Sasuke tidak ingin Hinata mendapatkan kembali ingatannya.
"Hinata."
"Ya?"
"Ada ice cream dimulutmu," ujar Sasuke.
"Eh?" Sasuke mengangkat tangannya, mengusap bibir Hinata dengan ibu jarinya.
"Kau makan seperti anak kecil. Belepotan."
"Naruto…"
Hinata mengingatnya.
Dan sepertinya, dewa tidak mengabulkan permintaan Sasuke saat ini.
Karena Hinata mulai mengingat pemuda pirang itu. Ya, Naruto.
"Hinata?" Sasuke memanggil Hinata. Gadis itu terdiam. Mencoba mengingat sesuatu yang telah lama hilang dari ingatannya.
"Naruto?" Hinata kembali bergumam, kali ini terdengar sangat dalam. Gadis itu menunduk, tubuhnya bergetar. Tak lama, air mata mengalir, terjatuh di kedua tangannya yang terkepal. Menangis.
"Naruto…"
.
I Just Love You © Hinaka Aoi
Naruto © Masashi Kishimoto
Pair : NaruHina
Warning : AU, miss Typo, Ooc banget, maaf bila terlihat seperti sinetron.
Rated : T
.
.
Chapter 7 :
–Yakusoku!–
.
.
Sasuke menatap tubuh Hinata. Gadis itu terisak, dan memanggil nama pemuda itu. "Hinata?"
"Sasuke, bolehkah kita akhiri hari ini? Aku… ingin pulang. Aku lelah." Ujar Hinata masih dengan posisinya yang menunduk.
"Baiklah." Sasuke bangkit dari duduknya lalu disusul oleh Hinata. Mereka akhirnya pulang, tanpa ada yang bersuara. Keheningan melingkupi, dan tak ada yang mencoba memecahnya. Semua hening, hanya suara laju mobil yang terdengar. Hinata bahkan tak ingin menatap atau bahkan melihat wajah Sasuke, gadis itu sedari tadi hanya menunduk, tanpa berbicara.
Dan tak terasa, semua berakhir, Hinata telah sampai dirumahnya.
"Terimakasih untuk hari ini. Dan maafkan aku." Hinata membungkukkan badannya sejenak, lalu melangkah masuk kerumahnya tanpa berbicara lebih.
Sasuke tidak menjawab, ia hanya diam lalu kembali melajukan mobilnya menuju kediamannya. Suasana di dalam mobilnya tidak berbeda dari yang tadi, hanya saja sudah tidak ada lagi yang duduk di bangku sebelahnya. Pemuda itu mengeratkan pegangannya pada stir mobilnya, ia kesal.
"Kurasa, aku yang harus mundur," lirih Sasuke.
Ia menyerah.
.
.
Hinata memasuki rumahnya dengan perasaan yang tak bisa ia definisikan. Semua terasa aneh. Dan semua itu menjadi satu. Setelah melewati ruang tamu, akhirnya ia masuk kedalam kamarnya dengan perasaan kalut. Ia berjalan menuju kasurnya dan menjatuhkan tubuhnya sejatuh-jatuhnya tanpa memikirkan apa yang terjadi. Hinata memejamkan matanya, ia kembali mencoba mengingat sesuatu.
Ia kembali memikirkan tentang, mengapa ia bisa menangis setelah menyebut nama 'Naruto', ia juga tiba-tiba teringat sebuah kalimat yang menuntunnya untuk mengingat pemuda pirang itu.
"Ugh.."
Tanpa sadar gadis itu kembali menangis tanpa sebab yang pasti. Ia seperti sedang memendam sesuatu yang samar untuk ia ingat. Ah, menyedihkan, sangat sulit. Tapi untuk sementara, hal yang dapat ia ingat hanya namanya. Dan hanya itu saja.
Esoknya, Hinata kembali mengingat pemuda itu, kala ada sesuatu yang berhubungan dengan si rambut pirang. Hinata kerap kali merasakan sesuatu yang menyakitkan di dalam tubuhnya setiap kali mengingat pemuda itu. Ia tak pernah mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya, tapi ia tak pernah menyerah untuk mencoba mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya, tentang ingatannya, dan tentang Naruto.
Shion selalu menyarankan Hinata untuk bertemu langsung dengan Naruto agar ingatannya pulih. Tapi Hinata menolaknya. Gadis itu ingin ingatannya pulih terlebih dahulu untuk bisa mengetahui siapa Naruto, dan ada hubungan apa dia dengannya. Kini, Sasuke jarang menemuinya, bahkan hampir tak pernah. Ia tidak peduli, entah mengapa ia benar-benar tidak masalah dengan hal itu.
.
Hinata berjalan menuju kelasnya dengan rambut yang ia kuncir. Perlahan, Hinata seperti sudah menemukan dirinya yang dulu sempat hilang dari ingatannya. Walau belum terlihat sepenuhnya, gadis itu tetap merasakan perubahannya. Hinata tidak pernah melihat Naruto lagi semenjak pertemuannya di café seminggu yang lalu. Tapi ingatannya tentang Naruto yang samar terus menderanya.
Bukh!
"Ah! Gomenasai!" Hinata tak sengaja menabrak seseorang dihadapannya. Gadis itu buru-buru merapihkan barang yang tak sengaja ia jatuhkan. Setelah selesai, Hinata terkejut mendapati seseorang yang pernah ia kenal, "Kau, Sakura bukan?"
"Ha'i, Hi-Hinata-senpai. Terimakasih dan maaf sebelumnya." Jawab Sakura dengan sedikit menundukkan wajahnya.
"Ano, apa…kau tau dimana Naruto?" Sakura memandang wajah Hinata sejenak, gadis itu mengigit bibirnya, enggan untuk menjawab.
"Maaf, aku tak bisa memberitahumu..." Sakura memalingkan wajahnya kesamping, mencari objek untuk ia lihat.
"Kumohon, beritahu aku. Aku tidak ingat siapa dirinya, bagaimana sifatnya atau apapun tentang dirinya. Alamat rumah, nomor telepon dan semuanya… a-aku benar-benar tidak ingat. Kumohon, bantu aku untuk mengingatnya," Hinata memberi jeda, "Setidaknya dengan kau memberitahu alamat rumahnya itu sudah sangat membantuku." Sambung Hinata dengan nafas yang memburu.
"Alamat rumah tidak akan membantumu untuk bertemu dengannya," ujar Sakura.
"Maksudmu?"
.
Naruto mendudukkan tubuhnya pada salah satu bangku yang ada di bandara. Ia menunggu jadwal terbangnya yang hanya tersisa 2 jam lagi, yaitu pukul 5 sore. Dua jam lagi ia akan pergi dari Jepang menuju Amerika.
Ia mendapat pesan dari ibunya, sekitar seminggu yang lalu tepatnya saat ia sedang bertemu dengan Hinata. Ibunya mendapat pesan bahwa sepupunya yaitu Uzumaki Karin, menawari dirinya beserta ibunya untuk tinggal lagi di negara tempat ia lahir dan tinggal selama 5 tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk tinggal di Jepang yang notabenenya adalah negara asalnya.
Orang tuanya adalah orang Jepang, namun setelah mereka menikah, pasangan suami istri itu mencoba untuk tinggal di luar negeri karena beberapa alasan. Tapi, setelah ayahnya meninggal, ia diajak oleh ibunya untuk kembali ke Jepang. Namun ia tinggal di tempat yang berbeda dari sekarang. Dan ia baru tinggal di tempat yang sekarang karena ibunya baru bisa membeli rumah setelah beberapa tahun mengumpulkan uang.
Dan kini, ia akan meninggalkan rumah itu, padahal baru sebentar ia meninggalinya, tapi dengan berat hati, ia pun harus meninggalkan rumahnya untuk beberapa waktu.
Ibunya mengiyakan tawaran Karin karena ada beberapa masalah yang terjadi disana, dan Kushina di minta untuk membantu keluarga Karin–yang juga keluarga ibunya– untuk menyelesaikannya.
Sebenarnya Naruto bisa saja tinggal di Jepang karena dia bisa menjaga dirinya sendiri, tapi alasannya untuk ikut adalah untuk melarikan diri dari kenyataan. Alasan yang klise memang, tapi setidaknya ia punya alasan tersendiri untuk ikut. 10 menit telah berlalu, dan kini hanya tersisa waktu 1 jam 50 menit, sebelum akhirnya ia akan lepas landas.
.
I just Love You
.
Hinata berlari keluar sekolah setelah bel sekolah berhenti, setelah mendapati informasi dari Sakura, Hinata tak ingin membuang-buang waktunya, dan ingin segera sampai di bandara dan bertemu dengan Naruto.
"Alamat rumah tidak akan membantumu untuk bertemu dengannya," ujar Sakura.
"Maksudmu?"
"Sore ini, Naruto-senpai akan pergi keluar Negeri," Jawab Sakura.
Hinata membelalakan matanya, sebuah kejutan yang mencengangkan. "Apa? Benarkah? Kau sedang tidak bercanda bukan?" tanya Hinata memastikan.
"Sekolah merahasiakan hal ini karena permintaan Naruto-senpai, dan hanya teman di kelasnya saja yang mengetahui hal ini." Sakura memejamkan matanya sejenak, ia meremas buku yang ada digenggamannya. "Aku bahkan mengetahui hal ini saat tadi pagi melihat senpai sedang mengepakkan semua barangnya di depan rumah bersama ibunya," lanjut Sakura.
"Tidak mungkin…" lirih Hinata.
"Jadi, sebelum terlambat, kau harus cepat bertemu dengannya! Naruto-Senpai sangat mencintaimu, Hinata-senpai. Ia bahkan menolakku karena…dia ternyata menyukaimu," Hinata menatap Sakura dengan tatapan tak percaya, "Karena itu, kau harus segera menemuinya, sebelum semuanya berakhir. Datanglah kebandara sore ini jam 5, sampaikan salamku untuknya," Sakura membalikkan tubunya, "…jika kau tidak terlambat."
Percakapan itulah yang Hinata ingat tadi pagi dengan Sakura, sebelum akhirnya gadis pink itu pergi meninggalkannya.
Hinata kini berada di stasiun kereta. Dengan napas yang tersengal-sengal, dan dengan kepulan uap keluar dari mulutnya, ia melihat jam tangannya. Memastikan waktu yang ia akan perkirakan akan tepat waktu, dan tidak meleset. Jamnya menunjukkan pukul 15.20 sore, dan tinggal tersisa waktu 1 jam 40 menit lagi.
Gadis itu masuk kedalam kereta dan melihat ke jam tangannya mencoba memperkirakan waktu yang akan di tempuhnya. "Kira-kira aku harus menaiki kereta ini 2 kali. Dan waktu untuk kereta ini menuju stasiun selanjutnya adalah 20. Tapi untuk kereta selanjutnya membutuhkan waktu 40 menit untuk sampai ke stasiun dekat bandara. Belum lagi waktu menuju bandaranya." Hinata mengigit bibirnya, ia benar-benar takut terlambat. "Kami-sama, aku harap kami bisa bertemu."
.
"Naruto, bersiaplah sebentar lagi kita akan lepas landas," Kushina mengingatkan anaknya seraya memberikan sebotol minuman pada Naruto. "Apa kau baik-baik saja? Apa tak masalah kau ikut dengan ibu?" ibu satu anak itu menatap wajah anaknya yang terlihat lesu. Naruto tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.
"Tak apa, aku tidak ingin meninggalkan ibu disana sendiri," ujar Naruto.
"Hei, seharusnya aku yang berkata hal itu. Sejujurnya aku ingin sekali kau ikut Naruto. Tapi aku tahu, ini akan sangat sulit bagimu, terlebih kau baru saja menjadi murid baru di sana beberapa bulan yang lalu. Dan aku tidak ingin meninggalkan putraku sendirian di jepang. Jadi aku tak memaksamu untuk ikut." Kushina menepuk pundak putranya. "Terlebih kau punya seseorang yang kau cintai bukan?"
Naruto menatap mata ibunya, mata biru itu terpejam sejenak, "Itu bukanlah masalah besar. Cinta mungkin ada dimana saja bukan? Kurasa tak masalah bagiku meninggalkannya." Kushina mendelikkan matanya pada Naruto.
"Aku tidak yakin dengan ucapanmu. Jelas sekali bahwa kau tak ingin meninggalkannya. Cinta memang selalu ada dimana saja, tapi belum tentu cinta itu akan selalu ada dimana saja untukmu Naruto." Ujar Kushina kepada anak semata wayangnya. "Ikutilah kata hatimu, dan jangan lari dari kenyataan."
Naruto menunduk, apa yang ibunya katakan memang benar. Cinta belum tentu akan selalu ada untuknya. Dan memang ia kini sedang lari dari kenyataan. Kenyataan bahwa ia sangat mencintai Hyuuga Hinata, kenyataan bahwa ia tidak bisa menerima dengan kondisi Hinata yang sekarang. Ia memang pengecut. Ia memang laki-laki yang payah. Tapi mau bagaimana lagi, semua akan berakhir. Ia tidak mungkin membatalkan jadwalnya untuk pergi secara mendadak.
Ia melirik jam tangannya, hanya tersisa beberapa menit lagi, waktu terasa sangat cepat. Kushina dan Naruto bangkit dari duduknya dan segera berjalan menuju tempat Check in pesawat, tapi sebuah teriakan seseorang menghentikan langkah Naruto.
"Tunggu! Naruto!" bagai sebuah dorama di tv, Hinata berlari dengan cepat menuju Naruto. Gadis berkuncir kuda itu tidak memperdulikan ornag-orang sekitar yang menatapnya. Dengan napas yang terputus-putus Hinata berhasil berada tepat di depan Naruto.
"Hinata–"
"Jangan pergi!" potong Hinata dengan napas yang terputus-putus, "…kumohon, Naruto." Hinata mendongakkan kepalanya kearah Naruto.
Naruto membelalakan matanya, tangannya mengerat. "Kenapa kau pergi!" teriak Hinata, "Apa kau sangat ingin menghindar dariku?" Hinata berjalan mendekat pada Naruto. "Jangan jadi pengecut! Jangan lari dari kenyataan! Aku tau ini sulit, menyerima kenyataan bahwa aku tidak bisa mengingatmu. Tapi, kumohon tetaplah disini." Hinata berujar sambil menatap mata Naruto dengan tegas.
"Tetaplah disini, dan mari memulai semuanya dari awal lagi." Ujar Hinata dengan tegas, dengan mata penuh kesungguhan.
Naruto tersenyum,"Sepertinya sedikit demi sedikit, kau telah kembali, Hinata."
"Eh?"
"Aku seperti melihat dirimu yang dulu, penuh semangat. Lihat saja, kau berlari kesini hanya untuk bertemu denganku? Kurasa jika itu Hinata yang kemarin, dia tak akan melakukan hal sampai sejauh ini." Naruto kembali tersenyum, "Tapi, mungkin kau akan lebih baik tanpaku. Aku hanya bisa membuat masalah denganmu, aku senang kau akan kembali seperti semula." Mata biru itu menyendu, "kau hanya tinggal hidup seperti biasa seperti saat kita belum bertemu dan membuat perjanjian." Ujar Naruto.
"Tidak! Aku tidak bisa!" tukas Hinata, "Kini aku mulai bisa mengingatmu. Kau sudah ada dalam kehidupanku, jadi jangan hilang lagi."
"Ne, bagaimana Naruto?" Kuhsina akhirnya bersuara, membuat dua remaja itu menyadari adanya Kuhsina. "Kau ingin tetap disini? Sebentar lagi pesawat akan lepas landas, kau harus memutuskannya sekarang."
Naruto menatap Hinata, wajah gadis itu masih menunjukkan kesungguhan dalam tatapannya. Naruto menghela napasnya, "Aku tidak bisa."
"Eh? Kenapa?" kejut Hinata.
"Aku punya alasan lain untuk pergi. Aku ingin bertemu denganmu lagi saat semua ingatanmu benar-benar pulih. Dan saat semua itu telah terjadi, tanpa basa-basi lagi aku akan cepat menemuimu." Ujar Naruto.
"Tapi…" raut wajah Hinata berubah sedih, ia benar-benar tidak ingin Naruto pergi.
"Tenanglah, kita akan tetap berhubungan selama aku disana." Naruto memeluk Hinata, kemudian melepasnya dan menatap wajah Hinata dengan kesungguhan. "Jadi, sebelum pergi. Uhm, maukah kau jadi pacarku?" Tanya Naruto dengan wajah kesungguhan, walaupun wajahnnya sedikit memerah. "Aku tau ini akan sangat sulit menjalani hubungan berbeda negara, tapi bagaimana?"
"Aku memang sempat menyukai Sasuke, dan bingung dengan perasaanku. Tapi ternyata aku sadar, aku hanya menyukaimu, Naruto." Hinata menatap Naruto dengan kesungguhan juga.
"Jadi jawabanmu adalah?"
"Iya!" Hinata menghambur kedalam pelukan Naruto. "Berjanjilah untuk kembali." bisik Hinata.
Hinata melepas pelukannya, lalu mengacungkan jari kelingkingnya, "Yakusoku?"
"Yakusoku!"Naruto mengaitkan kelingkingnya juga pada Hinata.
"Hey, Naruto, kita harus pergi!" Ujar Kushina yang menghancurkan moment sepasang muda mudi itu.
"Ah iya! Maaf Hinata, aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik!" Ujar Naruto seraya meninggalkan Hinata.
"Kau juga! Duren!" teriak Hinata, "Eh? Duren?" kejut Hinata tanpa sadar, "Ah! Sakura menitipkan salam untukmu!" teriak Hinata.
"Sampaikan juga salamku untuknya," balas Naruto dengan teriak.
Hinata melambaikan tangannya pada Naruto, gadis itu menatap kepergian Naruto dengan harapan yang sangat tinggi pada pemuda berambut pirang itu. "Aku akan menunggumu."
.
.
.
.
The end.
YEAAAYYYYY AKHIRNYA FIC INI KELAR DENGAN GAJENYA! HAHAHA. Gantung ya? Hahahaha emang sengaja wkwk. Rencana mau buat sequel pas Hinata ultah besok, pengennya publish cerita ini dengan cepat seminggu setelah chapter 6, dan sebelum tanggal ultah Hinata, tapi semua tidak berjalan dengan mulus, huhu. Tapi akhirnya rampung juga sih, hehe. Untuk sequel, aku akan berusaha dengan sekuat tenaga supaya besok bisa di publish! Tapi aku gak bisa jamin, hehe :p aku orangnya suka ngaret wkwk.
Chapter terakhir ini, sengaja gak sad ending, tapi malah gantung hehe. Aku ingin meminta maaf karena menelantarkan fic ini sampai setahun, dan aku juga gak begitu berharap masih ada yg mau cerita ini lanjut karena alur cerita yang mulai kacau dan aneh hehe. Tapi setelah setahun, ternyata masih ada yang review dan meminta cerita ini lanjut, dan itu membuat saya bersemangat dan kembali meneruskannya.
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fic ini, saya juga gak melihat dari banyaknya review, tapi saya melihat dari kualitas fic ini. Jadi kalau tidak berkualitas, rasanya saya ingin berhenti. Tapi saya mencoba untuk melanjutkannya, karena ingin menilai kemampuan saya. Saya berterima kasih banget sama yang sudah kritik cerita saya, itu membuat saya tersadar bahwa fic saya tidaklah sempurna hehe.
Kayaknya curhatnya udah banyak jadi saya mau ngucapin makasih buat yang review fic di chap 5 sama 6 ^^
Special thank's to :
damar wulan, Niki Indriani, Hami namikaze, DarkCrowds, Aoi, Guchab, win , ryuk, yuki, Rikudou Pein 007, waazguzari, Cuka-san, IndigoRasengan23, arinasution5, kurotsuhi mangetsu, Byakugan no Hime
Chapter 5 :
rzkamalia1102, Aizen L sousuke, Team Chitoge, Barloxs, Yueaoi, 21, Guest, hlk, Dipra, ShadouRyu-kun, DarkCrowds, Guest 1, Guest 2, aizawa kun, cllarisa.
Arigatou minna, atas kirikan masukan, dan dukungannya.
Sampai ketemu di sequelnya ^^
