My Senpai is Pervert
Chapter 7
By Author : Yuna Mikuzuki
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku
Yayayayayyayyayayaaaa...! Chap 7 dah ada nich. Hepi riding!
Sasori menyeringai. Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu. Sasuke melihatnya langsung terkejut dan membelalakkan matanya.
"Ayo, mati bersama, Uchiha..."
Sasori memegang bom waktu berbentuk bola. Waktu di bom itu tinggal 30 detik lagi. Sasuke buru-buru membanting Sasori ke dinding dan meninggalkannya. Ia gendong Sakura dan dipanggul di pundaknya. Karena kaki dan Sakura diikat, terpaksa harus menggendongnya, bukan?
20...
19...
18...
17...
16...
15...
14...
13...
12...
11...
10...
Sasuke membuka pintu utama dengan menendangnya hingga hancur. Di luar terlihat Naruto, Shikamaru, Sai, dan Neji menghajar habis-habisan anak buah Sasori. Tanpa buang waktu, Sasuke langsung menghentikan mereka.
"Semua, kabur dari sini! Rumah ini akan meledak!"
Mereka berempat langsung menghentikan aksinya. Naruto lari ke mobilnya membawa Hinata keluar dari mobilnya. Naruto langsung lari menarik Hinata menjauhi rumah tersebut.
3...
2...
1...
0
.
.
.
BUUUUUUMMM...!
DOAAAAARRRR!
Sekejap rumah itu langsung dilalap api. Api berkobar ke sana kemari. Api menyulut seluruh rumah dan bahkan, mobil-mobil mereka jadi korban.
Sasuke yang sadar kalau apinya menyulut ke mobil-mobil mereka langsung berdiri dan membawa kabur Sakura. Mereka berempat tanpa basa-basi mengikuti Sasuke. Dan kalau saja tidak mengikuti Sasuke...
DUUUUUAAAAAR!
Lima mobil ferrari langsung meledak. Lautan api di rumah itu makin luas. Sasuke menurunkan Sakura dan membuka ikatan tali di tangan dan kakinya. Sasuke langsung memeluk Sakura dan menenggelamkan wajahnya di lehernya.
"Sa-Sasuke-senpai..."
"Syukurlah... Kau selamat..."
Sakura merasakan detak jantung Sasuke sangat cepat. Bahkan badannya bercucuran keringat. Yah, berarti Sasuke...
"Uum... Sasuke-senpai..."
"Hn?" Sasuke masih memeluk Sakura erat.
"Kau... Bau..."
Sasuke membatu. Sakura dalam keadaan seperti ini masih sempet-sempetnya bilang Sasuke bau? Yang lainnya menahan mulutnya untuk tertawa. Di kepala Sasuke langsung muncul tanda marah dan memeluk Sakura makin erat saja.
"Hn, biar kau bau sekalian. Kau itu lebih bau karena berada di rumah yang sumpek itu seharian!" umpat Sasuke kesal. Sakura hanya tertawa geli dan memeluk Sasuke. Yang lain membulatkan mulutnya melihat adegan yang dilakukan kedua aktor/aktris tersebut.
"Uum... Arigatou, sudah menyelamatkanku. Dan gomen, beberapa hari ini aku menghindar darimu..." kata Sakura. Sasuke hanya berdehem biasa dan melepaskan pelukannya. Kemudian ia mencium kening Sakura.
"Tidak apa-apa. Yang penting kau selamat," kata Sasuke. Sakura menoleh ke lalapan api di rumah tersebut. Wajahnya mengusut melihat ke sana. "Sasori-san..."
Sasuke menaikkan alisnya. Kenapa Sakura masih memikirkan Sasori? Apa Sakura begitu sukanya pada Sasori?
Ngiung ngiung ngiung...
"Sasuke, polisi sudah datang. Kita beri penjelasan dulu pada mereka," kata Shikamaru. Sasuke mengangguk dan berjalan bersama Sakura. Ia menaruh tangannya di pundak Sakura, supaya Sakura merasa aman.
.
.
.
Sesudah memberi keterangan pada polisi, mereka berenam berniat pulang. Sasuke dan Sakura duduk di tempat duduk belakang mobil polisi. Mereka pulang menuju rumah Sasuke. Izumo membuka pintu rumah dan mempersilakan Sasuke dan Sakura masuk.
"Izumo, panggil pembantu yang lain. Bilang pada mereka untuk kalau aku memberi perintah untuk membersihkan Sakura," perintah Sasuke. Izumo mengangguk dan memanggil para pembantu. Dalam waktu 30 detik, 3 orang pelayan langsung berjejer dan mengantar Sakura ke kamar mandi.
Sasuke masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Lagipula sudah jam 18.30, waktunya mandi malam. Hehehe...
15 menit kemudian, Sakura keluar dari kamar mandi dan dibantu untuk berpakaian. Sakura diperintah Sasuke untuk menginap hari ini. Sakura pasti kelelahan karena dia dari pagi dibawa Sasori. Selesai didandani, para pembantu keluar dari kamar. Sakura duduk di kasur ruang tamu dan melihat-lihat sisi kamar.
'Waduh, kamar tamu sehebat ini, apalagi kamar Sasuke-senpai. Aku sudah pernah lihat kamarnya, sih. Tapi, tetap saja, ini keterlaluan!'
Krieeet...
Pintu kamar tamu dibuka, otomatis Sakura menoleh. Sasuke masuk ke kamar dengan rambut di keringkan oleh handuk kecil. Dan Sasuke lagi telanjang dada. Hanya memakai celana panjang. Sakura nge-blush dan memalingkan mukanya. Sasuke menyeringai dan duduk di sebelah Sakura.
Sasuke melingkarkan tangannya di pundak Sakura. Sasuke menarik Sakura ke pelukannya. Wajah Sakura memerah padam, sehingga ia hampir pingsan. Sasuke tertawa kecil melihat Sakura tersipu.
"Hn, malu-malu kucing, ya. Lucunya..." goda Sasuke sambil menggelitik pipi Sakura. Sakura menggembungkan pipinya kesal. Sasuke memutarkan badannya sehingga Sakura menghadap Sasuke. Sasuke menarik Sakura ke pelukannya dan Sakura menenggelamkan wajahnya di dada Sasuke.
"Sasuke-senpai, boleh aku tanya sesuatu?" kata Sakura. Sasuke mengangguk. Sakura menjauhkan wajahnya dari dada Sasuke. "Kenapa Sasori-san sangat membencimu? Apa... Kau ada hubungan dengannya?"
Sasuke menaikkan alisnya. "Kenapa kau tanya hal itu?" tanya Sasuke balik. Sakura memalingkan wajahnya. Sasuke menghela napas dan mengalah.
"Sasori adalah anak dari anak buah orangtuaku dulu. Orangtua Sasori bekerja untuk menjagaku dan kakakku, Itachi. Tapi, dulu aku sempat diculik. Dan ayahku menyalahkan mereka karena lalai menjagaku sehingga mereka dipecat."
Jadi karena itu, batin Sakura. Kemudian ia mendengar lagi cerita Sasuke.
"Setelah itu, orangtua Sasori bekerja di tempat lain. Tapi mereka malah terjerat hutang dalam jumlah besar. Mereka memutuskan untuk bunuh diri."
Sakura tersentak begitu mendengar kata bunuh diri. Sakura sekarang memikirkan bagaimana perasaan Sasori waktu itu. Pasti sangat sedih dan menyakitkan.
"The end."
Sasuke mengakhiri ceritanya. Sakura memeluk Sasuke sambil menenggelamkan wajahnya di dada Sasuke. Sasuke menepuk-nepuk kepalanya dan menaruh kepalanya di atas kepala Sakura.
"Sudahlah. Ada aku di sini. Semua akan baik-baik saja," ucap Sasuke. Sakura mengangguk dan mengangkat kepalanya. Ia lihat wajah tampan Sasuke yang berada di depannya. Sasuke memajukan wajahnya dan jarak antara mereka berdua semakin mendekat.
Bibir Sasuke berhasil bertemu dengan bibir Sakura. Sasuke kulum bibirnya dalam jangka waktu lama. Karena terangsang, Sakura membalas ciumannya. Sasuke menjilat bibir bawahnya meminta masuk. Sakura izinkan dan lidah Sasuke menerobos pintu masuk. Lidahnya menjalar ke seluruh sisi ruangan dan bertarung dengan lidah Sakura. Sakura menutup matanya rapat karena lidahnya sudah kalah dengan lidah Sasuke. Sasuke akhiri ciuman panas tersebut dan mengecup Sakura sekali lagi.
Sasuke merebahkan tubuh Sakura dan naik ke atasnya. Sasuke lihat wajahnya yang memerah padam dan terengah-engah. Perlahan tangan Sasuke membuka baju yang dikenakan Sakura. Sakura menutup matanya, tak kuat merasakan Sasuke membuka bajunya. Sasuke melihat wajahnya lagi. Melihat wajah Sakura kelihatannya tidak mau, atau lebih tepatnya, belum mau, ia urungkan niatnya. Sakura menghela napas lega. Tapi, tersendat lagi.
Sasuke merebahkan tubuhnya di atas Sakura. Tangan kanannya memegang belakang kepala Sakura, sedangkan kirinya memeluk pinggangnya.
"Tidurlah. Dan biarkan tetap seperti ini. Aku capek."
Sakura hanya mengangguk dan membiarkan kegelapan menyelimuti mereka malam ini...
Cit cit cuit...
Sakura bangun dari tidurnya. Tapi, ia merasa ada yang berat menindihnya. Rambut raven hitam yang mencuat ke belakang adalah hal pertama yang ia lihat. Sakura terkejut dan menerka-nerka dulu.
'Oh, iya. Aku 'kan kemarin menginap dulu di rumah Sasuke-senpai. Gara-gara kejadian kemarin...'
Sakura berniat bangun dan menyingkirkan Sasuke. Tapi, gagal. Sasuke 'kan tidurnya sambil memeluk Sakura. Dan Sasuke malah memeluknya makin erat. Sakura jadi kesusahan dan berusaha menyingkirkan kepalanya.
"Uungh... Sasuke-senpai, aku mau bangun dan mandi. Minggir, dong..." pinta Sakura sambil menyingkirkan kepala Sasuke. Sasuke berdeham dan mulai membuka matanya perlahan.
"Nngh... Sudah pagi, ya..." gumam Sasuke. Ia mengucek-ngucek matanya dan bangkit dari badan Sakura. Sakura menghela napas lega dan berdiri dari ranjang. Ia mau ke kamar mandi, tapi ia berhenti sebentar.
"Sa-Sasuke-senpai, seragam sekolahku di mana? Aku cuma punya yang kemarin," kata Sakura. Sasuke mengangkat kepalanya setelah menggaruk-garuk belakang kepalanya. "Pembantuku sudah menyiapkan seragammu. Kau mandi saja."
Sakura mengangguk dan langsung balik berjalan ke pintu kamar mandi yang ada di kamar tersebut. Saat Sakura memegang knop pintu, Sasuke menghentikannya.
"Oi, tunggu sebentar." Sakura menoleh dan mengangkat alisnya. Sasuke turun dari ranjang dan berjalan ke arah Sakura. Sakura meneguk ludahnya dan mulai berpikiran yang tidak-tidak. Dan sayangnya...
"Ayo mandi bareng. Kita mau ke sekolah, kan? Biar cepat, ayo barengan mandinya." Kepala Sakura sudah meledak mengeluarkan lahar. Sakura buru-buru membuka pintu kamar mandi dan masuk. Tapi, Sakura kalah gesit. Sasuke ikut masuk dan memeluk Sakura di balik pintu kamar mandi. Wajah Sakura memerah jambu. Sasuke hanya tertawa kecil dan tangannya memegang knop pintu. Diputar knop pintunya, dan voila! Mereka terkunci, bisa dibilang, dikunci dari dalam, dan DISENGAJA.
"Nah, sudah. Sekarang ayo... Kita mulai mandi bareng-nya..."
Sasuke menggiring Sakura ke shower yang ada di atas bathub besar tersebut. Sasuke memutar kran shower-nya dan air dingin keluar dari shower-nya. Sasuke berada di belakang Sakura yang sedang menghadap dinding kamar mandi. Jadi, posisi mereka adalah Sakura membelakangi Sasuke. Air shower-nya membasahi badan mereka yang masih mengenakan baju.
"Sa-Sasuke-senpai! Bajunya kebasahan, nih!"
"Ya, buka saja. Toh, bukan mandi namanya kalau nggak telanjang," kata Sasuke sambil memegang kancing baju yang dikenakan Sakura. Sakura menepis tangan Sasuke yang berhasil membuka satu kancing bajunya.
"Aw! Apa ini! Kita 'kan mau mandi, makanya kubuka bajumu. Daripada kau menggigil, mending kubuka, 'kan!" kesal Sasuke. Sakura menggembungkan pipinya kesal juga. "Iikh! Sasuke-senpai memang mesum! Aku bisa membuka bajuku sendiri!" Sasuke yang mendengarnya menyeringai lebar.
"Hooo... Jadi kau mau nih, mandi barengnya... Ayo, buka bajunya. Aku menunggu..." goda Sasuke. Wajah Sakura tambah memerah. Sakura melihat jam dinding yang ada di kamar mandi(?). Waktu menunjukkan pukul 06.45. Waduh!
"Ukh! Iya, deh. Kita mandi bareng. Tapi aku membelakangimu, ya!" Sasuke hanya mengangguk ringan. Sakura mulai membuka kancing bajunya. Semua kancingnya terbuka dan membiarkan bajunya jatuh ke lantai. Lalu dilanjutkan melepas celana pendek yang dikenakannya. Sasuke melihat belahan pantatnya saat Sakura mau melepas celana pendeknya. Sakura merapatkan pantatnya, lalu mulai menarik celana pendeknya.
Kejantanan Sasuke sudah mulai menegak. Sakura berhasil melepas celana pendeknya, meninggalkan dia hanya dibalut bra dan t-back pink-nya. Kejantanannya malah tambah menegak, sehingga sudah sangat menegak seperti tiang. Dengan cepat, Sasuke langsung memeluk Sakura dari belakang.
"Eek! Sasuke-senpai!" Sakura terkejut karena tindakan Sasuke. Padahal Sakura mau membuka bra dan t-back-nya. Tangan Sasuke memegang pundak Sakura, dan menyentuh tali bra-nya.
"Biar aku saja yang melepaskan bra-mu. Just still..." bisiknya di telinga kanan Sakura. Bulu kuduk Sakura merinding sedikit. Jari Sasuke menyentuh kulit putihnya, membuat Sakura bergetar. Tangannya mulai menarik tali bra-nya ke bawah, sekaligus penutup dada Sakura terlepas. Bra Sakura sudah terkapar di lantai kamar mandi, meninggalkan Sakura hanya dengan t-back-nya.
Sasuke menaruh bibirnya di pundak putih Sakura. Ia kecup bagian pundaknya dengan birahi, membuat Sakura melenguh indah. Sakura memegang lengannya, menepis rasa dingin dari shower, dan kecupan hangat yang diberikan Sasuke. Mata Sakura menutup, sentuhan tangan Sasuke di tangan Sakura yang memegang lengannya.
"Aaah..." desahnya menikmati kecupan Sasuke yang berganti jadi menjilat. Lidahnya menyapu seluruh partikel yang menempel di pundaknya. Sakura sudah tidak bisa menahannya lagi. Matanya ditutup rapat-rapat. Tangan Sasuke yang berada di tangan Sakura berpindah ke dada Sakura. Sasuke hanya meraba-raba dadanya pelan, tapi membuat Sakura melenguh hebat.
Tangan Sasuke yang satu lagi berjalan ke arah selatan tubuh Sakura. Dipegang pinggiran t-back-nya dan ditarik ke bawah. Kaki Sakura membantu Sasuke untuk melepas t-back-nya. Sakura menyandarkan tubuhnya di dada telanjang Sasuke. Sasuke menyeringai dan tangannya berhasil melepas t-back Sakura. Tubuh Sakura sekarang benar-benar polos.
"Nah, kalau begini 'kan mandinya gampang..." kata Sasuke sambil menyeringai. Sasuke mengambil sabun berwarna putih dan mengusapnya ke badan depan Sakura bagian perut dari belakang. Sambil mengusapkan sabun, tangan Sasuke yang satu lagi meraba-raba tubuh Sakura.
"Aaah... Sa-Sasuke-senpai..." desah Sakura. Sasuke melanjutkan usapan sabunnya ke dada Sakura. Ketika Sasuke mengusap bagian puncak kedua dadanya, puting Sakura sudah menonjol ke depan. Sasuke menyeringai makin lebar. "Sakura, apa kau terangsang? Terangsang dengan sentuhanku..." ucap Sasuke. Sakura meneguk ludahnya, memang terasa sekali puting Sakura menonjol karena sentuhannya. Sasuke terus membersihkan dada Sakura dengan sabunnya. Setelah itu, Sakura ditempatkan di dalam bathub yang sudah penuh dengan air dingin.
"Eek! Dingin!" Sakura bergidik saat kulit krause-nya merasakan air yang menggenang di bathub. Sasuke keluar dari bathub dan mengambil sabun lagi. Kini ia memutar tubuh Sakura sehingga punggung Sakura di depan Sasuke. Sasuke membilas punggungnya dengan air, lalu mengusap punggungnya dengan sabun. Sakura berusaha menenangkan dirinya sampai rileks. Toh, cuma mandi.
"Nih. Kalau kaki, kau bersihkan saja sendiri. Aku mau mandi sendiri. Jangan lihat ke sini, ya," perintah Sasuke. Sakura menerima sabunnya dan mulai membersihkan kedua kakinya. Sasuke melepas celana dan boxer-nya, dan tinggallah Sasuke polos. Sasuke mengambil shower-nya dan membilas semua bagian tubuhnya. Rambut Sasuke basah semua, jadi dia memutar kepalanya.
Selama 30 menit, mereka selesai mandi dan keluar dari kamar mandi. Untung di kamar mandi ada handuk. Jadi Sakura dan Sasuke bisa keluar dari kamar mandi tanpa telanjangan.
Di atas ranjang sudah tersedia seragam untuk Sasuke dan Sakura. Pakaian dalamnya juga lengkap. Sakura celingak-celinguk, di mana tempat untuk pakai baju.
"Hn? Kau sedang apa, celingak-celinguk begitu," tanya Sasuke. "Tidak. Aku hanya tidak tahu di mana aku bisa pakai baju." Sakura menghela napasnya dan Sasuke menyeringai, lagi.
"Hn, mau kupakaikan? Tidak masalah," kata Sasuke. Sakura langsung mundur-mundur menjauh dari Sasuke. "Sasuke-senpai! Kau ganti saja di kamarmu! Cepat keluar!" Sakura menunjuk pintu kamarnya menyuruh Sasuke keluar. Sasuke menggerutu sebal dan mengambil semua bajunya, lalu keluar dari kamar. Sakura menghela napas lega. Sekarang Sakura bisa pakai baju dengan tenang.
15 menit kemudian, Sakura keluar dengan pakaian lengkap. Sakura mau keluar, tapi dia malah nyasar.
'Uuukh... Rumah (?) Ini terlalu besaaar... Mana malah kesasar, lagi!'
"Uum... Nona Sakura."
"KYAAAA!"
Sakura langsung berteriak karena ada yang memanggilnya dari belakang. Orang yang di belakang tadi kewalahan menenangkan Sakura yang histeris. "Nona, ini Izumo! Tuan Muda Sasuke meminta Anda segera datang ke mobilnya. Mari, saya antar."
"Hoo..." Sakura sudah tenang. Ia mengikuti Izumo ke pintu utama dan keluar. Di luar, Sasuke sudah menunggu di mobil porsche merahnya. Lho, rasanya mobil itu mirip dengan mobil yang dipakai Sasuke kemarin. Ah, sudahlah. Namanya juga orang kaya. Pasti punya cadangannya.
"Hn, ayo naik! Mau kutinggal? Ya, sudah!" Sasuke menstater mobilnya. Sakura segera mengambil tas yang tadi dipegang Izumo dan masuk ke mobil porsche merah Sasuke tanpa membuka pintunya. Oh, ya. Mobil porsche merah Sasuke yang sekarang tidak ada atapnya, jadi Sakura bisa langsung masuk dengan cara loncat.
"Haah, dasar adik kelas yang tidak tahu sopan santun. Setidaknya kau membuka pintunya dulu," sahut Sasuke. Sakura hanya menggembungkan pipinya. Pagar rumah Sasuke terbuka. Mobil Sasuke langsung melejit keluar dari rumah menuju sekolah mereka.
Begitu sampai di sekolah, suasananya terasa ramai. Banyak orang di luar sekolah, dan para murid masuk ke gedung olahraga. Sasuke dan Sakura keluar dari mobilnya dan terlihat bingung. Dan Sasuke langsung menoleh ke suatu arah karena ada yang memanggilnya.
"Sai." Sai langsung menghampiri Sasuke dan Sakura, diikuti oleh yang lainnya. "Sasuke, sekarang di gedung olahraga diadakan upacara pemakaman. Dan ini upacara untuk Sasori."
Hati Sakura langsung tercekat. Sasori... meninggal?
"Sasori meninggal gara-gara ledakan kemarin. Kau juga pasti tahu, Sasuke," kata Neji. Sasuke terdiam sebentar dan mengangguk. "Sasori memang sempat bunuh diri, dan mengajakku untuk mati bersama. Tapi, aku langsung membantingnya dan membawa Sakura keluar." jelas Sasuke. Sakura menunduk, tak menyangka kalau Sasori, orang yang beberapa hari ini selalu bersama, pergi secepat ini.
Upacara pemakaman Sasori begitu mencekatkan hati seluruh murid, kecuali Sasuke. Banyak fangirls-nya yang menangis. Sayang untuk Sasori.
Saat giliran Sakura yang memberikan bunga Anyelir Putih, ia melihat foto Sasori yang kalem dan tenang. Wajahnya saat bersama Sakura selalu menunjukkan wajah ceria, senyumnya tulus, sangat berbeda dengan kemarin. Sakura terisak-isak dan menaruh Anyelir Putihnya di depan altar Sasori.
Sakura kembali ke barisan teman-temannya, Ino menepuk-nepuk pundaknya dan memeluk Sakura. Sakura membalas pelukan Ino, dan menangis di pundaknya. Dan Sasuke datang menghampiri Sakura dan membawa Sakura keluar dari gedung olahraga. Sakura melihat balik ke arah altar makam Sasori.
.
.
.
Sayonara... Sasori-san...
"Nih."
Sasuke memberikan minuman kaleng dingin pada Sakura. Sakura menerima dan membuka penutup kalengnya. Lalu, Sakura minum sampai 3/4 minuman.
"Sudah mendingan?" tanya Sasuke. Sakura mengangguk dan meminum minumannya kembali. Sasuke duduk di sebelah Sakura di bangku taman. Lha, mereka bolos, ya?
"Ya, sudah mendingan. Arigato, Sasuke-senpai." Angin berhembus dari belakang, membuat rambut Sasuke dan Sakura ikut berhembus dari belakang. Sakura menatap langit yang dikepung oleh awan kelabu.
"Oi, kenapa?" tanya Sasuke. Sakura menoleh ke arah Sasuke. Sasuke menarik Sakura agar duduk lebih dekat lagi. "Huh, kau pasti masih memikirkan Sasori," tebak Sasuke. Sakura sedikit bergetar mendengar pertanyaan Sasuke. Sakura tidak menjawab, hanya diam saja. Sasuke malah marah sekarang. "Masih saja kau pikirkan Sasori. Lalu aku dikemanakan?"
Sakura menoleh dan menyipitkan matanya. "Ya, Sasuke-senpai di sini. Memangnya mau dikemanain?" Sakura bertanya dengan polosnya. Sasuke yang sudah mencapai batas jengkelnya mendorong Sakura sehingga Sakura berbaring di atas bangku, dan Sasuke di atasnya.
"Dasar tolol. Tentu saja aku di sini." Sasuke menunjuk rok Sakura. Sakura mengerti jelas apa maksud Sasuke. Tanpa pemberitahuan, Sasuke melancarkan ciumannya di bibir Sakura. Sasuke melahap bibir Sakura dengan nafsu, melumatnya sampai basah.
"Mmhh... Ss-Ssasu..."
Sasuke tak mempedulikan, terus saja dia lahap bibirnya. Sakura menahan pundak Sasuke agar dia tak menindih badan kecilnya. Sasuke memegang baju bagian pundaknya dan ditarik sedikit. Sakura menyadari tangan Sasuke yang jahil, dan segera ia memukul-mukul pundaknya. "Mmh... Mmmmh!"
Buk buk buk!
Sasuke menghentikan ciuman panasnya, melihat wajah Sakura yang memerah. Sasuke menyeringai dan mengecup pipi kirinya, dan otomatis membuat Sakura tambah merah.
"Uukh... Kalau mau, jangan di sini. Ini 'kan tempat umum..." gumam Sakura, dan cukup terdengar Sasuke.
"Jadi, mau, nih? Kalau begitu, ayo! Aku sudah tidak sabar!"
"KYAAAA!"
'Sa-Sasuke-senpai bodoh! Aku 'kan masih sedih soal Sasori-san!'
TBC
Ahahhaha... Maap, y. Aq ingkar janji soal hiatusny.. Hbis aq gatel g nulis n publishnyaaaa... Mianhae...! -_-" dan ini fic sebelum UN yg sminggu lagi. dan maap klo gaje
Dan maap sebesar-besarnyaaaaaaaa...! Setidakny ada yg review, moga2 aq bkl terdorong krena banyak yg dukung untuk aq bisa ngelewatin UN!
Skli lagi, maap dan makasih!
