Naruto by Masashi Kishimoto.
Saya hanya meminjam karakter di dalamnya dan sama sekali tidak mengambil keuntungan materi dari cerita ini.
.
Cerita ini adalah lanjutan dari Between karya Kira Desuke. Sangat disarankan untuk membaca terlebih dahulu fanfic tersebut sebelum membaca cerita ini meski bisa dibaca secara terpisah.
.
.
Sasuke hanya diam saja tanpa berniat mendebat perkataan Itachi. Dia mengawasi kepergian Itachi keluar dari tempat ini. Kepergian yang menyisakan kebimbangan di hati Sasuke. Apakah keputusan menerima Sakura bekerja di perusahaannya adalah sesuatu yang benar atau lebih baik sebaliknya? Kalau waktu bisa diputar, Sasuke ingin mengulang kembali pertemuan pertama mereka. Namun roda waktu tak mungkin berputar mundur. Suka tidak suka, Sasuke tahu inilah konsekuensi dari jalan yang telah dipilihnya dulu, melepaskan Sakura.
Sehangat Mentari
Bagian Tujuh
Sakura menatap Itachi dengan tatapan sebal. Bagaimana mungkin Itachi bisa mengatakan berita itu dengan mimik wajah seolah-olah dia baru saja memenangkan undian secara cuma-cuma. Jelas-jelas berita yang dibawa Itachi sanggup mengguncang beberapa minggu yang sudah Sakura usahakan dilewatinya dengan tenang.
"Jangan memasang wajah seperti itu!" Sakura menegur Itachi, yang nyatanya hanya menganggap teguran itu sebagai angin lalu.
Itachi malah bersiul-siul. "Kenapa?" Dia bercanda dengan Rei yang tertawa-tawa kecil dalam boks, meminta agar digendong oleh Itachi. "Uuhhh~ Rei-kun minta ayah gendong, ya?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan kita, Itachi." Sakura tahu Itachi sengaja mengabaikannya agar dia sendiri yang mengorek-ngorek keterangan itu dari mulut Itachi. Dengan begitu, Itachi akan semakin gencar menggodanya, mengatakan bahwa ternyata Sakura begitu penasaran tentang tawaran Sasuke untuk bekerja di tempat lelaki itu. Huh! Jangan mimpi!
Itachi mengembalikan pandangannya ke arah Sakura. Rei kini berada nyaman dalam gendongannya. "Eh, memangnya tadi kita sedang membicarakan apa, ya?"
Sakura gusar bukan main. Itachi benar-benar ingin menguji sejauh mana kesabarannya. Memangnya Itachi pikir Sakura berminat mengetahui secara rinci bagaimana Sasuke bisa-bisanya menginginkan dia untuk bekerja bersama lelaki itu. Jangan harap! "Ya sudah kalau tidak mau cerita."
Itachi tertawa ke arah Rei, walau Sakura yakin tawa itu sebenarnya ditujukan untuknya. "Ya sudah. Aku pun tak memaksa."
Harusnya perkataan Itachi yang bernada selesai bisa menutup segala pertanyaan yang masih mengambang di benak Sakura. Lagi pula Sakura sendiri yang mengesankan bahwa Itachi tak perlu bercerita jika memang tak mau. Lain di mulut lain di hati. Mau menyangkal seperti apa pun lisannya, hati Sakura menyuarakan kebalikannya.
Itachi sebenarnya mengerti apa yang ada dalam hati Sakura. Tak perlulah dia belajar tentang mendalami hati wanita untuk mengetahui hal itu. Lewat hidup bersama dengan Sakura sekian lama ini sudah memberikannya pengetahuan-pengetahuan khusus untuk menilai air muka wanita itu. Jelas sekali Sakura penasaran dan ingin tahu alasan Sasuke menginginkannya bekerja bersama lelaki itu, walau sebenarnya Itachi-lah yang mengajukan namanya untuk mengisi posisi itu, hanya saja di kepala Sakura masih menyimpan rasa malu jika mengakui itu semua di hadapannya. Tak tahan melihat wajah Sakura yang sedang mengalami dilema batin seperti itu, akhirnya Itachi mengalah. Tanpa bermaksud menggoda, seperti awal yang ia inginkan, Itachi pun menceritakan keingintahuan Sakura.
"Akhir-akhir ini perusahaan yang dirintis Sasuke mengalami kemajuan yang sangat pesat. Kau tahu 'kan, pemerintah saat ini sedang gencar-gencarnya menggalakkan ekspor ke luar negeri. Dengan mempermudah segala prosedur ekspor yang berlaku, pemerintah berharap hal itu menambah devisa bagi negara."
"Ya, aku tahu."
"Tahu apa? Perusahaan Sasuke mengalami kemajuan atau kebijakan pemerintah dalam ekspor."
Pipi Sakura memanas mendengar godaan terselubung dari perkataan Itachi. Kalau dia menjawab dua-duanya, pastilah Itachi akan menggodanya habis-habisan. Akan diketahui pula kalau Sakura mengikuti segala pemberitaan tentang perusahaan Sasuke yang memang sedang dalam masa puncaknya. Maka Sakura menjawab dengan dustanya.
"Tentu saja mengenai kebijakan pemerintah!"
Melihat respons Sakura yang seperti itu membuat Itachi geli sendiri. Menggoda Sakura tentang segala sesuatu yang berbau Sasuke memang menyenangkan hati Itachi. Maka dilupakanlah niatnya yang tadi tidak ingin menggoda Sakura.
"Oh," sahut Itachi hanya demi basa-basi. "Ya, maka dari itu, Sasuke perlu segala sesuatu yang bisa menjamin bahwa perusahaannya bukan hanya berhasil dari segi kuantitas, tapi juga kualitas dalam hal keuangan. Dia perlu seseorang yang bisa mengendalikan dan merencanakan agar kondisi perusahaan akan stabil bukan hanya saat ini, tapi juga beberapa bulan atau beberapa tahun mendatang!"
Sakura mengerti inti dari penjelasan Itachi. Namun dia masih belum bisa mengetahui. Atau sebenarnya ingin mengetahui mengapa dia yang dipilih Sasuke untuk menempati posisi yang dibutuhkan itu?
"Nah, lalu apa hubungannya denganku?"
Itachi benar-benar geli mendengar pertanyaan Sakura. Keingintahuan Sakura membuat wanita itu bersikap seolah-olah tidak mengerti alur cerita yang sudah dijabarkannya. Itachi pun memutuskan untuk menggoda Sakura lebih lama.
"Ya, karena ilmu yang kau dapat di bangku kuliah dulu sesuai dengan apa yang dibutuhkan Sasuke."
"Ya, tapi kenapa harus aku?! Kenapa tidak wanita lain?!"
"Loh, yang bilang harus wanita siapa?"
Sakura terperangah. Tak sadar jika pertanyaan yang tadi dilontarkannya kepada Itachi sudah lagi bersifat tak obyektif melainkan sudah subyektif. Apalagi membawa-bawa gender! Padahal jelas sekali Itachi sedang membicarakan kemampuan, bukan wanita atau pria? Malu sekali rasanya Sakura saat ini. Itachi pastilah bisa menangkap kalau secara tidak sadar dia ingin mendengar alasan Sasuke memilihnya dari segi ' karena pribadinyalah, dia dipilih' bukan dari segi 'karena kemampuannyalah, dia dipilih'.
Itachi tertawa melihat raut wajah Sakura yang berubah-ubah. Dari kesal, terkejut, kemudian berubah menjadi malu. Sakura yang sadar menjadi bahan tertawaan Itachi karena pertanyaannya berusaha mengalihkan perhatiaan dengan meminta Rei yang masih dalam asuhan Itachi.
Sakura pura-pura sibuk menimang-nimang Rei, sambil sesekali mengajak bicara balita itu. "Rei-kun mengantuk, ya? Atau lapar?" Sakura melirik ke arah Itachi. "Oh, lapar ya, mau menyusu, ya?"
Itachi tahu itu tanda Sakura untuk mengusirnya dari kamar. Meski sedikit geli dengan cara yang dipakai Sakura, tapi Itachi paham Sakura masih malu atas perkataannya yang kelepasan mengungkapkan isi hatinya kepada Itachi. Maka tanpa berniat menggodanya lebih lanjut, Itachi keluar dari kamar untuk memberikan waktu bagi Sakura menyusui Rei. Namun sebelum keluar, Itachi menyempatkan diri berkata, "Sasuke menunggu jawabanmu. Pikirkanlah terlebih dahulu."
.
.
Sudah dua hari ini Sakura berpikir mengenai kesempatannya bekerja di perusahaan Sasuke. Sebenarnya hati kecilnya begitu tertarik atas kesempatan yang datang itu. Pekerjaan yang ditawarkan kepadanya adalah pekerjaan yang diidamkannya sejak masih duduk di bangku kuliah. Sakura merasa ilmu yang didapatnya pasti akan berguna jika Sakura menerima tawaran bekerja di perusahaan Sasuke. Sakura pernah membatin, apakah ini adalah jalan yang diberikan oleh Tuhan untuk mencapai cita-citanya yang sempat tertunda?
Namun di balik semua kesenangan dan kepuasan yang didapatkannya jika menerima tawaran Sasuke, masih banyak hal-hal yang menjadi pertimbangan Sakura. Pertama, Sakura masih belum yakin untuk meninggalkan Rei karena kesibukan barunya. Meski hanya bersifat freelance, tapi rasa khawatir masih membelenggu hatinya. Kedua, Sakura tidak yakin hubungan pekerjaan yang terjalin di antara dirinya dengan Sasuke bisa menjadi hubungan yang professional. Sepanjang perjumpaan mereka, Sakura merasa tak pernah sekali pun hubungannya dengan Sasuke dihiasi tenggang rasa maupun pengertian. Hanya pertengkaran-pertengkaran dan sindiran menyakitkan hati yang ditemuinya. Sakura tidak bisa menjamin bahwa hubungan pekerjaan mereka bisa berjalan dengan professional jika dalam perjumpaan biasa saja hubungan yang harmonis sangat sulit didapat. Dan yang ketiga, hal yang paling utama di antara semua pertimbangan-pertimbangannya adalah Sakura tidak bisa menjamin bahwa dirinya tidak akan kembali masuk ke dalam pesona Sasuke. Hal yang ditakuti oleh Sakura.
Melihat semua pertimbangan yang ada, Sakura memutuskan untuk menolak penawaran Sasuke. Meski satu sisi dalam hatinya begitu menginginkan pekerjaan itu, Sakura terpaksa harus menekannya dalam-dalam. Terlalu banyak risiko yang diambilnya jika dia menerima pekerjaan itu. Ketenangan dan kedamaian hati yang sudah diupayakannya dengan susah payah pasti akan terusik jika dia tetap nekat mengambil pekerjaan yang ditawarkan Sasuke.
Sakura sudah menyampaikan penolakannya kepada Itachi. Namun Itachi menolak menyampaikan penolakan Sakura kepada Sasuke. Hal yang membuat Sakura sedikit kesal. Menurut Itachi, Sakura-lah yang harus langsung menyampaikan penolakannya kepada Sasuke. Namun menurut Sakura, bukan masalah besar jika Itachi yang menyampaikan penolakannya.
"Tidak bisa begitu, Sakura. Sasuke sudah memberikan begitu banyak dispensansi mengenai pekerjaanmu nanti, antara lain kau bisa mengerjakannya secara lepas tanpa harus terikat aturan-aturan kantor yang mengharuskan kehadiranmu seratus persen. Kau bisa mengerjakannya di rumah sambil menunggui Rei. Kalaupun kau menolak tawaran itu, katakanlah padanya secara langsung, bukan melewatiku seperti yang kau mau. Itu tidak sopan."
Sakura memahami inti pembicaraan Itachi, tapi hatinya tetap menolak jika diharuskan menyampaikan penolakannya secara langsung. "Kalau berbicara sopan, Sasuke sendiri menyampaikan tawarannya kepadaku melewatimu. Apa salahnya kalau aku juga menempuh jalur seperti itu?"
"Justru karena Sasuke mengerti arti kesopanan, dia meminta saranku terlebih dahulu sebagai suamimu. Apalagi aku adalah kakaknya," kata Itachi.
Sakura membenarkan perkataan Itachi dalam hati. Namun ketidakinginannya untuk bertatap muka secara langsung dengan Sasuke masih bermegahan di kepalanya. "Intinya aku juga menghormatimu, maka aku mengatakan penolakanku kepadamu, bukan langsung kepada Sasuke."
Itachi tertawa. Tak disangka ternyata Sakura yang selama ini dikenalnya mempunyai penenggangan luar biasa mampu dikacaukan oleh perasaan hatinya terhadap Sasuke. "Sakura, aku yakin hatimu sebenarnya membenarkan segala perkataanku. Lalu apa yang menyebabkan kau begitu gigih menolak bertemu langsung dengan Sasuke untuk menyampaikan penolakanmu?"
Sakura diam. Itachi pasti tahu dengan pasti isi hatinya.
"Kau takut bertemu langsung dengan Sasuke? Takut jika tak bisa menahan godaannya?" Nada bicara Itachi terdengar penuh godaan.
"Itachi!" Sakura merasa malu digoda seperti itu. Karena sedikit banyak perkataan Itachi tepat pada sasaran. Sakura ragu jika harus bertemu dengan Sasuke.
Itachi hanya tertawa melihat respons Sakura. Sebenarnya dia ingin menggoda Sakura lebih lanjut, tapi tak tega.
Sakura bangkit, hendak menuju kamar Rei. Tampaknya tak ada guna jika Sakura terus-menerus mendebat Itachi. Lelaki itu tetap pada pendiriannya, Sakura harus menyampaikan sendiri secara langsung penolakannya kepada Sasuke.
.
.
Hari ini Tsunade datang berkunjung ke rumah Itachi dan Sakura. Itachi masih berada di kantor, hanya Sakura dan Rei yang menyambut kedatangan wanita yang sudah dianggap Sakura seperti ibunya sendiri itu. Tsunade merasa senang melihat rumah tangga Sakura dengan Itachi yang tampaknya harmonis dan penuh kasih sayang. Hal itu membuat segala keraguan yang dulu menghinggapinya kala Itachi datang melamar Sakura pupus. Saat itu Tsunade sangat terkejut. Memang beberapa bulan sebelum kedatangan Itachi untuk melamar Sakura, Tsunade tahu lelaki itu cukup dekat dengan Sakura. Hanya saja kedekatakan mereka lebih terlihat seperti sahabat bukan pendekatan yang dilakukan oleh seorang lelaki terhadap wanita yang disukainya. Sikap Sakura pun tidak pernah menunjukkan indikasi ke arah hubungan semacam itu. Maka ketika Itachi datang bersamanya menyampaikan kabar bahwa lelaki itu berniat memperistri Sakura, Tsunade sangat terkejut. Dia berpikir ada hal-hal selain cinta yang menjadi latar belakang pernikahan mereka, yang mana membuat Tsunade ragu memberikan restunya kepada pasangan itu.
Namun seiring berjalannya waktu, keraguan itu pun sirna. Sinar kedamaian dan kebahagiaan yang terpancar dari mata Sakura membuat Tsunade merasa pilihannya merestui pernikahan Sakura dan Itachi adalah benar. Meski kadang Tsunade melihat ada kekosongan di mata Sakura. Wanita paruh baya itu berharap itu hanyalah pemikirannya saja yang terlalu khawatir akan keadaan Sakura yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri.
"Kenapa tidak bilang akan ke sini, Bu? Kalau tahu begini, aku bisa meminta Hayate untuk menjemputmu," kata Sakura. Sakura baru saja memandikan Rei. Kini dia sedang menggendong balita itu sambil menemani Tsunade duduk di ruang keluarga.
"Kau ini! Aku masih sehat, tidak perlu kau manjakan dengan mengantar-jemputku seperti itu," balas Tsunade.
Sakura tertawa kecil. Sejak dulu memang tidak ada yang bisa mengalahkan semangat hidup Tsunade. Meski sudah berumur hampir setengah abad, semangat dan vitalitas Tsunade tidak bisa dianggap remeh. Bahkan kadang Sakura merasa dirinya pun kalah jika dibandingkan dengan ibu angkatnya itu. Begitu banyak sisi positif yang dikagumi Sakura dari wanita itu.
"Baik-baik," kata Sakura. "Bagaimana kabar Ibu? Sudah lama Ibu tidak berkunjung ke sini? Aku juga ingin minta maaf karena sudah lama belum mengunjungi Ibu."
"Kabarku baik-baik saja. Tidak perlu memikirkan keadaanku, yang penting kau dan keluargamu sehat di sini."
Sakura merasa tersentuh. Perhatian dan kasih sayang yang dilimpahkan oleh Tsunade kepadanya membuat hatinya merasa hangat. Tsunade melimpahinya kasih sayang selayaknya seorang ibu kepada anaknya, hal yang sangat disyukuri oleh Sakura.
"Berkat doa Ibu, aku, Itachi-kun, dan Rei-kun selalu dalam lindungan Kami-sama."
Obrolan-obrolan selanjutnya mengalir begitu saja. Sakura dan Tsunade saling melepas kerinduan masing-masing. Meski akhir-akhir ini Sakura memiliki banyak beban pikiran, bertemu dengan Tsunade mampu memberikan setetes kesejukan dalam hatinya.
"Katakanlah, apa yang sedang mengganggu pikiranmu?"
Pertanyaan yang dilontarkan Tsunade membuat Sakura tersentak. Sakura tidak menyangka kalau Tsunade bisa menangkap ada sesuatu yang menggangu pikirannya. Padahal Sakura sudah berusaha bersikap sewajar mungkin di hadapan Tsunade. Dia tidak ingin membebani Tsunade dengan beban hatinya yang semestinya ditanggungnya sendiri.
Belum sempat Sakura menyampaikan penyanggahan, Tsunade kembali berkata, "Sakura, jangan menyembunyikan bebanmu dariku. Kau anggap apa aku ini jika untuk berbagi sedikit beban pun, kau tidak mau."
Sakura merasakan kehangatan membanjiri hatinya. Meski terkesan memaksa dan ketus, Sakura tahu Tsunade sangat mengasihinya. Demi menjaga perasaan Tsunade, Sakura akhirnya menceritakan apa yang tadi menjadi beban pikirannya.
Sakura menceritakan tentang tawaran bekerja di perusahaan Sasuke dan keputusannya untuk menolak tawaran itu. Dia juga menerangkan pertimbangan yang sudah dipikirkannya ketika memutuskan menolak tawaran tersebut. Tentu saja pertimbangan-pertimbangan yang berkaitan dengan Sasuke tidak diutarakannya. Dia hanya mengatakan masih belum yakin meninggalkan Rei demi pekerjaannya. Lalu perihal Itachi yang memintanya agar menyampaikan penolakan itu secara langsung kepada Sasuke.
"Itachi-san benar. Kalau memang kau ingin menolak, tolaklah secara langsung kepada Sasuke-san. Itu semua sebagai bentuk dari kesopananmu. Sasuke-san sudah berbaik hati menawari pekerjaan yang cukup banyak pengertiaannya kepadamu. Akan terlihat sangat tidak sopan bahwa hanya untuk mengabari jawabanmu secara langsung pun kau tidak mau."
Sakura membenarkan perkataan Tsunade. Namun dirinya masih enggan bertatap muka secara langsung dengan Sasuke. "Tapi, Bu. Kalau aku menyampaikan secara langsung penolakanku, bagaimana dengan Rei-kun? Aku tidak ingin meninggalkan dia di rumah dan aku pun tidak mau membawanya ikut menemui Sasuke," kata Sakura. "Udara di kantor itu tidak bagus untuk kesehatan Rei-kun."
Sebenarnya itu hanyalah alasan Sakura. Karena Itachi sudah menawarinya kalau dia bisa mengantar Sakura ke rumah besar untuk menemui Sasuke di saat libur. Jadi Sakura bisa membawa Rei.
"Kau 'kan bisa menemui Sasuke-san di saat libur di rumah mertuamu. Mikoto-san juga pasti senang melihat kunjunganmu dan Rei-kun."
Sakura tidak memperkirakan kalau Tsunade bisa langsung menyarankan ide seperti itu. Kali ini apa lagi alasan yang harus dikarangnya hanya demi egonya semata. "Itachi-kun tidak bisa, Bu. Akhir-akhir ini pekerjaan di kantor begitu menyita perhatiannya. Aku tidak ingin mengganggunya."
"Kalau begitu, kau bisa ke kantor Sasuke-san sekarang. Tidak perlu mengkhawatirkan Rei-kun. Ada aku di sini." Tsunade sudah lama mengenal Sakura. Dia tahu ada alasan lain di balik keengganan Sakura menyampaikan secara langsung penolakannya terhadap tawaran Sasuke. Hati kecilnya mengatakan Sakura harus segera menyelesaikan masalah ini. Dia tidak ingin masalah ini berlarut-larut yang mana akan membuat beban itu semakin lama menumpuk di pundak Sakura.
"Aaa…." Kali ini Sakura tidak bisa mengelak lagi. Apa mau dikata, mungkin memang sebaiknya dia menemui Sasuke saat ini. Lagi pula dengan bertemunya mereka di kantor, maka probabilitas pertengkaran antara dirinya dengan Sasuke akan semakin kecil. Rasa-rasanya tidak mungkin Sasuke memulai pertengkaran dengannya di kantor lelaki itu sendiri. Dia pasti akan menjaga kehormatan dan kewibawaannya di hadapan para karyawannya.
Maka setelah berpamitan kepada Tsunade dan mengirim pesan kepada Itachi, Sakura berangkat menuju kantor Sasuke. Meski kantor utama Sasuke terletak di Oto, setelah memutuskan untuk tinggal di Konoha, Sasuke membuka satu kantor cabang di Konoha demi menunjang pekerjaannya. Sakura sendiri belum pernah datang mengunjungi kantor Sasuke, baik kantor utamanya di Oto maupun kantor cabang di Konoha yang baru dibuka beberapa bulan yang lalu.
Untuk alamat kantor di Konoha pun, Sakura mendapatkannya dari Itachi kala lelaki itu menerangkan tawaran Sasuke mengenai posisi yang bisa dimiliki Sakura jika bersedia bekerja di sana. Kantor Sasuke di Konoha berada di kawasan perkantoran tak jauh dari tempat tinggal Sakura. Cukup dengan waktu setengah jam, Sakura telah sampai berada di sana. Sakura meminta Hayate yang tadi mengantarnya untuk menjemputnya kira-kira satu jam lagi. Sakura memutuskan ingin mengunjungi super market yang masih berada dalam kawasan perkantoran itu setelah urusannya dengan Sasuke sudah selesai.
Kantor Sasuke adalah gedung empat lantai yang tidak terlalu besar. Seorang security menyambut dan menanyakan kepentingan Sakura ketika Sakura tiba di muka gedung. Sang security menyilakan Sakura masuk ke dalam gedung setelah mengetahui bahwa Sakura adalah kakak ipar dari Sasuke, direktur di tempatnya bekerja.
Sakura masuk ke dalam gedung. Dia menuju meja resepsionis yang kemudian memberitahukan kepadanya bahwa ruangan Sasuke berada di lantai teratas, yaitu lantai empat. Karena hanya terdiri dari empat lantai, gedung ini tidak memiliki elevator. Sakura menuju ruangan Sasuke dengan menaiki tangga yang terletak di ujung setiap lantai.
Meski kantor ini tidak terlalu besar, tapi Sakura bisa menangkap bahwa kantor ini didesain sedemikian rupa sehingga menimbulkan kenyamanan bagi setiap penghuninya. Tata ruangnya mampu menonjolkan keindahan yang bisa menyegarkan mata. Selain memanjakan mata, penataannya pun membuat penghuninya tidak merasa pengap meski dengan ruang yang terbatas.
Sakura baru sampai di lantai tiga, tapi dia mulai kehabisan napas. Sakura mengambil napas terlebih dahulu sebelum melanjutkan jalannya. Dia menyadari dirinya sangat kurang berolah raga. Hal ini membuat dirinya mudah lelah, padahal baru menaiki tangga sampai lantai ketiga. Dalam hatinya Sakura berjanji akan lebih memerhatikan olahraga demi kesehatan dirinya. Terlebih lagi, Rei masih sangat kecil. Jika kesehatan Sakura terganggu, bukan tidak mungkin akan berpengaruh pada kesehatan Rei. Kalau sampai Rei jatuh sakit karena keteledoran dirinya dalam menjaga kesehatan, Sakura pasti akan sangat menyesal. Dia tidak ingin hal itu terjadi.
Sakura sudah sampai di lantai empat. Jika di lantai dua atau tiga terdiri dari tiga sampai empat ruangan yang masing-masing terdapat tiga sampai empat orang. Di lantai empat ini tidak ada ruangan apa pun kecuali sebuah ruangan yang bergantungkan papan nama 'Direktur' di daun pintunya. Di depan ruangan itu ada satu meja yang dihuni oleh wanita berpenampilan menarik berumur sekitar tiga puluhan yang sepertinya merupakan sekretaris Sasuke.
Ketika wanita itu sadar bahwa dia kedatangan seorang tamu, wanita itu tersenyum hangat. "Maaf, ada yang bisa saya bantu?"
Sakura membalas senyum wanita itu dengan ramah. "Apa saya bisa bertemu dengan Sasuke? Mmm ... maksud saya Sasuke-san?"
"Ah, Tuan Uchiha. Apa Anda sudah memiliki janji temu dengan Tuan Uchiha sebelumnya?"
Sakura menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Wanita itu tampak iba. Namun dia tidak bisa membiarkan sang tamu masuk menemui atasannya, karena sang atasan sudah berpesan bahwa dia tidak ingin diganggu jika tamu yang datang mencarinya belum mengadakan janji temu dengannya.
"Maaf, Nona. Saya tidak bisa membantu Anda."
"Mmm... Bisakah Anda menyampaikan kepadanya kalau Uchiha Sakura ingin bertemu dengannya?"
Sang sekretaris tampak terkejut ketika mengetahui marga sang tamu sama dengan marga atasannya. Sakura yang menyadari hal itu segera menambahkan perkataannya.
"Saya kakak iparnya."
"Oh, baiklah, Nyonya. Tunggu sebentar, saya akan menghubungi Tuan Uchiha dulu. Sebelumnya, saya mohon maaf atas ketidaksopanan saya. Saya tidak mengetahui kalau Nyonya adalah kerabat Tuan Uchiha."
Sakura tersenyum maklum. "Tidak, tidak apa-apa," katanya.
Mungkin beginilah dunia kerja, pikir Sakura. Jika seseorang memiliki hubungan kekerabatan, maka segala urusannya akan lebih mudah ketimbang seseorang yang sama sekali tidak memiliki ikatan apa pun.
"Tuan Uchiha, Nyonya Uchiha Sakura sedang menunggu Anda di sini. Beliau ingin bertemu dengan Anda," terjadi jeda sebentar, "baik, Tuan. Terima kasih."
Sang sekretaris menoleh kepada Sakura. "Silakan masuk, Nyonya. Tuan Uchiha ada di dalam ruangan."
Sakura mengangguk sopan ke arah sekretaris Sasuke sebelum masuk ke dalam ruangan Sasuke. Sakura menguatkan hatinya ketika memasuki ruangan Sasuke. Setelah memastikan pintu di belakangnya tertutup, Sakura membalikkan tubuhnya dengan mantap. Dia harus menyelesaikan urusannya dengan Sasuke sesegera mungkin.
Sasuke cukup terkejut ketika sekretarisnya menelepon, mengabarinya bahwa ada seorang wanita bernama Uchiha Sakura sedang mencarinya. Bermimpi pun Sasuke tidak pernah kalau dia akan mendapat kunjungan dari Sakura di kantornya. Tapi kali ini Sasuke lebih terkejut lagi ketika melihat sosok Sakura yang sudah berada di depan mejanya. Pena yang sedang dipegangnya terlepas begitu saja saat kedua matanya menangkap sosok Sakura.
Sasuke memang tidak pernah menampik kalau Sakura memiliki paras yang jelita. Namun sosok Sakura kali ini begitu membiusnya. Bukan hanya parasnya yang jelita. Dibalut busana kemeja dengan lengan sebatas siku yang bermotif bunga-bunga, dipadukan dengan bawahan rok abu-abu selutut membuat Sakura bukan hanya terlihat cantik dan segar, tapi juga elegan. Rambutnya yang panjang dibentuk menjadi sanggul kecil di bawah tengkuknya, menyisakan beberapa helai rambut di kanan-kiri telinganya. Ditambah lagi kali ini Sakura memakai sepatu berhak tinggi dengan model tali yang tampak manis dipakainya.
"Hn. Angin apa yang membawamu datang mengunjungi kantor kecil ini?" Pertanyaan yang dilempar Sasuke sebenarnya lebih untuk menutupi keterpesonaanya akan kehadiran Sakura di ruang kerjanya.
Mata Sakura memicing tidak suka mendengar pertanyaan Sasuke. Pertanyaan itu di telinga Sakura bukanlah sapaan pembuka pembicaraan, melainkan sindiran terselubung. "Aku tidak ingin berbasa-basi. Aku datang ke sini hanya untuk mengatakan dengan rendah hati aku meminta maaf bahwa aku tidak bisa menerima tawaranmu untuk bekerja di perusahaan ini."
Sebenarnya Sasuke tidak terlalu berharap Sakura mau berkerja sama dengannya di perusahaan ini. Tapi Sasuke ingin tahu, apa alasan Sakura mengambil tindakan penolakan untuk hal ini. "Katakan alasanmu!"
"Aku pikir, aku tidak memerlukan alasan. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku menolak. Hanya sebatas itu."
"Baik, kalau begitu, selamat bergabung di perusahaan ini!" Sasuke bangkit dari duduknya, berjalan menuju Sakura yang berada di depan mejanya. Dia mengulurkan tangannya ke arah Sakura, sebagai tanda kerja sama yang akan mereka laksanakan.
"Kau?!" Sakura geram! Tak disambutnya uluran tangan Sasuke. Jelas-jelas Sakura menolak untuk bekerja di perusahaan ini, tapi Sasuke seolah tuli dan mempermainkannya. "Dengar! Aku tidak peduli dengan apa pun yang akan kaukatakan. Yang jelas, aku tidak bisa bekerja di sini. Permisi!"
Sakura bermaksud pergi, tapi lengan Sasuke menahannya. Karena tenaga yang tak sebanding, mau tak mau Sakura kembali berbalik menghadap Sasuke.
"Kau pun harus mendengar bahwa aku anggap penolakanmu tidak sah jika kau tidak mengatakan alasan atas penolakanmu," kata Sasuke.
Sakura menghentak tangan Sasuke yang masih mengunci tangannya, membuatnya kuncian itu terlepas. "Kau tidak berhak memaksaku!" desis Sakura.
"Aku berhak!" Sasuke menyahut dengan tenang dan datar.
Perkataan Sasuke membuat Sakura kesal. Benarlah pertimbangan Sakura selama ini. Jangankan untuk bekerja sama, bertemu sehari pun tak bisa mereka lewati tanpa adanya ketegangan yang melelahkan batin Sakura.
"Dengar ya, Sasuke! Kau sama sekali tidak memiliki hak apa-apa untuk memaksaku. Aku sudah berbaik hati datang langsung ke hadapanmu untuk menyampaikan penolakanku. Jangan kau balas kebaikan hatiku ini dengan segala omong kosong yang kaugulirkan sejak tadi!"
Sasuke gemas melihat dan mendengar apa yang dilakukan Sakura saat ini. Apa sulitnya memberikan alasan yang menyebabkan dia menolak tawaran bekerja di perusahaan ini? Padahal Itachi sendiri yang mengatakan kalau Sakura ingin mengamalkan ilmu yang didapatnya di bangku kuliah.
"Kalau begitu katakanlah alasanmu menolak tawaranku!"
"Sudah kubilang kau tidak perlu tahu dan aku tidak perlu mengatakan apa pun mengenai hal itu." Sakura tetap bersikukuh pada pendiriannya.
"Kau takut," potong Sasuke.
"Apa?"
"Ya, kau takut," kata Sasuke. "Sesungguhnya yang terjadi adalah kau takut padaku sehingga kau menolak tawaran ini."
Sasuke mulai menikmati efek dari perkataannya ketika melihat wajah Sakura mulai memerah menahan geram. Sasuke yakin sebentar lagi Sakura akan memberikan bantahannya yang secara tidak langsung akan menguak alasan sebenarnya dari penolakannya.
"Aku tidak takut padamu!"
"Tidak, kau jelas-jelas takut padaku," balas Sasuke. "Entah apa yang membuatmu takut padaku. Yang jelas kau takut bertemu denganku, maka dari itu kau menolak bekerja di perusahaan ini."
"Aku tidak takut padamu!" Sakura mulai kehabisan kesabarannya. Sasuke benar-benar menjengkelkan. Kalimat-kalimat yang diutarakan Sasuke bukan hanya membuat telinga Sakura panas, tapi juga membuat hatinya bergolak karena perkataan lelaki itu benar adanya. Sakura memang merasa takut jika berhadapan dengan Sasuke!
"Kau bohong! Kau takut padaku, tapi itu tidak mengubah apa pun. Kau tetap bekerja di sini."
Sasuke berbalik, menuju kursi di balik mejanya. Namun langkah Sasuke terhenti karena Sakura menarik lengannya, membuat Sasuke terpaksa kembali berhadap-hadapan dengan Sakura. Dalam keadaan normal, Sasuke sudah pasti akan menyerah pada pemandangan yang begitu memesona yang kini berada di hadapannya. Wajah Sakura yang memerah karena marah dengan kedua bola matanya yang berkilat-kilat tajam justru membuat Sasuke menyadari begitu jelitanya paras wanita di hadapannya. Sejak Sakura memasuki ruangannya, Sasuke sudah mencoba menahan gejolak yang ada dalam dirinya. Gejolak yang hanya dirasakannya ketika berhadapan dengan Sakura.
Kedua bola mata Sakura berapi-api saat berkata, "Dengar! Aku tidak pernah takut pada-"
Perkataan Sakura tak pernah selesai karena Sasuke meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Sakura dan menarik kepala wanita itu mendekat padanya. Belum sempat Sakura menyuarakan protesnya, bibirnya telah ditutup oleh bibir Sasuke. Perasaan kesal, gemas, dan gairah campur aduk dalam hati Sasuke, membuat lelaki itu tidak bisa berpikir jernih. Bukan hanya sekali ciuman yang didaratkannya ke bibir Sakura. Melainkan berkali-kali. Ciuman yang kasar, basah, dan penuh tuntutan!
Ciuman yang membuat tubuh Sakura bagai disengat listrik. Tungkai-tungkai kaki Sakura melemas. Tubuhnya limbung, nyaris terjatuh jika bukan karena topangan meja kerja Sasuke di belakang punggungnya.
Sakura tak mampu menolak atau merespons segala ciuman Sasuke. Otaknya seakan berhenti ketika permukaan bibir Sasuke menyapu permukaan bibirnya dengan kasar dan agresif. Ketika ciuman-ciuman kasar itu berubah menjadi lembut dan penuh dengan kemesraan seolah bibir Sasuke begitu memuja bibirnya, Sakura pun luluh. Pertahanan yang selama ini dibangunnya kembali runtuh di hadapan lelaki itu.
Sakura mulai membalas ciuman Sasuke. Awalnya terkesan penuh antisipasi, tapi dengan kemesraan yang dilimpahkan Sasuke secara bertubi-tubi membuat Sakura mulai membalas ciuman Sasuke dengan sama mesranya. Sasuke sendiri tidak pernah menyangka kalau berciuman bisa menjadi semesra dan seintim ini. Mendapat balasan semesra ini dari Sakura, membuat gairah Sasuke semakin membumbung tinggi.
Lengan Sakura yang tadi berada bebas di kedua sisi tubuhnya kini tanpa sadar mengalung di leher Sasuke. Kedua tangan Sasuke yang tadi memegang sisi wajah Sakura pun kini telah berpindah tempat, mengelusi tengkuk Sakura, memberi rangsangan yang mulai meledakkan gairah Sakura.
Ciuman Sasuke pun mulai berpindah tempat. Sasuke memperluas daya jelajahnya. Bergerak menyusuri pipi dan rahang Sakura, ciuman Sasuke mulai turun ke leher wanita itu. Tangannya pun tak diam di tempat. Kedua tangan kekar itu mulai menyentuh dan mengelusi setiap tempat yang bisa dijangkaunya. Mulai dari rambut, tengkuk, sampai ke punggung Sakura. Kabut gairah telah menutupi akal sehat keduanya.
"Sasuke...," desah Sakura. Tubuhnya yang sensitif mulai merespons segala bentuk kehangatan dan kemesraan yang diberikan Sasuke.
Sasuke seolah lupa bahwa apa pun yang pernah terjadi di antara mereka, sekarang status Sakura adalah sebagai kakak iparnya, istri dari Itachi. Tak sepantasnya dia mencumbui istri sang kakak meski atas dasar cinta sekalipun. Namun logikanya seakan mati. Mendapat respons semesra ini dari Sakura membuat hati Sasuke menghangat. Dia merasa apa yang dirasakannya terhadap Sakura berbalas. Rasa bahagia dan kenikmatan akan kemesraan yang mereka reguk kali ini membutakan status mereka masing-masing. Sampai sebuah dering telepon di atas meja kerja Sasuke membuyarkan semuanya.
Sakura terlonjak kaget! Sasuke pun langsung menghentikan kegiatannya. Kesadaran menampar Sakura. Sekali lagi dia jatuh dalam pesona Sasuke. Sakura menggigil, tiba-tiba menjadi jijik pada dirinya sendiri yang begitu mudah jatuh dalam pelukan Sasuke. Meski Sakura tahu jika bukan Sasuke, dia tidak mungkin akan tergoda dan tergelincir sampai sejauh ini. Perasaan cintanya yang masih berkobar kepada lelaki itulah yang membuat dirinya begitu lemah di hadapan Sasuke.
Sasuke terhenyak. Rasanya dia tidak sanggup memandang Sakura. Apa yang dilakukannya kali ini benar-benar keterlaluan. Padahal dia mulai berjanji pada dirinya sendiri untuk menutup segala keingintahuannya mengenai rumah tangga Sakura dan Itachi untuk kemudian membebaskan mereka agar hidup berbahagia. Namun semudah itu pula dia menjilat janjinya sendiri. Pertahanannya hancur ketika melihat sosok wanita yang dicintainya begitu memesona hatinya. Sambutan mesra Sakura pun semakin membutakan mata dan hati nuraninya.
Sakura membenarkan posisi kemejanya yang sudah kusut di beberapa bagian. Kancing teratas kemejanya pun sudah terbuka. Tangan Sakura bergetar ketika mengancingi kemejanya. Dia benar-benar merasa hina. Meski pernikahannya dengan Itachi hanyalah sebatas hitam di atas putih tanpa dilandasi cinta selayaknya pasangan pada umumnya, pernikahan adalah pernikahan. Apa yang dilakukannya dengan Sasuke tidak bisa dibenarkan dari sudut pandang mana pun.
"Sakura, aku-"
"Diam!" Suara Sakura bergetar. Dia menengadahkan wajahnya, menatap kedua mata Sasuke yang merasa bersalah ketika melihatnya. "Kau ... brengsek!"
Sakura pergi dari hadapan Sasuke. Dia merasa malu. Bukan hanya malu pada Tuhan atas apa yang dilakukannya. Namun juga malu karena dia sadar hinaannya kepada Sasuke hanya untuk menutupi bahwa dirinya pun sama brengseknya dengan Sasuke, karena Sakura sadar dia membalas segala kemesraan yang Sasuke berikan. Bahkan Sakura sempat menginginkan sesuatu yang lebih dari ini. "Ya, Tuhan!" batin Sakura.
Sasuke tidak berusaha mengejar Sakura. Dia tahu dia memang brengsek! Bisa-bisanya dia kembali mencumbui Sakura! Meski balasan-balasan Sakura membuat hatinya bertanya-tanya, mengapa Sakura menerima segala cumbuannya dengan tangan terbuka? Apa wanita itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya? Apa Sakura juga mencintainya?
Apa pun itu, Sasuke tetap merasa menjadi lelaki pengecut dan brengsek karena dirinya mencumbui istri kakaknya sendiri. Jika saja tak ada suara dering telepon (yang akhirnya dibiarkan Sasuke sampai mati dengan sendirinya) yang menginterupsi kegiatan mereka, bukan hal mustahil jika perbuatan mereka bisa mencapai ke tahap yang paling intim dalam hubungan lelaki dan wanita. Bahkan keinginan untuk mengulang hal itu masih ada, tersimpan di lubuk hatinya. "Brengsek!"
.
.
Bersambung...
.
.
An: Terima kasih sudah membaca sampai di sini. :) sebenarnya ada adegan yang saya potong dan simpan untuk chapter selanjutnya.
Maaf kalo seperti biasa aku cuma bisa apdet seuprit ini. :( apalagi feel-nya rasa-rasanya nggak dapet, meski aku blushing sendiri tiap ingat adegan SasuSaku kissu. /
Maaf juga udah lama ga nongol buat update. Pokoknya author abal ini minta maaf. Diusahakan secepatnya bakalan di-publish chapter selanjutnya.
Ending-nya semakin dekat. :D Btw, setuju, nggak kalau ada death chara? *ditimpuk reader*
Sebelum lupa, aku mau ngucapin banyakkk banget terima kasih buat para reader yang udah menominasikan fic-fic aku di IFA 2013, baik yang dari akun ini atau akun satunya. Sampai fic Sehangat Mentari (MC lemon (?) padahal nggak ada lemonnya ya? :p) , Heart Attack (os romance), To be Loved (mc friendship), dan Ingatan Masa Lalu (os suspense dan os mystery) masuk tahap polling. *cium reader* #plak
Meski yang menang cuma Heart Attack kategori "best os romance" (yang lain rata-rata cuma posisi dua, termasuk fic ini, di akhir polling) aku berterima kasih banget sama kalian semua. Review, fave, dan semangat dari kalianlah aku bisa terus nulis dan melanjutkan fic-fic aku di tengah kesibukan dan rasa malas (?) yang keterlaluan nggak mau pergi-pergi. #eh
Sekali lagi, terima kasih. :)
Salam hangat,
ay
