai Jongin membuat otak Luhan jadi mendidih dibuatnya, ditambah yeoja ini harus sering bertemu dengan Jongin dan berkerjasama dengan namja yang bertanya hal menjengkelkan padanya..
"Kurasa sebaiknya kita tidak mengambil tema rumah hantu, kelas lain banyak yang mengambil tema itu" ujar Baekhyun memandang forum kelas yang berada didepannya, yeoja bereyeliner ini melipat kedua tangan didepan dadanya. "Aku ingin sesuatu yang lebih menarik" tambahnya.
Semua terdiam, berpikir keras untuk tema kelas mereka ini. Tema kelas harus sesuai dengan kesepakatan seluruh anggota kelas karena mereka akan menjalankan tema kelas mereka dan mengerjakannya bersama-sama.
"Bagaimana dengan café?" pendapat Luhanpun keluar, secara serentak semua mengalihkan pandangannya pada Luhan yang berdiri didepan kelas. "Kurasa orang-orang yang datang kefestival sekolah kita juga butuh makanan kan? Banyak orang bilang makanan akan selalu menjadi tujuan bagi orang yang bertamu" jelas Luhan.
"Ah! Aku setuju"
"Aku juga, sepertinya itu ide yang sangat bagus"
Semua mengangguk-angguk setuju dengan ide yang diberikan Luhan. Yeoja yang berdiri didepan kelas ini tersenyum puas pendapatnya cukup diterima oleh teman sekelasnya. Kondisi kelas tidak sesepi sebelumnya, sekarang mereka sibuk menyuarakan pendapat mereka mengenai café yang akan menjadi tema utama kelas mereka nanti.
"Tunggu ketua, bukankah bukan hanya kelas kita yang mengusung ide café? Kita harus memiliki tema lagi untuk café kita" tambahan dari anak dikelas 2-1 membuat kelas kembali berpikir mengenai tema café kelas mereka terutama Luhan dan Baekhyun yang berada didepan memimpin rapat ini.
"Apa ada saran?" tanya Luhan akhirnya setelah kelas kembali hening untuk beberapa saat, walau Luhan memberikan ide mengenai cafe kelas tetapi yeoja itu tidak memikirkan lebih jauh apa yang akan mereka kerjakan bila memilih tema cafe.
Mendadak namja yang daritadi diam dan duduk dibangku barisan depan mengangkat tangannya, sepertinya ia memutuskan untuk memecahkan rekornya yang sedari tadi awal rapat tetap terdiam dalam memberikan sarannya.
"Maid Café"
Sontak semua wajah anak sekelas menjadi cerah dari kekalutan pikiran mereka tadi mencari tema café yang akan diusung. Mendengar pendapat Sehun seperti melihat sebuah oasis digurun pasir yang tiada berujung. Tentu saja anak kelas sangat menyetujuinya dan menjadi semangat.
"Sehun benar, aku sangat setuju?!" ucap salah satu teman kelasnya.
Ketika melihat semua anak dikelas setuju, Luhan mengasumsikan bahwa inilah titik temu perncarian tema yang akan diusung dalam festival sekolah mereka. Tetapi ada satu hal lagi yang menjadi masalah untuk Luhan.
"Maid Café itu berisikan perempuan sebagai pelayan bukan? Lalu siapa yang mau menjadi pelayan disini?"
Tanpa menjawab pertanyaan Luhan, tatapan anak sekelas langsung tertuju pada Luhan dan Baekhyun didepan kelas. Membuat kedua yeoja itu mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan tatapan penuh harap mereka. Luhanpun menatap Baekhyun yang berdiri disampingnya lalu Baekhyun melakukan hal yang sama. Mereka bertatapan satu sama lain seakan mencari jawaban dari tatapan teman sekelas mereka.
Mata mereka terbelalak saat mengerti apa maksud dari tatapan penuh harap teman sekelasnya itu.
"Andwae?!"
Teriak kedua yeoja ini bersamaan karena kaget. Tatapan itu berharap kalau kedua orang yang berada didepan kelas ini juga menjadi pelayan café dikelas mereka nanti. Luhan tidak akan mau menjadi pelayan, bahkan jika ia harus mengenakan pakaian maid yang terlalu girly untuknya.
Dengan tegas Luhan menggeleng. Menurutnya ia tak pantas untuk menjadi salah satu pelayan dikelas, tidak seperti Baekhyun menurutnya Baekhyun sangat pas dengan pakaian maid itu karena sahabat Luhan ini memang sangat cocok dalam memakai segala pakaian ditubuhnya.
"Ayolah, kalian berdua pasti akan menjadi penarik perhatian café kita nanti"
Dengan ini, telah diputuskan Baekhyun dan Luhan yang akan menjadi pelayan utama dalam tema maid café milik kelas mereka. Rapat hari ini selesai, tema yang akan mereka gunakan sudah matang. Lalu tugas mereka berikutnya adalah mengerjakan segala kebutuhan mereka dalam maid café. Ya, semua akan berkerja sama besok dalam pembuatan maid café kelas 2-1. Dan tak lupa Luhan sangat berterimakasih pada Oh Sehun yang telah memberikan ide tema kelas mereka ini. Luhan tak akan lupa memberikan Sehun senyuman paling berterimakasihnya, senyuman yang begitu memaksa disudut bibirnya hingga membentuk seperti kerutan wajah wanita lanjut usia, entah mengapa Sehun hanya bisa menahan tawanya melihat Luhan bertingkah seperti itu.
Kedua orang ini sekarang berada didalam rumah milik keluarga Kim. Rumah ini begitu sepi karena sang pemimpin rumah memang sedang berada diluar negeri untuk mengurus segala kepentingan bisnisnya.
Sementara itu kedua orang yang berada diruang makan ini memang bermaksud untuk mengadakan makan malam bersama karena siapa lagi kalau bukan, orangtua dari sang yeoja yang menyuruhnya untuk menemani anak tunggal dari keluarga Kim. Entah apa yang sekarang dirasakan yeoja itu, ia harus berterimakasih atau menyesali perintah dari kedua orangtuanya ini. Tetepi sangat jelas ia akan menyesali keputusannya untuk menyetujui ajakkan orangtuanya makan malam bersama yang berujung ia harus berada ditempat membosankan.
"Bagaimana dengan kelasmu? Apa kau sudah menemukan tema kelas kalian?" tanya Jongin sambil memotong steak hangat diatas piringnya. Namja itu tidak menatap Luhan yang duduk tepat diujung meja dan berhadapan dengannya.
"Sudah"
Jawab Luhan singkat, yeoja ini tidak ingin banyak berinteraksi dengan Jongin karena itu akan membuat dirinya semakin emosi dan moodnya tak karuan. Seakan setiap kata yang keluar dari alat bicara Jongin seperti minyak dan siap membakar emosi Luhan kapanpun, dimanapun. Untuk itu yeoja ini tidak berniat membuat percakapan yang lebih dengan Jongin.
"Apa tema kelasmu?"
"Maid Café"
Jongin hanya mengangguk dan tersenyum tipis mendengar jawaban dari Luhan. Yeoja diseberangnya itu tidak berniat untuk menjawab sambil menatap dirinya. Hal ini membuat Jongin menghela napasnya pelan, sepertinya Luhan masih belum bisa memaafkan Jongin dan itu semakin membuat Jongin merasa bersalah pada Luhan.
"Kau tidak begitu senang saat melihatku memimpin rapat hari itu" ledek Jongin untuk sekedar mencairkan suasana yang mulai tidak nyaman diantara mereka. Namja ini terkekeh sedikit sambil tetap sibuk menikmati makan malamnya.
"Ya, kau benar sekali. Aku sudah setiap hari bertemu denganmu karena kau menjemputku dipagi hari, membuat moodku rusak dipagi hari lalu siang harinya aku harus bertemu denganmu dalam rapat bersama anggota organisasi sekolah lalu malam harinya aku harus makan malam juga denganmu" jawab Luhan tersenyum sinis pada Jongin.
Namja itupun harus menghentikan kegiatan makannya karena ia tidak percaya mendengar jawaban yang sangat panjang dari Luhan. Yeoja itu sekarang menatapnya kesal, Jongin juga menatap Luhan sambil terdiam. Namja ini harus mencairkan suasana kembali, Luhan terlihat tidak dalam mood yang baik belakangan ini dan itu jelas terlihat dari sikap yang yeoja itu berikan padanya.
"Kau ingin kita mengurangi saat bertemu kita?" tanya Jongin hati-hati dengan dahi berkerut.
"Saat rapat Sehun, namja yang selalu menemaniku rapat pernah bertanya tentang kau dan aku. Sehun bilang dia pernah melihat kita berangkat bersama, aku tidak ingin karena hal itu semua sekolah tahu kita selalu bersama."
"Jadi namja itu tahu?"
Luhan hanya mengangguk mendengar pertanyaan Jongin. Yeoja ini tidak ingin menjawab lebih lagi. Suasana diruang makan itu menjadi hening seketika karena tak ada satupun yang berniat memulai pembicaraan terlebih dahulu.
"Jadi karena hal ini, kukira kau masih belum memaafkanku" ucap Jongin sekarang terdengar begitu lega Luhan hanya mempermasalahkan kebersamaan mereka bukan tentang 'hal' itu.
Ucapan Jongin membuat Luhan menghentikan kegiatan makannya, ia mengangkat wajahnya untuk melihat Jongin yang dengan polosnya masih memakan makan malamnya. Wajahnya terlihat begitu senang, kontras sekali dengan Luhan yang menatap namja itu dengan tatapan sinisnya.
"Kau pikir aku bisa melupakan hal itu?"
Mendengar pertanyaan Luhan membuat Jongin mengalihkan pandangan dari makan malamnya pada Luhan. Suara yeoja itu tadi terdengar begitu sinis dan dingin dipendengaran Jongin dan namja ini yakin ucapannya tadi merupakan pendapat yang seharusnya tidak ia ungkapkan.
"Terimakasih atas makan malamnya" Luhan memaksakan senyumnya sambil mencari tas tangan yang tadi ia bawa, lalu tanpa basa basi yeoja ini beranjak keluar dari ruang makan milik keluarga Kim ini. Entah mengapa pikiran Luhan sangat panas saat bersama dengan Kim Jongin.
Sementara Luhan sudah meninggalkan ruang makan keluarga Kim, Jongin masih berada diatas bangku tempatnya duduk, ia tak beranjak untuk mengejar Luhan. Namja ini salah menilai, rupanya Luhan masih belum bisa memaafkannya.
Dengan kesal Jongin mengacak rambutnya. Ia harus segera meminta maaf dan menjelaskan hal yang sebenarnya pada Luhan. Pertunangan mereka harus berjalan sampai pernikahan mereka nanti.
Masing-masing kelas mulai sibuk dengan tema kelas mereka. Semakin dekat hari festival sekolah membuat semua kelas mau tak mau berkerja sampai sore hari bahkan ada yang sampai malam hari. Hal yang sama dilakukan oleh kelas 2-1, semua murid dikelas mulai mengerjakan tugasnya. Sejauh ini kebutuhan mereka berjalan sesuai tugas yang diperintahkan dan diatur oleh ketua kelas mereka yaitu Luhan, dibantu Baekhyun, tak lupa Sehun sebagai wakil Luhan yang bertanggung jawab dengan mengawasi pekerjaan yang diberikan oleh Luhan.
Kelas 2-1 masih sibuk mendekorasi kelas mereka, membuatnya agar terlihat seperti maid café. Mereka ingin membuat suasana klasik berada dikelas tersebut, supaya suasana kelas makin terasa seperti maid café. Tidak lupa mereka membuat baju maid, yang diserahkan sepenuhnya pada para wanita dikelas termasuk Baekhyun sebagai yeoja pendesain baju mereka.
Sejauh ini persiapan mereka berjalan dengan baik, Luhan juga tidak begitu banyak melakukan pekerjaan langsung membantu teman sekelasnya karena semua pekerjaan itu sudah dibagi dengan teratur pada teman-temannya. Saat Luhan ingin membantupun yeoja ini langsung disuruh mengerjakan pekerjaan lain oleh teman-temannya karena itu juga Luhan merasa ia tidak dapat membantu banyak temannnya walau sebenarnya anak kelas 2-1 tidak ingin Luhan mengambil pekerjaan terlalu banyak, Luhanlah yang sebenarnya mengerjakan semua dibalik layar pembuatan 'Maid Café' ini. Ketua mereka yang membagikan tugas, meminta izin, memikirkan kebutuhan mereka, dana yang mereka butuhkan, mengikuti rapat setiap pulang sekolah dan banyak lagi, untuk itu teman-teman sekelasnya sepakat tidak membiarkan Luhan membantu mereka lebih lagi agar yeoja itu bisa beristirahat. Tetapi tetap saja setiap melihat anak kelas mengerjakan sesuatu, Luhan selalu ingin membantu dan akhirnya malah membuatnya seperti sekarang melihat kelasnya dari luar dan duduk diatas meja yang sengaja dikeluarkan.
"Ujung-ujungnya aku tidak diperbolehkan membantu" keluh Luhan sendiri sambil menghela napasnya. Ia terus menatapi teman sekelasnya yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Kau mau?"
Suara namja itu membuat Luhan segera mengalihkan pandangannya pada namja yang sudah duduk dimeja sebelah Luhan. Namja itu mengulurkan minuman kaleng yang dipegang tangan kanannya pada Luhan.
"Terimakasih"
Gumam Luhan sambil mengambil minuman kaleng yang ditawarkan namja itu, entah mengapa terasa seperti déjà vu bagi Luhan. Sehun berada disampingnya sambil menyeruput minuman kaleng miliknya. Namja itu sepertinya memang sedang beristirahat, Sehun bukan namja yang hanya melihat teman-temannya saja seperti dirinya ini dan Luhan sangat tahu itu karena yeoja ini sering melihat Sehun sibuk mengerjakan persiapan kelas dengan yang lain.
Luhan menggigit bibirnya. Ia ingin sekali melakukan obrolan santai dengan Sehun. Obrolan lain yang tidak membahas Jongin seperti waktu rapat atau pertanyaan bodoh dari yeoja ini yang hanya dijawab dengan dinginnya oleh Sehun. Luhan juga berusaha melupakan bahwa dirinya pernah melihat Sehun dengan seorang yeoja saat ia sedang di café dan tak mungkin Luhan memulai pembicaraan menanyakan tentang yeoja itu walau sebenarnya Luhan sangat penasaran ingin bertanya pada Sehun tetapi yeoja ini hanya akan menyimpan pertanyaan itu.
"Kau sedang beristirahat?" tanya Luhan akhirnya setelah perdebatan kecil yang yeoja ini lakukan didalam pikirannya sendiri.
Sehun mengangguk pelan, saat namja ini membeli minuman kaleng dilorong kelas tanpa sengaja ia melihat Luhan sedang duduk dimeja yang ada didepan kelas ini hingga membuatnya berpikir untuk membelikan Luhan minuman kaleng yang sama. Luhan terlihat sangat khawatir karena tidak membantu teman kelasnya, itu jelas terlihat dari raut wajahnya.
"Kau tidak usah khawatir, serahkan semuanya pada mereka. Kau sudah sangat sibuk menjadi ketua acara kelas kita dan mereka tidak ingin merepotkanmu" ucap Sehun seakan membaca kekhawatiran dari air muka milik Luhan.
Yeoja inipun mengalihkan pandangannya pada Sehun, menatap namja itu dengan tatapan bingungnya. Entah mengapa Sehun seperti bisa membaca pikiran yang ada diotaknya sekarang.
"Tapi aku merasa lebih bersalah bila tidak membantu mereka" gumam Luhan pelan, ia menghela napasnya lalu mengalihkan pandangannya kedalam kelasnya lagi.
"Justru mereka yang merasa bersalah bila tidak bisa mengerjakan tugas yang diberikan olehmu bodoh" Sehun terkekeh pelan sambil meledek Luhan membuat yeoja ini dengan malas memberikan tatapan anehnya pada Sehun.
Tanpa mereka sadari dari kejauhan ada seorang namja berjalan menghampiri mereka, tepatnya kelas mereka karena tugas namja ini tak lain adalah mengecek persiapan dari semua kelas untuk pelaksanaan festival sekolah seminggu lagi. Namja ini tak lain adalah Jongin, Kim Jongin ketua organisasi sekolah ini. Jongin tak sengaja melihat Luhan yang sedang mengobrol dengan seorang namja didepan kelas mereka. Obrolan mereka terlihat cukup seru karena namja itu mulai tertawa, melihat itu membuat langkah Jongin terarah menuju kelas mereka, Jongin tidak begitu mengenali dari jarak pandangnya namja yang bersama Luhan sekarang hal ini membuatnya tanpa sadar ingin mengetahui siapa namja itu.
Setelah beberapa langkah besar dari kakinya, Jongin sampai dikelas 2-1. Ia terdiam sesaat, hal yang sama dilakukan kedua orang yang tadi sedang asyik mengobrol itu. Luhan menatap Jongin dengan dahi berkerutnya, tentu saja ekspresinya selalu sama saat yeoja itu melihat Jongin didepannya sementara sang namja disampingnya hanya terdiam dengan wajah datarnya.
"Bagaimana perkembangan kelas kalian?" tanya Jongin memecah keheningan diantara mereka, senyumannya terulas kecil disudut bibir namja tersebut.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Luhan sakratis. Sekarang yeoja itu tengah melipat kedua tangan didepan dadanya.
"Tugasku mengecek perkembangan dan persiapan kelas untuk festival sekolah bukan?" tanya Jongin balik pada Luhan. Yeoja itu hanya mengangguk asal seakan mengucapkan 'lakukanlah sesukamu' pada Jongin.
Senyuman Jongin tidak pernah terlepas dari kedua sudut bibirnya, sekarang namja ini mengalihkan pada namja yang sedaritadi berada disamping Luhan. Namja itu menatap Jongin, tatapannya tidak bisa terbaca karena tatapan matanya begitu datar. Sekarang senyuman dipipi Jongin menghilang, ia menatap Sehun dengan tatapan sama seperti tatapan yang namja itu berikan padanya. Mereka saling bertukar pandangan satu sama lain, entah mengapa Jongin merasa sangat mengenal tatapan datar dan tajam namja didepannya ini.
"Jongin, kelas 2-3 membutuhkan bantuan kita"
"Baik aku akan segera kesana" Jongin menjawab sambil melambaikan tangannya pada orang yang memanggilnya, setelah itu namja ini menatap Luhan. Senyuman terulas disudut bibir Jongin.
"Senyuman itu lagi"
Pikir Sehun mengalihkan pandangannya pada kaleng minuman yang masih ia pegang.
Jongin mengulurkan tangannya untuk menepuk kepala Luhan, karena terlalu cepat dan tak bisa menahan tangan Jongin, Luhan kelepasan membiarkan namja itu menepuk pelan kepalanya. Memang ini adalah kebiasaan Jongin padanya hingga Luhan tidak terlalu menolak perlakuan Jongin padanya ini karena Luhan sangat menyukai saat Jongin menyemangatinya sambil menepuk kepalanya seperti saat ini.
"Sampai jumpa!"
Luhan masih terdiam ditempatnya, tanpa ia sadari semburat merah terbentuk dikedua pipinya. Yeoja itu hanya bisa menunduk kesal, seharusnya Luhan sudah membuang perasaannya pada Jongin bukan? Mengapa sentuhan namja itu saja bisa membuat pipinya merona seperti ini…
Ia kesal dengan dirinya sendiri terlalu memusatkan pikirannya pada Jongin, tak menyadari Sehun telah memperhatikannya sejak tadi dan melihat kedua orang disampingnya itu berinteraksi satu sama lain.
"Kau mencintainya?"
Pertanyaan Sehun membuat Luhan langsung menatap Sehun tak percaya. Yeoja ini menatap kedua manic datar milik namja disampingnya itu lalu ia tertawa sinis pada pertanyaan bodoh yang dilontarkan Sehun.
"Aku…."
Jawaban itu terhenti, cairan bening terjauh pada pipi milik yeoja ini. Luhan kembali kaget dengan reaksinya, pertanyaan Sehun begitu menyakitkan untuk Luhan dan tanpa sadar membuat dirinya menangis seperti orang bodoh.
Luhan berlari meninggalkan Sehun disana, berharap Sehun tak melihat dirinya yang lemah dan menangis seperti tadi didepan namja itu. Tetapi kenyataan tidak berpihak padanya karena Sehun telah melihatnya menangis, namja itu hanya bisa menatap Luhan yang berlari menjauhinya dari tempatnya berdiri sekarang.
Kedua kakak beradik ini sedang berbaring ditaman rumah mereka. Memandangi bintang malam yang menghiasi langit malam hari ini. Sang kakak berbaring sambil memejamkan matanya, namja yang lebih kecil disampingnyapun melakukan hal yang sama. Rasanya membaringkan diri dan menikmati alam yang ada disekitar mereka membuat mereka benar-benar dapat menikmati hidup dan keindahan alam yang berada disekitar mereka. Dan kedua kakak-adik ini tentu saja merasa bersyukur karena masih bisa menikmati alam seperti ini.
"Hyung"
Mendengar panggilan dari Minseok membuat Sehun membuka matanya untuk melihat adik yang sedang berbaring disebelahnya itu.
"Wae?"
"Bisakah kita melakukan hal ini setiap hari?" tanya Minseok semangat dengan senyuman lebar yang terlukis dipipinya yang gembul seperti bakpao.
Sehun tak kuasa untuk menahan tawanya saat melihat senyuman Minseok, ia menjulurkan tangannya untuk mencubit pipi gempal milik adiknya itu.
"Tentu saja, kau boleh melakukan hal ini sepuasmu" jawab Sehun masih terkekeh pelan.
Senyuman Minseok tiba-tiba menghilang. Ia teringat dengan surat yang tadi sore dikirimkan pada rumah ini, surat itu berisi pengusuran tepatnya. Mengingat hal itu, mereka tidak mungkin bisa memandangi langit malam bertabur bintang seperti ini lagi kalau sudah tak mempunyai rumah.
"Tapi, surat itu.."
Mendadak Sehun sekarang mengusap kepala Minseok lembut dan mengacaknya perlahan. Ia memberikan senyuman terbaiknya pada Minseok, membuat perasaan khawatir namja kecil disampingnya menguap begitu saja saat melihat senyuman tulus yang Sehun berikan.
"Hyung berjanji akan menjaga rumah ini, serahkan semuanya pada hyung" gumam Sehun meyakinkan Minseok.
Mendengar ucapan Sehun membuat Minseok tersenyum kembali, ia memeluk Sehun dengan sangat erat. Minseok sangat menyayangi kakaknya itu, tak ada oranglain yang Minseok sangat kagumi selain kakaknya.
"Aku ingin sepertimu.."
Senyum Sehun tak pernah menghilang dari sudut bibirnya, ia mengacak-acak lagi rambut Minseok lalu memberikan tanda jempolnya pada Minseok. Minseokpun membalas memberikan acungan jempol untuk Sehun.
"Kau sangat keren hyung!"
Kata dari Minseok it uterus terngiang diingatan Sehun sampai mereka sekarang berada didalam kamar mereka. Minseok sudah terlelap dalam tidurnya sementara namja yang lebih tua darinya ini hanya bisa memandangi langit-langit kamar mereka.
Ia sangat tahu tak ada lagi yang dapat namja ini lakukan untuk menyelamatkan rumah mereka, kerja sambilan Sehun tak pernah cukup untuk membayar hutang keluarga mereka sampai akhirnya rumah ini harus disita besok. Sehun tak tahu lagi apa yang akan ia lakukan untuk membayar rumah mereka.
Haruskah ia meminjam uang pada oranglain? Tapi itu bukanlah sifat Sehun, namja ini tidak mau bila harus merepotkan orang lain tetapi tak ada yang bisa ia lakukan selain meminjam uang.
Namja ini benar-benar tak membiarkan kedua matanya beristirahat karena memikirkan apa yang akan ia lakukan besok. Banyak sekali pikiran dikepalanya yang membuatnya tak ingin memejamkan matanya hanya sekedar untuk menghilangkan rasa kantuknya. Sampai pada akhirnya rasa kantuk itupun meluap seiring fajar yang menyingsing keesokan paginya.
Hari ini entah mengapa kelas sibuk dengan bagian tugas mereka masing-masing tak terkecuali yeoja yang menjaga kinerja tiap para anggota kelas apa ada kekurangan yang mereka butuhkan atau tidak. Tetapi sepanjang siang ini sepertinya tidak ada hal yang terlalu menyibukan ketua dari kelas 2-1 yaitu, Luhan. Walaupun sebenarnya tak terlalu sibuk juga yeoja ini selalu bertanya atau sekedar menolong anak-anak kelas lainnya yang tentunya sangat membantu dalam penyelesaian pekerjaan mereka.
Kelas cukup sibuk hingga sore hari, tanpa mereka sadari kinerja mereka untuk kelas saat festival budaya nanti sudah mencapai 50% dan mereka sangat mengincar target untuk selesai hari min 1 sebelum hari besar itu. Untuk itu sepertinya kesibukan ini akan terus berlangsung sampai mereka benar-benar puas dengan hasil pekerjaan mereka selama ini.
Sekarangpun Luhan masih ikut membantu yeoja lain yang bertugas membuat kostum terutama ketua koor dari divisi tersebut yaitu teman baiknya sendiri Baekhyun. Sepanjang membantu yeoja itu, Luhan hanya mendengarkan keluhan yang memang Baekhyun rasakan akhir-akhir ini membuat yeoja itu kadang meresponnya dengan biasa saja atau memberikan tawa meledeknya, hal itu membuat Baekhyun lelah sendiri menceritakan pengalamannya dengan Park songsaenim. Sebenarnya yeoja bereyeliner itu tidak mau menceritakan guru menyebalkan itu pada siapapun tetapi mungkin ia juga bisa gila bila tidak menceritakannya pada sahabat baiknya ini.
"Kau tahu.. Bahkan saat sibuk dengan festival sekolah ini 'dia' tetap datang mentutorku pada jadwal yang sama lalu pada akhir minggu. Kurasa aku bisa gila karenanya" cerita Baekhyun kesal. Yeoja itu tak ada habisnya menerutuki Park songsaenim, sepertinya Baekhyun tak menganggap namja itu sebagai songsaenimnya sendiri, hal tersebut terlihat jelas dari cara yeoja itu membicarakannya.
"Sudahlah lagipula ujian harianmu sepertinya meningkat, kau harus bersyukur" ucap Luhan berusaha mendinginkan suasana hati sahabatnya itu. Yeoja ini tersenyum pada Baekhyun sambil menyenggol lengannya pelan hingga membuat yeoja itu kehilangan keseimbangannya.
Karena memanggap Luhan mengajaknya bercanda, setelah kembali dari kehilangan keseimbangannya, Baekhyun menyeringai lalu menyenggol Luhan dengan sekuat tenaganya membuat sekarang yeoja disampingnyalah yang kehilangan keseimbangan. Luhan tentu saja menjadi panik karena ia membayangkan lantai marmer keraslah yang nanti akan menjadi tempat pendaratan sempurna bokong miliknya. Baekhyun yang mendorong juga menjadi panik berusaha menarik tangan Luhan yang terulur padanya.
Kepanikan Luhan dan Baekhyun menguap begitu saja saat yeoja yang terjatuh sambil menarik kostum diatas meja itu tidak langsung mendarat dilantai marmer keras seperti yang dibayangkan. Luhan memejamkan matanya dengan sangat erat sementara Baekhyun mengurungkan niatnya untuk menarik Luhan.
"Argh.."
Ringisan seorang namja seakan menjawab reaksi Baekhyun, membuat kedua bola mata Luhan membulat. Ia bahkan tidak bisa membayangkan dirinya terjatuh hingga menduduki seseorang dibelakangnya sekarang.
Baekhyun juga menggeleng pelan tak percaya tetapi menahan senyumnya melihat siapa namja yang sekarang berada dibelakang Luhan. Dengan takut dan khawatir Luhan segera menengok kebelakang dirinya hingga wajah yeoja ini hanya terpaut beberapa senti saja dari wajah namja yang berada dibelakangnya.
Kedua manik mata Luhan langsung terkunci dalam kedua manik mata milik namja yang berada dibelakangnya sekarang. Seakan terhipnotis, yeoja itu tidak bisa menggerakkan dirinya untuk beberapa saat. Masih dalam posisinya yang terjatuh diatas namja tersebut.
"Luhan! Sehun!"
Pekik Baekhyun, suaranya meninggi karena panik. Tanpa mereka sadari manekin yang sudah dipakaikan kostum maid disudut ruangan tepat berada diatas mereka berdua terjatuh, refleks sang namja langsung merubah posisi mereka menjadi Sehunlah yang berada diatas Luhan sekarang, menahan kedua tangannya diatas lantai untuk menjaga yeoja dibawahnya itu agar tidak terkena manekin yang jatuh itu, lalu seketika itu juga manekin yang jatuh dengan keras langsung mengenai kepala Sehun. Luhan hanya bisa memejamkan matanya saat Sehun berusaha melindunginya dari jatuhan manekin tersebut.
Suasa heningpun langsung menyelimuti ruangan kelas ini. Tidak ada suara terdengar dari Baekhyun maupun anak lain yang berada dikelas ini. Mungkin mereka terlalu kaget dengan kejadian yang tiba-tiba saja terjadi seperti ini.
Bau anyir menyeruak dipenciuman Luhan, terasa seperti cairan lengket menetes pada pipi pink miliknya. Yeoja itu segera membuka matanya untuk melihat cairan apa yang menetes pada pipinya itu lalu perasaan khawatir langsung datang begitu saja saat ia melihat darah segar terlinang dari kepala namja diatasnya.
"Sehun? Kau berdarah"
Luhan segera mendorong Sehun untuk membenarkan posisi mereka. Mendudukan Sehun didepannya sambil menyentuh pelan kepalanya yang terluka, membuat Sehun sedikit meringis karenanya. Sebenarnya namja itu juga tidak berharap manekin sialan itu akan melukainya seperti ini.
"Kau tidak apa-apa? Masih bisa mendengarku?" tanya Luhan, suaranya sangatlah khawatir pada namja yang terluka ini. Sehun hanya mengangguk pelan sambil memegangi kepalanya yang berdarah.
Dengan inisiatif sendiri, Luhan langsung beranjak menuju meja tempat tasnya berada, yeoja itu buru-buru mencari kain atau apa saja yang bisa menahan pendarahan Sehun menjadi lebih parah lagi. Dan usahanyapun berhasil, Luhan menemukan sapu tangan kecil yang selalu berada didalam tasnya, yeoja itu kembali berlari menghampiri Sehun dan membalut kepala namja itu dengan sarung tangan miliknya.
"Aku tidak apa-apa" gumam Sehun sambil meringis. Sekarang namja itu telah menekan luka kepalanya dengan sarung tangan yang diberikan Luhan.
Luhan menghela napasnya pelan, yeoja itu sekarang terlihat cukup kesal dicampur rasa khawatirnya kalau akan terjadi apa-apa dengan namja didepannya itu.
"Kau harus keruang kesehatan. Aku akan mengantarmu"
"Aku baik-baik saja, aku akan kesana sendiri"
Ucap Sehun, namja itu mencoba berdiri dengan usahanya sendiri. Sementara itu anak kelas menghampiri Sehun terutama para namja yang berusaha menolong Sehun berjalan tetapi Sehun menolaknya dengan halus dan melarang mereka membantunya dengan kata 'tidak apa-apa' miliknya tadi. Hal itu otomatis membuat Luhan semakin kesal melihat perilaku Sehun. Sekarang ia sedang terluka dan sangatlah membutuhkan bantuan dari teman-teman lainnya.
Luhan menghampiri Sehun dan menggandeng lengan atasnya, menjaga namja itu agar dapat berjalan dengan normal. Berusaha membopongnya menuju ruang kesehatan tetapi Sehun dengan perlahan berusaha melepaskan pegangan tangan Luhan pada lengannya. Tindakan Sehun yang sekarang membuat Luhan tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Tak usah membantuku"
Yeoja itu menghela napasnya, berusaha menyetabilkan emosinya yang ingin meluap tapi sayangnya mendengar perkataan Sehun tadi membuat dirinya semakin tidak bisa mengontrol emosinya pada namja yang sangat sok disampignya itu.
"Kau tidak usah sok keren dengan menolak bantuan semuanya, lihat kau membutuhkan bantuanku! Lagipula karena membantuku kau jadi terluka seperti ini dan aku yang akan bertanggung jawab atas lukamu itu"
Dan dengan perkataan itulah Sehun menuruti perintah dari Luhan. Namja itu hanya bisa memasrahkan dirinya dibopong oleh Luhan menuju ruang kesehatan sementara yeoja itu tak pernah sedikitpun melepaskan bahu Sehun, justru ia semakin memegang Sehun dengan erat agar namja itu bisa berjalan dengan baik disampingnya saat ini.
Perjalanan keruang kesehatan tidak pernah sunyi karena Luhanlah yang selalu mengajak bicara Sehun agar namja itu tidak pingsan dengan pendarahan dikepalanya. Entah mengapa baru kali ini namja itu merasa Luhan memberikan perhatiannya padanya, walau wujudnya dengan memarahi Sehun tetapi memikirkan Luhan mengkhawatirkannya saja membuat Sehun menahan senyumnya, yeoja itu begitu terlihat lucu saat mencemooh dirinya.
Ya, Sehun tersenyum karena yeoja disampingnya. Senyuman yang entah berasal darimana itu membuat dirinya merasa semakin ingin membuat Luhan terus berada disampingnya sambil mengomelinya seperti ini.
Perasaan Sehun begitu berbeda dengan perasaan namja yang hanya bisa melihati kedua orang ini dari koridor sekolah. Namja itu tahu sepertinya ada sesuatu yang aneh diantara kedua orang yang bersama itu sekarang dan namja ini harus mencaritahu apa mereka mempunyai suatu hubungan yang lebih atau tidak karena ya, Jongin tidak akan melepaskan Luhan untuk kedua kalinya saat ini. Untuk itu namja ini harus segera menyingkirkan namja yang terasa sangat familier baginya itu yang tak lain—Oh Sehun.
To be Continued
Updateeed yataaa!
no caption neeeded.
Happy reading semuanya, enjoy the story yaa ^^
Hunhan moment is coming yeheeeet! Just wait and see
the progress okay *smile like an idiot*
Daisuki~~~~~~~~~~~~~~~~
-deerskin94
