"RETURN"
Author : Choi Chanhyun
.
Cast :
Park Chanyeol as Park Chanyeol
Byun Baekhyun as Byun baekhyun
Xi Luhan as Xi Luhan
Oh Sehun as Sehun
And Another Cast
.
Pairing : Chanbaek / Baekyeol
.
Disclaimer : Chanbaek belongs to themselves.
.
Copyright : Cerita ini merupakan hasil pemikiran otak author sendiri.
©Choi_Chanhyun_2014
DO NOT COPY!
.
Warning : Yaoi, Boys Love, alur kecepetan udah jadi kebiasaan buruk saya! Hahaha... readerdeul diharap bisa maklum! Yang gak suka yaoi bisa mundur teratur! Oke? Wkakakaka..
DO NOT FORGET TO RnR!
.
Happy reading yeorobun! ^^
.
.
Previous Chapter :
"Ne. Aku Luhan." Ucapku singkat dan sedikit canggung.
Kulihat Sehun segera menyenggol lengan seseorang yang masih membelakangiku itu. Ia berbisik sesaat seakan memberikan sinyal pada namja itu. Dan sedetik kemudian namja itu mulai berdiri dan berbalik menghadapku dan Baekhyun.
DEG!
Tunggu...
Ya Tuhan...
Dia...
"Park Chanyeol?"
.
.
Chapter 7
...
Luhan's POV
.
"Park Chanyeol?" tanyaku tak percaya.
"Yap, kau benar sekali." ucapnya sambil menjabat tanganku.
Aku memandangnya tak percaya. Dia... Dia ini... benar-benar Park Chanyeol. Oh ayolah, ini mustahil!
Belum sempat aku mengeluarkan suaraku lagi. Tiba-tiba saja ada yang menarik tanganku dan segera membawaku keluar dari ruang latihan Baekhyun dan Chanyeol. Segera aku menatap seseorang yang menarik tanganku kasar. Oh Sehun! Hei, ini tidak sopan! Bahkan ia baru beberapa detik mengenalku!
"Lepaskan Oh Sehun!" teriakku pada namja itu ketika kami sampai di halaman luar SM building.
"Kau mengenalnya. Aku bisa melihatnya dari matamu." ucap Sehun dingin.
"Siapa yang kau maksud hah?" tanyaku geram setelah ia terang-terangan menarik tanganku.
"Tentu saja Park Chanyeol."
'Eh? Memangnya mengapa jika aku mengenal namja itu? Namja yang telah menyakiti dongsaeng kesayanganku?'
"Ya, aku memang mengenalnya. Park Chanyeol itu, ya, dia orang yang telah menyakiti Baekhyun! Aku tahu dia! Aku memang mengenalnya! Wae? Ada masalah?" ucapku berapi-api.
Sehun menutup mulutku dengan tangan kanannya dan memegang tanganku erat agar aku tak mengelak. Sial! Ada apa dengan orang ini?
"Diamlah. Atau kita akan dapat masalah." ucapnya pelan.
'Eh? Dapat masalah?'
Kini ia membawaku menuju salah satu tempat. Lebih tepatnya sebuah ruangan yang sepertinya juga ruang latihan. Hanya saja lebih sederhana. Dan hanya ada aku dan Sehun di sana. Aku masih membungkam mulutku. Aku takut jika apa yang dikatakan Sehun itu benar.
"Nah, ini ruang training kita. Kau akan belajar banyak tentang bagaimana cara menjadi manager seorang artis." ucapnya.
"Jangan berbelit-belit Oh Sehun! Katakan apa maumu? Dan apa yang kau maksud dengan kita akan dapat masalah tadi?" tanyaku tak sabar.
Kemudian Sehun mengajakku duduk di salah satu sofa di ruangan itu. Ia duduk tepat di sampingku. Bahkan ia tak mau duduk menghadapku saja.
"Aku tahu suatu saat ini akan terjadi. Hanya saja aku tak menyangka hal itu terjadi sekrarang." Sehun tampak melipat kedua tangannya.
"Apa..."
"Kau mengenalnya Luhan ssi? Park Chanyeol?" tanyanya pelan tanpa menatapku.
"Ya, tentu saja." jawabku singkat.
"Kapan kau mengenalnya?" tanya Sehun lagi.
'Eh? Mengapa namja ini seolah ingin mengintrogasiku?' batinku sesaat.
"Jawab saja. Aku memang ingin mengintrogasimu! Ini penting!" tiba-tiba saja Sehun seolah bisa membaca pikiranku.
"Lebih dari dua tahun lalu. Ya, aku mengenalnya sebelum ia menghilang begitu saja dua tahun lalu." Jawabku menjelaskan.
"Kalau begitu, anggap saja kau baru mengenalnya sekarang!" ucapnya ringan.
'Wae? Waegurae?'
"Eh? Bagaimana bisa? Aku dan Baekhyun ..."
"Dia tidak mengingat kalian Luhan ssi!" Sehun tiba-tiba memotong kalimatku dan memandangku tajam.
Tunggu. Apa yang terjadi? Ada apa ini sebenarnya?
"Dia mengalami kecelakaan sekitar dua tahun lalu. Mungkin itu yang kau katakan dengan 'ia menghilang begitu saja'."
DEG!
"Mwo?!"
Tak mungkin... Jadi orang itu benar-benar Chanyeol! Park Chanyeol yang bahkan dicintai Baekhyun hingga sekarang?!
"Dia tak mengingat apapun tentang hal yang ia alami sebelum kecelakaan itu. Dan aku yakin, ia tak mengenal kalian saat ini."
Tidak. Ini sungguh menyakitkan. Baekhyun belum pernah sama sekali melihat wajah Chanyeol. Dan kini Chanyeol justru tak ingat apapun tentangnya. Sungguh, aku tak dapat membayangkan jika aku ada dalam posisi Baekhyun saat ini.
"Tapi mengapa aku harus berpura-pura aku tidak mengenalnya?" tanyaku begitu saja.
"Karena agensi yang memintanya padaku. Agensi tak ingin repot untuk mempublikaskan kehidupan Chanyeol sebelumnya. Agensi hanya ingin nama Chanyeol terangkat tanpa masa lalunya."
"Wae? Chanyeol berhak mengetahui segalanya!" emosiku mulai tersulut.
"Aku tahu. Aku juga berpikir begitu. Tapi kumohon, tetaplah berpura-pura saat ini. Setidaknya bagi kebaikan Chanyeol dan Baekhyun." ucap Sehun.
Aku sedikit ragu untuk mengiyakan perkataan Sehun. Aku masih terlalu syok untuk tahu kenyataan bahwa orang itu adalah orang yang pernah dikenal Baekhyun dulu. Dan sekarang, tentu saja Baekhyun tak mengenalnya. Dari dulu Baekhyun hanya mengenal suaranya. Dan beberapa bulan yang lalu, aku telah meyakinkannya bahwa orang itu bukanlah Chanyeolnya. Bodoh. Ternyata aku salah!
Akhirnya aku hanya bisa mengangguk lemah. Ya, begitu saja. Tanpa penolakan sama sekali. Baiklah, aku menyerah. Mungkin memang ini demi kebaikan baekhyun.
Beberapa menit kemudian Sehun membawaku kembali ke ruang latihan Chanyeol dan Baekhyun. Kulihat kini Baekhyun tengah memainkan sebuah piano dan Chanyeol tengah memainkan gitarnya. Terkadang mereka tersenyum satu sama lain. Keduanya kini tengah memadukan melodi lembut yang seharusnya terdengar indah namun justru membuat hatiku teriris melihatnya.
"Aku tak bisa, Sehun ssi." ucapku lirih pada Sehun yang saat ini berdiri di ambang pintu. Sama sepertiku.
"Wae?"
"Mereka seharusnya saling mengenal. Aku tahu benar, seperti apa mereka dulu. Tapi sekarang, takdir sepertinnya tengah mempermainkan mereka."
Aku tak dapat menahan air mataku. Sungguh. Miris melihat mereka seperti ini.
"Kau harus bisa Luhan ssi. Aku akan membantumu. Kita lakukan bersama demi kebaikan mereka. Bukankah itu adalah tugas seorang manager?" ucap Sehun sambil tersenyum padaku.
Entah mengapa, Sehun seolah menghipnotisku untuk selalu merasa tenang jika aku berada di sampingnya. Aku pun akhirnya mengiyakan perkataannya dan mengangguk pelan. Aku memasuki ruang latihan itu dengan senyuman palsu terpancar di wajahku. Sungguh, sebenarnya aku tak tega jika harus menyembunyikan ini semua dari Baekhyun ataupun Chanyeol. Tapi aku bisa apa, ini semua demi kebaikan mereka.
"Baekhyun ah!" panggilku pada Baekhyun.
"Ya hyung, kalian kemana saja? Ck, kalian ini aneh sekali." ucap Baekhyun protes.
Aku tahu, baekhyun mungkin merasa aneh dengan apa yang baru saja Sehun dan aku lakukan. Oke, aku tak mungkin mengatakannya. Jadi...
"itu..."
"Aku membawa hyungmu ke ruang training kami." ujar Sehun singkat.
Sedetik kemudian ia tersenyum penuh arti padaku. Seolah ia ingin aku mengiyakan kalimatnya.
"Hemm, dia memang membawaku kesana. Kau tahu, aku harus mengenal tempat ini lebih dulu sebelum siap menjadi managermu!" ujarku asal kemudian membalas senyuman Sehun.
"Baiklah... Baiklah... Sekarang saatnya aku berkenalan denganmu." ujar Chanyeol kemudian.
Aku tersenyum samar padanya. Hanya teringat padanya dulu saja sudah membuatku kehilangan moodku sesaat.
"Aku Luhan. Panggil saja seperti Baekhyun memanggilku."
"Baiklah, Luhan hyung. Aku Chanyeol. Senang bertemu denganmu."
Aku menjabat tangannya sesaat. Persis seperti beberapa tahun lalu ketika Baekhyun pertama kali mengenalkannya padaku. Hanya saja ketika itu Baekhyun sama sekali tak dapat melihat namja ini. Dan sekarang, semuanya berbeda. Semua telah berubah.
Luhan POV end
.
.
Author POV
Hari-hari berikutnya baik Sehun maupun Luhan semakin terbiasa menjalani training mereka. Memang tak lama, mungkin hanya sekitar dua bulan mereka akan menjalani hari-hari mereka sebagai trainee seperti ini. Mereka menjalani hari trainee mereka dengan santai. Tak banyak yang harus mereka lakukan.
Tak seperti sahabat mereka yang justru harus berangkat lebih pagi setiap harinya. Sejak beberapa hari lalu, Young Min sonsaengnim memang sengaja meminta Chanyeol dan Baekhyun untuk berangkat lebih pagi dari pada biasanya. Agensi hanya beralasan bahwa saat ini mereka tengah sibuk dengan trainee baru yang baru saja mereka temukan. Belum sampai Baekhyun debut pun, kini justru ada trainee baru lagi. Bukan hal yang efektif mamang.
Pagi itu Chanyeol memutuskan untuk menjemput Baekhyun tepat pukul 6 pagi. Bukan apa-apa, ia hanya ingin berangkat bersama namja manis itu saja. Lagi pula rumah mereka satu arah.
"Luhan hyung, apa Baekhyun sudah bangun?" tanya Chanyeol sesaat setelah Luhan membukakan pintu apartemennya.
"Aku sudah membangunkannya Yeol. Tapi sepertinya Baekhyun memang terlalu malas untuk bangun hari ini." ucap Luhan yang masih berbicara di ambang pintu apartemennya.
"Boleh aku masuk? Biar aku yang membangunkannya!" ucap Chanyeol semangat.
"Eh, eerrr, baiklah... Masuk saja." ucap Luhan ragu.
Tak lama setelahnya Chanyeol segera masuk apartemen itu. Ia sendiri sangat yakin, ia baru pertama kali memasuki apartemen Luhan dan Baekhyun, namun... entahlah, ia merasa telah mengenal baik segala sudut apartemen itu. Ia pun segera menuju kamar Baekhyun yang entah sejak kapan ia hafalkan jalannya. Ia tak mengerti, kakinya membawanya begitu saja. Hanya insting menurutnya. Mungkin hal itu sebuah konklusi yang mudah bagi ingatan jangka pendeknya.
"Ya Byun Baekhyun! Cepat bangun!" teriak Chanyeol dari luar kamar Baekhyun.
Ia mengetuk pintu itu beberapa kali hingga akhirnya ia memutuskan untuk memutar kenopnya.
'Eh? Tidak dikunci?' batin Chanyeol dalam hati.
Kemudian ia masuk begitu saja ke dalam ruangan hangat itu. Yap, memang begitu hangat bagi Chanyeol. Karena ternyata Baekhyun masih menghidupkan penghangat ruangannya.
Semenit kemudian Chanyeol menatap gundukan selimut yang ada diatas tempat tidur Baekhyun. Ia yakin sekali, namja manis itu berada di dalamnya. Selanjutnya ia segera menarik selimut itu dan membuangnya begitu saja.
"Cepat bangun pemalas! Kita akan terlambat!" ucapnya.
Tapi tunggu... Mengapa tubuh Baekhyun menggigil seperti itu? Keringatnya pun telah membasahi wajah dan lingkar kaosnya. Chanyeol segera mendekati tubuh mungil itu dengan iba. Ia raba kening Baekhyun sesaat.
Panas...
Baekhyun demam tinggi!
"Ya Tuhan, kau demam! Akan aku panggil Luhan hyung! Kau harus dibawa ke rumah sakit!" ucap Chanyeol sambil melangkah meninggalkan Baekhyun.
Namun belum sampai Chanyeol mengambil langkah keduanya, tiba-tiba saja tangan mungil Baekhyun memegang lengannya erat. Seolah ia tak ingin Chanyeol pergi dari sisinya.
"Andwae. Aku ingin di sini saja. Jebal." ucap Baekhyun lirih.
"Tapi Baek..."
"Jebal..." lirih baekhyun lagi yang sukses membuat Chanyeol tak mampu mengatakan apapun selain menurutinya.
Dengan terpaksa akhirnya ia meminta Luhan hyung untuk tetap berangkat ke SM building. Tak lupa ia juga meminta Sehun untuk menjemput namja baby face itu. Sedangkan dirinya sendiri memilih untuk tetap berada di apartemen dan menjaga Baekhyun di sana. Ia hanya tidak ingin namja manis yang sedang sakit itu merasa kesepian.
"Sonsaengnim mengijinkan kita!" ucap Chanyeol sesaat setelah menelfon Young Min sonsaengnim sekedar meminta ijin untuk tidak berangkat latihan hari itu.
"Yeol, aku benar-benar tidak apa-apa. Kau berangkatlah." ujar Baekhyun lemah.
"Ani. Aku ingin disini saja. Jangan membantah. Arra?" kini Chanyeol benar-benar memaksa.
Baekhyun membuang napasnya bosan. Ia tahu, ia tak akan pernah menang jika harus berdebat dengan namja tiang listrik itu. Apalagi dengan keadaannya yang seperti ini. Dan pada akhirnya ia hanya bisa mengalah.
Sesaat sebelum Luhan berangkat menuju SM building beberapa menit lalu, Chanyeol sempat meminta Luhan untuk membantunya memasak seporsi bubur untuk Baekhyun. Beruntung sekali dirinya. Jika saja Luhan tidak membantunya mungkin dapur itu sudah hangus sekarang.
"Cepat makan buburnya. Lalu minum obat itu!" perintah Chanyeol yang kini tengah duduk di samping tempat tidur Baekhyun.
"Iya. Aku tahu..."
Dddrrrtt... Ddrrrttt...
Belum sempat tangan Baekhyun menyentuh mangkuk bubur itu, smartphonenya tiba-tiba saja berbunyi. Segera saja ia meraih smartphonenya yang sedari tadi berada di atas nakas di samping tempat tidurnya.
Dalam sepersekian detik, Chanyeol dapat membaca ID caller pada smartphone milik Baekhyun sebelum benda persegi panjang itu berada di tangan Baekhyun seutuhnya.
'Kai yaa? Siapa itu?' batin Chanyeol sesaat.
"Yeoboseo, kai ya? Wae?" ucap Baekhyun setelah mengangkat telefon itu.
"Hyung, kau baik-baik saja? Luhan hyung bilang kau sedang sakit?" ucap Kai di seberang sana.
"Ck, mengapa kau sekarang jadi stalker seperti ini?" Baekhyun menyindir dan terkikik pelan.
"Sshhh, diam dan jawab saja. Kau baik-baik saja kan?" ucap Kai memastikan.
"Ne, aku baik-baik saja."
"Kau tidak bohong hyung?"
"Tidak Kai. Aku tidak bohong."
Oke, kini Baekhyun mulai lupa akan adanya namja di sampingnya. Yap, namja yang bernama Park Chanyeol itu kini merasa diacuhkan. Oh ayolah, bubur buatannya sudah mulai dingin dan Baekhyun malah begitu asik mengobrol dengan seseorang bernama Kai yaa itu. Bahkan secara tak sengaja Chanyeol mendengar semua percakapan mereka karena volume telefon yang – menurut Chanyeol – terlalu keras.
"Baiklah. Cepat minum obat setelah itu tidur. Oke?" Kai terdengar sangat mengkhawatirkan Baekhyun sekarang.
"Ya! Ya! Aku bukan anak kecil Kai ah..."
"Ck, lakukan saja. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu hyung."
"Baiklah... Baiklah... Aku mengerti." jawab Baekhyun sambil tersenyum manis. Hey, tak tahukah ia jika senyum manisnya itu membuat namja yang kini berada di dekatnya harus menahan detak jantung yang begitu cepat?
"Jaga dirimu hyung. Aku akan segera berada di sampingmu."
"Geurae. Arraseo..."
"Oke, aku tutup telefonnya. Saranghae hyung..."
"Emm..."
Selesailah percakapan yang bagi Chanyeol membosankan itu. Sama seperti biasanya, Baekhyun tak pernah menjawab "nado" ketika Kai mengataka saranghae. Ia masih belum bisa. Apalagi sekarang ada Chanyeol yang lain di hidupnya. Sungguh, ia hanya tak mau membuat keadaan menjadi rumit.
"Saranghae hyung? Ck, mamjachingumu?" tanya Chanyeol tiba-tiba saat Baekhyun kembali meletakkan smartphonenya di atas nakas.
"Ya! Kau mendengarnya?" Baekhyun tampak terkejut dengan pertanyaan Chanyeol.
"Tentu saja! Kau menyetingnya terlalu keras. Pabo!" ucap Chanyeol sedikit keras. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba saja menjadi bad mood.
"Ya! Jangan memanggilku pabbo tiang listrik!"
"Arraseo... arraseo... geurom, jawab pertanyaanku. Dia... namjachingumu?"
"Ani. Hanya dongsaeng." jawab Baekhyun singkat.
"Tapi tadi terdengar mesra sekali. Aku akan sulit mempercayainya jika dia benar-benar dongsaengmu." ujar Chanyeol.
Baekhyun membuang napasnya kesal.
"Hemm, dia benar-benar hanya dongsaeng Park Chanyeol. Sudahlah, mana buburku. Aku lapar." Ucap Baekhyun lengkap dengan aegyonya.
Segera saja Chanyeol memberikan nampan berisi mangkuk bubur itu tepat kehadapan Baekhyun. Ia tersenyum sesaat ketika baekhyun memakan bubur buatannya itu dengan lahap. Namun di dalam sana, tepatnya di dalam hatinya masih saja bertanya, siapa namja bernama Kai tadi? Mengapa sepertinya Baekhyun sangat dekat dengannya? Dan mengapa seolah dirinya membenci kedekatan Baekhyun dengan namja itu?
Chanyeol merasa tak seharusnya ia disini. Semestinya ia pergi saja. Bukankah sudah ada yang memperhatikan Baekhyun meski hanya lewat telefon seperti tadi? Namun... errr... Chanyeol ingin di sini. Chanyeol ingin tetap di samping Baekhyun. Chanyeol ingin memastikan Baekhyun akan baik-baik saja. Chanyeol ingin Baekhyun sembuh. Chanyeol ingin Baekhyun kembali ceria seperti sedianya. Yeah, meski kenyataan yang baru saja terjadi telah membuatnya sedikit iri.
Eh? Iri? Apakah boleh? Siapa dia? Bahkan ia baru mengenal Baekhyun beberapa bulan yang lalu. Siapa tahu namja yang menelfon Baekhyun tadi sudah mengenal Baekhyun jauh lebih lama dari pada dirinya? Dengan begitu namja itu bisa leluasa berdekatan dengan Baekhyun. Bukan begitu?
Bahkan Chanyeol sendiri tak mengerti. Mengapa ia merasa terlalu terikat pada Baekhyun. Bukankah saat pertama kali ia sangat membenci sosok Baekhyun? Mengapa hal itu cepat sekali berubah? Bahkan hanya dalam hitungan minggu atau yeah... mungkin bulan.
"Tidurlah." ucap Chanyeol pelan ketika Baekhyun selesai dengan suapan terakhir pada buburnya.
"Arraseo. Tapi kau cepatlah berangkat latihan. Aku sudah melakukan semua perintahmu." ucap Baekhyun mengelak.
"Belum. Aku belum melihatmu tidur."
Oh shit! Mengapa sekarang Chanyeol menjadi overprotektif seperti ini?
"Yeol..."
"Lakukan saja. Aku juga ingin kau melakukan hal yang sama terhadapku." lirih Chanyeol yang membuat Baekhyun mengernyit tak mengerti.
"Apa maksudmu?"
"Namja tadi. Kau pasti akan menuruti semua apa yang dikatakan namja tadi bukan?"
"Kai?" Baekhyun mencoba menebak.
"Siapa pun itu. Aku tak peduli."
"Wae?"
"Jika kau menuruti apa yang dikatakannya, seharusnya kau juga menuruti apa kataku. Karena aku yang ada di sampingmu. Aku yang lebih tahu keadaanmu. Bukan dia."
'Ada apa sebenarnya?' batin Baekhyun bergejolak.
Well, Chanyeol egois? Tidak! Ia hanya ingin merasakan hal yang sama. Hal yang sama dengan namja yang dengan berani mengatakan 'saranghae' pada Baekhyun.
Sedangkan Baekhyun, ia tak mengerti. Mengapa Chanyeol menjadi begitu protektif padanya. Ia hanya bisa diam. Mendengarkan dan menatap mata namja itu lekat. Entahlah, Baekhyun pun tak bisa membaca apa yang dipikirkan Chanyeol saat ini.
Dan begitu pula Chanyeol yang tak mengerti akan tingkahnya sendiri. Ia bagai seorang namja yang terlalu takut kehilangan kekasihnya. Hei, tunggu... kekasih? Yang benar saja! Memang apa yang dirasakan Chanyeol? Ia menyukai Baekhyun? Ah, bahkan ia sendiri tak yakin. Hanya saja ia memang tak suka namja manis itu terlihat lebih mesra dengan namja lain selain dirinya.
...
Baekhyun tertidur pulas hari itu. Dengan sebutir paracetamol dan semangkuk bubur yang sukses membuat matanya terasa begitu berat. Chanyeol sendiri tetap disana. Tetap berada di samping ranjang sang namja manis. Menunggunya tidur dengan sabar dan memandangnya lekat. Hingga akhirnya ia tersadar saat sinar matahari mulai mencapai titik tertingginya.
Ia mengusap kening Baekhyun beberapa kali. Paras lembut itu... Sangat familiar baginya. Hanya saja otaknya tak mampu berpikir keras untuk mengingat segala hal yang terjadi pada dirinya dulu.
'Sebenarnya kau ini siapa? Mengapa begitu nyaman berada di dekatmu?' batin Chanyeol berkecamuk.
Ia kembali berpikir keras. Kembali mencari tahu hal yang sebenarnya. Sulit. Memang sangat sulit bagi Chanyeol untuk memikirkan segalanya. Ia memaksa otaknya untuk terus memutar ulang hal-hal yang pernah terjadi dalam hidupnya.
Otaknya tak mampu. Otaknya hanya bisa memutar klise suram kehidupannya yang dulu. Hanya beberapa pecahan memori. Tidak utuh. Layaknya sebuah rol film usang yang diputar kembali untuk keseribu kalinya. Sungguh, Hanya ada potongan-potongan kecil yang bahkan Chanyeol tak dapat menerkanya. Dan dalam pecahan memori itu ia dapat melihat senyuman manis Baekhyun. Tingkah lucu Baekhyun. Tapi itu kapan? Di mana? Ayolah... ia ingin jawaban!
"Akh!"
Sial! Sakit lagi!
Chanyeol memegangi kepalanya. Seperti biasanya, ia terlalu memaksa. Dan hal inilah yang pasti akan terjadi jika ia memaksa otaknya untuk berpikir keras.
Ia tak tahan. Ia putuskan untuk segera keluar dari apartemen Baekhyun. Entah mengapa apartemen itu pun hanya membuat otaknya ingin bekerja lebih keras lagi. Ia lelah. Ia memilih kembali ke kediamannya dan menenangkan diri disana. Mencoba menstabilkan emosi dan otaknya. Meninggalkan baekhyun yang ia yakin sedang tertidur pulas di apartemennya.
.
...
.
"Luhan hyung?" ucap Baekhyun ketika ia membuka matanya setelah tertidur pulas selama 10 jam. Ck, benar-benar paracetamol yang hebat!
"Ne. Wae?" tanya Luhan yang kala itu tengah membersihkan nakas di samping tempat tidur Baekhyun yang penuh dengan mangkuk kotor, gelas dan beberapa strip obat.
"Chanyeol..."
"Dia sudah pulang. Tadi ia mengeluh sakit kepala. Jadi ia bilang padaku kalau dia harus kembali ke rumahnya dan memintaku untuk menjagamu."
"Ah jinja!?"
"Wae? Kau merindukannya?"
"Ah, a-ani."
Luhan tersenyum penuh arti. Selanjutnya namja cantik itu segera meninggalkan kamar Baekhyun sambil membawa gelas dan piring kotor tadi. Sedangkan Baekhyun tetap duduk di atas ranjangnya. Mencoba mengingat apa yang dikatakan Chanyeol tadi sebelum ia tertidur.
Sesuatu seperti rasa benci Chanyeol. Ah, ia ingat. Saat dimana Chanyeol ingin diperlakukan seperti Kai. Saat Chanyeol ingin semua yang dikatakannya dituruti oleh Baekhyun. Lalu... Bolehkah Baekhyun merasa senang saat ini? Karena Baekhyun rasa itu adalah efek dari rasa cemburu Chanyeol terhadap Kai?
Ah...
Tidak! Tidak mungkin Chanyeol cemburu pada hubungannya dengan Kai mengingat ia masih mempunyai yeojachingu. Benar? Baekhyun kini berubah pikiran. Ia benar-benar tak yakin Chanyeol cemburu padanya.
Tunggu... Tadi Luhan hyung bilang Chanyeol mengeluh sakit kepala. Lalu apakah namja itu baik-baik saja? Kini keadaan menjadi terbalik. Kini Baekhyun yang mengkhawatirkan keadaan Chanyeol. Segera saja ia meraih smartphonrnya yang berada di atas nakas dan mengirim pesan pada namja itu.
To : Chanyeollie
Hei, apa kau baik-baik saja?
Hanya itu. Baekhyun memang tak biasa berbasa-basi. Ia memilih untuk langsung bertanya pada intinya. Lama ia menunggu balasan dari Chanyeol. Bahkan ia sempat memainkan beberapa game di smartphonenya untuk melepas bosan sambil menuggu Chanyeol membalas pesannya. Karena sebenarnya Chanyeol membalas pesan itu setelah setengah jam berlalu.
From : Chanyeollie
Ne. Aku baik-baik saja, Baek. Memangnya ada apa? Kau sendiri bagaimana? Sudah lebih baik?
To : Chanyeollie
Ne, aku sudah lebih baik. Kau benar-benar baik-baik saja? Apa kau masih sedikit pusing?
Belum sampai 1 menit pesan itu terkirim. Seseorang telah menelfon Baekhyun. Ia segera mengangkatnya agar smartphoenya tak bergetar terlalu lama.
"Mianhae, aku tidak sabar jika harus mengirim pesan." ucap Chanyeol dengan suara beratnya.
"Gwaenchanha. Geurom, bagaimana keadaanmu?" tanya Baekhyun.
"Biasa saja. Hanya sedikit sakit kepala."
"Isshh, pabbo ya, kau ingin meniruku? Sakit seperti itu?"
"Aku tak pernah ingin menjadi sepertimu asal kau tahu saja!"
"Ck, cobalah untuk tidak membuat orang lain khawatir!"
"Hei, kau mengkhawatirkanku? Aigoo... Byun Baekhyun, ayo katakan sejujurnya. Kau menyukaiku?"
Rona merah muda sukses tercipta di pipi mulus Baekhyun. Yeah, meski Chanyeol tak dapat melihatnya, ia tetap merasa malu.
"Bermimpilah Park Chanyeol!" tukasnya kesal.
"Baiklah. Aku akan bermimpi. Setelah itu, maukah kau datang dalam mimpiku?"
"Jangan berharap kau bisa menggodaku, tuan Park!"
Chanyeol hanya bisa terkikik geli disana. Entahlah, rasanya begitu menyenangkan bisa menggoda namja manis bernama Byun Baekhyun itu. Mungkin memang sudah menjadi kebiasaan baru seorang Park Chanyeol.
"Yeol, aku serius. Apakah kau baik-baik saja?"
"Ne. Kau tenang saja. Aku merasa lebih baik saat ini." suara berat Chanyeol terdengar lebih serius.
"Cepatlah minum obatmu. Lalu tidur. Arra?"
"Ya! Ya! Ya! Kau tidak bisa sesenaknya menyuruhku seperti itu!"
"Hari ini aku sudah menuruti segala yang kau katakan, Park Chanyeol. Sekarang saatnya kau mendengarkan semua perkataanku."
Baekhyun terlihat tak terima. Bagaimana tidak, sehari penuh ia menuruti perintah Park Chanyeol. Dan kini namja itu justru protes seenaknya.
"Geurae... Geurae... Arraseo! Baiklah, aku akan tidur. Akan kututup telefonnya!"
"Emm... Jaljayoooong~~!" ucap Baekhyun aegyo.
"Jangan ucapkan dengan nada seperti itu atau besok aku akan memakanmu!"
"Oke... Sudahlah, cepat tidur. Jaljayo!"
"Eo. Jaljara!"
Bip~
Sambungan telefon itu terputus dan meninggalkan senyum penuh arti di wajah keduanya.
.
.
Hari itu kembali seperti biasa. Chanyeol harus berangkat tepat pukul 6 pagi dan menjemput Baekhyun. Hingga akhirnya setengah jam kemudian keduanya baru mencapai SM building. Dengan setengah berlari, mereka melangkah menuju ruang latihan mereka.
Kosong. Tak ada satu sonsaengnim pun di sana. Memang seperti itu, Chanyeol dan Baekhyun dituntut untuk berangkat pagi namun ternyata sonsaengnim hanya menyuruh mereka untuk berlatih berdua saja. Mengapa mereka tidak menolak? Itu karena Young Min sonsaengnim selalu tahu saat dimana mereka berangkat terlambat yang selanjutnya akan menjadi hal buruk bagi mereka karena Young Min sonsaengnim akan memarahi mereka habis-habisan.
Young Min sonaengnim selalu berkata, "aku hanya ingin mengajarkan kedisiplinan bagi kalian! Jika kalian saja tak mau mematuhi aturan, aku tak yakin kalian bisa debut!"
Yeah, selalu seperti itu ketika keduanya terlambat.
"Chan! Singkirkan tanganmu atau aku akan memukulmu!" ucap Baekhyun kasar saat Chanyeol dengan sengaja memegangi tengkuk Baekhyun yang merupakan bagian tubuh paling sensitif miliknya.
"Coba saja!" goda Chanyeol sambil menjulurkan lidahnya.
Baekhyun cepat-cepat melayangkan tangan kanannya untuk memukul kepala Chanyeol. Namun sayang, Chanyeol ternyata lebih sigap dan berhasil menangkap tangan mungilnya. Terus saja seperti itu. Bahkan untuk 10 menit selanjutnya Chanyeol tak bosan untuk menggoda temannya itu. Baekhyun terlihat geli. Itu sesuatu yang lucu bukan? Setidaknya bagi Chanyeol seperti itu.
"Ya! Ya! Ya! Hentikan Park Chanyeol, Byun Baekhyun!" ucap Young Min sonsaengnim.
Segera saja Chanyeol dan baekhyun menghentikan tingkah usil mereka dan membungkuk pada sonsaengnim mereka.
"Anyyeonghaseyo sonsaengnim."
"Ne, aku hanya ingin mengenalkan trainee baru pada kalian sebelum beatburgerjae datang untuk melatih kalian." ucap Young Min sonsaengnim.
Pikiran Chanyeol langsung tertuju pada pelatih dance yang killer baginya itu. Sambil berharap agar pelatihnya itu tak bisa datang hari ini.
"Baiklah. Masuklah nak." Ucap Young Min sonsaengnim yang masih berdiri di ambang pintu.
Namja itu segera memasuki ruang latihan Chanyeol dan Baekhyun. Seorang namja berkulit tan dengan tinggi normal dan senyum yang menawan. Sungguh sosok yang bisa meluluhkan semua yeoja korea. Ia berjalan dengan santai sambil sesekali tersenyum penuh arti pada Baekhyun. Ingat, pada Baekhyun. Hanya pada namja manis itu.
Sedangkan Baekhyun sendiri sedari tadi hanya bisa menatap namja itu dengan pandangan terkejut. Ia sama sekali tak bisa melepaskan pandangannya dari namja tan itu. Mulutnya menganga begitu saja. Semua bagian tubuhnya terasa kaku, yeah, layaknya seseorang yang benar-benar baru saja terkena tongkat kejut listrik.
"Kai?"
.
.
.
TBC
.
Annyeeooooooooooooong~~
Halo Halo Halo... Masih pada inget sama FF ini kaaaaan? (hah, gue jadi alay!)
Oke, chapter ini abal banget! Beneran deh! Gak penting! Huwhuwhuw T,T
Mianhae kalo mengecewakan...
fuawaliyaah : ada gak yaa? kasih tau gak yaa? hehehehe... ada kayanya, ane juga gak tau itu bakal masuk cerita apa gak! hahaha *authorsarap makasih reviewnya ^^
SyJessi22 : udah ada di chapter ini kok luhan mau kasih tau baekki ato gak... hehehehe... makasih reviewnya ^^
selvianakpopers290 : hah, menderita? nenek sihir? jadi berasa beauty and the beast aja... tenang aja, baekkie tetep bahagia sama yeolli kok... makasih reviewnya ^^
Meriska-Lim : ini udah diapdet... gak kelamaan kan? makasih reviewnya ^^
nadya. : mian, luhan gak segampang itu kasih tau baek. hohohoho (*ketawa setan) hehe... stay with me nya udah end kan? makasih ya reviewnya ^^
raetaoris : sama! ane juga! kaibaek! kaibaek! kaibaek! (chan : yaudah, ganti kaibaek aja! tapi abis ini lu gue gantung! author pabbo! / me : *mintaampun T,T) makasih ya reviewnya ^^
ssnowish : iya... semoga real life nya juga cepat bersatu... hehehe makasih reviewnya ^^
parlili : udah dilanjut ini... makasih reviewnya ^^
iniaku : ini udah diapdet... mian kalo lama... makasih reviewnya ^^
cclara : ada kok, ane gak mungkin menghilangkan orang seganteng jongin... hehehe makasih reviewnya ^^
ryanryu : yap! bener banget! yang disini udah termasuk moment romantis belom ya? hehehe... iya, luhan tau chan kok! makasih reviewnya ^^
CY Destiny : ini udah dilanjut! makasih reviewnya ^^
keep give me review ya readerdeul... biar cerita ane gak garing segaring kacang g*ruda! hahahahagz...
makasih juga yang udah mau baca tapi belom sempet review... makasih buat semuanya deh!
oke, gomawoyooo yeorobun! see u next chap! ^^
