"Apa yang kau lakukan di sini?" Ten bergumam datar, kesakitan masih tercermin di matanya. Hatinya masih terluka dan berusaha menyembuhkan diri, Ten tidak siap ketika harus menghadapi Jaehyun secara langsung seperti ini...

"Aku ingin bicara denganmu." Jaehyun menatap Ten dalam-dalam, tampak menyesal

"Sudah kubilang aku butuh waktu berpikir, aku tidak mau bicara padamu saat ini, Jaehyun."

"Ten hyung." Jaehyun mengerang, "Kumohon berilah aku kesempatan, aku akan menjelaskan semuanya kepadamu."

Apakah itu sepadan? Ten menatap Jaehyun dalam-dalam dan menyadari bahwa ketertarikannya kepada lelaki itu tidak sebesar seperti semula. Ten memberi kesempatan kepada Jaehyun karena impiannya untuk mengalami kisah percintaan seperti di novel-novel, Dan lelaki itu datang di saat yang tepat, menawarkan malam-malam romantis dan kebaikan hati, membuat Ten melayang tinggi, dan merasa mencintai. Sekarang Ten sadar, itu bukan cinta, itu adalah manifestasi dari impian untuk dicintai dan mencintai.

"Apakah kau mau memberiku kesempatan?" Jaehyun bertanya lagi, membuat Ten lepas dari lamunannya dan menatap kembali lelaki itu, dia menghela napas panjang. Mungkin hal ini akan membuatnya lega, membuat Jaehyun lega.

Ten menganggukkan kepalanya dan menyerah, "Baiklah Jaehyun."

###

"Apa yang kukatakan ini mungkin akan sangat mengejutkanmu." Jaehyun duduk di depan Ten di sofa ruang tamu itu, sejenak merasa miris karena dulu dia diperbolehkan duduk di sebelah Ten, sekarang dia diperlakukan sebagai tamu.

Ten sendiri bersandar di sofa dan menatap Jaehyun datar, tangannya bersedekap di depan, untuk melindungi dirinya. "Tentang apa?"

"Tentang rahasia masa lalumu."

Rahasia masa lalu? Punya urusan apa Jaehyun dengan rahasia masa lalunya? Lagipula rahasia masa lalu itu, kalaupun ada, kenapa Jaehyun bisa mengetahuinya? Sedangkan Ten sendiri tidak merasa menyimpan rahasia apapun.

"Ini tentang ayahmu."

Ten mulai tertarik ketika nama ayahnya disebut, dia tidak menyangka rahasia ini menyangkut ayahnya juga. Setahu Ten ayahnya adalah laki-laki yang baik, ayah yang bertanggungjawab dan menyayanginya, dan ayahnya adalah profesor jenius di sebuah universitas pemerintah yang cukup terkenal.

"Apa yang kau ingat tentang ayahmu?" Jaehyun bertanya, menatap Ten dengan tatapan mata berspekulasi.

Ten sendiri melemparkan tatapan mata curiga kepada Jaehyun, "Kenapa kau bertanya-tanya tentang ayahku? Apa pedulimu?"

Jaehyun menghela napas panjang, mengernyit karena Ten begitu ketus kepadanya, tetapi dia merasa pantas menerimanya, Ten pantas marah kepadanya, karena dia sudah menyakiti perasaan perempuan itu. Jaehyun bertindak gegabah waktu itu dan dia menyesalinya setelahnya, dia benar-benar lupa kalau perasaan Ten sangat halus. Lagipula setelah menelaah sekian lama, dia merasa bisa menerima apapun kenyataan tentang Ten, kalau memang Ten masih mau menerimanya, Jaehyun akan melakukan apa saja untuk Ten.

Dia lalu menghela napas panjang, sebelum mengungkapkan kenyataan tentang dirinya. Rahasia besar yang disembunyikannya selama ini.

"Aku bukanlah karyawan biasa. Aku adalah agen khusus pemerintah yang ditugaskan untuk mengawasimu."

Kerutan di dahi Ten semakin dalam, "Aku tidak mengerti." "Dengar Ten, aku ingin jujur kepadamu, karena itulah aku mengungkapkan semua ini, semua rahasia yang mungkin akan membuatmu kebingungan...tetapi aku harap setelah mendengarkan seluruh ceritaku, kau akan lebih memahamiku, dan kalau bisa memaafkanku..."

Semua Ten mengira Jaehyun gila, atau lelaki itu sedang berhalusinasi, tetapi kemudian dia sadar bahwa ekspresi Jaehyun begitu serius. Ten bahkan masih sulit menerima kebenaran kata-kata Jaehyun meskipun dia menyadari bahwa hal itu benar adanya.

"Coba ceritakan" Akhirnya Ten memutuskan untuk mendengarkan menelaah dulu apapun yang akan diceritakan oleh Jaehyun, dia akan menyimpulkan kebenarannya nanti.

Jaehyun memajukan tubuhnya, menopangkan lengannya di lutut dan menyangga dagunya dengan rangkuman jemarinya.

"Semua berasal dari penelitian yang dilakukan oleh ayahmu. Beliau adalah profesor di bidang matematik, spesial di bidang peramalan perubahan global dengan menggunakan serangkaian perhitungan matematik atas peristiwa-peristiwa remeh dan minor yang ternyata bisa memicu terjadinya sebuah peristiwa besar."

Ten mengerutkan keningnya, dia tahu bahwa ayahnya adalah seorang profesor di bidang matematika, tetapi dia tidak tahu bahwa apapun itu yang diteliti oleh ayahnya adalah hal yang sangat rumit. Bukankah matematika hanyalah menyangkut angka?

"Kau mungkin bingung ya...sebentar bagaimana aku menjelaskannya" Jaehyun tampak berpikir, "Hmm...kau pernah mendengar istilah 'The Butterfly Effect'?"

Ten pernah mendengarnya, samar-samar. Dia mengerutkan keningnya berusaha mengingat dengan keras, sampai kemudian dia mengingatnya dan menatap Jaehyun dengan muram, "Itu adalah judul film hollywood yang dibintangi oleh Aston Kutcher." Kenapa Jaehyun malahan menyebut-nyebut film hollywood di pembicaraan serius mereka?

"Kau masih ingat ceritanya?" Jaehyun tampak bersemangat mengetahui bahwa Ten mengingat film itu.

Ten mengernyitkan kening, "Aku sedikit lupa, itu film lama, kalau tidak salah tokohnya bisa melakukan time traveling hanya dengan melihat foto, dan mundur ke masa lalunya."

"Ya. Tokoh ceritanya bisa mundur ke masa lalunya semaunya, setiap dia mundur, dia berusaha mengubah masa lalunya, mengubah hal-hal yang dia kira tidak menyenangkan dan mencegah sesuatu yang tidak menyenangkan di masa lalunya supaya tidak terjadi. Tetapi kemudian, ketika dia kembali ke masa depannya, seluruh hidupnya ternyata berubah, setelah berkali-kali mencoba, baru dia sadar, bahwa sekecil apapun perubahan yang dia lakukan ketika kembali ke masa lalu...seremeh apapapun perubahan yang dia lakukan ketika kembali ke masa lalu, hal itu akan menimbulkan perubahan besar-besaran di masa depan."

"Jadi apa hubungannya ini dengan rahasia besar, dan dengan ayahku? Apakah kau sedang mengatakan bahwa ayahku menciptakan mesin waktu?"

Jaehyun terkekeh mendengar sinisme dalam nada suara Ten,

"Tentu saja tidak, time traveling sampai detik ini hanya ada di novelnovel fiksi ilmiah. Yang dilakukan ayahmu lebih nyata dari itu, beliau melakukan study terhadap butterfly effect ini. Ada sebuah teori yang disebut butterfly effect, sama dengan judul film hollywood itu, Inti dari teori ini menyimpulkan bahwa hal-hal remeh, ketika terstimulasi saling berurutan dengan perhitungan matematis tertentu, bisa menjadi faktor penentu sebuah perubahan besar. Istilah yang pertama kali dipakai oleh Edward Norton Lorenz ini merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil secara teori dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Perubahan yang hanya sedikit pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang."

Ten mulai merasa pusing, "Dan untuk apa ayahku menyelidiki hal itu?"

"Pemerintah yang memintanya. Kau tahu, untuk pertahanan diri dalam menghadapi serangan terselubung negara lain, kita harus memakai otak. Ayahmu lah otak yang dibutuhkan untuk strategi mempertahankan negara. Ayahmu bertugas menyelidiki faktor-faktor minor apa yang menentukan yang ketika berstimulasi, bisa menimbulkan hancurnya pihak-pihak yang ditengarai bisa mengancam pertahanan negara kita."

"Aku masih tidak mengerti."

Jaehyun menatap Ten dengan serius, "Aku tidak bisa memberikan contoh-contoh hasil study kasus yang dilakukan ayahmu, itu rahasia dan menyangkut informasi penting beberapa negara. Yang pasti hyung, hasil penelitian ayahmu ini menarik beberapa pihak di luar pemerintah, salah satunya adalah dari sebuah organisasi asing yang berkuasa – aku tidak bisa menyebutkannya, Organisasi itu membayar ayahmu besar untuk melakukan penelitian bagi mereka. Dan kemudian, tanpa seizin pemerintahan kami, entah dengan alasan apa, ayahmu melakukan penelitian bagi mereka. Sayangnya, Organisasi itu memtuskan untuk membunuh ayahmu segera setelah dia menyerahkan hasil penelitiannya."

"Apa?"

Jaehyun menatap Ten dengan sedih, "Kami terlambat menemukan rencana itu, ketika kami bergerak untuk menolong, semua sudah terlambat. Kecelakaan yang menimpa ayahmu dan dirimu itu, itu bukan kebetulan. Itu pembunuhan."

"Apa?"

Jaehyun mengeluarkan sebuah foto dan dokumen dari sakunya, "Agen kami menemukan informasi bahwa klien ayahmu mengirimkan seorang pembunuh keji untuk melakukan eksekusi bagi ayahmu. Dia dikenal sebagai pembunuh yang tak pernah gagal. Pembunuh ini sangat berbahaya hyung."

Mata Ten melirik ke arah foto-foto dan dokumen yang diletakkan oleh Jaehyun di meja, semula dengan tidak peduli karena dia masih belum mempercayai apa yang dikatakan oleh Jaehyun. Tetapi kemudian matanya membelalak. Foto itu buram, seperti diambil cepat-cepat. Wajahnya juga tidak kelihatan. Tetapi Ten mengenalinya. Apalagi dia baru saja makan malam dengan lelaki itu beberapa saat sebelumnya.

"Oh. Astaga!" Ten menaruh jemari ke mulutnya terkejut, membuat Jaehyun mengangkat alisnya.

"Ada apa hyung?" Tatapan Jaehyun tajam, menyelidik seolah-olah mencari sesuatu di benak Ten.

Ten langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak-tidak apa-apa."

Jaehyun masih menatapnya tajam, "Kau tidak mengenali lelaki ini?"

Ten menggelengkan kepalanya lagi. Tidak. Belum saatnya mengatakan kepada Jaehyun tentang Lee Taeyong. Dia masih belum bisa mempercayai Jaehyun, dia bahkan belum tahu apakah Jaehyun berbicara yang sesungguhnya atau tidak.

Jaehyun menghela napas panjang, mengalihkan kembali perhatiannya kepada foto dan dokumen itu.

"Hanya ini foto terbaik yang bisa kami dapatkan. Seluruh dokumen tentangnya dihapuskan. Yang kami tahu dia adalah seorang pembunuh bayaran yang sangat kejam, dan dia tidak pernah gagal. Kami memanggilnya 'Sang Pembunuh' dan yang kami tahu dia seorang lelaki yang cukup kaya dan berkuasa, dan kemampuan membunuhnya membuatnya semakin berbahaya." Jaehyun menatap Ten tajam, "Sang pembunuh ini tidak pernah gagal, hyung. Dan yang kami tahu dia sangat ahli menyamar. Bahkan sampai sekarang kami tidak tahu identitasnya yang sebenarnya. Yang kami tahu sekarang dia mengincarmu."

Wajah Ten pucat pasi, "Mengincarku?" Kenapa dia diincar? Kalau memang yang dikatakan Jaehyun itu benar, tidak cukupkah mereka merenggut ayahnya dengan kejam pada peristiwa kecelakaan itu? Hati Ten terasa sakit ketika membayangkan bahwa orang-orang jahat itu mencabut nyawa ayahnya dan bertindak dengan begitu kejam.

"Menurut informasi yang kami dapat, kau termasuk ke dalam tugasnya. Dengan kata lain, kau juga harus mati. Tetapi ternyata kau selamat. Setelah kecelakaan itu, kami terus mengawasimu hyung, menunggu 'Sang Pembunuh' datang. Tetapi di luar dugaan, dia menunggu begitu lama. Membuat kami bertanya-tanya apa yang terjadi." Jaehyun menghela napas panjang, "Nyawamu selalu berada dalam bahaya hyung, dan aku.. aku ditugaskan untuk menjagamu, selama ini aku hanya mengawasimu dari jauh seperti tugasku. Tetapi lama-lama..." Jaehyun menelan ludahnya tampak gugup, "Lama-lama aku jatuh cinta kepadamu, aku ingin mendekatimu, dan ketika berhasil mendekatimu, aku ingin semakin dekat...kebersamaan kita itu terasa begitu menyenangkan untukku sampai aku tenggelam dan lupa diri." Mata Jaehyun tampak pedih "Aku lupa kalau aku tidak bisa memilikimu."

Ten mengerutkan keningnya, apakah Jaehyun tidak bisa lebih dekat dengannya karena dia bertugas melindungi Ten? Jadi inilah alasan Jaehyun menyuruhnya menjauh waktu itu? Jaehyun sendiri mengamati ekspresi Ten dan menghela napas panjang,

"Kau benar-benar tidak ingat ya?"

"Tentang apa?"

"Tentang kejadian-kejadian sebelum kecelakaan itu?" Ten merenung, kemudian menghela napas panjang, "Aku berusaha melupakannya dan menganggapnya sambil lalu. Tetapi memang, aku kehilangan ingatanku atas kejadian selama beberapa waktu sebelum kecelakaan itu...sebelumnya aku tidak menyadarinya, tetapi ketika dokter bertanya kepadaku tentang kejadian-kejadian sebelum kecelakaan, aku merasa otakku seperti selembar kertas kosong, tidak ada ingatan sama sekali." Ten mengerutkan keningnya, mencoba mengingat tetapi sama seperti yang dia pernah coba berkali-kali sebelumnya, dia tidak bisa mengingatnya, "Yang tertinggal dariku hanyalah rasa trauma dan ketakitan yang selalu mengejarku, aku...aku menemui psikiater dan dia bilang bahwa amnesia semacam ini sering terjadi kepada orang-orang yang mengalami trauma, seperti korban perang, ataupun korban kecelakaan seperti aku. Biasanya ada celah ingatan yang hilang selama periode waktu tertentu...dan itulah yang kualami.

Aku bisa mengingat tentang ayah, tentang kenangan masa kecilku dan semua hal-hal lainnya. Tetapi periode beberapa bulan, hampir satu tahun sebelum kecelakaan itu, semuanya hilang."

Jaehyun menatap Ten, kemudian menganggukkan kepalanya, "Karena itulah kami tidak bisa menggali informasi darimu, kami pikir kau juga menjadi target karena kau tahu sesuatu tentang study yang dilakukan oleh ayahmu...tetapi hilangnya ingatanmu ini membuat kami tidak bisa menggali lebih dalam, mungkin ini jugalah yang menyelamatkan nyawamu."

Ten mengerutkan keningnya, "Kenapa hilangnya ingatanku bisa menyelamatkan nyawaku?"

"Karena selama kau hilang ingatan, kau melupakan sebuah informasi penting yang mereka pikir kau tahu. Sebuah informasi rahasia yang mengancam mereka. Karena itulah mereka membiarkanmu hidup hyung, selama mereka mengira kau hilang ingatan, berarti rahasia mereka aman ...tetapi sepertinya 'Sang Pembunuh' masih mengawasimu, kalau-kalau ingatanmu kembali."

Ten merasa gatal untuk mengungkapkan kepada Jaehyun bahwa mungkin dia sudah menemukan identitas sang pembunuh itu. Foto yang ditunjukkan Jaehyun memang samar-samar, tetapi entah mengapa dia tahu... tetapi dia takut salah, bagaimana kalau dia salah? Bagaimana kalau Taeyong hanyalah lelaki baik yang kebetulan bertemu Ten dan tidak ada hubungannya dengan semua ini? Ten bingung. Dia kemudian memutuskan untuk memikirkannya dulu, sebelum memutuskan untuk memberitahu Jaehyun tentang Lee Taeyong.

"Aku... semua informasi ini terlalu berat untukku." Dengan lemah,

Ten memijit keningnya, "Aku butuh waktu untuk memikirkannya"

Jaehyun menganggukkan kepalanya,

"Aku mengerti, aku akan berpamitan dan memberikan waktu untukmu sendirian. Kuharap kau mempercayaiku Ten hyung," Tatapan Jaehyun tampak penuh permohonan, "Semua yang kulakukan adalah untuk menjagamu."

Ten menatap Jaehyun dan sekilas rasa sakit muncul di sana, dia lalu memalingkan mukanya, "Aku akan menghubungimu nanti."

Itu adalah pengusiran secara halus dan Jaehyun mengerti, dia lalu beranjak dari duduknya, "Aku akan pergi, tapi kau selalu dijaga hyung, kau bisa tenang." Lalu tanpa kata lagi, Jaehyun melangkah pergi dan meninggalkan Ten termenung sendirian di sofa.

###

Malamnya Ten berbaring dengan mata nyalang, menelaah semua informasi yang diberikan oleh Jaehyun. Lelaki itu sungguh-sungguh, Ten menyadarinya, dia hanya masih belum bisa menerima bahwa ayahnya terlibat dalam konspirasi yang luar biasa besar dan tidak terduga.

Ayahnya... mata Ten terpejam, ayahnya sangat baik kepadanya, benar-benar kebapakan dan tampak seperti ayah-ayah biasanya, meskipun dia seorang profesor, tidak ada yang aneh pada sikapnya. Kenapa ayahnya menerima pekerjaan dari sebuah organisasi yang berbahaya dan kemudian membahayakan nyawanya?

Ten menghela napas panjang, lalu teringat akan kata-kata Jaehyun bahwa sekarang nyawanya diincar oleh 'Sang pembunuh'. Foto buram itu sangat mirip dengan Taeyong...tetapi kalau memang benar lelaki itu adalah 'Sang Pembunuh' mengapa dia tidak membunuhnya ketika makan malam mereka? Kenapa Taeyong malahan berlaku sopan, lelaki itu malahan bilang menginginkannya dan merayunya.

Pipi Ten terasa merona ketika membayangkan sikap arogan Taeyong saat itu...dan entah kenapa, jantungnya mulai berdebar pelan.

###

Taeyong mendengarkan setiap patah kata yang diucapkan Jaehyun kepada Ten, yah...dia memang menyadap dan memasang kamera tersembunyi di seluruh penjuru rumah Ten untuk mengawasinya. Dan ketika dia mendengar seluruh penjelasan Jaehyun, Taeyong sadar bahwa saatnya telah tiba, saat untuk mengambil Ten kembali. Kemarin dia memang gagal dengan berbagai alasan. Tetapi Saat itu, Taeyong sudah berjanji bahwa dia akan kembali. Dan kali ini dia tidak akan gagal.

###

Malam itu Ten merasakan jemari itu menyentuh samping lehernya, dengan lembut dan terasa hangat. Sentuhan itu familiar, sefamiliar rasa yang ditimbulkannya, Ten menggelenyar langsung dari ujung kaki ke ujung kepala, merasakan perasaan bergairah yang menggelitiknya tanpa ampun. Dia masih memejamkan mata ketika tubuh yang hangat itu melingkupinya, terasa begitu pas dengan tubuhnya.

Ten merasa dirinya setengah tidur, dia lalu merabakan jemarinya ke tubuh hangat yang menindihnya itu, menelusuri otot-ototnya yang liat, terbungkus kulit halus dan licin, menggoda, terasa begitu keras dalam remasan jemarinya.

Yang menindihnya adalah lelaki yang sangat jantan. Ten menyesap aroma lelaki yang khas, aroma febreeze yang menggoda berpadu melingkupi seluruh inderanya.

Lalu bibir lelaki itu menyusul jemarinya, menyentuh sisi lehernya, terasa panas dan membara, mengirimkan sinyal-sinyal bergairah yang tak terduga. Ten mengerang, dan ciuman lelaki itu semakin merambat, ke rahangnya, ke tulang pipinya, dan kemudian sedetik sebelum Ten merasakan napas hangat yang menerpa dirinya, bibir itu kemudian melumat bibirnya.

Oh...sungguh ciuman yang sangat menggoda. Bibir itu terasa keras dan jantan, tetapi menyentuh bibirnya dengan lembut dan hati-hati, menempel sempurna seolah ingin menyesap rasa bibir Ten, bibir itu menyelip di antara bibir Ten yang setengah terbuka kemudian menyesapnya lembut, semakin lembut, semakin dalam, dan kemudian lidahnya yang panas menyeruak masuk, membuat Ten mulai terengah, napas mereka yang panas berpadu, ketika lidah lelaki itu berjalinan dengan lidah Ten, menikmatinya. Kemudian lidah itu mencecap seluruh rasa diri Ten, ke seluruh bagian mulutnya.

Ten mengerang dalam pagutan lelaki itu, jemarinya meremas punggung telanjang lelaki itu, ketika tubuh mereka bergesekan dengan liar dan bergairah. Ketika rasa panas tubuh mereka berpadu, Ten menyadari bahwa dia telanjang bulat...sama halnya dengan lelaki yang menindihnya itu.

Kejantanannya terasa sangat keras, menyentuh perut Ten, menggeseknya dengan menggoda, membuat Ten membuka pahanya...

Kemudian Ten membuka mata dan mendongakkan kepalanya menatap lelaki menggairahkan yang sedang mencumbunya. Ten langsung terkesiap ketika berhadapan dengan mata hitam yang dalam itu, mata Lee Taeyong!

###

Ten langsung tersentak dan terduduk, terbangun paksa dari mimpinya. Napasnya terengah dan tubuhnya berkeringat. Benaknya berkecamuk kebingungan. Oh Astaga...mimpi erotis lagi, tetapi kali ini bukan dengan lelaki tak dikenal dalam ingatannya yang samar-samar. Kali ini dia jelas-jelas bersama lelaki yang dikenalnya,

Lee Taeyong...ya ampun...Ten meremas jemarinya dengan gugup dan gelisah, dia bahkan tidak pernah punya pemikiran sensual apapun dengan lelaki itu, Taeyong memang membuatnya berdebar, membuatnya merasakan perasaan aneh yang tak pernah dirasakannya, tetapi itu tidak serta merta memberikan alasan kenapa Ten bisa bermimpi erotis tentang lelaki itu bukan?

Kenapa harus dengan Lee Taeyong?

###

Ketika Ten membuka pintu rumahnya, dia mengernyit ketika menemukan Jaehyun berdiri di sana, "Apa yang kau lakukan di sini?"

Jaehyun memasang tampang seolah-olah tidak melihat tatapan Ten yang penuh kebencian. "Aku bertugas untuk menjagamu."

Ten mengerutkan keningnya, "Aku tidak butuh di jaga."

"Kau butuh." Jaehyun menatap Ten keras kepala, "Aku memang salah melibatkan perasaan pribadiku dalam hal ini Ten, tapi satu yang kau perlu tahu pasti, aku tidak akan gagal menjagamu, aku akan berjuang sekuat tenaga agar kau baik-baik saja."

"Aku masih belum bisa mempercayai seluruh ceritamu, dan aku pikir aku baik-baik saja." Ten melemparkan tatapan marah kepada Jaehyun kemudian melangkah melewati lelaki itu, tetapi dengan sigap Jaehyun mencekal lengannya, lembut tapi kuat.

"Ten hyung. Aku tidak main-main dengan semua ini. Ayo ikut aku."

"Aku tidak mau."

"Kau akan bersyukur karena kau ikut aku nanti." Jaehyun bersikeras dan kemudian tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan jalan di teras Ten. Dan tanpa bisa melawan, Ten setengah di dorong oleh Jaehyun memasuki mobil itu.

Ketika Jaehyun menyusul di sebelahnya di kursi penumpang belakang, mobil langsung melaju meninggalkan rumah Ten, Ten menoleh dan menatap Jaehyun dengan tatapan mengancam, "Aku harus pergi bekerja, kau tahu."

"Kau bisa mengabari kalau kau sakit." Jaehyun menjawab datar, membuat Ten menatapnya.

Lelaki ini terasa berbeda dengan Jaehyun yang dikenalnya dulu, Jaehyun yang selalu mampir ke rumahnya membawakan berbagai makanan, Jaehyun yang mudah tertawa dan menyenangkan diajak biacara...Jaehyun yang ada di sebelahnya ini tampak kaku dan asing.

Jadi siapa sebenarnya sisi Jaehyun yang sesungguhnya?

"Oke. Tapi kalau kita pergi tanpa ada gunanya, aku tidak akan memaafkanmu."

Jaehyun hanya diam dan tidak menjawab perkataan Ten, mereka diam sepanjang perjalanan.

###

Mobil hitam itu berhenti di sebuah rumah mungil berwarna putih yang sangat indah, Jaehyun membuka pintu dan membimbing Ten turun dengan lembut. Mereka berdiri di depan rumah itu. Rumah itu berpagar rendah, dari kayu yang dicat putih setinggi pinggang. Bagian depan rumah dipenuhi hamparan rumput dan bunga-bungaan liar yang sekarang tumbuh agak tinggi, sedikit terbengkalai.

Apakah tidak ada yang merawat rumah seindah ini?

Ten menoleh ke arah Jaehyun yang menatap rumah itu.

"Ini rumah siapa?" tanyanya bingung. Kenapa Jaehyun mengajaknya ke sini?

Tatapan Jaehyun begitu tajam, "Kau tidak ingat?"

Ten menggelengkan kepalanya, "Tidak."

Apakah dia tahu tentang rumah ini di balik semua ingatannya yang hilang? Seperti biasa Ten berusaha mengingat hanya untuk menemukan bahwa dia tidak mampu. Kepalanya terasa sakit, membuatnya mendesah bingung.

"Ini rumah siapa?" Ten mengulang lagi pertanyaannya, membuat Jaehyun menghela napas panjang.

"Ini rumahmu. Yang kau tinggali bersama ayahmu." Informasi ini benar-benar mengejutkan Ten, membuatnya terperanjat.

"Tidak mungkin. Kami tinggal di rumah di dekat kampus, rumah yang disediakan pihak universitas untuk ayahku. Yang pasti bukan rumah ini." Ten merasa pasti, karena dia tahu pasti dari ingatannya tentang rumah yang ditinggalinya bersama ayahnya. Dia tinggal di sana bersama ayahnya sejak dia remaja, Ten tidak mungkin salah.

"Ya. Kalian memang tinggal di rumah itu, dulunya. Tetapi beberapa lama setelah menerima proyek pekerjaan berbahaya itu, ayahmu membawamu pindah ke rumah ini. Kau mungkin tidak ingat karena kalian hanya tinggal di rumah ini kira-kira setahun sebelum kecelakaan itu terjadi. Dan kau bilang kau kehilangan ingatanmu sampai beberapa lama sebelum kecelakaan itu." Jaehyun menghela napas panjang, "Ini adalah properti yang dipertahankan pengacaramu dengan pertimbangan kami. Kami berharap kalau kami membutuhkan ingatanmu, kami bisa membawamu kemari."

Ten menatap rumah itu dan tetap saja merasa asing, karena dia sama sekali tidak ingat. Benarkah semua yang dikatakan oleh Jaehyun itu? Ataukah dia hanya dimanipulasi?

"Kau ingin memasukinya?" Jaehyun menawarkan, menunjukkan sekumpulan kunci di tangannya, "Aku memegang kuncinya, rumah ini dijaga sama persis seperti ketika kalian meninggalkannya terakhir kalinya sebelum kecelakaan itu."

Ten sangat ingin masuk dan membuktikan kebenaran kata-kata Jaehyun, dia menatap Jaehyun dan bertanya, "Kenapa baru kau lakukan ini sekarang? Kenapa tidak dari dulu? Kalian semua membiarkanku tenggelam dan kehilangan ingatan, tidak tahu apa-apa."

"Kami pikir dengan begitu, kami bisa menjagamu." Jaehyun menghela napas panjang, "Semakin sedikit kau tahu semakin baik, apalagi kau sudah mulai menata hidupmu dengan baik...sampai kemudian kami mulai menemukan bukti bahwa "Sang Pembunuh" kembali mengejarmu. Kami yakin bahwa kau bisa membantu kami menemukan dia, dan itu juga akan menyelamatkanmu."

Sambil berkata Jaehyun melangkah mendekati pagar rumah itu lalu membuka gemboknya, setelah itu, dia meraih pagarnya dan membukanya lebar, menatap Ten. "Ayo masuk, hyung."

Ten melangkah memasuki pekarangan rumah itu, semula ragu, tetapi kemudian langkahnya makin pasti, Jaehyun berjalan di sisinya dengan hati-hati. Ketika mereka sudah mendekati pintu rumah, Jaehyun mendahului langkahnya dan membukakan kunci pintu itu, lalu membuka pintu rumahnya.

Ten yang melangkah lebih dulu memasuki rumah itu. Sejenak dia berhenti di ambang pintu, merasa ragu, angin dari dalam rumah menghembusnya, tercium agak pengap karena rumah itu sepertinya lama sekali tidak dibuka. Ruangannya tampak gelap dan remangremang karena seluruh gorden dan jendelanya ditutup rapat. Jaehyun melangkah ke samping dan menyalakan lampu.

Seluruh ruangan langsung terlihat jelas. Ten mengitarkan pandangan ke seluruh perabotan di ruang tamu yang berdebu itu, dan merasakan perasaan berdenyut nyeri menyeruak di dadanya.

Kenangan...

Tiba-tiba sekelebat kenangan menyeruak di benak Ten, cahaya remang-remang di kegelapan...aroma harum bunga-bunga yang menusuk. Ten terkesiap dan setengah berlari menuju arah yang tiba-tiba diingatnya. Jaehyun mengikutinya ketika Ten membuka pintu kamar itu. Dalam kamar yang temaram itu, di sebuah meja besar di ujung kaki tempat tidur.

Di sana ada sembilan lilin yang meleleh, bekas dinyalakan sejak lama, berwarna biru, dalam urutan yang spesifik...

Ten langsung jatuh pingsan.

###