Cast:
BTS member and Other
Disclaimer:
BTS and other belongs to their parents, but this fanfic is mine!
Pair:
VJin, HopeKook, MinSu
WARNING!
Typo(s) bertebaran, author masih amatiran ._.v
YAOI or BoyxBoy
v
v
v
v
Taehyung berharap ini akan menjadi awal baik untuk perasaannya. Walau ia tidak bisa memaksa juga sih, Jin mau cinta dia atau tidak. Tapi setidaknya, Jin sudah kenal dirinya dan mereka adalah teman.
"Gomawo, Jin hyung." Taehyung sekali lagi mengucapkan kata itu ketika mereka sudah kembali berjalan.
Jin berdeham sambil membuang pandangannya. Ia balas tersenyum pada Taehyung setelah gugupnya hilang. "Ne, cheonma."
Yoongi hanya mengerucutkan bibirnya mendapati adegan itu. Kini persepsinya benar. Jin jatuh cinta pada namja hiperaktif—Kim Taehyung. Perhatian Yoongi teralih pada Jungkook yang juga kesenangan memeluki boneka singa Taehyung. Senyuman polos terukir diwajah bak anak kecil itu.
"Oh," Jungkook menghentikan langkahnya. Ia menarik tangan Taehyung agar sahabatnya itu juga berhenti.
"Wae, Kookie?" tanya Taehyung. Ia mendekatkan telinganya ke mulut Jungkook, mendengarkan bisikan Jungkook disana.
Taehyung menjauhkan wajahnya dengan wajah setengah kaget ketika Jungkook selesai berbisik. "Jinjja?"
Jungkook mengangguk antusias. "Ne! Aku juga lupa, kan. Aish, dimana kita bisa membelinya, Tae hyung?"
"Mungkin ada di dekat-dekat sini, ayo kita lanjut jalan," jawab Taehyung, kembali menarik lengan Jungkook untuk jalan.
"Kalian mau apa?" tanya Yoongi menyela percakapan Jungkook dan Taehyung.
"Nanti malam adalah Wish Day kami," jawab Jungkook senang.
Jin dan Yoongi berpandangan bingung. "Wish Day?"
"Ne. Itu adalah saat dimana kami mengikat sebaris harapan kami pada balon di malam hari," jelas Taehyung tak kalah antusias.
"Jadi kau lupa pada Wish Day kalian?" tanya Jin lagi.
"Tidak. Aku mengingatnya, kok. Hanya saja aku kelupaan membeli balon," Taehyung memasang cengiran tak berdosanya.
"Apa yang kalian lakukan di malam itu?"
"Biasa saja. Kami akan ke rumah salah satu dari kami, menuliskan sebuah harapan jangka dekat dalam satu baris kalimat, dan mengikatnya pada balon lalu diterbangkan dari balkon kamar. Setelah itu kami akan berdoa pada Tuhan supaya tercapai,"
"Kalau sudah berdoa pada Tuhan, kenapa harus segala pakai balon? Kau percaya pada hal seperti itu?" Yoongi mengernyitkan dahinya.
Taehyung menggeleng. Ia menatap mata Yoongi dengan lembut sebelum berkata.
"Itu hanya sebagai tanda bahwa kami memiliki harapan. Sekaligus mengakui kalau Tuhan Maha Besar, menciptakan langit tiada batas hingga kami tidak tahu kemana harapan kami dibawa oleh balon itu."
-0-0-0-
Hoseok men-dribble bola basketnya pelan-pelan. Mereka baru saja keluar dari café dengan minuman di tangan keduanya. Dengan langkah santai Hoseok dan Namjoon menelusuri jalanan yang lumayan ramai.
"Hoseok, Desember masih lama, ya?"
Hoseok menoleh mendengar ucapan Namjoon. "Aniya. Hanya tinggal beberapa minggu lagi, kok."
"Hmm..." Namjoon hanya membalasnya dengan gumaman acuh.
"Kenapa sih, kau menunggu sekali Desember?" tanya Hoseok.
"Ada banyak alasan. Kau seperti bukan sahabatku, kau tahu?"
Hoseok memutar bola matanya malas. "Stop saying I'm not your bff."
Namjoon hanya tertawa kecil mendengarnya. Ia tahu Hoseok pasti akan kesal jika mereka sudah mulai bertengkar kecil. Dan biasanya, pertengkaran kecil mereka hanya diawali oleh hal-hal sepele seperti kata-kata yang Namjoon bilang tadi.
"Oke, oke. Hmm... Desember itu banyak sekali kebahagiaan. Disana ada musim dingin, ada salju, ada Natal, ada hari ulang tahun adikku, dan ada pergantian tahun,"
Hoseok hanya mangut-mangut mendengarnya. "Tapi tahun lalu salju tak banyak turun. Mungkin Desember nanti tidak ada salju? Hanya hawa dingin, mungkin?"
"Mungkin saja. Lagipula, katanya di festival tahun baru nanti akan ada fireworks. Kau bisa bayangkan fireworks dinyalakan saat musim dingin?"
Hoseok tertawa mendengarnya. Ada-ada saja para pengurus sekolah itu, mereka menyalakan fireworks disaat musim dingin? Hoseok membayangkan akan betapa lelahnya mereka berusaha untuk menyalakan apinya karena selalu tertiup angin dingin. Oh, itu pasti lucu.
"Kau benar, ada-ada saja menyalakan fireworks di saat winter," Hoseok meredakan tawanya. "Tapi jika berhasil dinyalakan, aku serius tak bisa berkomentar akan sebagus apa pemandangannya,"
"Yeah." Namjoon hanya menanggapinya singkat. Tangan namja itu beralih merebut bola yang di dribble Hoseok.
"Ngomong-ngomong, bagaimana soal namja imut yang kau katakan beberapa hari yang lalu?"
Mata Hoseok menerawang langit di atasnya. Ia menghela nafas kecil. "Yang waktu itu hanya berpapasan sekilas saja, setelahnya aku tidak lagi bertemu dengannya. Aku sudah lupa dengan wajahnya,"
"Bagaimana pun juga, memang banyak sekali namja yang imut. Adikku imut, begitu juga dengan sahabatnya," kata Namjoon.
"Sahabat adikmu?"
"Yeah. Dia anak IT yang jenius namun... tidak sesuai dengan wajahnya," Namjoon sempat menghela nafas ketika mengingat bagaimana raut polos Jungkook ketika sedang bermain dengan Taehyung.
"Eh? Dia jenius?" dahi Hoseok mengernyit samar mendengarnya.
"Yup. Makanya dia bisa satu angkatan dengan adikku padahal dia lebih muda dua tahun. Dia ikut akselerasi,"
Hoseok sekali lagi hanya bisa mangut-mangut. Tangannya kembali gatal untuk merebut bola yang di dribble Namjoon. Maka dengan senyuman jahilnya, ia merebut bola yang sedang asyik-asyiknya di dribble Namjoon.
"Hei! Aku hampir tersandung kakimu, tahu! Yak! Jung Hoseok, disini sedang ramai!" teriak Namjoon gemas ketika Hoseok lagi-lagi mengerjainya.
"Coba tangkap bola ini lagi jika kau manly!" Hoseok menjulurkan lidahnya dan berlari kecil meninggalkan Namjoon.
"Shit," desis Namjoon. Apa-apaan dia dibilang tidak manly? Jelas kalau ia manly! Buktinya ia uhuktampanuhuk, tinggi, jago nge-rap, suara bagus, dan bisa basket.
Ekhm. Fakta terakhir, bisakah dibayangkan jika kemampuan Namjoon dibandingkan dengan Yoongi?
Oke, lupakan.
Namjoon berlari menyusul Hoseok. Di posisinya, Hoseok yang menemukan Namjoon masih jauh dibelakangnya akhirnya berhenti berlari. Ia tertawa sambil mengatur nafas.
"Hahaha... aku capek sendiri,"
"Makanya jangan lari-lari," sindir Namjoon.
Hoseok hanya mencebikkan bibirnya. Ia kembali menatap ke arah depan. Mata sipitnya memicing ketika melihat sebuah benda melayang ke arah dekatnya. Ia tersenyum, benda berbentuk hampir oval itu tampak menarik perhatian. Maka tangannya terulur untuk mengambil benda yang melayang-layang itu.
-0-0-0-
Taehyung dan Jungkook berdiri di depan stand balon. Keduanya menatap lekat pada balon-balon lucu yang berjejer. Jin yang melihat keduanya semangat hanya karena memilih balon tersenyum maklum.
"Mana? Kau mau yang mana, Kook?" tanya Taehyung.
"Itu, yang gambarnya galaxy!" seru Jungkook semangat. Ia mengambil balon yang dimaksud. "Bagaimana menurut kalian, hyungdeul?"
Jin dan Yoongi menatap balon di tangan Jungkook. Keduanya mengangguk. "Daebak, Kookie."
Jungkook tersenyum manis. Ia kembali pada Taehyung. "Tae hyung yang mana?"
"Yang ini saja," Taehyung menunjuk balon miliknya. Mereka pun membayar dan pergi dari sana.
"Ngomong-ngomong, kapan kalian selalu melakukan Wish Day?" tanya Jin.
"Tidak ada waktu khusus. Kami melakukannya kalau merasa memiliki harapan jangka dekat yang ingin dicapai. Tuhan menyukai orang yang meminta kepadanya, bukan?" jawab Jungkook.
"Ne." Jin mengangguk mengiyakan. "Kalian sepertinya sangat dekat, ya. Sampai memiliki acara khusus yang menarik. Sudah berapa tahun sahabatan?"
Taehyung dan Jungkook sama-sama menerawang. Keduanya berpandangan dan menggedikkan bahu berbarengan. "Mollayo. Sudah sangat lama, mungkin saat Jungkook pertama kali masuk sekolah?"
Jin hanya menggumam sebagai balasan. Ia melirik Yoongi yang kini berjalan gontai disebelahnya. Ia yakin Yoongi pasti mendengarnya, hanya saja pura-pura tidak tahu. Jin buru-buru mengalihkan pandangannya sebelum membuat mood Yoongi menjadi buruk karena ia ketahuan menatapi Yoongi.
Tiba-tiba, angin berhembus kencang. Taehyung refleks menutup matanya agar tidak kemasukan debu, begitu pula dengan Jungkook. Namun sayangnya, angin itu malah menerbangkan balon yang dipegang Jungkook. Membuat sang pemilik menjerit kecil.
"YAK!" Jungkook menggapai tali balonnya. Ia mendecak kesal ketika balon itu malah terhempas lumayan jauh.
"Kejar, Kook! Ayo!" komando Taehyung. Maka Jungkook pun berlari mengejar balonnya bersama Taehyung.
"Ya! Tunggu!" teriak Jin dari tempatnya. Ia menarik lengan Yoongi agar cepat-cepat mengikuti langkah Taehyung dan Jungkook.
Jungkook yang berlari didepan Taehyung terus fokus menatap gerak-gerik balonnya. Balonnya pun mulai terbang merendah, tapi Jungkook tak menghentikan laju larinya. Ia masih ingin melakukan Wish Day hari ini, jadi ia tak mungkin rela kehilangan balon bergambar galaxy itu sebelum waktunya tiba.
"Heh?" mata kecil Jungkook melebar ketika tali balonnya berhasil dipegang oleh namja didepan sana. Jungkook ingin berhenti berlari, namun kakinya tidak bisa. Maka...
Bruk!
"Hei! Yak!"
Jungkook menabrak orang itu. Tidak, mereka tidak jatuh. Namun yang terjadi adalah... Jungkook menabrak layaknya memeluk orang itu, dan wajahnya sukses membentur dada bidang sang namja. Apalagi tiba-tiba reflek namja dengan wajah tampan itu melingkarkan tangannya dipunggung Jungkook. Mungkin agar keduanya tidak jatuh.
"Ah... mianhaeyo!" Jungkook menarik dirinya dari namja itu. Wajahnya memerah menahan malu. Tapi... keseimbangan orang didepan Jungkook malah hilang karena tiba-tiba Jungkook melepaskan diri. Sehingga keduanya kini jatuh dengan Jungkook diatas namja itu.
"Argh!" Hoseok merintih ketika merasakan tangannya tertusuk sesuatu.
"Gyaaa... mianhaeyo! Gwenchana?" Jungkook buru-buru bangkit dan berjongkok disebelah namja itu, menatap khawatir.
"Hoseok, berdarah?" tanya Namjoon melihat Hoseok yang tetap merintih. Ia pun membantu sahabatnya untuk duduk dengan benar.
Hoseok mengangkat tangannya yang terasa perih. Tangan kirinya tertusuk batu. Ia memang menyangga tubuhnya dengan tangan kiri saat mereka jatuh dan ia tidak tahu kalau ternyata ada batu disana. Jadilah kini darah sedikit menetes ditelapak tangannya.
Jungkook meringis melihatnya. Ia menunduk sedih, menyesal karena sudah berbuat kesalahan hingga melukai orang lain. Hoseok yang melihatnya langsung merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, hanya berdarah biasa. Tenang saja," hibur Hoseok. Jungkook pun mengeluarkan sapu tangannya untuk membersihkan darah di luka Hoseok.
"Kookie!" Jungkook menoleh ketika mendengar suara Taehyung. Dibelakangnya ada Jin dan Yoongi. Namja itu ikut berjongkok disebelah Jungkook.
"TaeTae?" kini perhatian kedua sahabat itu teralihkan. Taehyung tersenyum kecil.
"Annyeong, hyungie." sapanya singkat.
"Jadi ini adik Namjoon? Siapa namamu?" tanya Hoseok.
"Kim Taehyung imnida. Dan ini sahabatku, Jeon Jungkook," jawab Taehyung. Dan Jungkook hanya tersenyum.
"Tae, apa kau bawa plester untuk menutupnya?" tanya Namjoon menunjuk tangan Hoseok.
"Plester?" Taehyung menaikkan alisnya, lalu menggeleng. "Aniyo,"
"Jin hyung membawanya. Selalu membawanya," ujar Yoongi. Ia menyenggol lengan Jin agar mengambil plester yang selalu disimpanya.
"Hyung menyimpannya di dompet?" tanya Namjoon begitu melihat Jin mengambil dompet dari kantung celana jeans-nya.
"Yeah," Jin mengangkat bahunya. "Sekalian saja, kan?"
Namjoon hanya bisa mengangguk. Ia membiarkan sunbae-nya itu berada didepannya sejajar dengan sang adik dan Jungkook. Tentu saja Namjoon mengenal Jin. Mereka pernah sekali kali melakukan kolaborasi dalam menyanyi saat ulang tahun sekolah. Saat itu Taehyung belum masuk kuliah. Dan bagaimana mungkin Namjoon tidak mengenal Yoongi sedangkan mereka satu klub.
Jin ikut berjongkok disebelah Jungkook. Ia hendak memakaikannya di tangan Hoseok, namun disela oleh Jungkook. "Hyung, biar aku saja,"
Jin pun menyerahkan plesternya tanpa banyak berkomentar. Dilain sisi, Hoseok hanya bisa berdiam diri menatapi sosok namja seperti yeoja bertampang polos yang dengan perhatiannya tadi membersihkan darah ditangannya. Namja mungil itu meletakkan plester ditangannya perlahan-lahan, dan ia tersenyum senang ketika berhasil memakaikannya dengan baik.
Hoseok baru saja hendak membuka mulutnya untuk berterima kasih kalau saja namja mungil itu tidak dengan mengejutkannya... mengecup kecil plester ditangannya itu.
"A-apa...?"
Jungkook menatap Hoseok dengan senyuman polosnya. "Kata umma, luka jika diberi kasih sayang akan cepat sembuh. Maafin Kookie ya, sudah membuat... um..."
"Hoseok, Jung Hoseok. Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil,"
"Tapi tetap saja Jungkook penyebabnya. Maafkan aku ya, Hoseok hyung,"
"Ne..."
Hoseok merasakan jantungnya berdegup kencang saat Jungkook menunjukkan eyesmile-nya. Ingatannya kembali terulang. Dia namja imut yang ditemuinya di toilet itu? Gosh... bahkan ternyata dia beribu kali lipat lebih imut dari yang pertama kali dilihatnya!
Dan namanya Jeon Jungkook, manis sekali...
-0-0-0-
Malam harinya, Taehyung datang mengunjungi rumah Jungkook dengan balon ditangannya. Ia mengetuk rumah Jungkook dan mendapati Kim ahjumma—pembantu rumah Jungkook—yang membukakan pintu. Ia menyapa ahjumma yang sudah dikenal baik olehnya itu dan masuk setelah diperbolehkan.
Taehyung tidak heran mengapa rumah Jungkook tampak sepi. Orang tuanya bekerja—walau ia pun juga sama. Namun bedanya, di malam atau sore hari, Ryeowook selalu pulang. Kalau orang tua Jungkook mereka mungkin terlalu sibuk sehingga kemungkinan seminggu sekali baru pulang.
Taehyung berdiri di sebuah pintu kamar dengan tulisan 'Kookie' di depannya. Ia mengetuk pintu dan langsung disambut oleh pemiliknya.
"Annyeong, Tae hyung. Ayo masuk!" Jungkook menarik tangan Taehyung untuk segera masuk.
Di dalam, bisa Taehyung lihat beberapa kertas diary sudah tersedia diatas meja belajar Jungkook. Taehyung tidak heran mengapa Jungkook bisa mempunyai kertas diary. Jungkook memang mempunyainya, namun ia sama sekali tak pernah menulis diary.
"Kau sudah memikirkan apa yang akan kau tulis untuk harapan jangka dekatmu?" tanya Taehyung.
"Belum." Jungkook menggeleng kecil. Ia duduk ditepi ranjangnya, memeluk kedua lututnya, dan menenggelamkan kepalanya disana.
Taehyung yang memperhatikan tingkah Jungkook menaikkan alisnya. "Wae geurae, Kookie?"
Jungkook mengangkat wajahnya. "Aku... masih belum bisa melupakan kejadian tadi pagi,"
"Kau yang menabrak Jung Hoseok itu?"
Jungkook mengangguk. Ia kembali menenggelamkan kepalanya dan bergumam. "Dia menarik sekali,"
Taehyung tidak bisa menahan senyumnya agar tidak terkembang. "Ahahaha... kau menyukainya, ya?"
Jungkook lagi-lagi mengangkat wajahnya. Ia mendelik dengan wajah memerah kepada Taehyung. "Aku kan, hanya bilang kalau dia menarik!"
"Iya, berarti kau suka padanya. Cieee... Kookie! Kau tahu tidak, biasanya dari suka itu akan timbul rasa cinta!" goda Taehyung semakin gencar. Ia duduk didepan Jungkook dan mengguncang bahu sahabatnya.
"Kookie tidak jatuh cinta,"
"Aniyo," Taehyung menggeleng, masih dengan senyuman yang tak hilang. "Kau hanya belum jatuh cinta kepadanya,"
"Dia tidak mengenalku, Tae hyung. Pertemuan pertama kami sangat buruk dengan aku yang menimpanya dan membuat tangannya berdarah,"
"Benarkan itu pertemuan pertama kalian?" tanya Taehyung.
Jungkook terdiam. Ia menerawang ke hari-hari yang sudah terlewati. Sepertinya... itu memang pertemuan pertama mereka. Oh, tidak! Jungkook ingat mereka pernah bertemu disebuah tempat di kampusnya. Di... toilet? Jungkook buru-buru menggelengkan kepalanya. Lihat, kalau pun ternyata sebelumnya mereka pernah bertemu, maka tempat pertemuan pertama mereka adalah di toilet dengan keadaan dimana keduanya sama sekali tidak peduli satu sama lain.
"Aku tidak tahu, Tae hyungie. Tapi... dia menarik sekali," Jungkook menenggelamkan kepalanya di bantal, tidak sadar kalau ternyata semburat merah samar menghiasi kedua pipinya.
"Yayaya. Kuharap kau akan segera berpacaran dengannya,"
"Aniya! Kookie tidak bilang kalau Kookie jatuh cinta padanya, kan?"
"Hahaha... ne, ne. Ayo kita wish day!"
Taehyung bangkit dari duduknya, mengambil satu lembar kertas diary Jungkook yang berwarna soft blue. Ia menuju ke arah balkon dan membuka pintunya. Disana, terlihat dua buah bangku kecil. Ia duduk disalah satunya, dan mulai menulis. Jungkook sendiri berdiri dipagar pembatas balkon. Matanya menerawang ke langit.
Kalau Jungkook boleh bilang, ia tidak tahu apa yang harus ditulisnya sekarang. Ia sudah terlalu sering menulis soal keinginannya agar orang tuanya bisa memiliki banyak waktu untuk selalu bersamanya, namun entah kenapa seolah semua tidak berubah. Jungkook tidak tahu apa yang harus ditulisnya lagi. Namun kejadian dimana ia mengenal Jung Hoseok itulah yang kini menggerakkan tangannya untuk menulis.
"Kook, kau sudah selesai?" suara Taehyung terdengar dari belakangnya.
"Sebentar lagi," balas Jungkook singkat.
Taehyung mengambil balonnya dan mengikatkan kertasnya yang sudah digulung disana. Ia menunggu Jungkook hingga sahabatnya itu selesai. Keduanya berdiri di pagar pembatas bersama-sama.
"Kita lepas, ya?" komando Taehyung.
"Yah..." jawab Jungkook sekenanya.
"Hana, dul, set..."
Dan kedua balon itu melayang. Taehyung dan Jungkook menatapnya lekat-lekat, seolah ingin memastikan kemanakan harapan mereka akan dibawa. Butuh waktu beberapa menit sebelum akhirnya balon itu benar-benar hilang. Taehyung dan Jungkook menghela nafas. Mereka mulai berdoa dalam hati masing-masing.
"Kook, aku tidak tahu kapan lagi kita melakukan ini. Kita hanya melakukannya kalau kita ingin, kan?"
"Yeah. Tapi kalau soal berdoa pada Tuhan, kita selalu melakukannya,"
"Ne." Taehyung mengangguk. "Ngomong-ngomong, kau menulis apa?"
Jungkook nyengir sambil menatap Taehyung. "Rahasia, dong!"
"Yaahh!"
.
.
.
.
"Th: I want to be better again. KSJ hyungie, please notice me."
"Jk: I want more love. And... can I be close to JH?"
-0-0-0-
Some day in December...
Taehyung berlari kecil menyusuri koridor menuju aula. Yoon seonsaengnim baru saja mengumumkan bahwa anak-anak klub seni harus berkumpul di aula. Itu membuat Taehyung yang sedang melukis dengan khidmat terpaksa keluar dari ruang melukis yang hangat menuju ke aula.
Sesampainya di aula, keadaan sudah agak ramai. Beberapa dari mereka tampak sibuk ngobrol satu sama lain membahas apa yang akan dibicarakan oleh Yoon seonsaengnim. Taehyung mengambil tempat duduk dibarisan kedua dari depan.
"Taehyungie?" Taehyung menoleh ke asal suara. Ia tersenyum lembut. Kim Seokjin.
"Annyeong, hyung." Taehyung menyapanya dengan senang. Namun ia mengernyitkan dahi ketika melihat sesosok namja yang tak begitu asing dimatanya duduk disebelah Jin. "Siapa itu?"
"Oh? Dia Park Jimin dari klub vokal,"
Jimin yang merasakan namanya disebut-sebut menoleh. Ia menatap Taehyung dengan dahi yang berkerut samar, tapi kemudian tersenyum juga. "Park Jimin imnida,"
"Kim Taehyung imnida. Bangapta~"
Taehyung pun mengambil duduk disebelah Jin. Tak lama, sosok Yoon seonsaengnim dan beberapa guru seni lainnya muncul diatas mimbar.
"Annyeong haseyo, yeorobeun!" sapanya ramah.
"Annyeong haseyo, seonsaengnim!" koor para murid.
"Baik. Seperti yang kalian tahu, festival tahun baru sebentar lagi akan diadakan. Kalian pasti sudah tahu hal-hal apa saja yang biasanya dilakukan dalam festival, bukan?"
"Ne!"
"Karena itu, kita semua dari klub seni mendapat kehormatan untuk mendekorasi beberapa properti untuk memeriahkan acara tersebut seperti biasanya." lanjut Yoon seonsaengnim lagi.
Byun Baekhyun mengangkat tangannya. "Apa disana akan ada panggung dan stand-stand seperti yang lalu?"
"Ya, tentu saja," jawab Yoon seonsaengnim.
"Lalu, menurut yang dibicarakan, apa benar akan diadakan fireworks?" tanya Luhan.
"Ummm, untuk yang satu itu masih dipikirkan," jawab Yoon seonsaengnim lagi sambil tersenyum.
Mata Taehyung berbinar antusias begitu ia membayangkan fireworks diantara langit musim dingin seperti ini. Bulan desember sekarang salju memang tak banyak turun. Entahlah, mungkin karena efek global warming?
"Kau suka fireworks, Tae?" tanya Jin.
"Ya! Aku suka sekali! Apalagi membayangkannya meletup diatas sana pada musim yang paling kusukai ini!"
"Jinjja? Ini pertama kalinya kau melihat festival tahun baru di Big Hit, ya?" tanya Jin lagi.
"Ne, Jungkook pasti suka sekali," Taehyung membayangkan akan se-hiperaktif apa mereka nantinya.
"Jimin juga, ini akan menjadi festival tahun baru pertama di Big Hit baginya."
"Jimin... satu angkatan denganku?" Taehyung menatap Jimin yang duduk disebelah Jin.
"Aku 95 line," ujar Jimin.
"Oh, kalau begitu kita seumuran." Taehyung tersenyum mendengarnya. "Ngomong-ngomong, hyung tidak bersama Yoongi hyung?"
Jin menggeleng kecil. "Dia bersama anak-anak rap lainnya. Disebelah hyung-mu sana," Taehyung dan Jimin sama-sama melihat ke arah yang ditunjuk Jin.
Taehyung mengangkat kedua alisnya. "Kau tahu dia hyung-ku?"
"Ya," jawab Jin sambil menatap Taehyung lurus. "Aku sudah tahu semenjak aku mengenal namamu,"
"Berarti hyung sudah pernah memberitahu namaku padanya, tapi belum pernah menunjukkan padanya bagaimana wajahku sehingga ia harus bertanya dulu siapa namaku," Taehyung menggumam dalam hati.
"Yang namanya Yoongi itu..." Jimin menatap ke arah Jin lagi. "... yang kemarin?"
"Ne, sahabatku yang es krimnya seenaknya kau ambil," sindir Jin.
"Aish! Jangan bahas itu lagi hyung, aku malu tahu! Apalagi ternyata dia sunbae-ku!" elak Jimin.
"Yayaya, mungkin dia sedang dalam mood baik jadi dengan gampang memaafkanmu,"
"Oh, iyakah? Bukan karena ia melihat wajah tampanku?"
"YAK! Park Jimin, kenapa terkadang kau berharap terlalu tinggi, hah?" balas Jin sambil menyentil dahi Jimin.
Taehyung yang melihatnya sedikit tertawa. Namun ia juga bingung. Mereka kenapa dekat sekali, ya? Taehyung ingin sekali menanyakannya.
"Jangan dengarkan omongan adikku ini, Tae." ucap Jin pada Taehyung.
Taehyung terkesiap mendengarnya. Apa itu tadi? ADIK?! "Dia... dongsaeng-mu?"
"Ne..." Jimin menyahut kecil. "Aku baru ingat kalau kau adalah orang yang kuberikan payung waktu itu,"
Mata Taehyung membulat. Ia menerawang dan akhirnya ingat. Dia namja baby face yang menurutnya aneh karena tidak mau pulang dengan payung. Ada-ada saja... lagipula sepertinya Jin tidak galak, kenapa Jimin takut dimarahi olehnya?
"Baiklah. Mungkin cukup sekian pertemuan kita. Bagi anak-anak vokal, diharapkan untuk tetap ditempat. Annyeong..."
Murid-murid lain meninggalkan tempatnya. Taehyung melambai pada Jin dan Jimin sebelum bangkit dari duduknya. Ia sempat memberikan lambaian tangan juga pada Namjoon. Dan Taehyung memberikan senyuman manisnya pada Yoongi sebelum keluar dari aula.
"Saya langsung saja. Siapa yang akan menjadi perwakilan untuk menyanyi pada pembukaan nanti?"
Semua anak vokal saling menatap. Masalahnya, mereka anak-anak vokal dan yang pasti mereka sangat bagus dalam menyanyi. Daehyun mengangkat tangannya.
"Bagaimana kalau memberikan kesempatan bagi mereka yang belum sering maju untuk tampil?" sarannya.
"Ya, itu bisa. Kemungkinan anak-anak junior yang dipilih. Apa kalian ingin memberikan saran lagi?"
Kini Kris mengangkat tangannya. "Bagaimana kalau menggabungkan vokal dengan rap? Bukankah itu bagus?"
Yoon seonsaengnim tampak berpikir. "Boleh juga. Pada pembukaan nanti, anak vokal akan menyanyi dan setelahnya penampilan dari anak-anak dance. Sepertinya itu akan mudah mempersingkat waktu. Baik, sekarang bisa kita pilih? Siapa yang kalian calonkan?"
Jin melirik Jimin yang duduk disebelahnya. Dia anak junior, Jimin juga belum pernah ditunjuk maju untuk acara-acara. Padahal suara Jimin bagus. Lalu ia teringat Yoongi. Sahabat pendiamnya itu sudah jelas... karena terbawa sifat, Yoongi jadi tidak terlalu tertarik untuk tampil pada acara-acara. Festival tahun baru yang lalu teman-temannya sudah maju, seperti Namjoon, Chanyeol dan Kris yang tampil dalam satu grup. Jin jadi ingin mengajukan dua orang itu untuk tampil. Maka Jin pun berseru menyebut nama keduanya.
"HYUNG!" Jimin memukul lengan Jin tidak terima.
Jin hanya menggedikkan bahu. Ia gantian menatap ke arah Yoongi yang kini duduk dibelakangnya. Dan ia hanya dihadiahi death glare khas Yoongi berupa tatapan datar darinya. Jin tidak tahu kalau ternyata pasangan yang diajukannya mendapat banyak dukungan. Jadilah... mereka setuju dengan pasangan yang akan menyanyi itu.
Jin menyenggol bahu Jimin ketika pertemuan sudah bubar, membuat si pemilik menoleh. "Kau kenalan, gih, sama Yoongi. Supaya enggak canggung nantinya,"
Jimin menatap ke arah Yoongi yang kini sudah tenggelam dalam ponselnya. Ia menarik nafas panjang sebelum melangkah mendekati sunbae-nya itu. Hal pertama yang menarik perhatian Jimin adalah kulit seputih susu yang terlihat sangat halus. Kakinya yang ramping layaknya wanita, tubuhnya yang mungil, dan... matanya itu lho, lucu sekali! Dan wajahnya demi apapun sangat imut!
"Umm... annyeong, sunbae."
Yoongi mengangkat wajahnya. Ia terdiam sebentar seperti kebiasaannya, dan akhirnya membuka mulut. "Annyeong, Park Jimin."
"Eh, sunbae sudah mengenalku?" Jimin tersenyum girang mendengarnya. Apalagi ketika melihat gesture mengangguk dari Yoongi.
"Ne," singkat, padat, jelas.
"Ah, begitu. Jadi..." Jimin menarik nafasnya. "Kita akan tampil bersama, ya?"
Yoongi menghela nafas. Aku dan kamu, melebur menjadi kita. Tapi Yoongi hanya mengangguk sambil memberikan senyum tipis pada Jimin. "Ne. Ayo kita bekerjasama,"
"Ne," Jimin balas menjawab. Eyesmile-nya terbentuk secara alami begitu ia tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Dan Yoongi menerimanya.
Jimin merasakan tangan halus itu menggenggam tangannya. Ukh... tangannya mungil sekali! Terlihat pas jika mereka bergandengan... eh? Apa?
Jin yang melihatnya hanya tertawa kecil. Adiknya... fall in love pada sahabatnya. Mungkin suatu saat Jin akan berusaha jadi pendongkrak keduanya?
.
.
.
.
.
TBC~
A/N: Gosh... maafkan saya baru kambek sekarang! TT^TT
Maaf banget... ini terlalu akhir pekan, sudah sore pula... dan ff ini pun makin aneh /guling-guling/
Aku lagi sakit, niatnya mau kambek hari Jumat seperti biasa, tapi maaf banget... ini pusingnya enggak main-main! di kelas memang lagi banyak yang batuk, jadi mungkin virusnya kebawa dan jadilah... aku tepar bahkan jumat sabtu kemarin enggak masuk sekolah :(
untuk kali ini, aku minta maaf juga belum bisa balesin review karena efek sakit itu... maaf semuanya JEONGMAL MIANHAEYO /bow/
Mungkin segitu aja note aku, tidak banyak-banyak, ya...
Thanks for:
yunacho90, yeri kim, Jung Sang Kyung,
dira desfi, chohyunsungie, DaeMinJae,
she3nn0, N-Yera48, fujoshistan,
bumkeeyk, vidyasafitri4, macclatte21,
Pinky05KwmS, TKTOPKID, and belaaa
Mind to review again?
