BLACK
EXO Fanfiction
Warning: BL
Pairing: HunKai, Sehun X Kai (Kim Jongin)
Cast: Lay, Suho, Kris, Xiumin, Chen, others
Rating: T-M
Halo semuanya ini chapter tujuh terimakasih untuk para pembaca sekalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita saya yang semakin aneh. Updatenya lama masih berkutat dengan penyakit menakutkan bernama WB alias writer block. Selamat membaca dan maaf atas segala kesalahan.
Previous
"Siapa?" itu suara Lay yang bertanya.
"Sehun."
"Wah, kalian sudah akrab aku senang sekali mendengarnya." Balas Lay dengan nada ceria, Jongin hanya tersenyum tipis.
"Apa kalian menjalin hubungan yang serius?"
Jongin mengerutkan dahi, nada bicara ibunya terdengar tidak bersahabat. "Tentu saja tidak kami hanya berteman."
"Kau yakin Sehun tak tertarik padamu?"
"Memangnya kalau Sehun tertarik padaku kenapa?"
"Jongin," nyonya Kim memanggil nama putranya dengan nada yang lebih lembut. "Ibu hanya tidak ingin kau terluka dan direndahkan lagi."
"Hmmm, aku mengerti Ibu, Ibu jangan cemas, Sehun tak mungkin tertarik padaku, kami hanya berteman biasa." Ucap Jongin agar ibunya merasa tenang, namun entah kenapa justru hatinya yang bergejolak sekarang. "Sehun memiliki banyak pilihan yang lebih baik dariku, Ibu jangan mencemaskan soal itu, tenang saja."
Jongin kembali menyandarkan kepalanya dan memejamkan kedua matanya, Monggu meletakan kepalanya di atas pangkuan Jongin, ia usap pelan kepala Monggu dan bulu-bulu yang terasa lembut menyentuh permukan kulit telapak tangannya.
BAB TUJUH
"Monggu!" Jongin menggeram kesal, setelah dua hari istirahat total hari ini dia merasa sangat segar dan hal pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah memandikan Monggu. "Kenapa kau selalu kabur saat akan dimandikan?!" Jongin kembali menggerutu, sementara kedua kakinya menjepit tubuh Monggu yang terbaring di atas lantai kamar tidurnya, Monggu menyalak keras mengeluarkan protesnya, Jongin tak peduli, misi hari ini harus terlaksana. "Tidak, tidak Monggu, aku tidak akan membiarkanmu lolos, bulu-bulumu sudah tidak harum dan tidak lembut lagi, kau harus mandi." Jongin bermonolog panjang seolah anjingnya mengerti.
Monggu mengeluarkan geraman memelas, sepertinya anjing itu memang mengerti dengan apa yang Jongin ucapkan. "Aku akan menunggumu sampai kau menyerah, jadi nikmati saja tindihan dua kakiku Monggu nakal!"
Sehun yang sejak tadi berdiri di depan pintu kamar Jongin, sudah tidak sanggup lagi menahan tawa. Sungguh Jongin terlihat lucu menggerutu seperti itu, ternyata hanya di depan Monggu saja Jongin menjadi dirinya sendiri. Bukan Jongin yang pendiam.
"Siapa di sana?! Lay hyung? Suho hyung? Ayah?" tak ada jawaban Jongin mengerutkan dahinya, tidak mungkin suara tawa itu milik ibunya karena suara itu terdengar berat.
"Ini aku."
"Sehun…," Jongin menggumam, padahal selama dua hari ini ia menunggu Sehun dan laki-laki itu tak muncul, ah tapi Sehun memang mengatakan jika dia akan mampir jika ada waktu.
"Hei! Kenapa kau jadi pendiam lagi? Padahal saat bersama Monggu kau bicara banyak." Jongin tak menjawab, Sehun hanya menghembuskan napas kasar dan mulai melangkah mendekati Jongin.
"Siapa yang membukakan pintu untukmu?"
"Ibumu."
"Apa ibuku terlihat ramah?"
"Iya, beliau ramah memang kenapa?" Jongin menggeleng cepat, tak mungkin ia mengatakan pada Sehun tentang kecemasan ibunya. "Kalian bertengkar?"
"Tidak, hanya saja aku bersikap sedikit menyebalkan mungkin, karena itu Ibu sedikit jengkel padaku."
"Ah itu." balas Sehun mengerti, ia duduk di atas lantai di samping Jongin tangannya bergerak mengusap puncak kepala Monggu. "Kau membuatnya tersiksa, Jongin." Ucap Sehun setelah mengamati betapa memelasnya wajah Monggu sekarang. "Angkat kakimu."
"Aku tidak menyakitinya, Monggu pandai berakting supaya tidak mandi, aku sudah sering termakan akting Monggu." Nada bicara Jongin yang bersungut-sungut, bibir sedikit mengerucut, dan mata bulat lucu membuat Sehun kembali tertawa. "Hei, apa yang kau tertawakan?!" bentak Jongin.
"Kau terlihat lucu saat kesal karena seekor anjing." Balas Sehun di sela tawanya.
"Monggu bukan anjing biasa," Jongin menggerutu membela diri, tidak mau dianggap konyol oleh Sehun.
"Baiklah, aku bisa membantumu memandikan Monggu, bagaimana?"
"Kau bisa melakukannya?"
"Tentu saja bisa, dulu aku pernah memelihara anjing lalu aku berhenti memelihara hewan peliharaan setelah sibuk dengan sekolah SMA sampai sekarang."
"Kau yakin tidak lupa cara memandikan anjing?"
"Aku ini jenius!" Ucap Sehun berapi-api.
Jongin mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah, angkat Monggu dan bawa dia ke kamar mandi." Tanpa ragu Jongin langsung memberi perintah, Sehun hanya cekikikan kemudian mengangkat tubuh gempal Monggu dari bawah kungkungan kaki Jongin.
Memandikan Monggu rupanya benar-benar tidak mudah, Jongin harus berulang kali meneriaki anjingnya agar duduk diam, setelah membasahi bulu-bulu Monggu dilanjutkan dengan memberi sampo khusus anjing, meratakan ke seluruh tubuh Monggu membilasnya hingga bersih, kemudian kondisioner, meratakannya, dan membilasnya. Jongin mengambil handuk lebar dan meletakannya ke atas tubuh Monggu, ia menggosok perlahan untuk mengurangi air dari bulu-bulu Monggu.
"Kau memandikan Monggu sendiri selama ini?"
"Baru satu tahu terakhir, dulu Suho hyung yang membantuku."
"Hmmm."
"Sudah, ayo Monggu keluar dari kamar mandi setelah ini bulu-bulumu akan dikeringkan." Monggu menggeram tidak suka. "Kalau tidak dikeringkan bisa tumbuh jamur. Ayo Monggu!" perintah Jongin.
Sehun berjalan pelan di belakang Jongin, ia melihat jika Jongin berjalan normal tanpa bantuan tongkat, tanpa meraba-raba, mungkin karena dia sudah hapal dengan kamarnya dan semua barang yang ada.
"Monggu duduk di atas tempat tidur." Perintah Jongin pada si anjing cokelat, dan Monggu melakukan hal yang Jongin perintahkan.
Sehun duduk di pinggir tempat tidur memperhatikan Jongin mengeringkan bulu Monggu dengan pengering rambut kemudian menaburi bulu Monggu dengan bedak khusus, mengeringkan telinga bagian dalam Monggu. Semuanya Jongin lakukan dengan sangat baik. Setelah semua selesai Jongin memeluk Monggu erat, menenggelamkan wajahnya pada bulu-bulu cokelat tua Monggu. "Harum." Gumam Jongin dengan suara pelan yang teredam tubuh Monggu.
Sehun yang merasa tak berguna akhirnya berdiri dari duduknya, ia memutuskan untuk mengembalikan bedak Monggu dan Hairdrayer ke atas nakas dan membuang tisu yang tadi Jongin gunakan untuk mengeringkan telinga Monggu.
"Sehun kau tidak perlu melakukan hal itu." Ucap Jongin setelah mendengar langkah kaki dan suara benda yang di letakkan di atas permukaan kayu meja nakas. Sehun tidak menjawab kalimat Jongin. "Maaf merepotkanmu." Sambung Jongin dan Sehun masih bungkam.
Dahi Jongin berkerut, apa dia melakukan kesalahan. "Ah, aku lupa terimakasih sudah membantuku Sehun." Ucap Jongin dengan nada ceria kemudian diiringi oleh senyum manisnya.
"Wah rupanya kau masih ingat jika aku membenci permintaan maafmu."
"Tapi jika aku menginjak kakimu apa aku tidak boleh meminta maaf?"
"Kalau itu tentu saja kau harus meminta maaf, yang tidak aku sukai adalah meminta maaf saat kau sama sekali tidak salah. Kenapa kau banyak sekali meminta maaf?" Sehun menatap wajah Jongin dengan seksama meski Jongin tak membalas tatapannya, wajah Jongin memang menghadap ke arahnya namun kedua mata Jongin tentu saja tidak fokus menatapnya.
"Kau juga banyak meminta maaf padaku saat kita baru bertemu, apa alasanmu?"
"Ah itu…," Sehun tak langsung melanjutkan kalimatnya. Jongin berhasil memojokannya. "Hmm kurasa aku tak ingin menyinggungmu."
Jongin mengangguk pelan. "Kalau aku meminta maaf karena aku merepotkan orang lain, seandainya aku normal tentu aku tak membutuhkan bantuan terlalu banyak."
Sehun duduk kembali di pinggir ranjang tempat tidur Jongin dengan Monggu di antara dirinya dan Jongin. "Kenapa kau berpikir seperti itu? Manusia itu makhluk sosial jadi mustahil manusia tak membutuhkan bantuan manusia lain."
"Tapi frekuensinya pasti berbeda." Jongin bersikeras jika dirinya adalah beban, dan Sehun tak suka dengan hal itu.
"Berhentilah menganggap dirimu sebagai beban."
"Itu tak membantu," bisik Jongin.
Sehun terdiam, mencoba berpikir. "Jika aku mengagumi apa itu cukup untuk mengubah pandanganmu terhadap dirimu sendiri?"
Kagum? Seorang Oh Sehun mengaguminya? Pemilik salah satu mall terkenal di Korea mengaguminya? Jongin tersenyum miring. "Jangan bercanda Sehun."
"Aku tidak bercanda." Sehun menjawab tegas.
"Bohong, tidak ada dari diriku yang bisa dikagumi, aku sama sekali….,"
"Aku kagum dengan tulisanmu dan kagum dengan kebaikan hatimu yang mau berbagi dengan sesama." Ucap Sehun, memotong kalimat Jongin.
"Aku bukan siapa-siapa," gumam Jongin pelan, melanjutkan kalimatnya yang tadi dipotong oleh Sehun.
"Karena aku mengagumimu mulai sekarang berhentilah memandang rendah dirimu sendiri, setuju?" Jongin tak berekspresi, Sehun meraih tangan kanan Jongin dan menautkan kelingking Jongin dengan kelingkingnya. "Kau sudah setuju."
"Kau memaksaku!" pekik Jongin sambil menarik tangan kanannya dari genggaman tangan Sehun. Di dengarnya suara tawa Sehun yang tertahan. "Sudah diam," gerutu Jongin, sayang, Sehun masih saja tertawa. "Kenapa menemuiku? Dan sekarang aku yakin masih sekitar pukul dua atau tiga sore, bagaimana kau bisa pulang kerja cepat?"
"Ah itu." balas Sehun, sementara Jongin bersorak dalam hati ternyata keputusannya untuk mengganti topik berhasil menghentikan tawa Sehun. "Aku datang kerja sangat pagi, jadi aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat, dan aku datang kesini untuk menjengukmu sekalian bermain, kita kan teman apa kau tidak tahu jika teman itu saling mengunjungi?"
"Aku tidak punya teman dalam waktu yang lama." Jawaban Jongin yang lirih ditambah raut wajah muramnya, membuat Sehun merutuk dalam hati, padahal dia berniat untuk bercanda tapi sepertinya pertanyaan yang ia ajukan salah.
"Ah! Mulai sekarang aku akan sering mengunjungimu karena aku temanmu, sudahlah Jongin, jangan memasang wajah menyedihkan seperti itu lagi, kau ini." Sehun menyikut pelan lengan Jongin karena Monggu memutuskan untuk berbaring di atas lantai. "Dulu kau bilang untuk menikmati hidup dan merasa bahagia setiap hari, mari menikmati hidup dan lupakan semua hal yang membuat sedih."
"Hmm, ide bagus." Ucap Jongin, ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju beranda kamarnya, beranda yang sama seperti di rumah Sehun kecuali kanopi mawar.
"Kemana?"
"Keluar dan menghirup udara segar, Monggu menyukainya."
"Kau sendiri?"
"Aku tidak tahu, suka atau tidak, tapi sudah menjadi kebiasaan, jadi kurasa aku menyukainya." Sehun hanya mengangguk mendengar kalimat Jongin lupa jika Jongin tak bisa melihat anggukannya.
Sehun melangkah mengikuti Jongin, beranda kamar Jongin sedikit lebih luas dari beranda di rumahnya, jika di rumahnya menggunakan kanopi mawar sebagai peneduh, milik Jongin dilindungi oleh genteng. Ada dua kursi anyam putih di salah satu ujung beranda dan meja kopi berukuran sedang tanpa hiasan apa-apa di atasnya.
Monggu langsung merebahkan tubuhnya di atas lantai, Jongin duduk di atas lantai dengan punggung bersandar pada dinding dan Sehun melakukan hal yang sama. Beranda ini menghadap langsung dengan kolam air berukuran sedang, ada hiasan bambu runcing yang bergerak naik turun dengan bantuan beban air, suara gemericik air membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa tenang.
"Di sini nyaman," gumam Sehun.
"Hmm." Jongin hanya menggumam.
"Jongin."
"Ya?"
"Jangan lupa tanggal dua puluh lima, kau tidak boleh sibuk di hari itu mengerti?"'
"Kau memaksaku?"
"Karena itu kesempatan terakhir untuk ke pantai, setelah itu udara akan semakin dingin dan entah kapan lagi aku bisa mencuri waktu untuk libur." Sehun menerangkan semua alasannya kepada Jongin.
"Baiklah, aku akan berusaha mengingatnya dan kau sendiri yang mengatakan akan menerorku agar aku ingat."
"Ah iya, aku akan menerormu."
"Jangan katakan kau lupa janjimu yang satu itu?"
"Tidak!" elak Sehun. Jongin tertawa mendengar nada bicara Sehun yang terkejut itu. "Sungguh aku tidak lupa, aku sudah membuat agenda di ponselku."
"Baiklah, baiklah." Balas Jongin dengan nada mengejek.
Sehun mengerucutkan bibirnya mirip Marmut, biasanya hal itu ia lakukan untuk mengejek, dan memang itu tujuannya, namun reaksi yang ia dapatkan tentu saja berbeda. Jika ia melakukan hal itu di depan Kris, Xiumin, atau Chen, pasti pukulan manis telah mendarat di kepalanya, namun di depan Jongin dia sama sekali tak mendapat reaksi apa-apa. Di sisi lain Sehun merasa lega tak perlu merasakan jitakan di kepala, namun di sisi lain, anehnya ia berharap Jongin akan menjitak kepalanya.
Sibuk dengan pemikirannya sendiri, Sehun sempat melupakan Jongin, ia menoleh dan mendapati Jongin sudah tertidur. "Kau ini," gerutu Sehun, perlahan ia tarik kepala Jongin dan meletakannya di bahu kirinya. Sehun menumpukan kepalanya pada puncak kepala Jongin, aroma sampo Jongin tercium kuat. "Kau memakai sampo yang sama dengan Lay hyung," gumam Sehun. Napas Jongin yang terdengar teratur ditambah suara gemericik air adalah kombinasi sempurna untuk membuat kedua kelopak mata Sehun terasa berat.
Mungkin, belum lima menit Sehun tertidur saat ponsel dalam saku kemejanya mengeluarkan bunyi berisik. Sehun langsung terjaga dan mengambil ponselnya, menjawab panggilan masuk.
"Xiumin hyung ada apa?"
"Datanglah ke kantor kami membutuhkanmu sekarang."
"Untuk apa?"
"Kris tidak bisa mengatasi masalah tentang penambahan lantai di mall."
"Ah baiklah aku akan segera ke sana, setengah jam lagi bagaimana?"
"Ya, tidak apa-apa, kurasa para penyewa baru akan datang satu jam lagi, aku memberitahumu lebih awal untuk mempermudah situasi."
"Sampai nanti Hyung." Sehun mengakhiri sambungan teleponnya dengan Xiumin, ia menoleh ke kiri dan melihat Jongin masih tertidur dengan kepala bersandar di pundaknya. "Jongin, maaf aku harus pergi sekarang." Sehun berucap perlahan agar Jongin tak terkejut. Sayang Jongin hanya melenguh dan menyamankan kepalanya. Satu hal baru yang Sehun ketahui tentang Jongin, Jongin hobi sekali tidur. "Haaah baiklah," desah Sehun.
Perlahan Sehun melingkarkan tangan kirinya pada tubuh Jongin dan tangan kanannya berada di bawah lutut Jongin, mengangkat tubuh Jongin adalah satu-satunya pilihan yang tersisa. Ini bukan yang pertama kali Sehun mengangkat tubuh Jongin, namun baru kali ini ia benar-benar menyadari jika tubuh Jongin terasa ringan, dan dia tak kesulitan untuk mengangkatnya.
"Bahkan Chen hyung lebih berat darimu," bisik Sehun. Perlahan Sehun membaringkan tubuh Jongin ke atas tempat tidur, dan menyelimutinya. "Tidur yang nyenyak."
Sehun menoleh ke beranda, Monggu juga masih terlelap, jadi pekerjaan lanjutan yang Sehun lakukan adalah mengangkat Monggu, membaringkannya di samping Jongin lalu menutup pintu beranda, mencegah udara dingin masuk ke dalam kamar. "Aku pergi dulu Jongin." Tanpa sadar tangan kiri Sehun bergerak untuk menyingkirkan rambut yang menutupi dahi Jongin.
Sehun mengamati wajah polos Jongin yang tertidur. "Apa kau bermimpi? Mimpi seperti apa yang kau lihat? Apa itu berwarna?" tanpa sadar bibir Sehun membisikan berbagai pertanyaan yang mengganggu pikirannya. Sehun mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dengan cepat karena terasa panas, entah kenapa dia menjadi sangat cengeng jika berhadapan dengan Jongin.
"Aku pergi dulu Jongin." Sehun mengulangi kalimat perpisahannya kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar Jongin.
.
.
.
Sehun hanya diam dan memperhatikan perdebatan yang sedang berlangsung, diliriknya Kris yang juga diam memasang wajah datar, Xiumin yang terlihat menahan emosi, dan Chen yang berulang kali menggerakan pantatnya mulai bosan.
"Tuan Oh kami bersedia membayar biaya sewa yang sangat mahal kenapa Anda bersikeras tak ingin menambah lantai?" tanya perwakilan para penyewa mall.
"Maaf Tuan dan Nyonya sekalian, mallnya memang hanya dirancang untuk menahan beban hingga delapan lantai, kami tidak bisa menambah lantai lagi, Anda sekalian bisa menyewa di mall lain, sekali lagi maaf."
"Banyak mall lain yang menambah lantai mereka setelah didesak para penyewa kenapa Anda bersikeras?"
"Karena saya tidak mau mengambil resiko terjadinya kecelakaan yang tak diinginkan, maaf ini bukan hanya sekedar materi saya harus bertanggung jawab pada keselamatan seluruh pengunjung mall."
Para calon penyewa tak menjawab, dan pergi meninggalkan ruang rapat dengan tertib meski dari raut wajah mereka terlihat jika keputusan Sehun tak memuaskan untuk mereka.
"Apa keputusanku tepat atau tidak?" Sehun bertanya pada tiga orang yang tersisa di dalam ruang rapat, orang-orang kepercayaannya sekaligus sahabat-sahabatnya.
"Itu baik." balas Xiumin.
"Aku setuju dengan keputusanmu." Sambung Chen.
"Hyung?" Chen yang bertanya namun pandangan Xiumin dan Sehun tertuju pada Kris.
Kris yang tadinya diam terlihat melamun langsung menegakan tubuhnya. "Ah, itu tepat sekali Sehun." Semua orang terkejut dengan apa yang Kris katakan. "Aku memang selalu berdebat dengan Sehun, tapi untuk keselamatan pengunjung aku sependapat dengan Sehun."
"Baiklah, semuanya selesai, aku mau makan dulu." Ucap Xiumin sambil berdiri dari kursinya.
"Aku ikut Hyung!" pekik Chen kemudian berjalan mengekori Xiumin keluar dari ruang rapat.
Sehun meminum air mineralnya hingga tersisa setengah, kemudian berdiri dari kursinya, ia menoleh menatap Kris karena tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu dan wajahnya terlihat terbebani. "Ada apa Hyung?"
"Aku—memikirkan permintaan maafku untuk Jongin."
"Oh." Sehun membalas singkat.
"Aku ingin meminta maaf tapi rasanya sulit, kau tahu kan apa yang aku maksud…," Kris menggantung kalimatnya.
"Aku tahu, seorang Kris tak pernah merendahkan dirinya pada orang lain dan meminta maaf termasuk merendahkan diri." Kris mengangguk membalas pernyataan dari Sehun. "Lalu apa yang Hyung inginkan?"
"Apa ada cara lain untuk meminta maaf langsung tanpa harus bertemu?" Sehun ingin mendengus tapi wajah Kris terlihat membutuhkan bantuan.
"Bagaimana jika menghubungi Jongin?"
"Kurasa itu ide bagus, kau punya nomornya?"
"Aku akan menghubunginya dengan ponselku lalu kau bisa bicara dengannya. Jangan melempar pertanyaan lain, menurut saja Hyung." Peringat Sehun saat dilihatnya wajah Kris yang terlihat ingin melempar pertanyaan padanya.
"Baiklah, terserah kau saja."
Sehun bergegas mengambil ponselnya dari saku kemeja, ia sekilas melihat jam yang ada di layar ponselnya. Pukul sembilan malam, berharap saja jika Jongin belum tidur. "Ternyata rapat menyebalkan tadi memakan waktu yang sangat lama." Gerutu Sehun.
"Kau baru menyadarinya?" Kris membalas dengan pertanyaan.
"Hmm." Sehun menggumam sementara ibu jarinya dengan cekatan menyentuh layar ponsel menuju menu kontak, Sehun langsung menghubungi nomor Jongin, hanya dua kali nada sambung dan suara Jongin menyapanya.
"Halo."
"Halo Jongin." Balas Sehun berusaha keras untuk tak tersenyum karena ada Kris yang bersama dengannya sekarang.
"Sehun."
"Iya ini aku."
"Ada apa?"
"Kau masih ingat kejadian di pesta lajang Lay dan Suho hyung saat seseorang mendorongmu, kau masih ingat?"
"Ya." Jongin membalas singkat, Sehun mendengar keenggenan dalam nada bicara Jongin.
"Dia ingin bicara denganmu, kau bersedia?" Jongin tak langsung menjawab, ada jeda yang cukup lama. "Jongin?"
"Baiklah." Bisik Jongin.
Sehun menatap Kris kemudian menyodorkan ponselnya, Kris terlihat gugup namun ia tetap menerima ponsel yang Sehun sodorkan. Sehun duduk di atas meja tepat di hadapan Kris. Mengawasi Kris dengan tatapan mata elang tajamnya.
"Halo Jongin, ini aku Kris, maafkan aku atas kejadian malam itu, maaf baru menghubungimu sekarang dan maaf juga karena aku meminta bantuan Sehun." Ucap Kris, Sehun terdiam memperhatikan dengan seksama. Sepertinya Jongin sedang berbicara pada Kris, melihat Kris yang diam dengan ekspresi wajah serius. "Terimakasih, sekali lagi aku minta maaf, terimakasih Jongin." Kris menjauhkan ponsel Sehun dari telinga kanannya kemudian menyerahkan ponsel itu kembali pada sang pemilik.
"Jongin, ini aku Sehun, selamat malam Jongin." Sehun mengakhiri panggilannya dan memasukan ponselnya kembali ke dalam saku.
"Kau menyayangi Jongin?"
"Apa maksud Hyung?"
Kris tersenyum lebar, bukan jenis senyuman menyindir atau mengejek tapi jenis senyuman lebar tulus yang diiringi kebahagiaan. "Saat kau berbicara pada Jongin nada bicaramu melembut, penuh dengan kehati-hatian kau benar-benar tak ingin menyakiti Jongin." Sehun terdiam, Kris berdiri dari kursinya menepuk pelan pundak kanan Sehun. "Sudah malam waktunya pulang. Ikuti kata hatimu Sehun, semua orang berhak untuk bahagia."
"Kau mabuk Hyung?"
"Kau ini!" Kris memekik kesal dan hampir saja ia berhasil menjitak kepala Sehun jika anak itu tak cekatan menghindar.
"Sikapmu aneh."
"Sikapmu juga aneh!" Kris masih kesal. "Sudahlah aku mau pulang dan mungkin pergi ke suatu tempat, sampai jumpa Sehun."
"Hmm." Sehun hanya menggumam, ia perhatikan ruangan rapat tempatnya berada selama beberapa detik sebelum memutuskan untuk pergi.
.
.
.
Jongin mengerucutkan bibirnya, ia benar-benar sedang berkonsentrasi menulis sekarang untuk mengejar ketertinggalannya selama dua hari. Siwon memang setuju untuk memberinya kelonggaran namun dia tak ingin bersantai-santai, selain itu tubuhnya sudah benar-benar sehat sekarang. "Monggu….," gerutu Jongin saat anjingnya mengusap-usapkan kepalanya pada kaki Jongin, mengajaknya bermain. Jongin memutuskan untuk menaikan kedua kakinya ke atas kursi tak ingin diganggu Monggu.
Ponsel di dalam saku celana pendeknya bergetar, Jongin menggeram frustasi, dia sedang sangat sibuk sekarang dan getaran ponsel benar-benar mengganggu. "Halo." Jawab Jongin setengah hati.
"Halo Jongin." Suara Sehun yang terdengar, dengan cepat menghilangkan rasa jengkel yang tadi Jongin rasakan.
"Sehun." Jongin ingin mengatakan banyak hal lagi, namun hanya menyebut nama Sehun yang dapat ia ucapkan.
"Iya ini aku." Sehun membalas meyakinkan, membuat jantung Jongin berdetak semakin tak karuan.
"Ada apa?" Jongin bertanya karena mendengar keseriusan dalam nada bicara Sehun.
"Kau masih ingat kejadian di pesta lajang Lay dan Suho hyung saat seseorang mendorongmu, kau masih ingat?" kalimat tanya Sehun membuat tubuh Jongin menegang, ia tak ingin mengingat kejadian buruk malam itu.
"Ya."Jongin membalas singkat, jika bisa memilih ia tak ingin Sehun membahas kejadian malam itu yang menurut Jongin cukup memalukan. Di malam dimana seharusnya semua orang berbahagia, dan dirinya justru mengacau.
"Dia ingin bicara denganmu, kau bersedia?" Jongin tak langsung menjawab, ada jeda yang cukup lama. Kris ingin bicara dengan dirinya? apa yang Kris ingin bicarakan? "Jongin?" Suara Sehun membuyarkan pemikiran Jongin.
"Baiklah." Bisik Jongin sebab ia tak menemukan kekuatan untuk menjawab lebih keras dan menyusun kalimat yang lebih baik lagi. Selanjutnya ada jeda yang tercipta. Jongin menelan ludahnya kasar, jantungnya berdetak cepat, namun dengan rasa yang berbeda dari detak jantung cepat yang ia rasakan saat bersama Sehun atau saat mendengar suara Sehun.
Jongin merasakan tangan kanannya yang menggenggam ponsel lembab oleh keringat dan sedikit gemetaran.
"Halo Jongin." Suara berat yang berbeda dari suara Sehun menyapa telinga Jongin.
"Oh, halo." Balas Jongin dengan suara pelan entah kenapa dia merasa sangat takut sekarang.
"Ini aku Kris, maafkan aku atas kejadian malam itu."
"Iya, tidak apa-apa aku bahkan hampir melupakan kejadian malam itu."
"Maaf baru menghubungimu sekarang dan maaf juga karena aku meminta bantuan Sehun." Ucap Kris penuh penyesalan.
"Iya, tidak apa-apa."
"Terimakasih, sekali lagi aku minta maaf, terimakasih Jongin." Kris meneruskan kalimatnya dengan nada suara pelan, berbeda sekali dengan Kris yang membentak Jongin malam itu.
Ada jeda yang tercipta, Jongin benar-benar merasa napasnya sangat berat sekarang. Ia tak tahu harus bagaimana, dia tak menyangka Kris akan menghubungi dan meminta maaf.
"Jongin, ini aku Sehun." Suara Sehun terdengar dan dengan cepat mampu menenangkan Jongin, tapi Jongin tak memiliki ide untuk membalas kalimat Sehun, jadi dia hanya bisa diam. "Selamat malam Jongin." Saat panggilan itu berakhir, Jongin ingin sekali menghubungi Sehun kembali. Namun, ia tak ingin Sehun berpikiran aneh tentang dirinya, ia tak ingin Sehun berpikir jika dirinya terlihat terlalu menginginkan Sehun, toh Sehun tak mungkin membalas perasaannya.
"Haaahhh," Jongin menghembuskan napasnya perlahan. Ia letakan ponselnya ke atas meja memberi jarak dengan komputernya, selanjutnya Jongin melanjutkan kegiatan menulisnya, ia ingin tetap menjaga pikirannya sibuk agar dirinya tak memikirkan hal lain yang hanya akan membawa beban.
TBC
Terimakasih untuk pembaca sekalian terimakasih untuk bububbleosh, Kamong Jjong, htyoung, KaiNieris, ParkJitta, nandaXLSK9094, jjong86, troalle, vivikim406, Kim Jonghee, , utsukushii02, yuvikimm97, sejin kimkai, jonginisa, laxyvords, miyuk, , alv, aliyya, shakyu, cute, LoveHyunFamily, ariska, HK, Hun94Kai88, ling-ling pandabear, hsejong94, anak udik. Terimakasih untuk review kalian, ling-ling pandabear kapan nulis lagi? Hehehe sampai jumpa di chapter berikutnya bye semua.
