Disckaimer : Hiro Mashima
Title : Light Witch and The 12 Zodiac
Genre : Fantasy, Drama, Romance, Mystery
Pairing : Natsu x Lucy and the others
Warning : AU, OOC, Alur membingungkan, Gaje, Abal, Cerita nggak menarik, Typo berserakan dan masih banyak lagi kekurang fanfic ini.
.
.
Yo minna.. saya kembali dengan chapter 7! ^_^
Agak lama juga saya nggak update fanfic ini.. maaf ya Minna.. habis saya bener-bener sibuk semenjak kelas 2 ini. Jadi saya jarang punya waktu luang buat ngetik. Tapi selalu saya usahain supaya saya bisa selalu update walaupun telat banget.
Oke.. di chapter kemarin adalah pertandingan Daimatou Enbu hari pertama. Pertandingan kemaren Natsu dan lainnya udah nunjukin kekuatan sihir mereka yang sebenarnya 'istimewa'. Lho, kok istimewa? Haha.. ada deh.. :v
Di chapter itu juga Lucy yang hampir di bunuh sama Flare akhirnya di tolong oleh Natsu yang nekat masuk arena dan malah mengorbankan tubuhnya saat jatuh dari ketinggian. Yah.. Sheilchan Cuma bisa bikin adegan Romance kek begitu, jadi maaf kalo kurang greget ya.. :v
Lalu terakhir Gajeel tiba-tiba pergi setelah mendapatkan sedikit pencerahan dari serangkaian teka teki yang sebenarnya berhubungan dengan kemunculan 'sosok pria berarmor emas'. Gajeel pergi ke Levy kah untuk menanyakannya? Lalu informasi apa saja yang akhirnya Gajeel dapatkan?
Di cahpter ini akan mulai di terlihat.. kepingan-kepingan misteri hidup Lucy. Kegelapan juga mulai bergerak mengincar Lucy.
Kayaknya Sheilchan kelamaan ngomong ya? :v ya udah deh.. dari pada kelamaan langsung aja, READ ENJOYYY! ^_^
.
.
Pemuda bersurai pink itu melangkahkan kakinya memasuki sebuah kafe bernama 'Love and Lucky'. Warna rambutnya yang sangat mencolok menarik perhatian orang-orang di dalam kafe itu. Namun pemuda ini mengabaikannya. Onix bermanik sehitam malam miliknya beredar ke sekeliling, tampak mencari sesuatu. Hingga akhirnya matanya menangkap sosok Pria berkemeja putih bersurai oranye yang duduk di meja belakang sendirian. Pria itu menatap tepat ke arahnya dengan sedikit tersenyum
"Sudah ku duga, kau akan datang, Natsu Dragneel."
.
.
"Ini di luar nalar.. Tak ku sangka, ternyata legenda itu benar.."
Pemuda bersurai biru itu berjalan dengan sedikit sempoyongan begitu keluar dari ruang kepala sekolah. Manik hitamnya menatap ke depan, namun tampak kosong, seperti tengah memikirkan sesuatu. Dan memang benar.. ia sedang memikirkan sesuatu.. tentang fakta yang sangat mengejutkan.
Karena terlalu sibuk, ia tak menyadari kehadiran seseorang.
"Jellal Fernandez." Panggil seseorang.
DEG!
'Suara ini?!'
SET!
Dengan segera, Jellal membalikkan tubuhnya. Pemuda itu tercekat begitu melihat sosok pria berbalut jubah hitam tengah duduk di sisi jendela besar, beberapa meter di belakangnya. Priia itu menatap Jellal.
"Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu."
"K-Kau.."
.
.
"Dasar jalang!"
PLAKKK!
Tamparan keras mendarat di pipi mulus gadis berambut merah itu. Kerasnya tamparan itu bahkan sampai membuat tubuh rampingnya tersentak dan jatuh di atas lantai berkeramik gelap. Gadis itu mendudukkan dirinya. Tangannya menyentuh bekas tamparan yang memerah di pipinya dengan gemetaran. Kepalanya menunduk penuh takut dan penyesalan.
Pria tua berjenggot putih panjang yang duduk beberapa meter di depannya, melemparkan tatapan membunuh pada gadis itu. Tangannya mencengkram pinggiran kursinya yang berukiran rumit hingga hancur dalam cengkramanannya.
"Sudah ku bilang padamu untuk membiarkannya menang darimu! Tapi kau malah menyerangnya secara brutal seperti itu! Apa kau ingin membunuhnya?!" teriak pria itu.
"M-maaf. Maafkan aku Master Hades. A-Aku tak bermaksud-"
"Omong kosong!"
"UAKHHH!"
"Lalu apa yang kau lakukan hah?! Kau benar-benar wanita bodoh yang tak berguna Flare!"
"UAKHH!"
Tubuh Flare tertekan ke tembok dan lehernya makin terasa sakit karena tercekik oleh sesuatu dan makin mengencang.
"Gadis itu sangat penting bagi Raja Kegelapan yang Agung! Apa kau tak mengerti?! Kita membutuhkannya hidup-hidup! Jika sampai gadis itu benar-benar terbunuh karena kebodohanmu, maka dengan tanganku sendiri, aku akan melenyapkanmu!"
"Haakkhh...sh.."
Cekikan di leher Flare terlepas dan tubuh gadis itu melorot ke lantai. Gadis itu langsung berusaha menghirup udara sebanyak yang ia bisa untuk mengisi paru-parunya yang hampir kehabisan oksigen.
Hades mendecih. Kemudia ia memanggil orang lain.
"Sting! Minerva!"
Dua orang berbeda gender muncul dari arah belakangnya. Seorang, pemuda berambut pirang dengan senyum yang tampak menawan, dan seorang lagi gadis berambut hitam panjang yang rambutnya di gelung sedikit di kanan-kiri kepalanya. Mereka berdua merendahkan tubuh mereka ketika menghadap ke arah Pria itu.
"Ya, Master Hades."
"Aku ingin kalian berdua yang menjadi lawan gadis pirang itu di pertandingan babak kedua. Aku akan mengatur rencana agar kalian bisa melawannya saat pertandingan dua lawan dua. Dan satu lagi, serang gadis itu terus-menerus hingga terdesak, tapi jangan sampai celakakan nyawanya!"
"Baik Master!"
Pria berjenggot putih itu tersenyum penuh kemenangan. Senyumnya benar-benar tampak menyeramkan.
"Aku ingin melihatnya.. Bukan hanya Taurus sang penghancur.. tapi semuanya.. semua roh Zodiac para Enchanter... dan kau akan menunjukkannya padaku, Lucy Heartfilia.."
Flare hanya bisa menatap horor sosok pria di depannya yang kini tampak terlihat seperti iblis.
.
.
CHAPTER 7.
Gadis berambut pirang itu berdiri menggadap ke luar jendela kamarnya. Manik matanya yang berwarna coklat karamel menatap ke arah birunya langit. Angin sepoi-sepoi yang berhembus pelan menerbangkan helaian emasnya ke belakang, membelai wajah cantiknya lembut. Matanya terpejam menikmati sentuhan sang angin.
Gadis itu menatap sebuah pohon yang menjulang tinggi di halaman belakang kediamannya. Tiba-tiba gadis itu teringat dengan kejadian beberapa hari lalu ketika ia kabur dari kamarnya untuk mencari gelang pemberian ibunya. Saat seorang pemuda berambut pink muncul dan menyelamatkannya ketika ia hampir jatuh dari jendela kamarnya... lalu saat pemuda itu membawa tubuhnya melompat ke dahan pohon halaman belakangnya... dan saat pemuda itu mengembalikan gelangnya yang hilang.
Lalu kejadian kemarin yang hampir membuatnya kehilangan nyawa. Saat pertarungannya dengan gadis bernama Flare. Jika saja saat itu Natsu tak menolongnya dan menghentikan Flare, ia tak mungkin masih berada di sini. Ia dengar dari Porlyusica-sensei, Natsu rela mengorbankan tubuhnya hanya demi menolongnya saat jatuh dari ketinggian. Pantas saja saat di ruang perawatan, ia melihat punggung pemuda itu di balut dengan perban. Jadi.. luka itu karena pemuda itu menolongnya?
Rasa tegang dan gugup saat ia di tinggal berdua saja di ruang perawatan masih dapat ia ingat. Bagaimana pemuda itu terdengar mengkhawatirkannya, bagaimana pemuda itu secara tak langsung menyemangatinya. Dan bagaimana pemuda itu... tersenyum padanya.
Sungguh! Pemuda itu tersenyum! Senyum manis yang benar-benar tulus.. Senyum yang terasa begitu menenangkan.. senyum yang kemudian merubah semua pandangannya terhadap pemuda itu. Dan senyum yang telah membuat jantungnya berdebar keras.
Ia tak bisa melupakan senyum itu.. senyum yang bahkan tak pernah Ia lihat sebelumnya dari wajah tampan pemuda itu.
Perasaannya menghangat.. pemuda itu.. Natsu.. telah merubah sedikit hidupnya. Ia harus berterimakasih pada Natsu atas semua yang pemuda itu berikan padanya. Semua yang pemuda itu lakukan untuknya.. semua pertolongannya.
Hanya saja, ada satu hal yang masih mengganjal di hati gadis itu.
Ini soal teman-temannya..
Walaupun Natsu mengatakan takkan menjauhinya hanya karena kekuatan mengengerikannya, tapi ia tak yakin jika teman-temannya berpendapat sama dengannya. Ia takut, mereka akan tetap menjauhinya seperti yang sudah-sudah terjadi. Dan ia.. kembali tak memiliki teman.
Hanya dengan memikirkannya entah kenapa membuatnya merasa ingin menangis.
Suara ketukan pintu menyadarkan gadis ini dari lamunannya. Gadis itu membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah pintu bercat putih yang jauh di depannya. Ketukan pintu terdengar kembali.
Tok tok tok..
"Lucy, Hime. Ini saya Kinana." Kata seseorang dari luar pintu.
"Ya. Ada apa Kinana? Masuklah, pintu tidak ku kunci."
Kinana, salah seorang maid di kediaman Lucy membuka pintu kamar gadis itu. Maid itu membungkukkan sedikit tubuhnya. Senyum bahagia terpatri di wajahnya.
"Lucy,Hime. Saya ingin memberitahu jika teman-teman anda-"
"Yo Lucy!"
Seorang pemuda sembrono yang sedang stripper masuk begitu saja ke kamar Lucy dengan santainya. Lucy tentu saja terkejut begitu menyadari siapa pemuda itu. Dan yang lebih mengejutkan lagi, pemuda itu tak datang sendirian karena enam temannya yang mengekor kini menampakkan diri.
"Hai Lucy.. bagaimana kabarmu?"
.
.
"Ada yang ingin ku bicarakan denganmu."
Natsu meletakkan gelas mokachinonya dan kembali berfokus pada pria bersurai oranye di depannya. Pria itu menatapnya begitu serius namun Natsu seperti tak begitu tertarik dengan apa yang ingin di ceritakkan pria itu.
Sebenarnya pertemuan mereka memang sudah dijanjikan. Tidak, tapi Lokilah yang meminta, atau malah menyuruh Natsu menemuinya di Kafe 'Love and Lucky' pukul lima sore. Ia mengatakannya kemarin sore, saat Natsu akan meninggalkan ruang perawatan Magnolia Academy.
"Jika bukan hal penting. Aku tak tertarik." Jawab Natsu dingin.
"Sikapmu memang dingin sekali, seperti yang di katakan Lucy."
Natsu melirik pria itu sedikit tak suka, "Jika hanya itu yang ingin kau katakan, aku akan pergi." Katanya bersiap bangkit.
"Ini soal Lucy."
TAP
Gerakan Natsu terhenti. Loki tersenyum ketika pemuda bersurai pink itu perlahan kembali duduk. Sudah ia duga, Natsu pasti tak akan pergi jika hal ini menyangkut majikannya.
"Ada apa dengannya?" tanya Natsu, terlihat tak begitu tertarik. Namun Loki tahu, Natsu sebenarnya sedang penasaran sekarang.
"Aku hanya ingin kau menjaganya ketika aku tak bersamanya" Kata Loki.
"Maksudmu?" tanya Natsu tak paham.
Loki tersenyum sinis, "Aku tahu, beberapa malam ini, kau diam-diam masuk ke halaman belakang Heartfilia Corzen dan memperhatikan Lucy dari kejauhan. Aku juga tahu malam itu, Kau berada di dalam kamar Lucy setelah menolongnya saat hampir jatuh dari jendela kamarnya. Kau pikir aku tak menyadarinya huh?"
Lirikan mata Natsu yang tampak dingin namun tajam itu menandakan jika apa yang dikatakan Loki benar adanya. Dan pemuda itu sepertinya juga tak menyangka jika Loki mengetahuinya dan tak suka ada orang yang mengetahuinya.
"Aku tahu, kau pasti menyadari kekuatan tersembunyi yang ada didalam diri Lucy, juga.. kekuatan dari kalungnya. Maka dari itu, kau berniat menyelidikinya, bukankah begitu?"
Natsu tak menjawab, dan hal itu Loki anggap sebagai 'iya'.
Loki menyesap kopi di cangkir lalu meletakkannya bersama tatakannya, "Aku tak akan mengatakan soal kau yang berada di kediaman Heartfilia pada siapapun. Tapi sebagai gantinya, aku memintamu untuk melindungi Lucy. Apapun yang terjadi."
Natsu menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa aku harus melakukannya?"
Genggaman tangan Loki pada cangkir kopinya mengerat, kepalanya sedikit menunduk, aura di sekitarnya berubah tegang, "Karena dia.. sedang di incar.."
Seessshh...
Keheningan melingkupi meja keduanya. Loki menunduk, seperti tengah memikirkan sesuatu, sementara Natsu mencoba menerka apa yang di maksud pria itu.
Di incar? Oleh siapa? Dan kenapa?
Loki mengangkat kepalanya, ia melanjutkan. Wajahnya berubah sangat serius. "Aku ingin bertanya padamu. Apa kau merasakan sesuatu di dalam dirimu bergejolak ketik pertama kali bertemu dengan Lucy?"
SESSSHHH...
Natsu tampak sedikit terkejut. Sesuatu yang bergejolak ketik melihat Lucy pertama kalinya. Natsu.. memang merasakannya. Dan perasaan itu sangatlah kuat. Bagaimana Pria di depannya ini tahu?
Loki tersenyum, "Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku tahu hal itu. Jangan terkejut, karena sebenarnya... aku juga merasakan hal yang sama."
Suasana di antara keduanya hening kembali. Perkataan Loki barusan seperti memancing Natsu agar mengetahui lebih banyak lagi. Namun.. kenapa pria itu seolah ingin menceritakannya padanya?
Loki menegakkan tubuhnya, "Sebenarnya aku tak pernah menceritakan hal mengenai keluarga Heartfilia, Lucy maksudku pada siapapun. Terutama.. tentang masa lalunya. Bahkan keluarga Heartfilia juga tak pernah bercerita pada siapapun. Orang luar yang mengetahui semua rahasia mereka, hanya aku. Dan tentu saja.. soal kalung dan kekuatan Lucy, aku mengetahuinya."
Natsu diam, Loki menumpukan kedua sikunya di atas meja, menautkan jemarinya menjadi satu di depan bibir. Sikapnya, seperti mencoba mengatakan sesuatu yang terselubung. "Jadi.. apa kau ingin mengetahuinya, Natsu?"
"Kau bermaksud menceritakannya padaku?" tanya Natsu, merasa aneh.
"Ya." Jawab Loki pendek. Tanpa ragu.
"Kenapa kau mau menceritakannya padahal keluarganyapun tak mau bercerita?"
Loki menghela nafasnya, menatap pemuda itu penuh permohonan, seperti mencoba membebankan apa yang selama ini ditanggungnya pada Natsu agar mengetahui semuanya.
"Itu karena aku butuh pertolonganmu. Juga.. karena aku percaya padamu."
Natsu diam. Dan Loki mulai menceritakan awal mula bagaimana hidup Lucy berubah.. sedikit demi sedikit.. Hingga akhirnya, pemuda itu mengetahui semuanya.
Fakta tentang Bintang, Kristal Cahaya, Ramalan masa depan, dan.. apa yang akan terjadi ketika gadis itu menginjak usia 16 tahun akhirnya terungkap.2
.
.
"Te-teman-teman.. a-apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Lucy bingung. Kepalanya bergerak dari kanan ke kiri, menatap tujuh orang temannya yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.
Di sana berdiri Erza, Mira, Levy dan Juvia. Tak hanya mereka saja karena ternyata Gray, Gajeel dan Laxus yang entah memiliki kepentingan apa juga ikut bersama mereka berempat. Hal itu tentu saja menjadi suatu kejutan sendiri bagi Lucy.
Erza mengernyitkan dahinya, "Kau ini kenapa berkata aneh seperti itu? Sudah jelas kan kami semua datang ingin menjengukmu." Katanya.
Lucy terdiam. Menjenguk?
Levy berjalan ke arah Lucy dengan mata berkaca-kaca ia dan langsung memeluk gadis itu, membuat Lucy sedikit kaget.
"E-Eh... L-Levy-"
"Syukurlah kau baik-baik saja-hiks."
DEG!
Levy.. menangis. Gadis itu menangis sambil meluk Lucy di depan teman-temannya. Lucy tentu saja jadi bingung, kenapa gadis ini menangis?
Mira mendekat, "Kemarin, saat kau terluka sangat parah Levy panik sekali. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Kami semua juga. Tapi kami tak diperbolehkan masuk ke ruang perawatan oleh Porlyusica-sensei karena dia harus fokus menyembuhkanmu. Jadi kami semua menunggu, menunggumu hingga kau siuman. Tapi ketika kau sudah siuman, ternyata kau sudah di bawa pulang oleh Ayahmu." Terang gadis berambut silver itu.
Lucy makin terkejut. Benarkah apa yang dikatakan Mira? Jadi.. mereka semua.. menunggunya siuman?
"J-jadi... k-kalian.. menungguku?"
Mira mengangguk pelan.
Juvia yang sedari tadi menahan air matanya kini ikut memeluk Lucy hingga tubuhnya terhuyung ke belakang. Gadis itu menangis tersedu-sedu.
"Juvia sangat bersyukur.. hiks.. Lucy sudah sembuh. Juvia sangat khawatir.. apa lagi saat kemarin Lucy terluka sangat parah. Juvia benar-benar takut kehilangan teman Juvia.. hiks-hiks.."
Teman... entah kenapa perasaan Lucy berubah menghangat mendengar penuturan Juvia dan teman-teman lainnya. Setelah akhirnya mereka tahu jika Lucy adalah anak yang berbahaya.. mereka masih tetap mengkhawatirkannya? Dan tetap menganggapnya sebagai teman?
Gadis itu bersyukur, di dalam hatinya merasakan kehampaan selama ini, kini mulai terisi berkat teman-temannya. Beban pikiran yang selama ini ia pikul, juga rasa kesepiannya karena tak memiliki teman terbayar sudah berkat ketulusan teman-temannya yang mau menerimanya. Gadis itu ikut menangis, balas memeluk dua temannya yang begitu mengkhawatirkannya.
"Aku sudah tak apa teman-teman.. terimakasih..hiks.. terimakasih sudah mau menjengukku.. dan tetap menganggapku sebagai teman kalian." Kata Lucy.
Erza dan Mira tersenyum melihat pemandangan di depannya. Mira kini mendekat dan turut ikut memeluk Lucy. Erza hanya berdiri di tempatnya, namun air matanya teelihat jelas jatuh ke pipinya. Gray, Gajeel dan Laxus yang tadinya diam kini ikut mendekat, sebelum Erza menghentikan ketiganya.
"Mau apa kalian?" tanyanya.
"Tentu saja ikut memeluknya sebagai tanda syukur." Jawab Gray. Gajeel dan Laxus hanya manggut-manggut setuju.
DUAK! DUAK! DUAK!
"Jangan konyol. Dasar mesum." Kata Erza setelah memukul tiga pemuda tadi dengan pedang requipnya.
"Aduh.. k-kau ini kenapa si! Sakit tahu!" protes Gajeel.
"Kenapa aku juga!" tambah Laxus sembari memegangi kepalanya yang sakit.
Lucy, Juvia, Levy dan Mira hanya tertawa kecil melihat ekspresi kesakitan ketiganya. Setelah sekian lama.. akhirnya ia bisa terrawa bersama orang-orang yang ia sayangi lagi.
Minna.. terimakasih..
.
.
"..lalu, apa kau tahu? Arenanya malah dirusak oleh Laxus!"
Ahahahaha
Suasana kamar Lucy benar-benar ramai. Meja di kamarnya penuh dengan minuman dan makanan yang sengaja di sediakan oleh pembantu kediaman rumah Lucy untuk menyuguhi teman-temannya. Lucy dan gadis-gadis lainnya duduk di sofa sembari menikamti minuman mereka, sementara yang laki-laki duduk di lantai berkarpet karena sofa di kamar Lucy hanya cukup diduduki untuk 5 atau 6 Orang.
Lucy tertawa bersama teman-temannya setelah mendengar cerita Gray tentang pertandingan Daimatou Enbu hari ini. Pemuda itu bercerita jika saat pertandingan saling adu sihir, ada serangan yang meleset hingga akhirnya mengenai Laxus. Laxus tentu langsung marah dan malah menyerang dua orang yang sedang bertanding di arena itu hingga mereka sama-sama terkapar tak berdaya lalu menghancurkan arena Daimatou Enbu.
Laxus tampak tak begitu suka dengan hal yang diceritakan Gray ke Lucy. "Jangan melebih-lebihkan ceritamu Ice boxer. Aku tak menyerang mereka habis-habisan. Aku hanya menyerang sekali." Koreksinya.
"Memang sekali tapi langsung membuat mereka K.O dan menghancurkan arena, namanya sama saja menyerang habis-habisan." Celetuk Gajeel dan sedetik kemudian Laxus langsung menyetrum Gajeel dengan petirnya dan keduanya terlibat adu mulut.
Lucy tertawa kembali. Rasanya sangat senang bisa berkumpul bersama teman-temannya seperti ini. Suasana kamarnya jadi lebih hidup di banding sebelumnya.
"Terimakasih teman-teman. Kalian sudah mau menjengukku di rumah, dan tetap menganggapku sebagai teman kalian."
"Kau ini kenapa bicara begitu lagi si?" kata Erza sedikit tak suka. "Kau kan memang teman kami. Mana mungkin kami menjauhimu."
Lucy menundukkan kepalanya, "Ya. Tapi.." gadis itu menggigit bibir bawahnya, "Kalian sudah melihat kekuatanku yang mengerikan. Aku bisa menghancurkan apa saja yang ada di sekitarku dengan mudah jika sampai aku tak bisa mengendalikan kekuatanku. Dan saat itu, bisa saja.. aku melukai kalian."
Keheningan menginggapi kedelapan orang itu. Lucy makin menundukkan kepalanya dan tak membuka suara lagi sebelum akhirnya Mira menepuk-nepuk bahunya pelan.
"Kalau masalah seperti itu sudah biasa bagi kami Lucy. Kami juga punya pengalaman pahit dengan kekuatan kami, kau tahu." Kata Mira. Ada sedikit rasa menyesakkan ketika gadis itu mengatakannya. Lucy terdiam kendengar penuturan Mira. Gadis itu menatap teman-temannya. Erza, Levy dan Juvia mengangguk pelan, tampak sedih sementara Gray, Laxus dan Gajeel menatap ke arah lain, tampak tak begitu peduli dengan topik kali ini. Tapi di mata ketiganya, terbesit rasa penyesalan di masa lalu.
Mira tersenyum, "Jadi kami tahu apa yang kau rasakan."
Lucy tersenyum tipis, terharu. Mereka benar-benar tulus mengatakannya. Rasa ragu yang selama ini mengganjal di hatinya hilang sudah. Ini yang selama ini Lucy dambakan. Memiliki teman sejati.
"Ya.. terimakasih semuanya."
"Sudah-sudah. Jangan berterimakasih terus. Tas kami tak muat menampung terimakasihmu itu." Kata Gray bercanda. "Lebih baik kita bicara topik lain saja."
"Be-benar juga ya." Kata Lucy. Tiba-tiba ia ingat sesuatu. "Eh, a-ano.. bagaimana keadaan Natsu? Apa Natsu hari ini masuk sekolah?" tanyanya.
"Oh, Salamander. Hari ini dia masuk kok. Keadaannya juga baik-baik saja." Jawab Gajeel. "Ada apa kau menanyakannya.
"Ah-i-itu.. tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memastikan keadaannya saja. Syukurlah jika keadaannya baik-baik saja.
"Sepertinya ada yang merindukkannya nih..."
Sontak pipi Lucy memerah, "K-kau ini kenapa si? J-jangan berkata begitu ne, Mira"
"Tapi Lucy, kalau ingat kejadian kemarin jantung Juvia benar-benar berasa mau copot. Apa lagi ketika Lucy hampir di tusuk dan tiba-tiba Natau datang menyelamatkan Lucy dan akhirnya kalian berdua jatuh bersama-sama. Kyahh! Keren sekali!" heboh Juvia. Gadis itu kemudian melirik Gray, membayangkan jika Ia ada si posisi Lucy saat itu dan Gray menyelamatkannya.
"Benar. Dan apa yang dilakukan Natsu kemarin benar-benar berada di luar perkiraanku. Aku tak menyangka dia akan melakukan hal senekat itu hanya untuk menolongmu Lucy. Padahal biasanya dia akan cuek saja dan tak peduli atau malah keluar dari stadion setelah selesai dengan pertarungannya. Tetapi.. kemarin sikapnya sungguh berbeda. Dia malah berdiri menonton pertandingan selanjutnya, yaitu saat Kau melawan Flare. Dan dia bahkan sama sekali tak mengalihkan perhatiannya dari lapangan. Sungguh.. sikapnya benar-benar berlawanan dari biasanya." Terang Gray.
"Eh, m-masa? I-itu hanya perasaanmu saja Gray." Kata Lucy membantah.
"Tidak. Yang di katakan Gray itu benar." Kata Laxus. "Dia itu tipe orang yang dingin dan sangat acuh. Dia hanya akan melakukan apa yang bersangkutan dengannya. Tapi, tiba-tiba dia mau menolongmu seperti itu, yang bahkan sama sekali tak menguntungkannya. Dan tatapannya padamu.. apa kau pernah memeperhatikan?" tanyanya pada Lucy
Lucy mengangguk pelan.
"Tapi kau pasti tak tahu jika dia menatapmu berbeda dari yang lainnya. Di matanya, aku merasa Dia menganggapmu spesial."
Spesial? Natsu menatapnya spesial? Apa tatapan dingin dan cueknya itu saat melihatnya dia sebut spesial? -_-
Lucy hanya mengedip-ngedipkan matanya bingung. Sementara gadis-gadis lain menyimak dengan penuh minat apa yang dikatakan Laxus.
"Aku tak pernah melihat tatapannya yang seperti itu pada yang lainnya. Matanya yang biasa terlihat dingin seperti menghangat ketika melihatmu. Dan dari yang ku tahu selama ini, kau adalah satu-satunya gadis yang terlihat dekat dengan Natsu.
BLUSSSHHHHH...
Pipi Lucy merona. Tatapannya menghangat ketika melihat dirinya? Benarkah Natsu menatapnya begitu? Seolah dirinya ini spesial? Tapi.. kenapa? Dan.. apa tak terlalu berlebihan mengatakan jika Ia adalah satu-satunya gadis yang dekat dengan pemuda tampan bersurai sakura itu? Padahal yang Lucy rasakan, pertama kalinya Natsu seperti tak suka dengannya.
Lucy hanya bisa menerka-nerka, tapi tak dapat dipungkiri lagi jika jantungnya berdetak cepat. Namun.. entah kenapa ia merasa hangat ketika Laxus mengatakan hal seperti itu.
Melihat reaksi Lucy yang blushing dan senyum-senyum sendiri membuat Mira tak kuasa untuk tak menggoda Lucy. "Cieh.. senangnya dianggap spesial oleh Natsu Dragneel."
"Wah.. sepertinya tuan wajah datar benar-benar sudah jatuh cinta pada si anak baru hem.." tambah Levy
Muka Lucy tambah blushing, "M-mou.. Mira..Levy-chan.. jangan menggodaku begitu."
"Apa kau tak mau menanyakan kenapa dia tak ikut menjengukmu Lucy?" kata Erza.
"I-itu.."
Mana mungkin Natsu mau repot-repot menjenguknya. Ya kan?
"Oh, kalau itu, hari ini sepertinya Natsu sedang ada keperluan penting." Terang Gray.
"Keperluan penting apa?"
"Entahlah, aku juga tak tahu. Dia tak pernah bercerita atau pamit kalau mau pergi. Dia sukanya main nyelonong begitu saja." Kesal pemuda berambut raven itu. Gajeel yang ada di dekatnya menjelaskan.
"Tadi, setelah selesai pertandingan Daimatou Enbu, kami bertiga memang mau mengajaknya untuk menjengukmu. Tapi dia malah pergi duluan dengan sedikit tergesa entah ke mana."
Lucy mengangguk paham. Begitu ya..
Sejujurnya dari lubuk hati Lucy yang paling dalam.. ia memang mengharapkan kehadirannya. Kehadiran Natsu, sekarang, di sini. Dan mendengar jika pemuda itu tak bisa datang, sejujurnya membuatnya merasa sedikit kecewa. Tapi.. well.. itu tak begitu masalah. Mendengar kabar jika pemuda itu baik-baik saja itu sudah cukup membuatnya senang.
Tapi, ada urusan apa ya Natsu?
"Sudahlah.. tak usah memikirkannya terus Lucy. Lebih baik kau pikirkan cara agar bisa makin dekat dengan Natsu." Cerocos Mira.
Semuanya tertawa sementara Lucy blushing berat. Begitu pula dengan Levy yang tertawa kecil. Namun tiba-tiba gadis ini ingat sesuatu hingga akhirnya gadis ini diam. Ia tampak bingung. Hal ini sangat mengganggunya sejak tadi malam.. saat Gajeel tiba-tiba datang ke rumahnya dan mengatakan hal yang sangat mengejutkan padanya. Dan sepertinya.. hal ini berkaitan dengan Lucy.. jika tebakannya benar. Apakah.. ia harus bertanya langsung pada Lucy tentang masalah ini? Tapi, jika ia menanyakannya, mungkin akan merusak suasana saat ini.
Namun, jika ia tak menanyakannya sekarang, hal ini akan tetap menjadi misteri yang tak berakhir. Jadi.. gadis ini sudah memutuskan, akan menanyakannya. Saat ini juga.
Levy membuka suaranya, terdengar lirih, "Lu-chan."
"A-h.. ya.. ada apa Levy-chan?" respon gadis pirang itu.
Jemari Levy saling bertaut, gugup. Dia bingung apakah harus menanyakan hal ini atau tidak. Namun dengan sedikit keberanian dan nekat, gadis ini akan bertanya.
"Itu.. aku ingin bertanya soal-"
"Ah! Sekarang sudah hampir malam ya? Maaf sepertinya kami harus segera pulang Lucy." Kata Gajeel tiba-tiba sehingga memotong perkataan Levy. Alhasil gadis bertubuh mungil ini tak jadi meneruskan kata-katanya.
Lucy juga sesaat seperti lupa dengan Levy. Gadis itu melirik ke luar jendela, langit berwarna oranye mulai memudar, dampak dari matahari yang terbenam.
"Eh, iya. Sudah hampir gelap."
"Hontou ka? Juvia baru sadar!" pekik Mira.
"Kalau begitu ayo kita pulang. Lagi pula kalian para gadis tak baik berkeliaran larut malam." Ajak Gajeel yang sudah bangkit dari posisi duduknya bersama Gray dan Laxus.
Levy menatap pemuda bertampang sangar itu. Pemuda itu balas menatapnya. Gadis ini diam, namun akhirnya paham dengan apa yang dipikirkan pemuda ini. Hingga akhirnya ia mengangguk.
"Lucy, kami pulang dulu ya."
"Ah, aku akan mengantar kalian sampai depan." Tawar Lucy.
Lucy akhirnya mengantar teman-temannya sampai depan gerbang rumahnya.
"Sekali lagi terimakasih semuanya sudah mau ke rumahku dan menjengukku."
"No problem Lucy. Pokoknya lekas pulih ya supaya besok bisa berangkat. Kami pergi dulu. Jaa.."
Semuanya melambaikan tangan pada Lucy dan Lucy membalas lambaian tangan mereka hingga akhirnya sosok-sosok itu tak terlihat oleh karamelnya lagi.
.
.
"Kenapa kau tak membiarkan Levy mengatakannya?" tanya Erza pada pemuda yang berjalan di depannya.
"Benar Gajeel. Kau langsung main pamit saja. Kita bahkan tidak mendapat informasi sama sekali darinya." Kata Gray.
Gajeel berhenti. Ia membalikkan tubuh kekarnya , membuat yang lainnya ikut berhenti.
"Jangan sekarang." Katanya.
"Kenapa?" tanya Gray.
"Tapi, bukankah salah satu tujuan kita untuk menanyakan hal ini?" tanya Erza lagi.
"Aku tak berfikir begitu." Kata Mira. "Yang ku fikirkan setelah melihat air matanya tadi membuatku membuang jauh-jauh semua dugaan itu. Aku.. sejujurnya.. aku tak tega menanyakannya pada Lucy."
Erza terdiam, gadis ini menggigit bibir bawahnya, "Sebenarnya.. aku juga.." jujurnya. "Tapi, bukankah kita semua sudah sepakat akan menanyakan hal itu padanya? Hanya dia yang bisa menjawab semua misteri ini!"
"Aku tak setuju." Kata Levy. "Mungkin kita bisa menanyakannya lain kali. Atau ada cara lain agar kita mengetahuinya. Aku yakin itu."
"Tapi jika begini terus, bisa-bisa apa yang kita takutkan benar-benar terjadi sebelum kita menyadarinya." Cerca Laxus.
Ketujuh orang ini terdiam, memikirkan apa yang baru saja dikatakan pemuda bersurai pirang itu.
"Tapi.." Juvia membuka suara, "Juvia merasa jika hal ini salah. Apa teman-teman kesana hanya untuk menanyakan hal seperti itu?" tanyanya. Entah kenapa air mata gadis ini tiba-tiba tumpah.
"J-Juvia.."
"Tapi, jika kita tak menanyakannya, kita tak akan tahu-"
"Tidak!" potong Juvia keras, menatap teman-temannya yang kini terdiam, "Kalian tidak tahu, ada apa sebenarnya dengan dia. Kalian tak bisa merasakannya.. dan melihat apa yang terjadi di sana sebelumnya!"
"Jangan-jangan.. k-kau.."
Memflashback..
Gadis itu jatuh terduduk dan menangis, "Dia.. sama dengan kita.. Ibunya.. ibunya di bunuh.. hiks.. oleh mereka.. oleh mahluk yang sama, yang telah membunuh orang tua kita.."
Dan keterkejutan keenam temannya, menjadi pembuka cerita gadis berambut biru panjang ini. Apa yang diketahuinya dari masa lalu Lucy.. kemudian Ia katakan.. semuanya..
.
.
Pemuda bersurai pink itu berjalan menembus kegelapan gang-gang pertokoan. Namun walau begitu, tatapannya sama sekali tak terfokus pada jalan. Musik yang dikeluarkan lewat headset ditelinganya bahkan sama sekali tak membuatnya keluar dari hal yang ia pikirkan saat ini.
Pemuda itu kembali mengingat-ingat pertemuannya dengan pria bersurai oranye yang merupakan supir keluarga Heartfilia, Lyon.
'.. jadi, sejak saat itu. Kehidupan normalnya harus berubah.'
Loki mengakhiri cerita panjangnya dengan satu kalimat menyakitkan. Tak ada satupun yang tak ia ceritakan padanya. Semuanya kini sudah jelas. Dan bertambah jelas namun.. aneh.. dan sulit dipercaya.
Jadi, selama ini, gadis itu berjuang untuk mengemban tugas yang sama sekali tak di inginkannya. Tugas berat yang ditimpakan padanya sejak menjadi orang yang terpilih. Dia..
"Jadi.. dialah sang 'LIGHT WITCH'? Sulit dipercaya."
Pemuda itu kembali mengingat appa yang ditanyakannya saat di kafe.
.
"Ada satu hal yang tak ku mengerti." Kata Natsu.
"Bagian mananya yang tak kau mengerti?" tanya Loki, yang kini sudah bersiap menjawab pertanyaan Natsu.
"Soal ke 12 Bintang. Lucy pernah memanggil salah satunya, Taurus saat Daimatou enbu hari pertama. Jadi, dia dan 11 bintang lainnya yang nantinya akan menemaninya melawan kegelapan?" tanyanya. Mungkin itu adalah pertanyaan paling panjang yang pernah Natsu tanyakan.
Loki menggeleng, "Bukan." Katanya. Matanya kembali berfokus pada Natsu. "Apa kau pernah mendengar sebuah cerita dongeng 'Light Witch and the 12 Zodiac'?"
"Itu dongeng pengantar tidur anak-anak." Jawab Natsu.
"Kau salah." Kata Loki dan itu sukses membuat Natsu bingung. "Itu bukanlah sekedar dongeng pengantar tidur biasa. Dalam dongeng itu dikatakan jika di masa depan akan terpilih seorang 'Light Witch' yang dipilih langsung oleh 'Crystal Heart'. Lalu di bagian akhirnya di katakan jika orang yang dipilih oleh 'Cristal Heart' akan bertarung melawan kegelapan bersama 12 Zodiac yang juga terpilih. Jadi bisa saja 12 Zodiac atau Enchater di pilih di masa yang sama dengan Light Witch terpilih, yang artinya.. 12 Zodiac itu adalah beberapa dari kita (penyihir) yang terpilih."
Orang terpilih?
"Lalu, siapa 12 Orang terpilih itu?"
"Aku tak tahu. Tapi-" Loki diam sebentar lalu membuka suara lagi, dengan nada yang berbisik, "Mungkin kitalah orangnya."
.
Natsu mendengus kasar, "Aku? Aku salah satu dari ke 12 Zodiac itu? Apa dia bercanda?" katanya pada diri sendiri.
Pemuda itu menunduk, menutupi wajahnya dengan tudung jaketnya. Gigi bertaringnya bergemelutuk, tangannya menyingkap sedikit lengan jaketnya.
"Mana mungkin.. Iblis sepertiku ini.." katanya. Dan samar-samar dari tangan kanannya itu, terlihat sebuah tanda kehitaman.. yang lebih pekat dari kegelapan.
.
.
"Kita harus melindunginya.. minna.. hiks.. dia sedang dalam bahaya.."
.
"Ku mohon, jaga dia. Dia adalah penyelamat satu-satunya.. Jellal."
.
"Baiklah.. jika ini demi melindungi semuanya aku akan melndunginya.. dan memberitahu yang lain.. pak tua."
.
"Natsu.. aku menaruh harapan besar padamu. Jadi ku mohon.. jangan kecewakan aku. Lindungi Lucy dari mereka.."
.
"Walau begitu.. aku akan tetap melindunginya.. Lucy.. tanpa kau suruh, Loki."
.
.
"Aku akan menjalankan rencanaku, bersiaplah bertarung, dua hari lagi, Sting, Minerva."
.
"Akan kami habisi Lucy Heartfilia dan orang yang akan menjadi rekan pertandingannya, Master Hades."
.
"Apakah.. aku harus memberitahunya?"
.
.
Sementara itu... di kediaman Heartfilia
Tok tok tok
"Lucy. Kau di dalam?"
"Ya Ayah. Tunggu sebentar."
Kriet..
Lucy membuka pintu kamarnya dan terkejut mendapati sang Ayah berdiri di depan pintu. Tapi bukan pria itu yang membuatnya terkejut, melainkan sosok gadis kecil bersurai biru yang berdiri di belakang pria itu.
"Lucy, mulai sekarang, dia akan tinggak bersama kita."
"Ha-halo Lucy-san..."
D-dia..
"W-Wendy?!"
.
.
BERSAMBUNG...
Akhirnya chapter ini selesai juga! Yoshh! (Ngibarin bendera Fairy Tail) *plakk*
Di chapter ini cuma menceritakan tentang pertemuan Loki-Natsu, Jellal-dan orang yang entah siapa itu, Lucy- teman temannya. Namun, mulai tampak konflik yang akan terjadi dan kejahatan mulai bergerak mengincar Lucy. Dan ternyata yang menjadi kaki tangan Zeref adalah.. jeng!jeng! Master HADES aka PUREHITO! 0_0
Lho.. purehito kan salah satu juri di pertandingan daimatou enbu yang juga guru di sana. Kok bisa?
Ya bisa lah.. dan hal itu masih rahasia. :v
Lalu hal apa yang sebenarnya diketahui Levy dan lainnya? Apa yang ingin mereka tanyakan? Dan.. apa yang diketahui Juvia tentang masa lalu Lucy?
Lalu soal Natsu. Dia menyebut dirinya sendiri Iblis. Kok begitu? Apa memang Natsu ini sebenernya bukan manusia? 0_0
Dan di bagian terakhir.. tiba-tiba muncul Wendy yang nantinya akan ikut terlibat dalam masalah Lucy dan teman-temannya.
Hohoho.. sepertinya terlalu banyak misteri di chapter ini ya? Dan jelas bikin penasaran. Tapi tenang aja, misteri-misteri ini akan terjawab di chapter-chapter terdepan. Makanya tetep ikuti terus fanfic ini ya! ^_^
Karena itu, biar Sheilchan semangat ngelanjutin fic ini, kasih dukungan dengan REVIEW ya! ^_^
Oh iya.. buat pemberitahuan, mulai chapter-chapter besok, bakalan muncul klimaksnya! Jadi tetep tunggu ya!
.
.
Waktu mundur beberapa jam
Malam hari, Sabtu pukul 8.30 pm
Di dalam ruang tamu rumah berukuran sedang itu, enam orang remaja tengah duduk di sofa, mengelilingi sebuah meja berukuran sedang. Lima orang lainnya bertanya-tanya untuk apa mereka dikumpulakan seperti ini. Tapi tidak dengan pemuda bertindik ini. Rasa penasarannya beberapa jam lalu akhirnya telah terjawab.
"Sebenarnya ada apa kau menyuruhku dan Laxus ke tempat gadis-gadis ini, Ice head? Dan kenapa wajahmu serius sekali begitu? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Gray. Pemuda itu duduk bersama Laxus yang juga sama bingungnya dengan mereka.
"Sesuatu selalu terjadi Ice freak, namun hal ini terlalu mengejutkan dan sulit untuk di percaya." Jawab Gajeel.
Semuanya makin bertanya-tanya, sebenarnya masalah apa yang ingin dibicarakan oleh pemuda itu.
"Sebenarnya masalah apa sih? Dan tadi kau juga tiba-tiba masuk ke rumah kami dan langsung menarik Levy keluar. Bagaimana kami tak bingung dan curiga!" cerca Erza.
Tak lama Levy McGarden masuk ke ruang itu sambil membawa beberapa tumpuk buku dengan kedua tangannya. Gadis itu meletakkan buku-buku yang sudah tampak usang itu ke atas meja kaca dengan sedikit keras karena keberatan. Hal itu langsung disambut reaksi melotot dari sang Titania, mengingat meja itu ialah yang beli. Levy menatapnya dengan tersenyum kikuk seolah berkata 'Maafkan aku. Yang penting mejanya tidak pecah.'
"O-Oy.. untuk apa buku-buku ini? Ku kira kau kebelakang karena ingin membawakan camilan dan munuman." Celetuk Gray ngawur dan kepalanya langsung dihadiahi bogem oleh Gajeel.
"Jangan bercanda dulu Ice boxer! Ini serius!" ucapnya kesal.
Gajeel beralih pada Levy lalu menganggukkan kepalanya saat gadis itu balas menatapnya, seolah memberi kode. Levy yang kini mengenakan kacamata duduk di samping Mira lalu mengambil salah satu buku yang tadi dibawanya.
"Teman-teman, aku ingin menunjukkan sesuatu pada kalian." Katanya. Lalu ia mulai membuka buku tebal dan terlihat usang di tangannya.
"Apa kalian ingat cerita dongeng berjudul Light Witch and the 12 Zodiac ?" tanya gadis itu masih sambil membuka halaman buku usangnya.
"Light Witch and the 12 Zodiac? Maksudmu dongeng yang sering diceritakan waktu tidur untuk anak-anak itu?" tanya Mira memastikan. Levy mengangguk mantap.
"Ya. Tapi apa kalian paham benar apa maksud dari cerita itu?" tanyanya lagi.
"Maksud?" tanya Laxus bingung.
Levy berhenti membalik halaman buku usang di tangannya. Lalu meletakkan buku itu di atas meja. Teman-temannya mendekat agar dapat melihat halaman apa yang dibuka gadis itu.
Levy menjelaskan, "Di situ dikatakan jika para Enchanter melepaskan separuh roh mereka lalu menjadi bagian dari Kalung kristal atau Crystal Heat. Sementara sebagian roh mereka lagi mengembara di dunia untuk mencari orang terpilih di masa depan yang akan mengemban tugas untuk melindungi Light Witch terpilih dan bersama mengalahkan Zeref."
"Ya. Aku tahu itu, lalu ada apa memangnya?" tanya Erza bingung.
"Apa kau tahu siapa saja Enchanter itu?" tanya Gajeel. Erza menggeleng pelan.
Levy membalik halaman di buku tebalnya lagi lalu berhenti setelah sampai di halaman berjudul, '12 Strongers Enchanter'. "Tadi aku mengajak Gajeel untuk mencari beberapa buku di perpustakaan dekat sini. Dan aku menemukan beberapa buku yang menarik perhatianku. Coba kalian lihat halaman ini." katanya. "Di situ dikatakan ada 12 High Enchanter, 12 Penyihir tingkat tinggi yang menggunakan senjata sihir yang membantu sang Light Witch untuk mengalahkan Zeref. Dan 12 Enchanter itu tidak lain adalah Aquarius, Piesces, Taurus, Aries, Gemini, Cancer, Leo, Libra, Scorpio, Sagitarius dan Capricon."
"M-Maksudmu.. 12 Zodiac?" tanya Juvia.
"Ya."
"Jadi.. 12 Zodiac yang kita tahu saat ini adalah 12 Hight Enchanter yang telah membantu sang Light Witch mengalahkan Zeref? Tapi yang menjadi pertanyaan saat ini, kenapa 12 Zodiac itu memilih melepas sebagian roh mereka dan menunggu orang terpilih yang mungkin akan di beri kekuatan oleh mereka?" tanya Gray bingung.
"Hal itu jugalah yang mengganggu pikiranku, Gray. Tapi akhirnya aku menemukan jawabannya." Levy mengambil buku satunya di meja, bukunya kali ini terlihat lebih usang dan seperti hampir hancur saat jemari kecil itu membalik halamannya. "Ini." Levy menyodorkan buku tua itu pada teman-temannya. "Di buku yang tidak diketahui penulisnya itu tertulis jika 12 Enchanter-"
"Mereka.. Manusia?!" pekik Mira saat membaca kalimat di buku itu.
"Ya. Ternyata mereka adalah manusia."
"Tapi, bagaimana bisa?" tanya Erza tak percaya.
"Hal itu semula juga mengejutkanku dan Gajeel. Tapi akhirnya aku paham alasan mereka melepaskan roh mereka dan memilih mempercayakan pesan dari sang Light Witch pada orang terpilih di masa depan. Itu karena mereka sudah tahu.. jika Light Witch terpilih berada di masa yang sangat jauh dari masa hidup mereka. Mereka bisa tua.. dan mati. Karena itu mereka melakukan hal seperti itu."
"Begitu ya.. lalu kapan 12 orang terpilih itu muncul?" tanya Laxus.
"Mungkin.. bisa saja setelah Light Witch terpilih di masa depan muncul." Jawab Juvia.
"Itu bisa saja terjadi. Tapi ada satu hal yang membuatku bingung teman-teman. Di buku ini dikatakan jika sang Light Witch terpilih bisa memperoleh kekuatan luar biasa dari kalungnya, yaitu kekuatan untuk memanggil roh 12 Zodiac."
"Apa?!"
"Itu benar."
"Sulit di percaya."
"Apa kalian ingat pertandingan daimatou enbu tadi? Saat Lucy melawan Flare?" tanya Gajeel.
Semua mengangguk. Pemuda itu melanjutkan. "Kalian lihat kan tiba-tiba ada sesuatu dari diri Lucy yang bersinar terang lalu tiba-tiba muncul laki-laki berarmor emas dengan kapak besar di tangannya, dan tiba-tiba laki-laki itu mengayunkan kapaknya dan membuat arena hancur. Dan apa kalian memperhatikan saat laki-laki itu menghilang?"
"Dia hilang begitu saja." Kata Gray.
"Tidak. Dia tak hilang dengan sendirinya." Kata Gajeel sembari menatap pemuda raven itu. "Pendengaranku lebih tajam dari siapapun dan saat sebelum pria itu menghilang aku sempat mendengar Lucy berkata seperti ini : 'Tertutuplah gerbang cahaya, kembalilah sang bintang, Taurus!'."
DEG!
Semua membulatkan manik mereka. Apa? Taurus?
"Taurus? Kembalilah sang.. bintang?"
"Bukankah.. Taurus adalah salah satu dari 12 Zodiac?"
"Tapi.. kenapa bisa.. jika memang dia itu Zodiac.. roh sang Enchanter.. apa seorang penyihir biasa bisa-" perkataan Juvia terpotong. Gadis itu membulatkan manik matanya, "J-jangan-jangan-"
Gajeel mengangguk pada gadis itu, lalu beralih pada yang lainnya, "Aku ingin bertanya pada kalian. Terutama kalian para gadis." Kata Gejeel serius. "Apa kalian pernah melihat.. kalung yang dipakai oleh Lucy?"
"K-Kalung.."
"Aku.. sejujurnya tidak pernah meihatnya." Jawab Erza.
"Aku juga.." kata Mira.
"Kalung itu berbentuk kristal kecil panjang berukuran sekitar 3-4 cm. Berwarna hijau dan ketika malam berubah menjadi biru muda atau bening."
Mira tercekat, "Kalung.. kristal.. bisa berubah? Kenapa kau tahu?"
"Pasti Natsu yang memberi tahumu ya, Gajeel?" tanya Gray. Gajeel mengangguk.
"Natsu? Kenapa dia bisa tahu sampai sejauh itu? Apa dia menguntit Lucy?" tanya Erza.
Gajeel diam, tampak enggan menjawab pertanyaan kali ini. Bahkan Laxus dan Gray mengalihkan pandangan mereka. Hal itu langsung membuat keempat gadis ini melotot.
"JADI BENAR DIA MENGUNTIT LUCY!" Pekik mereka.
Gajeel menutup telinganya, "Kalian tanya saja dengan orangnya langsung dan jangan tanya padaku kenapa dia melakukannya karena akhir-akhir ini seluruh tindakannya aneh. Tapi tak usah memusingkan hal itu. Lebih baik kalian berfikir, apa hubungan kalung Lucy.. dengan kalung kristal yang telah mengunci kekuatan Zeref juga separuh roh 12 ZODIAC."
Hubungan.. kalung berbentuk kristal.. dan kalung kristal.. pemilik kalung bisa memanggil roh 12 Zodiac-
"L-Lucy.. t-tidak mungkin." Juvia menutup mulutnya dengan dua tangan.
"Ini memang tidak mungkin.. tapi, melihat hal tadi, bisa disimpulkan jika dia.. adalah sang LIGHT WITCH."
Fakta mengejutkan ini membuat kumpulan remaja ini menjadi heboh. Jadi.. Lucy.. dia adalah Light Witch terpilih?
"Tapi.. ini tak mungkin.. tak ada bukti yang jelas jika dia adalah sang Light Witch!" bantah Juvia.
"Hanya ada satu hal untuk membuktikannya teman-teman.." kara Gajeel. "Kita harus bertanya langsung.. pada Lucy."
.
.
