-Ke esokan harinya-

Di dalam kamarnya, Naruto masih berbaring di kasur dengan mata terbuka, bukannya ia malas bangun atau apa, hanya saja... Yah~ dia di gapit oleh dua ekor Naga pada sisi kanan dan kirinya, keduanya juga masih tidur.

Naruto jadi mengingat kejadian semalam, ia butuh waktu yang agak lama untuk menjelaskan 'ini dan itu' kepada Ophis dan Tohru.

Untung saja mereka berdua bisa menerimanya, terlebih Ophis yang baru mengetahuinya kalau ia berasal dari dunia lain.

Sisanya ia tinggal memberi tau Vali dan lainnya, semoga saja mereka juga bisa menerimanya, lagipula mereka adalah muridnya, mereka pasti mengerti.

Naruto sebenarnya ingin bangun sekarang juga dan membuat sarapan tapi tak bisa, selain sisi kanan dan kiri tubuhnya di gapit oleh Ophis dan Tohru, masih ada beban lagi di atas tubuhnya.

"Kenapa kau juga ikut-ikutan, Tet?"Naruto pun bertanya, pada beban di atas tubuhnya yang ternyata adalah Tet, dan lagi Tet ternyata sudah bangun.

"Hehehe, habisnya seru melihat Tohru-chan dan Ophis begitu, jadi aku ikut bermain saja"Tet pun menjawabnya dengan senyum khasnya, ia memangku dagunya pada kedua tangannya yang ia tumpu-kan pada Naruto.

"Itu bukan permainan, Tet"ucap Naruto.

"Eh!? Benarkah!?"ternyata Ophis dan Tohru tidak sedang bermain, Tet saja yang menganggapnya begitu.

"Iya, ada banyak hal yang tidak bisa kau Mainkan meskipun kau ingin, Tet"jelas Naruto.

"Hehe maaf"

"Tidak apa-apa, sekarang ayo bangun"

Tet pun bangun dari berbaring-nya pada Naruto, dan menggeliat kecil sambil menguap, lalu turun dari kasur dan pergi ke kamar mandi.

Tidak lama setelah itu Naruto menyusulnya setelah berhasil melepaskan kedua Naga betina itu darinya, mereka mandi bersama, kebetulan tempat mandinya luas seperti pemandian air panas, ma~ mereka berdua sama-sama pria, jadi tak ada kendala.

Kembali ke kamar Naruto, Ophis dan Tohru masih tidur dan posisi mereka juga jadi berhadap-hadapan karena Naruto sudah bangun.

Krriinngg!!

Ketika menunjuk pada waktu 05:00, alarm itu berbunyi dengan nyaring, dua pasang mata yang berbeda itu pun terbuka secara instan.

Meskipun baru bangun, aura yang mereka keluarkan terlihat mencekam, mereka saling menatap tajam dalam posisi yang masih sama seperti sebelumnya.

"Ck! Kenapa kau masih di sini!?"Tohru pun langsung menanyainya.

"Itu pertanyaan ku, kenapa kau tidak pulang saja ke dunia mu dan biarkan aku yang mengurus Naruto"Ophis pun membalasnya.

Dan itu terus berlanjut sampai Naruto dan Tet selesai mandi dan berpakaian, keduanya tak mau mengalah, Ego mereka sebagai seekor Naga sepertinya membuat mereka jadi seperti ini.

-Skip Time-

"Jadi, apa sekarang kau sudah mengerti, Tohru?"tanya Naruto, ia baru saja memberi tau tujuannya di dunia ini, tadi malam ia tak sempat mengatakannya.

"Ya, aku sudah mengerti, tapi... Kenapa Master mau repot-repot melakukannya?" Tohru tau kalau Masternya itu baik hati, tapi sekarang mereka berada di dunia yang berbeda, Masternya tak seharusnya berbaik hati pada setiap makhluk yang ia temui.

"Entahlah, aku hanya ingin saja"meskipun Naruto berada di dunia yang berbeda, rasa sayangnya pada Manusia tidak berubah sedikitpun.

"Kau seharusnya tau, Kalau Master tidak akan pernah berubah di manapun tempatnya, Tohru-chan"Tet pun ikut menimpalinya, ia mengatakannya dengan lembut.

Sedangkan Ophis hanya menyimak sambil minum teh dan makan cemilan, sepertinya ia tak perlu ikut dalam pembicaraan ini.

"Oh dan satu lagi, Master"ucap Tohru, Sepertinya masih ada yang ingin ia bicarakan.

"Apa?"Naruto ingin tau, jika dalam pembicaraan yang serius seperti ini, Naruto malas untuk menggunakan kemampuan pembaca pikirannya, jadi ia bertanya.

"Kenapa...?"Tohru menggantung pertanyaannya.

"Kenapa... Maksudnya?"Naruto merasa De Javu dengan pembicaraan ini.

"Kenapa si cebol ini duduk di pangkuan Master!?"Tohru menggunakan suara yang keras saat bertanya, sambil telunjuk tangan kanannya menunjuk ke Ophis yang masih santuy ngemil di pangkuan Naruto.

Ophis yang di tunjuk pun menatap ke arah Tohru dengan pandangan datarnya, begitu juga Tohru yang menatap Ophis dengan pandangan tajam.

"Heh!"

Twich!

Tiba-tiba Ophis tersenyum miring dan mendengus remeh kepada Tohru, dan itu membuat sebuah perempatan merah tercipta di dahi Tohru, menandakan bahwa ia sangat kesal.

"Sudahlah, Tohru-chan, bukannya dulu kau juga sering di pangku oleh Master saat masih kecil"ucap Tet, yah ia juga pernah di pangku Naruto sih saat dulu ia dan Naruto main game online bersama, karena lawan mereka yang bertitel Kuuhaku(Tanpa Nama) sangat sulit di kalahkan, makanya ia dan Naruto menyatukan kemampuan bermain mereka dan memenangkan pertandingan.

"Tapi..."Tohru memang tidak ingin menjadi individu yang egois, tapi ketika melihat Masternya memangku yang lain seperti itu, ia merasa kesal.

Tohru berpikir kalau pangkuan itu adalah tempat dimana ia dan 12 Greatest Thing lainnya bisa bersandar dalam kebahagiaan, dan Ophis bukanlah bagian dari itu.

Tohru tak ingin kalau tempatnya untuk menangis dan tertawa itu di renggut, Master adalah sumber rasa cinta dan Kebahagiaannya, ia tak ingin kehilangan itu.

Tohru meremas pakaian Maidnya ketika memikirkan itu, ia benar-benar tak ingin kalau itu sampai terjadi, rasanya ingin menangis, bisa di lihat kalau sekarang ada sedikit air di pelupuk matanya.

"Tohru, kemarilah"ucap Naruto sambil menepuk bantalan sofa di sampingnya.

Tohru pun menurutinya, ia beralih dan duduk di samping kanan Naruto, setelah itu Naruto mengarahkan wajah Tohru ke arahnya dan mengadu dahi mereka dengan lembut, ini adalah apa yang biasa para Naga di dunianya lakukan untuk saling menenangkan.

"Semuanya akan baik-baik saja"ucap Naruto lembut, ia mengeluskan dahinya dengan dahi Tohru secara lembut, "em!"Tohru hanya mengiyakan ucapan Naruto.

Sedangkan Ophis yang ada di pangkuan Naruto hanya terdiam, ia juga mendengar apa yang Naruto katakan, itu membuatnya berpikir.

Apa kalau Naruto sudah menyelesaikan tujuannya, Naruto akan pulang dan meninggalkannya di dunia ini, sendiri? Seperti sebelumnya?

Tidak! Ia tidak mau... Ia tidak mau semua ini menghilang begitu saja, ia tidak ingin Naruto pergi meninggalkannya, jika memang itu yang akan terjadi nanti, seharusnya ia tak usah di beri kehangatan dan kasih sayang ini, seharusnya Naruto tak perlu memberinya cahaya dalam hidupnya yang gelap ini jika akhirnya ia akan di tinggalkan.

Tanpa sadar, ada air mata yang juga berkumpul di pelupuk mata Ophis, sepertinya ia juga tengah bersedih, jika apa yang ia pikirkan terjadi, mungkin ia akan menghabiskan waktunya untuk menangis dan berakhir menjadi dirinya yang dulu, dimana tak ada sedikitpun perasaan yang ia miliki saat ini.

Sret!

Ophis tersadar dari lamunannya ketika sebuah tangan memeluknya, ah... Ini tangan Naruto, Naruto pasti tau apa yang Ophis rasakan dan memeluknya untuk memberi ketenangan.

Tet dari tadi hanya diam, baret merah yang biasa ia pakai sedikit ia tarik ujungnya agak ke bawah, menurut pendapatnya ini adalah salah Masternya, seharusnya Masternya tak perlu membuat hubungan dengan makhluk dari dunia lain dan ini tak akan terjadi.

Tet tau bagaimana rasanya di tinggalkan, dulu saat peperangan masih berlangsung dan ia masih menjadi dewa terlemah, ia punya seorang teman Manusia, seorang teman yang mau menghabiskan waktu dengannya.

Mereka selalu bertanding dalam berbagai permainan, dan semuanya di menangkan Tet, tapi si manusia tak pernah menyerah dan selalu kembali menantangnya.

Tapi umur manusia itu tak panjang, memang ada beberapa manusia yang umurnya sangat panjang, sebagai contoh manusia yang berada dalam 12 Greatest Thing.

Tapi teman manusianya hanyalah manusia biasa, terlebih si manusia itu mati karena perang itu, ketika tau teman yang selalu menemaninya bermain itu mati, Tet merasa sangat sedih.

Karena itulah Tet tak mau membuat hubungan yang terlalu dalam dengan setiap makhluk yang ia temui, kecuali teman-temannya di 12 Greatest Thing dan sang Master tentunya.

-di sisi lain-

Di sebuah ruangan yang gelap(sebenarnya tak gelap sih, cuma author sengaja membuatnya gelap biar karakter-karakter itu tetap jadi rahasia), terdapat 1 meja bundar dan di kelilingi dengan 12 kursi, tapi dari 12 kursi itu hanya 10 yang di duduki.

"Jadi... Ada yang tau di mana Master?"dari suaranya yang agak berat, dia pasti seorang lelaki.

"Sepertinya tidak"seseorang pun menjawabnya, ia mengatakan demikian ketika melihat raut ketidaktahuan rekan-rekannya.

"Tapi setidaknya kita tau kalau Master pergi dengan mereka"kali ini sebuah suara feminim dan merdu yang bersuara.

"Ah benar, mereka tidak datang"suara yang lain pun menimpalinya.

"Lalu, sekarang apa yang sebaiknya harus kita lakukan?"tanya seseorang dengan suara yang tegas, sepertinya dia seorang dengan jiwa kesatria yang tinggi.

"Mencarinya mungkin lebih baik, lagipula sekarang kita sedang gak ada kerjaan"ucap suara yang berbeda lagi.

"Ya, kita akan menyusulnya"ucap suara yang terdengar santai, rekan-rekannya yang lain pun menatapnya.

"Menyusulnya? Apa kau sudah tau dimana Master berada, *?"tanya salah satunya.

Yang ditanya hanya mengangguk dan meletakkan sebuah Novel -ah! Itu Novel dunia lain yang di baca Naruto, kemudian Tohru, sepertinya Tohru juga melupakannya dan meninggalkannya di bulan, astaga! Ia sama cerobohnya dengan Naruto.

-Mekkai-

Saat ini kondisi di kota Lilith sudah terlihat membaik, puing-puing yang bertebaran sudah di bersihkan meski belum semuanya, api yang kemarin sempat meneror beberapa Iblis juga sudah di padamkan.

Beralih ke sebuah mansion milik Klan Gremory, di sebuah kamar yang besar nan mewah, seorang Pria berambut merah duduk di atas ranjang sambil membaca beberapa dokumen.

"Maou-sama, anda baru saja bangun, jadi tak usah mengurusi dokumen-dokumen itu terlebih dahulu dan beristirahatlah"ucap seorang Maid berambut perak, dia berdiri di samping kasur.

"Kalau begitu, apa kau mau menggantikan dokumen-dokumen ini dan menemani ku sepanjang hari di kasur ini"pria itu yang tak lain adalah Sirzech Gremory membalas ucapan Maid yang merupakan Queen sekaligus Istrinya dengan nada menggoda.

Grayfia yang mendengar itu pun memerah meski ia menutupinya dengan wajah datarnya, sebenarnya ia merasa malu, ia tau betul apa yang suaminya maksud.

"A-anda masih belum sehat, jadi lebih baik beristirahat saja sampai pulih"Grayfia pun menjawabnya ucapan Sirzech.

"Baiklah, buatkan aku teh yang segar, Grayfia"Sirzech pun mengalihkan pembicaraan ini dan meminta Grayfia untuk membuatkannya Teh.

"Ha'i!"Grayfia pun langsung bergegas ke dapur untuk membuat Teh.

Wajah Sirzech jadi datar setelah kepergian sang istri, ia kembali melihat ke arah dokumen-dokumen yang ia pegang, ini terkait beberapa Iblis yang terkena serangan Tohru semalam serta kerusakan yang di timbulkan oleh pertarungan mereka.

Para Iblis yang terkena serangan Tohru secara langsung rata-rata tewas, sedangkan yang menerima efeknya hanya terluka, dari yang ringan sampai sekarat.

Krek!

Ketika mengingat kembali kekalahannya kemarin, Sirzech jadi sangat kesal sampai tak sadar ia menggenggam dokumennya dengan keras.

Untuk kekuatan Tohru, mungkin Sirzech bisa menganggapnya setara dengan Ophis, namun untuk dewa yang bersama Tohru kemarin... Kekuatannya benar-benar tak masuk akal, ia bahkan tak tau kapan dewa itu bergerak ke arahnya.

Bukannya sombong atau bagaimana, tapi ia adalah salah satu makhluk yang menduduki peringkat ke lima dalam jajaran 10 makhluk terkuat di dunia, jadi mau sekuat apapun lawannya, ia setidaknya pasti bisa memberinya perlawanan pada dewa itu, tapi ini tidak sama sekali.

Dewa itu terlalu kuat, ia berani bertaruh, ia bahkan yakin kalau Ophis tak bisa mengalahkannya, tapi ia masih yakin kalau Ophis mungkin bisa memberi dewa itu sebuah luka, kira-kira itulah yang Sirzech pikirkan.

Jika saja ia dan rekan-rekannya mengalahkan Tohru sebelum dewa itu datang, ia pasti tak akan berakhir dengan memalukan seperti itu.

Miris memang, tapi inilah kenyataannya, ia di kalahkan oleh seorang dewa hanya dengan sebuah hantaman, dalam waktu yang singkat pula.

Ia pasti akan selalu mengingat ini, tapi kalau di pikir-pikir, dia tak terlalu mempermasalahkannya, karena yang mengalahkannya adalah makhluk sekelas dewa, setidaknya Sirzech bisa menganggapnya sebagai sebuah kehormatan karena pernah berselisih dengan dewa sekuat itu.

Tapi dari itu semua, Sirzech masih penasaran dengan 'Master' yang di maksud oleh Tohru, kemarin dewa itu bilang kalau Masternya sudah ketemu.

Kalau pelayannya saja sekuat itu, sekuat apa Masternya? Tidak! Bisa saja Masternya adalah makhluk yang lemah sampai harus di cari-cari seperti itu oleh pelayannya, tapi itu hanya kemungkinan.

Kemungkinan lainnya, mungkin Master dari gadis Naga itu sangatlah kuat, Sirzech tak mau membayangkan sekuat apa itu, mungkin bisa di samakan dengan Thirexa atau mungkin lebih.

Kriet~

Sirzech tersadar dari pemikirannya ketika suara pintu yang terbuka terdengar oleh telinganya, ia pun mengalihkan pandangannya ke arah pintu.

Oh~ itu adiknya, Rias Gremory beserta budak-budaknya, mereka datang ke Mekkai untuk mengunjunginya ya, baguslah kalau begitu, ia juga ingin sedikit berbicara dengan Ddraig mengenai Tohru, mungkin saja Naga merah itu mengetahui sesuatu.

"Okaeri, Rias"ucap Sirzech menyambut kedatangan adiknya, "dan kalian juga"lanjutnya pada budak-budaknya Rias.

"Tadaima, Onii-sama"Rias pun membalas sambutan kakaknya, ia sudah duduk di tepi kasur yang di tempati kakaknya, "apa kau sudah sembuh?"tanyanya kepada sang kakak.

"Ya, tapi masih belum pulih total"Sirzech pun menjawabnya dengan santai.

Meskipun ia di hantam dengan kuat sampai pingsan seperti kemarin, ia hanya kehilangan kesadarannya, untuk selebihnya hanya sedikit rasa sakit yang ia rasakan, selain hal itu ia masih baik-baik saja.

Tidak seperti rekan-rekannya, organ dalam mereka yaitu hati, hampir saja hancur jika tidak segera di perbaiki, mereka menggunakan air mata Phoenix dalam jumlah banyak, dan untungnya itu berhasil.

Ia memang sudah tau, tapi sepertinya pukulan dari seekor Naga bukanlah main-main, jika dewa yang kemarin mengalahkannya juga mengincar titik vitalnya seperti yang Tohru lakukan pada rekan-rekannya, ia pasti sudah sekarat atau kemungkinan yang lebih buruk, mati.

"Kalau begitu kau harus lebih banyak istirahat, Onii-sama"ucap Rias, "a-apa kami mengganggu istirahat mu?"Rias kemudian bertanya.

"Ah, tidak, aku malah senang kau dan anggota mu datang kemari, terima kasih ya, Rias dan teman-temannya"ucap Sirzech sambil tersenyum pada yang lainnya.

"Itu sudah kewajiban ku sebagai adikmu, dan juga mereka yang merupakan anggota keluarga Gremory"ucap Rias, sedangkan yang lain hanya mengangguk.

Sirzech hanya memejamkan matanya untuk merespon, masih dengan memasang senyumnya.

"Maou-sama, tehnya sudah jadi"ucap Grayfia yang baru datang, "ara~ Okaerinasai, Rias-sama"lanjutnya ketika melihat Rias dan para budaknya ada di dalam ruangan.

"Tadaima, Grayfia"Rias pun membalas sambutan Grayfia Seperti sebelumnya pada kakaknya, yah karena Grayfia juga Kakaknya sih.

-skip Time-

Sirzech menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya, dan itu membuat sang adik syok, Yondai Maou di kalahkan, dan yang melakukannya adalah seekor Naga dan seorang dewa.

Rias sebenarnya ingin menolak fakta itu, ia tau betul sekuat apa kakaknya, kakaknya adalah makhluk yang di takuti sebagai Raja Iblis, Iblis terkuat di antara Iblis terkuat lainnya.

Tapi, apa yang belum lama ini terjadi membuatnya sadar, meskipun kakaknya sangat kuat, masih ada yang lebih kuat darinya dan mengalahkannya.

Ia terlalu mengagumi kakaknya dan beranggapan bahwa kakaknya itu tak terkalahkan, itulah sebabnya ia juga harus bertambah kuat, agar suatu saat jika hal ini terulang lagi, ia bisa membantu kakaknya dalam sebuah pertarungan.

-skip time-

Kembali ke Naruto, ia saat ini ada di ruang keluarga dan bermain game online bersama Tet, sedangkan Tohru dan Ophis berada di dapur membuat sesuatu, sepertinya kejadian tadi pagi membuat mereka sedikit lebih akrab karena saling mengerti.

"Tet"panggil Naruto pada Tet di sebelahnya tanpa menoleh, ia terlihat fokus pada permainannya.

"Ada apa, Master?"Tet pun bertanya, mungkin Masternya ingin mengatakan sesuatu yang penting.

"Aku hanya kepikiran saja, kau bisa datang kemari karena mengikuti Tohru yang kebetulan mengetahui di mana aku berada, kan?"tanya Naruto, ia masih tetap fokus pada layar.

"Ya, memang kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggu mu, Master?"mungkin saja ada yang mengganjal pikiran Masternya.

"Apa yang Tohru lakukan sebelum ia datang kemari?"tanya Naruto.

"Etto... Kalau tak salah, ia membaca sebuah buku saat itu, kemudian ia membawa portal yang mengarah ke dunia ini, dan aku mengikutinya karena penasaran"Tet hanya menjawab apa yang ia tau, ia juga masih Fokus pada layar.

"La-lalu... Di mana buku itu?"Naruto bertanya lagi, ia ingin memastikannya.

"Em... Entahlah, Tohru meletakkannya begitu saja kemudian pergi, mungkin sekarang sudah ada yang mengambil -ah!"Tet baru menyadari sesuatu, arah pembicaraan ini...

Naruto kemudian menatap ke arah Tet dengan wajah datarnya, begitu juga Tet, tapi pelipis mereka mengeluarkan sebiji keringat, mungkin mereka saat ini tengah memikirkan hal yang sama.

"Mereka... Tidak akan menyusul ku kemari, kan?"tanya Naruto pada Tet, Naruto sangat yakin kalau Tet mengerti maksud pertanyaannya.

"Entahlah, Master, tapi kemungkinannya besar, yang mereka perlukan untuk mengetahui keberadaan mu hanyalah tempat terakhir dimana kau berada dan buku itu"jawab Tet, yah~ Tet paham betul seperti apa kemampuan teman-temannya, mereka bahkan hanya perlu beberapa detik untuk mencari seorang buronan yang berkeliaran di alam semesta, jadi, untuk mencari Master, sepertinya itu bukan hal sulit.

"Astaga, semuanya jadi semakin rumit, aku harus berulang kali menjelaskan 'ini dan itu' pada Setiap makhluk yang aku kenal, Haaaahhh~" ucap Naruto di akhiri dengan helaan nafas.

"Yahahaha~ bukannya ini semakin menarik, Master"Tet pun berusaha mengambil sisi positifnya saja, "lagipula, semakin banyak orang akan semakin menarik, kau pernah mengatakan itu"lanjutnya.

"Ya~ memang sih"Naruto juga setuju dengan apa yang di katakan Tet, "hanya saja aku sedikit khawatir dengan keseimbangan yang ada di dunia ini, kau sendiri tau bagaimana kekuatan mereka Tet"ucapnya kemudian.

"Umu! Kemampuan individu mereka sangat luar biasa, hampir tak ada tandingannya"ucap Tet, "dan jika mereka berkumpul, mungkin akan sedikit memancing Naga yang ada di celah dimensi keluar dari sarangnya"lanjutnya.

"Keberadaan mereka dan juga kita sebenarnya sudah salah di dunia ini, tapi mau bagaimana lagi, aku benar-benar tidak tahan pada makhluk-makhluk itu"ucap Naruto.

"Aku mengerti kau ingin menggunakan cara yang lebih halus dan tak menumpahkan darah siapapun, Master"ucap Tet, "tapi kau -tidak! Tapi kita harus tetap melakukannya"lanjutnya.

"Aku mengerti maksud mu Tet, hanya saja..."Naruto menggantung ucapannya, yang Naruto inginkan hanya kedamaian, tak ada darah ataupun nyawa yang melayang, meski sebenarnya sudah agak terlambat, karena udah ada beberapa nyawa yang hilang.

"Kalau begitu, bukankah ini bagus, jika mereka benar-benar menyusul kemari, kita bisa melakukannya dengan lebih cepat"ucap Tet, "Master sendiri pasti tau kalau makhluk-makhluk di Dunia ini hanya bisa di taklukkan dengan kekuatan, jadi ini akan menjadi hal yang bagus jika mereka benar-benar ke sini menyusul mu, Master"ucapnya kemudian.

"Ya! Kau benar! Semua akan baik-baik saja, yang terpenting adalah kita bisa menyelamatkan umat Manusia dari mereka, setelah itu masalah selesai"ucap Naruto, ia sedikit merilekskan tubuhnya dengan bersandar ke sofa.

Naruto kemudian menatap ke atap ruangan ini, lalu menengok ke sana kemari, ia kemudian terpikirkan sesuatu, sepertinya rumah ini tak akan cukup jika mereka benar-benar datang kemari.

"Sepertinya aku juga harus merenovasi rumah ini"ucap Naruto tiba-tiba, ya~ dia harus membuat beberapa ruangan lagi untuk persiapan, ia tak ingin mereka yang sudah ia anggap sebagai anggota keluarganya tidur berdesakan.

Pokoknya, Naruto berharap semuanya akan baik-baik saja, semoga saja tak ada hal merepotkan yang terjadi, karena pada akhirnya, ia yang akan mengurusnya.

Bersambung~

up chapter 7! tak ada yang bisa author Sampaikan di chapter kali ini, semoga menghibur!

jan lupa reviewnya, untuk referensi chapter depan, sekian terima kasih