Disclaimer:

Vocaloid yang bukan punya saya

Tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya bukan punya saya

Ceritanya punya saya, selalu


Warning:

OOC, OOT, bahasa gak baku, alur kecepetan, gajelas, typo, ancur, de el el


Fic ini dibuat untuk memenuhi request Dere Dere 02~

Selamat membaca! XD


Cinta di Akademi Voca

a story by reynyah

Chapter VII – Tragedi Sepeda Rin


"KALIAN HARUS TAU!" seru Miki sambil menggebrak meja kantin yang tengah diisi olehnya, Miku, Kaiko, Rin, dan Lenka. "Ada berita HEBOH, eh, gak heboh juga sih..." Miki berpikir sejenak. "Pokoknya berita baru! Aku juga baru tau kemarin!"

Kaiko menguap. "Apa?" tanyanya dengan mata setengah terbuka. Tadi malam dia memang tidur terlalu malam akibat Kaito memaksanya ikut ke kediaman Hatsune. Sebenarnya, salahnya juga karena memiliki rencana 'gila' dengan Miku dan Mikuo.

"Kita mulai dari si Putri Serba Sempurna," ujar Miki sambil menunjuk Miku. Yang ditunjuk hanya bisa kebingungan. "Akhirnya dia jadian sama si Pahlawan Bertopeng Maniak Aisu!"

Miku terkekeh pelan dengan semburat merah di wajahnya. Kaiko yang mendengar nama kakak sepupunya diubah sedemikian rupa tidak bisa menahan gelak tawanya. Rin ikut tertawa bersama Kaiko mendengar julukan aneh dari Miki untuk Kaito sedangkan Lenka hanya tersenyum kecil sambil bertanya, "Kapan jadiannya, Senpai?"

"Mm... kemarin kok," jawab Miku. "Setelah Kaiko jadian sama Mikuo."

"Nah, itu berita kedua," ujar Miki sambil menjentikkan jarinya. "Jadi, Kaiko?"

Kaiko terkikik pelan. "Tunggu, aku masih geli sama Pahlawan Bertopeng Maniak Aisu," ucap Kaiko masih geli, membuat yang lain ikut tertawa pelan. "Yah, aku jadian kemarin sebelum Miku-senpai sama Kaito-nii jadian. Intinya, emang Mikuo-senpai yang nembak aku. Aku sih, masih jaga harga diri sebagai cewek, yaa."

Miku terkekeh. "Aku juga gak nembak, kok," sahutnya. "Dia yang nembak, tapi aku gak langsung nerima berhubung aku sama Kaiko punya rencana pribadi." Kaiko terkekeh pelan mendengar kata-kata itu dari mulut Miku. "Tapi Kaiko terlalu baik hati buat ngelakuin rencana itu."

"Rencana apa?" tanya Rin mulai tertarik dengan topik pembicaraan mereka.

"Rencana jual mahal," ujar Miku dengan senyum 'jahat' di wajahnya. "Tapi Kaiko terlalu baik hati buat jual mahal ke Mikuo."

"Kaiko emang baik, sih," angguk Rin. "Terus, beritanya apa lagi, Miki-chan?"

"Hmm... Rinto ngapelin Lenka!" seru Miki girang. "Lenka-chan! Akhirnya kamu dapet cowok!"

Lenka mengerutkan dahinya. "Dapet cowok apanya?" tanya Lenka bingung. "Dia cuma dateng buat ngasih coklat pisang terus kita ngobrol berdua, that's all."

Miku, Kaiko, dan Rin terkekeh. "Lenka kan, jarang dideketin cowok," ujar Rin geli. "Makanya semua pada seneng waktu ada yang ngapelin kamu ke rumah."

Lenka tertawa kecil. "Itu bukan apel," jelasnya. "Dia cuma dateng buat ngasih hadiah dan ngobrol, kok. Apanya yang bisa disebut apel? Jelas-jelas gak ada perlakuan romantis kayak orang-orang pacaran."

Miku mendesah. "Tingkat perlakuan romantis orang itu beda-beda, Lenka-chan," jelas Miku. "Perlakuan romantis itu tergantung status mereka apa, tergantung sifat orang itu kayak gimana, dan tergantung metode apa yang dia pake buat ngedeketin kamu."

"Ya udah, ya udah." Miki menyudahi perdebatan teman-temannya. "Berita terakhir tapi keren banget adalah... Rin suka sama cowok dan lagi-lagi Rin nolak Utatane!"

"Rin-senpai... suka cowok?" Lenka terperangah. "Wah, aku gak pernah nyangka akhirnya Senpai bisa suka sama cowok juga. Omedetou!"

"Dan nolak Utatane lagi?" ulang Miku terkaget-kaget. "Untuk yang keberapa kalinya?"

"Sembilan atau sepuluh," jawab Rin santai. Kemudian ia tersentak dan menatap Miki. "Kamu tau darimana aku nolak Piko lagi? Aku gak cerita sama kamu, kan?"

Miki tersenyum. "Aku liat langsung di stasiun kereta."

Wajah Rin sontak memerah. "Berarti... kamu liat cowok itu?"

Miki mengangguk.

"Cowok yang dikeceng Rin-senpai?" tanya Kaiko penasaran. "Miki-senpai! Gimana mukanya? Penampilannya? Keren gak? Macho gak? Ganteng gak?"

"Hush, yang udah punya pacar diem aja," ujar Lenka sambil membekap mulut Kaiko. Lenka tertawa kecil. "Tapi Rin-senpai, aku juga kepo penampilan cowok itu kayak gimana. Coba ceritain orangnya dan ceritain gimana Senpai bisa ketemu."

"Aku nabrak dia pake sepeda," kenang Rin geli. "Terus aku paksa dia ikut aku ke rumah buat kuobati. Terus... akhirnya aku sadar kalo aku gak ngeliat dia sebagai orang yang baru ketemu, tapi sebagai orang yang aku suka."

"Uuh, so sweet banget si Rin," ujar Miku sambil bertopang dagu. "Kapan kalian ketemu lagi?"

"Iya, iya, kapan ketemu lagi?" sambung Kaiko dan Miki.

Rin mengangkat bahu. "Kita gak janjian, dia gak hapal jalan ke rumah aku, terus aku gak yakin rumah dia ada di mana," jelas Rin. "Kemungkinan besar kita gak akan ketemu lagi."

"Ah, kalo jodoh gak akan kemana, Senpai," ujar Lenka bermaksud menghibur Rin yang baru saja dilanda cinta. "Senpai gak perlu nyari ke mana-mana, cukup duduk manis, cinta itu akan datang menghampiri Senpai dengan sendirinya."

"CIEEE!" ledek keempat gadis yang lain kepada Lenka. Yang diledek hanya tertawa geli sambil memberi pukulan-pukulan ringan pada Kaiko yang duduk di sampingnya. Waktu istirahat kali itu mereka habiskan dengan canda tawa, antara mereka berlima saja.


"Senpai."

Rin menoleh. "Eh? Lenka-chan," ucapnya begitu mengenali si pemanggil. "Kenapa?"

"Mm... rantai sepedaku lepas, terus aku harus buru-buru pulang," jelas Lenka. "Senpai mau nganterin aku pulang, gak?"

"Boleh!" jawab Rin girang sambil menepuk sadel sepedanya. "Naik sini!"

Lenka mengangguk lalu menghampiri Rin. Baru saja Lenka hendak mengangkat kakinya, tiba-tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang. Lenka menoleh dan mendapati wajah Rinto di hadapannya.

"Lenka! Aku baru inget! Aku ada urusan di tempat lain dulu!" seru Rin dengan akting yang luar biasa bagus. Ya, selain pemain basket wanita terbaik di Akademi Voca, Rin juga merupakan salah satu pemain drama terbaik di sekolahnya. "Kamu pulang bareng Kamine aja, ya? Maaf ngerepotin, Kamine."

"Ah, daijoubu, Kagami-senpai," balas Rinto sambil mengangguk pelan. "Lagian saya juga ada urusan bentar sama Nikame-chan."

"Eits, gak usah pake saya kalo ngobrol sama aku," ujar Rin mengingatkan setengah mengancam. "Oke, sekarang aku mau pergi dulu. Jaa!"

Tanpa menunggu ucapan selamat tinggal dari dua manusia di dekatnya, Rin sudah mengayuh pedal sepedanya secepat mungkin, meninggalkan area parkir Akademi Voca. Selanjutnya, aku harus liat mereka ngapain, tekad Rin dalam hati sambil terkikik-kikik sendiri.

"Ada apa, Kamine-kun?" tanya Lenka dengan senyum menghiasi bibirnya.

"Mm... mau pulang bareng?"

"Wah, boleh!" sambut Lenka riang. "Kamu naik apa? Sepeda atau motor?"

"Motor," jawab Rinto sambil menyodorkan helm pada Lenka. "Tenang aja, aku bawa dua helm, kok."

"Kamu udah punya SIM?" tanya Lenka heran.

"Punya, dong!" jawab Rinto sambil mengangkat Lenka agar duduk manis di jok motornya. "Gak usah khawatir, bepergian sama aku dijamin aman, deh!"

Lenka tertawa kecil. "Oke," jawabnya sambil memegang pundak Rinto erat-erat. "Hapal jalan pulang ke rumahku, kan?"

Rinto mengedip sambil mengacungkan jempolnya sebelum melesat keluar dari Akademi Voca.


Rupanya tanpa disadari baik oleh Rinto maupun Lenka, Kagami Rin telah mengikuti mereka dalam jarak kurang lebih satu kilometer setelah kepergian mereka dari Akademi Voca tadi. Rin sudah tahu tujuan mereka, tapi dia tidak yakin mereka akan langsung pergi ke sana. Itu sebabnya dia bermaksud membuntuti kedua insan itu dan mencari tahu kemana sebenarnya mereka pergi.

Dugaan Rin salah. Rupanya, Rinto benar-benar mengantarkan Lenka pulang ke kediaman Nikame dengan selamat. Rin mendesah. Padahal kukira bakal ada gosip baru, pikirnya kesal.

"Arigatou, Kamine-kun," ucap Lenka sambil melepas helm dari kepalanya. "Mm... kamu mau masuk dulu? Pai buah yang kemarin masih ada, loh."

Rinto terkekeh. "Apa gak ngerepotin?"

"Nggak, rumahku lagi kosong, Kamine-kun. Semua pergi," jelas Lenka sambil menarik tangan Rinto. "Ayo, masuk!"

Rinto tersenyum lalu mengangguk.

Sementara itu, kurang lebih 500 meter dari kediaman Nikame, Rin sedang terkekeh-kekeh sendiri setelah melihat kejadian yang cukup langka itu.

"Akhirnya masa depan Lenka berubah," pikir Rin sambil menyanyi-nyanyi ceria. Sebenarnya Lenka yang senang, tetapi kenapa Rin yang heboh?

"Eh? Siapa itu?" pikir Rin ketika melihat seseorang berjalan menuju kediaman Nikame. Perlahan tapi pasti, Rin kayuh sepedanya. Ia mendekati orang itu, tapi masih belum dapat mengenali sosoknya dari belakang. Ia coba susul orang itu perlahan, tetapi yang ia dapatkan justru—

"HEI!"

Orang itu berbalik. Rin yang terkejut jatuh dari sepedanya. Sambil mengelus-elus pinggulnya yang sakit, Rin dihampiri oleh orang itu.

"Maaf! Aku gak bermaksud bikin kamu jatuh dar—" Orang itu menatap Rin tidak percaya. "K-Kagami Rin? Kenapa kamu ada di sini?"

Mata Rin membelalak. "Kagamine Len...?"

"Arigatou udah mampir ya, Kamine-kun!" ucap Lenka gembira di pintu pagar. "Eh, Kamine-kun... itu siapa?"

Rin mendengus. Yah, aku ketauan.

"Rin-senpai! Kenapa di sini?" tanya Lenka panik sambil menghampiri kakak kelasnya itu. "Eh? Kagamine-san kenapa ada di sini juga? Eh, oh ya! Hari ini jadwal lesku, ya?"

Mata Rin dan Len sontak melebar. "Kalian saling kenal?!" tanya mereka berbarengan.

"Loh? Justru harusnya aku yang tanya," ucap Lenka heran. "Rin-senpai sama Kagamine-san saling kenal? Sejak kapan kenal?"

Rin dan Len saling pandang, bingung harus menjawab bagaimana sampai akhirnya seseorang dari mereka berdeham pelan. "Ehem, kayaknya mending semua dibawa masuk ke rumah Lenka dulu, sekalian Kagami-senpai diobati," usul Rinto. "Gimana?"

Lenka mengangguk. "Kagamine-san sama Kamine-kun masukin sepedanya ke garasi rumahku, ya," pinta Lenka. "Biar aku yang gotong Rin-senpai ke dalam."

"Eh, jangan," sanggah Len datar. "Biar aku yang gotong dia ke dalam."

Lenka mengangkat sebelah alisnya.

"Aku yang udah bikin dia jatuh dari sepeda."

"Ooh... oke."

Rinto dan Lenka akhirnya membawa sepeda Rin ke dalam garasi kediaman Nikame. Len, yang berkata akan menggotong Rin ke dalam kediaman Nikame, akhirnya menggendong gadis itu ala bridal style. Rin yang masih merasa kesakitan tidak melawan. Kalau saja dia sedang dalam keadaan sehat wal'afiat kini, dia akan menghajar siapapun yang berani menggendongnya.

"Sini, sini." Lenka menunjuk sebuah sofa panjang. Len mengangguk lalu membaringkan Rin di sana. Setelah itu, Lenka sibuk mengobati kakak kelasnya sementara Len dan Rinto hanya bisa menyaksikan kedua gadis itu dalam diam.

"Senpai, kenapa bisa jatuh?"

Rin terkekeh. "Aku kaget, hilang keseimbangan, jatuh."

"Kenapa bisa kaget?"

"Ehem." Len berdeham. "Aku yang ngagetin dia."

Lenka tergelak, begitu pula Rinto. "Aduh, Senpai kayak anak kecil aja," komentar Lenka masih geli. "Jadi kalian lagi main kaget-kagetan terus Senpai jatuh, gitu?"

Kini, giliran Rin dan Len yang tertawa. "Bukan gitu." Len berusaha menjelaskan. "Aku lagi jalan ke rumahmu waktu aku denger suara sepeda. Aku pikir itu penguntit, makanya aku teriak. Ternyata itu Ri—Kagami. Syukur dia gak luka parah."

Rin terkekeh. "Salahku juga gak langsung manggil namamu."

"Emangnya Senpai ngapain ke sini?" tanya Rinto penasaran. "Bukannya ngelarang, tapi setau aku, rumah Senpai gak di blok ini. Bukannya blok sebelum ini, ya?"

"Bener juga," timpal Len sambil menatap Rin heran. "Ngapain kamu ke sini?"

Lenka menatap Len heran. "Kok, Kagamine-san jadi cerewet?"

Sontak wajah Len memerah. "I-itu—"

"Ah, dia kuajarin cerewet," sambar Rin geli. "Awalnya juga dia dingin ke aku, tapi aku ajarin cerewet dan hasilnya jadi gini, deh!"

Lenka tertawa. "Emangnya kalian udah berapa kali ketemu?"

"Sekali..." jawab Len dan Rin bersamaan, lagi.

Rinto tersenyum penuh arti pada keduanya. "Kayaknya... ada yang kompaknya kelewatan, nih."

Lenka ikut tersenyum. "Kompak yang artinya apa, Kamine-kun?"

"Ada yang lagi jat—"

"Aku udah sembuh!" seru Rin tiba-tiba sambil beranjak duduk. "Aku pulang dulu, ya! Makasih udah ngerawat aku, Lenka-chan. Makasih udah nolong aku, Kamine-san sama Kagamine-san. Jaa!"

Tanpa menunggu jawaban dari satupun orang di ruangan itu, Rin sudah melesat keluar rumah, mengambil sepedanya yang diparkir di garasi kediaman Nikame, lalu kabur secepat mungkin.

Lenka terkekeh. "Kayaknya ada yang salting, tuh."

"Siapa?" tanya Len bingung.


Mari kita pindahkan latar tempatnya ke stasiun kereta~


"Hmm... jam berapa sekarang?" gumam seorang gadis berambut merah sambil melihat arlojinya. "Eh? Udah mau jam delapan malam? Pantesan aku laper."

"Mau ditemenin makan, Bu Wakil?"

Gadis tadi menoleh lalu menemukan wajah yang sudah tidak asing lagi baginya. "Eh, Pak Ketua!"

Pemuda yang dipanggil Pak Ketua itu tertawa renyah. "Dasar wakil gak sopan," ejeknya pada si gadis rambut merah. "Serius nih, mau aku temenin makan, gak? Aku juga laper, Miki."

Miki mengangkat bahu. "Ayo aja. Baguslah, ada yang mau nraktir di saat perut aku udah jerit-jerit minta makan."

Piko menyipitkan matanya. "Siapa yang mau traktir?"

"Kamu lah!" balas Miki sambil meninju lengan Piko pelan. "Eh, mata udah sipit, gak usah sok-sok sipit lagi, deh. Matamu gak ada bedanya sama mataku, tau?"

Piko tertawa. "Enak banget ngomongnya, ya?"

Miki menjulurkan lidahnya.


Bersambung...


Sekian chapter ini! XD

Oke, jadi chapter-chapter berikutnya bakal lebih ngebahas soal tiga pairing yang belum jadian ini~ biarkan KaitoMiku dan MikuoKaiko menjalani hidup bahagia mereka XD

Review sangat diharapkan, loh! Oh ya, makasih buat semua yang udah setia baca dari chapter satu sampai tujuh, ya! Rey terharu, deh~ :"3