Disclaimer:
Sudah pasti om Masashi Kishimoto. Saya hanyalah seorang author bego yang seenak es krim make chara milik Om Masashi. u_u
Pairs:
SasuNaru (main pair), SasuKarin, SasuSaku.
*ngelirik ke atas* (Buset, si Sasuke banyak amat uke-nya ==a *tinjued*)
Warnings:
Penyiksaan batin dan mental terhadap Naruto, tindak KDRT, ketidaksetiaan seorang Uchiha *timpuked*, pernikahan sesama jenis yang didasari atas kegilaan sang orang tua *dihajar MinaKushi ama FugaMiko*, non-con, shounen ai, dan berbagai macam ketidaknormalan lainnya. *authornya pundung*
A/N:
Kalau emang gak suka, yah jangan dibaca.
DON'T LIKE, DON'T READ!
Mudah 'kan? ;)
.
.
.
HAPPY READING, MINNA-SAN…
.
.
Kasih sayang?
Ketulusan?
Entalah…
Aku tak mengerti…
Dulu aku mempunyainya…
Tapi sekarang?
Aku tak memiliki apapun…
Aku hanya mahkluk yang hampa…
Berisi kekosongan yang tak berujung…
Tak memiliki akhir dan dasar…
Bahkan aku tak tahu kapan ini akan berakhir…
Omong kosong…
Aku tak memilikinya…
Kasih sayang yang tulus…
Sebuah kasih yang menghangatku dari dinginnya salju…
Ya…
Aku tak memilikinya
Aku bahkan tak pantas untuk dilahirkan
Tak pantas untuk membuka mataku,
Hanya untuk sekadar melihat dunia…
Ya… Aku memang tak pantas untuk mendapatkan semua itu
Karena itu…
Aku akan kembali menutup mataku.
Berjalan menjauh dari semua mimpi kosong itu
Melupakan segala hal
Dan kembali menulusuri jalan setapak yang kotor dan dingin…
Untuk selamanya…
.
.
.
"Na… Naruto-sama…" ucapnya lagi. Membuat perasaan Sasuke mulai tak enak. Ia merasakan, bahwa sebentar lagi ia akan mendengar suatu hal yang buruk.
"Naruto-sama… Sejak tadi pagi menghilang entah kemana…" lanjut Iruka.
"A-apa kau bilang? Bukankah dari tadi kau harusnya bersama Naruto?" segera Sasuke mendekati Iruka dan langsung mencengkram kerah bajunya.
"Ma-maafkan saya Sasuke-sama…" balas Iruka sembari membungkuk ke arah Sasuke. "Saya minta maaf karena tadi saya lengah dan tidak memperhatikan kemana Naruto-sama pergi." lanjutnya lagi dalam keadaan masih membungkuk.
Sasuke menggeram kesal setelah mendengar ucapan Iruka. 'Sial! Kemana si Bodoh itu pergi!' ucapnya dalam hati sambil mengira-ngira tempat yang mungkin akan didatangi oleh NAruto.
"Sasuke-sama?" panggil Iruka pelan. Agak takut dirasa ketika melihat ekspresi yang dikeluarkan oleh Sasuke.
"Cih!" dengus Sasuke. "Iruka! Cepat cari si Bodoh itu ke tempat yang kira-kira akan didatangi olehnya! Aku akan cari ke sekitar kota!"
"H-ha'i, Sasuke-sama!" ucapnya, setelah itu Iruka langsung pergi sesuai perintah Sasuke.
'Naruto-sama…'
.
.
.
'Sial! Perasaanku mengatakan terjadi sesuatu yang buruk!' setelahnya, Sasuke langsung bergegas mengambil kunci mobilnya dan pergi mencari Naruto.
Sementara itu, di suatu tempat…
Seorang pemuda berambut hitam tengah berdiri sambil menatap lekat sosok yang kini tengah terbaring dengan berbalut perban.
Mata oniksnya tak henti menatap sosok itu. Iris mata yang biasanya ia lihat selalu bersinar, kini seolah meredup seiring hilangnya cahaya kecil dari sang pemilik mata.
"Aku tak akan pernah menyangka bahwa kau bisa menjadi seperti ini…" ucapnya pelan. Tak ingin membangunkan sosok yang ada hadapannya.
.
.
'Tok… Tok…'
Sebuah ketukan pelan membuyarkan lamunan pemuda itu. "Masuk…" ucapnya tanpa sedikitpun menghilangkan pandangannya dari sosok yang terbaring lemah itu.
"Anu dokter… Ada telepon untuk Anda…" ucap seorang wanita yang sepertinya adalah seorang perawat. Terlihat dari pakaian yang ia kenakan.
"Hn, aku mengerti…" balas pemuda itu. Mendengar jawaban tersebut, perawat itu lekas meninggalkan ruangan tersebut.
"Aku pergi sebentar…" ucapnya pelan sembari berjalan ke arah pintu.
"…Naruto…" ucapnya lirih lalu segera meningalkan ruangan tersebut.
"Apa kau bilang!" bentak seorang pemuda berambut merah tersebut didepan Iruka.
"Er… Soal it—"
"Cih! Akan kuhajar orang brengsek itu!" ucap pemuda itu sembari beranjak pergi.
"Tu-tunggu, Gaara-sama… Ini semua bukan salah Sasuke-sama. Ini semua salahku yang lalai menjaga Naruto-sama." ujar Iruka sambil berusaha menghentikan pemuda yang diketahui adalah Gaara.
"Aku tak peduli soal itu! Yang jelas aku akan menghajar si brengsek itu! Semua ini adalah salahnya!" balas Gaara seolah tak ingin mendengar pembelaan yang dilontarkan oleh Iruka.
"Tapi Sasuke-sama memang tidak bersalah. Seharian ini dia sedang pergi karena ada urusan." ucap Iruka lagi.
"Itu tak akan jadi alasan untuk mengurungkan niatku memukul wajahnya yang mengesalkan itu!" balas Gaara, tetap bersikukuh dengan niatnya setelah tak sengaja mendengar berita hilangnya Naruto.
"Kumohon hentikan, Gaara-sama. Sasuke-sama juga sedang mencari Naruto-sama!" balas Iruka lagi. Ia tahu ini tidak sopan, tapi bagaimanapun ia harus menghentikan Gaara. Sebab ini bukan waktunya untuk berkelahi.
"Lepaskan!" bentak Gaara sambil mendorong Iruka hingga jatuh ke aspal. Dan setelahnya, ia masuk ke dalam mobilnya dan pergi menuju ke kediaman Sasuke.
.
.
"Ukh.." rintih Iruka sambil memegangi kakinya yang terkilir. "Hah… Seandainya tidak bertemu dengan Gaara-sama… Dan seandainya aku tidak bercerita soal Naruto-sama… Pasti tak akan begini jadinya…"
"Tapi… Aku harus segera kembali ke rumah dan menghetikan pertikaian ini!" ucapnya sambil mencoba berjalan walau sakit dirasa.
Sementara itu…
"Begitu…" lirih pemuda itu setelah mendengar penjelasan yang ia minta.
'Ya, aku berhasil menemukan alamat rumahnya…' ucap suara di seberang sana. 'Memangnya, untuk apa kau mencari informasi seperti ini?' tanya orang itu.
"Hm, kurasa kau tak perlu tahu." balas pemuda itu sambil tersenyum. "Terima kasih sudah membantuku sampai sini." lanjutnya lagi.
'Ya… Sama-sama.' balas orang itu, dan setelahnya hanya terdengar suara telepon terputus.
"Naru—"
'BRAAK!'
"Dokter! Dokter! Pasien dari kamar 277 sudah sadarkan diri!"
"!"
.
.
.
'Tap Tap! Tap Tap!'
"Apa yang kau katakan itu benar!" tanya pemuda itu sembari berlari menuju kamar 277.
"Saya sungguhan, dokter. Pasien itu telah sadarkan diri." balas perawat itu sambil turut berlari juga.
'Ini… hampir mustahil…'
.
.
'BRAK!'
"Naruto!" panggil pemuda itu. Napasnya sedikit tersenggal-senggal karena baru saja ia berlari dari ruangannya hingga ke kamar 277 ini.
"Eh?" merasa dipanggil, pemuda berambut kuning emas itu menoleh ke arah suara itu memanggil.
"Na-naruto…? Kau sungguhan telah sadar?" panggil pemuda itu sembari berjalan mendekati Naruto.
"Eh? Kau… siapa?"
'Tap…'
Pemuda itu berhenti. 'Dia… tidak ingat? Mustahil… Apa sudah separah ini penyakitnya?' pemuda itu terdiam. Merasa heran, Naruto pun bertanya.
"Ada apa? Kenapa kau melamun seperti itu?" tanyanya, membuyarkan lamunan-lamunan dari pemuda itu.
"Ah… Aku tidak kenapa-kenapa kok." jawabnya sambil tersenyum ramah. "Oh ya… Namaku Sai, dokter yang menanganimu. Salam kenal, Uzumaki Naruto…" lanjutnya lagi sambil tetap tersenyum.
"Sai, ya… Namaku Uzumaki Naruto! Salam kenal! Hehe…" balas Naruto sambil tersenyum juga. Melihat senyuman itu, entah kenapa hati Sai bagaikan teriris oleh sebilah pisau.
"Hm, Uzumaki-san… Boleh aku bertanya sesuatu?" ujar Sai. Setelahnya ia mengambil sebuah kursi dan duduk diatasnya.
"Bertanya? Boleh saja… Memangnya ada apa?" balas Naruto dengan wajah bingung nan heran.
"Kenapa… Kau bisa mengalami hal ini?"
'DEG!'
"Ah… aa…"
'BUAK!'
"Dasar Uchiha sialan! Ini semua salahmu!" ucap pemuda berambut merah itu sembari dilayangkannya kembali sebuah tinju yang tetap mengenai pipi sang lawan.
Sasuke bangkit berdiri sembari mengelap aliran darah yang mengalir dari sudut bibirnya. "Kau tau? Kau tak berhak menuduhku atas apa yang sudah kuperbuat, sialan!" balas Sasuke sambil meniju pipi pemuda itu—yang tak lain adalah Gaara.
"Menuduh? Aku tidak menuduhmu!" Gaara bangkit berdiri. "Kau memang penjahat yang patut disalahkan, Uchiha!" lanjutnya lagi sambil melayangkan satu tendangan yang dilayangkan ke arah Sasuke.
'Grep!'
Sasuke berhasil menahan tendangan Gaara.
"Terkutuklah kau darah Uchiha!" balas Gaara tak bisa menahan emosinya.
"Apa kau sadar apa yang sudah kau ucapkan, Sabaku?" ucap Sasuke sambil menatap tajam ke Gaara. "Orang hilang itu, yang kau sebut teman dan adikmu, juga seorang istriku, dia juga memegang nama seorang 'Uchiha', brengsek!"
'BUAK!'
Satu pukulan tepat mengenai perut Gaara.
"Dia…" Gaara memegangi perutnya yang sedikit terasa perih. "Naruto… Naruto… Bukanlah seorang Uchiha, sialan!" balas Gaara sambil menendang perut Sasuke. "Naruto adalah seorang Uzuma—"
"Hentikan Gaara!"
Sebuah tangan berhasil menahan tangan Gaara yang siap melayangkan tinjuan kapanpun juga.
Gaara menoleh ke arah belakang. "Neji…" Gaara terdiam. "Cih! Lepaskan!" berontak Gaara.
"Hentikan semua ini Gaara. Rasanya kau bukanlah orang yang mudah mengahajar orang lain seperti ini." ucap Neji sambil secara perlahan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Gaara.
"Cih…" dengus Gaara.
"Gaara…"
"Berhenti berpura-pura baik kepadaku, Neji!" balas Gaara. "Sampai kapan pun aku tak akan melupakan 'orang itu', mengerti! Jadi jangan pernah lagi kau mendekatiku!" balas Gaara sambil berjalan keluar dari rumah Sasuke.
"Gaara-sama…" ujar Iruka begitu sesampainya ia di pintu. Namun Gaara sama sekali tak menghiraukan panggilan tersebut dan terus berjalan keluar.
"Haah~" hela Neji.
"Keluar." ucap Sasuke dingin. "Aku tak perlu bantuanmu, Hyuuga!" lanjutnya lagi.
"Dasar Uchiha. Padahal sudah ditolong." balas Neji sambil menggelengkan kepalanya.
"Kubilang aku tak perlu bantuanmu!" balas Sasuke lagi sambil melempar sesuatu ke arah Neji.
"Baik-baik, aku akan keluar. Lagipula sepertinya lukamu tak terlalu parah."
"Sabaku brengsek itu!" maki Sasuke sembari mengobati luka-lukanya.
'Tok tok!'
'Cih, apa lagi kali ini!' ujar Sasuke dalam hati. "Masuk"
"Anu, Sasuke-sama… Ada yang ingin bertemu dengan Anda…"
'…?'
.
.
.
"Jadi, ada perlu apa Anda menemui saya…?" ucap Sasuke sambil meminum secangkir the miliknya.
"Perkenalkan, Uchiha-san. Nama saya Sai. Maksud kedatangan saya kemari adalah ingin memberitahukan sesuatu kepada Anda." balas Sai sambil tersenyum.
"Memberitahukan? Tentang apa?"
"Tentang kecelakaan yang menimpa Uzumaki Naruto…"
"!"
.
.
'Tap tap! Tap tap!'
'Saat ini Naruto ada di Rumah Sakit Konoha…'
"Sial!"
'Dia berada di kamar pasien nomor 277…'
"Si Dobe itu!"
'Anda bisa menemuinya jika Anda mau…'
'BRAAAAK!'
"Dobe!"
"E-eh…? Sasuke…?"
"Sasuke?" tanya Naruto heran begitu melihat Sasuke tiba-tiba masuk sambil mendobrak pintu kamar pasien.
Sasuke samkin berjalan mendekat ke arah Naruto dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan. "Seharusnya aku yang bertanya, Dobe! Kenapa kau bisa ada disini dan apa maksumu dengan luka-luka itu, hah!" bentak Sasuke sambil mencengkram kerah baju Naruto.
"Eh… Soal itu—ah! Benar juga!"
"…?"
"Sa-sasuke… 'Tanjoubi Omedettou!" ujar Naruto sambil tersenyum riang. Membuat Sasuke kembali merasakan hal yang tidak mengenakan di hatinya.
Ah, benar juga. Hari ini kan dia sedang berulang tahun. Peristiwa hilangnya Naruto membuat ia lupa akan hari pentingnya ini. Tapi…
"Apa maksudmu?"
"Ah… Habis, aku bingung harus memberi apa kepada Sasuke." ujar Naruto lirih. "Kalau aku memberikan kue atau barang, pasti kau akan membuangnya ke tempat sampah…" lanjut Naruto.
"Lalu?"
"Karena itu, sebagai hadiah ulang tahun dariku. Aku akan mengabulkan keinginan Sasuke!" ujar Naruto lagi sambil tersenyum riang. "Tapi… Ternyata aku gagal…"
"Aku tak mengerti maksudmu. Apa hubungannya kado untukku dan peristiwa kecelakaan mu ini?" tanya Sasuke.
"Eng? Soal itu?" Naruto kembali melirik Sasuke. "Semalam, aku bermimpi sesuatu dan ternyata sebagian mimpi itu menjadi kenyataan di hari ini."
"Mimpi? Apa maksudmu?"
Mendengar pertanyaan itu Naruto hanya bisa menatap Sasuke.
"Apa maksudmu dengan mimpi itu, Dobe! Cepat jawab!" bentak Sasuke sambil mencengkram bahu milik Naruto.
"Itu…" Naruto terdiam.
"Dobe…?"
"Aku… Aku bermimpi akan menyerahkan nyawaku dalam kecelakaan sebagai hadiah untuk ulang tahunmu. Sebab keinginanmu selama ini adalah kematian ku. Bukan begitu, Sasuke?" jawab Naruto sembari tersenyum. Setitk embun mengalir dari sudut matanya. Ternyata masih sulit untuknya mengatakan hal ini.
'DEG!'
Sasuke terdiam. Ia memegangi dadanya yang entah kenapa terasa sakit dan perih.
"Sasuke?"
"Aku… Aku bermimpi akan menyerahkan nyawaku dalam kecelakaan sebagai hadiah untuk ulang tahunmu. Sebab keinginanmu selama ini adalah kematian ku. Bukan begitu, Sasuke?"
"Kau sungguh bodoh, Naruto…" ujar Sai sambil bersender di dinding samping pintu kamar yang saat ini ditempati oleh Naruto.
.
.
FLASHBACK
"Bertanya? Boleh saja… Memangnya ada apa?" balas Naruto dengan wajah bingung nan heran.
"Kenapa… Kau bisa mengalami hal ini?"
'DEG!'
"Ah… aa…" Naruto hanya bisa terdiam. "Kenapa kau bertanya soal itu?"
"Aku hanya ingin bertanya. Itu saja kok." balas Sai berbohong. Mana mungkin ia bisa tenang jika melihat 'adik'nya yang satu ini dipenuhi oleh luka.
"Itu… Aku hanya ingin memberi hadiah kepada seseorang yang berharga bagiku. Itu saja kok…" jawab Naruto.
"Maksudmu, kau ingin membeli sesuatu tapi disaat itu kau malah mengalami kecelakaan?" balas Sai. Sepertinya ia mulai bisa membaca jalan cerita ini. Ya, hal itu biasa terjadi di novel-novel, bukan?
"Ah… ah, bu-bukan begitu…!" Naruto langsung mebantah pernyataan yang dilontarkan oleh Sai.
"Bukan? Apa maksudmu?" Sai kembali bertanya. Harusnya jalan cerita yang ia duga mana mungkin salah.
"O-orang itu sangat mebenciku. Jadi mana mungkin dia mau menerima hadiah berupa barang atau kue dari ku. Karena itu aku sengaja tidak mebeli dia sesuatu…" ujar Naruto sambil mencengkram selimutnya.
"Kalau memang begitu, apa yang akan kau beri?" tanya Sai. Ia semakin tak mengerti dengan jalan cerita ini.
"Aku akan mengabulkan keinginannya!" jawab Naruto sambil tersenyum.
"Keinginan?"
"Yap!"
"A-apa itu?"
"Kematianku!" jawabnya sambil tersenyum pahit.
END OF FLASHBACK
.
.
"…Uchiha… Sasuke ya…" Sai mulai beranjak dari tempat.
.
.
"Aku pasti akan membuat perhitungan denganmu. Ya… Itu pasti…"
Kagu: Yei! Chapter 7 udah update! \(^0^)/ Sebenarnya sih ini tadinya mau dipublish pas ulatah nya Sasuke. Eh, tapi akunya malah kelupaan :P *digebukin*
Lagipula pas hari ultahnya Sasuke aku harus mempersiapkan barang-barang buat Orgab besoknya di Cilodong. Euy~ Capek banget, dipikir cuma kakak kelas doang yang terlibat. Ternyata TNI juga ikutan (T_T) Capeeeeeeek~!
Balesan review yang gak login:
wikami:
=_=" Maaf... Saya memang author gak berguna... *pundung*
N.h:
Chap 7 lebih panjang? *ngelirik tlisan diatas* GLEK!
Update lebih cepat...? GLEK! *keringat dingin*
Sepertinya saya sudah gagal... *pundung di pojok kamar*
NaruSasu vs NaruSaku:
Makasih... Ini udah update kok! ^^ Maaf kalo kelamaan
Micon:
Pendek ya? =_=" *langsung pundung*
Huwaa... Walau begitu, makasih udah baca... *ngelap ingus*
Sana MalKer Heartnet:
Yup! Mulai dari sini Sasuke juga akan menderita kok! BHUAHAHAHAHA! *chidoried* Diliat tulisan diatas, Sasuke udah mulai ada rasa-rasa ke Naruto lho~ Buktinya dia jadi sedikit (sedikit sih...) panik dan gak tenang pas tau Naruto hilang XD
Makasih udah mau baca :D
Hyme chan:
Maaf telat update m(_ _)m
via sasunaru:
entalah... Salahkan saja Sasuke... *gebuked* (yang nulis siapa coba? kok yang disalahin orang lain?)
Shiva:
Maaf kalo telat update dan ceritanya pendek m(_ _)m *pundung*
thiqa sierrachan:
Salam kenal juga! Watashi wa Kagu desu~ ^^
Maaf ya kalo emang kependekan u_u Terima kasih udah menyempatkan diri membaca nih fic gaje. Arigatou...
humahuma:
I-ini udah update kok... *mundur*
(Inner: Hiiy~ Kok orang-orang pada protes ya?)
Rukito Haruto:
Ini udah update kok! ^^ Selamat mebaca
Yashina Uzumaki:
Iya, Naruto emang punya penyakit. Bisa nebak? :D
Buat Sasuke menderita? Maunya author juga begitu~~ Lalala~ *dihajar Sasuke sampai gosong*
Kagu: Perasaanku doang atau bukan ya? Kok orang-orang pada protes aku kelamaan update ama nih fic kependekan ya? Emang aku salah apa ya? *dihajar para charas*
Sasuke: Elo emang kelamaan tau! Trus udah bikin para charas (khususnya Naruto) disini menderita dan mengalami siksaan batin.
Naruto: Udah! Hajar aja nih author, minna-san. Plus, ngehajarnya gak usah pake hati. Tega-tega-in aja deh!
Kagu: Huweeee! T-tunggu! Nanti kalo aku mati gimana?
SasuNaru: Peduli kami? *barengan*
Kagu: Kalau aku mati, yang ngelanjutin ini fic siapa dong? Yang tau jalan ceritanya kan cuma aku seorang-
SasuNaru: *chidori + rasengan*
Kagu: Hiiiy~ *kabur*
.
.
.
Mohon maaf jika ada kesalahan...
Mind to review?
